RSS

Akankah Iwan jadi Duta Tentara?

“Tentara aja gw potong di sini, apalagi lu.” Saya terkesima mendengar kata-kata itu dari sebuah video yang viral di media sosial. Video tersebut menayangkan seorang berkemeja kotak-kotak merah sedang marah-marah di sebuah TPS. Lantas keluar kata-kata tadi.

Yang paling bikin saya terkesima adalah kata-katanya yang lain. “Allah aja fleksibel, babi itu haram jadi halal.”

Sesumbar orang yang belakangan dikenal dengan panggilan Iwan itu terkesan melecehkan institusi TNI. (Selain syariat Islam tentunya, bahwa Allah menghalalkan babi yang tadinya haram, katanya.) Dan pelecehannya bukan main, ia sesumbar berani memotong-motong tubuh prajurit. Memandang remeh wibawa angkatan bersenjata negeri ini.

Padahal nama besar sebuah negara ditopang dari wibawa tentaranya. Makanya rakyat bangga saat ada satuan tentara yang memenangkan lomba tertentu. Dan kadang masyarakat membincangkan tentara kita ada di urutan ke berapa di antara angkatan-angkatan terbaik dunia.

Lalu bagaimana nasib si Iwan ini?

Masih ingat dengan kasus penghinaan Zaskia Gotik kepada Pancasila? Saya rasa kejadian itu masih tetap hangat di ingatan masyarakat. Termasuk bagaimana akhir dari kasus ini. Zaskia Gotik diangkat oleh Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI menjadi Duta Pancasila.

Alasannya apa? Abdul Kadir Karding, anggota Fraksi PKB menjelaskan seperti berikut, “Ketika Zaskia dengan latar belakang lulusan SD sibuk menghidupi keluarganya dan tidak mengenyam sekolah lalu tidak paham Pancasila, itu hal yang wajar.” Jadi menurut anggota DPR ini, perkataan “bebek nungging” atas lambang Burung Garuda adalah wajar. Dan lebih dari wajar, Zaskia Gotik harus dinobatkan sebagai Duta Pancasila.

Lantas adalagi kasus Sonya Depari, pelajar asal Medan yang memaki-maki polisi wanita saat terjadi razia dan mengaku sebagai anak jenderal di Badan Narkotika Nasional (BNN). Masyarakat mengetahui kasus ini dari video yang beredar massif. Netizen lantas gemas dan mengecam tindakan anak itu.

Lalu bagaimana nasib Sonya Depari ini? Mujur, ia diangkat menjadi Duta Narkoba oleh kalangan gereja-gereja reformis di Medan, alih-alih ia diberi hukuman yang mendidik. Ia dilantik menjadi ikon anti narkoba pada Perayaan Pra-500 Tahun Reformasi Gereja-gereja di Medan.

“Kita selaku panitia perayaan pra-500 tahun reformasi gereja-gereja menjadikan Sonya Depari sebagai duta anti narkoba untuk di Medan,” kata Ketua Panitia Perayaan, Washington Pane. Acara itu sendiri dihadiri Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwi Hananto dan polwan yang sempat terlibat adu mulut dengan Sonya Depari.

“Dia (Sonya) merupakan jemaat untuk melaksanakan kegiatan kita. Sonya memang layak (jadi duta anti narkoba) karena dia baik dan pintar. Dia juga berprestasi, di sekolahnya dia memang bagus, tentu kita sudah berkoordinasi dengan pihak sekolahnya dan keluarganya. Kita juga ada ikrar (mengenai narkoba) bersama BNN,” kata Washington.

Nah, lantas bagaimana dengan Iwan? Setelah artis pelaku pelecehan Pancasila dan pelajar pendamprat polisi berakhir dengan happy ending, mungkinkah kisah Iwan akan berakhir manis? Ada pihak yang mengangkatnya menjadi duta tentara, misalnya?

Bukan tidak mungkin. Kesan yang ditangkap dalam videonya, Iwan adalah seorang ahokers garis keras militan. Saat marah-marah itu ia berbaju kotak-kotak, ikon yang mengingatkan masyarakat pada Presiden Jokowi. Tak salah bila ada yang mengangkatnya menjadi duta tentara. Dan kalau itu terjadi, saya tak bisa bayangkan remuknya rakyat kita yang mencintai TNI.

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2017 in Artikel Umum

 

Peristiwa Nenek Hindun, Ada Mutiara Toleransi dalam Lumpur Politisasi

Di atas “wajan” media sosial, saat ini ada “gorengan isu” yang terbungkus “minyak politisasi” mendidih yang dipanasi oleh “kompor nyablak” para buzzer politik. Gorengan itu bernama peristiwa pengurusan jenazah Nenek Hindun.

Almarhumah Nenek Hindun semasa hidup tinggal di RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Menempati rumah yang sangat sederhana, dekat dengan sebuah musholla bernama Al Mu’minun. Ia wafat pada Selasa, 7 Maret 2017 kemarin, pukul 13.30. Kemudian jenazahnya diurus oleh warga setempat. Dimandikan, disholati, dibawa ke tempat pemakaman dengan mobil ambulan (didapat atas usaha bahu membahu warga yang mencarikan), diziarahi dan dikuburkan dengan layak.

Hampir tak kurang satu apa pun dalam pengurusannya. Kecuali, prosesi sholat jenazah tak dapat dilakukan di Musholla Almu’minun, musholla yang di sana sempat terpasang spanduk penolakan menyolati pemilih pasangan Ahok-Djarot di pilgub DKI Jakarta 2017.

Ini lah celah yang dimanfaatkan buzzer politik untuk mempercantik KPI-nya dihadapan pemodal. Kebetulan nenek Hindun memberikan satu suara kepada pasangan Ahok-Djarot pada 15 Februari kemarin.

Kebohongan pertama yang diluncurkan adalah Nenek Hindun ditolak untuk disholati. Saat tulisan ini dibuat, masih terpampang di situs yang sedang berperkara pencemaran nama baik, seword[dot]com, judul tulisan “Kasus Jenazah Nenek Hindun Yang Tidak Boleh Disholatkan Cermin Menjijikannya Politisasi Agama”. Judul ini bertolak belakang dengan isi tulisan karena di sana disebutkan sholat jenazah dilakukan di rumah. Tapi yang termudah bagi netizen adalah membaca judulnya saja, bukan? Toh isi tulisannya sudah ditebak, akan ada banyak bumbu ngalor ngidul membedaki sekerat fakta yang tipis. Cukup baca judul, kemudian lanjut berkomentar dan share.

Isu selanjutnya menggugat mengapa sholat jenazah dilakukan di rumah. Mengapa tidak di musholla. Padahal sudah ada keterangan dari ustadz Syafii dan warga. Bahwa perlu waktu untuk mengumpulkan jamaah, sementara hari sudah menjelang malam dan cuaca pun mendung, sebentar lagi hujan deras. Untuk efisiensi waktu, sholat jenazah cukup dilakukan di rumah. Namun keterangan itu kalah oleh politisasi. Dan ustadz Syafi’i kepada media mengungkapkan kesedihannya menjadi sasaran fitnah.

Dari kisruh ini, rupanya terungkap fakta yang tidak diduga-duga. Dikutip oleh detikcom (kumparan memuat pengakuan yang sama), seorang warga bernama Syamsul Bahri memberi kesaksian seperti berikut: “Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulance mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu enggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulance. Akhirnya datang, ambulance Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita.”

Ada pemandangan toleransi yang indah kala jenazah nenek Hindun diurus. PKS adalah partai pendukung Anies-Sandi yang merupakan competitor pasangan Ahok-Djarot. Dan ada kader/simpatisannya yang ikut mengurus jenazah pemilih Ahok-Djarot. Timses dari Partai Gerindra juga bekerja. Mobil ambulan yang datang pun adalah milik relawan Anies-Sandi. Berkaca dari putaran pertama pilgub DKI, mayoritas warga daerah sana adalah pendukung Anies-Sandi. Mereka lah yang mengurus jenazah Nenek Hindun. Yang mencarikan papan, keranda, dan perlengkapan lain yang diperlukan.

Fakta tersebut bagaikan mutiara “toleransi” dalam lumpur “politisasi”. Dapat apa Ustadz Syafi’i dan warga? Tidak ada. Mereka bekerja ikhlas karena Allah. Persoalan kecil bahwa jenazah Nenek Hindun tak disholati di musholla adalah masalah teknis yang lebih dimengerti oleh ustadz Syafi’i yang telah bertahun-tahun mengurus jenazah. Saya percaya tak ada maksud diskriminasi di hati ustadz tersebut. Lagi pula, menyolati jenazah di rumah adalah persoalan biasa yang cukup sering terjadi. Bukan hal yang besar.

Semoga Allah menyempurnakan pahala warga yang mengurus Nenek Hindun di tengah guncangan keikhlasan akibat fitnah sebagian netizen dan buzzer politik. Andai kejadian seperti ini terjadi setelah pilgub usai, apakah akan ramai juga? Saya tidak yakin buzzer-buzzer itu peduli. Cuma kebetulan pilgub belum usai, masih ada putaran kedua yang menetukan, sehingga kasus seperti ini perlu dibesar-besarkan. Kalau para buzzer itu benar-benar peduli rakyat kecil seperti Nenek Hindun, mereka akan bersuara untuk kasus penggusuran dan tertindasnya nelayan di pesisir Jakarta oleh proyek reklamasi.

Namun ada hikmah di balik ribut-ribut ini. Bahwa toleransi itu nyata dan masih ada. Tak perlu pawai, tak perlu konser, tak perlu pidato tokoh yang berteriak-teriak dengan urat leher menegang. kenyataannya rakyat Indonesia mengerti apa itu toleransi.

Untuk arwah Nenek Hindun, kita doakan semoga Allah menerima amalnya dan mengampuni dosanya. Tak boleh ada tudingan munafik terhadap beliau. Kalau ada yang menuduhnya telah melakukan perbuatan nifaq karena memilih pemimpin non muslim, pahamkan ia bahwa seorang yang terindikasi munafiq karena perbuatannya, tidak serta merta dilabeli munafiq. Orang itu punya haq untuk mengajukan udzur.

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2017 in Artikel Umum

 

Tiga Jasa Besar Ibu

Sudah selayaknya tiap yang berjasa dihargai kebaikannya. Islam memerintahkan ummatnya untuk beriman dan mengenang perjuangan tiap Nabi tanpa membeda-bedakan. (QS Al Baqoroh 285)

Lalu kalau Islam mengunggulkan kebaikan satu pihak dibanding yang lain, tentu ada alasan yang kuat. Seperti jawaban Rasulullah kepada seorang sahabat, yang bertanya siapa yang berhak mendapat prioritas bakti seorang manusia. Rasulullah ketika itu menjawab ibu, kemudian ibu, kemudian ibu, lalu berikutnya ayah. (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548) Rasulullah membimbing umatnya agar memberi penghormatan kepada ibu tiga kali lipat dari ayah.

Tentu seorang anak tidak boleh melupakan jasa ayah yang membanting tulang peras keringat untuk kecukupan nafkah dirinya. Menembus debu jalanan untuk berangkat ke tempat kerja, menebalkan perasaan saat berhadapan dengan klien atau atasan yang kejam, bersabar mengemban tugas yang membebankan di tempat kerja, semua dilakukan atas tanggung jawab terhadap anggota keluarga yang ia pimpin.

Tetapi sang anak perlu memahami berat upaya sang ibu merawat jasadnya ketika masih berbentuk janin. Ibu telah menjaga asupan makanan demi anak yang ia kandung. Bersabar dengan berat tubuh yang tak proporsional dan semakin bertambah yang ia rasakan sejak hamil. Merasakan mual dan berbagai rasa tak enak yang ia alami karena mengandung. Pengorbanan itu semua perlu dihayati oleh sang anak. Itu pertama.

Kedua, sang anak juga harus mengerti nyeri yang dirasakan saat melahirkan. Apalagi bila ia lahir dengan kondisi tak normal, di mana sang ibu harus mendapatkan operasi untuk menyelamatkan jasad anak. Atau dulu si ibu harus mendapatkan treatment khusus yang tak mengenakkan agar janin bisa dilahirkan. Di tiap proses kelahiran, ada perjuangan hidup mati untuk meloloskan anak terlahir ke dunia.

Ketiga, sebagai anak juga harus menyadari perjuangan ibu membesarkannya dengan penuh cinta. Bahwa ibu tak mengeluh untuk tiba-tiba terjaga di tengah malam mendengar tangis bayi yang lapar/haus atau buang air besar/kecil. Ibu juga penuh cinta merasakan beratnya anak di dalam gendongan. Semakin hari semakin bertambah beratnya. Ibu juga bersabar atas perilaku balita yang susah dikendalikan; berjalan kesana kemari; memberantakkan barang-barang di rumah; muntah atau buang air sembarangan; semua dihadapi dengan cinta.

Maka tak mengada-ngada bila Rasulullah memerintahkan manusia memerintahkan untuk menghormati ibunya tiga kali lebih dalam daripada sang ayah.

Mari bermuhasabah, sudah kah kita tempatkan bakti kepada ibu dengan sesuai? Sudahkah kita bertutur lemah lembut – yang Al-Qur’an melarang berkata kasar meski sebatas ucapan “ah” (QS Al-Israa’ : 23)? Sudahkah kita bersegera memenuhi permintaan kedua orang tua sebagaimana kita bersegera bila ada tayangan kesukaan di televisi? Apakah ada yang kita prioritaskan saat mereka memanggil, semisal game atau pesan whatsapp dari teman?

Mari ambil waktu untuk merenungi jasa ibu sedari kecil.

Selamat hari ibu

 

Fenomena Qulhu

Di sepetak ruang musholla kantor sepeninggal senja, beberapa karyawan dengan muka dan tangan basah oleh wudhu berdiri berjajar menghadap kiblat. Saling menoleh dan memberi tanda, meminta salah seorang dari mereka maju memimpin sholat maghrib. Setelah sedikit aksi dorong-dorongan, majulah seorang berkemeja biru. Ia menoleh ke belakang sebentar meminta shaf diluruskan, lantas mengangkat tangannya untuk Takbiratul Ihram. Allahu akbar…

Al-Fatihah dilantunkan. Tajwid sebagaimana awam. Akan sangat lebih baik bila sang imam ikut program tahsin (perbaikan baca Qur’an). Di penghujung Al-Fatihah, imam dan makmum mengeraskan suara membaca “Aaaamiiin…”. Berlanjutlah membaca surat atau beberapa ayat Al-Qur’an. Sang imam dengan percaya diri menarik suara. “Qul huwallahu ahad….”

Di tempat dan waktu yang lain, di sebuah masjid pinggir jalan raya, tempat orang-orang di perjalanan singgah sebentar untuk menunaikan kewajiban, seorang bapak dengan wajah dan tangan basah oleh air wudhu telah bersiap menghadap kiblat. Ia sejatinya sedang dalam perjalanan. Motornya ia belokkan ke halaman masjid itu untuk menunaikan sholat maghrib yang waktunya telah berjalan 30 menit. Tiba-tiba seorang anak muda menghampiri bapak itu. “Pak, jamaahan…” ujarnya dengan tangan merentang ke depan meminta bapak tadi menjadi imam. Si bapak percaya diri maju selangkah ke depan, dan anak muda tadi di sisi kanannya agak ke belakang sedikit. “Allahu akbar…” rapal sang bapak dengan khusyuk.

Al-Fatihah dilantunkan hingga selesai. Setelah Al-Fatihah, bapak tadi melanjutkan dengan membaca sebuah surat pendek di dalam juz 30 Al-Qur’an. “Qul huwallahu ahad…”

Di tempat dan waktu yang lain, di sebuah rumah yang para penghuninya baru saja berbuka puasa bulan Ramadhan, telah membuat formasi seorang ayah, bunda dan dua anak untuk sholat maghrib berjamaah. Si ayah melantunkan Al-Fatihah hingga akhir surat. Dan anak lelaki berumur 6 tahun mengucap “Amin” berdua bersama ayah. Bunda dan kakak perempuan yang berusia 9 tahun tentu tidak mengucap amin. Sang ayah melanjutkan dengan membaca surat pendek. “Qul huwallahu ahad…”

Cinta yang Membawa ke Surga

Entah mimpi apa semalam, seorang sahabat Anshar di hadapan teman-temannya mendapat jaminan surga oleh Rasulullah saw. “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga,” ujar Rasulullah. Ya, tersebab cinta sahabat itu terjamin surga. Cinta kepada surat Al-Ikhlas.

Sebelumnya, teman-temannya merasa janggal dengan kebiasaan sahabat Anshar itu. Tiap menjadi imam, setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca surat Al-Ikhlas dulu sebelum melanjutkan bacaan surat lain. Teman-temannya keberatan. “Baca surat itu saja, atau baca yang lain,” ujar teman-temannya. Satu surat saja, jangan dua surat sekaligus dalam satu rakaat. Sahabat Anshar itu bergeming. “Kalau masih mau aku imami, aku akan terus begitu.” Teman-temannya pun ragu untuk memilih selain sahabat tadi untuk menjadi imam. Akhirnya, kebiasaan itu berlanjut.

Hingga mereka berjumpa dengan Rasulullah saw, diadukanlah masalah tersebut. Rasulullah pun bertanya alasan sahabat tadi mengerjakan kebiasaan itu. Jawabannya, ”Sesungguhnya aku mencintai surat ini.” Endingnya kita tahu, Rasulullah menjaminkannya surga.

Benarkah Karena Cinta?

Surat Al-Ikhlas yang diawali dengan kalimat “Qul huwallahu ahad” memang menjadi surat yang populer di masyarakat – yang bisa saya amati terutama di Indonesia. Apalagi bila umat yang awam seperti saya menjadi imam sholat jahriyah (sholat yang bacaannya dikeraskan).

Surat Al-Qur’an bernomor 112 ini memang cukup pendek. Bersama Al-‘Ashr dan An-Nashr, cukup pas lah bila dibaca saat sholat mahgrib yang waktunya sebentar. Yang paling penting, surat ini mudah dihafal karena familiar. Bila imam membaca surat ini, potensi salah baca atau lupa bacanya sangat minim. Yang menjadi makmum pun akan senang bila imam membaca Al-Ikhlas. Tidak perlu berlama-lama berdiri dalam sholat.

Surat yang agak panjang sedikit, misalnya Ath-Thaariq, masih bisa diterima oleh makmum (masyarakat muslim di Indonesia) walau mungkin ada saja yang merasa itu agak panjang untuk ukuran sholat maghrib. Tapi kalau sudah An-Naba, Al-Mulk, atau At-Tahrim, jangankan sholat maghrib, dibaca saat sholat isya’ yang waktunya panjang pun sudah dirasa terlalu lama. Dan bagi awam, ayat dalam surat ini terlalu banyak untuk dihafal.

Jadi, tersebab karena cinta kah bila surat Al-Ikhlas menjadi popular di masyarakat?

Saya teringat ceramah seorang ustadz yang memotivasi pendengarnya untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. “Jangan sampe pas bapak-bapak nanti jadi imam sholat di rumah, eh di belakang anaknya ngejek, ‘Qulhu nih yeeee….’”. Kira-kira redaksinya seperti itu, dan sukses membuat para jamaah pengajian tersebut tergelak heboh. Sangat menyentil.

Saya menyebutnya “fenomena Qulhu”. Yang saya takutkan, surat itu populer karena umat Islam kebanyakan tak mau repot memperkaya hafalan Qur’annya. Sehingga ketika menjadi imam, tak ada perbendaharaan surat lain selain Qulhu dan kawan-kawannya.

Yang saya khawatirkan, surat itu popular karena ada demand dari makmum agar sholat jangan lama-lama. Yang penting kewajiban tuntas. Daripada imam membaca surat yang agak panjang, dan makmum tak mengenali bacaan itu, lantas pikirannya mengawang-awang, maka baiknya imam membaca surat yang makmum pun hafal.

Fenomena qulhu, kalau kenyataannya seperti itu, jelaslah bukan karena cinta. Tetapi cerminan lemahnya interaksi umat kepada Al-Qur’an. Lalu terngianglah keluh kesah Rasulullah kepada Allah swt, mengadukan sikap umatnya, “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.”” (QS Al-Furqon: 30)

Ya Allah, ampuni kami…!

 

Jangan Pernah Salahkan Donasi, Termasuk Kepada Ibu Saeni!

Telah membulat membaja tekad seorang hamba Allah untuk bersedekah. Lalu ia melakukan perjalanan di sebuah kota untuk merealisasikan keinginannya tanpa menentukan terlebih dahulu objek penerima sedekah. Hingga sebuah peristiwa mempertemukannya dengan seorang yang tak dikenal. Pada akhirnya, dengan niat hanya ingin berdonasi tanpa pilih kasih, ia sedekahkan harta yang dibawa kepada orang tadi. Dan hamba Allah itu pun pulang ke rumah dengan hasrat yang telah ditunaikan.

Kisah itu diriwayatkan dalam dua kitab hadits masyhur, Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Lanjutan ceritanya, aksi amal hamba Allah tadi memicu kehebohan di tengah khalayak. Seorang kondang yang punya catatan kriminal sebagai pencuri telah menerima sedekah dari sumber yang tak dikenal. Tergugatlah rasa keadilan publik. Pasalnya orang miskin yang lebih berhak menerima sedekah masih bertebaran di sudut-sudut kota.

Kegaduhan itu pun sampai jua di telinga hamba Allah tadi. Lantas, sambil memuji Allah swt, laki-laki tersebut kembali berniat untuk bersedekah. Kesungguhannya terbukti, seorang wanita menjadi penerima sedekah tanpa pilih kasih itu.

Apa yang telah dilakukan hamba Allah tadi rupanya menimbulkan kegaduhan baru. Orang-orang membincangkan tentang wanita yang populer dikenal sebagai pezina telah menerima sedekah dari seseorang. Lagi, publik merasa sedekah tadi tak layak dan tak adil.

Si hamba Allah hanya bisa memuji Tuhannya atas perbincangan dan tanggapan masyarakat. Ia tak merajuk atau patah arang untuk kembali bersedekah. Baiklah, ia akan kembali bersedekah karena Allah swt.

Tetapi, setelah ia tunaikan niat sedekah terbarunya, gunjingan khalayak bukannya terhenti tapi malah bertambah menjadi. Kiranya sedekah terakhir disodorkan kepada seorang kaya raya. Masyarakat makin tak terima dengan sedekah salah sasaran tersebut.

Hamba Allah pasrah dan memuji Tuhannya yang begitu ia cintai. “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian, (ternyata shadaqahku jatuh) terhadap si pencuri, si penzina dan terhadap si kaya,” bisiknya mesra.

Allah Maha Mendengar, Maha Mensyukuri amal sholeh hamba-Nya. Di suatu malam dalam lelap pulas si hamba Allah, terutus sesosok bayangan seorang pria membawa kabar gembira. “Sedekah mu kepada si pencuri, mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada mencuri, manakala kepada wanita penzina mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada berzina dan orang kaya mudah-mudahan ia akan mengambil pelajaran lalu menafkahkan sebahagian harta yang telah Allah berikan kepadanya.”
***
Tak ada yang salah dengan donasi kepada siapa pun penerimanya. Kecuali kalau donasi itu memang dimaksudkan agar dipergunakan untuk hal yang tidak baik.

Karena itu, jangan salahkan aksi sosial, termasuk yang ditujukan kepada ibu Saeni, atau ibu Eni. Seorang wanita pengusaha warteg, yang – dari koran Kabar Banten – diketahui berasal dari Tegal, punya tiga cabang usaha warung makan, dan terhitung pengusaha sukses, namun sayangnya terkena razia satpol PP Kota Serang yang menjalankan perda yang telah berlaku bertahun-tahun tentang larangan warung makan melayani pembeli pada siang hari di bulan Ramadhan.

Terpicu pemberitaan media massa yang menceritakan bagaimana satpol PP menegakkan aturan dan ibu Saeni menjadi korbannya, netizen-pun menggalang simpati. Dramatisasi media membentuk kesan dalam benak netizen bahwa ibu Saeni adalah orang tidak mampu yang tertindas. Inisiatif mengumpulkan sumbangan dicetuskan. Terkumpullah dana sebesar Rp 172,8 juta rupiah – berdasarkan catatan Radar Banten. Jumlah yang cukup untuk membangun satu warung warteg lagi bagi ibu Saeni.

Belum lagi tambahan donasi Rp 10 juta dari presiden Jokowi. Kerugian sekitar Rp 600 ribu akibat barang dagangan di sita, memicu pendapatan beratus-ratus juta karena liputan media massa. Luar biasa beruntungnya. Semoga tak ditiru pihak lain yang berniat melawan aturan.

Sekali lagi jangan salahkan aksi sosial seperti ini, yang kiranya jatuh kepada orang kaya pelanggar aturan. Allah mengetahui potensi hamba-Nya untuk berbuat kebaikan. Uang yang terkumpul bisa dipergunakan oleh ibu Saeni untuk kebaikan. Berita lain, kabarnya Bu Saeni akan memanfaatkan uang itu untuk Umroh.

Hanya saja sosok seperti ibu Saeni ini dibutuhkan oleh sebagian pihak sebagai icon untuk melawan perda yang mengganggu agenda liberalisasi. Di Kota Serang, juga di seluruh Indonesia, ada banyak pengusaha warung makan yang terkena penindakan karena melawan aturan tentang berjualan di bulan Ramadhan. Karena perda seperti itu berlaku juga di berbagai kota di Indonesia. Butuh satu icon untuk di-make-over sedemikian rupa sehingga menjadi lambang perlawanan untuk aturan-aturan semacam ini.

Selain pemberitaan yang menumbuhkan simpati, ikonisasi ibu Saeni akan semakin sempurna dengan penggalangan dana. Sehingga semakin mengesankan perda larangan warung makan berjualan di siang hari Ramadhan hanya menindas rakyat kecil.

Apapun agendanya, aksi sosial adalah mulia. Semoga orang yang berdonasi dengan niat baik disempurnakan palahanya oleh Allah. Dan semoga dengan kebaikan itu, Allah memberi mereka hidayah untuk melihat yang haqadalah haq, dan yang bathil adalah bathil, tanpa mudah tertipu giringan opini media massa.

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2016 in Artikel Umum

 

Pengalaman Berbelanja di Planet Haji Umroh

Planet Haji Umrah

Ramadhan menuntut persiapan bagi para petarung yang ingin berjuang menggapai pahala di arena tersebut. Karena saya seorang muslim yang ingin memaksimalkan Ramadhan, maka saya juga harus melakukan berbagai persiapan menyambut Ramadhan. Terutama untuk Ramadhan tahun 1437 H ini.

Maka saya izin cuti kantor setengah hari pada Jumat, 3 Juni 2016 untuk berkunjung ke pembukaan Planet Haji Umrah di Thamrin City lantai 3A. Mau apa lagi di sana selain belanja? Yah… Ramadhan memang butuh modal. Saya berniat cari kurma untuk bekal buka selama Ramadhan. Karena saya lebih memilih buka puasa di kantor daripada harus bermacet-macet di jalan. Setelah berbuka jalanan biasanya lengang sehingga saya bisa sampai di rumah pas adzan Isya’. Karena itu butuh bekal kurma untuk berbuka di kantor.

Selain itu, saya juga ada kopdar dengan sesama rekan blogger pada acara pembukaan Planet Haji Umrah (PHU) tersebut.

PHU adalah kawasan yang menawarkan tempat belanja yang didalamnya lengkap ada biro haji umrah, toko perlengkapan dan oleh-oleh haji umrah sekaligus. Juga ada toko buku, karena dulunya di sini pusat penjualan buku.

Memanfaatkan jasa ojek online, saya sampai di PHU sekitar jam 3 kurang. Acara pembukaan sudah dimulai. Saya sempat melihat peresmiannya yang berupa aksi pemukulan bedug. Tetapi sebelum bedug dipukul, ada atraksi silat yang bermaksud memperkenalkan budaya betawi.

Atraksi silat di pembukaan Planet Haji Umrah

Panitia pembukaan PHU ini memang banyak mengundang para blogger. Asma Nadia termasuk salah satunya.

Sempetin selfie... Fotonya gak perlu bagus-bagus amat. disesuaikan dengan tampang. wehehe

Sempetin selfie… Fotonya gak perlu bagus-bagus amat. disesuaikan dengan tampang. wehehe

Acara pembukaan selesai bertepatan dengan waktu Ashar tiba. Setelah menunaikan sholat Ashar, saya dan beberapa teman berjalan-jalan melihat pertokoan yang ada di lantai 3A Thamrin City.

Salah satu toko yang saya kunjungi adalah toko Putra Kudus yang menjual makanan khas oleh-oleh bagi jamaah haji dan umrah.

Toko Putra Kudus di Planet Haji Umrah

Di toko itu, saya membeli setengah kilogram kurma Ajwa, setengah kilogram kismis, dan setengah kilogram kacang Arab. Pulang kerumah sudah mirip seperti pulangnya jamaah umrah. 😀

Saya juga menyempatkan mampir ke toko Arasy yang disambut dengan hangat oleh ibu Ice.

 

Saya tertarik dengan coklat yang mirip seperti batu kerikil. Rasanya pun enak. Harganya juga lumayan 😀 . Rp 75 ribu hanya dapat seperempat kilo. Tapi karena saya suka, saya beli juga.

Toko Arasy Planet Haji Umrah

Dan mengakhiri jalan-jalan, kurang lengkap kalau tidak membawa pulang sebuah buku dari toko buku Kwitang yang masih berada di area Planet Haji Umrah. Sebuah buku berjudul Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara menjadi pelengkap tas ransel saya hari itu.

Toko Buku Kwitang

Sebenarnya banyak yang menarik di area PHU. Ada replika unta, pohon kurma asli, dupa, booth selfie kabah sehingga mirip suasana Timur Tengah. 

PHU ini adalah kawasan yang menawarkan tempat belanja yang didalamnya lengkap ada biro haji umrah, toko perlengkapan dan oleh-oleh haji umrah sekaligus.

Bagi Anda yang hendak menunaikan ibadah Haji dan Umrah, tak perlu lagi direpotkan membawa pulang seabrek titipan oleh-oleh dari rekan di tanah air. Beli saja di PHU ini. Di tanah suci, Anda bisa fokus beribadah.

 
1 Comment

Posted by on June 7, 2016 in Orat Oret

 

Tiga Tantangan Untuk Duta Pancasila

Adakah yang dari kemarin menanti-nanti apa kiranya yang akan diperbuat Duta Pancasila kita, Zaskia Gotik, di Hari Lahir Pancasila ini? Rasanya baru-baru ini saja bangsa Indonesia punya Duta Pancasila. Diangkat dari biduanita dangdut yang punya goyangan khas di panggung yang pernah – sebagian masyarakat menganggapnya – melecehkan Pancasila dengan candaan “bebek nungging” saat ditanya lambang sila ke lima Pancasila di sebuah acara televisi. Selayaknya masyarakat penasaran dengan gebrakan yang akan dilakukan orang tersebut di Hari Lahir Pancasila.

Nama asli Zaskia Gotik adalah Surkianih. Kata Gotik berasal dari singkatan Goyang Itik. Penyanyi ini memang terkenal dengan jogetannya di panggung yang meniru goyangan itik ketika berjalan. Kita tahu, ekor itik akan bergoyang-goyang ketika berjalan. Dan itu yang dilakukan Zaskia Gotik saat bernyanyi di depan publik. Dan itu lah profil Duta Pancasila yang dimiliki negara ini: seorang penyanyi yang suka menggoyangkan pinggulnya di depan masyarakat.

Adalah Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa MPR yang mengangkat Zaskia Gotik menjadi Duta Pancasila, 7 April 2016 lalu. Ketua Fraksi PKB di MPR, Abdul Kadir Karding secara blak-blakan meminta Zaskia Gotik untuk mengisi posisi yang belum pernah ada itu. “Saya dorong ‘Mbak Zaskia sekalianlah Anda jadi Duta Pancasila’,” akunya kepada media.

Mungkin posisi itu hanya klaim FPKB MPR RI saja. Karena Ketua MPR Zulkifli Hasan sendiri menyayangkan. “Justru ini lampu merah bagi kami,” ujarnya.

Dan keterpilihan Zaskia Gotik menjadi Duta Pancasila pun menimbulkan tanya, “Seriuskah bangsa ini dengan Pancasila, yang diaku sebagai ideologi bangsa sendiri?” Anggaplah Zaskia Gotik akan sungguh-sungguh menyandang gelar “Duta Pancasila”. Di depan, ada beberapa tantangan terhadap Pancasila yang harus dijawab oleh bangsa Indonesia. Duta Pancasila, siapa pun itu andai gelar ini benar-benar ada, sudah seharusnya berada paling depan melawan tantangan-tantangan itu.

Tantangan Moral

Pancasila mengandung ajaran moral. Dulu pernah ada mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diajarkan di sekolah hingga perkuliahan. Sampai kemudian pelajaran itu diganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Rezim Orde Baru juga menggiatkan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Semua itu adalah upaya pemerintah menyosialisasikan ajaran-ajaran moral yang dirumuskan dalam butir-butir Pancasila.

Tak ada tolak ukur yang jelas soal keberhasilan sosialisasi ajaran ini. Angka kriminalitas di zaman Orde Baru tetap tinggi. Bandit-bandit yang meresahkan ditangani dengan aksi penembakan misterius atau Petrus oleh aparat pada tahun 80-an. Bukan dengan penyadaran akan pentingnya berpijak pada moral Pancasila. Perjudian merajalela dan dilegalkan dalam bentuk Porkas hingga SDSB, sampai akhirnya dihapus karena portes ulama dan umat Islam. Birokrasi yang terbiasa mendapat penataran P4 malah menjadi pusaran korupsi yang dilakukan dengan berjamaah.

Pancasila yang dipaksakan menjadi asas tunggal di zaman Orde Baru hanya menjadi “kitab beban angkut keledai”. (Meminjam perumpamaan yang Allah SWT sebut pada Al-Qur’an surat Al-Jumuah ayat 5). Kenyataannya, ajaran moral Pancasila tak total diamalkan bangsa ini.

Zaman reformasi, pentaran P4 dihapus. Sementara bangsa ini ingin agar Pancasila tetap menjadi ideologinya. Ajaran moral Pancasila diharap dapat eksis di tengah kelompok remaja yang kemarin ini memenuhi headline media massa dengan berita pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun, Eno Parinah, dan nama lainnya yang tak populer. Atau di tengah aparat dan birokrat yang punya oknum yang sering kedapatan berada di hotel dengan pasangan yang tak sah saat jam kerja. Atau di tengah penegak hukum yang bertebaran oknum yang ditangkap KPK. Pancasila juga diharap tetap dihayati masyarakat yang mengidolakan pejabat yang berkata kasar di depan publik (yang penting tidak atau belum ketahuan korupsi, kata mereka). Juga pada acara-acara dangdutan yang biduannya bergoyang seronok di depan anak-anak (sebagian masyarakat berpandangan goyang itik Zaskia Gotik termasuk yang tak pantas).

Tantangan seperti itu kah yang dijawab dengan memasang Zaskia Gotik sebagai Duta Pancasila?

Ideologi Terbuka

Ideologi Pancasila bersifat terbuka, yang berarti fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Perumusan ajaran Pancasila melibatkan banyak pihak. Termasuk Orde Baru yang leluasa merumuskan butir-butir Pancasila untuk dihafalkan oleh para siswa. Namun rezim Orde Baru dengan pemaksaan asas tunggalnya telah menjadikan Pancasila sebagai ideologi tertutup.

Dan pada politik aliran yang menggejala di negara ini, keterbukaan ideologi Pancasila menjadi ajang pertarungan wacana antara kaum Islamis dan sekuler.

Kaum Islamis menganggap Pancasila adalah milik umat Islam. Tokoh Islam terkemuka di negara ini, almarhum Buya Hamka, menafsirkan sila pertama sebagaimana ajaran Islam tentang Allah, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Esa. Dengan pemahaman yang seperti itu, umat Islam bisa menerima Pancasila, apalagi setelah disambung dengan Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia ini adalah berkat karunia Allah. Semua konsep yang disebutkan dalam Pancasila, seperti kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial, semuanya lahir dari konsep ketuhanan itu sendiri.

“Kita tidak anti Pancasila, bahkan kitalah pembela dan pengamal Pancasila. Bukan dengan pidato, bukan dengan gembar-gembor, tapi dengan amal dan perbuatan kita sehari-hari,” Begitu pernyataan Buya Hamka sepeti dikutip dari buku “Buya Hamka, Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme” karya Akmal Sjafril.

Di sisi lain kalangan sekuler menjadikan Pancasila sebagai tameng dari hasrat kaum Islamis yang ingin menjadikan undang-undang yang berlaku di Indonesia memiliki jiwa syariah. Slogan yang tertulis pada pita yang digenggam jemari kaki Burung Garuda yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika” menjadi alasan mereka menolak ajaran-ajaran agama manapun terimplementasi dalam undang-undang. Kemajemukan suku dan agama di negara ini tak boleh dikalahkan oleh pemaksaan kehendak satu golongan, begitu argument mereka.

Dalam pertaruhan dialektika yang terjadi pada gelanggang “ideologi terbuka” itu, sejauh mana seorang Duta Pancasila mampu mendudukkan tiap aspirasi dengan adil?

Ancaman Laten Komunis

Pemberontakan yang paling menyejarah yang terjadi di negara ini adalah G30S/PKI pada tahun 1965. Ideologi Pancasila diakui “kesaktiannya” setelah melewati masa yang genting dari pemberontakan itu. Tanggal 1 Oktober pun dicanangkan sebagai hari kesaktian Pancasila, mengenang jayanya Pancasila atas rong-rongan kaum komunis yang ingin menyisihkan Pancasila sebagai dasar negara.

Orde Baru memperkenalkan istilah “bahaya laten komunis” karena menyadari potensi kebangkitan ideologi ini. Aparat di zaman Orde Baru masih menemukan upaya penyebaran ajaran komunis. Ada yang berhasil ditangkal, ada yang lolos sembunyi-sembunyi.

Sekarang aroma kebangkitan komunis kian terasa mendompleng keran kebebasan yang dibuka oleh reformasi. Indikasi itu sudah tercium oleh aparat. Belakangan beberapa kali media massa mengabarkan tentang anak muda yang ditangkap karena mengenakan kaos berlambang PKI. Mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal (Purn), Kivlan Zen sampai menyatakan siap berperang melawan komunisme gaya baru.

Kader-kader komunis akan selalu mengincar Pancasila untuk diganti dengan ideologi pilihan mereka. Sekali lagi, ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh masyarakat Indonesia. Bisakah Duta Pancasila berdiri terdepan menghadang arus kebangkitan komunisme?

Mungkin bangsa ini sejatinya memang memerlukan Duta Pancasila. Tetapi semestinya yang dipilih adalah orang yang bermoral luhur, berprestasi, dan punya wawasan yang luas. Ia lah yang akan menjadi panutan rakyat dan bisa diandalkan untuk menghadapi berbagai tantangan yang merong-rong Pancasila.

 
2 Comments

Posted by on June 2, 2016 in Artikel Umum