RSS

Monthly Archives: December 2015

Karena Begitulah Cinta Kepada Rasulullah saw

Wajar saja tiap orang lebih mencintai dirinya dibanding yang lain. Tiap orang cenderung memprioritaskan kepentingannya di atas hal lain, suka memanjakan diri, dan berbuat yang dianggap terbaik untuk diri sendiri.

Begitu juga Umar bin Khattab r.a. Saat mengungkapkan perasaan cintanya kepada Nabi yang Agung, Muhammad saw., ia tetap menyatakan bahwa cinta kepada diri sendiri masih di atas perasaan cintanya kepada panutan umat manusia itu. Hanya saja, prioritas cinta ini kemudian dikoreksi oleh Rasulullah saw.

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” ungkap Umar bin Khattab r.a. di suatu kesempatan. Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari VI/2445 no.6257).

Hal ini harus berlaku bagi setiap umat Islam. Tiap muslim harus mencintai Rasulullah saw daripada dirinya sendiri.

Bagaimana implementasinya? Yang paling penting, ia harus menyingkirkan karakter pribadi yang bertentangan dengan akhlak Rasulullah saw. Ia harus mendalami bagaimana sunnah Rasulullah saw, bagaimana akhlak Rasulullah saw, lalu ia adopsi dalam perilaku sehari-hari.

Menyelaraskan dengan Selera Rasulullah saw

Saya ingat betul di suatu jum’at, seorang khotib mencela perilaku sekelompok orang yang berpakaian gamis, bersorban, dan ciri khas lain. Khotib bercerita, ia bertanya kepada sekelompok orang itu alasan apa mereka berpenampilan sedemikian rupa. Jawabannya, karena kelompok orang itu ingin mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Lalu khotib berkata, kenapa mereka kemana-mana tidak mengendarai unta saja? Begitu bangganya khotib itu menjatuhkan sekelompok orang yang mengaku ingin mengamalkan sunnah.

Tetapi sang khotib tidak berkomentar apa-apa dengan fenomena anak muda berpakaian nyeleneh, mengaku mengikuti gaya kelompok musik idolanya. Yang mengikuti sunnah Rasulullah dicela, yang berpakaian musikus didiamkan. Padahal mereka sama-sama berpenampilan sesuai dengan model yang mereka gandrungi. Bedanya, yang satu menggandrungi Rasulullah saw, yang satu menggandrungi musikus.

Di tempat lain, sekolompok anak muda suka berkumpul sambil mengenakan kostum seperti yang ada di film kartun favoritnya. Cosplay, katanya. Kalau mereka dianggap wajar-wajar saja, kenapa tidak menganggap wajar saja kepada orang-orang yang berpenampilan mengikuti hadits yang menggambarkan bagaimana Rasulullah berpakaian?

Memang begitulah ekspresi cinta, mengikuti selera orang yang dicintai. Menjadikan orang yang dicintai sebagai model dalam berbagai hal, tak hanya tindak tanduk, tapi juga pakaian dan selera.

Indikasi cinta pun tampak pada selera. Anak remaja pecinta anime Jepang punya selera ke-Jepang-Jepang-an. Begitu juga pecinta Drama Korea, jadi gandrung belajar bahasa Korea. Pecinta girl band suka memainkan ligh stick, bersaing dengan pecinta Star Wars. Pecinta klub sepakbola suka memakai jersey hingga jaket klub kesayangannya. Banyak lagi. Toh orang menganggapnya wajar saja. Jadi biarkan sajalah para pecinta Rasulullah saw itu mengikuti idolanya.

Menikmati “Repotnya” Mengikuti Perilaku Rasulullah saw

Saat kecil, saya tinggal di desa yang agama penduduknya cukup heterogen. Teman saya tak hanya Muslim, ada juga yang Kristen, Hindu dan Budha. Lengkap.

Di suatu kesempatan, teman yang Budha membanding-bandingkan tiap agama. (Namanya juga anak kecil). Menurutnya, agama yang terbaik itu yang paling simpel sembahyangnya. Jadilah Budha paling baik menurutnya. Dan yang paling jelek itu Islam, karena sangat repot harus sembahyang 5 kali sehari.

Ah… Teman saya itu tentu belum tahu, bahwa “kerepotan” umat muslim tak hanya dalam pelaksanaan sholat wajib. Umat Islam juga harus mengikuti sunnah atau kebiasaan Rasulullah saw. Ada ibadah-ibadah sunnah seperti sholat sunnah, puasa, umroh, dll. Ada juga kebiasaan praktis sehari-hari. Masuk toilet harus dengan kaki kiri dan sebelumnya ada doa tertentu yang dibaca. Makan harus dengan tangan kanan. Sampai bersetubuh pun ada doanya.

Repot? Tapi kalau dikerjakan dengan cinta, terasa ringan. Memang begitulah konsekuensi cinta kepada Rasulullah saw, harus menyesuaikan diri dengan segala bentuk kebiasaannya dan juga tingkah lakunya.

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

Royal Kepada yang Dicintai

Tanda cinta itu royal. Seperti royalnya seorang Wota yang harus keluar uang hanya demi bersalaman dengan personel JKT 48. Seperti royalnya fans klub bola membeli jersey dan jaket berlogo klub favoritnya. Seperti royalnya pecinta otomotif mengutak-atik mesin motor/mobilnya.

Mencintai Rasulullah saw harus royal. Royal dalam hal bersholawat kepada Rasulullah saw. Saat masuk/keluar masjid seorang muslim bersholawat. Ketika tasyahud dalam sholat, bersholawat. Selesai mendengar adzan, bersholawat. Memulai doa, bersholawat. Berdzikir pagi dan petang, menyertakan sholawat. Termasuk ketika mendengar nama Rasulullah saw disebut.

Cinta itu tidak pelit. Rasulullah saw menggambarkan orang pelit seperti berikut: “Orang kikir adalah orang yang tidak bershalawat saat namaku disebutkan” (HR. At Tirmidzi no.3546)

Dan masih luas lagi ekspresi sebuah cinta, terutama kepada Rasulullah saw. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad….

Advertisements
 

Menebar Istighfar

Bagaimana kalau urutan prioritas dalam operasi aritmatika tidak berlaku ( seperti lambang x didahulukan dari lambang + ), tetapi operasi perhitungan dilakukan dari kiri ke kanan sebagaimana pengoperasian kalkulator.

Misalnya, 5 + 3 x 2 = 16. Bukan 11.

Lalu berapa hasil dari perhitungan berikut?

3 + 7 + 3 x 0 + 7 + 5 x 0 + 8 + 11 x 0 + 3 + 4 x 0 = … ?

Ya, jawabannya 0. Beberapa angka dijumlahkan, lalu dikali 0 hingga hasilnya 0. Berikutnya bilangan bulat positif dijumlahkan kembali, tapi lagi-lagi dikali angka 0. Begitu hingga akhir perhitungan.

Ini seumpama kehidupan kita di dunia. Bilangan bulat positif itu adalah dosa yang diakumulasikan di tiap langkah. Lalu bertemu bilangan pengali angka 0 yang “mereset” ulang rekapitulasi dosa kita. Angka 0 itu diibaratkan seperti istighfar.

Aisyah r.ha berkata, ”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).

Coba visualisasikan kondisi kita di akhirat kelak saat membuka lembaran demi lembaran catatan amal kehidupan dunia. Panik dan tegang ketika perbuatan-perbuatan dosa ditayang ulang. Hingga bertemu sebuah kalimat istighfar yang menghampakan perbuatan dosa yang telah diperbuat. Alangkah bahagianya bila istighfar itu bertebaran di lembaran amal, karena perbuatan-perbuatan salah kita menjadi mentah kembali.

Karena itu mari menebar istighfar di timeline kehidupan kita.

 

Kreatif di Kala Futur


Kreatifitas dibutuhkan untuk mendobrak kejemuan. Termasuk untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, karena keimanan itu fluktuatif, naik dan turun. Hati manusia yang berada di “dua jari Allah swt”, kadang mengalami rasa giat, dan kadang mengalami kejenuhan.Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib berpesan: “Hiburlah hatimu sedikit demi sedikit, sesungguhnya hati itu apabila tidak suka, menjadi buta. Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana fisik juga bisa bosan, maka carilah untuknya keindahan hikmah (kebijaksanaan).”

Tapi tulisan ini bukan bermaksud mengajak kita kreatif untuk mengada-adakan ibadah yang baru yang tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Bukan itu. Tapi kreatif untuk mengakali mood yang turun, agar dalam futur kita tidak terlalu jauh dari Allah swt.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang futur tetap dalam keadaan diatas sunnah, maka ia akan mendapat hidayah. Dan barang siapa yang futur tidak diatas sunnah, maka ia akan celaka”.(Hadits riwayat Imam Abu Dawud). Secara Etimologi arti futur adalah diam setelah giat dan lemah setelah semangat.

Sudah cukup banyak artikel yang membahas tentang futur. Dan yang bisa saya tuangkan hanyalah beberapa tetes ide yang mengalir di kepala saya, dan beberapa berasal dari pengalaman saya.

Bahan bacaan di kala futur

Saat hati melemah, ada baiknya selektif memilih bahan bacan. Bahan bacaan yang bisa membangkitkan gelora untuk berjuang di jalan Allah, berbuat sesuatu untuk menolong keadaan umat Islam yang sedang terpuruk, memang baik. Tapi apakah bahan bacaan itu cocok untuk hati kita yang sedang lemah?

Tiap orang berbeda, tetapi disaat rasa bosan menyerang, saya lebih memilih bahan bacaan yang akan membangkitkan semangat beribadah kepada Allah swt. Bacaan-bacaan seperti fadhilah/keutamaan sholat tahajud, membaca Al-Qur’an, shoum sunnah, sholat sunnah, juga bacaan tentang keadaan saat sakaratul maut, keadaan dalam qubur, dan di akhirat; adalah bacaan yang saya pilih saat hati melemah. Saya menghindari bacaan yang akan banyak membuat saya memeras otak dan berfikir lebih rumit. Bacaan-bacaan seperti itu bisa optimal saya lahap kalau semangat saya sedang naik.

Sekali lagi, tiap orang bisa berbeda keadaannya. Butuh eksplorasi atas diri kita sendiri.

Mencari jalan untuk membangkitkan harapan kepada Allah.

Saya pernah tinggal di sebuah daerah, di mana bila saya hendak pergi kemasjid yang dekat dengan rumah, ada sebuah jalan yang melewati kuburan. Tapi jalan utama menuju ke masjid itu tidak melewati kuburan. Dan saya lebih sering menghindari kuburan untuk mencapai masjid.

Jalan yang melewati kuburan itu kadang saya lalui kalau saya terkena futur. Tidak, saya tidak hendak meminta-minta pada kuburan agar hati saya semangat lagi. Tapi saya cuma memanfaatkan rasa penakut saya, agar ketika melewati kuburan, timbul harapan kepada Allah swt agar dihindarkan dari kejadian yang seram-seram. Ketika melintas di dekat kuburan itu hati saya akan banyak berdzikir kepada Allah swt dan mengakui kesalahan-kesalahan saya.

Yah, itu memang cara yang agak aneh. Padahal seharusnya saat melintasi kuburan, saya mengingat kematian, mengingat adzab kubur dan susahnya kehidupan di sana, dari pada memanfaatkan rasa takut saya. Karena dengan mengingat adzab kubur itu seharusnya bisa membangkitkan harapan kepada Allah swt.

Ada banyak cara lain untuk membangkitkan harapan kepada Allah swt. Mudahnya, benturkan saja diri kita dengan apa yang kita khawatirkan.

Terkadang ada saat-saat kita terlingkupi dalam comfort zone. Semua nyaman. Finansial, jauh dari masalah. Karir, jelas terlihat jalannya. Kesehatan prima. Keadaan seperti ini bisa memancing rasa tidak memerlukan Allah swt dalam diri kita. Bahaya!!! Dan lebih berhaya lagi apabila hati melemah saat terlena dengan keadaan nyaman.

Oleh karena itu bisa diterima kalau ada yang bilang musibah itu adalah nikmat. Karena melalui musibah, ada kenikmatan yang Allah berikan – kalau kita mau meraih kenikmatan itu. Yaitu kenikmatan rasa memerlukan Allah swt.

Ada taujih yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Taujih yang saya terima saat i’tikaf di masjid Al-Madani di Padang pada akhir 1999 dan awal tahun 2000. Dalam taujih itu, para pendengar diminta untuk mencari tantangan. “Cobalah jalan ke hutan sendirian, dan bekali diri kita hanya dengan sebuah pisau. Di situ kita akan merasa sangat memerlukan Allah swt. Selama ini mudah sekali kita mendapat makanan. Kalau tidak ada makanan di rumah, di luar banyak yang menjual. Tapi kalau di hutan, kita akan merasa kesulitan sehingga tumbuh rasa harap kepada Allah swt.

Atau coba jalan-jalan ke Muara (daerah pantai di Padang), kayuh sebuah perahu ke tengah laut. Di tengah laut itu, dirikan sholat sunnah 2 rakaat. Saat itu resapi, bagaimana kita sangat bergantung kepada Allah swt. Bisa saja ada ombak besar menghantam perahu kita sehingga kita jatuh ke laut. Di situ kita dilingkupi kecemasan sehingga kita berharap kepada Allah swt.”

Redaksi taujihnya tidak mungkin sama, tapi intinya seperti itulah. Taujih itu yang memotivasi saya untuk kreatif ketika dilanda futur.

8 Oktober 2010

 

Lantas Bagaimana Setelah Parade Tauhid?

Parade Tauhid yang digelar di seputar Senayan, Jakarta, Ahad (16 Agustus 2015) rupanya sukses berjalan. Seperti biasa, tak bisa mengharapkan media sekuler untuk mempublikasikan acara ini dengan jujur. Sebagaimana acara-acara umat Islam lain yang sukses dan mampu menggetarkan, media sekuler tak akan mengabarkannya. Sungguh pun begitu, toh kesatuan umat Islam tak tergantung dari headline mereka.

Lantas setelah ini apa? Pekerjaan Rumah umat Islam Indonesia masih menumpuk. Tentu berkumpulnya ratusan ribu umat Islam di Jakarta yang datang dari berbagai daerah belum bisa menjawab semua PR itu. Kalau dibilang ini adalah awal bangkitnya kekuatan umat Islam, rasanya acara yang mengumpulkan umat muslim Indonesia dalam jumlah yang banyak di suatu tempat sudah beberapa kali terselenggara sebelumnya. Lantas bagaimana selanjutnya?

Yang jelas acara tadi menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih terkonsolidasi dengan baik. Tokoh-tokoh umat Islam yang hadir maupun yang tak hadir – namun sempat menyatakan dukungannya melalui video, telah menandakan masih kuatnya soliditas di tubuh umat. Ini adalah modal yang berharga.

Umat muslim di Indonesia saat ini sedang terpuruk dalam aspek kultural maupun struktural. Islam tidak lagi populer sebagai jalan hidup yang men-shibghoh seorang muslim dari fikiran maupun seleranya. Dan umat Islam sendiri rela dipimpin oleh orang yang tak menuntunnya kepada jalan Allah yang menyelamatkan. Persis seperti gambaran hadits Rasulullah berikut:

“Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhulan, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR Imam Ahmad)

Syariat Islam terhalang untuk tegak di bumi Nusantara ini. Sementara umat muslim juga banyak yang tak disiplin dalam menegakan sholatnya.

Maka, setelah ini perlu ada langkah terukur terkoordinasi mem-follow-up parade ini untuk mengembalikan kejayaan Islam dari aspek kultural maupun struktural.

Follow Up Kultural

Kalau Rasulullah mengatakan bahwa simpul Islam yang paling akhir terurai adalah sholat, maka itu adalah petunjuk dari mana memulai kembali kebangkitan Islam.

Sholat adalah aktivitas individu umat muslim yang menandakan sejauh apa kekuatan interaksinya dengan Allah swt. Ajakan menegakkan syariat kepada orang yang sholatnya masih tertatih tak kan efektif.

Kekuatan kultural dimulai dari gerakan disiplin sholat lima waktu. Setelah disiplin, seorang muslim bisa diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dengan sholat berjamaah di masjid. Ramainya masjid di tiap waktu sholat menandakan telah baiknya kesadaran umat Islam terhadap agamanya. Rasanya sudah umum diketahui fadhillah sholat berjamaah dalam menyatukan umat.

Dalam Al-Qur’an, kata sholat sering disandingkan dengan zakat. Memang Rasulullah saw tidak mengabarkan apa simpul diin Islam yang terburai sebelum simpul sholat. Tetapi melihat dekatnya kata sholat dan zakat, bisa disimpulkan zakat lah simpul kedua terakhir sebelum sholat. Dan ini juga bentuk gerakan kultural.

Gerakan kultural zakat dan sedekah yang sukses memberdayakan ekonomi umat Islam akan berkontribusi memberantas kekufuran. Sebuah hadits (namun berderajat lemah, didhoifkan oleh Al-Albani) memberi sinyal tentang hal ini. “Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran” (HR Baihaqi)

Gerakan-gerakan kultural ini yang harus dirumuskan pemuka-pemuka organisasi massa umat Islam yang hadir pada parade kemarin. Bagaimana memotivasi umat Islam untuk memperbaiki kualitas ibadahnya. Kerumunan orang-orang yang mengikuti parade kemarin harusnya berlanjut dalam masjid hingga memenuhinya setiap lima kali sehari.

Usul konkrit, bisakah diadakan mabit besar-besaran di istiqlal yang dipanitiai oleh ormas-ormas Islam yang berkumpul di parade kemarin?

Follow Up Struktural

Kejayaan struktural ini yang sangat sulit diwujudkan, karena untuk sholat saja umat muslim masih kurang disiplin. Namun dalam alam demokrasi, sejatinya umat Islam punya kekuatan dalam angka. Pendekatan yang tepat akan mampu menjadikan angka ini modal untuk mengembalikan ketinggian Islam.

Mayoritas umat Islam Indonesia tidak menolak mentah-mentah kehadiran kalangan Islamis di kancah perpolitikan. Mereka cuma belum mendapatkan sosok yang tepat untuk dipilih. Sekalipun kita bersikeras bahwa banyak dari kalangan Islamis yang layak menjadi pemimpin, masalahnya mereka belum teryakini.

Ada yang menilai bahwa masyarakat kini tidak lagi menjadikan ideology dalam mendasari pilihan politiknya. Masyarakat dikatakan lebih rasional dalam menentukan pilihan, mempertimbangkan prestasi serta gagasan calon.

Tidak sepenuhnya benar, karena money politics masih marak. Selain itu kenyataannya masyarakat masih mudah ditipu pencitraan media maupun tampilan seorang politisi yang terlihat lugu namun sesungguhnya janjinya palsu.

Tapi penilaian itu bisa menjadi jalan masuk pembuktian kalangan Islamis bahwa mereka juga bisa berprestasi dan bisa memimpin negeri. Sudah ada beberapa nama pemimpin daerah dari partai Islam yang bergelimang penghargaan. Hanya saja media sekuler ogah mengangkat nama mereka. Agitasi terhadap mereka pun luar biasa. Penghargaan-penghargaan itu dituduh semu karena dikatakan masyarakat belum merasakan manfaatnya. Padahal sebuah penghargaan tentu punya ukuran yang masyarakat menjadi objeknya.

Jadi, boleh saja masyarakat tidak menjadikan ideology sebagai dasar mengambil pilihan, melainkan data dan citra seorang politisi. Tetapi media masih punya ideology. Mereka yang menipu masyarakat dengan cerita-cerita semu pencitraan.

Inilah PR barisan inti umat Islam yang masih punya hasrat ingin melihat Islam berjaya. Yaitu pertama menghadirkan sosok-sosok yang benar-benar punya kapasitas, kapabilitas, dan integritas untuk memimpin. Dan kedua bagaimana bahu membahu memarketing sosok-sosok itu.

Follow Up Menjaga Ukhuwah dan Soliditas

‘Alaa kulli haal, pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding dalam parade tauhid kemarin harus bisa diteruskan dengan soliditas yang terus terjaga. Semoga parade tadi hanya sebuah bola salju kecil yang siap menggelinding ke bawah. Semoga kesadaran persatuan itu disambut lagi oleh komponen umat Islam yang belum sempat bergabung di parade kemarin.

Soliditas tetap dijaga, dan langkah-langkah konkrit dirumuskan. Semoga mejadi jalan li ilaai kalimatillah. Amiin

 

Alhamdulillah dimuat di kabarumat

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2015 in Artikel Umum