RSS

Category Archives: Orat Oret

Pengalaman Berbelanja di Planet Haji Umroh

Planet Haji Umrah

Ramadhan menuntut persiapan bagi para petarung yang ingin berjuang menggapai pahala di arena tersebut. Karena saya seorang muslim yang ingin memaksimalkan Ramadhan, maka saya juga harus melakukan berbagai persiapan menyambut Ramadhan. Terutama untuk Ramadhan tahun 1437 H ini.

Maka saya izin cuti kantor setengah hari pada Jumat, 3 Juni 2016 untuk berkunjung ke pembukaan Planet Haji Umrah di Thamrin City lantai 3A. Mau apa lagi di sana selain belanja? Yah… Ramadhan memang butuh modal. Saya berniat cari kurma untuk bekal buka selama Ramadhan. Karena saya lebih memilih buka puasa di kantor daripada harus bermacet-macet di jalan. Setelah berbuka jalanan biasanya lengang sehingga saya bisa sampai di rumah pas adzan Isya’. Karena itu butuh bekal kurma untuk berbuka di kantor.

Selain itu, saya juga ada kopdar dengan sesama rekan blogger pada acara pembukaan Planet Haji Umrah (PHU) tersebut.

PHU adalah kawasan yang menawarkan tempat belanja yang didalamnya lengkap ada biro haji umrah, toko perlengkapan dan oleh-oleh haji umrah sekaligus. Juga ada toko buku, karena dulunya di sini pusat penjualan buku.

Memanfaatkan jasa ojek online, saya sampai di PHU sekitar jam 3 kurang. Acara pembukaan sudah dimulai. Saya sempat melihat peresmiannya yang berupa aksi pemukulan bedug. Tetapi sebelum bedug dipukul, ada atraksi silat yang bermaksud memperkenalkan budaya betawi.

Atraksi silat di pembukaan Planet Haji Umrah

Panitia pembukaan PHU ini memang banyak mengundang para blogger. Asma Nadia termasuk salah satunya.

Sempetin selfie... Fotonya gak perlu bagus-bagus amat. disesuaikan dengan tampang. wehehe

Sempetin selfie… Fotonya gak perlu bagus-bagus amat. disesuaikan dengan tampang. wehehe

Acara pembukaan selesai bertepatan dengan waktu Ashar tiba. Setelah menunaikan sholat Ashar, saya dan beberapa teman berjalan-jalan melihat pertokoan yang ada di lantai 3A Thamrin City.

Salah satu toko yang saya kunjungi adalah toko Putra Kudus yang menjual makanan khas oleh-oleh bagi jamaah haji dan umrah.

Toko Putra Kudus di Planet Haji Umrah

Di toko itu, saya membeli setengah kilogram kurma Ajwa, setengah kilogram kismis, dan setengah kilogram kacang Arab. Pulang kerumah sudah mirip seperti pulangnya jamaah umrah. 😀

Saya juga menyempatkan mampir ke toko Arasy yang disambut dengan hangat oleh ibu Ice.

 

Saya tertarik dengan coklat yang mirip seperti batu kerikil. Rasanya pun enak. Harganya juga lumayan 😀 . Rp 75 ribu hanya dapat seperempat kilo. Tapi karena saya suka, saya beli juga.

Toko Arasy Planet Haji Umrah

Dan mengakhiri jalan-jalan, kurang lengkap kalau tidak membawa pulang sebuah buku dari toko buku Kwitang yang masih berada di area Planet Haji Umrah. Sebuah buku berjudul Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara menjadi pelengkap tas ransel saya hari itu.

Toko Buku Kwitang

Sebenarnya banyak yang menarik di area PHU. Ada replika unta, pohon kurma asli, dupa, booth selfie kabah sehingga mirip suasana Timur Tengah. 

PHU ini adalah kawasan yang menawarkan tempat belanja yang didalamnya lengkap ada biro haji umrah, toko perlengkapan dan oleh-oleh haji umrah sekaligus.

Bagi Anda yang hendak menunaikan ibadah Haji dan Umrah, tak perlu lagi direpotkan membawa pulang seabrek titipan oleh-oleh dari rekan di tanah air. Beli saja di PHU ini. Di tanah suci, Anda bisa fokus beribadah.

 
1 Comment

Posted by on June 7, 2016 in Orat Oret

 

Mukhoyam, Survival, dan Pengalaman Spritual yang Mengesankan

(Pengalaman mengikuti acara Kemah Pandu Keadilan, 29 April – 1 Mei 2016 di Cidahu)

Jumat dini hari itu desa Cidahu yang terletak di kaki Gunung Salak menyambut kami dengan dingin, sesuai karakternya. Hujan baru reda beberapa jam lalu. Tanah yang basah menjadi panggung bagi ribuan jangkrik yang bernyanyi menghempas sunyi. Mungkin itu cara mereka bertasbih kepada Allah swt. Ranting dan daun pepohonan Pinus di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak itu masih meneteskan sisa-sisa air hujan yang merayap ditarik gravitasi bumi.

Kurang lebih pukul 2 pagi. Puluhan cangkir teh manis terhidang di sebuah warung disiapkan panitia untuk peserta Kemah Pandu Keadilan Menengah yang digelar dari Jumat 29 April hingga Ahad 1 Mei 2016. Saya dan peserta lainnya duduk mengerubungi beberapa baris meja, beristirahat dari perjalanan sekitar 90 KM yang dimulai dari Ragunan Jakarta Selatan dan menempuh waktu 2,5 jam. Menyeruput teh manis dan memesan mie rebus ke penjaga warung yang harus ditebus dengan harga 10 ribu rupiah.

Sejak dari rumah, saya cukup antusias dengan kegiatan ini. Ada bagian acara yang sudah saya tunggu-tunggu sejak 16 tahun lalu. Sebuah ceramah yang saya dengar saat i’tikaf di Masjid Al-Madani, Air Tawar, Padang (akhir 1999 dan awal 2000) kala itu memberi tips untuk meningkatkan ruhiyah bila sedang futur/jenuh. Salah satu tipsnya ada pada rangkaian acara kemah atau mukhoyyam kali ini.

“Coba antum dayung sampan ke tengah laut sendirian. Lalu dirikan sholat dua rakaat, rasakan benar bahwa antum sangat membutuhkan pertolongan Allah saat itu. Bisa saja Ia mengirimkan ombak besar hingga sampan antum oleng dan antum jatuh ke laut.” Inti ceramahnya seperti itu meski redaksinya tidak sama.

“Atau antum berjalan sendirian ke hutan dengan hanya berbekal sebuah pisau. Cari makan sendiri dengan pisau itu di hutan. Rasakan bahwa antum sangat membutuhkan pertolongan Allah.”

Intinya adalah bagaimana menghadirkan situasi sehingga kita merasa benar-benar membutuhkan Allah.

Saat saya kos di Padang, bila hendak sholat Isya’ atau Shubuh ke masjid, saya akan melintasi jalanan yang sepi dan melewati pekuburan. Saya memang penakut. Dengan kondisi begitu, saya memancing diri sendiri untuk memohon pertolongan kepada Allah swt.

Lantas apa hubungannya ceramah tadi dengan mukhoyyam yang saya ikuti? Puncak acara mukhoyyam adalah personal survival. Peserta dilepas ke hutan dengan beberapa bekal seperti ponco, jaket, senter, korek, air minum, dan sebilah golok. Selama 32 jam tiap orang ditantang untuk survive dengan mengandalkan makanan yang ada di hutan. Sesi itu yang mengingatkan saya dengan isi sebuah ceramah saat i’tikaf 16 tahun lalu.

Rangkaian Acara

Sosialisasi acara Mukhoyyam sudah kami dapatkan dari ta’lim pekanan sejak beberapa pekan sebelumnya. Ada pemberitahuan mengenai perlengkapan yang harus dibawa untuk tiap orang dan tiap regu. Pembagian regu berdasarkan kelompok ta’lim pekanan.

Ada 19 item perlengkapan pribadi yang harus disiapkan dari mushaf, matras, ponco, senter, hingga golok. Perlengkapan regu ada 17 item dari kapak hingga alat masak. Jauh-jauh hari saya dan rekan satu regu berbagi tugas menyiapkan semua yang diperlukan. Kami semua cukup antusias. Tapi terasa ada yang kurang juga karena salah seorang anggota kelompok ta’lim pekanan tidak bisa mengikuti acara Mukhoyyam karena sakit.

Dari pembagian tugas membawa perlengkapan saja sudah teruji kadar egoisme tiap orang. Berkenankah sedikit repot untuk membawa perlengkapan yang berat? Bersediakah berkorban mencari barang yang susah didapat? Maukah menyisihkan sedikit uang untuk membeli item yang harus dibeli?

Hari demi hari berlalu. Semakin mendekati hari H, semakin intens diskusi kami untuk persiapan acara. Hingga Allah mempertemukan kami dengan hari H, Kamis 28 April. Hari itu para peserta diminta hadir di sebuah lokasi di sekitar Ragunan pada pukul 9 malam untuk persiapan keberangkatan. Menuju kesana, kami berkumpul dulu di rumah salah seorang anggota kelompok, lantas bersama-sama pergi ke lokasi keberangkatan dengan menyewa taksi online.

Setelah acara pembukaan dan taujih yang menyemangati peserta dari ketua DPD PKS Jakarta Selatan, ustadz Al Mansur Hidayatullah, pukul 11 malam 8 truk tronton berjalan beriringan menuju Cidahu mengangkut 15 regu yang tiap regu beranggotakan maksimal 12 orang. Peserta sampai di sana pukul 2 kurang dan disambut dengan teh manis hangat yang disediakan panitia.

Setelah istirahat dari perjalan dirasa cukup, peserta pun dibariskan berdasarkan kelompoknya dan diberi sedikit pengarahan oleh panitia. Tiap regu diperintahkan membangun bivak (tenda) yang lokasinya sudah ditentukan. Ada tanda khusus berupa bendera dan simpul yang diikat di sebuah dahan. Di kegelapan malam, dua orang dari tiap regu harus menemukan simpul dan benderanya masing-masing di antara semak-semak di sekitar lokasi untuk kemudian mendirikan bivak di situ.

Setelah bendera ditemuka, kami menggabungkan beberapa ponco untuk membentuk bivak yang nyaman untuk tempat berteduh. Kami berisitrahat di bawahnya dan menunggu pagi di situ.

Beberapa jam kemudian matahari pun muncul membawa sinarnya menerpa kaki Gunung Salak. Tiba-tiba terdengar tanda dari panitia yang meminta kami berkumpul dalam 20 hitungan. Upacara pembukaan akan dilaksanakan. Menapaki tanah gembur dan jalan menurun curam, kami bergegas menuju lapangan tempat berkumpul membawa tubuh yang masih bersemangat.

Rangkaian acara demi acara kami ikuti. Menjelang siang ada pelatihan baris berbaris (PBB) yang menghadirkan instruktur dari Babinsa setempat. Siangnya kami belajar menggunakan kompas untuk mengukur arah dan jarak ke sebuah titik. Juga ada pelatihan melempar kapak. Sesi terakhir sebelum puncak acara adalah lailatul katibah yang diisi oleh ustadz Al Mansur Hidayatullah.

Menyela rangkaian-rangkaian acara, kami diperkenankan istirahat di bivak masing-masing. Tiap regu dibekali bahan makanan oleh panitia yang menunya ditentukan dari penilaian regu tersebut dalam mengikuti satu sesi acara. Misalnya untuk menu makan siang, tiap regu dinilai dari kerapian mereka mengikuti pelatihan PBB. Makin bagus gerakannya makin tinggi nilainya dan makin banyak bekal makanan yang dibawa ke bivak untuk dimasak. Juga untuk menu makan malam, ditentukan dari nilai kesuksesan regu melempar kapak dan menggunakan kompas. Kalau mau mendapatkan telor asin, jagung manis, kentang dan nasi, maka berbuatlah sebaik mungkin di sesi yang diikuti.

Acara hari pertama dilaksanakan hingga sekitar pukul 10 malam. Setelah itu kami harus bersiap untuk puncak acara: personal survival.

Harus Bermunjat Lebih Hebat Lagi

Hari Sabtu (30 April 2016) sekitar jam 2 pagi peserta diminta berkumpul di lapangan. Setelah dikondisikan, peserta mulai berjalan beriringan menyusuri jalan setapak ke dalam hutan dengan membawa beberapa perbekalan. Hingga di sebuah lokasi, panitia meminta tiap peserta mencari tempat sendiri-sendiri untuk mendirikan bivak menggunakan ponco yang mereka bawa. Satu bivak satu orang dan harus berjarak paling dekat 5 meter dari bivak di sekitarnya. Lokasi itu disebut pos pertama.

Di sepanjang acara kami melewati 5 pos. Tiap pos ditempati selama rata-rata 4 jam. Kami mendirikan bivak dan bergerilya sendiri di sekitar lokasi mencari apa yang bisa dimakan.

Setelah menemukan tempat yang kondusif di pos pertama itu, saya membentangkan jas hujan (saya keliru mengira ponco itu sama dengan jas hujan. Akhirnya bivak yang saya bangun sangat minimalis dan tidak bisa melindungi tubuh dari angin dan hujan), mengikat sisi-sisinya ke dahan dan ranting di pohon sekitar, lalu merebahkan diri di bawahnya dengan mengenakan jaket parasut yang gagal melindungi badan saya dari dinginnya tanah.

Di kegelapan malam itu saya mulai menghayati acara survival kali ini. Merasakan butuhnya diri kepada Allah agar mendapat makanan yang cukup siang nanti. Tak mampu rasanya kalau harus berpuasa saja selama 32 jam hingga kembali ke basecamp. Maka saya membisikkan permohonan-permohonan kepada Dzat yang Mengendalikan Hidup saya.

Mirip seperti saran dari penceramah dulu. Bedanya, kali ini saya tak sendirian. Tetapi ada aturan dari panitia bahwa peserta tak boleh bekerjasama dan berkomunikasi dengan peserta lain. Jadi, tetap ini antara saya dan Allah swt tempat saya bergantung.

Tak hanya itu, ada beberapa hal lagi yang membuat saya mengencangkan permohonan kepada Allah swt. Salah satunya, karena sepasang sepatu yang saya bawa dari rumah jebol sampai alasnya tak menempel lagi. Maka saya terpaksa berjalan tanpa alas kaki menginjak tanah, rumput, dan ranting-ranting hutan. Saya sangat khawatir terinjak duri atau disengat kelabang, kalajengking, dan serangga lain.

Sebenarnya saya dipinjami sendal jepit oleh pak Suswanto dari Jagakarsa (saat pulang, saya minta sendal jepitnya untuk oleh-oleh. Pak Suswanto banyak menolong saya di acara mukhoyyam kemarin. Terima kasih banyak, pak Sus). Namun tak kondusif menggunakan sendal jepit di jalan mendaki yang licin dan bertanah gembur. Sering terpeleset. Lebih baik telanjang kaki.

Maka sepanjang jalan sejak dari basecamp saya terus menerus berdzikir “hasbiyallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir”. Juga mengucapkan berbagai doa yang saya hafal memohon keselamatan.

Tak menyangka, Allah tambahkan ketakutan saya agar berharap lebih besar. Kalau sekedar bertahan 32 jam mencari makan sendiri di hutan, tak terlalu saya risaukan karena kalau benar-benar terdesak ada panitia yang akan menolong. Tetapi menghindari tapak kaki dari duri, kelabang, atau kalajengking, tidak bisa mengandalkan panitia.

Dinginnya malam yang membuat badan menggigil juga membuat saya memohon pertolongan kepada Allah swt dengan lebih hebat. Di pos pertama, saya terbangun menjelang shubuh karena badan bergetar kedinginan. Menanti matahari muncul membawa hangat rasanya lama sekali. Di tengah dingin itu saya memohon kekuatan kepada Allah swt.

Saya juga memohon pertolongan kepada Allah swt dari serangan hewan di sekitar tempat saya berbaring. ‘Audzubikalimatillahit taammaati min syarri ma kholaq. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. Saya ucapkan berkali-kali.

Akhirnya pagi pun datang. Gelap berganti terang. Dingin berganti hangat. Tiba-tiba panitia membunyikan tanda agar peserta merapikan bivaknya dalam 20 hitungan. Perjalanan akan dilanjutkan ke pos berikutnya. Saya kembali berjalan dengan kaki telanjang, dan kembali berdzikir terus menerus memohon kesalamatan dari Allah swt.

Hingga sampai di sebuah lokasi yang disebut pos kedua, kami kembali diminta mencari lokasi dan mendirikan bivak. Di bawah langit yang terang, perburuan mencari apa yang bisa dimakan pun dimulai.

Siang hari sebelum dilepas ke hutan, instruktur sudah menjelaskan makanan apa saja yang bisa dimakan. Jujur saja saya awam sekali mengenali jenis-jenis tumbuhan. Sampai sekarang saya tak tahu mana pohon mangga, mana pohon nangka, dll, bila tanpa melihat buah yang tergantung di dahan.

Instruktur memberikan tips untuk menentukan apakah suatu buah/daun bisa dimakan. Pertama, tempelkan ke kulit; kalau gatal maka itu beracun. Kedua, tempelkan ke lidah; kalau gatal maka tak boleh dimakan. Ketiga, kunyah dan letakkan ke bawah lidah; kalau bergetah dan gatal jangan ditelan. Keempat, kalau memang tak ada reaksi apa-apa, maka boleh dimakan sedikit, lalu tunggu sampai 4 jam untuk melihat apakah tubuh bereaksi atau tidak.

Di lokasi tempat saya mendirikan bivak, saya mulai mengunyah berbagai macam dedaunan di sekitar. Kalau bergetah, saya lepeh. Mentok-mentoknya, daun pakis lagi daun pakis lagi… Nah, di saat mengunyah daun asing itu saya memohon kepada Allah agar tak menelan makanan beracun dan membahayakan tubuh.

Saya pernah mendengar kisah Sholahuddin Al-Ayyubi yang disuguhi minuman beracun di suatu perundingan. Meski punya firasat bahwa minuman itu beracun, ia tetap meminumnya dengan memohon perlindungan kepada Allah swt. Kemudian Sholahuddin Al Ayyubi merasa pusing sebentar, setelah itu segar bugar lagi. Musuhnya pun heran dan gentar.

Dalam dzikir Al-Ma’tsurat yang disusun Hasan Al-Banna, ada doa ‘audzubikalimmatillahi… seperti yang sudah disebutkan. Doa itu mengandung faedah terhindar dari bahaya sekalipun terhadap racun, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya.

Setelah sekitar 4 jam, perjalanan dilanjutkan ke pos 3. Saya mendirikan sholat Zhuhur dan menjamak-qoshor Ashar di sana. Di pos itu juga turun hujan lebat. Dari dalam bivak kecil yang tak menghalangi rintik hujan mendera tubuh, timbul iri dengan peserta lain yang nyaman berteduh di bawah ponco yang mereka bentangkan. Ingin bergabung dengan salah seorang namun saya malu dan terikat dengan aturan “tak boleh bekerjasama dengan peserta lain”. Saya basah kuyup. Tapi kondisi tak mengenakkan itu membuat saya memohon pertolongan kepada Allah swt.

Menjelang maghrib, perjalanan dilanjutkan ke pos 4. Tempat yang menghadirkan pengalaman luar biasa kepada saya.

Karena, pertama, saya mendapatkan pengetahuan baru tetang seperti apa suara macan kumbang. Ya, di sekitar lokasi terdengar suara macan kumbang. Saya dan peserta lain awalnya mengira bunyi yang berulang kali terdengar itu hanya suara monyet, burung hantu, atau binatang lain. (Suara macan yang saya tahu ya seperti auman singa atau harimau. Keras dan gahar. Tapi kan macan bersuara bukan cuma mengaum.)

Kepanikan terjadi setelah panitia memberi tahu ada suara macan kumbang. Kami diminta menghidupkan lampu senter serta membaca dzikir atau tilawah dengan suara keras untuk mengusir Panthera Pardus Melas yang diperkirakan tak hanya seekor itu. Ya… lagi-lagi harus memohon pertolongan kepada Allah swt. Suara macan kumbang yang kian mendekat pun akhirnya tak terdengar lagi setelah panitia membunyikan petasan dua kali.

Mukhoyyam kali ini benar-benar menghadirkan banyak hal yang membuat saya bermunajat kepada Allah.

Aturan dan Ukhuwah

Kedua, saya mendapatkan pengalaman baru berupa rasa menggigil terhebat yang baru kali itu saya rasakan. Setelah menunaikan sholat Maghrib dan menjamak-qoshor Isya’, saya tertidur. Tak lama saya terbangun karena kedinginan. Sampai-sampai suara rintihan saya terdengar oleh peserta lain yang kemudian berteriak memanggil panitia.

Terasa juga lambung saya sedikit tak enak. Mungkin menggigil ini dicampur efek sakit mag. Kemarin sorenya sebelum masuk ke hutan, ada satu kegiatan yang tak bisa saya ikuti karena saya harus terbaring di dalam tenda panitia kesehatan. Saya merasa mual ingin muntah, pusing, dan menggigil. Seorang dokter memberi saya obat mag, obat mual, dan obat sakit kepala. Sempat berniat meminta dispensasi tidak ikut acara survival. Tetapi malam harinya saya sudah segar bugar kembali.

Teriakan dari peserta yang mendengar suara rintihan menggigil saya itu direspon oleh panitia. Dua orang dari mereka hadir membawa lilin. Tangan saya diletakkan di atas api. Mereka menyuruh saya banyak bergerak dan menggosok-gosokkan tangan dan kaki. Selesai memberikan treatment, mereka pergi meninggalkan saya yang harus survive melawan dingin dengan sebatang lilin.

Saya tak tahu apakah bisa bertahan hidup hingga pagi. Hampir putus asa. Terbayang wajah dua anak saya yang masih kecil. Antara timbul semangat melawan kondisi yang sedang dialami demi mereka, atau berdoa kepada Allah agar Ia memelihara mereka dengan baik bila saya gagal bertahan.

Saya menoleh ke bivak sebelah, rupanya di sana sedang berkumpul beberapa peserta mengerubungi api. Saya nekad menabrak aturan, bergabung bersama mereka membawa lilin. Bekerjasama dan berkomunikasi. Saya memang melanggar aturan, tapi saat itu justru saya merasakan kehangatan ukhuwah yang sangat menyentuh hati.

Salah seorang dari mereka melepas jaket basah yang saya kenakan (bagian luar dan dalam basah kuyup). Katanya, itulah membuat dingin bertambah parah. Dan memang, setelah jaket dilepas, rasa dingin berkurang. Ada yang menggosok-gosokkan tangannya dengan tangan kiri saya yang keriput dan pucat agar hangat, sementara tangan kanan saya letakkan di atas nyala lilin. Saya tidak bertanya namanya siapa, tapi saya berdoa agar Allah menolongnya di setiap kesulitan. Amin. Ada juga yang membawa kehangatan dengan canda-candaannya. Dan tak lama bergabung pula seorang peserta yang juga menggigil dan pakainnya basah. Benar-benar ada kehangatan ukhuwah di tengah kedinginan. (Dan di balik pelanggaran aturan, hehe…)

Sebenarnya aturan sudah banyak dilanggar para peserta sejak di pos ketiga. Jujur, saya sama sekali awam dengan hutan dan tentu butuh bimbingan untuk program survival seperti ini. Saya butuh bertanya tumbuhan apa saja yang bisa dimakan. Sementara panitia tak mungkin selalu berada di dekat kami. Maka saya dan peserta lain berkomunikasi dan bekerjasama mencari makanan. Pak Suswanto menunjukkan saya buah kecil berwarna ungu seperti buah seri. Saya pun berkeliling mencari buah seperti itu. Di pos ketiga itu pak Suswanto banyak mendapatkan buah seperti Jambu Biji, Petai Cina, serta Jeruk Bali. Ia berbagi Jeruk Bali kepada peserta lainnya.

Di pos kelima yang kami beranjak ke sana sekitar pukul 10 malam, saya nekad menumpang bivak kepada pak Suswanto. Ya, lagi-lagi aturan dilanggar. Tapi lagi-lagi saya merasakan ukhuwah (saya mah gitu, kalo butuh pertolongan baru inget ukhuwah. Hehe…)

Di pos terakhir itu kami diperbolehkan membangun bivak berdekatan, bahkan berdempetan. Saya hampir tidak bisa tidur kecuali sebentar karena terbangun kedinginan. Peserta di bivak sebelah juga. Kami pun “bekerjasama” menyalakan api. Susah sekali karena udara begitu lembab. Dan terasa kembali kehangatan ukhuwah di kondisi genting seperti itu.

Saya bukannya membenarkan pelanggaran aturan. Panitia telah bersusah payah menyiapkan acara. Tentu mereka menginginkan para peserta mematuhi aturan. Di awal, panitia sudah bilang kalau mereka tak kan menghukum atau bahkan menegur peserta yang melanggar. Dan kami telah menyatakan bersedia mengikuti aturan dan sudah seharusnya kami komitmen. Hanya saja para peserta punya banyak kelemahan. Syukurnya panitia memaklumi.

Ibrah

Pagi pun datang. Dingin kembali menyingkir meski kabut menggerayang. Sekitar pukul 8 pagi kami meninggalkan pos ke lima untuk kembali ke basecamp. Dan di situ panitia sudah menyiapkan tongseng kambing yang enak buat peserta. Yummy…

Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara penutupan. Kami pun bersiap kembali menuju Jakarta membawa berbagai pengalaman yang sangat berkesan.

Saya bersyukur kepada Allah telapak kaki saya yang telanjang menginjak permukaan tanah hutan yang ditempati berbagai macam serangga dan duri itu tak terluka. Padahal ada seorang peserta yang meminta obat merah karena terkena duri meski ia sudah memakai sepatu (mungkin bukan luka di kakinya). Telapak kaki memang sedikit perih karena beberapa kali menginjak duri kecil, tapi tak sampai berdarah. Ada juga bekas gigitan pacet di kaki, tapi “anggap saja sedekah” kata seorang panitia.

Saya juga sudah melewati masa kritis menggigil hebat kedinginan. Makanan asing yang saya makan tak membawa dampak negatif kepada tubuh. Itu semua karena pertolongan dari Allah swt. Saya kira saya hanya perlu memohon pertolongan kepada Allah untuk bertahan hidup mendapat makanan saja, rupanya Allah menghadirkan keterdesakan lain yang tak diduga. Agar saya bermunajat lebih sungguh-sungguh.

Ketua DPD PKS Jakarta Selatan, ustadz Al Manshur Hidayatullah pada sesi lailatul katibah (jumat malam sebelum acara survival) sudah menyampaikan bahwa mukhoyyam adalah acara yang memadukan pembinaan ruhiyah, fikriyah selain jasadiyah. Ya, saya mendapatkan pengetahuan tentang makanan yang ada di alam liar, juga pengalaman spiritual yang tak kan pernah bisa saya lupakan, selain fisik yang berkenalan dengan medan berat.

Akhirul kalam saya berterima kasih kepada para panitia. Juga kepada para peserta terutama yang sudah memberi bantuan kepada saya sedikit atau banyak. Dan kepada partai yang memperhatikan pembinaan kadernya.

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2016 in Orat Oret

 

Jokowi dan Rasa Cintanya

Jangan pernah meremehkan rasa cinta atau mencemooh rasa cinta yang dimiliki oleh orang lain, selama cinta itu bukan dalam jalan kemaksiatan. Termasuk rasa sayang kepada hewan. Justru seorang muslim harus menjadi rahmat bagi semesta alam.

Rasulullah saw menceritakan kisah kebaikan seorang lelaki.

Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur dan meminum darinya. Tatkala ia keluar tiba-tiba ia melihat seeokor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini telah tertimpa (dahaga) seperti yang telah menimpaku.” Ia (turun lagi ke sumur) untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap yang memiliki hati yang basah maka ada pahala.” (HR. Bukhari Muslim)

Hati yang basah… Tentu maksudnya adalah basah dengan rasa cinta kepada makhluk Allah swt. Sementara mereka yang menyepelekan rasa cinta bahkan meremehkan pemilik rasa cinta itu, entah bagaimana keringnya hati mereka.

“Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk ke neraka, (dimana) dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya, dan dia tidak pula melepaskannya sehingga dia bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR Bukhari Muslim)

Maka selama seseorang memelihara binatang, memperlakukannya dengan baik, menyayanginya tanpa ada niat syirik kepada Allah swt, orang tersebut adalah terpuji. Jangan cela perilaku orang itu meski kita membencinya.

Termasuk Presiden RI, Jokowi. Kemarin ini beliau melepas 190 burung yang diborongnya dari Pasar Pramuka. Terlepas pro kontra masalah konservasi hewan, tindakan itu tentu terpuji. Selain burung, Jokowi juga melepas 150 ekor katak di pinggir kolam Istana Bogor. Kebetulan ketika itu ia menemukan seekor biawak terjebak di kotak saringan air, beliau lepaskan juga.

Tindakan itu terpuji. Sebagaimana kisah yang Rasulullah ceritakan, Allah swt tentu berterima kasih atas perilaku seperti itu.

Sebagai rakyat, tentu kita doakan semoga Pak Jokowi mendapat pahala dari Allah swt.

Hanya saja, ada yang lebih punya prioritas untuk disayangi. Sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 34 ayat 1, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

Sayang, di tengah ekspresi Presiden mencintai hewan, kita dengar berita bertambahnya rakyat miskin sebanyak 780 ribu selama setahun. Banyak analisa mengatakan bahwa hal ini akibat harga BBM yang naik. Semenjak kepemimpinan presiden Jokowi, harga premium dirasa telah dibiarkan mengikuti harga pasar dunia.

Pak Jokowi, rakyat miskin Indonesia lebih berhak mendapat rasa sayang bapak daripada katak.

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2016 in Orat Oret

 

Salut Untuk Fimadani

Lose the battle but win the war.

Berbekal satu berita tentang walikota Solo melarang buka puasa bersama, lalu muncullah petisi yang mengarah ke Fimadani. Menuduhnya sebagai media penyebar fitnah.

Ada yang bilang tulisan di Fimadani itu framing. Tapi berita serupa tersebar juga di media besar lainnya. Namun Fimadani saja yang disalahkan atas berita itu.

Kemudian ceo Fimadani, Ibrahim Vatih tampil menghadapi “pengunjuk rasa” di petisi tersebut, menyampaikan permintaan maaf, mengakui kelemahan, dan membuka diri untuk masukan-masukan. Fimadani pun menjawab balik, bahwa mereka punya 5000an artikel yang baik sementara kesalahan hanya segelintir.

Baca: www.fimadani.com/permohonan-maaf/

Sebagian orang mengkritik sikap ini dan menilai sebagai kekalahan. Benarkah kalah?

Saya rasa, kalau Fimadani kalah, sejatinya Fimadani “Lose the battle yet win the war.” Petisi itu terjawab, dan sikap besar hati Fimadani pun menjadi masyhur. Mau apa lagi “pengunjuk rasa” itu setelah protesnya dijawab? Sementara itu bagi mereka yang pro Fimadani, makin mengukuhkan posisi web online yang disupport puluhan blogger itu di hati mereka.

Dengan menjawab petisi konyol itu, Fimadani memperjelas sikap mereka. Fimadani mendapat momen memperkenalkan identitas mereka, sekaligus mengajak khalayak tak sungkan mengakses mereka kapan pun. Elegan.

Saya yakin hal sebaliknya yang akan terjadi kalau Fimadani bersikap resisten dan menyerang balik.

Menurut saya Fimadani yang menang. Yah.. Sometimes by losing a battle you find a new way to win the war. (Katanya sih itu kata-kata Donald Trump)

 
3 Comments

Posted by on July 11, 2015 in Orat Oret

 

Ada Kabar Apa Hari Ini, Haters?

Ada kabar apa hari ini, haters?

Ah.. Haters… Kalian begitu menginspirasi. Rupanya kekuatan cinta bukan satu-satunya kekuatan yang dahsyat yang ada pada diri manusia. Tapi kekuatan benci tak kalah dahsyat dan luar biasa. Kalian ajarkan itu.

Haters, kerja kalian mengagumkan dalam memburu aib pihak yang kalian benci. Meski kalian di Jakarta, tapi kalian bisa dapat info dari daerah yang nun jauh di sana, misalnya di sebuah daerah di Sulawesi Utara. Atau kalian berada di Depok, tapi kalian tak ketinggalan info sebuah kasus di Maluku Utara yang melibatkan pihak yang kalian benci. Hatta di Jazirah Arabia kalian masih bisa melacak aib di Jawa Tengah. Hebat, luar biasa, mengagumkan, bagaimana caranya kalian bisa update begitu?

Haters, kalian mengajarkan arti kesungguhan. Bagaimana caranya kalian bisa betah menguntit pihak yang kalian benci? Kalian kerasan berada di belakang pihak yang kalian benci sembari menunggu-nunggu kotoran keluar dari ekor mereka. Lalu kalian puaskan diri bermain dengan kotoran itu. Kalian senantiasa haus dengan kabar aib mereka. Tak pernah kenyang melihat mereka salah langkah. Selalu mengintip-intip aurat mereka tersingkap. Kalian survive dengan hidup begitu.

Haters, kebencian telah menjadikan kalian begitu dekat dengan mereka yang kalian benci. Selalu mengendap-endap agar tak jauh dari mereka. Seperti pembesar Quraisy yang mengendap-endap di dekat rumah Rasulullah pada larut malam agar bisa mendengar bacaan Qur’an. Saat kalian membuka mata di pagi hari, hingga kalian pejamkan mata, bahkan dalam mimpi, selalu ada mereka yang kalian benci menjadi tema utama. Entah dalam sehari berapa kali kalian sebut nama mereka.

Yah.. Manusia tak ada yang sempurna. Tapi Allah menuntut proses ke arah kesempurnaan. Manusia tertuntut perfeksionis dalam menyiapkan amal kepada Tuhannya. Oleh karena itu, Allah hadirkan kalian, haters, agar mereka kaum yang beramal yang kalian benci itu bisa mendapat kabar kesalahan-kesalahannya untuk diperbaiki. Mereka suka tak sadar atas aibnya, dan tugas kalian untuk berteriak ke seluruh penjuru bumi mengabarkan aib mereka. Agar mereka sadar dan kembali pada-Nya.

Kalau Allah tak ingin menerima amal mereka, tak akan ada kalian, haters. Allah biarkan istidroj terjadi, mereka dimudahkan terus beramal buruk tanpa ada gangguan yang membuat mereka mengoreksi kesalahan. Kesuksesan demi kesuksesan dipanen tanpa ada aral merintang. Seperti kalian lah… Allah permudah kalian ber-tajassus mengoleksi kesalahan mereka yang kalian benci, Allah permudah kalian mendebat dan membully habis mereka, karena Allah tak kan menerima amal pengorek-ngorek aib orang lain seperti yang kalian lakukan.

“Sanastadrijuhum min haytsu laa ya’lamuun…” Al-Qolam:44

Haters gonna hate, kata orang-orang. Ya, itu lah kalian. Jadi, ada kabar apa hari ini tentang mereka yang kalian benci?

 
2 Comments

Posted by on March 6, 2014 in Orat Oret

 

Otomatisasi Itu Keren?

“Gw kerjanya mengotomatisasi kerjaan-kerjaan orang di sini.” Kata teman saya sambil membanggakan diri di sebuah obrolan ngalor ngidul penuh becanda antara 3 orang karyawan gaji pas-pasan yang sedang beradu sombong.

“Eits, jangan bangga dulu.” Ujar saya. “Gw pernah ngerjain projek sistem informasi di sebuah bank. Kata karyawan di situ, kalo programnya udah jadi, beberapa orang bakal diputus kontraknya. Jadi, mengotomatisasi kerjaan itu belum tentu membantu kerjaan orang. Membantu kerjaan perusahaan sih iya. Tapi membantu orang, nggak juga. Yang ada malah memutus mata pencaharian orang lain.” Lanjut saya.

Kemudian dialog itu berlanjut terus dengan hahahihi.

Satu poin yang ingin saya tulis di blog dari percakapan saya dengan dua teman itu. Yaitu teknologi yang seperti dua sisi uang logam. Ada sisi yang membawa kebaikan, tapi ada juga sisi yang membawa keburukan bagi manusia.

Keburukan dari teknologi untuk pekerja berawal saat revolusi industri di Inggris di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang saat itu sedang booming penemuan mesin tekstil dan penemuan mesin lainnya. Mesin-mesin yang membuat ribuan tenaga kerja terputus mata pencahariannya. Karena mesin-mesin itu bisa mengambil alih pekerjaan beberapa orang sekaligus. Otomatisasi. Membahagiakan pemilik modal, namun menyengsarakan buruh.

Tapi pada akhirnya teknologi pun membuka lapangan pekerjaan baru. Misalnya dari pekerjaan kasar memotong dan menjahit pakaian, menjadi pekerjaan merancang dan mengoperasikan mesin dengan tuntutan pengetahuan dan ide-ide yang lebih. Namun jumlah lapangan kerja yang disediakan pun tidak bisa sebanyak tenaga kerja yang tergerus oleh otomatisasi.

Dan kelak pekerja yang merancang sistem otomatisasi pun akan semakin tergerus karena pekerjaannya bisa dibuat lebih otomatis lagi. Misalnya dalam membangun sebuah sistem aplikasi,  diperlukan tenaga programmer, designer untuk merancang tampilan, pembuat report, dll. Mungkin kelak ada sebuah tools yang memungkinkan pekerjaan men-develop program itu hanya dihandle oleh satu dua orang karena beberapa pekerjaan bisa diotomatisasi oleh tools itu. Senjata makan tuan bagi karyawan di bidang teknologi. Atau misalnya untuk membuat sebuah mesin diperlukan tenaga 10 orang. Kemudian zaman makin canggih sehingga untuk membuat mesin itu sudah ada perkakas baru yang bisa mengambil alih pekerjaan 5 orang. Sehingga untuk membuat satu mesin makin sedikit orang yang diperlukan.

Pada akhirnya kita tidak bisa mengutuk perkembangan teknologi. Karena itu sudah menjadi tuntutan zaman. Yang bisa kita lakukan adalah semakin memperkokoh posisi kita dengan pengayaan kapasitas. Ilustrasinya, untuk menghindari PHK, seorang penjahit harus memiliki kecakapan mengoperasikan mesin. Sehingga saat mesin tekstil datang, buruh itulah yang dipilih untuk menjalankan mesin. Dan dia tidak jadi di PHK.

Orang yang bekerja di dunia teknologi pun dituntut untuk selalu meng-update pengetahuannya. Karena tiap hari ada saja penemuan baru.

Atau, idealnya setiap orang harus punya jiwa wirausaha. Sehingga manusia zaman sekarang tidak menggantungkan hidupnya pada pabrik atau perusahaan.

Menyempurnakan semua ikhtiar itu, adalah sikap tawakkal dan percaya bawa Allah telah menjamin rezeki semua makhluk hidup. 🙂 “Dan tiada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6).

 
9 Comments

Posted by on July 29, 2012 in Orat Oret

 

Apa Kabar Biopori?

 

Sekitar dua-tiga tahun lalu, dekat-dekat pemilu tahun 2009, di lingkungan saya tinggal di RW 1 & 2 kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan gencar dikampanyekan pembuatan lubang resapan, atau biopori. Dan bukan cuma wacana, pembuatan lubang resapan itu benar-benar direalisasikan. Di tiap-tepi jalan hingga gang-gang kecil di lingkungan saya itu bisa ditemukan dengan mudah lubang-lubang berdiameter sekitar 10 cm berbaris.

Saya ingat, sebelum pembuatan biopori marak, air yang didapat dari mesin pompa di kontrakan saya itu warnanya agak kuning kecoklatan. Biasanya kalau habis hujan atau kalau lama tidak hujan, warna airnya seperti ini. Keruh. Khas sekali air Jakarta. Tapi sejak adanya lubang-lubang biopori, saya bisa menikmati air yang jernih walau pompa dihidupkan sehabis hujan. Juga kalau beberapa hari tidak hujan, air tetap jernih.

Tapi sayang, beberapa bulan kemudian biopori itu pada rata dengan tanah. Maksudnya, lubangnya sudah tertutup sehingga rata dengan tanah. Saat hujan, air mengalir menuju lubang biopori membawa material-material yang ada di atas permukaan, bisa berupa sampah atau butiran-butiran tanah. Akibatnya lubang biopori pun tertutup.

Kadang juga saya temui di dalam lubang biopori itu tumbuh tanaman. Memang, di negeri yang “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ini kesuburan tanahnya luar biasa. Ya akhirnya lama-lama lubang biopori itu dipenuhi rumput dan tanaman liar.

Setelah itu lubang biopori benar-benar tidak terawat. Dibiarkan begitu saja oleh warga. Tidak ada tindakan untuk menggali kembali lubang biopori itu. Dan akibatnya saya kembali jarang mendapatkan air yang jernih.

Itu salah satu manfaat langsung yang saya dapatkan dari biopori. Banyak manfaat lain yang bisa didapat dari biopori.

Jakarta dikabarkan mengalami penurunan permukaan tanah setiap tahun. Sejak 1974-2010, tanah Jakarta turun 4,1 M. Ini disebabkan penggunaan air tanah yang berlebihan. Bahkan kalau tidak segera dihentikan, maka Jakarta akan bener-benar tenggelang pada 2025. Itu menurut ahli yang tergabung dalam anggota konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS).

Rasanya susah untuk memberhentikan penggunaan air tanah. Gedung-gedung perkantoran tentu menjadi penyedot air tanah paling besar. Saya membayangkan ada teknologi yang bisa menyediakan air jernih dari sungai atau pun laut Jakarta, sebagai pengganti penggunaan air tanah. Saya yakin bisa, tapi saya tidak tahu berapa dana yang diperlukan untuk investasi teknologi tersebut.

Penggunaan air tanah terus meningkat, sementara tanah serapan di Jakarta semakin berkurang. Itu lah makanya biopori bisa menjadi pengganti tanah serapan yang berkurang di Jakarta. Air yang tercurah dari hujan tidak langsung terbuang ke sungai, tapi “ditabung” menjadi air tanah. Saya yakin, kalau dirawat dan dimanfaatkan dengan serius, biopori ini bisa memperlambat penurunan permukaan tanah. Saya juga membayangkan kalau air berkubik-kubik yang dimanfaatkan di kantoran tidak langsung dibuang ke saluran air, tapi ditabung dulu ke dalam sebuah sumur serapan. Diusahakan air diserap dulu baru yang tak terserap dibuang ke penyaluran air.

Manfaat biopori lainnya adalah menghindari adanya genangan air. Di jalan di mana air sering tergenang kalau hujan, sangat strategis bila dibuat biopori.Selain itu, air yang diserap ke tanah dan tidak langsung dibuang ke sungai, tentu menjadi penahan banjir.

Ada banyak manfaat biopori. Sayang, warga kurang diberikan kesadaran. Dan ketua-ketua RT juga tidak serius mengkoordinasi warganya untuk memelihara biopori.

 
6 Comments

Posted by on January 18, 2012 in Orat Oret