RSS

Monthly Archives: May 2013

Kenaikan Harga BBM, Ongkos Salah Kelola Negara

Entah apakah pengambil kebijakan di negara ini pernah melihat betapa memprihatinkannya rakyat Indonesia berebut kendaraan umum setiap pagi? Andai mereka mau menyempatkan diri ke daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur; mereka akan menyaksikan pengguna kendaraan umum – khususnya metromini – sampai masuk lewat pintu supir asalkan bisa masuk ke dalam bus yang sudah penuh sesak. Berjejal-jejalan, sementara di tempat yang tak jauh ada rombongan presiden dengan pengawalan yang panjang dan jalur eksklusif.

Bicara ironi, memang negeri ini penuh ironi. Saat penguasa meneriakkan seruan hemat energi, suara itu masuk ke telinga masyarakat yang sehari-hari sudah terbiasa berdesak-desakan di bis kota, di kereta listrik, di transjakarta; sementara presiden dan menterinya terbiasa dengan kawalan sejumlah mobil yang mengkonsumsi energi untuk rakyat.

Kini saya harus membayangkan bahwa kami – rakyat Indonesia – yang terbiasa berjubelan di kendaraan umum ini harus makin merana oleh rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Alasannya, anggaran negara terkuras oleh subsidi BBM. Kami manggut-manggut sembari disuguhi berita pemerintah Indonesia menambah hutang luar negerinya.

Sungguh niat baik pemerintah untuk menaikkan harga BBM ini masih ada ganjalan dalam hati, karena setidaknya ada dua hal yang belum pemerintah penuhi. Pertama, pengadaan energi alternatif; kedua, penyediaan transportasi publik yang memadai dan manusiawi.

Entah apa kabarnya projek tanaman jarak pagar yang dikembangkan di daerah seperti NTB? Juga penemuan biodiesel dari tanaman singkong, jagung, dll? Berapa banyak kontribusinya buat konsumsi energi nasional? Dan seperti apa perhatian pemerintah untuk pengembangan energi alternative seperti itu?

Memang seperti tidak terdengar peranan energi alternatif di Indonesia. Hingga akhir September 2012, realisasi konsumsi biodiesel nasional hanya sekitar 480.358 kiloliter atau 53,3% dari target pemerintah sebesar 900.000 kiloliter (1). Sangat jomplang dengan konsumsi BBM di Indonesia yang pada tahun 2012 mencapai 45juta kiloliter. (2)

Karena kegagalan pemerintah menggenjot penggunaan energi alternatif, harga yang dibayar adalah kenaikan harga BBM yang dibebankan pada masyarakat.

Bagaimana dengan cerita transportasi publik? Tak kurang suram dengan energi alternatif. Bagaimana mungkin pengguna kendaraan pribadi disalahkan sementara di KRL Ekonomi rakyat berjejalan hingga ke atap kereta? Juga moda transportasi publik lainnya, jauh dari kata memadai. Ketersediaan armada bis umum makin berkurang. Di Jakarta dan sekitarnya, banyak trayek bis umum yang tak pernah terlihat lagi. Belum lagi masih banyak daerah yang belum terhubung oleh jalur transportasi publik. Siapkah masyarakat bila disuruh beralih ke transportasi umum sekarang juga? Tentu jawabannya tidak.

Dua hal itu saja tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah. Negeri ini salah urus. Dan rakyatlah yang harus menanggung akibat kesalahan pemerintahnya. Tapi itu konsekuensi logis juga, karena rakyatlah yang memilih pemerintahnya melalui pemilihan umum dan pemilihan presiden langsung.

Anehnya, ada argumentasi yang membela pemerintah dengan alasan bahwa pemerintah tak mampu membangun transportasi publik yang baik karena dananya tersedot oleh subsidi BBM. Bagaimana logika rakyat bisa dibodohi dengan alasan ini?

Padahal baru bulan kemarin (April 2013) pemerintah menambah utang baru sebanyak 3 milyar USD (3). Padahal per Maret, posisi hutang Indonesia mencapai Rp 588,38 Triliun. Dan ini belum ditambah berita gembira dari DPR yang membolehkan Indonesia menambah hutang baru 161,4 Triliun untuk menutup defisit APBN.(4)

Disuguhi atraksi penambahan hutang begini oleh pemerintah, apakah rakyat mampu memaklumi ketidak-mampuan pemerintah membenahi transportasi publik di negara ini?

Dan tontonan hutang-menghutang ini masih diberi bonus dengan pemberantasan korupsi yang melempem. Rakyat harus menonton pemerintah menggelontorkan dana Rp 6 Triliun lebih untuk sebuah bank yang namanya sangat jarang didengar oleh masyarakat. Aksi saweran 6 Triliun yang ditenggarai sarat korupsi itu pun tak mampu dituntaskan oleh KPK hingga kini. Belum lagi korupsi-korupsi lain yang cukup banyak merugikan negara seperti kasus Hambalang, Wisma Atlet, dll.

Sekali lagi, oleh sebab carut marutnya pengelolaan negara, rakyat harus siap dihukum oleh kenaikan harga BBM.

(1) http://www.indonesiafinancetoday.com/read/35907/Konsumsi-Biodiesel-Nasional-Diprediksi-Tidak-Capai-Target

(2) http://www.solopos.com/2013/01/06/konsumsi-bbm-kebutuhan-terus-meningkat-impor-minyak-indonesia-2013-bakal-membengkak-365108

(3) http://economy.okezone.com/read/2013/04/09/20/788505/indonesia-kembali-tambah-utang-luar-negeri-usd3-m

(4) http://vibiznews.com/2013-04-16/utang-luar-negeri-indonesia-mencapai-rp-588-38-triliun

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on May 30, 2013 in Artikel Umum

 

Guncangan

Suatu hari sewaktu saya masih di bangku SMU, pernah terjadi gempa bumi. Dan setelah gempa bumi itu reda, kawan saya tidak sengaja menemukan seekor ular yang hendak dan hampir keluar dari sebuah lubang yang ada di halaman sekolah. Kami mengerubungi lubang itu dengan perasaan penasaran campur takut.

Tampaknya gempa bumi yang menyebabkan ular itu hendak keluar. Ular itu sepertinya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sehingga harus keluar dari lubang sarangnya. Ular juga butuh keselamatan. Apa lagi mungkin dia tidak ikut asuransi sehingga kalau cedera tidak ada proteksi untuk pengobatan dirinya. (halaah…)

Fenomena ini, sebenarnya bisa menjadi pemisalan bagi kehidupan kita. Untuk menampakkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati, perlu ada guncangan pada hati kita.

Dalam keadaan tenang, mungkin kita tidak akan pernah menyangka bahwa kita memiliki sifat yang mudah berkeluh kesah, dengki, dendam, dan sifat buruk lainnya. Tetapi ketika kita mendapat guncangan, mendapat masalah dalam hidup, maka itu akan memancing watak-watak buruk untuk tampil dalam perilaku kita.

Ketika saya mengikuti acara kemah yang diadakan oleh organisasi keislaman di kampus saya dulu, ada teman yang mengatakan pada saya bahwa watak asli seseorang akan terlihat di alam, ketika acara kemah seperti ini. Akan terlihat mana yang pekerja keras, mana pengeluh, mana yang manja.

Watak-watak tersebut terpancing keluar oleh guncangan, yaitu berupa kehidupan yang tidak nyaman. Di alam bebas atau di hutan, kita harus survive. Ketika lapar tidak ada pembantu untuk memasakkan makanan. Harus kita sendiri memasak makanan dengan peralatan seadanya. Ketika tidur, begitu tidak nyaman. Harus mendirikan perlindungan berupa tenda yang tidak cukup baik melindungi dari nyamuk dan hujan.

Misal di kantor kita ada pegawai baru yang terlihat periang, mungkin perlu ada ujian berupa beban kerjaan yang stressful untuk melihat apakah dia periang dalam setiap keadaan. Perlu ada konflik dengan pegawai lain untuk melihat apakah ia pemaaf dan tidak pendendam atau sebaliknya.

Guncangan itu sunnatullah (QS 2:155). Dan guncangan itu adalah hal yang baik. Berikut ini manfaat guncangan:

1. Sebagai jalan menuju surga dan pembuktian iman.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 214 yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Yakin lah ketika kita mendapatkan guncangan yang hebat dalam hidup, maka itu adalah sebuah jalan menuju ke surga. Balasan bagi orang yang beriman adalah surga, dan iman itu sendiri perlu pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut : 2)

Dari dua ayat ini, Allah memperingatkan kita agar kita tidak mengira bahwa pernyataan iman kita akan mulus mengantarkan kita pada surga. Tidak!! Ada guncangan untuk itu semua. Dan ketika guncangan itu datang, kabar baik, Allah telah merespon pernyataan kita dan telah membentangkan jalan untuk ke surga. Insya Allah 🙂

(Silakan buka buku ‘Menuju Jamaatul Muslimin’ karya syeikh Husain bin Muhammad bin Ali Jabir. Ada bab tentang tabiat jalan. Yang bercerita tentang berbagai guncangan kepada pembela kebenaran.)

2. Kesempatan untuk membersihkan diri.

Seperti yang sudah disebutkan, guncangan membuat ‘ular-ular’ yang bersembunyi pada lubang di hati kita untuk keluar. Saat itu lah kesempatan kita membunuh ular-ular itu dan membersihkan hati kita dari binatang jahat tersebut.

Saat kita telah menyatakan beriman, lalu Allah menurunkan ujian pada kita. Kadang kala terjadi seperti Surat Al-Ankabut ayat 10, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.”

Guncangan malah membuat kita melakukan kesalahan. Tapi masih ada kesempatan. Atas kesalahan yang kita perbuat, kita bisa bertaubat dan mengambil pelajaran untuk tidak mengulanginya lagi. Allah memperlihatkan aib kita melalui ujian agar kita bisa memperbaiki diri.

Yang perlu diperhatikan, apabila kita menemukan diri kita mudah berkeluh kesah kalau ada masalah, jangan kita menyangka seperti ini: “Ah, kalau ada masalah memang bawaan saya begitu. Tapi kalau saya mendapat nikmat, insya Allah saya mudah bersyukur sih. Memang kelemahan saya itu di ujian yang tidak enak, tapi kalau ujian yang enak, insya Allah saya lulus.”

Perhatikanlah surat Al-Ma’arij ayat 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,”

Allah menyanding sifat keluh kesah dan kikir sebagai suatu kesatuan. Maka menjadi warning, kalau kita mudah mengeluh dalam keadaan tidak enak, dijamin dalam keadaan yang enak akan menjadi kikir. Sama saja, tidak lulus ujian juga.
Jadi, insya Allah suatu guncangan dalam hidup bisa membersihkan dua penyakit sekaligus, yaitu bila kita belajar tidak berkeluh kesah, sekaligus juga akan membersihkan penyakit kikir. Insya Allah.

3. Dalam barisan dakwah, guncangan menjadi seleksi yang membersihkan dari anasir yang lemah.

Salah satu kisah tentang seleksi ini ada pada kisah Bani Israil yang Allah ceritakan pada surat Al-Baqarah 246-251. Awalnya mereka meminta melalui salah seorang nabi mereka agar Allah mengangkat seorang raja agar mereka bisa berperang. Nabi itu menggertak, jangan-jangan mereka tidak jadi berperang setelah Allah menurunkan perintah perang. Lalu mereka membantah dan beralasan.

Kekhawatiran nabi itu terwujud. Allah memerintahkan mereka berperang, tapi hanya sedikit saja dari mereka yang menyambut perintah itu. Ada apa?

Ada guncangan pada egoisme mereka. Raja yang mereka minta untuk memimpin mereka berperang, adalah orang yang mereka anggap tidak memiliki kekayaan yang cukup. Harga diri mereka terguncang, karena mereka menganggap masing-masing dari mereka lebih berhak menjadi pemimpin dari pada Thalut, raja baru yang telah Allah anugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Sebuah guncangan yang mengarah pada rasa gengsi yang tinggi. Dan mereka pun terseleksi. Hanya sedikit yang menyambut perintah perang.

Seleksi berlanjut. Thalut membawa keluar pasukan yang sedikit itu. Perjalanan panjang dan melelahkan mengundang dahaga. Lalu mereka menjumpai sebuah sungai yang airnya bisa melepas haus. Tapi Thalut malah menyampaikan bahwa Allah hendak menguji mereka untuk tidak meminum air sungai tersebut kecuali sekedar mencedukkan tangan. Sebuah guncangan lagi untuk mereka. Dan lagi-lagi mereka terseleksi. Sebagian besar dari mereka membandel meminum air dari sungai itu, dan kemudian tiba-tiba mengaku tidak mampu melawan Jalut, musuh yang akan dihadapi. Mental orang-orang yang meminum air sungai itu drop akibat ketidak-patuhan. Hanya sedikit dari mereka yang menuruti perintah Allah yang melanjutkan perjalanan.

Pasukan yang tinggal sedikit tersisa itu kemudian sekali lagi merasakan guncangan saat mereka berhadapan dengan Jalut dan tentaranya yang perkasa. Tapi mereka adalah orang yang cerdas yang mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa do’a “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Allah kekalkan redaksi doa mereka dalam Al-Qur’an agar kita menjadikannya doa ketika menghadapi guncangan.

Kisah ini happy ending. Mereka memenangi pertempuran. Dan Jalut terbunuh oleh salah seorang dari mereka yang bernama Daud a.s., yang kemudian menjadi Nabi. Begitulah kwalitas dari barisan yang sudah terseleksi ketat oleh berbagai guncangan. Mereka mampu mengalahkan pasukan yang lebih kuat. Dan keyakinan mereka adalah keyakinan yang baja yang mencerminkan pembuktian keimanan yang sangat dalam: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Itulah antara lain manfaat guncangan yang Allah hadirkan pada kita. Jangan kira itu buruk, tapi itu baik bagi kita kalau kita mau bersabar.

 

Belajar Dari Cara Elang Menghadapi Badai

Hewan yang paling sering dijadikan pelajaran dalam menghadapi ujian kehidupan adalah elang. Hewan ini punya sikap yang sangat elegan dalam melawan badai.

Elang punya kemampuan mengetahui kapan saatnya datang badai. Dan ketika ia tahu bahwa badai sebentar lagi datang, apakah ia menjauh? Tidak. Justru ia hadapi dengan cerdik.

Beberapa saat menjelang badai datang, elang akan terbang ke titik yang tinggi. Menunggu angin di sana. Hingga badai benar-benar datang, elang merentangkan sayapnya lebar-lebar. Saat itulah angin akan menerbangkannya lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dari badai yang mengamuk di bawah. Dan dia terhindar dari badai dengan “mengangkanginya”.

Kecerdikan itulah yang menjadi pelajaran bagi manusia dalam menghadapi ujian. Sebuah ayat kauniyah yang Allah permudah untuk dipelajari bagi pembangun peradaban bumi.

Seorang muslim tentu tahu bahwa ujian Allah akan menghampirinya. Itu adalah konsekuensi beriman kepada Allah swt. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabuut : 2)

Lantas, apakah muslim akan menjauh dari ujian itu? Berarti, ia harus menjauh dari keimanan. Tapi tentu tidak, dengan istiqomahnya seorang muslim akan melakukan persiapan dalam menghadapi badai kehidupan.

Bila elang akan terbang ke titik yang tinggi sembari menunggu badai, maka seorang muslim akan mempertinggi kondisi ruhaninya dengan amalan-amalan wajib dan nafilah. Dengan kedekatan pada Tuhan-lah ia songsong badai.

Dan ketika badai itu datang, ia paham bahwa sebuah ujian hanyalah media untuk meningkatkan derajat dirinya di hadapan Allah swt. Oleh karena itu, bila elang melebarkan sayapnya dan membiarkan angin melambungkan badannya tinggi ke atas, seorang muslim akan membuka dirinya dan membiarkan ujian yang dihadapi melambungkan derajatnya.

Wahai muslim, kita harus berdiri di atas badai ujian hidup kita. Tidak boleh kita biarkan terjebak dalam pusaran angin kencang dan terguncang-guncang tanpa daya.

Bila ujian hidup itu adalah sebuah arus liar, jangan biarkan akal sehat kita hanyut diombang-ambing oleh gelombang besar. Biarkan ujian itu mengalir bersama takdir, sementara akal sehat kita ada di atasnya menganalisa apa yang terjadi. Kelak arus liar itu pun akan berlalu dengan sendirinya.

Bila akal sehat kita tidak hanyut, dari atas gelombang akal sehat kita bisa saja membelokkan arus. Dengan berada lebih tinggi, kita menemukan pemandangan yang lebih luas untuk menentukan kemana arus berbelok dengan mengubah jalur sungai.

Yang terpenting, dengan berada di atas arus liar ujian kehidupan, akal sehat kita bisa menganalisa dan memahami tipikal air bah yang suatu saat akan kembali datang. Kita bisa mengambil pelajaran darinya, dan melakukan koreksi atas perilaku kita.

 

Ciri Generasi Pengubah: Cinta, Harmoni dan Kerja

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah : 54)

Sejarah selalu berulang. Dan dalam perulangan sejarah itu, terjadi cerita tentang keadaan umat manusia yang berulang kali menyimpang dari jalan yang benar, dan berulang kali datang kelompok yang menyeru mereka untuk kembali ke jalan yang lurus.

“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya ter-dapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau mem-baca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala , ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mence-raiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintah-kan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

Begitu apik Rasulullah melakukan pengajaran pada umatnya. Melalui sebuah grafik visual, sehingga para pembelajar yang kuat daya visualnya akan menangkap kuat kesan itu di otak.

Garis yang lurus itu dihuni oleh Nuh a.s., Hud a.s., Sholih a.s., Ibrahim a.s., Luth a.s., Syu’aib a.s., dan para nabi beserta para pengikutnya. Itu adalah kelompok reformis yang mencoba mengubah kondisi ruh masyarakat yang telah lusuh menjadi segar kembali.

Sedangkan orang-orang yang berada di garis yang ada di kanan dan kiri garis yang lurus itu adalah penyembah suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr; pelaku sodomi; pembunuh unta betina milik Allah; pedagang yang curang; dan kaum penyimpang lainnya.

Hati bisa menjadi lusuh. Umat bisa menjadi keruh. Karena itu perlu di-refresh. Disegarkan kembali.

Ketika datang seseorang mengeluh betapa hari-hari belakangan iya dilanda bad mood, Ibnu Mas’ud menasehati orang itu agar membaca Al-Qur’an, mendatangi majlis ilmu, dan atau berkhalwat kepada Allah di malam pekat. Pesannya pada orang itu, “Hati bisa lusuh. Mintalah kepada Allah hati yang baru.”

Oleh karena itu, ruh umat ini juga bisa menjadi lusuh manakala telah terjadi penyimpangan di tengah mereka. Dan Imam Hasan Al-Banna pun melakukan personifikasi pada ruh umat, saat berpesan pada barisan du’at yang ikhlas, “Kalian adalah ruh baru di tengah umat.” Sebuah ungkapan yang terkenal di kalangan du’at.

Ruh baru. Adalah kelompok istimewa yang menyeru hal-hal yang ma’ruf pada umatnya, dan mencegah terjadinya kemunkaran.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali-Imran: 104)

Ruh baru inilah yang Allah sebut dalam Al-Maidah ayat 54 di atas, akan didatangkan manakala umat manusia telah “membelakangi” agama yang lurus.

Dalam ayat tersebut Allah swt telah menjelaskan tentang ciri-ciri generasi yang mencoba mengubah kondisi masyarakat. Tiga kata yang merangkum ciri kelompok tersebut adalah: cinta, harmoni, dan kerja.

Cinta

Kaum yang bekerja dengan cinta itu digambarkan oleh Allah swt dengan kata-kata, “kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” Suatu kemestian agar cinta yang sakral tetap berada di muka bumi. Bila umat manusia membangkang, membelakangi agama yang lurus, dan menyepelekan kekuatan cinta kepada Allah swt, maka bisa dipastikan umat tersebut berada dalam ujung kepunahannya. Ini adalah janji Allah, bahwa Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang menjaga cinta.

Cinta kepada Allah tentu saja memiliki berbagai turunannya. Ia bisa berupa aktivitas mencintai Rasulullah karena Allah, mencintai orang tua karena Allah, mencintai jihad karena Allah, mencintai objek dakwah karena Allah. Cinta kepada Allah eksis dalam berbagai dimensi aktivitas manusia, yang diniatkan untuk mencari ridho Allah. Maka penuhlah gerakan generasi pengubah itu dengan cinta.

Imbal baliknya, Allah swt juga mencintai generasi pengubah. Bahkan respon Allah lebih cepat dari manusia. Dan cinta Allah swt meski tak mungkin diterjemahkan dalam kuantitas, namun bisa dipastikan lebih besar dari cinta manusia dengan segala keterbatasannya.

“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika dia mengingati-Ku. Jika dia mengingati-Ku dalam dirinya, pasti Aku mengingatinya dalam diri-Ku. dan jika dia mengingati-Ku dalam suatu himpunan (majlis), pasti Aku mengingatinya dalam majlis yang lebih baik dari mereka. Dan jika dia mendekatiku sejengkal, pasti Aku mendekatinya sehasta, dan jika dia mendekati Aku sehasta, pasti Aku mendekatinya sedepa. Dan jika dia datang kepada-Ku berlari, pasti Aku datang kepadanya berlari-lari kecil.” (HR Bukhari)

Harmoni

Filosofi yang terkenal dari Cina adalah Yin Yang. Ringkasnya, Yin Yang menggambarkan dua karakter berlawanan, namun mampu membangun dan membentuk harmoni.

Gambaran karakter berlawanan namun membangun harmoni itulah yang ada pada watak generasi pengubah. Cirinya: “yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” Kelembutan dan watak keras terpadu pada sebuah pribadi, dan tersalur pada objek yang tepat.

Islam mengenal harmoni dari dua karakter berlawanan. Misalnya Islam menyuruh manusia mencari akhirat, namun melarang untuk melupakan dunia. Atau ada istilah bagi tentara Islam: “Rahib di malam hari, dan penunggang kuda yang hebat di siang hari.”

Dan begitulah yang diramu dalam karakter lembut dan tegas dari seorang generasi pengubah: sebuah harmoni penyikapan. Kelembutan ia praktekkan pada sesama mukmin yang hatinya terikat pada Allah swt, dan ketegasan ia lampiaskan pada manusia yang tidak mau tunduk pada aturan Allah swt.

Namun watak keras dan tegas itu bukan berarti menghapus kewajiban bersikap adil dan berlaku baik pada orang kafir.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)

Pada tataran implementasi, semua itu fleksibel. Kata “a-‘izzatin” (berarti kemuliaan, kekuatan, atau wibawa; dalam ayat ini diterjemahkan dengan “bersikap keras kepada orang kafir”)  ini mestinya terterapkan dalam semua dimensi. Umat Islam punya ‘izzah dalam ekonomi sehingga tak ditindas kaum kafir pendatang. Umat Islam punya ‘izzah dalam kekuatan kemiliteran sehingga tak ditindas negeri kafir tetangga. Umat Islam punya ‘izzah dalam pendidikan sehingga tak perlu menempuh perjalanan jauh ke negeri kafir yang begitu rusak moralnya hanya demi mendapatkan gelar pendidikan. Generasi pengubah harus siap mengisi berbagai dimensi kehidupan dengan ‘izzah umat Islam. Sehingga terpenuhilah karakter “a-‘izzatin ‘alal kafirin”, “memiliki ‘izzah atas kaum kafir.”

Kerja

Dan ciri yang terakhir adalah karakter pekerja. “Yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”

Jihad membutuhkan kerja keras dan mental baja, karena jihad selalu dibayangi oleh celaan orang yang suka mencela. Perhatikanlah bagaimana orang-orang munafik Madinah mengolok-olok kaum muslimin sepulang dari perang Uhud. Celaan orang munafik ibarat garam yang ditabur di atas luka yang didapat dari medan jihad. Mereka dengan sombongnya menganggap orang muslim tak mengerti taktik berperang, dan berkata sekiranya orang munafik itu yang ada di medan perang, tentu umat muslim tak dilanda kekalahan. Celaan yang menyakitkan.

Tapi respon dari celaan itu adalah dengan tetap berjihad hingga datang suatu pembuktian. Jaraknya tak terlalu jauh dari celaan orang kafir itu hingga Rasulullah dengan jihadnya mampu menaklukkan Mekkah. Fokus bekerja, dan pembuktian itu datang atas kehendak Allah swt.

Begitulah karakter generasi pengubah. Mereka generasi pekerja yang mencoba menjadi anti-mainstream dengan mengajak umat kembali ke jalan yang lurus. Hal yang tidak popular di tengah umat yang telah membelakangi agamanya. Dan tentu saja menjadi anti mainstream identik dengan celaan. Karena itu bersiaplah, jangan takut dengan celaan orang yang suka mencela!

Ulama telah menerangkan bahwa jihad ada pada berbagai dimensi kehidupan umat Islam. Ada jihad dalam bentuk ekonomi, ada jihad dalam bentuk mencari ilmu. Dan tentu saja jihad yang utama adalah konfrontasi, termasuk menyiapkan kekuatan yang bisa menggentarkan musuh Allah.

Untuk mengubah masyarakat memerlukan jihad di berbagai aspek kehidupan. Saat masyarakat terbiasa dengan ekonomi riba, tak ada lain cara mengubahnya adalah dengan jihad. Saat masyarakat berpandangan sekuler karena kurikulum yang didapatnya begitu, maka jalan jihad adalah cara untuk mengubah kurikulum pendidikan. Dan begitu juga berlaku untuk dimensi kehidupan yang lain.

Jadi, pilihlah, apakah ingin menjadi kaum yang diganti, atau menjadi generasi pengganti? Syaratnya sudah jelas.

 

Pertimbangan Dien dalam Menentukan Pasangan

“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata.” (HR. Turmudzi).

Mungkin hadits pertama lebih populer di kalangan wanita muslim dibanding hadits kedua. Begitu juga sebaliknya, hadits kedua lebih populer di kalangan pria muslim dibanding hadits pertama.

Hadits pertama terasa memberikan perlindungan kepada wanita dari pandangan-pandangan berlandaskan nafsu. Memberikan perlindungan kepada wanita solehah agar tidak tersingkir dari peluang dinikahi hanya karena hitungan duniawi. Itulah mengapa hadits pertama lebih populer di kalangan wanita mukmin. (Mungkin… Saya belum pernah mengadakan survey ilmiah).

Ayat lain yang memberikan perlindungan yang sama ada pada QS Al-Baqarah 221.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…”

Peringatan “engkau akan celaka” pada hadits peratama adalah peringatan yang serius dari Rasulullah terhadap pria mukmin. Mengesampingkan pertimbangan keimanan saja sudah menjadi sebuah kecelakaan yang serius. Dan lebih serius lagi karena terjadi untuk membangun sebuah lembaga bernama pernikahan.

Apabila menikah itu menggenapkan separuh dien, karena selama membujang itu dien kita belum ‘genap’, lalu bagaimana mungkin dien itu ditambal oleh dunia yang dalam pandangan Allah tidak lebih bernilai dari sayap nyamuk? Bukankah seharusnya dien itu pun ditambal dengan dien pula sehingga genap, yaitu pernikahan yang berlandaskan keimanan!!! Bisakah pernikahan berlandaskan nafsu menambal dien yang belum genap dari seorang bujangan?

Begitu pula hadits yang kedua, juga memberikan perlindungan kepada pria mukmin dari penolakan yang tidak berlandaskan pertimbangan agama. Sehingga hadits tersebut lebih populer di kalangan pria mukmin.

Sama seperti hadits pertama, atas pengabaian pertimbangan agama, ada ancamannya. Kali ini berupa “fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata.” Bila pada hadits pertama ancaman hanya pada pria itu sendiri, di hadits kedua ancamannya lebih besar lagi.

Bisa dimengerti mengapa ancaman pada hadits kedua lebih besar lagi. Bila seorang pria mukmin yang menikah karena alasan dunia yang ada pada seorang gadis yang tidak begitu baik agamanya, pria tersebut – bila keimanannya baik – masih bisa membimbing keluarganya kepada keimanan. Meskipun usahanya akan mendapat hambatan karena agama yang kurang baik dari istri.

Tapi bila seorang wanita tidak dilepas kepada seorang pria yang baik agamanya, lalu akhirnya jatuh kepada pria yang tidak baik agamanya, maka keluarga yang dibentuknya akan dibawah bayang-bayang buruknya agama sang kepala keluarga. Pada akhirnya, sulit untuk membentuk keluarga yang islami.

Bahayanya jauh lebih besar dari yang pertama.

Ala kulli hal, memang fitrah manusia kadang tidak bisa lepas total dari sebuah pertimbangan. Tentang kecenderungan terhadap yang cantik, atau kaya, atau baik keturunan. Rasulullah tidak melarang kita menikahi yang cantik, kaya, bangsawan. Tapi Rasulullah hanya memerintahkan agar menyertakan penilaian dien atas sebuah pertimbangan, dan menjadi penilaian yang dominan. Tanpa itu, kecelakaan menghampiri.
Yang tidak boleh terjadi, penggunaan yang tidak benar atas dua hadits pada awal tulisan. Bagi pria, hadits tidak boleh menolak orang yang akhlaknya baik, tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksakan pinangannya. Padahal pria tersebut juga harus mengamalkan hadits pertama terlebih dahulu.

Dan bagi wanita, tidak boleh ada cibiran atas nama hadits kedua bila seorang pria menikah dengan seorang wanita yang cantik. Merasa akhlak & diennya lebih baik dari wanita yang dinikahi pria idolanya, lalu menuding si pria telah meninggalkan hadits pertama.

Allahu’alam bish-showab.