RSS

Jangan Dekati Masjid Kami Bila Hanya Ingin Cari Keributan!

Kalau niat tuan suduh buruk, memang bisa tuan mengendap ke dalam majelis-majelis agama untuk mencuri dengar dan mencari hal yang bisa dijadikan bahan provokasi. Termasuk di dalam acara pengajian kami, di masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah swt di situ.

Ketika hanya Allah swt yang banyak disebut, tuan sudah mulai meradang. Tuan tuding kami fanatik, sektarian, bigot, dan kata-kata lain yang entah tuan dapat dari mana. Tak heran, perangai tuan itu sudah dikabarkan dalam Al-Qur’an.

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS Az Zumar: 45)

Ketika sang ustadz menyebut bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Azza wa Jalla; ketika dibahas bahwa hanya Islam agama yang haq, dan agama selain itu bathil; tuan akan meradang lebih hebat. Tuan sangkakan kami anti toleransi, anti kebhinekaan.

Ketika dibaca ayat Al-Qur’an bahwa Tuhan Maha Suci dari memiliki anak atau dilahirkan, tuan akan temukan bahan untuk menghasut ketentraman penganut agama lain.

Ketika dilantunkan ayat Al-Qur’an surat Maryam 90-91, tuan akan semakin bersemangat untuk mengadu domba antar umat beragama.

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak,” bunyi ayat itu.

Ketika dikaji secara logika Al-Qur’an, keganjilan konsep politeisme, atau rapuhnya klaim-klaim ketuhanan selain Allah swt, tuan akan berang bercampur suka cita mendapat alasan untuk mengintimidasi kami.

Ketika dibahas tafsir Al-Fatihah memasuki ayat terakhir tentang makna Al-maghdhub dan Adh-dhollin, juga ayat tentang kelompok yang “selamanya tak akan ridho”, atau tentang kaum bebal laksana keledai pemanggul kitab, tuan bisa jadikan itu untuk menuduh kami umat yang anti kedamaian.

Jauh-jauh lah. Kami berlindung kepada Allah swt dari kejahatan makhluk seperti tuan.

Konsep teologi tiap agama pasti saling bertentang paham. Apa yang dikaji di masjid, akan menafikan apa khutbah para pendeta. Begitu pun sebaliknya, apa yang kami yakini akan dibantah di rumah-rumah ibadah mereka.

Kami tak kan pernah permasalahkan sama sekali apa yang dibahas di sana. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Hanya saja mari kita bersepakat, bahwa setiap kajian agama teologis ini hanyalah untuk kalangan sendiri. Maka tak perlu tuan yang beragama lain mencuri dengar dari kajian kami. Pun kami tak ada keperluan menguping apa yang pemuka agama lain khotbahkan.

Selama itu dipegang erat, kedamaian umat beragama akan terjaga. Namun bila orang seperti tuan datang dengan membawa provokasi, menyampaikan apa yang dikaji di masjid kepada jamaah gereja, pura, dan wihara; atau sebaliknya; maka terancamlah kerukunan yang berharga itu.

Kami serahkan kepada Allah swt.

Disadur dari pernyataan tertulis ustadz Fahmi Salim yang dikutip Republika[dot]co[dot]id, 19 Agustus 2019, ada kisah yang diceritakan Buya Hamka seperti di bawah ini:

Dalam rubrik “Dari Hati ke Hati” di Majalah Pandji Masjarakat, Buya Hamka menceritakan kisah nyata persekusi yang dialami oleh KH SS Djam’an, ulama terkenal pada tahun 1960-an.

Saat memberikan pengajian di rumah warga masyarakat, ia (KH SS Djam’an) menjelaskan tafsir firman Allah ayat 4-5 surah al-Kahfi tentang makna Tauhid yang murni dan menyesatkan paham trinitas.

Rupanya, ada yang nguping menginteli pengajian tersebut.

Selepas pengajian, saat hendak pulang Kiai Djam’an dikepung sekumpulan pemuda berbadan kekar dan sangar, sambil meneriakkan kalimat, “Anda anti-Pancasila!”

Buya Hamka menulis, “Kita disuruh toleransi. Toleransi dengan tafsiran bahwa kita jangan atau dilarang menerangkan akidah kita. Siapa yang berani menerangkan akidah kita, maka rumahnya bisa dikepung atau bisa diproses.” Demikian sindir Buya Hamka, mencontohkan kejadian yang menimpa Kiai Djam’an itu.

Dahulu, tahun 1960, Buya Hamka pernah berkhutbah di Masjid Agung Al Azhar bahwa di Indonesia saat ini Islam dalam bahaya akibat wabah intoleransi dan tudingan anti-Pancasila oleh organ-organ Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme –Red) kepada partai Islam, ormas Islam dan tokoh-tokoh ulama Islam. Rupanya, khutbah Buya Hamka itu sampai juga ke telinga Bapak Sukarno, presiden dan pemimpin besar revolusi yang ditabalkan oleh Nasakom.

Ia (Presiden Sukarno) lalu bereaksi dan menyatakan dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di istana negara, “Ada orang yang mengatakan Islam dalam bahaya di republik ini. Sebenarnya, orang yang berkata itu sendirilah yang sekarang dalam bahaya.”

Tak lama kemudian, pada tahun 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rezim Nasakom dengan tuduhan hendak menggulingkan pemerintah, berencana membunuh presiden dan menteri agama, dan kontra-revolusi.

Rupanya, kata-kata bapak Presiden itu adalah isyarat bahwa Buya Hamka sudah diincar dan jadi target persekusi dan kriminalisasi ulama di era kejayaan komunis di bawah naungan rezim Nasakom.

Tampaknya, sejarah kembali berulang.

Tidak pada tempatnya memperkarakan tokoh agama yang berceramah agama ditujukan kepada penganut agamanya sendiri, apalagi disampaikan di tempat khusus seperti rumah ibadah.

Tujuannya adalah memperkuat keimanan pemeluknya.

Itu bukan mencela atau menista tuhan agama lain.

Ayat yang menyatakan, jangan kamu mencela sesembahan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah itu sangat jelas maknanya, larangan mencela secara terbuka dan tanpa landasan ilmu pengetahuan, tujuannya semata-mata untuk memperkeruh toleransi umat beragama dan menciptakan situasi chaos dalam masyarakat beragama.

Jika peneguhan akidah disampaikan kepada internal umat dengan membandingkan dengan konsep tuhan-tuhan agama lain, tidak dengan tujuan merusak harmoni sosial, maka tidak ada alasan logis dan legal untuk mengharamkannya karena itu adalah bagian dari dakwah agama.

Seperti ayat-ayat Alquran mengecam kemusyrikan dan kekafiran Ahli Kitab dan musyrikin Quraish, aapakah lalu kemudian boleh memperkarakan dan memidanakan ayat-ayat Allah?

Zico Alviandri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2019 in Artikel Umum

 

Bau Kematian, Antara Muslim dan Islamophoba

Terbuat dari apa hidung yang hanya mencium bau kematian menjelang Idul Adha saja? Padahal kematian itu selalu ada di dekat kehidupan manusia. Sejak sebelum Idul Qurban, Kashmir sedang dibombardir. Sudah biasa jatuh korban nyawa di sana.

Oh, mungkin mereka hanya terenyuh bila kematian itu pada hewan? Kalau begitu apakah mereka mencium bau kematian ketika lewat gerobak tukang sayur? Ikan, ayam, atau daging sapi selalu tersedia tiap hari. Atau pileknya cuma sembuh di bulan Dzulhijjah?

Saya tidak tahu apakah penyayang hewan itu suka main ke kebun binatang. Yang jelas, di sana harimau tidak akan diberi makanan semur jengkol atau terong balado. Selalu ada bau kematian demi menghidupi hewan-hewan carnivora.

Apakah penyayang hewan yang menggugat ibadah qurban itu pilih kasih? Makanan binatang peliharaan seperti kucing dan anjing adalah daging olahan. Apakah mereka tak mencium bau kematian ketika memberi pakan hewan kesayangan?

Main ke alam bebas, lebih sadis lagi. Singa akan membunuh Heyna, vise versa. Kematian seekor hewan bukan cuma karena alasan ingin dimakan, tak jarang karena persaingan hukum rimba.

Bau kematian ada di mana-mana dan kapan saja. Jangan lah sok jadi pahlawan saat Idul Adha saja.

Dan kalau mereka mengategorikan bakteri itu sebagai hewan, apakah masih mau minum obat batuk? Jangan jauh jauh, kalau ada nyamuk menghisap darah mereka, apa ga ditepokin?

Saya pernah lihat sebuah kartun yang lucu. Seseorang melepas burung yang ada dalam sangkar. “Pergilah! Bebaslah!” ujarnya. Baru beberapa meter burung itu terbang, seekor elang datang memangsanya. Akhirnya penyayang hewan itu blunder sendiri. Apa yang ia sangka sikap menyelamatkan, rupanya jalan kematian bagi binatang tersebut.

Artinya, apa yang manusia kira sebagai cara menyayangi hewan, belum tentu itu yang terbaik bagi hewan tersebut.

Setiap perilaku dan pemikiran yang mencoba melawan kodrat yang berlaku dalam kehidupan akan menjadi lucu.

Dari awal keberadaan manusia, hewan sudah menjadi makanan makhluk paling superior di muka bumi. Lalu kalau itu disalahkan, apakah mereka tidak berfikir bahwa tumbuhan yang mereka makan pun makhluk hidup? Pohon singkong, jahe, bahkan pohon toge juga berhak merasakan kehidupan. Pohon kemangi punya hak tumbuh dengan daun-daunnya. Apakah mentang-mentang manusia tidak bisa melihat ekspresi tanaman, lantas tak bisa dicium bau kematian pada makhluk itu?

Alhamdulillah Islam berdiri pada argumen yang jelas soal kehidupan. Pertama, manusia adalah khalifah (ups.. keceplosan) di muka bumi. Kedua, langit dan bumi dan seisinya Allah swt buat tunduk untuk manusia. Boleh dimanfaatkan. Termasuk hewan.

Tapi kemudian, ketiga, Islam ingatkan bahwa benda-benda (hidup atau mati) selain manusia pun berdzikir kepada Allah. Binatang, tumbuhan, dan gunung itu hidup dan memuji-Nya.

Karena itu, keempat, Islam ajarkan akhlak untuk manusia. Ada larangan untuk menyakiti hewan.

Maka meskipun harus membunuh agar bisa makan, Islam ajarkan cara membunuh yang terbaik.

Rasa sakit yang dijumpai saat kematian, akan hewan-hewan itu alami juga walau pun tidak disembelih oleh manusia. Ketika hewan itu tua atau sakit, tak kan bisa mengelak dari pedihnya sakaratul maut. Apalagi saat jadi mangsa binatang buas. Cakaran dan gigitan pasti sangat menyiksa.

Termasuk menjadi hikmah bagi pequrban adalah merenungi sakaratul maut yang akan dihadapi. Bau kematian selalu ada di sekitarnya, dan kelak orang-orang akan mencium itu dari dirinya.

Mungkin penggugat ibadah qurban itu terlalu ekstrovert. Syariat ini hadir untuk memberi peringatan bagi manusia. Bukannya dijadikan renungan untuk diri sendiri, malah memikirkan hewan yang tak kan ada balasan abadi setelah kematian atas perbuatan selama hidup.

Akhirnya, bau kematian memberi kecerdasan bagi muslim yang mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, dan hanya menjadi tunggangan bodoh bagi islamophobia.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2019 in Artikel Umum

 

Jangan Biarkan Islamophobia Menjegal Putra-Putra Terbaik Bangsa

Enzo Zenz Allie adalah salah satu putra bangsa terbaik yang punya kesempatan untuk mengabdi kepada negara ini di jalur militer. Di usianya yang muda, ia sudah mendapatkan “cobaan” seperti yang dirasakan pohon sengon. Sebagaimana pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang diterpa angin. Artinya, semakin tinggi reputasi seseorang semakin deras ujian menimpanya.

Tapi Enzo masih muda. Masih berusia 18. Terlalu dini mendapatkan tuduhan anti NKRI dan terpapar HTI hanya karena di akun media sosialnya terdapat foto di mana ia membawa bendera tauhid. Yang memfitnahnya pun bodoh, tidak bisa membedakan mana bendera tauhid mana bendera HTI.

Enzo, Taruna Akmil tampan keturunan Prancis, telah menunjukkan prestasinya lulus menghadapi ujian masuk Akademi Militer. Setidaknya menguasai empat bahasa, Indonesia, Inggris, Perancis, dan Jerman. Sedangkan para pemfitnahnya, belum tentu tampan, dan berbahasa Islamophobia. Enzo berada di jalur yang benar untuk membela bangsa, sedang pemfitnahnya hanya pahlawan kesiangan dengan kelakuan memecah belah bangsa. Kurang bebal apalagi orang yang tak kunjung paham dijelaskan bahwa bendera Tauhid milik seluruh umat Islam, bukan punya HTI?

Alhamdulillah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi telah menyatakan bahwa Enzo bersih dari paham radikalisme. “Tidak (radikal). Kita kan ada sistem seleksi yang berbeda dengan seleksi orang mau kerja shift siang, shift malam. Ini untuk megang senjata dia. Jadi sudah selektif,” terangnya. “Kemudian potensi ekstremnya kita bisa baca di hasil psikotes, di hasil kepribadiannya. Kebaca di situ ini anak begini begitu. Kalau nggak lolos, dia kecoret di situ. Pada saat seleksi MI (mental ideologi) itu, selain tertulis juga ada wawancara, pada saat wawancara, pewawancara itu bawa laptop, ditanya kamu punya akun medsos apa, ya akun saya ini, ini, ini, setiap orang ditanya hal yang sama,” ujarnya lagi kepada media.

Bahaya bila islamophobia dan tauhidphobia semakin tak terkendali dan membabi-buta membunuh karakter putra-putra terbaik bangsa.

Penyakit islamophobia lain misalnya mempersoalkan tumbuhnya semangat berislam di kampus-kampus. Ada yang menyindir, “kalau mau mencari ustadz, jangan di pesantren, tapi di kampus.” Lho, memangnya untuk menjadi taat harus lulus pesantren dulu? Kalau lulusan kuliah non agama, tidak boleh mendalami ilmu agama?

Dari kampus-kampus itu tampil lah orang-orang cerdas yang siap mengabdi untuk negara sebagai PNS, atau bekerja di BUMN, atau posisi lain. Tak dipungkiri, selain mereka yang berpenampilan Islami pun juga banyak putra bangsa yang punya potensi hebat. Hanya saja, jadi tak adil kalau kompetensi terdegradasi karena tampilan agamis.

Jenggot dan jilbab lebar bagi sebagian kalangan yang bebal dijadikan indikasi radikalisme. Simbol-simbol di atas banyak di temukan di kalangan aparatur negara serta pegawai BUMN. Lantas mereka pun cemas dengan nasib negara yang dikelola “radikalis”. Halah, kayak mereka bisa lulus tes PNS aja.

Ketika ada anggota dewan yang bangga menyatakan menjadi anak PKI, kalangan Islamophobia itu tak cemas dengan nasib bangsa.

Uniknya fenomena semangat keislaman yang tinggi itu banyak ditemukan di fakultas eksakta seperti MIPA. Sebenarnya bisa dipahami. Di ilmu eksaksta mudah ditemukan kebesaran Allah swt. Yang berada di jurusan Biologi akan melihat kekuasaan Allah swt dalam kehidupan yang sangat kecil dalam bentuk sel. Sedang yang kuliah di astronomi akan melihat benda-benda langit yang luar biasa besarnya.

Islamophobia kini menemukan ajang berekspresi dalam bentuk anti-HTI. Dengan itu mereka menyerang membabi buta. Bendera tauhid, jenggot, jilbab, cadar, disangkut pautkan dengan HTI. Akhirnya banyak jatuh korban dari pembunuhan karakter seperti itu, tak terkecuali putra-putra terbaik bangsa yang mengabdi untuk negara.

Ah… Andai ditemukan bendera Tauhid di pohon sengon yang dipermasalahkan kemarin, tentu makin kencang lagi suara mereka.

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2019 in Artikel Umum

 

Jilbab yang Kian Gencar Digugat

Memperdebatkan siapa yang salah (laki-laki atau perempuan) dalam kasus pelecehan seksual sama seperti berdebat tentang siapa yang lebih dahulu ada, ayam atau telur. Tak kan ada habisnya.

Karena tiap kasus tak sama. Yang jelas, yang sudah pasti bersalah adalah si pelaku. Konteks tulisan ini untuk kasus yang menimpa wanita. Maka, laki-laki pasti bersalah.

Memang, tiap orang dituntut bersikap preventif agar tidak menjadi korban atas kejahatan apa pun bentuknya. Tapi menyeret kaum Hawa sebagai biang kerok, belum tentu tepat juga. Tidak menutup kemungkinan wanita yang telah menjaga diri dengan baik masih menjadi korban. Sedangkan pelaku kejahatan tak akan pernah mendapat pembenaran karena tergoda oleh penampilan seronok.

Hikmah Perintah Jilbab

Islam memberi solusi bagi wanita agar terhindar dari pelecehan seksual, yaitu jilbab. Turunnya surat Al Ahzab ayat 59 yang memuat perintah berjilbab berkenaan langsung dengan peristiwa pelecehan terhadap wanita oleh orang-orang jahat di Madinah. Terutama pada frasa “falaa yu’dzain”. (Sehingga mereka tidak diganggu)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut dijelaskan begini:

“Bahwa dahulu kaum lelaki yang fasik dari kalangan penduduk Madinah gemar keluar di malam hari bilamana hari telah gelap. Mereka gentayangan di jalan-jalan Madinah dan suka mengganggu wanita yang keluar malam. Saat itu rumah penduduk Madinah kecil-kecil. Bila hari telah malam, kaum wanita yang hendak menunaikan hajatnya keluar, dan hal ini dijadikan kesempatan oleh orang-orang fasik untuk mengganggunya. Tetapi apabila mereka melihat wanita yang keluar itu memakai jilbab, maka mereka berkata kepada teman-temannya, “Ini adalah wanita merdeka, jangan kalian ganggu.” Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, “Ini adalah budak,” lalu mereka mengganggunya.”

Adalah salah bila menyangka jilbab otomatis menghilangkan risiko pelecehan. Dan juga salah bila menyangka wanita yang tak mengenakan jilbab wajar bila dilecehkan.

Syariat menutup aurat dilakukan dengan motivasi dasar untuk patuh atas perintah Allah swt, Sang Pencipta Manusia yang paham atas watak makhluk-Nya. Itu pertama. Lalu hikmah yang menyertai syariat tersebut adalah bonus yang diperoleh dengan syarat yang kondisional

Layaknya hikmah berpuasa agar sehat. Umat muslim menahan lapar dan dahaga seharian adalah karena ibadah. Peluang menjadi sehat karena shaum tersebut, sangat besar. Tapi tidak serta merta. Karena kadang berlaku sebaliknya yang membuat sakit tambah parah sehingga ada rukshoh (keringanan) dalam aturan puasa.

Begitu juga hikmah dalam ibadah lainnya.

Artikel Menghebohkan Tentang Jilbab

Belakangan ini beredar artikel yang membantah jilbab mencegah pelecehan seksual. Judulnya cukup bombastis. “17% Korban Pelecehan Seksual Perempuan Berhijab, Kamu Masih Menyalahkan Pakaian Terbuka”.

Aura yang terasa dari judul tersebut adalah jangan salahkan pakaian seksi karena jilbab pun bisa dilecehkan. Atau, jilbab sudah tidak relevan dalam menghindari pelecehan seksual.

Tentu terdengar janggal. Mudah menghitung berapa persen yang tak berhijab yang terkena pelecehan, yaitu 83%. Pertanyaannya, kenapa judulnya tidak dibuat “83% Korban Pelecehan Seksual Perempuan Tidak Berhijab, Kamu Masih Mau Berpakaian Terbuka?”

Tapi tidak nyaman rasanya kampanye hijab sambil menyalahkan mereka yang menjadi korban. Judul artikel di atas memancing hal itu. Karena logika yang aneh dari si penulis.

Sama seperti mempersoalkan sebuah titik hitam di kertas putih polos. Yang digugat adalah hal kecil, dengan menghiraukan warna yang dominan.

Tak kalah menggelitik, pola pikir yang malah mempersoalkan pihak yang sudah lebih ketat berupaya preventif.

Dengan gaya berpikir seperti itu, saya menyarankan si penulis untuk menyurvei rumah-rumah yang kecurian. Lalu bisa bikin judul tulisan: “99% Pencurian Terjadi di Rumah yang Terkunci, Masih Menyalahkan Rumah yang Pintunya Dibiarkan Tidak Terkunci?”

Saya menghargai bila penulis mengajak agar orang-orang tidak lebih galak pada korban pelecehan daripada pelaku. Tapi tidak dengan menyinggung hijab.

Agitasi Melawan Jilbab

Artikel di atas adalah rangkaian dari gugatan-gugatan terhadap syariat menutup aurat. Selain ini, ada yang mempertentangkan kebaya dengan hijab. Dikatakannya kebaya adalah pakaian asli Nusantara, dan hijab itu ke-arab-araban.

Padahal dalam salah satu pendapat, asal kata kebaya adalah dari bahasa Arab: abaya, yang berarti pakaian. Lagi pula kebaya bisa dipakai bersamaan dengan jilbab kok.

Ada juga celotehan yang bilang bahwa dulu tak ada pelecehan seksual ketika pakaian wanita terbuka. Namun ketika Islam datang, pelecehan marak.

Padahal kasus perkosaan telah terjadi sejak zaman dulu kala. Celotehan tersebut tak lebih hanya provokasi dan ujaran kebencian.

Kalau manusia dilegalkan mengambil setiap barang yang dia lihat, tentu tak ada kejahatan pencurian. Begitu logikanya.

Untuk menggugat jilbab dituduhkan juga bahwa ini hanyalah fenomena belakangan saja, sejak 80an. Islam masuk sejak lama dengan damai ke Indonesia, tapi tak ada wanita yang berjilbab. Begitu katanya.

Tapi kemarin beredar foto wanita Minangkabau di Payakumbuh tahun 1800an yang berjilbab panjang. Pahlawan Nasional di zaman kemerdekaan HR Rasuna Said pun mengenakan hijab.

Saya khawatir ke depannya makin bebas saja orang-orang merendahkan ajaran Islam di negara ini. Entahlah, seperti ada pemantik yang membuat mereka makin buas. Entah itu kemenangan dalam kontes demokrasi, entah apa…

 
Leave a comment

Posted by on July 23, 2019 in Artikel Umum

 

Beritahu Mereka, Islam Sesuai dengan Fitrah Manusia!

Dalam video-video youtube tentang kisah perjalanan menjadi mualaf, terungkap bahwa kebanyakan mereka dulunya berpandangan negatif terhadap Islam. Bahwa muslim itu teroris, agamanya mengajarkan kekerasan, dsb. Citra begitu didapat dari agitasi media.

Hingga Allah merancang suatu kejadian dan akhirnya mereka tahu bahwa Islam memuat ajaran yang lurus, yang sesuai dengan jiwa fitrah umat manusia yang menyukai kebaikan. Tak seperti yang ditonton, dibaca, atau didengar selama ini.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30)

Akhir ayat di atas memuat pelajaran, tanpa konten keji media pun banyak manusia yang tidak tahu bahwa Islam adalah agama yang cocok dengan jiwa mereka. Ajaran Islam tak mengekang naluri dasar manusia dalam melampiaskan nafsu, hanya mengaturnya agar tidak terdominasi syahwat. Dan dalam kebutuhan ruhani untuk menyembah sesuatu Yang Agung, Islam memperkenalkan Tuhan dengan deskripsi yang sangat bisa diterima.

Hanya saja, manusia kebanyakan tidak tahu. Bisa karena tertutup info yang salah, atau tak sampai dakwah kepadanya.

Padahal bila sudah mengenal Islam, sekalipun ia orang yang kritis dan kuat logikanya, ia akan menerima Islam sebagai agama yang benar. Justru semakin rasio dipakai, semakin kuat Islam menancap.

Tapi ada satu hal lagi syarat menerima Islam. Yaitu hati yang jujur dan mau pasrah terhadap kebenaran yang telah tersingkap. Jangan seperti kaum Tsamud.

“Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu…” (QS Fussilat: 17)

Karena itu, tugas kita lah untuk menyingkap kabut tebal kesamaran akan ajaran Islam. Dalam sikap, hingga melalui media sosial, apa pun sarana itu harus menjadi informasi bagi orang lain tentang hanifnya agama ini.

Bila kita telah menghantarkan hidayah, selanjutnya urusan mereka dengan kejujuran hatinya. Tapi jangan sampai ada orang dekat kita yang tidak tahu bahwa Islam sesuai dengan fitrah mereka.

Yang terjadi pada akhina Deddy Corbuzier, Allah swt telah mengantarkan tamu-tamu yang memerantarai hidayah kepadanya dalam acara Hitam Putih. Ketika masyarakat meributkan kata kafir, ia undang ustadz untuk memberi penjelasan. Sempat juga hadir di acaranya penghafal Qur’an cilik yang membuatnya terpukau.

Deddy seorang rasional. Dan ketajaman logikanya bertemu ajaran Islam yang selaras dengan fitrah manusia. Fitrah untuk mengibadahi Dzat Yang Maha Agung, juga menjalankan ajaran yang penuh kebaikan yang disenangi jiwa yang tidak mengekang naluri manusiawi.

Jadilah ia yang dikecualikan dari akhir Ar Ruum ayat 30. Ia sudah tahu bahwa Islam itu hanif dan sesuai fitrah. Hatinya yang jujur pun mengantarkannya bersyahadat pada Jumat 21 Juni 2019 kemarin di Pesantren Ora Aji, Yogyakarta.

Barokallah, semoga istiqomah akh Deddy.

 

Minang dan Simbol Segitiga

Surau-surau (masjid) kuno di ranah Minang banyak yang masih berdiri sampai sekarang. Usianya bahkan ada yang 500-an tahun. Seperti Surau Sicincin di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Bentuk bangunan-bangunan itu khas: atap berbentuk limas yang terbuat dari ijuk. Kalau ingat pelajaran matematika dari SD, tentu tahu bahwa limas itu sisi-sisinya berbentuk segitiga. Dan bentuk atap itu identik juga dengan Piramida di Mesir.

Tapi di luar bentuknya yang beratap limas/sisi segitiga, surau di Minangkabau memiliki konsep pendidikan yang baik untuk pemuda & anak-anak minang. Dikenal dengan sistem surau, di mana anak-anak belajar mengaji di sore hari, dilanjutkan dengan berlatih silat malam harinya, dan tidur pun di rumah Allah itu.

Yang paling prioritas buat umat Islam adalah mendiskusikan sitem yang baik dalam memakmurkan masjid. Agar dari sana tercetak jamaah dan generasi yang siap menjalankan Islam dengan kaffah.

Bangunan fisik masjid perlu juga dirawat dengan baik agar jamaah nyaman berada di dalamnya. Karpetnya yang nyaman, ruangan yang tidak pengap dan gerah, sound system yang baik. Tentu, segala simbol kemusyrikan harus dienyahkan di dalamnya, tapi bukan dengan sibuk mengorek-ngorek dan mengait-ngaitkan ornamen masjid dengan simbol kemusyrikan.

Al ‘umuru bi maqasidiha, setiap perkara tergantung dari niatnya. Begitu kata ulama merumuskan kaidah fiqh. Maka kita tidak perlu repot menggugat tiang listrik atau tiang jemuran yang berbentuk salib, seperti lambang Agama Kristen. Bentuk seperti itu sesuai kebutuhan.

Tak hanya surau, rumah adat Minangkabau juga unik dengan beberapa gonjong yang berbentuk tanduk pada atapnya. Kalau ditarik garis, bisa tergambar segitiga dari gonjong itu. Bahkan tanduk pun bisa mengingatkan pada lambang paganisme. Entah Baphomet, atau pentagram, tergantung bagaimana melihatnya.

Tapi adat Minangkabau punya slogan yang justru berlawanan dengan kehidupan pagan. Yaitu, adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Adat bersendi syariat, dan syariat bersendi kitabullah. Artinya, walaupun rumahnya begitu, tapi orang Minang disiplin mengamalkan Islam. Sehingga lahir dari sana sosok ulama seperti Syeikh Khatib Al Minangkabawi, Haji Rasul, Buya Hamka, Agus Salim, dll.

Bahkan kemarin ini ada yang menjuluki orang Minang “garis keras” dalam hal agama. Walau pun atap rumah adatnya begitu.

Yang paling prioritas buat umat Islam adalah menciptakan kehidupan sosial yang lekat dengan nilai-nilai agama. Agar lahir bangsa yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Begitu banyak orang-orang pagan dan musyrik membuat simbol. Dari yang rumit, hingga sederhana dan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak mungkin kita bisa menghindari seratus persen hal-hal begitu.

Lebih penting bagi umat Islam adalah memikirkan substansi. “Al-Ibratu bil musammayat la bil asma,” kata ulama Fiqh merumuskan sebuah kaidah yang berarti sebuah perkara dinilai dari hakikatnya, bukan dari penamaannya. Diambil pelajaran dari situ, bahwa porsi perhatian umat jangan sampai lebih besar pada cover dibanding substansi.

Jadi, begitulah hadirin yang berbahagia. Mari memikirkan hal yang lebih penting.

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2019 in Artikel Umum

 

Ia yang Berhak Mendapat Pujian Setelah Ramadhan

Yang tak boleh terlupa pada suasana hangatnya lebaran adalah mengapresiasi si kecil yang telah menyelesaikan puasa Ramadhannya. Sebuah ucapan yang membesarkan hati, jabat tangan, bahkan pelukan dan ciuman akan memberi kesan yang mendalam dalam jiwanya.

Sisihkan waktu bersamanya. Lalu ajari ia bermuhasabah. Tanyakan berapa hari ia mampu berpuasa penuh. Jangan lupa pancarkan binar pada mata saat mendengar laporannya. Kemudian gali pula amalan apa yang telah dilakukan mengisi Ramadhan. Apa yang paling berkesan dalam sebulan kemarin. Dan jadilah motivator ulung yang menyemangatinya untuk berbuat lebih baik lagi.

Evaluasi pula apa yang perlu diperbaiki untuk Ramadhan tahun depan. Nyalakan kamera, rekam apa capaian kali ini dan resolusi untuk nanti. Agar saat memasuki bulan suci berikutnya, terkenang kesuskesan yang pernah ditoreh dan jelas apa yang perlu ditingkatkan.

Menyelesaikan puasa Ramadhan adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Ketika bertemu saudara dan handai taulan, di hadapan si kecil ceritakan apa capaiannya. Agar pujian juga datang dari mereka.

Oh, jangan khawatir dengan riya’. Ada masa ia perlu dibangkitkan kepercayaan dirinya. Kelak ketika akalnya matang dan telah tertanam rasa percaya diri yang kuat, baru ajari tentang keikhlasan. Amalan hati dan penyucian jiwa adalah bab yang rumit, yang baru bisa disampaikan kepada orang yang telah mampu menilai baik dan buruk.

Satu hal yang paling penting. Dalam mengevaluasi capaiannya, jangan banding-bandingkan dengan anak yang lain. Jangan keceplosan bilang, “kok kamu cuma dapet 25 hari? Temen kamu bisa sebulan penuh.” Hal seperti ini sangat berbahaya bagi masa memupuk kepercayaan diri.

Kalau mau, bandingkan saja dengan dirinya sendiri di tahun lalu. Sehingga ia belajar untuk meningkatkan diri menjadi lebih baik, bukan belajar menyaingi sebayanya. Khawatir itu akan memperkenalkan ia pada rasa dengki. Senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang.

Selamat mengapresiasi si kecil!!!