RSS

Elegi Batu-Batu Pijakan

15 Dec

Di batu pertama, kaki mereka menjejak tanpa banyak masalah. Sedikit licin, tapi tak banyak membuat goyah. Tak sampai terpeleset dan jatuh ke tanah.

Tapi untuk ke batu pijakan kedua, lumayan susah payah. Sampai sekarang belum berhasil menjejak, meski segala konspirasi dan skenario masih terus digubah.

Yang menjadi batu pertama, memang tak banyak memiliki simpati. Sekedar sesama muslim, ada lah rasa solidaritas itu. Tapi tak begitu rekat.

Maklum, mereka mudah berselisih dengan yang tak sepaham. Mengharamkan demokrasi, bahkan menuduh syirik bagi yang berani ke TPS. Akhirnya batu pertama ini dianggap sebagai duri dalam daging oleh umat Islam. Ketika umat tengah menghadang kaum sekuler, mereka malah merecoki dari belakang.

Aksinya? Tak banyak terdengar selain spanduk dan teriakan di belakang toa. Ya mungkin ada gerakan kemanusiaan di daerah bencana, mungkin, tapi entahlah apakah kurang publikasi sehingga tak terlalu terdengar.

Ketika batu itu terjejak oleh para pelaku makar, umat sudah mewanti-wanti bahwa langkah mereka tak kan berhenti di situ. Dan benar….

Kemudian mereka mencoba menjejakkan kaki di batu kedua. Hanya saja batu itu kini sedang banyak menuai simpati. Tak sedikit yang dulu kurang suka malah balik mencinta. Jelas butuh usaha yang tak mudah.

Bukankah batu tersebut banyak mencari musuh? Benar, tapi musuh yang dicari adalah kebatilan. Orang lain boleh saja tak suka cara mereka melakukan perlawanan, tapi bila terpupuk rasa benci pada kemaksiatan di hati, akhirnya mengangguk setuju juga meski ada kadarnya.

Nama batu kedua pun telah tertoreh di daerah-daerah yang pernah terkena bencana. Ada kesan, garang pada kemungkaran, tapi lemah lembut pada kemanusiaan. Orang-orang yang menghujat batu kedua pun bukan tak mungkin suatu saat akan ditolong oleh yang dia benci bila terkena musibah.

Cara melangkah para pelaku makar itu terlalu buruk. Kentara gerak-gerak manipulatif dan kezalimannya. Makanya, bagaimana tidak makin mendatangkan banyak simpati?

Berhasilkah batu itu terjejak? Yang jelas doa-doa umat makin kuat dipanjatkan ke langit. Yang tak berdaya bukan berarti tak miliki Pembela. Ada keyakinan, bahwa Allah sengaja membiarkan kaki mereka mengancam sana sini hingga di suatu titik mereka terpeleset lantas terbenam sebagaimana terbenamnya Fir’aun dan tentaranya.

Kapan? Bubuhkanlah kesabaran pada kereta waktu yang melintas. Cepat atau lambat akan terjadi juga.

Kecuali bila para pelaku makar itu bertaubat. Semoga.

Lalu, bersiagalah batu-batu ketiga dan seterusnya. Siapa? Bisa jadi kalian, siapapun itu yang menempuh jalan para nabi, shodiqin, sholihin dan syuhada. Bersiaplah dan rancanglah strategi dari kini.

Makanya, jangan biarkan batu kedua terjejak oleh mereka. Agar tak ada kesempatan menginjak batu-batu berikutnya.

 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2020 in Orat Oret

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: