RSS

Monthly Archives: April 2019

Luapkanlah Emosi Anda, Pak Prabowo!

 

“Pemimpin yang baik itu tidak emosional”, ujar mereka setelah melihat video kampanye Anda di Jogja yang menggebrak podium. Menurut saya luapan emosi Anda sudah tepat, Pak Prabowo. Anda bukan marah karena alasan pribadi, tapi karena risau dengan nasib negeri ini. Juga ketika Anda menangis, itu tanda hati yang hidup yang masih bisa bergetar mendengar nasihat ulama, bukan karena cengeng.

Maka saya dan rakyat Indonesia titipkan amarah kami pada Anda. Melihat bangsa lain memangsa hasil bumi negara ini. Bahan tambang dibawa pergi, lalu disisakan kerusakan lingkungan di tanah ibu pertiwi.

Kami titipkan amarah kepada Anda atas lapangan kerja yang terampas oleh bangsa asing. Bukan sekedar tenaga ahli yang menyerbu, namun juga buruh kasar. Di beberapa tempat memicu bentrokan dengan warga dan tenaga lokal.

Kami titipkan amarah kepada Anda karena kebutuhan hidup yang melambung tinggi. Ongkos listrik rumah tangga melonjak berlipat beberapa tahun belakangan. Harga BBM, sembako dan kebutuhan-kebutuhan pokok semakin mahal. Sementara panen petani malah tak berharga karena impor yang serampangan.

Kami menangis bersama Anda saat Ustadz Abdul Somad memberikan taushiyahnya. Apalagi saat ia memberi hadiah tasbih, dan mewasiatkan untuk menjaga afdholudz dzikr. Ketika tangan beliau menyentuh dada Anda, seolah tangan itu pun ada di atas dada kami.

Maka luapkanlah gelora emosi Anda, pak Prabowo. Anda bukan marah kepada rakyat yang sedang mengadu, seperti contoh yang tidak baik dari seorang mantan gubernur.

Namun bergegaslah redakan amarah kami, bila Tuhan takdirkan Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa ini. Ganti dengan senyum bangga pada negeri.

Jangan pernah emosi pada kami yang mengadu pada Anda.

Dan jangan pernah berhenti menangis bila ulama yang lurus menegur Anda dengan bahasanya yang tegas.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2019 in Artikel Umum

 

PKS, Angka 8, dan Tren 2004

PKS kembali mendapat nomor urut 8 dalam pemilu legislatif. Sepuluh tahun lalu, partai dakwah ini mendapat nomor urut yang sama. Tak perlu utak atik gathuk untuk memaknai hal ini. Tapi jadikan penyemangat untuk menyambung tren yang pernah diraih pada pemilu 2004.

Unik, nomor urut PKS biasanya berkelipatan 8. Pada pemilu 1999, saat masih bernama Partai Keadilan, angka 24 menjadi penanda keikutsertaan perdana partai yang konsisten dengan lambang dua bulan sabit kembar ini dalam pentas perpolitikan. Kala itu mereka meraih 1,36% suara.

Lima tahun kemudian, hasil undian yang keluar adalah nomor 16. Juga angka kelipatan 8. Saat itu raihan mereka melonjak menjadi 7,34% suara.

Di tahun 2009, angka 8 menghiasi bendera-bendera kampanye mereka. Tapi tren kenaikan pada 2004 lalu gagal dijaga. Mereka hanya meraih 7,88% suara.

Di tahun 2014, tidak lagi berkelipatan delapan, tapi nomor urut 3. Bila angka 8 dihapus sebelah kirinya, didapatlah angka 3.

Memang tidak ada kaitannya antara nomor urut dengan prestasi politik. Sebuah angka tidak bisa memberi manfaat atau pun mudhorot kepada suatu makhluk pun di dunia ini. Begitulah prinsip orang yang imannya mendalam kepada Allah swt.

Hanya saja saya teringat hal yang unik 10 tahun lalu. Memaknai angka 8, Sekjen PKS Anis Matta kala itu mengaitkan dengan kepercayaan orang Tionghoa. “Angka 8 adalah angka hoki. Angka 8 merata gemuknya. Jangan seperti angka 9, karena gemuknya di atas dan gemuknya tidak rata,” ujarnya. Ucapannya ini kemudian direspon oleh Ketua PBNU Ahmad Bagja. “Justru itu aneh. Kok PKS percaya ke mistik, ada angka hoki dan tidak hoki. Ya menurut saya anehlah.”

(Beritanya masih terarsip pada tautan: https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/pks-tricky-soal-angka-hoki-8/ , https://www.portal-islam.id/2008/08/anis-matta-angka-8-gemuknya-merata-beda.html , dan https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/ketua-pbnu-pks-kok-percaya-hoki/ )

Saya bersyukur pada pemilu kali ini tidak ada lagi yang mengaitkan nomor 8 dengan kepercayaan di luar Islam.

Setelah memperoleh lonjakan yang tinggi pada pemilu 2004, kader PKS banyak yang yakin tren itu terjaga pada 2009. Target mereka adalah 3 besar, bahkan 20% suara. Kejutan dari pilkada DKI Jakarta 2007 menjadi penanda. Di mana pasangan Adang Darajatun – Dani Anwar yang mereka usung merengkuh kepercayaan masyarakat ibu kota sebanyak 42.13%. Padahal pasangan ini diramal tak kan mampu mencapai di atas 30%.

Kader PKS kala itu dalam kepercayaan diri tinggi. Kampanye di Gelora Bung Karno dikalkulasikan hingga 122 ribu orang (tautan: https://news.detik.com/pemilu/1111930/kampanye-diikuti-122-ribu-orang-pks-masuk-muri ), sampai-sampai mendapat piagam rekor Museum Rekor RI (Muri) sebagai peserta kampanye terbanyak di GBK.

Tapi bayang-bayang nama besar SBY rupanya tak bisa terbendung. Akhirnya, jangankan dua puluh persen, sepuluh persen saja gagal diraih PKS. Tak ada pengulangan cerita mengagumkan seperti lima tahun sebelumnya. Faktor lain adalah pecahnya barisan di tubuh partai. Bahkan orang awam pun memprediksi hal ini. Saya pernah menguping pembicaraan karyawan kantoran yang sedang ngobrol politik. Salah seorang bilang, dengan fenomena FKP, PKS tidak akan mampu berjaya di 2009. Rupanya ucapannya benar.

Kini dua hal yang mirip tengah dihadapi PKS. Yaitu nama besar capres yang diusung, Prabowo, yang secara coat-tail effect akan memberi keuntungan kepada Gerindra. Dan munculnya ormas baru yang didirikan sebagian kader partai yang tak percaya dengan pimpinannya.

Akankah angka 8 persen kembali menjadi kerangkeng bagi komunitas tarbiyah ini?

Silakan dianalisa. Tapi saya rasa PKS kali ini akan menyambung kesuksesan angka 8 yang sempat gagal dulu. Ya, saya percaya partai ini akan melonjak kembali di 2019. Walau dengan kenaikan yang tak se-drastis 2014.

Coat-tail effect tak dipungkiri. Tapi bukan berarti itu akan memblokir dukungan kepada PKS. Karena tokoh lain yang berpengaruh seperti ulama yang sedang terasing di kota kelahiran Nabi Muhammad saw (saya tak sebut namanya untuk menghindari telinga mar jukerberg menjadi panas. Karena tulisan ini akan diposting di FB), juga Ustadz Abdul Somad, Ustadz Haikal Hasan, dan para pemuka agama lain, serta ormas-oramas Islam menyatakan dukungannya kepada partai ini. Nama-nama tersebut punya pengaruh yang tak kalah hebat dari Prabowo.

Selain itu, perpecahan yang dialami PKS justru membuat partai ini berjalan ringan tanpa beban. Kader-kadernya tak lagi merasa canggung karena pernyataan nyeleneh tokohnya di depan publik, sebagaimana kata sinting yang pernah terlontar. Justru perpecahan kali ini membuat kader yang masih bertahan di dalam semakin mantap untuk berjalan dengan mabda’-mabda’ (prinsip-prinsip) dakwah yang selama ini dijadikan jargon. Allahu ghoyatuna semakin kokoh di hati menepiskan cemoohan orang-orang yang keluar barisan yang berkata “politik kok mencari berkah?”

Kualitas perpecahan tahun 2009 berbeda dengan 2019. Dulu, sebagian kader dipecat karena menuntut agar barisan kembali kepada asholah dakwah. Kini sebagian kader membangkang gara-gara persoalan kursi basah. Justru yang bertahan ingin agar langkah-langkah PKS berorientasi berkah, bukan maneuver zig-zag dengan aroma pragmatisme yang membingungkan kader, simpatisan, dan ummat Islam.

Saya merasakan getaran spirit kader PKS yang meninggi di tahun ini. Ya, kita lihat saja nanti. Semoga harapan saya benar.

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2019 in Artikel Umum

 

Identitas Si Teroris

*Sebuah fiksi ilmiah, tanpa kejelasan di mana ilmiahnya

Asap masih mengepul dari lokasi kejadian ketika inspektur Vijay sampai di tempat yang tak lama tadi seorang teroris melakukan aksi bom bunuh diri.

Instruksinya kepada aparat di sekitar: temukan KTP, KK, Paspor, atau identitas pelaku. Karena seperti pola yang sudah-sudah, para teroris itu ingin dikenang oleh dunia dengan meninggalkan jejak data diri di dekat TKP.

Lalu sebentar saja seseorang bersenjata laras panjang dan mengenakan rompi anti peluru tergopoh-gopoh menghampiri Inspektur Vijay. Ia membawa KTP atas nama Brenton Tarrant.

“Nah, tak diragukan lagi. Orang ini lah pelakunya. Siapkan konferensi pers,” pinta Inspektur Vijay.

Tiba-tiba datang lagi seorang anak buahnya. “Lapor Komandan, saya menemukan Kartu NPWP, BPJS Kesehatan, dan BPJS Tenaga Kerja atas nama Brenton Tarrant.”

“Oh. Lengkap juga identitasnya dia sebarkan,” kata Inspektur Vijay. “Ini akan menjadi bukti yang sangat kuat.”

Baru saja berkata begitu, datang lagi anak buah yang lain.

“Lapor komandan, saya menemukan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Pra Kerja, dan Kartu Sembako Murah atas nama Brenton Tarrant.”

Inspektur Vijay makin kaget. Banyak sekali teroris ini membawa kartu dalam aksi kali ini.

“Lapor Komandan!” suara yang lain. “Saya menemukan Kartu Esemka Murah, Kartu Dollar Murah, Kartu Listrik Murah, Kartu BBM Murah, Kartu Restoran Padang Murah, Kartu Indonesia Baca Komik, Kartu Seleb Youtuber, Kartu Indonesia Ganteng, Kartu Indonesia Buzzer, Kartu Anak Millenial, Kartu Indonesia Anti Rantai Sepeda Putus, atas nama Brenton Tarrant.”

Inspektur Vijay mengangguk. “Hmm… tampaknya si teroris ini pendukung program pemerintah.”

“Benar Komandan. Saya juga menemukan Kartu Indonesia Metamorfosis, yang memudahkan perubahan bentuk dari kecebong menjadi kodok, atas nama orang yang sama.”

“Oh begitu. Eh iya… Bagaimana dengan alamat dalam kartu tersebut. Apakah sama? Mengingat nama Brenton Tarrant itu cukup pasaran.”

“Lho, komandan… Nama pasaran itu Budi, Agus, Rudi, Hendra… Kalo Brenton mah agak jarang,” protes seorang anak buah.

“Ya tadinya penulis cerita ini mau memakai nama-nama itu. Tapi takut ada yang tersinggung. Ya sudah, pokoknya kalau kata penulis, nama itu pasaran, ya pasaran.”

Mereka mengangguk dan mulai mencocokkan alamat dari kartu-kartu tersebut. Rupanya ada 5 alamat yang berbeda.

“Jadi, apakah kartu-kartu ini milik orang yang sama?” tanya Inspektur Vijay.

“Kita cek saja di sistem e-KTP, komandan,” jawab seseorang.

“Tapi susah. Kan e-KTP tidak terintegrasi dengan kartu-kartu itu. Kalau sistemnya canggih, buat apa banyak kartu? Cukup satu KTP dengan banyak manfaat,” jawab yang lain.

“Oh, itu seperti kampanye Sandiaga Uno dong?”

“Lah… Memang begitu harusnya. Katanya e-KTP sudah pakai chip khusus. Tapi kok pemerintah masih mengeluarkan banyak kartu setiap ada program. Percuma dong chip-nya?”

“Heh… Kamu itu kalah ya dengan si teroris,” Inspektur Vijay sewot. “Dia saja mendukung program pemerintah. Kok kamu malah kayak kampret?”

“Siap. Maaf komandan.”

Tiba-tiba datang lagi seorang aparat yang lain. Belum sempat dia membuka suara, Inspektur Vijay sudah langsung bertanya, “Kamu dapat kartu apa lagi?”

“Siap komandan. Saya membawa surat atas nama Brenton Tarrant, yang saya temukan di sekitar TKP.”

“Oh. Bacakan surat itu.”

“Siap Komandan!”

Lembar kertas yang di tangan ajudan itu dibuka. Sebuah tulisan tangan empat paragraf dibacakan agak keras.

“Hai guys, selamat ya sudah menemukan surat ini. Saya cuma mau curhat betapa gak enaknya jadi teroris zaman sekarang.

Sesuai SOP, saya harus menjatuhkan kartu identitas di dekat lokasi kejadian. Tapi kalian tau gak guys, berapa banyak kartu yang harus saya jatuhkan? Banyak guys. Capek bawanya. Gak cukup satu dompet. Lebih beratan kartu-kartu itu daripada bom yang saya bawa.

Jadi guys, saya cuma mau pesen buat generasi sekarang. Berhentilah menjadi teroris. Ketika kalian dapat tugas melakukan operasi pengeboman, kalian bakal makan hati dengan kartu-kartu identitas yang harus dibawa. Capek.

Segitu aja dari saya guys. I hope to see you on my next video!”

Inspektur Vijay menitikkan air mata. “Luar biasa menyentuhnya pesan teroris ini. Dia membawa pesan yang positif kepada anak muda. Baiklah. Mari kita siapkan konferensi pers!”

“Lapor komandan. Saya menemukan kartu yang lain…” seorang ajudan datang lagi.

 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2019 in Artikel Umum

 

Isra Mi’raj dan Ilmu Pengetahuan

Dengan apa manusia menyangkal Isra’ Mi’raj? Dengan ilmunya yang secuil.

Maka dulu mereka berkata tak mungkin bisa seseorang berjalan hanya dalam semalam hilir mudik Mekkah – Yerusalem. Seraya menyangka teknologi di zaman itu telah berada di puncaknya.

Waktu bergulir 14 abad kemudian. Dan tersibaklah ketidakmungkinan itu. Setelah burung besi ramai lalu lalang di angkasa.

Kini, penyangkalan berlanjut dengan, “tak mungkin alam semesta ini dilintasi hanya dalam satu malam”. Diajukan argumentasi teori kecepatan cahaya, teori relativitas, dan lain sebagainya. “Mustahil,” simpul mereka.

Bila misteri Isra’ saja butuh waktu 14 abad untuk dipahami, lalu berapa lama agar Mi’raj terdengar masuk akal?

Akhirnya keimanan menyudahi kerut kening yang keheranan. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun keyakinan akan peristiwa Isra Mi’raj tidak menanti akal terpuaskan.

Sebagian orang yang mengimani kejadian itu membuat spekulasi-spekulasi agar Isra Mi’raj bisa bersesuaian dengan teori-teori yang ada. Ya terserah saja. Namun bila kelak berkembang pengetahuan baru yang membantah yang sempat berlaku, jangan sampai ada iman mengempis.

Jangan sampai minder gara-gara apa yang harusnya diimani tak bisa dibuktikan oleh segenap teori di zaman ini.

John Dalton dibantah oleh JJ Thompson. Heliosentrisme membantah geocentrisme. Banyak penyakit yang dulu tak ada obatnya, kini bisa disembuhkan. Semua ilmu itu akan ada pembaharuan.

Tapi manusia angkuh. Di setiap penemuan anyar, ia menyangka telah mencapai puncak pengetahuan. Lalu dengan itu ia meremehkan apa yang dianggapnya tak masuk akal dalam ajaran agama.

Tak perlu minder. Tentang dua laut yang tak dapat bercampur, tentang perkembangan janin, fenomena pergerakan gunung, dan berbagai hal dalam Al-Qur’an yang telah terbukti oleh sains, itu pun tak menjadikan orang-orang kafir beriman.

Maka bersyukurlah yang telah dikaruniai hidayah dan taufik oleh Allah swt untuk mengimani semua ajaran Islam, yang masuk akal atau pun tidak.