RSS

Monthly Archives: January 2014

Pahamilah Kebutuhan Kita

Tulisan ini dibuat saat heboh pelarangan film hollywood di Indonesia dan Uber Social yang bermasalah. Terjadi omel-omelan tak jelas di dunia maya. Ditulis pada 21 Februari 2011, tulisan ini merespon kondisi saat itu.

Salah satu pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar adalah tentang kebutuhan manusia. Kebutuhan dibagi menjadi tiga, kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang penting dan mendesak, contohnya adalah sandang, pangan, papan (pakaian, makanan, dan tempat tinggal). Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang kepentingannya di bawah kebutuhan primer. Misalnya sarana transportasi, alat komunikasi, dll. Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang sifatnya mewah seperti perhiasan, mobil mewah, dll.

Penting untuk pandai-pandai mengklasifikasi kebutuhan kita. Dengan kemampuan menyusun skala prioritas kebutuhan, seseorang dapat dengan efektif memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang yang tersandera oleh nafsunya dan gagal menyusun skala prioritas kebutuhannya, berpeluang untuk didera rasa tidak puas terus menerus. Dilengkapi sifat mudah mengumpat, maka lengkaplah penderitaan itu karena mengumpat hanya membawa seseorang pada keadaan yang lebih buruk.

Setiap orang bisa berbeda dalam menilai suatu kebutuhan apakah termasuk kebutuhan pokok, sekunder, atau tersier. Semuanya tergantung manfaat yang dirasakan tiap individu. Subjektif.

Bagaimana dengan kebutuhan menonton film Hollywood, BlackBerry, UberTwiter, dll? Termasuk kebutuhan primer, sekunder, atau tersier?

Agak kontroversial tema yang saya angkat. Tapi saya cuma ingin mengajak kita introspeksi agar tidak asal mengumpat pada keadaan, dan mengatur energi kekesalan kita dengan proporsional. Seorang remaja di twitter mengumpat seperti ini: “UberTwitter diblock, film Hollywood diblock, hancur udah negara ini.” Membaca status itu membuat saya mengernyitkan dahi dan bertanya, apakah memang sebegitu urgen aplikasi UberTwitter dan film Hollywood bagi negara ini sehingga apabila kedua hal itu tidak ada maka negara ini hancur???

Saya bukan penikmat film bioskop. Tapi saya bisa merasakan kegelisahan teman-teman saya penggemar film hollywood. Saya membayangkan bagaimana kalau wordpress, blogger, blogsome, atau layanan penyedia blog memboikot Indonesia… Wah, saya merasa kehilangan hobi dan aktifitas yang bermanfaat: blogging dan blogwalking.

Persoalan UberTwitter agak berbeda dengan persoalan film hollywood. UberTwitter di-suspended oleh pengelola Twitter karena menyangkut beberapa kesepakatan di antara dua pihak. Sedangkan persoalan hilangnya film Hollywood adalah karena kebijakan pemerintah yang menaikan pajak bea masuk. Karena pemerintah sejatinya adalah pelayan rakyat, maka masyarakat bebas melancarkan protes kepada pemerintah karena membuat distributor film impor ‘ngambek’ dan memboikot Indonesia.

Tapi apakah protes yang dilancarkan berangkat dari pemahaman terhadap persoalan dengan baik? Kalau yang melancarkan protes disuguhkan pertanyaan mana yang lebih penting kenaikan bea masuk ataukah tontonan film barat, bagaimana kira-kira jawabannya?

Suatu kebijakan sangat susah membuat semua pihak puas. Selalu ada saja pihak yang tak terpuaskan. Sosialisasi dan penjelasan yang gamblang menjadi kewajiban pengambil keputusan. Dan kedewasaan masyarakat menyikapi kebijakan yang tidak memuaskan sangat diperlukan. Kritik adalah kebutuhan primer bagi pembuat kebijakan, dengan catatan kritik itu konstruktif dan lahir dari pemahaman yang utuh terhadap persoalan.

Akan ada banyak hal yang seperti ini. Bukan cuma menyangkut kebijakan pemerintah yang menyebabkan sebuah kesenangan kita hilang. Tapi bisa banyak hal yang menyebabkan sebuah kesenangan kita hilang – yang kita gagal menentukan jenis kebutuhan dari kesenangan kita yang hilang itu. Seruan saya melalui tulisan ini adalah:

1. Pahami persoalan secara utuh sebelum protes dan melontarkan kekesalan (soalnya di twitter banyak yang salah melontarkan kemarahan pada pak Tifatul).

2. Sikapi dengan tepat mengenai hilangnya film Hollywood, UberTwitter, dll. Kalau kita mengerti pada tingkatan mana kebutuhan kita terhadap kedua hal itu, maka kita bisa menakar kekecewaan kita agar tidak berlebihan. Jangan sampai kita termasuk yang bersikap seolah-olah dunia akan kiamat karena dua hal itu hilang. 🙂

Buat teman-teman yang memperjuangkan kembalinya film Hollywood, saya ucapkan semoga sukses 🙂

 

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on January 20, 2014 in Artikel Umum

 

Islam dan Nasionalisme

Apakah benar tidak ada titik temu antara nasionalisme dengan Islam?

Kita berbicara apa? Kalau nasionalisme dalam artian nasionalisme yang mengarah chauvinisme, nasionalisme gaya masyarakat Inggris, ‘right or wrong england is my country’, maka jelas Islam tidak mentolerir sikap seperti ini.

Tapi kalau yang dimaksud nasionalisme adalah sikap cinta pada tempat di mana kita berada, dan diikuti dengan semangat membangun, maka sikap itu mengadopsi semangat Islam yang mencintai kebaikan.

Hasan Al-Banna menguraikan nasionalisme seperti berikut:

Nasionalisme Dibangun atas dasar empat prinsip yaitu kerinduan, kehormatan, kebebasan, kerakyatan dan pembebasan.

Pertama, nasionalisme kerinduan, artinya, rasa cinta tanah air, keberpihakan padanya dan kerinduan yang terus menggebu terhadapnya yang merupakan fitrah yang sudah tertanam dalam diri manusia. Sebagaimana Bilal yang telah mengorbankan segalanya demi aqidahnya, adalah juga Bilal yang suatu ketika di negeri Hijrah menyenandungkan bait-bait puisi kerinduan yang tulus terhadap tanah asalnya, Mekah.

Kedua, nasionalisme kehormatan dan kebebasan. Maksudnya adalah keharusan berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme, menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-puteri bangsa.

Ketiga, nasionalisme kemasyarakatan. Adalah, memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warga negara serta menunjukan kepada mereka cara-cara memanfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama.

Keempat, nasionalisme pembebasan. Yaitu membebaskan negeri-negeri lain dan menguasai dunia, dimana inipun telah diwajibkan oleh Islam. Islam bahkan mengarahkan para pasukan pembebas untuk melakukan pembebasan paling berbekas.

Nasionalisme seperti ini yang akan membawa sebuah bangsa maju tanpa harus tersekat dengan batasan geografis, tidak eksklusif dengan pemahaman kelompok yang sempit, tidak menghilangkan rasa kepedulian mereka terhadap permasalahan bangsa lain.

Reblog dari blog lama yang sudah tidak aktif, 29 May 2006

 
6 Comments

Posted by on January 16, 2014 in Artikel Umum

 

Internet Sehat Menuju Dunia yang Hebat

Kesehatan akan melahirkan kekuatan, dan kekuatan akan melahirkan kehebatan. Kesehatan dekat dengan kekuatan, itu tercermin dalam pepatah “men sana in coropore sano”, yang artinya adalah di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Dan kehebatan, kejayaan, kegemilangan, memerlukan sebuah kekuatan untuk mencapainya.

Perlu kekuatan untuk mengubah dunia menuju kejayaannya, menuju dunia yang penduduknya saling menebarkan manfaat, dan saling membahu menghilangkan kebodohan.

Sebuah upaya menuju dunia yang hebat, telah coba ditempuh oleh Westminster Abbey. Seorang diri ia mewujudkan niatnya. Sayang, usahanya gagal. Hingga pada akhirnya ia berkata: “Seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun akan mampu memperbaiki negeriku, Kemudian siapa tahu, dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini!” Kata-kata itu tertulis di makamnya.

Kata-kata Westminster Abbey memberikan kita pelajaran bahwa perubahan menuju dunia yang hebat, bisa dimulai dari pribadi kita.

Perubahan di Dunia Digital

Sebuah dunia digital telah dimulai. Dunia dengan perkembangan teknologi begitu cepat. Bukan hari, jam, atau menit, tapi detik yang akan datang akan ada penemuan baru. Begitu deras dengan terjangan ide dan informasi.

Internet ada di dalam dunia itu. Sebuah sarana yang menghubungkan tiap pribadi dengan dunia informasi yang luas. Seharusnya informasi membawa kecerdasan, tapi jendela ini juga bisa menghadirkan sampah kebodohan bila tidak disaring dengan baik. Bila yang seharusnya terjadi – sarana ini membawa kecerdasan – maka terbuka peluang besar akanhadirnya dunia yang kuat, dunia yang jaya, dunia yang hebat.


Tahap Perubahan

Mengubah Pribadi

Mari patuh pada pelajaran yang disuguhkan oleh Abbey: Perubahan dimulai dari diri sendiri. Kita bisa menggunakan internet sebagai sarana menuju perubahan kearah individu yang hebat. Karena itu, dibutuhkan internet yang sehat untuk dikonsumsi oleh kepribadian kita.

Mudah saja syarat internet sehat itu: yaitu terbebas dari berbagai penyakit dunia maya, seperti pornografi, kriminalitas dunia maya, kecenderungan menarik diri dari dunia sosial nyata, dan juga candu. Kecanduan dalam artian yang negatif. Kecanduan game internet adalah bagian dari penyakit ini. Bahkan kecanduan mencari informasi pun sesuatu yang buruk, karena tidak semua informasi yang ada di internet diperlukan oleh tiap orang. Pribadi yang sehat tidak akan menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat. Kalau pun ingin rehat, maka cukup rehat yang menyegarkan untuk kemudian beraktifitas kembali.

Dunia maya mengenal sebuah wahana yang bernama jejaring sosial. Ini pun memiliki penyakitnya sendiri. Seorang pribadi yang mudah menghujat, hujatannya akan lebih terdengar oleh banyak orang melalui jejaring sosial. Buruknya, sifat jelek ini bisa menular kepada orang lain, atau minimal membuka pertengkaran baru di dunia maya.

Kalau hal yang buruk tadi bisa disingkirkan dalam pemanfaatan internet, maka tinggalah hal-hal yang baik seperti menebar informasi yang bermanfaat pada blog, jejaring sosial, milis, atau wahana lain di dalam internet. Hal-hal baik yang sering dibagi dalam internet adalah misalnya tulisan penyemangat/motivasi, tulisan berisi pendidikan agama, nasehat, tips dan trik, informasi tentang lingkungan, informasi pendidikan keluarga, dan banyak lagi.

Itu lah internet yang sehat yang bisa membentuk karakter yang kuat pada sebuah individu. Pribadi yang seperti ini yang bisa memberikan pengaruh positif pada lingkungan dan keluarganya.

Mengubah Keluarga

Keluarga bisa memanfaatkan internet untuk menciptakan keluarga yang sehat. Karena itu kita patut mencermati dampak buruk internet pada keluarga.

Penyakit yang patut diwaspadai salah satunya adalah cyberbullying. Penyakit yang menurut Douglas Gentile, seorang pakar psikolog anak, lebih merugikan daripada menonton tv. Penyakit ini menempel pada jejaring sosial, menyebabkan kinerja yang buruk di sekolah sang anak. Pada orang tua, ancaman perselingkuhan di dunia maya yang sering terjadi, bisa mengancam keutuhan keluarga.

Saya menyarankan sebuah keluarga mempunyai akun jejaring sosial milik bersama. Hal ini bisa menjadi jalan orang tua untuk memberi contoh pemanfaatan jejaring sosial yang baik. Orang tua bisa memberi teladan dalam menulis status yang baik. Kemudian orang tua bisa menugaskan anak untuk ikut menuliskan status yang bermanfaat, seperti kata-kata motivasi, pujian atau ucapan selamat pada teman yang mendapat kesenangan, atau tulisan empati pada kawan yang tertimpa musibah. Dengan itu, akun milik keluarga menjadi akun yang sehat dalam jejaring sosial.

Psikolog Gentile mengatakan bahwa dampak-dampak buruk internet pada anak bisa diatasi dengan “faktor pelindung”, yaitu teman yang baik dan sekolah yang bermutu, minat baca, dan keluarga dengan nilai-nilai pendidikan. Sedangkan orang tua, dengan kedewasaannya bisa mengontrol dirinya sendiri dari hal-hal buruk yang dapat dilakukan melalui internet. Karena itu lah diperlukan pribadi yang sehat untuk mempengaruhi keluarganya.

Mengubah Masyarakat

Perlu peran pemerintah dalam melindungi masyarakat dari internet yang tidak sehat. Karena itu saya mendukung pemerintah yang berupaya memblokir konten pornografi. Pornografi adalah salah satu penyakit yang bisa membuat internet tidak sehat. Dan bila internet yang tidak sehat ini dikonsumsi masyarakat, maka masyarakat Indonesia akan menjadi lemah dan terancam kriminalitas.

Penyakit lain yang perlu disingkirkan adalah pemakaian internet untuk sarana menghujat dan menggunjing. Ini tidak sehat. Kritik yang konstruktif, yang disertai dengan jalan keluar, jauh lebih baik daripada caci maki dan ejekan.

Sepanjang yang saya temui, narablog adalah orang-orang yang telah berhasil memanfaatkan internet dengan sehat, melalui blognya. Perkumpulan narablog dalam komunitas regional atau komunitas dengan tipe lainnya, adalah sebuah jalan bagi masyarakat impian – masyarakat pengguna internet yang sehat.

Tapi pengguna internet yang tidak memiliki blog pun sangat bisa menjadi penyusun bagi masyarakat yang sehat. Pribadi-pribadi menyusun sebuah keluarga. Dan keluarga-keluarga menyusun sebuah masyarakat. Bila keluarga Indonesia telah sehat, maka masyarakat yang sehat akan hadir dengan sendirinya.

Mengubah Dunia

Dan dunia tersusun oleh berbagai masyarakat. Masyarakat-masyarakat pengguna internet yang sehat lah yang bisa memberi pengaruh positif bagi dunia.

Kita mengimpikan internet sehat yang bebas dari penyakit pornografi; kriminalitas dunia maya; kebencian, caci maki, dan pertengkaran; dan masyarakat yang tidak abai dengan dunia nyata. Internet seperti ini yang bisa menyajikan sebuah informasi dan pikiran positif bagi penggunanya. Dan kejayaan dunia berbasis informasi sehat otomatis telah berjalan.

Dengan sarana internet, dan tahapan seperti ini, mudah-mudahan cita-cita Westminster Abbey bisa kita wujudkan.


referensi:

http://ayahkita.blogspot.com/2010/04/bisakah-kita-mengubah-negeri-ini.html

http://www.enformasi.com/2009/01/dampak-negatif-internet.html

http://teknologi.vivanews.com/news/read/185565-mana-lebih-buruk-pada-anak–internet-atau-tv-

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2014 in Artikel Umum

 

Hakikat Bunga Itu

Tuhan
Pada hadapanku
Terhampar rumpun-rumpun bunga
Bersama dayunya
Angin menerbangkan aroma merah jambunya padaku
Di celah tatapanku saat ku memegang sebuah sapu

Tuhan
Hampir terlepas sapu ini
Dan ku petik sekuntum
Karena pada masa ini
Aku berpijak pada asap
Menghirup warni gemerlap
Hingga lidahku gagap
Menyebut nama-Mu

Tuhan
Tersadar aku
Bunga itu hanya akan menghiasi kuburku.

 
Leave a comment

Posted by on January 11, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Bimbangku Kau Tak Bimbang

Bimbangku kau tak bimbang
paruku terbakar
Bimbangku kau tak bimbang
hidungku menghitam
Bimbangku kau tak bimbang
kulitku membahang
Bimbangku kau tak bimbang
di jam makanmu
bumi merayap dalam pusara

 
1 Comment

Posted by on January 9, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Menyikapi Kritik

Sebenarnya tulisan ini adalah rumusan apa yang harus saya pribadi lakukan saat menghadapi kritik. Hasil dari renungan. Saya share agar ada teman yang memberi masukan dan tambahan. Maklum, rajin dikritik 🙂

Karena manusia bukan makhluk yang sempurna, di sisi lain manusia suka menuntut kesempurnaan, maka lontaran kritikan yang ditujukan pada seseorang adalah suatu keniscayaan. Dan tak terelakkan bila kadang kala kita yang menempati posisi terkritik. Itu lah konsekuensi ketidak sempurnaan manusia dan konsekuensi bergaul dengan manusia yang punya watak menuntut kesempurnaan.

Konsekuensi itu tak mungkin kita hindari sebagaimana tak mungkin kita menghindar dari pergaulan dengan sesama manusia. Maka penyikapan yang tepat adalah kuncinya. Karena penerimaan kritik tanpa penyikapan yang baik, seringkali membuat seseorang merana.

Persiapan

Kondisi yang datang tiba-tiba sering disikapi dengan keterkejutan. Biasanya keterkejutan ini melahirkan penyikapan yang kurang rasional, spontan, dan berpeluang besar mengakibatkan sebuah blunder. Orang latah yang kaget, biasanya mengeluarkan sumpah serapah. Ia tidak mempertimbangkan dulu sumpah serapah yang terlontar. Spontan. Dan melontarkan sumpah serapah itu sesuatu yang buruk yang bisa membuat ia menjadi bahan ejekan.

Persis seperti itu penyikapan seseorang yang dikritik. Bila tanpa persiapan, biasanya dengan emosional ia bersikap defensif dan kemudian menyerang balik kritikusnya. Kejadian ini malah bisa memperburuk keadaan.

Jadi, kapan pun di mana pun, bersiaplah akan kehadiran kritik. Persiapan ini harus dilengkapi dengan ancang-ancang penyikapan yang elegan dan terhindar dari blunder.

Bersiap Hadapi Kritik Beserta Kontennya

Yang kita siapkan adalah kedatangan kritik yang konstruktif dan sekaligus kritik yang tidak membangun. Dan kadang kita susah membedakan kritik jenis apa yang datang. Jadi persiapkan semua.

Kritik yang konstruktif adalah kritik yang mendorong kita untuk lebih baik dan disampaikan dengan baik-baik. Pada kritik itu tersisipkan kepercayaan pada kita bahwa kita bisa memperbaiki keadaan yang dikomplen oleh pemberi kritik. Sisipan itu sejatinya adalah pujian. Jadi, kopi pahit kritik jenis ini masih ada gula pemanisnya. Wajar bila kita masih bisa menerima kritik jenis ini.

Tapi jangan terlena sisipannya. Tetap fokus pada substansi kritik! 🙂

Kritik destruktif yang tidak membangun biasanya berupa cacian atau ejekan. Atau bisa saja disampaikan baik-baik tapi tetap saja kontennya menyakitkan. Menjatuhkan. Tidak ada ruang kepercayaan pada kita dalam kritik itu.

Kritik jenis ini yang paling susah disikapi. Dan kritik jenis ini bila kita tidak siap akan membuat kita berlaku buruk dan emosional. Atau menjatuhkan mental kita bila kita tidak bisa membalas kritikan. Biasanya dendam akan menjadi embrio yang siap dibesarkan oleh ingatan.

Bersiap Dengan Kritik Langsung Atau Tak Langsung

Kita juga harus bersiap diri bertemu sumber kritikan. Kritikan bisa datang langsung dari pemberi kritik atau tidak langsung melalui cerita teman. Dua-duanya punya sensasi tersendiri.

Kritikan yang langsung, bisa saat itu juga kita jawab. Tapi kritikan tidak langsung menghadirkan keterkejutan yang ganda. Terkejut karena dikritik, dan terkejut tidak menyangka si pemberi kritik rupanya punya penilaian yang tidak kita bayangkan. Kadang kita butuh klarifikasi. Dan sebelum bertemu orangnya untuk diklarifikasi, hati sudah terlanjur sakit dan godaan berbagai prasangka bermunculan di benak.

Tenang

Anis Matta pernah berkata bahwa kita harus tetap tenang saat dikritik. Ketenangan itu bisa hadir kalau kita memang siap dikritik. Ini penting untuk menjaga kita tetap rasional dan tidak panik sehingga membuat blunder.

Selain itu, ketenangan adalah jawaban pertama yang memuaskan bagi pemberi kritik konstruktif (karena ia mengharap perubahan), dan hal yang mengecewakan bagi pemberi kritik destruktif (karena ia menginginkan kita sakit hati)

Menelan Kritikan

Buya Hamka pernah dibilang “tidak tahu apa-apa” oleh orang lain. Apa jawaban ulama besar yang pernah dimiliki oleh Nusantara itu? “Ya, saya memang tidak tahu apa-apa.” Jawaban itu mengagumkan, menggambarkan kerendah-hatian seorang ulama. Dia yang punya ilmu segudang masih disempurnakan dengan sikap elegan menghadapi kritikan. Buya Hamka masih mau menelan kritikan walau kita nilai kritikan itu ngawur. Tentu kritikan konstruktif akan Buya terima dengan lebih baik lagi.

Menelan kritikan adalah dengan mendengarkannya. Tapi pastikan jiwa kita punya mekanisme pencernaan yang baik. Kalau kritikan itu bermanfaat, serap dengan tuntas nutrisi itu, karena hidup kita perlu. Tapi kalau kritikan itu sampah ejekan, biarkan jiwa kita membuangnya. Kalau diserap malah jadi racun dan menyakitkan hati.

Kalau kita merasa perlu mengembangkan diri, maka kita harus banyak-banyak menelan kritikan. Kalau belum apa-apa kita sudah alergi dengan kritikan, mengacuhkan semua kritikan, bagaimana kita bisa tahu kekurangan yang harus kita perbaiki?

Saatnya Mengubah Hidup Kita

Dikritik itu bisa dibilang mutlak lah. Tapi memanfaatkan kritik untuk memperbaiki diri, itu pilihan. Karena hidup itu bergerak, maka orang yang positif adalah orang yang senantiasa bergerak pada arah kebaikan. Hidup ini harus selalu kita tarik ke arah yang baik. Kalau tidak, maka godaan yang mengelilingi kita akan menyeret kita ke kehidupan yang buruk. Kita bisa memanfaatkan kritik sebagai penunjuk arah kepada kehidupan yang lebih baik.

Punya sikap, jelas perlu. Tentu saja kritik yang bisa mengarahkan bukanlah kritik yang tidak bisa diterima oleh prinsip dasar hidup kita. Yang bisa kita manfaatkan untuk perubahan yang baik adalah kritik yang kita nilai baik. Karena itu kita perlu punya basic pandangan baik buruk yang jelas.

Tapi yang namanya orang sudah akil baligh, akalnya sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk.

No Hard Feeling

Ini yang gak banget. Biasanya setelah kritikan terlontarkan, akan ada perasaan-perasaan kesal yang berujung pada dendam. Sangat tidak perlu memelihara perasaan ini, apalagi kalau pelontar kritik adalah orang yang lebih banyak kebaikannya pada kita dibanding keburukannya. Coba hitung-hitung lagi.

Lagi pula, memelihara perasaan ini berarti membiarkan kita tersakiti. Coba bayangkan seorang yang cuek, cool, yang tidak mempan atas caci maki kepadanya. Hidupnya lebih terasa ringan daripada orang yang tipis kuping yang mudah emosi.

Hiduplah Dengan Kekurangan Kita

Terakhir, soal perfeksionis. Sah-sah saja menjadi perfeksionis. Tapi jangan sampai merepotkan. Jangan sampai kita menjadi penuntut dan pengeluh karena kondisi ideal tidak didapatkan. Atau jangan sampai kita menyalahkan diri terlalu dalam sehingga energi terkuras hanya untuk mengumpat diri sendiri.

Posisi paling baik adalah menjadi seorang yang terus menerus memperbaiki dan bergerak ke arah yang positif, bukan penuntut kesempurnaan dengan segala keluh kesah gerutunya.

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2014 in Artikel Umum