RSS

Menakar Batas Kesantunan dan Ketegasan

Tanggapan dari Ustadz Farid Nu’man saya terima langsung dari beliau melalui aplikasi whatsapp. Beliau saya anggap guru, meski saya lebih sering mengambil manfaat dari ilmunya melalui tulisan-tulisannya daripada bertemu dalam satu majelis. Ustadz Farid Nu’man meluruskan tulisan saya sebelumnya yang meminta agar kader PKS tak membiarkan akhlak santun pudar oleh pertengkaran di media sosial. Menurut Ustadz Farid, ketegasan juga harus dipelihara, tak hanya kesantunan. Dan ada momen-momen di mana kita dituntut bersikap santun atau tegas.

Mungkin, andai ustadz Farid tidak menulis tanggapan yang menyebar luas melalui aplikasi whatsapp itu, akan ada yang menyangka bahwa Islam mengajarkan umatnya terus menerus bersikap santun dengan melupakan ketegasan. Saya bersyukur ustadz Farid menutup celah kelemahan tulisan saya.

Namun begitu, saya rasa kader PKS tidak perlu diajarkan ketegasan di media sosial. Justru karena kelewat tegas lah saya membuat tulisan itu. Kata pepatah, kalau kelewat longgar kencangkanlah, kalau kelewat kencang longgarkanlah.

Perlu saya klarifikasi lagi, saya tidak menggeneralisasi bahwa semua kader PKS telah kehilangan kesantunan. Tidak. Masih banyak yang aktivitasnya di dunia maya memikat orang banyak. Saya sebut contoh pada dua nama: ustadz Cahyadi Takariawan dan ustadz Salim A Fillah.

Dan saya juga tidak akan membawa contoh perilaku yang buruk dalam tulisan ini. Kalau diminta data persentase kader yang bertingkah tak elok di media sosial, susah juga buat saya yang tidak memiliki tools untuk mendapatkan data yang diminta.

Saya lama menggunakan media sosial, dan belakangan menemukan fenomena yang saya khawatirkan itu. Yang saya amati adalah akun-akun personal yang jelas identitasnya, bukan anonim. Maka saya bikin tulisan yang sebelumnya dengan sasaran kepada seluruh kader baik yang masih terjaga akhlaknya ataupun tidak. Kalau tidak merasa, abaikan. Kalau merasa, mohon jadikan pertimbangan.

Dan melanjutkan tulisan ustadz Farid, saya ingin mengemukakan gagasan tentang kesantunan dan ketegasan. Dalam Al-Qur’an terdapat enam jenis perkataan, yaitu qoulan karima (perkataan yang memuliakan), qoulan baligho (perkataan lugas membekas), qoulan maysuro (ucapan yang memudahkan), qoulan layina (ucapan yang lembut), qoulan ma’rufa (ucapan yang santun), dan qoulan sadida (ucapan yang benar). Seorang muslim harus pandai memainkan orkestrasi jenis ucapan tersebut pada waktu dan tempat yang tepat.

Di manakah batas antara ketegasan dan kesantunan itu?

Bahkan Rasulullah saw pun terkadang marah. Wajar, karena Rasulullah manusia juga seperti kita. “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR Muslim)

Lalu bilakah Rasulullah marah? Jawabannya seperti hadits berikut:

Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah” (HR Bukhari Muslim)

Menurut hadits di atas, garis batas itu ada pada syariat Allah.

Saudaraku kader PKS, partai itu hanyalah sarana dakwah, sarana memperjuangkan tegaknya Islam, tetapi selamanya tidak akan pernah menjadi agama. PKS bukanlah diinul Islam itu sendiri. Jangan ada anggapan bahwa kebijakan PKS adalah mutlak syariat Islam. Meski ada Dewan Syariah di tubuh PKS, tetapi keputusan politik PKS kebanyakan bersifat ijtihadi yang sangat mungkin mendapat ketidak setujuan dari orang lain.

Maka orang yang mengkritik PKS bukanlah sedang mengkritik ajaran Islam. Dan kita tidak perlu memberi perlawanan sebagaimana kepada orang yang menghina Nabi Muhammad saw.

Mungkin ada yang menggugat, “di mana izzah kita bila kita diam dihina?” Lihat kondisi, apakah pembelaan yang dilakukan memang membuat tegaknya izzah atau malah membikin olok-olokan itu berkelanjutan?

Bicara masalah harga diri, Rasulullah saw bukanlah orang yang rendah harga dirinya saat memaafkan penduduk Thoif yang telah melemparinya dengan batu. Rasulullah saw juga masih bisa bersikap santun kepada Yahudi yang datang menagih hutang dengan cara yang kasar hingga Rasulullah saw terjembab karena selendangnya ditarik orang Yahudi itu (diriwayatkan Al Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw juga ada di samping sahabatnya yang sangat ia sayangi, Abu Bakar r.a., saat sahabatnya itu dicaci maki oleh seorang Arab Badui. Beliau saw hanya diam. Justru ketika Abu Bakar r.a. balik memaki Arab Badui tadi, tampaklah ketidak setujuan Rasulullah dan ia beranjak meninggalkan sahabatnya. Saat ditanya mengapa, Rasulullah saw menjawab bahwa tadinya ada malaikat mendoakan Abu Bakar saat Arab Badui itu mencaci. Namun ketika Abu Bakar membalas cacian, malaikat pergi dan setan datang.

Akhlak yang paling menonjol yang ditampilkan Rasulullah saw adalah pemaaf. Dengan akhlak itu mereka yang tadinya memusuhi berbalik menjadi mencintai. Berbondong-bondong warga Makkah masuk Islam saat Fathu Makkah karena akhlak itu.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Kalau memang cacian dan fitnahnya sudah kelewat batas dan melanggar undang-undang, baiknya dilaporkan saja ke aparat hukum. Tak perlu membalas dengan cacian yang tak mengubah keadaan.

Dan perlu disadari, terjun ke dunia politik berarti harus siap dengan segala bentuk permusuhan yang dilancarkan oleh para pesaing politik. Di sisi lain, masyarakat juga mengawasi dan mengomentari setiap langkah yang kita ambil. Sudah siapkah dengan itu semua?

Lantas bagaimana sikap kepada mereka yang menolak seruan yang sudah jelas halal dan haramnya?

Mungkin di situlah kita hampir berada di garis batas kesantunan. Tetapi sudah tepatkah untuk menyeberang ke area ketegasan? Coba amati dulu objeknya.

Baru-baru ini saya mendapat pertanyaan dari seorang kawan, apa yang harus dibaca saat sholat berjamaah ketika imam telah selesai membaca Al-Fatihah? Pertanyaan yang membuat saya tertegun. Karena sebelum itu ia menolak penjelasan saya tentang ayat wala’ wal baro’ yang menjelang pilkada Jakarta ini menjadi populer.

Pertanyaan darinya membuat saya tersadar bahwa wajar ia kesulitan mencerna konsep wala’ wal baro’ karena untuk masalah sholat berjamaah saja ia belum jelas betul. Untuk orang sepertinya, punya kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang berislam saja sudah bagus. Maka jangan terburu mencela orang seperti ini, karena bisa-bisa ia tak mau lagi mendalami Islam. Atau ia lari dari kita untuk memilih mengambil ilmu dari orang sepilis. Kondisinya jadi lebih buruk.

Lagipula ada wanti-wanti dari Hasan Hudaibi bagi kader dakwah. Katanya, “nahnu du’at wa lasna qudhat.” Kita adalah da’i, bukan hakim. Maka cari-carilah uzur untuk mereka. Jangan terburu menjatuhkan vonis, apalagi mengkafirkan. Mungkin penyampaian kita belum meyakinkan dia. Mungkin perlu penjelasan beberapa kali lagi.

Ketegasan barulah diperlukan saat menghadapi aktivis sepilis yang mempermainkan ajaran Islam. Itupun dengan kata-kata yang tetap terjaga dan tak melanggar undang-undang ITE. Jangan sampai mereka di atas angin akibat kita jadi berurusan dengan aparat hukum.

Dalam nahi mungkar pun ada rambunya. Ulama merumuskan, jangan sampai timbul kemungkaran baru yang lebih besar akibat cara-cara kita merespon kemungkaran yang ada. Maka ketegasan itu harus terukur.

Hadits “barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran…” memberi tiga opsi: dengan tangan, lisan, atau hati. Tangan kita bisa mencegah kemungkaran bila memang kita punya kuasa untuk itu. Ketegasan perang Khandaq tak akan ada bila Rasulullah saw tak punya kekuatan untuk mengeksekusi para pengkhianat. Dinaungi hukum yang berlaku di Indonesia, kita bisa delegasikan ketegasan melawan orang-orang yang menghina agama kepada yang berwajib.

Penutup, kalau memang sikap keras itu dibutuhkan, maka perhatikanlah kepada siapa kita bersikap keras. Jangan sampai kepada muslim awam yang masih butuh usaha kita lebih keras untuk membuatnya paham. Perhatikan bagaimana kekerasan itu kita lancarkan. Jangan sampai blunder menghasilkan kemungkaran atau kemudhorotan yang lebih besar.

Yang namanya dakwah adalah menyeru dengan kesantunan. Kekerasan itu ranah hukum yang punya aparat sendiri. Maka tanyakan lagi kepada diri sendiri, siapa kita?

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2017 in Artikel Umum

 

Menyikapi Kemenangan

Merunduk badan dan kepala yang mulia yang dihiasi surban hijau tua nan anggun itu, hingga ujung janggutnya hampir mengenai pelana. Di atas unta, ia saw. senandungkan berulang-ulang surat Al-Fath. “Inna fatahna laka fathan mubina…” Dibacanya dengan merdu dan penuh penghayatan. Disusurinya daratan tinggi Kida dengan diiringi suku Aslam, Ghiffar, Mazinah, Jahinah dan lainnya. Mereka menyongsong kemenangan, memasuki kota tercinta yang selama ini dirindukan: Makkah Al-Mukaromah.

Sepuluh ribu pasukan yang bersamanya tersenyum sumringah dengan dada bergemuruh. Kemenangan itu nyata di depan mata mereka. Sungguh pun begitu, ia saw. tak berlaku sebagaimana panglima perang angkuh yang baru saja mengalahkan musuh, dengan dada membusung, dahu terangkat, dan tawa keras penuh puas.

Di pangkal kemenangan, Rasulullah saw hiasi dengan ketawadhuan. Ia sadari kejayaan di hari Fathu Makkah itu berasal dari Allah. Bahwa Ia Azza wa Jalla yang telah memenangkannya, sebagaimana redaksi ayat yang dibaca. “Andai orang-orang tak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang,” begitu sabdanya.

Tentu kemenangan itu adalah salah satu episode dalam perjuangannya menyiarkan Islam. Di episode lain, kadang ia dapati tekanan yang hebat, kadang ia merebut kemenangan lain. Pahit dan manis silih berganti. Sementara kemenangan sejati adalah ketika dihimpun dalam keridhoan Allah swt di akhirat. Di sana tak ada lagi peristiwa kekalahan.

Dan dalam satu episode itu, ia saw telah mencontohkan bagaimana menyikapi kemenangan yang gemilang. Selain ketundukan di hadapan-Nya, kemenangan itu ia jadikan ajang rekonsiliasi dua pihak yang bertarung. Ia entaskan api permusuhan yang selama ini menyala antara dua pihak dengan cara memaafkan musuh-musuhnya.

Sa’ad bin Ubadah, ketika bertemu “walikota” Makkah Abu Sufyan di mulut lembah, ia berkata: “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Kakbah.” Perkataan ini dikoreksi oleh Rasulullah saw. “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Kakbah,” sabdanya.

Jadi bukan pelampiasan kekesalan yang selama ini memenuhi hati karena permusuhan. Tak ada ajang pembantaian dalam bentuk fisik atau pun verbal kepada musuh-musuhnya. Justru ia membuka pintu maaf, melakukan rekonsiliasi, mendamaikan, menjadikan dua pihak rukun kembali untuk bersama-sama membangun masa depan yang cerah untuk Mekkah.

Andai di kala itu sudah ada media sosial, tentu Rasulullah saw tak kan memenuhi beranda media sosialnya dengan status-status bullying provokatif kepada pihak yang dikalahkan. Atau mengupload meme-meme mengejek dan menyindir pihak yang berhasil disingkirkan.

Dalam ayat lain, Allah swt mengajarkan umat Islam untuk menyambut kemenangan dalam tiga bentuk dzikir: tasbih, tahmid, dan istighfar. Sila rujuk kepada surat An-Nashr. Rasanya keterlaluan bila ada muslim yang tak hafal surat itu.

Bacaan tasbih, tahmid, dan istighfar itu bukanlah mantra penyambut kemenangan yang dirapalkan tanpa mengerti arti. Tapi bila kalimat-kalimat itu diresapi, akan mengkondisikan hati kita yang diliputi euforia, menjaga hati pada keadaan yang terkendali.

Tasbih yang dihayati harusnya menyingkirkan rasa takjub kepada diri sendiri atas kemenangan yang didapat. Semestinya ketakjuban itu hanya kepada Allah swt yang Maha Suci nan Agung. Ia Yang Maha Sempurna yang mengatur peristiwa demi peristiwa sehingga kita meraih kemenangan.

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS Al-Anfal: 17

Maka, Maha Suci Allah, sedang diri kita lemah dan diliputi dosa.

Tahmid terlantun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt. Ia yang memberikan kelegaan luar biasa setelah letih penat perjuangan. Ia yang menghadirkan happy ending dalam sebuah episode pertarungan. Karena itu, panjatkan syukur dengan sepenuh hati kepada-Nya.

Dan istighfar diucapkan untuk memohon ampun atas segala bentuk ketidaksempurnaan amal kita. Agar Allah memaafkan khilaf atau hal yang melampaui batas ketika berjuang. Sehingga Allah swt mengganjar kita dengan pahala yang utuh. Dan dalam istighfar itu kita terjaga dalam kerendah hatian di hadapan-Nya.

Bila belum seperti itu kita menyikapi kemenangan, segeralah bertaubat. Khawatir tak berkah kemenangan itu. Atau kita termasuk orang yang jumawa, kufur, dan menjadikan kondisi di atas angin sebagai jalan untuk perpecahan yang lebih besar.

Zico Alviandri

 

Lestarikanlah Kesantunan yang Terancam Langka! (Autokritik Untuk Kader PKS)

Masih terkenang hingga sekarang, sebuah cerita heroik yang saya dengar pada masa kampanye pemilu 1999 silam. Ketika Partai Keadilan baru berdiri. Dan para aktivis dakwah yang bertahun-tahun bergulat di dunia pemikiran di kampus harus mulai belajar berkecimpung di dunia politik.

Dua orang itu dipertemukan oleh Allah swt di sebuah angkot. Seorang pemudi mengenakan jilbab rapi dan syar’i, duduk di seberang seorang pemuda yang tampil dengan aksesoris yang mencirikan simpatisan sebuah partai sekuler yang sedang populer. Pemuda itu memandang dengan tatapan tak bersahabat ke arah pemudi yang di depannya. Tiba-tiba saja ia berkata, “Kalau kami menang, kalian lah yang pertama kali kami habisi.”

Kalimat itu mengagetkan si pemudi. Namun dengan tenang ia membalas, “Kalau kami menang, kalian lah yang pertama kali kami santuni.” Ya, pemuda itu mengenali bahwa si pemudi adalah kader Partai Keadilan.

Kebenaran cerita di atas tidak bisa dipastikan, karena beredar dari mulut ke mulut hingga sampai di kota saya tinggal saat itu, di Bandar Lampung. Kisah tersebut kabarnya terjadi di Jakarta. Pada suatu kesempatan saya tanyakan kepada kenalan saya yang tinggal di Jakarta. Ia mengaku pernah mendengar juga cerita di atas.

Meski tak dapat dikonfirmasi, namun kisah itu telah menjadi motivasi bagi kader-kader Partai Keadilan untuk berlaku santun kepada siapa saja.

Di awal berdirinya Partai Keadilan, kesantunan kader-kadernya telah diakui oleh banyak pihak. Salah satunya adalah Dahlan Iskan. Dimuat di harian Suara Indonesia 21 September 1998, beliau yang kala itu menjadi pimpinan Jawa Pos menulis testimoni dengan judul “Masa Santun di Dunia yang Bergetah”. Terkagum-kagum Dahlan Iskan melihat ribuan orang yang hadir dalam deklarasi Partai Keadilan di Gelora Pancasila Surabaya dengan penuh ketertiban. Bahkan bagaimana kader PK memperlakukan anak-anaknya menjadi detail yang berkesan baginya.

Kesantunan itu makin tersiar lagi kala stasiun-stasiun televisi menayangkan langsung debat calon presiden yang diikuti oleh Amin Rais, Yusril Ihza Mahendra, Sri Bintang Pamungkas, dan Didin Hafidhuddin. Sebuah insiden terjadi. Amin Rais menyindir Yusril yang bekerja untuk mantan presiden Suharto sebagai penulis naskah pidato. Kecekcokan di atas panggung dilihat oleh para pemirsa. Hingga kemudian KH Didin Hafidhuddin sebagai calon presiden dari Partai Keadilan mengeluarkan kalimat-kalimat menyejukkan suasana. Momen itu diapresiasi oleh penonton.

Tahun 99, saya yang masih berseragam SMA sudah ikut berkeliling ke rumah-rumah penduduk mengenalkan partai baru berlambang bulan sabit kembar itu. Tentu saja ditemani kader yang lebih senior. Setelah debat capres, mudah sekali untuk “meng-closing” orang dengan mengungkit kejadian di atas. “Oooh yang capresnya kiai itu? Wah bagus itu, dia menengahi cekcok Amin Rais dengan Yusril,” respon tuan rumah. Lantas pengenalan Partai Keadilan jadi lebih mulus dipaparkan.

Kesantunan kader Partai Keadilan juga masih diakui hingga tahun-tahun berikutnya. Ketika Hidayat Nur Wahid menggantikan Nur Mahmudi Ismail sebagai presiden partai, masyarakat melihat perwakilan sosok santun Partai Keadilan di kancah nasional. Gaya bicara doktor lulusan Universitas Islam Madinah ini tidak ceplas ceplos, tidak ngotot dengan urat wajah menonjol, tidak meninggikan nada, namun khas kelembutan orang Jawa dengan substansi pembicaraan yang berbobot.

Ya, itulah wajah Partai Keadilan, sebelum berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Kesantunan Kader PKS Kini

Namun sekarang saya mendapat kesan yang berbeda. Jauh berbeda dengan yang dahulu, ketika media sosial belum ada. Boleh tidak sependapat, kini yang saya temui kader-kader PKS menjadi sosok yang militan di media sosial dengan bahasa provokatif.

Yang saya dapati, kader PKS punya “sumbu pendek”. Sedikit provokasi bisa hasilkan ledakan emosi. Mudah memvonis dengan berlebihan. Di kemudian hari, ketika seseorang yang terlanjur divonis itu menjadi partner politik PKS, para kader pun jadi salah tingkah.

Sekali lagi boleh tidak sependapat, dan saya tidak menggeneralisasi bahwa semua kader PKS telah kehilangan kesantunan. Tulisan ini hanyalah sarana autokritik, ajang muhasabah, supaya kesantunan yang dulu tetap terjaga. Agar kader PKS seperti saya masih bisa berkata kepada para pembully, “Kalianlah orang pertama yang akan kami santuni.” Maafkan juga bila saya tidak mengemukakan contoh kasus, atau menyebut nama orang sebagai sampel buruk.

Sebenarnya bukan hanya kader PKS saja yang kehilangan kesantunan. Terutama sejak booming media sosial, bangsa ini memang sudah kehilangan keramahan dengan sesamanya. Bangsa ini gampang gaduh, gampang menghujat, gampang berdebat kusir, gampang menyindir dengan meme-meme kreatif usil.

Sejak awal reformasi pun, ketika kran kebebasan berbicara dibuka, semua orang merasa bebas melampiaskan kemarahan di muka publik. Tetapi dulu ada kader PK yang jadi pembeda. Sayangnya kini tak lagi ditemukan pembeda.

Lestarikan Selalu Kesantunan Itu

Presiden PKS Sohibul Iman di berbagai kesempatan sudah berulang kali mengemukakan keresahannya tentang cara bangsa ini menggunakan media sosial. Harusnya kegelisahan itu ditangkap dengan baik oleh kader PKS, lantas menjadi terdepan dalam upaya menghapus kegamangan presiden partainya.

Kesantunan tak cukup dengan memamerkan foto relawan partai yang mengabdi di daerah bencana. Tetapi kesantunan itu terlihat dari bagaimana kita merespon kekecewaan orang, menjawab tudingan orang, atau mempublikasi status di media sosial.

Maka lapangkanlah hati, jangan mudah terprovokasi. Bila ada hal yang perlu didebat, lakukan dengan “billati hiya ahsan”. Bukankah ayat berikut ini yang kita tadabburi dalam halaqoh saat mendapat materi tentang dakwah?

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS An-Nahl: 125.

Kalau dirasa orang yang sedang berbicara itu memang berniat menghujat tanpa mau mendengar penjelasan, maka berpalinglah! Jangan terseret ke dalam pembelaan yang tak berguna dan malah menambah hujatan lebih hebat.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf: 199)

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al-Qashash: 55)

Jangan pula memulai provokasi. Karena setiap provokasi itu akan mendatangkan balasan yang mungkin lebih parah. Kata pepatah, bila rumah kita terbuat dari kaca, jangan timpuk rumah orang dengan batu.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS Al-An’am: 108)

Ayat di atas berbicara spesifik tentang provokasi terhadap sembahan orang kafir. Namun ibrahnya berlaku umum, bahwa setiap hasutan akan mendatangkan respon yang bisa lebih buruk.

Introspeksi dan Berikan Uzur Untuk Mereka

Bisa dipahami, bahwa pertempuran haq dan bathil membuat kader PKS yang tinggi ghiroh islamiyahnya membenci setiap kemungkaran beserta icon-iconnya. Ketika ada yang membela hal yang dianggap mungkar, lantas tersulutlah kemarahan.

Tak bisa kah kita selami dulu apa penyebab mereka membela kemungkaran? Mengapa mereka membela pemimpin yang lalim yang kasar dan sewenang-wenang? Atau membela pemimpin yang berkali-kali berdusta namun didewakan sedemikian rupa.

Kita bisa tuding mereka terbuai pencitraan. Namun tetap saja kenyataannya tampilan PKS tak mempesona mereka. Atau kita mau buru-buru menyalahkan media massa yang rajin menyudutkan PKS?

Ingatlah, PKS pernah mempesona khalayak di masa kesantunan kadernya terjaga, atau ketika kader yang menjadi pejabat publik memang menampilkan integritas dengan ketulusan. Masih ingat bagaimana Hidayat Nur Wahid menolak mobil dinas baru untuk pimpinan MPR? Momen seperti ini yang berkesan di mata khalayak. Sayangnya, beberapa lama kemudian tokoh-tokoh dari PKS disoroti soal sikapnya yang bermewah-mewahan.

Atau mungkin karena kalimat-kalimat kita di media sosial yang membuat mereka ilfil. Ada yang mengemukakan kekecewaan, lantas ditanggapi dengan kata-kata yang membuat pendengarnya tak berkenan. Maka larilah mereka semakin jauh.

Bisa jadi karena kita lah mereka sekarang memusuhi. Introspeksi dan berikanlah uzur atas ungkapan kekecewaan yang mereka rasakan. Belum terlambat untuk menampilkan kesantunan.

Ada batas waktunya mereka terpesona pada hal-hal yang kita anggap semu itu. Kelak mereka juga akan bosan. Masyarakat pernah terpesona dengan PKS, lalu SBY, lalu Jokowi. Mengapa tidak berpikir bahwa mereka bisa kembali menerima PKS? Bisa, bila sikap kader di media sosial membuat mereka nyaman.

Satu hal lagi, kesadaran berislam masyarakat Indonesia sekarang semakin tumbuh. Memang kesadaran itu belum ter-shibghoh sampai fikrah. Tetapi pelan-pelan akan menuju kesana. Kelak, ketika makin banyak orang sadar bahwa Islam harus diperjuangkan dalam berbagai dimensi termasuk di dunia politik, bisakah PKS otomatis menjadi sandaran harapan mereka? Tidak! Kalau kader PKS belum apa-apa membuat mereka ilfil.

Maka bersikaplah santun! Tampilkan politik yang bersih! Agar PKS menjadi perahu yang menjulang diangkat gelombang shawah Islamiyah.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on April 24, 2017 in Artikel Umum

 

Kematian dan Kesiapan Kita

Tiga orang pemuda berdiri di dalam halte, menunggu bis yang sama, hendak menuju ke lokasi yang sama. Dari perlengkapan yang dibawa terlihat bahwa mereka hendak melakukan perjalanan yang jauh.

Ada perbedaan di antara ketiganya. Dua di antaranya tidak mengetahui kapan bus yang hendak ditumpangi akan tiba di halte. Karena itu mereka berdiri dengan awas, takut ketinggalan bis. Mata mereka memandangi tiap bis yang lewat dan membaca dengan seksama tulisan yang tertera pada kaca depan. Memastikan apakah tertulis kota tujuan yang berarti itu lah bis yang sedang dinanti.

Sedang yang seorang lagi telah mengetahui kapan waktu kedatangan bis yang selalu tiba teratur. Sekira dua menit lagi berdasarkan jadwal. Karena itu ia berdiri dan mempersiapkan barang bawaannya, memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ia tidak perlu memandangi setiap bis yang lewat karena ia tahu pada saatnya bis itu akan tiba jua.

Penantian mereka ditingkahi aroma masakan dari warung makan yang terletak di dekat halte. Bau ayam bakar membuat perut yang sebenarnya belum lapar menjadi berontak. Warung kopi yang menyediakan mie instan rebus dan bubur kacang hijau yang berdiri tak jauh dari halte pun tak kalah menggoda.

Pemuda yang tahu persis jadwal kedatangan bis tentu tak tergoda dengan keramaian yang ada di dua warung itu. Dua menit sangat tak cukup untuk menghabiskan makanan, bahkan untuk memesan dan menunggu santapan terhidang. Karena itu ia tetap berdiri di tempatnya.

Pun dengan seorang lagi yang tidak tahu jadwal. Pikirnya, bila ia ke warung lalu tiba-tiba bis datang, ia bisa ketinggalan bis atau tergopoh-gopoh mengejar bis. Maka lebih baik tak beranjak dari halte menuju warung dengan segala godaannya.

Berbeda dengan seorang lagi. Meski buta dengan jadwal bis tiba, ia turuti juga selera yang bangkit dan perut yang mendadak lapar. “Sekedar memesan kopi atau menyantap bubur kacang hijau hangat, tak kan terlalu menghabiskan waktu lama”, pikirnya. Ia pun berjalan dan mengangkat barang bawaannya menuju kedai kopi.

Pada akhrinya bis yang dinantikan pun sampai di halte itu. Singgah tak lama. Hanya menurunkan atau menaikkan beberapa penumpang, termasuk kedua orang yang sudah siap berangkat. Sedang seorang lain, begitu mengetahui bis yang dinantinya tiba, ia terburu-buru berlari ke arah bis. Tanpa disadari beberapa barang bawaannya tertinggal. Termasuk kopi yang telah terhidang belum sempat dinikmati se-sruput pun.

*****

Cerita di atas adalah kiasan tentang kesiapan kita menunggu ajal tiba.

Pemuda terakhir, yang barang bawaannya tertinggal di kedai kopi demi mengejar bis yang tiba-tiba datang, adalah contoh yang buruk yang mungkin kita semua seumpama dia dalam menunggu kematian. Kita tidak tahu kapan jadwal kematian itu tiba. Tetapi godaan dunia tak kuasa kita abaikan. Hingga saat kematian itu tiba seketika, begitu banyak perbekalan yang tak dibawa menuju alam berikutnya.

Cerita pemuda kedua adalah contoh ideal untuk menunggu kematian. Kita tidak tahu kapan kematian itu tiba, karena itu jangan beranjak meninggalkan “halte dzikrul maut” untuk lalai di “warung-warung kenikmatan dunia”. Agar begitu bis “kematian” tiba, kita telah siap mengangkut “barang bawaan dan semua perbekalan” menuju tempat tujuan.

Sedang cerita pemuda pertama (yang tahu jadwal bis tiba dan sudah mempersiapkan diri) adalah ibarat fenomena Freddy Budiman, tersangka kasus narkoba yang kisahnya menghiasi linimasa jejaring sosial belakangan ini. Seperti diketahui, lelaki yang memiliki nama panggilan Budi ini telah dieksekusi mati oleh kejaksaan pada Jumat, 29 Juli 2016, pukul 00.45 di lapangan tembak Limus Buntu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Yang menarik, sebelum akhir hayatnya ia sempat menggoreskan kisah pertobatan yang menggetarkan hati. Mengetahui vonis mati telah ditetapkan, ia pun mengubah penampilan dan kebiasaan. Hari-harinya banyak diisi dengan sholat, tilawah Al-Qur’an, dan berakhlak baik. Ada media yang mewartakan bahwa ia telah khatam Quran 10 kali selama Ramadhan 1437 H, dan dua kali di hari-hari terakhir menjelang eksekusi mati dilaksanakan.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa wajar bila Freddy Budiman bertaubat karena ia tahu kapan ia dijemput oleh Izroil. Namun sesungguhnya lebih wajar lagi bagi kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu kapan kematian tiba. Bisa jadi sesaat lagi. Justru kita yang tak tahu kapan kematian itu tiba lah yang harus lebih siap daripada Freddy Budiman. Siap setiap saat.

Teringat nasihat seorang ustadz dalam sebuah ceramah yang memberi tips untuk bisa sholat khusyuk. “Jadikan sholat yang kita dirikan seakan-akan sholat terakhir dalam hidup,” ujarnya. Ia pun membawakan kisah tentang seorang yang hendak dieksekusi mati dan diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan sebelum eksekusi dilaksanakan. Orang itu pun meminta agar diizinkan mendirikan sholat dua rokaat. Saat itu lah orang tersebut merasakan sholat yang paling khusyu’ dalam hidupnya.

Akhir cerita, orang itu lolos dari hukuman mati. Tetapi ada pelajaran besar yang bisa diambil, bahwa bila kita selalu menyangka amal yang sedang dikerjakan adalah amal terakhir, maka kita akan selalu bersungguh-sunguh dalam beramal.

Sebagaimana orang kedua yang mengamati setiap bis yang lewat untuk memastikan apakah itu bis yang ditunggunya atau tidak, begitu juga kesadaran kita untuk menggapai husnul khotimah. Hendaknya kita selalu waspada terhadap tiap detik yang berlalu, apakah menyampaikan kita pada kematian atau tidak. Karena itu kita terus berusaha agar dalam kondisi sedang melakukan perbuatan baik. Minimal selalu ada niat perbuatan baik yang direncanakan.

Teringat pula beberapa waktu lalu saya pernah menyaksikan video yang beredar dari grup-grup whatsapp yang menayangkan seorang lelaki mendadak wafat di tengah acara pesta ketika sedang berjoget. Kematian memang tidak pernah toleran terhadap aktivitas yang tengah kita lakukan. Bila saatnya tiba, ia tiba.

Karena itu, tetaplah berada dalam halte dzikrul maut dengan selalu mengerjakan aktivitas kebaikan di dalam halte itu. Usahakan jangan pernah sesaat pun beranjak untuk kemudian lalai dan bermaksiat di dalam warung dunia sehingga kita terkejut dan tak siap ketika tiba-tiba bis kematian itu menjemput.

2 Agustus 2016

 

Mengangkat Beban

Kisah ini aku dapat dari membaca suatu novel ilmiah ketika SMP, kemudian aku gubah untuk mendapatkan hikmahnya.

Sebutlah Adi dan Dodi sedang berwisata di pantai dalam acara sekolah. Ketika mereka tengah dalam candaan, ada tantangan dari Dodi kepada Adi. Dodi yang bertubuh besar dan gemuk menantang Adi yang bertubuh kecil untuk mengadakan kompetisi. Dodi mengangkat Adi, setelah itu gantian Adi mengangkat Dodi. Mereka akan mengukur siapa yang paling lama mengangkat temannya.

Dodi yakin seyakin yakinnya bahwa Adi tidak akan sanggup berlama-lama mengangkat badannya. Karena itu Dodi menantang Adi. Dan Dodi yakin juga bahwa Adi akan menolak tantangan itu.

Tapi Dodi salah. Rupanya Adi menyambut dengan baik, walau dengan syarat.

“Memangnya, syaratnya apa?” Tanya Dodi.

“Kamu mengangkat saya di atas pasir, sedangkan saya mengangkat kamu di laut.” Ujar Adi.

“Boleh.” Ujar Dodi.

Maka dimulailah pertarungan itu. Alhasil, di luar dugaan. Adi berhasil lebih lama mengangkat Dodi yang tubuhnya lebih besar. Mengakui kekalahannya, Dodi bertanya, “apa rahasianya?”

“Jawabannya adalah, karena saya dibantu oleh gaya apung yang ada pada air laut. Sehingga ringan bagi saya untuk mengangkat kamu.” Ujar Adi. “Gaya itu ditemukan oleh Archimedes. Kalau kamu simak pelajaran fisika kemarin, kamu pasti paham.” Tambah Adi dengan senyuman.

*****

Hidup ini serupa dengan kompetisi di atas. Bahwasanya masing-masing kita memiliki tugas untuk mengangkat beban masing-masing. Beban yang diangkat tentu saja sesuai dengan kemampuan seorang manusia. Begitulah sunnatullah.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS 2:286).

Tetapi ada perbedaan antara seorang muslim yang bertaqwa dengan seorang kafir. Seorang muslim mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di air, sedangkan seorang kafir mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di atas pasir. Ada ‘gaya apung yang dimiliki oleh air’ yang membantu seorang muslim yang bertaqwa untuk mengangkat bebannya. Gaya apung itu adalah bantuan dari Allah SWT.

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Ath-Thalaq : 4.

Dengan bantuan ‘gaya apung’ inilah seorang muslim yang bertaqwa bisa mengangkat bebannya lebih lama. Sedangkan orang kafir yang tanpa bantuan gaya apung tersebut, berpotensi besar untuk menyerah, membanting bebannya lalu dia pun terjatuh.

Seorang muslim yang bertaqwa tidak akan mengenal akhir seperti itu.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS Ath-Thalaq : 2).

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47 : 7)

Allahu’alam bish-showab.

 

Akankah Iwan jadi Duta Tentara?

“Tentara aja gw potong di sini, apalagi lu.” Saya terkesima mendengar kata-kata itu dari sebuah video yang viral di media sosial. Video tersebut menayangkan seorang berkemeja kotak-kotak merah sedang marah-marah di sebuah TPS. Lantas keluar kata-kata tadi.

Yang paling bikin saya terkesima adalah kata-katanya yang lain. “Allah aja fleksibel, babi itu haram jadi halal.”

Sesumbar orang yang belakangan dikenal dengan panggilan Iwan itu terkesan melecehkan institusi TNI. (Selain syariat Islam tentunya, bahwa Allah menghalalkan babi yang tadinya haram, katanya.) Dan pelecehannya bukan main, ia sesumbar berani memotong-motong tubuh prajurit. Memandang remeh wibawa angkatan bersenjata negeri ini.

Padahal nama besar sebuah negara ditopang dari wibawa tentaranya. Makanya rakyat bangga saat ada satuan tentara yang memenangkan lomba tertentu. Dan kadang masyarakat membincangkan tentara kita ada di urutan ke berapa di antara angkatan-angkatan terbaik dunia.

Lalu bagaimana nasib si Iwan ini?

Masih ingat dengan kasus penghinaan Zaskia Gotik kepada Pancasila? Saya rasa kejadian itu masih tetap hangat di ingatan masyarakat. Termasuk bagaimana akhir dari kasus ini. Zaskia Gotik diangkat oleh Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI menjadi Duta Pancasila.

Alasannya apa? Abdul Kadir Karding, anggota Fraksi PKB menjelaskan seperti berikut, “Ketika Zaskia dengan latar belakang lulusan SD sibuk menghidupi keluarganya dan tidak mengenyam sekolah lalu tidak paham Pancasila, itu hal yang wajar.” Jadi menurut anggota DPR ini, perkataan “bebek nungging” atas lambang Burung Garuda adalah wajar. Dan lebih dari wajar, Zaskia Gotik harus dinobatkan sebagai Duta Pancasila.

Lantas adalagi kasus Sonya Depari, pelajar asal Medan yang memaki-maki polisi wanita saat terjadi razia dan mengaku sebagai anak jenderal di Badan Narkotika Nasional (BNN). Masyarakat mengetahui kasus ini dari video yang beredar massif. Netizen lantas gemas dan mengecam tindakan anak itu.

Lalu bagaimana nasib Sonya Depari ini? Mujur, ia diangkat menjadi Duta Narkoba oleh kalangan gereja-gereja reformis di Medan, alih-alih ia diberi hukuman yang mendidik. Ia dilantik menjadi ikon anti narkoba pada Perayaan Pra-500 Tahun Reformasi Gereja-gereja di Medan.

“Kita selaku panitia perayaan pra-500 tahun reformasi gereja-gereja menjadikan Sonya Depari sebagai duta anti narkoba untuk di Medan,” kata Ketua Panitia Perayaan, Washington Pane. Acara itu sendiri dihadiri Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwi Hananto dan polwan yang sempat terlibat adu mulut dengan Sonya Depari.

“Dia (Sonya) merupakan jemaat untuk melaksanakan kegiatan kita. Sonya memang layak (jadi duta anti narkoba) karena dia baik dan pintar. Dia juga berprestasi, di sekolahnya dia memang bagus, tentu kita sudah berkoordinasi dengan pihak sekolahnya dan keluarganya. Kita juga ada ikrar (mengenai narkoba) bersama BNN,” kata Washington.

Nah, lantas bagaimana dengan Iwan? Setelah artis pelaku pelecehan Pancasila dan pelajar pendamprat polisi berakhir dengan happy ending, mungkinkah kisah Iwan akan berakhir manis? Ada pihak yang mengangkatnya menjadi duta tentara, misalnya?

Bukan tidak mungkin. Kesan yang ditangkap dalam videonya, Iwan adalah seorang ahokers garis keras militan. Saat marah-marah itu ia berbaju kotak-kotak, ikon yang mengingatkan masyarakat pada Presiden Jokowi. Tak salah bila ada yang mengangkatnya menjadi duta tentara. Dan kalau itu terjadi, saya tak bisa bayangkan remuknya rakyat kita yang mencintai TNI.

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2017 in Artikel Umum

 

Peristiwa Nenek Hindun, Ada Mutiara Toleransi dalam Lumpur Politisasi

Di atas “wajan” media sosial, saat ini ada “gorengan isu” yang terbungkus “minyak politisasi” mendidih yang dipanasi oleh “kompor nyablak” para buzzer politik. Gorengan itu bernama peristiwa pengurusan jenazah Nenek Hindun.

Almarhumah Nenek Hindun semasa hidup tinggal di RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Menempati rumah yang sangat sederhana, dekat dengan sebuah musholla bernama Al Mu’minun. Ia wafat pada Selasa, 7 Maret 2017 kemarin, pukul 13.30. Kemudian jenazahnya diurus oleh warga setempat. Dimandikan, disholati, dibawa ke tempat pemakaman dengan mobil ambulan (didapat atas usaha bahu membahu warga yang mencarikan), diziarahi dan dikuburkan dengan layak.

Hampir tak kurang satu apa pun dalam pengurusannya. Kecuali, prosesi sholat jenazah tak dapat dilakukan di Musholla Almu’minun, musholla yang di sana sempat terpasang spanduk penolakan menyolati pemilih pasangan Ahok-Djarot di pilgub DKI Jakarta 2017.

Ini lah celah yang dimanfaatkan buzzer politik untuk mempercantik KPI-nya dihadapan pemodal. Kebetulan nenek Hindun memberikan satu suara kepada pasangan Ahok-Djarot pada 15 Februari kemarin.

Kebohongan pertama yang diluncurkan adalah Nenek Hindun ditolak untuk disholati. Saat tulisan ini dibuat, masih terpampang di situs yang sedang berperkara pencemaran nama baik, seword[dot]com, judul tulisan “Kasus Jenazah Nenek Hindun Yang Tidak Boleh Disholatkan Cermin Menjijikannya Politisasi Agama”. Judul ini bertolak belakang dengan isi tulisan karena di sana disebutkan sholat jenazah dilakukan di rumah. Tapi yang termudah bagi netizen adalah membaca judulnya saja, bukan? Toh isi tulisannya sudah ditebak, akan ada banyak bumbu ngalor ngidul membedaki sekerat fakta yang tipis. Cukup baca judul, kemudian lanjut berkomentar dan share.

Isu selanjutnya menggugat mengapa sholat jenazah dilakukan di rumah. Mengapa tidak di musholla. Padahal sudah ada keterangan dari ustadz Syafii dan warga. Bahwa perlu waktu untuk mengumpulkan jamaah, sementara hari sudah menjelang malam dan cuaca pun mendung, sebentar lagi hujan deras. Untuk efisiensi waktu, sholat jenazah cukup dilakukan di rumah. Namun keterangan itu kalah oleh politisasi. Dan ustadz Syafi’i kepada media mengungkapkan kesedihannya menjadi sasaran fitnah.

Dari kisruh ini, rupanya terungkap fakta yang tidak diduga-duga. Dikutip oleh detikcom (kumparan memuat pengakuan yang sama), seorang warga bernama Syamsul Bahri memberi kesaksian seperti berikut: “Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulance mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu enggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulance. Akhirnya datang, ambulance Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita.”

Ada pemandangan toleransi yang indah kala jenazah nenek Hindun diurus. PKS adalah partai pendukung Anies-Sandi yang merupakan competitor pasangan Ahok-Djarot. Dan ada kader/simpatisannya yang ikut mengurus jenazah pemilih Ahok-Djarot. Timses dari Partai Gerindra juga bekerja. Mobil ambulan yang datang pun adalah milik relawan Anies-Sandi. Berkaca dari putaran pertama pilgub DKI, mayoritas warga daerah sana adalah pendukung Anies-Sandi. Mereka lah yang mengurus jenazah Nenek Hindun. Yang mencarikan papan, keranda, dan perlengkapan lain yang diperlukan.

Fakta tersebut bagaikan mutiara “toleransi” dalam lumpur “politisasi”. Dapat apa Ustadz Syafi’i dan warga? Tidak ada. Mereka bekerja ikhlas karena Allah. Persoalan kecil bahwa jenazah Nenek Hindun tak disholati di musholla adalah masalah teknis yang lebih dimengerti oleh ustadz Syafi’i yang telah bertahun-tahun mengurus jenazah. Saya percaya tak ada maksud diskriminasi di hati ustadz tersebut. Lagi pula, menyolati jenazah di rumah adalah persoalan biasa yang cukup sering terjadi. Bukan hal yang besar.

Semoga Allah menyempurnakan pahala warga yang mengurus Nenek Hindun di tengah guncangan keikhlasan akibat fitnah sebagian netizen dan buzzer politik. Andai kejadian seperti ini terjadi setelah pilgub usai, apakah akan ramai juga? Saya tidak yakin buzzer-buzzer itu peduli. Cuma kebetulan pilgub belum usai, masih ada putaran kedua yang menetukan, sehingga kasus seperti ini perlu dibesar-besarkan. Kalau para buzzer itu benar-benar peduli rakyat kecil seperti Nenek Hindun, mereka akan bersuara untuk kasus penggusuran dan tertindasnya nelayan di pesisir Jakarta oleh proyek reklamasi.

Namun ada hikmah di balik ribut-ribut ini. Bahwa toleransi itu nyata dan masih ada. Tak perlu pawai, tak perlu konser, tak perlu pidato tokoh yang berteriak-teriak dengan urat leher menegang. kenyataannya rakyat Indonesia mengerti apa itu toleransi.

Untuk arwah Nenek Hindun, kita doakan semoga Allah menerima amalnya dan mengampuni dosanya. Tak boleh ada tudingan munafik terhadap beliau. Kalau ada yang menuduhnya telah melakukan perbuatan nifaq karena memilih pemimpin non muslim, pahamkan ia bahwa seorang yang terindikasi munafiq karena perbuatannya, tidak serta merta dilabeli munafiq. Orang itu punya haq untuk mengajukan udzur.

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2017 in Artikel Umum