RSS

Monthly Archives: March 2014

Ingat Hunain, Ikhwatifillah !!

Antara izzah dan ghurur sepertinya memiliki perbedaan tipis. Ada kebanggaan / izzah dengan jumlah bilangan yang banyak saat Rasulullah saw bersama sekitar 10.000 pasukannya dari berbagai suku memasuki Mekkah. Namun yang terjadi pada perang Hunain adalah ghurur ketika merasa jumlah yang banyak mampu memenangkan peperangan. Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya ihbat (merendahkan diri kepada Allah swt).

Maka periksalah keberadaan ihbat di hati kita saat ini, ya ikhwatifillah, setelah kita melihat massa yang besar memenuhi seluruh tribun di Gelora Bung Karno bahkan hingga ke pinggir lapangan, pada kampanye perdana 16 Maret 2014 lalu. Adakah kerendah hatian di hadapan Tuhan? Atau telah berganti menjadi perasaan kibr (sombong) dan merasa di atas angin yang menyebabkan kita terjebak pada ghurur (tertipu) dengan jumlah itu?

Jumlah tidak menjadi sebab untuk memenangkan perang. Tholut menjadi saksi, dan kisahnya di Al-Qur’an sudah kita ikuti. Apalagi sekedar jumlah peserta kampanye. Contoh nyata, penuhnya Gelora Bung Karno pada kampanye PKS tahun 2009 lalu tidak menjadi sebab Jakarta dikuasai untuk kedua kalinya oleh PKS. Atau melubernya peserta kampanye Hidayat+Didik 2012 lalu juga tidak berbanding lurus dengan suara yang diraih. Malahan, Partai Demokrat yang saat kampanye di GBK tahun 2009 tidak mampu menyaingi jumlah massa kader PKS, berhasil menang di Jakarta. Atau Jokowi-Ahok yang kampanyenya tidak seramai Hidayat+Didik dan Foke-Nara di pilgub kemarin keluar sebagai pemenang di Jakarta.

Memberi arti tentang keramaian dan keriuh-rendahan kampanye PKS pekan lalu bukanlah dengan merasa pasti bahwa partai ini akan mencapai apa yang ditargetkan oleh sebab jumlah yang banyak itu. Keramaian itu bisa memberi izzah, bangkitnya gengsi di hadapan orang-orang yang ingin partai ini tenggelam, dengan disertai rasa kerendah hatian di hadapan Allah swt. Bersyukur, karena dengan sesaknya GBK, Allah swt telah menguatkan perasaan kita kembali yang sempat gentar oleh caci maki masyarakat. Pertanda bahwa masyarakat masih mempercayai kita. Itu adalah modal untuk berbuat lebih banyak dan lebih gigih lagi.

Jangan sampai perasaan ghurur Hunain menjangkiti kita. Perasaan sudah menang membuat potensi tidak dikeluarkan secara optimal. Yang ada malah saling mengandalkan. Bukannya saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dalam memberikan perlawanan, malah memilih mundur saat mendapat serangan hebat.

Kalau kita mulai berpangku tangan, tanda ghurur sudah menjangkiti. Tapi kalau kita semakin bergairah dan percaya diri untuk berkerja, maka kita telah memiliki izzah.

Ikhwatifillah, masih jauh kemenangan itu. Bila pemimpin berkata telah mencium aroma kemanangan, itu memang benar dengan segala kerendahan hati di hadapan Tuhan. Tapi aroma akan tinggal aroma bila yang kita lakukan bukannya merengsek ke hadapan, malah asyik bernostalgia membangga-banggakan bilangan.

Allahua’lam bish-showab.

Advertisements
 

Menjual Capres PKS

Sebagian kader PKS – dengan naluri manusiawinya – mungkin kecewa, atau geregetan, manakala di penghujung Januari lalu Majlis Syuro PKS tak kunjung mendeklarasikan seorang calon presiden definitif dari PKS untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Alih-alih, Majelis Syuro malah menetapkan lagi tiga kandidat capres setelah sebelumnya menggelar pemira internal yang menghasilkan lima besar nama tokoh internal yang diinginkan kader.

Bagi sebagian kader, kejelasan satu nama yang akan diusung sebagai capres sangat membantu agar bisa fokus menjual partai ini saat mereka berkunjung ke rumah-rumah warga. Penetapan satu nama membuat mereka bisa fokus mengeksplorasi prestasi dan daya jual dari tokoh itu. Kader PKS yang banyak diisi oleh orang kreatif akan lebih terarah memproduksi konten-konten menarik.

Sedangkan penetapan tiga nama, menurut mereka membuat masyarakat bingung dan menilai PKS tak tegas. Ada juga masyarakat yang resisten pada salah satu dari tiga nama itu. Akhirnya mereka malah menolak semuanya.

Faktor Elektabilitas

Beberapa survey memperlihatkan bahwa salah satu alasan para pemilih menentukan pilihannya pada partai politik pada pemilu legislatif mendatang adalah berdasarkan tokoh yang diusung sebagai capres. Jarang masyrakat yang memperhatikan program atau visi misi partai. Pengaruh individu masih dominan pada masyarakat kita.

Karena itu sudah sewajibnya PKS menawarkan sosok yang layak diangkat menjadi capres kepada masyarakat. Segala bentuk alasan pilihan harus dijajaki dan disediakan agar masyarakat berbondong-bondong memilih PKS dari jalan alasan apa pun.

Ada pengalaman menarik dari seorang pelaku direct selling pada saat PKS masih bernama Partai Keadilan. Pada masa itu, tahun 1999, mendekati pemilu pertama setelah reformasi, Fakultas Kedokteran UI menyelenggarakan debat calon presiden di Salemba, yang dihadiri oleh Amin Rais, Sri Bintang Pamungkas, Yusril Ihza Mahendra, dan calon dari PK: Didin Hafidhuddin. Dalam debat itu terjadi sedikit keributan kecil antara Yusril dan Amin Rais. Lalu Kiai Didin menengahi dengan kata-katanya yang bijak.

Rupanya hal itu terekam dalam ingatan masyarakat. Ketika kader PK datang ke rumah-rumah warga, mereka menjelaskan bahwa kiai Didin yang diusung oleh PK hadir pada debat capres kemarin. Sambutan warga rupanya positif. “Wah, kalau dia keliatannya bijak. Bagus itu orangnya.” Itu salah satu komentar warga. Masyarakat menjadi simpatik, dan closing pun mudah.

Berbekal pengalaman 99 lalu, rasanya masyarakat bisa digugah melalui rentetan 130 penghargaan kang Aher, atau testimony kekaguman tokoh nasional kepada Hidayat Nur Wahid, atau video orasi Anis Matta yang membahana. Buat mereka percaya PKS punya capres yang mumpuni, dan mereka akan mempertimbangkan memilih PKS.

Sisi Positif Penetapan Tiga Calon

Mungkin saja kader PKS yang kecewa karena penetapan tiga capres itu belum memahami ada sisi positifnya. Penetapan tiga calon ini sebenarnya bisa berdampak baik pada elektabilitas PKS asalkan dikelola dengan baik. Bagaimana mengelolanya?

Sebenarnya tiga capres yang ditawarkan PKS memiliki kelebihan masing-masing. Ada yang menyandingkan jargon Cinta-Kerja-Harmoni pada karakter masing-masing capres. Anis Matta yang telah menelurkan buku “Biar Kuntumnya Mekar”, sebuah buku yang berisi nasihat rumah tangga, diidentikkan dengan karakter Cinta. Hidayat Nur Wahid, yang sosoknya diterima oleh berbagai kalangan umat beragama karena kesantunannya, diidentikkan dengan karakter Harmoni. Dan Ahmad Heryawan yang gemar mengoleksi berbagai penghargaan diidentikkan dengan karakter Kerja. Semuanya pas.

Anis Matta kita kenal jago orasi. Beliau memiliki retorika yang memukau. Hidayat Nur Wahid dikenal dengan sosok yang santun dan diterima oleh banyak kalangan. Berpengalaman memimpin lembaga tinggi negara yang merupakan modal menjadi presiden. Dan bersuku Jawa. Dan Ahmad Heryawan, adalah sosok yang sangat mudah dijual karena karya nyatanya.

Masing-masing capres ini pun memiliki pendukung fanatiknya di tubuh PKS.  Dan PKS memiliki stok kader kreatif yang melimpah. Tampaknya, sebaran kader-kader kreatif yang menjadi pendukung masing-masing calon cukup merata. Mereka bisa saling berkompetisi memaksimalkan daya kreatifitasnya untuk mempopulerkan capres pilihan.

Mungkin saja ada masyarakat yang resisten dengan salah satu capres. Maka, tawarkanlah capres yang sesuai dengan kecenderungannya. Perkenalkan kelebihan-kelebihan capres yang sesuai hingga orang itu tertarik. Seperti kader PKS, masyarakat juga punya pilihan sendiri kepada capres PKS. Untuk warga Jawa Barat, tentu lebih dekat dengan kang Aher. Kepada masyarakat dari suku Jawa, tawarkan Hidayat Nur Wahid. Dan untuk kalangan intelek, bisa dijual ide-ide Anis Matta.

Majelis Syuro sengaja membuat kompetisi antar mereka. MS telah mengamanahkan agar masing-masing capres bekerja meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya. Kompetisi ini seperti sebuah pesta kecil yang bisa membuat orang menoleh – begitu yang diistilahkan Anis Matta. Saat masyarakat menoleh, maka masyarakat akan menyadari bahwa PKS memiliki stok kader berkapasitas pemimpin nasional.

Permasalahan PKS adalah ketokohan. Dan itu disadari oleh para kadernya. Selama ini mereka lebih suka menjual nama partai daripada nama tokoh. Tapi toh masyarakat belum bisa memisahkan individu dan institusi. Ketika ada individu yang bermasalah, tetap saja partai yang kena getahnya. Jadi, tokoh itu sangat menentukan. Popularitas seorang tokoh bisa mengangkat atau menurunkan institusi.

Oleh karena itu, dengan cara ini PKS mulai terbiasa menjual nama tokoh. Toh yang dijual adalah orang-orang berkapabilitas dan integritas semua. Sekali jual langsung tiga nama.

 
1 Comment

Posted by on March 29, 2014 in Artikel Umum

 

Ada Kabar Apa Hari Ini, Haters?

Ada kabar apa hari ini, haters?

Ah.. Haters… Kalian begitu menginspirasi. Rupanya kekuatan cinta bukan satu-satunya kekuatan yang dahsyat yang ada pada diri manusia. Tapi kekuatan benci tak kalah dahsyat dan luar biasa. Kalian ajarkan itu.

Haters, kerja kalian mengagumkan dalam memburu aib pihak yang kalian benci. Meski kalian di Jakarta, tapi kalian bisa dapat info dari daerah yang nun jauh di sana, misalnya di sebuah daerah di Sulawesi Utara. Atau kalian berada di Depok, tapi kalian tak ketinggalan info sebuah kasus di Maluku Utara yang melibatkan pihak yang kalian benci. Hatta di Jazirah Arabia kalian masih bisa melacak aib di Jawa Tengah. Hebat, luar biasa, mengagumkan, bagaimana caranya kalian bisa update begitu?

Haters, kalian mengajarkan arti kesungguhan. Bagaimana caranya kalian bisa betah menguntit pihak yang kalian benci? Kalian kerasan berada di belakang pihak yang kalian benci sembari menunggu-nunggu kotoran keluar dari ekor mereka. Lalu kalian puaskan diri bermain dengan kotoran itu. Kalian senantiasa haus dengan kabar aib mereka. Tak pernah kenyang melihat mereka salah langkah. Selalu mengintip-intip aurat mereka tersingkap. Kalian survive dengan hidup begitu.

Haters, kebencian telah menjadikan kalian begitu dekat dengan mereka yang kalian benci. Selalu mengendap-endap agar tak jauh dari mereka. Seperti pembesar Quraisy yang mengendap-endap di dekat rumah Rasulullah pada larut malam agar bisa mendengar bacaan Qur’an. Saat kalian membuka mata di pagi hari, hingga kalian pejamkan mata, bahkan dalam mimpi, selalu ada mereka yang kalian benci menjadi tema utama. Entah dalam sehari berapa kali kalian sebut nama mereka.

Yah.. Manusia tak ada yang sempurna. Tapi Allah menuntut proses ke arah kesempurnaan. Manusia tertuntut perfeksionis dalam menyiapkan amal kepada Tuhannya. Oleh karena itu, Allah hadirkan kalian, haters, agar mereka kaum yang beramal yang kalian benci itu bisa mendapat kabar kesalahan-kesalahannya untuk diperbaiki. Mereka suka tak sadar atas aibnya, dan tugas kalian untuk berteriak ke seluruh penjuru bumi mengabarkan aib mereka. Agar mereka sadar dan kembali pada-Nya.

Kalau Allah tak ingin menerima amal mereka, tak akan ada kalian, haters. Allah biarkan istidroj terjadi, mereka dimudahkan terus beramal buruk tanpa ada gangguan yang membuat mereka mengoreksi kesalahan. Kesuksesan demi kesuksesan dipanen tanpa ada aral merintang. Seperti kalian lah… Allah permudah kalian ber-tajassus mengoleksi kesalahan mereka yang kalian benci, Allah permudah kalian mendebat dan membully habis mereka, karena Allah tak kan menerima amal pengorek-ngorek aib orang lain seperti yang kalian lakukan.

“Sanastadrijuhum min haytsu laa ya’lamuun…” Al-Qolam:44

Haters gonna hate, kata orang-orang. Ya, itu lah kalian. Jadi, ada kabar apa hari ini tentang mereka yang kalian benci?

 
2 Comments

Posted by on March 6, 2014 in Orat Oret

 

Piagam Jakarta, Mars PKS, dan Islamophobia

“Kibarkan tinggi, panji Allah, bangun Indonesia penuh berkah…”

Itu adalah penggalan lirik Mars Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Yang mengaku kader PKS harusnya familiar dengan lirik dan nadanya. Selama ini lagu itu dinyanyikan pada acara-acara PKS baik berupa apel siaga, kampanye, dll.

Beberapa waktu lalu terjadi hal yang tidak biasa. Lagu Mars PKS itu dinyanyikan oleh paduan suara gereja Spiritus Santos, di Ruang (Auditorium) Kalimutu Grand Wisata Hotel, NTT, saat kunjungan presiden PKS Anis Mata ke provinsi yang penduduknya mayoritas beragama Katolik itu. Tumben, karena “kok mau ya orang Kristen menyanyikan lagu Mars Partai Islam?”

Berbagai tanggapan muncul. Ada yang bangga, dan ada juga yang mencela.

Ketegangan Umat Beragama

Kemerdekaan RI yang diperjuangkan oleh umat Islam rupanya tak bisa dinikmati seutuhnya oleh umat Islam. Contohnya rumusan pembukaan UUD 45 harus mengalami revisi berupa pencoretan tujuh kata: “dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Kabarnya pencoretan itu atas keberatan dari tokoh-tokoh non muslim dari Indonesia timur. Protes mereka disertai ancaman disintegrasi yang membuat Bung Hatta akhirnya mencoret tujuh kata itu.

Tragedi itu menyiratkan adanya ketegangan antara umat Islam dan umat agama lain di negeri ini. Padahal tujuh kata yang dicoret itu tidak mengikat golongan non muslim. Tapi mereka tetap merasa terusik. Keterusikan mereka, sedikit banyak bisa jadi lahir dari perasaan islamophobia.

Harusnya umat Islam sadar, bahwa PR mereka selanjutnya adalah mencairkan ketegangan dengan umat agama lain. Segala bentuk phobia baik besar maupun kecil harus dilenyapkan. Umat Islam harus bersikap inklusif pada mereka yang “tidak memerangi dan mengusir umat Islam di tanahnya sendiri.” Sikap inklusif dalam ranah muamalah, bukan aqidah. Tidak memberikan mereka wala’, tapi juga tidak baro’ pada hal-hal yang seharusnya tidak perlu disikapi dengan baro’.

Ketegangan dan Islamophobia ini telah menjadi ganjalan bagi umat Islam untuk berkuasa di tanahnya sendiri. Sebenarnya ada dua pilihan bagi umat Islam menyikapi ketegangan ini: berkuasa dengan penuh paksaan membiarkan kecurigaan dan ketakutan non muslim terpelihara, atau mencairkannya lalu berkuasa dengan penuh penerimaan oleh umat non muslim.

Yang jelas kalangan islamis Indonesia sampai saat ini masih belum bisa berkuasa di negerinya sendiri.

Partai Islam Pencair Ketegangan

Interaksi inklusif yang harus dibangun dengan non muslim tak perlu meninggalkan identitas ke-Islaman. Salah satu buktinya adalah saat non muslim nyaman berada dalam acara-acara Partai Islam. PKS, PPP, dan PBB sudah membuka diri untuk keberadaan caleg non muslim. Inilah suatu bentuk interaksi inklusif dan tanda bahwa non muslim sudah merasa nyaman berada dalam lingkungan islami.

Ada sebuah cerita yang penulis dengar pada tahun 1999 lalu. Saat beberapa anak muda sedang berkeliling menyosialisasikan Partai Keadilan, seorang warga menegur mereka, “Kalian ini bikin partai Islam, mana mau yang non muslim gabung sama kalian?”

Rupanya di antara anak muda yang menyosialisasikan PK itu ada seorang yang beragama Budha. Sontak saja dia menyahut, “Saya pak, Budha…” Ujarnya.

Jadi keraguan identitas Islam pada partai politik akan diterima oleh golongan agama lain sudah sangat banyak jawabannya. Ada Otis, caleg PKS beragama Katolik yang tinggal di Papua, seorang die hard PKS karena nyaman berada dalam lingkungan partai Islam. Juga ada Ko Aheng warga keturunan Tionghoa yang sering ikut acara-acara PKS. Karena secara fitrah, lingkungan Islam diterima oleh semua orang. Hanya saja perlu pengenalan agar mereka sadar bahwa lingkungan Islam sangat nyaman.

Lalu kisah tumben padua suara gereja menyanyikan Mars PKS juga menjadi sinyalemen bahwa Partai Islam berhasil mencairkan ketegangan dengan non muslim ketika Partai Islam itu mau berinteraksi inklusif tanpa melepas identitasnya.

Perdebatan tentang wala’ wal baro’ sebenarnya tak terlalu relevan. Memang di daerah mayoritas non muslim, akan ada caleg non muslim dari Partai Islam. Tapi di daerah pemilihan itu, caleg muslim yang ditawarkan oleh partai Islam masih lebih banyak daripada caleg non muslim. Caleg muslim ini lah yang harusnya dipilih oleh umat Islam sesuai wala’ mereka. Sedangkan caleg non muslim yang ditawarkan adalah mereka yang bisa menerima azas Islam dan akan menjalankan amanah sesuai dengan azas partainya. Bila mereka berkuasa, itu karena umat non muslim memilih wakil yang satu iman dan di saat yang sama bisa memerintah secara Islam.

Permasalahan Intern Umat Islam

Partai Islam di Indonesia diapit oleh dua kubu ekstrim: Kaum sekuleris, pluralis, dan liberalis (sepilis) yang menginginkan tercampurnya akidah antar agama; dan umat muslim yang ghuluw (berlebih-lebihan) yang terlalu memusuhi umat non muslim.

Kalangan sepilis ini sejatinya mereka mengaku beragama Islam, dan diikuti oleh umat muslim awam. Mereka menjadi ganjalan kaum islamis berkuasa karena mereka – sadar atau tidak – memerangi perjuangan kaum islamis. Mereka berpedoman “Islam Yes, Partai Islam No”. Tetapi entah di mana jargon “Islam Yes”-nya, karena pada tataran praktis mereka mendukung lokalisasi pelacuran, anti pelarangan pornografi pornoaksi, menyosialisasikan waria, mendukung legalisasi judi, dst. Mereka bersebarangan dengan ide-ide kaum Islamis. Mereka sebenarnya terjangkit islamophobia dan ikut menyebarkan phobia itu.

Sementara di kutub lain, sebagian umat Islam ada yang bersikap ghuluw, isti’jal (tergesa-gesa) ingin merebut kekuasaan, terlampau bersikap keras, dan kurang realistis. Doktrin mereka adalah demokrasi haram, bahkan kufur. Dengan doktrin itu, jelas mereka memusuhi partai Islam, dan semakin bersemangat mencela ketika partai Islam menerima caleg non muslim. Sebagian mereka belum mampu “move on” dari kekalahan Piagam Jakarta. Sikap keras mereka ini membuat umat non muslim (dan juga sebagian umat islam yang awam) semakin menjadi penyakit islamophobianya.

Umat Islam harus siap melepas ganjalan-ganjalan ini dan bertarung dengan elegan. Sinyal penerimaan Islam oleh kalangan non muslim sudah semakin kuat manakala paduan suara gereja tidak canggung berseru “Kibarkan tinggi panji Allah.” Apakah sinyal ini akan kita perlemah dengan sikap keras, atau kita perkuat dengan sikap cair – tanpa meninggalkan prinsip – dan terus memperkenalkan keindahan Islam pada mereka.

Allahua’lam bish-showab.

 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2014 in Artikel Umum