RSS

Monthly Archives: June 2015

Dalam Lindungan Ghorqod

Ghorqod

Angin senja Tel Aviv tercampur debu. Kencang melintas di sela-sela empat orang yang sedang berdiri di halaman sebuah rumah di suatu sudut kota itu. Dua pasang suami istri -sepasang tua dan sepasang muda – beberapa saat saling bertukar pelukan penuh haru.

Seorang wanita muda kedua tangannya menggenggam lengan wanita tua. “Pergilah Ma! Ikut bersama kami. Di New Jersey kalian akan hidup bahagia dengan cucu kalian dan terhindar dari peperangan yang melelahkan ini.” Ujar wanita muda kepada wanita tua yang ia memanggilnya mama.

Wanita tua itu berlinangan air mata. Mengalihkan pandangan pada laki-laki tua yang ada di sampingnya.

“Papa dan Mama sudah bertekad untuk menghabiskan hidup di sini. Di tanah yang telah dijanjikan tuhan pada kita.” Ujar lelaki tua.

“Setidaknya untuk menghindari perang yang semakin buruk ini, Pa. Ikutlah bersama kami. Setelah perang ini selesai, kalian bisa kembali ke sini.” Kali ini laki-laki muda yang angkat bicara.

Lelaki tua menggeleng.

Dan angin senja yang tercampur debu itu mengirimkan suara dentuman pada mereka. Tertangkap di sudut mata mereka kilasan api yang meluncur ke bumi menghantam sebuah gedung tinggi sekitar 500 meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Ledakan besar dan bunga api bertaburan laksana dedaunan Pohon Ghorqod yang dilempar kesana kemari oleh angin musim gugur.

Suara sirine meraung-raung sejak semenit lalu. Banyak orang berlarian menuju bunker menyelamatkan diri. Dan ada juga yang memacu kendaraannya keluar kota. Namun di luar pagar rumah itu, sebuah mobil terparkir menanti ke-empat insan selesai melepas haru.

“Kalian pergilah! Taksi sudah menunggu. Lalu lintas sedang kacau dan macet sekarang. Ada begitu banyak orang yang eksodus meninggalkan kota ini melalui bandara dan pelabuhan. Jangan sampai kalian terlambat dan ditinggal pesawat.” Ujar pria tua.

“Ayolah Ma, tinggalkan Tel Aviv hingga perang selesai.” Wanita muda mengangkat kedua tangan mamanya kedadanya. Memelas.

“Tidak. Pergilah sekarang!” Tegas pria tua.

Dan suara klakson taksi berbunyi memanggil mereka. Hampir tak terdengar akibat tersisipi suara dentuman lain dari suatu tempat. Sang supir pun sudah bergidik ngeri ingin segera meninggalkan tempat itu.

Lelaki muda kemudian mengangkat dua koper besar di tangan kanan dan kirinya. Ia memasukkan barang bawaannya ke bagasi, lalu kembali menghampiri istrinya untuk mengajaknya pergi.

Pasutri muda itu menyempatkan diri melambaikan tangan sembari masuk ke dalam mobil. Hingga setelah semuanya siap, sang supir menginjak gas dengan kecepatan tinggi menuju bandara.

Gilad, seorang lelaki Yahudi tua, orang yang dipanggil Papa oleh pasutri muda tadi memandang ke sekelilingnya dengan mata berkaca. Hasrat ingin menyelamatkan diri memang ada, tapi kecintaannya pada tanah Israel lebih utama. Ia lebih ingin bertahan di tanah yang ia tempati sejak lama.

Menjadi yatim piatu setelah menyelesaikan studinya di University of Nevada 40 tahun lalu di Amerika Serikat, Gilad yang hampir sebatang kara berjuang hidup untuk dirinya dan adik perempuannya. Dan Gilad masih bujangan saat beberapa lama kemudian adiknya dinikahi oleh seorang lelaki Yahudi asal Inggris yang mengajaknya tinggal di Israel, tanah yang diidam-idamkan oleh umat Yahudi.

Gilad adalah seorang insinyur mesin. Ia sudah bekerja di sebuah perusahaan otomotif di New Jersey saat adiknya yang telah tinggal lebih dulu dua tahun di Yerussalem mengirimkan surat pada Gilad untuk mengajaknya membangun negara kebanggaan umat Yahudi. “Pemerintah telah memperluas tanah pendudukan dan membangun pemukiman-pemukiman baru di Tepi Barat,” dalam surat itu. “Dan bangsa kita sekarang sedang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun negara. Hiduplah di sini, hingga akhir hayatmu!”

Diyakinkan oleh surat itu, Gilad hijrah ke Yerussalem menempati sebuah rumah di kota Be’er Sheva. Kota yang indah yang menempanya menjadi pekerja keras dengan penuh kecintaan pada Negara Yahudi.

Karir Gilad cukup mentereng. Kerja kerasnya berbuah rezeki yang melimpah sampai ia dibutuhkan untuk bekerja di ibu kota Israel, Tel Aviv. Di sana lah ia bertemu jodohnya, Golda, seorang wanita Yahudi asal Inggris. Mereka berdua hidup dengan mapan dan memiliki dua orang anak.

Anak kedua mereka, seorang putri bernama Hagar, adalah orang yang tadi mengajak mereka tinggal di New Jersey bersama suaminya. Sedangkan putra pertamanya tinggal di kota Haifa, sebelah utara kota Tel Aviv.

*****

Suara baku tembak terdengar sangat dekat saat pasangan suami istri Yahudi tua sedang menyantap makan malam mereka, mengalahkan suara sirine yang meraung di penjuru kota. Golda, sang istri, berbicara pada suaminya, “tunggu apa lagi? Ayo, sembunyi di bunker!”

“Tidak. Aku tidak mau kesana lagi. Terlalu kotor. Bahkan kotoran manusia bisa berserakan di sana.” Jawab Gilad, suaminya.

“Kita kemana?”

Gilad menunjuk ke arah sebuah pohon yang rindang yang telah ditanam di pekarangannya sejak 20 tahun lalu. “Kesana! Ghorqod akan melindungi kita.”

Mereka berdua menyudahi makan malam mereka dengan segera dan terburu-buru menyelinap ke dalam Pohon Ghorqod. Tapi begitu sampai di Pohon itu, mereka terkejut melihat seseorang bersembunyi di dalamnya.

“Noam, sedang apa kamu di sini?” Tanya Gilad kepada tetangganya.

“Izinkan aku bersembunyi di sini. Di sini masih lapang untuk kalian berdua.” Pinta Noam.

“Tidak. Kami tidak mau berbagi dengan orang lain. Pergi!”

“Aku tidak mau pergi dari sini.”

Mendengar sikap keras kepala Noam, Gilad mengeluarkan sepucuk pistol dari saku bajunya. “Pergi!” ujarnya.

Melihat sepucuk pistol itu, Noam terburu-buru keluar dari persembunyian. “Aku harus sembunyi di mana? Aku tak mau mati!” Teriaknya sembari menangis.

“Mengapa kamu tidak sembunyi di bunker? Terserah kamu sembunyi di mana. Di sana ada puing reruntuhan rumah. Batu-batu itu akan menyembunyikanmu dengan aman. Segera pergi!” Gilad menunjuk ke suatu tempat.

Berlari Noam menuju arah yang ditunjuk Gilad. Dan masing-masing orang sudah berada di tempat persembunyiannya.

Sementara itu suara baku tembak terdengar lebih dekat. Pasukan Palestina berhasil memasuki kota Tel Aviv. Bahkan mereka sudah mengirimkan pesan kepada setiap penduduk Tel Aviv melalui SMS untuk segera meninggalkan kota karena mereka akan merebutnya melalui pertempuran bersenjata.

Dari balik Pohon Ghorqod, Gilad melihat tank Merkava di persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya.

“Kita akan aman. IDF akan menghabisi tentara Palestina.” Bisiknya pada Golda yang wajahnya terlihat pucat. Mencoba menenangkan.

Tapi baru selesai Gilad mengucap kata-kata itu, sebuah tembakan terlihat menuju sebuah reruntuhan puing, tempat bersembunyi Noam, disusul dengan suara jeritan.

Mulut Golda menganga. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Noam tertembak padahal ia sudah bersembunyi di tempat yang tak terlihat?” Tanya Golda pada suaminya.

“Diamlah. Saat ini tak ada tempat yang lebih aman selain pohon ini. Batu dan pohon lain tidak bisa dipercaya saat ini. Mereka akan memberitahu pasukan Palestina bahwa ada yang bersembunyi di balik mereka.” Ujar Gilad penuh kepanikan.

Suasana sangat mencekam. Di depan mata mereka kemudian terlihat Merkava berhasil diledakkan oleh sebuah Rocket Propelled Grenade (RPG) anti tank. Dan tak lama kemudian rumah mereka pun terkena ledakan. Runtuh di salah satu sisinya meski tak mengenai pasangan suami istri Yahudi tua itu yang sedang bersembunyi di balik Pohon Ghorqod.

Gilad dan Golda bergetar menyaksikan pemandangan itu. Berpelukan, mereka berdua menangis sejadi-jadinya. Rumah yang mereka bangun dan tempati bertahun-tahun lamanya hancur sudah. Dan pasangan suami istri Yahudi tua itu hanya bisa pasrah melihat api melalap rumah dan isinya.

Sementara suasana di luar semakin tak menentu. Api menyala di mana-mana. Dentuman di mana-mana. Pesawat F-16 dan Helikopter Apache milik Israel berjatuhan. Malam itu, saat awan mendung menelan bulan, begitu terang oleh api yang dilentikkan oleh mesiu.

“Kita tak akan selamat. Sampai kapan kita bersembunyi di pohon ini?” teriak Golda yang menangis meratap. “Orang-orang Palestina itu akan merebut kembali tanah yang sudah kita rebut dari mereka.”

Gilad melihat ke atas pada sebuah batang. Telah tergantung dua utas tali di sana.

“Istriku, kita telah berjanji untuk mati di tanah ini. Kita berjanji untuk tidak akan pernah pergi dari tanah ini walaupun harus mati. Tapi bukan mati dengan cara dibunuh oleh muslim,” ujar Gilad.

Golda mengerti maksud suaminya. Berdua mereka menggapai tali yang menjuntai yang membentuk simpul dengan sebuah lubang sebesar kepala manusia. Mereka memasukkan kepalanya ke dalam tali itu, dan memenuhi janjinya: mati di tanah harapan.

******

Keterangan:
* Ghorqod adalah pohon milik umat Yahudi, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga muslimin memerangi yahudi. Mereka diperangi oleh muslimin sehingga orang yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon. Batu dan pohon itu berkata: Wahai muslim, wahai hamba Allah, Ini dia yahudi berada dibelakangku, kemarilah dan bunuhlah dia. Melainkan pohon Ghorqod. Sesungguhnya ia adalah daripada pohon Yahudi”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah meramalkan tentang peperangan antara Umat Muslim melawan Yahudi di penghujung zaman, sampai-sampai Yahudi bersembunyi di pohon dan batu atas serangan Umat Muslim. Namun hanya Pohon Ghorqod yang sedikit aman buat mereka.

Saat ini pemerintah Israel tengah menggalakkan penanaman Pohon Ghorqod di negara mereka dengan berkedok reboisasi.

18 Juli 2014

 
1 Comment

Posted by on June 29, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Peristiwa Renovasi Ka’bah Dan Ibroh Untuk Kader Dakwah

Saat usia Rasulullah saw 35 tahun, yakni 5 tahun sebelum masa kenabian, Ka’bah mengalami kerusakan akibat banjir yang menerjang kawasan Makkah. Saat itu Ka’bah hanyalah berupa tumpukan batu yang berukuran diatas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta terpendam yang ada didalamnya berhasil dicuri oleh segerombolan para pencuri. Disamping itu, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi-sendinya.

Karena rusaknya Ka’bah ini para kabilah di Makkah bersepakat untuk melakukan renovasi. Ka’bah dipugar dan dirobohkan hinggal pondasi pertama yang dibangun oleh Ibrahim a.s. Masing-masing kabilah di Makkah mendapat bagian dan tugas dalam renovasi itu. Pemimpin proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum.

Semua berjalan lancar hingga terjadi perselisihan siapakah yang lebih berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Perselisihan ini berlangsung selama empat hingga lima malam dan hampir mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah. Bani Abdi’d-Dar telah menghampiri mangkuk berisi darah dan bersama Bani ‘Ady berikrar siap mati seraya memasukkan tangan-tangan mereka ke dalam mangkuk bersisi darah itu. Sementara itu suku Quraisy bersikap menunggu dan melihat apa yang terjadi tanpa mengambil tindakan.

Kemudian terjadi perundingan antara para kabilah-kabilah itu. Adalah Umayyah bin Al-Mughiroh Al-Makhzumi yang memberi usulan untuk menghindari perang saudara, yaitu menyerahkan keputusan pada orang yang pertama kali memasuki Masjidil Haram. Usulan sesepuh Makkah itu diterima, dan rupanya orang yang memenuhi kriteria itu adalah Rasulullah, Muhammad saw.

Mengetahui bahwa orang yang akan memberi keputusan adalah Muhammad saw, orang-orang berteriak, “Inilah Al-Amin. Kami rela! Inilah Muhammad.”

Kemudian Rasulullah memberi solusi yaitu Hajar Aswad diletakkan di tengah sebuah kain, lalu tiap pemimpin kabilah yang bertikai diminta memegang tiap ujungnya dan mengangkat kain itu ke dekat tempat Hajar Aswad akan dipasang. Setelah dekat, kemudian beliau sendiri yang memasang Hajar Aswad.

Akhirnya ancaman pertumpahan darah karena pembangunan Ka’bah ini pun bisa dihindari oleh orang yang tepat dengan solusi yang cermat.

Dari kisah ini ada beberapa ibroh yang bisa dikaitkan dengan kondisi terkirni.

Pertama, seorang kader dakwah harus senantiasa tampil menjadi solusi saat masyarakat ditimpa masalah atau dilanda musibah. Sudah tepat keberadaan kader-kader dakwah membantu banjir Jakarta kemarin, atau yang paling fenomenal adalah menjadi relawan saat Aceh dilanda bencana Tsunami.

Tidak saja menjadi tim penyelamat saat musibah datang, tapi juga ikut serta saat masyarakat melakukan recover pasca bencana. Inilah sikap yang dicontohkan Rasulullah sebelum ia menjadi Rasul.

Kedua, kader dakwah harus memiliki integritas sehingga tak segan masyarakat mengadu meminta solusi. Itulah yang dimiliki Rasulullah sehingga tatkala para pemuka kabilah di Mekkah melihat Rasulullah yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram, mereka bersuka cita karena mendapatkan orang yang tepat sebagai pemecah masalah.

Rasulullah mengajarkan integritas,kejujuran,kesantunan sehingga menjadi terpandang di tengah kaum. Para kader dakwah yang terjun di dunia politik tentu harus memiliki sikap seperti ini sehingga tak ada keraguan di hati masyarakat untuk memilihnya menjadi anggota legislatif, pemimpin daerah, atau bahkan pemimpin setingkat RT sekalipun.

Ketiga, seorang kader dakwah karena akhlaknya bisa saja dipercaya menjadi seorang pemimpin di masyarakat. Tapi pada zaman sekarang, masyarakat yang kritis akan menagih prestasi. Bila seorang kader yang berakhlak baik tidak memiliki prestasi, maka dia akan tersingkir oleh pihak lain yang memiliki prestasi meski dari segi ilmu agama dan akhlak sangat jauh dari seorang kader dakwah.

Tidak cukup integritas, tapi kader dakwah harus memiliki kemampuan menjadi trouble solver, solusi bagi umat dengan ide-idenya. Itulah yang dicontohkan Rasulullah, selain sosoknya yang diterima oleh kaumnya, idenya pun melegakan. Solusi yang diberikannya sama sekali tidak membuat ada kabilah yang ditinggikan atau direndahkan. Solusi yang sangat elegan.

Kita hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki paradigma sekuler. Remah-remah paradigma sekuler itu bisa terlihat pada pandangan bahwa orang yang memiliki imu agama biasanya diremehkan untuk bisa memimpin urusan dunia. Pandangan ini yang harus dimentahkan oleh kader dakwah. Memang, banyak kader dakwah yang adalah lulusan perguruan tinggi dari jurusan pendidikan umum, tapi karena kader dakwah sudah terlanjur berkecimpung di partai Islam, maka yang terlihat adalah keilmuan agamanya dari pada ilmu urusan dunianya.

Pernah ada survey yang mengungkapkan pandangan masyarakat tentang partai Islam. Di hasil survey itu masyarakat menilai partai Islam baik dari segi komitmen keislaman, namun untuk mewujudkan kesejahteraan pada masyarakat masih dinilai di bawah partai lain. Padahal kita punya pemimpin-pemimpin yang berlatar belakang kader dakwah yang punya prestasi. Maka PR kita selanjutnya adalah menjadi humas memberitakan kepada masyarakat prestasi-prestasi yang dimiliki oleh kader dakwah yang duduk di pemerintahan. Jangan sampai tenggelam oleh extraaggregasi berita media umum yang mewartakan prestasi-prestasi orang lain.

20 April 2013

 

Olok-Olok dan Provokasi, Watak Munafik dan Yahudi

Provokasi

Kaum Munafik dan Yahudi dipertemukan pada karakter-karakter yang mirip. Salah satunya adalah sifat doyan memprovokasi dan mengolok-olok. Siroh nabawiyah mencatat kejadian-kejadian di mana orang Yahudi dan Munafik – yang mana Rasulullah bersinggungan dengan kedua kelompok ini di Madinah – melancarkan aksi ejek dan provokasinya.

Aksi ejek yang dicatat oleh Qur’an adalah saat kaum Yahudi mengatakan “Ru’unah” (bodoh sekali) sebagai plesetan dari ucapan “Raa’ina” (perhatikanlah kami) yang biasa para sahabat ucapkan kepada Rasulullah. (Lihat QS 2:104 dan 4:46). Aksi ejek ini Allah counter dengan perintah mengganti panggilan Raa’ina dengan Unzhurna.

Yahudi juga mengejek umat Islam dengan “Assamu’alaikum” yang berarti “Semoga kematian menimpa kalian”, memplesetkan ucapan salam milik Islam: “Assalamu’alaikum.” Oleh karena itu umat Islam diperintahkan menjawab salam mereka dengan mengucapkan “wa’alaikum” yang artinya “Dan juga menimpa kalian,” dan ucapan kita terhadap mereka dikabulkan oleh Allah sedangkan ucapan buruk mereka terhadap kita tidak dikabulkan.

Ejekan kaum munafiq tak kalah menyebalkan. Bahkan terhadap sahabat yang bersedekah, tak luput dari ejekan mereka. Yang bersedekah terang-terangan mereka tuduh riya’. Yang bersedekah sedikit – padahal seorang sahabat yang miskin sampai bekerja lembur agar bisa bersedekah walau sedikit – mereka ejek pelit.

Dari Abu Mas’ud `Uqbah bin `Amr Al Anshary Al Badry ra. berkata: “Ketika diturunkan ayat tentang sedekah kami memanggul apa yang akan kami sedekahkan di atas punggung kami; ada seseorang yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya untuk disedekahkan, kemudian orang-orang munafik mengatakan bahwa orang itu riya’ (ingin dipuji). Dan ada pula orang lain yang sedekah hanya satu gantang, kemudian orang-orang munafik mengatakan: “Sesungguhnya Allah itu tidak membutuhkan kalau hanya satu gantang”. Kemudian turunlah ayat yang artinya: “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mengejek orang-orang mukmin yang suka rela di dalam bersedekah dan orang-orang yang tidak dapat bersedekah kecuali dengan sekuat tenaga (At-Taubah : 79)”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tak jarang aksi ejek dan provokasi ini berujung pada pukulan yang teramat dahsyat pada kaum munafik dan Yahudi. Ada provokasi yang harus dibayar dengan pengusiran. Ada ejekan yang untuk menebus maaf Rasulullah, orang munafik sampai bergelantungan di pelana unta Rasulullah dan kakinya terhantam oleh kerikil-kerikil jalanan. Begitulah bayaran untuk para pencela.

Kisahnya seperti berikut: Ketika Perang Tabuk, seorang laki-laki berkata dalam suatu majlis: “Kami tidak pernah melihat seperti para qurro’ (para pembaca Al-Qur’an) kita, yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya (paling banyak makan), paling penakut ketika bertemu musuh”. Yang mereka maksudkan adalah Rasulullah shollallohu ‘alaihi was salam dan para sahabatnya.

Bersama mereka ada seorang pemuda dari kalangan sahabat. Dia marah dengan ucapan ini dan berkata “Dusta engkau! Engkau adalah seorang munafiq! Sungguh aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“

Kemudian ia pergi untuk menyampaikan apa yang diucapkan kaum tersebut kepada Rasulullah saw. dan dia mendapati wahyu telah turun mendahuluinya. Maka datanglah mereka (kaum yang mengolok-olok) kepada Rasulullah untuk meminta maaf tatkala mereka mengetahui bahwa Rasulullah saw. telah mengetahui apa yang terjadi pada majelis mereka.

Dan berdirilah salah satu dari mereka bergantungan di tali pelana unta Rasulullah dalam keadaan beliau mengendarainya, dan kaki orang itu tersandung batu. Orang tersebut berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang tentang cerita perjalanan,untuk menghilangkan kepenatan safar, Tidak ada maksud dari kami untuk mengolok-olok, kami sekedar bersenda gurau,” Dan Rasulullah tidak menoleh sedikitpun kepadanya, maka Allah Ta’ala menjawabnya dengan menurunkan :

“Seandainya engkau tanyai mereka tentu mereka akan mengatakan , hanyasannya kami hanya bergurau dan bermain-main “.(QS. At Taubah : 65).

Itulah tamparan bagi kaum munafik atas ejekannya.

Keadaan lebih parah dialami oleh kaum Yahudi. Kaum Yahudi Bani Qunaiqa’ sampai harus mengalami pengusiran karena provokasi dan tindakan lancangnya kepada umat muslim.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa seorang perempuan Arab datang membawa perhiasannya ke pasar Yahudi Bani Qainuqa. Ia mendatangi tukang sepuh (Yahudi) untuk menyepuh perhiasannya. Sambil menunggu tukang sepuh menyelesaikan pekerjaannya, ia pun duduk. Tiba-tiba datang sekelompok pemuda Yahudi ke dekatnya seraya memintanya untuk membuka penutup wajahnya. Tentu saja perempuan itu menolak.

Namun tanpa diketahuinya, si tukang sepuh itu kemudian secara diam-diam menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi tubuh perempuan itu ke bagian punggungnya. Akibatnya, tatkala ia berdiri, tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Orang-orang Yahudi itu pun tertawa terbahak-bahak. Secara spontan perempuan tersebut kemudian menjerit meminta tolong. Mendengar jeritan itu, salah seorang Muslim yang ada di pasar tersebut segera menyerang tukang sepuh itu dan membunuhnya. Namun orang-orang Yahudi tadi berbalik membunuh pemuda Muslim tadi.

Rasulullahpun segera memerintahkan para sahabat untuk mengepung perkampungan bani Qainuqa. Saat itu hari sabtu pada pertengahan Syawal 2H. Pengepungan berjalan selama lima belas hari hingga muncul hilal bulam Dzul-Qa’dah. Karena ketakutan, orang-orang Yahudi tersebut akhirnya menyerah. Mereka pasrah terhadap hukuman yang bakal diputuskan Rasulullah. Dalam keadaan itulah tiba-tiba datang Abdullah bin Ubay seraya berkata:

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“

Melihat Rasulullah tidak mengacuhkannya, pemuka Madinah inipun mengulang lagi perkataannya beberapa kali hingga akhirnya dengan wajah merah menahan kemarahan, Rasulullahpun menjawab ketus: “Celaka engkau, tinggalkan aku!“.

Namun Abdullah bin Ubay tetap bersikeras : “Tidak, demi Allah, aku tidak akan melepaskan anda sebelum anda mau memperlakukan para sahabatku itu dengan baik. Empat ratus orang tanpa perisai dan tiga ratus orang bersenjata lengkap telah membelaku terhadap semua musuhku itu, apakah hendak anda habisi nyawanya dalam waktu sehari? Demi Allah, aku betul-betul mengkhawatirkan terjadinya bencana itu!“.

Mendengar itu Rasulullah akhirnya berkata: “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini!”.

Maka pergilah orang-orang Yahudi Banu Qainuqa‘ meninggalkan Madinah menuju sebuah pedusunan bernama ‘Adzara‘at di daerah Syam. Namun belum berapa lama orang-orang ini menetap disana, terdengar kabar bahwa sebagian besar dari mereka mati ditimpa bencana.

Selain provokasi Bani Qunaiqa’, juga ada provokasi dari Bani Nadhir yang hendak membunuh Rasulullah saat Rasulullah dan para sahabat duduk di pinggir tembok salah satu rumah di perkampungan Bani Nadhir. Mereka berniat menimpakan batu penggiling dari atas rumah kepada Rasulullah. Tapi Jibril memberitahu Rasulullah sehingga beliau saw. terselamatkan dari bencana. Provokasi ini berujung pada pengusiran dan kisah ini dicatat di dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr.

Provokasi dan cemoohan zaman sekarang tak kalah sadis. Dari penghinaan oleh Salman Rusydi sampai karikatur Nabi. Di dalam negeri, olok-olok kepada Nabi dicover dengan klaim intelektual. Seorang intelektual palsu pernah membuat tulisan yang mengajak umat Islam agar mengkritisi Rasulullah. Cemoohan yang lebih dahsyat saat seseorang berani mengatakan Al-Qur’an itu kitab porno.

Masih ingatkah kita dengan kelakuan sekelompok orang yang menyebut diri sebagai AKKBB pada tanggal 1 Juni 2008, yang mengubah rute demonstrasinya ke arah Monas karena ada kelompok masa dari FPI yang berunjuk rasa menolak Ahmadiyah di tempat yang sama? Itu lah provokasi, watak yang diwariskan oleh Yahudi dan Munafiqun.

Umat Islam sekarang tak punya kekuatan untuk memberi pelajaran pada kaum yang suka mengolok-olok dan memprovokasi. Tapi kekuatan itu akan dibangkitkan oleh “generasi pengganti” yang tak takut oleh celaan orang yang suka mencela (lihat QS Almaidah 54). Pastikan bahwa kita termasuk bagian dari generasi pengganti!!

 

Noda

noda

Saat saya bepergian dari Jakarta menuju sebuah desa di Lampung di tempat kakek saya tinggal, saya tiba pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”

“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak malu.

“Lho, kan bisa sholat di mobil.”

“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan meninggalkannya.

Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa jalan-jalan ke kebun.”

“Asyiik!!!” Sambut saya sumringah.

Senja tiba. Saya sudah siap melihat-lihat kebun kakek yang tidak jauh dari rumahnya. Entah kenapa, kakek meminjamkan sebuah celana berwarna putih untuk saya. Maklum karena di kebun tentu saja kami akan berkotor-kotor, saya tidak ragu mengambilnya. Daripada celana yang saya bawa dari Jakarta yang saya pakai. Sayang, persediaan terbatas. Tapi aneh, pada akhirnya kakek berkata, “Kalau celana itu sampai kotor, kamu cuci sendiri ya!!” Saya tidak mengerti maksud kakek, tapi saya ikuti saja. Dan saya lihat kakek sendiri menggunakan celana hitam.

Perjalanan di mulai. Setelah 15 menit kami sampai di kebun kakek. Di kebun itu kami berkeliling menyaksikan bermacam tanaman yang ditaman oleh kakek, mulai dari pisang, jagung, hingga cabai.

Setelah puas, kami istirahat sejenak. Tanpa sungkan, kakek duduk di tanah dan menyuruh saya duduk di sampingnya. “Duduk lah.”

“Gak ah, kek. Takut kotor.”

“Kenapa takut kotor? Kakek santai saja kok duduk di tanah.”

“Ya jelas. Kakek kan memakai celana hitam. Sedangkan celana saya putih.”

“Memang kenapa kalau celana putih?”

“Kalau celana putih, kan susah dicucinya kalau kena noda. Kalau tidak bersih, nodanya akan terlihat jelas. Sedangkan celana hitam, tidak terlalu kentara kalau kotor.”

Kakek terangguk-angguk. “Apa kamu bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut?”

“Hah?? Pelajaran apa kek???” Aku agak bengong.

“Kamu mengerti, bahwa perumpamaan orang munafik atau fasik, adalah seperti kakek ini yang memakai celana hitam…”

”Lho, maksud kakek?” Aku memotong.

“Dengar dulu!! Orang yang memakai celana hitam, tidak akan merasa was-was kalau celananya kotor. Dia tidak akan malu berjalan di tengah orang banyak dengan celana yang terkena noda tanah di sana sini. Sedangkan orang yang beriman, seperti orang yang memakai celana putih, yang ia khawatir apabila celananya sedikit kotor, maka noda itu akan terlihat jelas.”

Aku mengangguk-angguk. “Ooh… iya kek. Gak nyangka kakek filosofis banget.” Ujarku sambil ‘nyengir’.

“Apa kamu tidak mengambil pelajaran terhadap diri kamu sendiri?”

“Maksudnya, kek?”

“Bukankah tadi pagi kamu menggampangkan tidak sholat subuh? Muhasabah lah!! Apa mungkin hati kamu sudah terlanjur kotor sehingga setiap kotoran baru yang menempel bukan menjadi sesuatu yang mencolok?”

“Astaghfirullah…” Aku terhenyak.

“Kalau hati kamu bersih, tentu saja kamu tidak ingin ada setitik noda pun hinggap di hati kamu.”

“Astaghfirullah. Iya kek. Saya sadar, saya salah. Kalau begitu, mulai sekarang saya akan berusaha membersihkan hati saya. Akan saya jaga agar hati saya senantiasa bersih, tidak boleh ada kotoran yang hinggap. Saya akan selalu bersihkan dengan istighfar.”

“Bagus!!” Kakek mengangguk-angguk….

Saat alam menunjukkan tanda bahwa saat maghrib hendak tiba, kami pulang ke rumah. Di jalan, saya termenung. Lalu berkata kepada kakek, “Kakek, saya jadi paham kenapa kalau ada orang baik yang ketahuan aibnya, selalu menjadi bulan-bulanan gosip dibanding orang jahat yang ketahuan aibnya.”

Kakek mengangguk-angguk.

“Ya ya ya…. Ya seperti tadi, karena orang yang baik yang ketahuan aibnya itu seperti sebuah pakaian putih yang terlihat terkena noda. Nodanya akan mencolok dilihat oleh orang banyak. Beda dengan orang jahat, orang sudah terbiasa dengan berita aibnya. Tak terlalu menjadi bulan-bulanan omongan orang.”

“Benar kek. Tapi, susah ya menjaga hati ini bersih. Menjaga perilaku ini tetap bersih. Karena kotoran ada di mana-mana. Kalau terkena noda, akan mencolok. Dan harus dibersihkan dengan tenaga yang ekstra. Belum lagi omongan orang-orang… Hhh…”

“Hahaha….” Kakek tertawa kecil.

—-

Ibnu Mas’ud r.a. berkata “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Semoga bisa diambil pelajaran dari kisah fiktif di atas

 

Add-Ons Kebaikan

software

Salah satu kelebihan browser Mozilla Firefox adalah adanya add-ons, yaitu tools atau aplikasi-aplikasi tambahan yang melekat pada browser yang punya banyak manfaat untuk pengguna Mozilla.

Salah satu contoh add-ons yang dimiliki Mozilla adalah DownThemAll!, yang memudahkan pengguna untuk mendownload contain dari internet secara massal dan meng-organize-nya. Selain itu ada Boost For Facebook yang memanjakan pengguna untuk bermain-main dengan akun facebook-nya. Dan ada Alexa Statusbar yang berfungsi untuk mengecek rating situs yang sedang kita browsing. eQuake Allert untuk mengingatkan kalau terjadi gempa, dan banyak lagi.

Add-ons itu seperti plug-in, semacam tools tambahan. Bukan cuma browser mozilla firefox yang punya add-ons, aplikasi lain pun punya. Facebook punya, linux punya.

Hmm.. andai hati kita bisa dipasang add-ons, maka add-ons apa ya yang akan kita pasang? Mungkin bisa dicoba add-ons berikut ini:

1. Everytime dzikrullah.
Add-ons ini membuat hati kita untuk selalu berdzikir mengingat Allah swt di setiap saat. Rasulullah pun menginstall add-ons ini. Begitulah pengakuan Aisyah rha. “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam selalu berdzikir kepada Alah setiap saat.” (HR. Muslim & Abu Dawud)

Add-ons ini memang bekerja di hati kita. Tapi hendaknya lisan kita pun mengikuti kerja add-ons ini. Karena itu perintah dari junjungan kita Rasulullah saw. “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Alloh.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah)

2. Auto Istighfar.
Ketika kita melakukan suatu perbuatan dosa, maka kita akan segera tersadar dan beristighfar kepada Allah swt. Begitulah fungsi add-ons ini.

Add-ons ini merupakan aplikasi yang tepat agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena ciri orang yang bertaqwa adalah cepat menyadari kesalahannya dan kemudian bertaubat kepada Allah swt.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS 3:135)

3. GhodBash
Aneh atau familiar namanya? Add-ons ini singkatan dari ‘Ghodul Bashar’. Artinya adalah menundukkan pandangan. Cara kerjanya begini: Ketika mata kita menangkap objek yang Allah haramkan untuk dipandang, seketika itu juga add-ons yang berada di hati kita ini bekerja mengirimkan pesan serius pada otak. Pesan itu adalah agar otak memerintahkan mata kita berpaling dari objek terlarang itu.

Add-ons ini sangat berguna untuk mengaplikasikan perintah Allah pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31.

4. eQuake.
Ya memang, add-ons ini beneran ada di dunia nyata. Gunanya untuk mengingatkan kalau ada gempa.

Tapi kalau versi yang terpasang di hati, berfungsi untuk membuat gempa atau getaran di hati ketika terdengar nama Allah swt. Getaran atau gempa yang ditimbulkan besarnya berbanding lurus dengan kecintaan kita kepada Allah swt. Makin cinta kita pada Dia, maka makin besar gempa yang terjadi di hati ketika nama Allah terdengar.

Add-ons ini musti terpasang di hati orang mukmin. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS 8:2)

5. Muhasabah.
Add-ons ini berfungsi untuk mengukur fluktuasi ketaatan kita pada Allah swt. Karena iman itu mengalami pasang surut. Kalau kita memiliki add-ons ini, maka kita bisa mengoptimalkan ketaatan kita pada Allah swt. Ketika ketaatan terdeteksi surut, maka kita bisa segera bertaubat dan menyegarkan iman kita, agar ketaatan kembali naik.

Kita bisa menggunakan aplikasi ini untuk memeriksa grafik ketaatan kita di waktu-waktu khusus. Misalnya akhir tahun, akhir bulan, akhir pekan, atau di akhir hari. Atau kapan saja kita mau.

6. Anti Virus.
Ya, ada juga add-ons seperti ini di hati. Karena hati kita rawan terkena virus. Kalau sudah terkena virus, maka jadilah hati kita hati yang sakit (qalbun maridh). Kalau tidak terobati juga, maka hati pun mati (qalbun mayit).

Jenis-jenis virus yang diobati oleh aplikasi ini adalah: dengki, hasad, dendam, riya’, ujub, ghurur, kibr, dll. Juga ada virus merah jambu (apa tuuh?? hehe…). Silakan lengkapi database antivirus anda dengan membaca buku tazkiyatun nafs karangan Imam Ghozali, sering mendengar taushiyah Aa Gym, dan cara lainnya.

Disarankan untuk rajin men-scan hati anda ketika hendak tidur, mencontoh seorang sahabat yang telah Rasulullah klaim sebagai penghuni surga. Salah satu kerja anti virus ini adalah dengan memaafkan orang yang pernah berbuat salah pada kita sehingga tidak ada dendam.

7. I’m Sorry.
Selain memaafkan, kita juga harus meminta maaf pada orang lain kalau kita berbuat salah. Install-lah add-ons ini agar kita tidak memiliki musuh atau punya kesalahan pada orang. Add-ons ini akan bekerja di hati ketika hati terdeteksi memiliki noda berupa kezoliman pada orang. Add-ons ini memaksa otak untuk segera mengucapkan kata maaf pada orang yang kita zolimi.

8. Anti Nifaq.
Penting untuk tidak menjadi munafik. Kalau tidak, kita akan memiliki musuh di langit dan di bumi. Install-lah add-ons ini di hati kita. Maka kita hati kita akan memiliki karakter shidq (jujur) dan amanah.

9. Syukur 21, Shobr, dan Ridho
Ketiga add-ons ini bekerja saat menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan pada diri kita. Syukur 21 aktif saat diri kita mendapatkan kenikmatan dari Allah swt. Shobr bekerja saat diri kita menerima musibah. Ridho bekerja secara general, apa pun yang terjadi, ridho selalu aktif bekerja.

Add-ons ini membuat pribadi yang meng-install-nya menjadi pribadi ‘ajaib’ yang mengagumkan.

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

10. Ikhlas mode on.
Add-ons ini penting dimiliki oleh hati agar setiap perbuatan baik kita memperoleh pahala. Aktifkan add-ons ini sebelum, ketika, dan sesudah berbuat baik.

Ada pihak ketiga yang tidak ingin add-ons ini aktif. Yaitu setan. Ia berusaha menjadi intruder dalam diri kita agar add-ons ini rusak. Maka selalu jagalah add-ons ini! Karena aktif-nya add-ons ini menjadi syarat sahnya amalan baik yang kita lakukan.

*****

Itulah beberapa add-ons yang bisa di-install di hati kita. Ada banyak lagi add-ons yang kita perlukan. Tidak cuma apa yang ada di atas. Pokoknya, semua jenis kebaikan adalah add-ons yang harus terinstall di hati kita. 🙂

Allahu’alam bish-showab.

 

Umat yang Tergulung

buih lautan

Sebuah metafora lama masih segar dalam ingatan kita. Alkisah seorang guru memberikan sebuah game untuk para muridnya. Di depan kelas, ia bentangkan sebuah karpet. Kemudian di tengah karpet tadi diletakkan sebuah Al-Qur’an. Sang guru membuat sayembara kepada muridnya: Siapakah yang bisa mengambil Al-Qur’an tanpa menginjak karpet?

Beberapa anak telah mencoba, tetapi gagal. Pada akhirnya sang guru itu menjawab sendiri. Caranya adalah dengan menggulung karpet itu. Karpet digulung hingga Al-Qur’an terjangkau oleh tangan.

Kemudian sang guru memberi penjelasan kepada murid: “Maka begitulah cara para orientalis mengambil Al-Qur’an dari hati umat muslim. Orang-orang kafir itu tidak berani untuk menginjak-injak hati umat muslim untuk merampas Al-Qur’an dengan paksa. Mereka akan mendapatkan perlawanan dengan sangat keras. Mereka akan menggulung sedikit demi sedikit kecintaan umat muslim tentang agamanya yang luas, dan setelah kecintaan itu tersisa sedikit, Al-Qur’an bisa dienyahkan dari pikirannya.”

Seperti itu kira-kira metafora yang mungkin sering kita dengar.

*****

Seorang preman pemabuk yang hidupnya bergelimpangan dengan maksiat, namun di KTPnya tertulis agamanya adalah Islam, jangan coba-coba membanting Al-Qur’an di hadapannya. Preman itu akan marah besar. Sekalipun terbiasa dengan maksiat, namun masih ada rasa penghormatan yang tinggi pada simbol-simbol agamanya.

Wajar apabila Panglima Militer Amerika Serikat di Afghanistan, Jenderal David Petraeus, sangat ketakutan dengan rencana Terry Jones yang ingin membakar Al-Qur’an pada peringatan 9 tahun peristiwa 911. “Itu bisa membahayakan pasukan dan itu bisa membahayakan upaya keseluruhan,” katanya.

Tapi coba bawa wacana tentang ibadah bersama antara umat Islam dan umat agama lain di hadapan Preman itu, ia tidak akan meresponnya dengan serius. Atau ia akan menganggap masalah itu terlalu berat untuk dipikirkan. Padahal antara membanting Al-Qur’an dengan penyimpangan ajaran Al-Qur’an sama-sama pelecehan yang serius atas kitab yang diturunkan oleh Allah untuk umat Islam. Bedanya, yang satu yang dilecehkan adalah simbol, dan yang satu adalah intinya.

Golongan orang kafir yang tidak senang dengan umat Islam (QS 2:120) lebih banyak menggunakan metode ‘penggulungan’ ini. Mereka menggulung kecintaan umat Islam pada agamanya. Mereka menggulung pemahaman umat Islam atas agamanya. Mereka menggulung penerapan umat Islam pada agamanya.

Bahwa dunia ini dijadikan indah pada pandangan manusia (QS 3:14), orang-orang itu sangat menyadari hal ini. Maka mereka membawa segala bentuk bayangan fatamorgana kepada umat Islam. Mereka membawa film yang menanyangkan artis-artis cantik dan aktor-aktor tampan. Mereka memberi hutang kepada negeri berpenduduk muslim agar rakyatnya konsumtif. Mereka tawarkan berbagai hobi dan kesenangan. Tujuannya adalah agar kecintaan umat Islam pada agamanya terampas. “Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” Setelah umat Islam mencintai kesenangan kehidupan dunia, maka tidak ada tempat untuk mencintai agamanya. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya” (QS 33:4)

Mereka juga ikut serta dalam diskusi keislaman dengan membawa pemahaman-pemahaman yang asing. Mereka perkenalkan hermeneutika, metode tafsir yang cocok untuk mengubah perintah dan larangan Allah. Mereka kacaukan aqidah umat dengan ide yang terdengar manis: “Semua agama sama, sama-sama mengajarkan kebaikan”. Dengan cara-cara itu mereka menggulung pemahaman umat Islam.

Mereka juga menggulung penerapan umat Islam atas ajaran agamanya. Pada titik ekstrim, seperti di Turki saat awal keruntuhan khilafah Turki Utsmani, mereka melarang adzan & sholat menggunakan bahasa Arab. Tapi ada banyak cara yang terlihat lembut dan elegan. “Serahkan urusan negara pada kaisar, dan serahkan urusan agama pada pendeta” adalah ajaran agama tetangga. Ajaran itu tidak dikenal dalam Islam. Ajaran seperti itu membuat ajaran Islam yang sangat luas dalam ranah muamalah menjadi ide usang yang tidak bisa diterapkan. Mereka biarkan manusia dengan hawa nafsunya membuat hukum sendiri antar sesama manusia, sedangkan aturan Allah swt yang agung terpinggirkan.

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS 6:119)

*****

Rasulullah tahu, karena itu ia mengadu kepada Allah: “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.”” (QS 25:30).

Non muslim tentu saja akan mengacuhkan Al-Qur’an. Tetapi sebagian dari umat Islam sendiri, rupanya dikeluhkan oleh Rasulullah. Sekali lagi, mereka tidak mengacuhkan simbol. Umat Islam akan meletakkan mushaf tinggi-tinggi, kalau bisa di atas lemari untuk mengagungkan Al-Qur’an. Apabila Al-Qur’an jatuh atau terkena kaki, mereka mencium Al-Qur’an untuk menebus rasa bersalah. Kitab Al-Qur’an mereka oleskan parfum agar wangi. Sedemikian besar penghormatannya.

Tapi ajarannya tidak dijunjung tinggi-tinggi. Hafalan Qur’an sebagian umat Islam sangat timpang dibanding hafalan lagu-lagu populer. Tidak ada Al-Qur’an di otak mereka. Apabila apa yang mereka pahami dari Al-Quran itu “jatuh” karena terlupa atau tidak diterapkan, mereka tidak punya rasa menyesal yang dalam. Dan umat Islam sebagai etalase dari ajaran Al-Qur’an, tidak membuat ajaran Al-Qur’an itu tercium wangi oleh umat lain. Umat lain malah bertanya-tanya kebingungan, “seperti ini kah yang diajarkan Al-Qur’an kepada mereka?”

*****

Saat ini umat Islam sedang digulung, dari berbagai aspek yang mereka miliki. Termasuk kelapangan ukhuwah Islamiyah. Dengan ukhuwah yang sempit, umat Islam saling bertikai sendiri. Jadi, mereka yang memusuhi agama ini tidak perlu “menginjak” umat, tapi mereka merekayasa agar umat saling menginjak satu sama lain.

Tergulung itu tidak terasa, tidak seperti diinjak. Itulah makanya umat Islam diam saja dengan fenomena “tergulung” ini. Mereka lebih punya respon apabila terinjak oleh sesama saudaranya.

 

Kisah Dua Begadang Dahsyat

begadang

Di suatu pagi setelah begadang, saya merasakan kondisi yang sangat tidak nyaman. Mengantuk, lelah, mata perih, dan sebagainya. Ada pekerjaan yang mendesak sehingga saya harus lembur di kantor. Dan sampai pagi saya tidak tidur.

Saya jarang begadang. Dan setelah begadang itu, terasa sekali stamina saya terkuras hebat. Mata perih dan susah fokus. Tapi saya bingung dengan teman saya yang ikut begadang, mereka terlihat biasa saja. Paling cuma matanya sedikit merah. Mungkin karena dia sudah terbiasa.

Sering saya membaca artikel yang meneliti tentang begadang. Kesimpulannya, begadang itu tidak baik. Jadi tidak perlu dibiasakan. Sehingga saya pun tidak membiasakan diri untuk begadang.

Dalam keadaan itu, tiba-tiba saya teringat dua peristiwa begadang yang dahsyat.

Kisah Pertama

Pernah melihat kapal laut berjalan di darat? Mungkin terlihat konyol ya. Tapi “kekonyolan” itu benar-benar terjadi beberapa abad silam. Kapal laut mengarungi perbukitan dan berpindah dari satu laut ke laut lain melalui darat dalam satu malam.

Adalah Muhammad Al-Fatih, atau disebut juga Sultan Mehmed II, yang memimpin pasukannya menjalankan ide tersebut pada peristiwa penaklukan Konstantinopel. Sebelumnya, setelah berhari-hari mengepung kota Konstantinopel, pasukan Muhammad Al-Fatih tidak juga dapat menembus beberapa pertahanan berlapis dari pihak musuh.

Ada benteng setinggi 10 meter yang menjaga kota itu. Di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit selebar 7 meter. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Berbagai usaha dikerahkan. Pernah dicoba untuk menggali terowongan di bawah benteng. Tapi usaha ini gagal. Pada akhirnya muncullah ide untuk memindahkan kapal melalui darat dari selat Bosporus ke selat Golden Horn. Karena pertahanan yang paling lemah ada di selat Golden Horn. Taktik ini lah yang mengantarkan pasukan Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel.

Pemindahan kapal ini dilakukan pada malam hari. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka begadang di malam hari dengan menarik 70-an kapal. Benar-benar kerja keras. Saya yang tidak melakukan aktifitas fisik yang berat saja staminanya drop sehabis begadang. Tapi pasukan terpilih itu, sehabis lembur dengan kerja yang amat berat, mampu menaklukan Konstantinopel yang selama 8 abad tidak mampu ditembus oleh berbagai bangsa yang mengincar posisi strategisnya. Subhanallah….

Kisah Kedua.

Peristiwa begadang dahsyat ini dilakukan oleh seorang ulama yang namanya akan selalu terkenang oleh umat muslim sampai akhir zaman. Dia adalah Imam Syafi’i Rahimahullah. Kedahsyatannya adalah pada pengabdian Imam Syafi’i pada ilmu dan umat.

Peristiwa begadang itu terjadi di rumah muridnya, Imam Ahmad Rahimahullah. Suatu ketika Imam Ahmad mengundang Imam Syafi’i ke rumahnya. Undangan ini atas desakan putri Imam Ahmad yang ingin mengetahui akhlak Imam Syafi’i. Putri Imam Ahmad penasaran, karena ayahnya selalu memuji-muji akhlak Imam Syafi’i.

Di rumah Imam Ahmad, Imam Syafi’i dihidangkan makanan. Imam Syafi’i memakan hidangan itu dengan lahap dan banyak hingga putri Imam Ahmad heran. Dan setelah makan, Imam Syafi’i dipersilakan untuk beristirahat di sebuah kamar yang sudah disediakan.

Di malam itu Imam Syafi’i tidak melaksanakan sholat sunnah malam. Bahkan saat sholat subuh, Imam Syafi’i tidak berwudhu terlebih dahulu. Perilaku ini benar-benar ganjil di mata putri Imam Ahmad.

Akhirnya putri Imam Ahmad protes pada ayahnya. Mendapat pengaduan itu, Imam Ahmad pun mencoba meminta klarifikasi dari gurunya, Imam Syafi’i.

Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap Imam Syafi’i berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.”

“Kenapa begitu?”

“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi umat islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.”

Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.”

Subhanallah, bagi saya begadang imam Syafi’i saat itu adalah begadang yang sangat dahsyat. Malam harinya ia abdikan untuk ilmu demi menjawab berbagai permasalah umat.

Ah… saya jadi teringat kelakuan masa kuliah dulu. Saat itu saya dan beberapa teman sering berkunjung ke tempat kos salah seorang kawan. Di sana kadang saya menghabiskan waktu sampai larut malam cuma untuk bermain PS atau game komputer dengan kawan saya yang lain. Dulu belum ada tanggung jawab pekerjaan kantor, sehingga saya tidak terlalu memperhatikan pola tidur.

Saya juga teringat pernah begadang di warnet dengan beberapa teman mengambil tarif happy hour – tarif murah pada jam-jam tertentu. Niatnya sih mendownload bahan kuliah, artikel dan berbagai tutorial untuk belajar. Tapi nyatanya saya sempat cukup banyak menghabiskan waktu untuk chatting dengan orang yang tidak dikenal.

Ah, betapa sia-sianya begadang saya itu..

 

Menjaga Hati

menjaga hati

Suatu hari terjadi percakapan antara saya dengan seorang senior di kampus, ketika saya masih di bangku kuliah. Di pembicaraan itu, senior saya mengkritik perilaku teman-teman mahasiswa aktivis dakwah yang suka menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan lawan jenis. Senior saya berkata, “Katanya jaga hijab… Yang perlu dihijab kan hati. Walau pun tidak melihat tapi hatinya bermain, kan sama saja bohong. Lebih baik hati yang dihijab.” Seperti itu lah kira-kira.

Saat itu saya mangut-mangut. Ungkapan itu terdengar logis.

Berapa lama kemudian di sebuah pengajian, terdengar kritik dari seorang anggota pengajian (dia adalah senior saya yang lain) kepada para aktivis dakwah kampus yang menyepelekan hijab. “Mereka bilang ghodul qulub (menjaga hati) lebih penting, kemudian menyepelekan ghodul bashor (menjaga pandangan). Padahal yang benar ghodul bashor ilaa ghodul qulub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Jaga pandangan dulu untuk kemudian jaga hati!”

Nah lho… saya termangut-mangut lagi. Mana yang benar?

Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah penjagaan yang langsung di pusatnya: hati, daripada bersusah-susah menjaga pandangan. Tapi menurut senior kedua, tidak mungkin menjaga hati apabila tidak menjaga pandangan.

Sejauh mana kita bisa menjaga hati? Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah kita mengontrol langsung hati kita sendiri. Pertanyaannya, bisa kah kita mengontrol atau mengendalikan hati kita?

Bahwa kondisi hati mengendalikan kita, jelas sekali dalilnya. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Lalu, sekali lagi, sejauh apa kendali kita terhadap hati?

Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, “…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthofifin : 83)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”” (QS. An-Nuur : 30-31).

Karena itu, saya rasa pernyataan senior yang kedua lebih tepat: ghodul bashor ilaa ghodul quluub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Bagaimana mungkin kita menjaga hati sementara indera kita dibiarkan bermaksiat?

*****

Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

*****

Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.

Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.

Allahu’alam bish-showab.

 

Karena Kelembutannya, Dakwah Bersemi

pengajian ibu ibu

“Pengajian apa?” Itu pertanyaan saya kepada adik saya saat mendengar ia ada agenda pengajian. Pertanyaan menyelidik, karena adik saya pernah terjebak pada suatu pengajian yang mengajak aggotanya untuk membentuk sebuah negara sendiri.

“Pengajian umum ibu-ibu biasa kok. Ta’lim” Ujarnya. Kemudian adik saya menceritakan tentang sosok ketua pengajian di komplek perumahan baru di Cileungsi itu. Rupanya ketuanya adalah mantan aktifis dakwah kampus. Aku manggut-manggut.

“Tapi dimusuhin.” Kata adik saya lagi.

Saya terperanjat. “Lho, kenapa?”

Rupanya ada ibu-ibu yang punya latar belakang berbeda, yang menganggap pengajian yang diasuh mantan aktifis dakwah kampus itu pengajian yang sesat. Pengajiannya dinilai beda karena tidak ada yasinan, tidak ada pembacaan Barzanji, sholawatan, dan alasan lain.

“Terus ketua pengajiannya klarifikasi dengan ibu yang musuhin itu. Dia bilang, ‘Bu, agama saya Islam, sama enggak? Nabi saya Muhammad saw, sama enggak? Pedoman saya Al-Qur’an dan hadits, sama enggak? Lalu kita bedanya apa?’ Begitu pertanyaan ketua pengajiannya kepada ibu-ibu yang musuhin dia.” Ujar adik saya.

Wow, saya kagum dengan keberanian akhwat itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang yang menyebar isu.

“Ketua pengajiannya juga udah mempersilakan kalau anggota pengajian mau baca yasinan. Pekan pertama yasinan, pekan kedua belajar tajwid. Begitu usul ketua pengajiannya. Dia juga bilang ke anggotanya, ‘Ibu-ibu, saya memang pernah belajar Islam di kampus. Tapi kalau rebanaan, baca Barzanji, saya gak bisa. Gak pernah belajar itu. Masih mau nunjuk saya jadi ketua?'” Lanjut adik saya.

“Terus akhirnya ibu yang musuhin tadi gimana?” Tanya saya.

“Ibu itu tetep aja musuhin. Mereka bikin kelompok pengajian sendiri. Tapi cuma jadi minoritas di sini.”

Saya menyayangkan sekali keadaan ini. Inilah keadaan nyata umat Islam walau tercermin dalam lingkup sebuah komplek perumahan. Susah sekali bersatu hanya karena ada perbedaan pendapat dan perbedaan tradisi.

“Warga sini ga curiga dengan ketua pengajian itu?” Tanya saya.

“Iya memang awalnya warga sini bisik-bisik… Dia aliran apa sih. Tapi lama-lama orang-orang bisa nerima. Sebabnya ketua pengajian itu lembut banget.” Jawab adik saya.

Aha.. Kelembutan. Itu dia kunci sukses dakwah. Dan saya saksikan sendiri bagaimana masyarakat bisa menerima seorang da’iyah karena kelembutan sikap yang dimilikinya.  Kelembutan itu yang bisa membuat mantan aktifis dakwah kampus itu bertahan menghadapi fitnah saat ia membangun dakwah di masyarakatnya. Kelembutan itu sejatinya adalah kekuatan. Sedang sikap keras dan kasar itu adalah kelemahan. Kelembutanlah yang mendorong da’iyah itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang penebar keraguan terhadap dakwahnya. Kelembutan juga yang membuatnya legawa bila anggota pengajian tidak lagi menghendakinya memimpin pengajian ibu-ibu, walau akhirnya anggota pengajian tetap mendukungnya memimpin penyelenggaraan pengajian rutin di kompleks itu.

Pada kelembutan seorang da’i, ada mental yang baja.

 

Menyusun Sendiri Kebahagiaan Diri

bahagia

Di sebuah kelas, seorang guru membagikan sebuah kertas mewarnai yang berisi gambar pemandangan beserta satu kotak crayon kepada anak-anak murid TK-nya. Untuk pembagian crayon, mereka tidak diberikan 12 jenis pinsil warna yang komplit. Tapi paling banyak hanya 8 warna. Tiap anak mendapat pensil warna berbeda-beda. Sengaja untuk memancing kreativitas anak.
Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.

Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. “Bagaimana bisa mewarnai?”, pikirnya. “Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda”

Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.

Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.

Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.

Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.

Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, “Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak”. “Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor.” “Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an.”

Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.

Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.

Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.

Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.

“Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki.