RSS

Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih Zaman Now

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak bernama Bawang Putih yang sering mendapat perlakuan diskriminatif. Punya saudara tiri bernama Bawang Merah.

Sikap Bawang Merah ini provokatif dan suka mengintimidasi Bawang Putih.

Suatu kali kawan Bawang Merah yang merupakan gubernur dari sebuah provinsi yang menerapkan syariat Islam, tertangkap KPK. Gubernur itu dikenal kurang berkenan dengan isu syariat Islam. Tapi Bawang Merah malah mencak-mencak dan menuduh Bawang Putih munafik. Peristiwa penangkapan itu dimanfaatkan benar oleh Bawang Merah untuk menyindir dan mencaci maki Bawang Putih.

Si Bawang Merah ini sebenarnya sering melakukan korupsi. Bawang Putih juga pernah kedapatan. Memang agak ga beres itu rumah. Tapi jumlah kasus korupsi Bawang Putih jauuuh lebih kecil dari Bawang Merah. Namun seorang kawan Bawang Merah berkoar-koar di media masa bermaksud mempermalukan Bawang Putih. Katanya, “Bawang Putih telah melahirkan dua koruptor besar.” Sementara kasus korupsi Bawang Merah yang mencapai puluhan jumlahnya tak diungkit-ungkit.

Bawang Merah ini terkenal dengan sikap barbar. Suatu ketika ada koran lokal yang membuat berita yang tak mengenakkan. Langsung digeruduk oleh Bawang Merah. Kantor koran itu dirusaknya. Tetapi ia malah menuduh Bawang Putih radikal dan harus dibubarkan. Padahal Bawang Putih suka menolong bila ada bencana, sering melakukan bakti sosial, dll.

Bawang Merah ini suka mendadak berpenampilan agamis bila mendekati pemilu/pilkada/pilpres. Sementara Bawang Putih konsisten dengan jilbabnya. Tetapi Bawang Merah menuduh Bawang Putih mempolitisasi agama.

Bawang Merah ini juga pernah mencemooh orang yang beriman kepada hari akhirat, menuduh Bawang Putih kearab-araban, dll. Ketika Bawang Merah mencoba menarik simpati masyarakat dengan berpidato memakai istilah agama, ia malah memalukan dirinya sendiri. Ia kesulitan mengucapkan “subhanahu wata’ala” dan “laa hawla wala quwwata illa billah”.

Menjadi pemimpin, Bawang Merah suka ingkar janji. Harga-harga barang meroket. Harga Bawang Putih mahal karena ketidak becusan si Bawang Merah bekerja. Tapi menterinya malah bilang, “Tidak usah makan bawang putih tidak apa kan?” Dan Bawang Merah sering kedapatan berbohong. Komunikasinya memalukan.

Sementara Bawang Putih mengukir prestasi dengan ratusan penghargaan.

Anehnya, Bawang Merah dibela habis-habisan oleh sekelompok kecebong di sebuah kolam. Dikarang cerita hoax untuk mengagungkan Bawang Merah sekaligus memfitnah Bawang Putih. Tapi tetap Bawang Putih yang dituduh mereka tukang hoax dan tukang fitnah.

Bawang Merah suka mengkambing hitamkan Bawang Putih. Setiap ada peristiwa buruk, selalu Bawang Putih yang disalahkan Bawang Merah.

Begitulah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Cerita ini tidak dibuat endingnya untuk mempersilakan pembaca melanjutkan kisahnya.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2020 in Artikel Umum

 

Pandanglah Allah Dalam Berbagai Keadaan

(Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi setiap saat)

Ketika menjelma Jibril menjadi seorang rupawan yang berpenampilan rapi, ia selipkan pertanyaan definisi Ihsan kepada Rasulullah saw di hadapan para sahabat. Maka jawab Rasulullah, “engkau beribadah seakan melihat-Nya. Kalau tak mampu, maka kau hadirkan perasaan diawasi oleh-Nya”.

Allah swt adalah Dzat yang kepada-Nya kita arahkan pandangan batin dalam ibadah, dalam keadaan berdosa, dalam nikmat, serta musibah.

Dengan memandang-Nya dalam ibadah, hadirlah kekhusyukan. Dan dengan Ihsan, membantu kita mencapai keikhlasan.

Bukan pada ibadah yang kita perbuat, kita memandang. Tapi pada Yang Maha Agung Pemilik Jiwa Kita. Dengan begitu, maka tak kan lahir ujub dan riya’.

Jangan pandang betapa mati-matiannya sujud kita, betapa sungguhnya puasa kita, betapa merdunya alunan tilawah kita. Tapi pandanglah Allah yang berhak kita ibadahi. Sehingga terasa tak ada apa-apanya ibadah kita dibanding kebesaran-Nya. Tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.

Juga jangan pandang momen kita beribadah. Sepuluh malam terakhir Ramadhan, atau malam ganjilnya, atau malam yang dicurigai sebagai Lailatul Qadar, tapi pandanglah Allah Tuhan malam-malam itu semua. Yang memberi kita nikmat terus-terusan tak hanya di malam spesial saja.

Memang benar kita bersungguh mencari Lailatul Qadar mengikuti sunnah Rasulullah. Tapi dalam kesungguhan itu, Allah yang kita pandang. Sehingga tak peduli bagi kita apakah berhasil menemukan malam seribu bulan atau tidak, yang penting adalah menyembah Tuhan Yang Penuh Kemuliaan.

Juga dalam keadaan berdosa, Allah yang kita pandang.

Bilal bin Said berkata, “Jangan kamu melihat pada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat!”

Kecil atau besar, kita telah bersikap lancang kepada Tuhan Yang Maha Perkasa.

Dengan memandang Allah Yang Maha Keras Siksanya, maka kita segera beristighfar, bertaubat dan tak kan lagi berani melakukan dosa yang sama.

Atau kita terhindar dari putus asa untuk bertaubat karena yang kita pandang adalah Tuhan Maha Pengampun.

Dalam nikmat, pandanglah Allah agar kita tak lupa daratan. Kalau tidak, maka kita disibukkan oleh euforia. Tersita waktu menyuci mobil baru, mengagumi gawai baru, dsb.

Tetapi bila Allah yang kita pandang, maka kita disibukkan dengan syukur mengucap hamdalah. Tak peduli besar atau kecil nikmat yang didapat.

Sehingga terhindar juga dari rasa kurang puas lalu lupa berterima kasih kepada-Nya.

Dalam musibah pun Allah lagi yang kita pandang. Agar malam-malam kita tidak dilanda insomnia memikirkan masalah yang datang. Atau kita meremehkan musibah yang sejatinya adalah teguran dari Allah swt.

Dengan memandang Allah, kita ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, lalu penuhi kesadaran bahwa Ia Azza wa Jalla lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Serahkan pada Allah, bertawakkal dan berikhtiar. Lalu tenanglah hati ini dan bisa berfikir jernih.

Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi, yang kita pandang dalam berbagai keadaan.

 

Maaf, Minang Terlanjur Identikkan Diri Dengan Islam

Sudah lama gereja-gereja berdiri di Sumatera Barat. Injil berbahasa Indonesia atau bahasa asing pun tidak dipermasalahkan beredar di sana di kalangan umat Nasrani. Tapi ketika kitab itu ditulis ke dalam bahasa Minang, jadi tidak bisa diterima.

Tidak ada masalah dengan kehidupan antar umat beragama di Sumatera Barat. Rukun-rukun saja. Bertahun-tahun begitu. Ketika musibah gempa terjadi tahun 2009 lalu, warga di sana saling membantu. Hanya saja, kalau urusan adat, Minang tidak bisa dicampurkan dengan sembarang agama.

Karena Minang sudah mengidentikkan diri 100% sebagai budaya (dengan turunannya seperti bahasa) yang menyerap ajaran-ajaran Islam. Sebagaimana yang telah diikrarkan oleh tiga unsur pemegang kekuasaan tradisional, yaitu niniak mamak (pemuka adat), alim ulama, dan cadiak pandai (cendekiawan) setelah Perang Padri:

Adaik jo syarak takkan bacarai
Adaik basandi syarak
Syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato adaik mamakai

Adat dan syariat takkan bercerai
Adat bersendi syariat
Syariat bersendi Kitabullah
Syariat berkata, adat memakai

Kalau ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, dia tidak diakui lagi kesukuannya. Hanya saja dia tetap bisa ber-ktp Sumatera Barat, dan diperlakukan sesuai dengan aturan negara yang mengatur kehidupan antar warga.

Begitulah, karena menyatunya adat tersebut dengan Islam, makanya Injil berbahasa Minang dianggap mencederai adat dan budaya.

Ini bukan bermaksud merendahkan agama lain. Tapi demi menjaga kemurnian budaya yang luhur.

Memang, bahasa Minang sudah ada mungkin sejak sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat dan sekitarnya, ketika orang-orang di sana masih memeluk agama Budha atau pagan. Tapi setelah ketetapan “tigo tungku sajarangan”, adaik basandi syarak pun berlaku. Adat dan budaya yang bertentangan dihapus dengan proses. Sementara yang tak berlawanan tetap diteruskan. Dan distempel dengan “berlandaskan syariat”.

Bahasa itu satu paket dengan budaya dan adat Minang. Sudah menjadi kesepakatan para tokoh adat & tokoh agama bahwa bahasa adalah bahagian kekayaan adat & agama di Minangkabau

Tentang toleransi, mereka sudah cukup bertoleransi dengan terjaganya kerukunan umat beragama di Sumatera Barat. Tapi kalau penolakan itu dianggap tidak toleran, maka orang Minang di mana pun berada akan menuduh balik: justru mereka yang membuat kontroversi itulah yang tidak toleran dengan adat yang sudah berlaku.

Toleransi beragama sudah ditunjukkan, masak tidak bisa ditimbal balik dengan toleransi terhadap budaya?

Kalau ditagih soal Bhinneka Tunggal Ika, justru inilah keragaman yang harus dihargai. Bukankah setiap adat boleh hadir dengan keunikannya masing-masing? Maka inilah kekhasan Minang.

Kalau Anda bisa menghargai keidentikkan budaya Bali dengan Hindu, maka apa susahnya menghargai orang Minang?

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2020 in Artikel Umum

 

Wahai Pancasila, Komunisme Itu Musuhmu, Maka Jadikanlah Ia Musuh!

Terima kasih kepada Fraksi PKS yang telah mengingatkan DPR pentingnya Tap MPRS larangan komunisme menjadi landasan dalam penyusunan RUU Ideologi Pancasila.

Sebagai ideologi terbuka, semua bisa mengarang yang indah-indah tentang nilai Pancasila. Tapi bila musuhnya dilupakan, maka di sana lah peluang pengkhianatan yang pernah terjadi bisa terulang kembali.

Aidit pun bisa bicara soal Pancasila. Manis kata-katanya. Menerima Pancasila keseluruhan termasuk sila pertama. Bahkan membuat buku berjudul “Aidit Membela Pantja Sila.”

Sebagaimana golongan Iblis pun bisa mengajarkan Abu Huroiroh ayat kursi.

Tapi sekalinya komunisme diterima berdampingan dengan ajaran agama dan nasionalisme dalam konsep nasakom, maka itulah kesempatan mereka berkhianat seketika bangsa ini lengah.

Jadi, sebagaimana manusia diperintahkan Tuhan untuk benar-benar menganggap setan sebagai musuh, begitupun bangsa ini yang bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara seharusnya sungguh-sungguh menganggap PKI sebagai musuh.

Sayangnya berulang kali kesadaran ini dicoba diganggu. Yang terdekat adalah perkataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Kata-kata itu dusta dan berbahaya. Agama adalah akar Pancasila. Bagaimana bisa saling bertentangan? Maka tertawalah musuh Pancasila yang sebenarnya.

Lengahnya bangsa ini terhadap komunis akan berlanjut ketika RUU Haluan Ideologi ini dirumuskan tanpa merujuk pada Tap MPRS.

Semua jalan sedang dicoba. Setelah film G30S/PKI tidak rutin lagi tayang di TVRI seperti sebelum era reformasi, pemutarbalikkan sejarah juga diupayakan oleh para akademisi, lambang-lambang palu arit mulai dibuat biasa terlihat, dan sebagainya.

Bahkan institusi tentara yang menjadi benteng tangguh pemikiran komunisme pernah coba disusupi oleh anak seorang bocah yang mengaburkan sejarah pemberontakan G30S/PKI saat wawancara tes masuk. Luar biasa frontalnya mereka.

Dicoba juga dengan propaganda bahwa PKI telah binasa dan tak perlu dikhawatirkan.

Sekali lagi atas nama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI, saya sampaikan terimakasih kepada PKS yang tidak melupakan para pengkhianat itu. Selamat berjuang terus.

 
Leave a comment

Posted by on June 1, 2020 in Artikel Umum

 

Istri Corona vs Istri Sholehah

“Corona is like your wife”. Begitu caption dalam meme yang diterima pak Mahfud MD dari pak Luhut. “Corona itu seperti istrimu, ketika kamu mau mengawini, kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia, tetapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu,” kata Mahfud dikutip media.

Ya sontak saja ucapan itu mendapat protes dari berbagai kalangan. Dari kaum feminis, marah karena ucapan itu sexist dan berbau misoginis. Kalangan umum mengkhawatirkan sikap pasrah pemerintah terhadap corona.

Kita tahu virus itu jahat. Siapa sih yang mau menjadikannya istri?

Kalau corona ini profil seorang istri, maka amat berlawanan dengan kriteria istri sholehah. Kita identifikasi saja dari gejala yang ditimbulkannya.

1. Hilangnya indera perasa atau penciuman.

Istri bertipe corona akan membuat hidup suami hambar. Hari yang berlalu terasa membosankan. Tak ada manja, tak ada canda, dingin pula sikapnya di kamar.

Sementara istri yang sholehah itu bagaikan “qurrota a’yun”, atau penyejuk mata. Al-Qur’an terjemahan berbahasa Indonesia biasanya mengartikan ungkapan yang ada dalam surat Al-Furqon ayat 74 ini dengan “yang menyenangkan hati kami.” Istri seperti ini akan membuat hidup suami terasa berwarna dan indah di dalam rumah tangganya.

2. Diare

Artinya, istri bagaikan corona ini boros dan membuat penghasilan yang suami bawa ke rumah “moncor” ke mana-mana tanpa penghematan.

Sementara istri sholehah itu sifatnya qonaah. Artinya, rela menerima atau merasa cukup dengan apa yang didapat serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan. Istri seperti ini bisa menjaga harta suami dengan tidak menghambur-hamburkannya pada hal yang kurang bermanfaat.

3. Batuk dan sesak napas.

Istri begini tak bisa membuat suami bernapas lega dan lancar. Tiap sebentar ia selalu membuat masalah dan membuat pasangannya mengurut dada makan hati. Mudah ngambek, mudah marah, meributkan hal yang kecil, kelakuannya aneh-aneh.

Sementara istri sholehah itu pemaaf, penyabar, menerima kekurangan suami, dan berperilaku menyenangkan. Tentu suami sholeh juga seperti ini.

4. Demam Tinggi

Istri corona tidak memiliki ridho suami. Sehingga pasangannya merasa panas dan emosi terganggu ketika berada di dekatnya. Kehidupan rumah tangga terasa di neraka. Rawan pertengkaran.

Sementara istri sholehah menjadikan rumahnya layaknya surga yang sejuk. “Bati jannati”, kata sang suami. Kita tahu, surga itu adem dan teduh.

5. Merusak organ tubuh

Inilah ngerinya corona. Tak hanya paru-paru, virus itu juga menyerang ginjal, jantung, bahkan kulit. Istri seperti ini pun akan merusak banyak hal dalam kehidupan suaminya. Hubungan dengan orang tua dan saudara, karir, bahkan yang paling parah merusak agama.

Tentu berbeda dengan istri sholehah. Ia bisa mengakrabi mertuanya dan saudara suaminya dengan baik. Mendukung karir pasangan. Bahkan bekerjasama dengan imamnya di rumah membangun keluarga yang taat kepada Allah.

6. Kematian

Ya, istri corona membuat suami seperti mati walaupun hidup.

Sementara istri sholehah membuat hidup suami makin hidup.

Jadi, yakin mau menikahi covid19? Pake mas kawin apa? Disinfektan 10 liter dibayar tunai?

 

Untuk Saudaraku Penggemar Kajian Akhir Jaman

Telah berlalu malam ke 15 Ramadhan 1441 H, dan tak ada huru-hara, bunyi keras, asap, atau apa pun yang gencar diwanti-wanti sebelumnya. Dan memang sumber dari cerita huru-hara sendiri adalah hadits yang divonis palsu oleh para ulama. Sedari awal, andai mau mencari pendapat dari ustadz/ulama lain yang perhatian terhadap kemurnian hadits, tak ada alasan untuk khawatir atas cerita bombastis pertengahan akhir Ramadhan.

Kemarin kabar itu gencar di tahun 2012 yang bertepatan malam 15 Ramadhannya saat itu adalah malam jum’at. Tapi tak ada apa-apa. Di tahun 2020 muncul lagi. Juga tak terjadi yang dikhawatirkan. Di tahun-tahun ke depan akan ditemui kembali malam jum’at 15 Ramadhan. Kemungkinan besar akan biasa-biasa saja. Kalau pun ada kehebohan di suatu tempat, tetap tidak akan mengubah derajat hadits itu menjadi hasan atau shohih. Hanya kebetulan belaka, sesuai yang Allah takdirkan.

Saudaraku, ada kewajiban bagi saya untuk mengingatkan. Terutama kepada yang gemar dengan kajian akhir jaman.

Kajian tanda-tanda kiamat membuat kita mempersiapkan diri dengan meningkatkan iman dan taqwa? Saya tidak memungkiri itu bagus. Tapi uban yang tumbuh di kepala adalah bukti yang lebih dekat agar kita berbenah.

Satu tanda kiamat itu entah kapan terjadinya. Tapi berkurangnya umur, keriputnya kulit, melemahnya daya lihat mata, adalah tanda terdekat kiamat kecil yang semua orang hadapi. Maka memperhatikan gejala mendekatnya ajal lebih penting karena lebih dekat dengan diri kita.

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz Dzariyat: 21)

Mencari hal yang memotivasi agar kita mempersiapkan bekal akhirat, itu bagus. Tapi apakah hanya pada kejadian akhir jaman? Ingatlah Allah memuji ulil albab pada Ali Imron 191 yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bertebaran di kitab suci Allah memerintahkan kita merenungi hujan yang turun, penciptaan makhluk, dan juga apa yang pada diri kita sendiri. Hujan sering tercurah, sedang tanda kiamat entah kapan. Ada yang lebih dekat untuk kita jadikan motivasi bertaqwa.

Jangan sampai naik/turunnya iman kita bergantung pada tanda akhir jaman. Ketika bertemu prediksi yang dekat, kita taat. Tapi setelah prediksi itu meleset, iman kembali turun.

Saudaraku, saya sarankan agar cerita yang Anda dapat dalam hadits kajian akhir jaman agar ditanyakan lagi kepada ustadz yang paham tentang hadits. Tanyakan keshohihannya. Agar kita mendapat informasi berlapis dan bersikap selektif.

Memang salah orang yang lebih mengagungkan akal. Tapi jauh lebih berbahaya orang yang bermain dengan imajinasi dalam beragama.

Saudaraku, jangan lupakan prioritas dalam menuntut ilmu. Banyak hal yang butuh kita tambah dalam pengetahuan. Tentang fiqh, aqidah, membina keluarga, siroh, dll. Saya alami sendiri, suatu ketika didebat oleh teman yang gandrung dengan bacaan teori konspirasi. Namun saat ia mudik lebaran, ia masih bertanya bagaimana cara menjamak sholat kepada saya.

Dalam riwayat kedua Hadits Arbain Nawawi, jibril yang menjelma menjadi manusia bertanya kepada Rasulullah tentang islam, iman, dan ihsan. Barulah terakhir tentang tanda kiamat. Itu pun tak ada memastikan kapan terjadinya. Menurut saya ibrohnya adalah mempelajari aqidah, fiqh, dan tazkiyatun nafs adalah hal yang lebih didahulukan sebelum mengkaji akhir jaman. Allahua’lam.

Saudaraku, jangan sampai kita termasuk yang hafal tanda-tanda kiamat, termasuk kisah yang dhoif dan palsu, namun tak paham bagaimana hukum darah nyamuk di baju yang akan dipakai untuk sholat.

Saudaraku, jangan sampai penyikapan atas kajian akhir jaman menjadi kontraproduktif terhadap hidup umat. Misal karena meyakini teknologi akan musnah, lantas menganggap tak berguna menguasai teknologi.

Mendengar instruksi dari seorang ustadz agar menyimpanan bekal makanan setahun guna menghadapi huru hara pertengahan Ramadhan, saya timbul rasa khawatir. Di tengah krisis begini diperlukan sikap saling berbagi. Lalu bagaimana bila umat jadi kikir dan menimbun makanan karena terpengaruh cerita itu? Harga bahan pokok melambung, tetangga miskin kian kelaparan.

Tak kalah penting dari kajian akhir jaman adalah kajian akhir bulan yang bertujuan membantu saudara kita yang gajinya pas-pasan.

Saudaraku, menyimak kajian akhir jaman dibutuhkan sikap bijak. Pastikan keshohihan sumber cerita. Jangan lupa prioritas. Dan ingat, banyak hal di sekitar kita yang lebih dekat untuk dijadikan bahan mendekat kepada Allah swt.

Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua. Amin

 

Buat Apa Menanti Ad-Dukhan?

Kemarin umat muslim bangga dengan Jackie Ying, muslimah Singapura yang menemukan rapid test cepat Covid-19. Sama bangganya kepada Khoirul Anwar yang punya andil dalam penemuan teknologi 4G, serta BJ Habibie dan sederet nama lain yang punya kontribusi kepada dunia dalam bidang ilmu pengetahuan.

Saya pun begitu. Tapi maaf, saya sedikit terusik dengan teori Ad-Dukhan yang beredar di tengah sebagian muslim yang rajin ikut pengajian. Yang katanya sebuah peristiwa di mana bumi terselimuti asap tebal yang membuat teknologi lumpuh.

Ya saya tahu, ad-dukhan itu dari hadits Rasulullah saw. Tapi dari mana kesimpulan bahwa teknologi jadi tak berguna karena peristiwa tersebut?

Saya terlibat perdebatan beberapa tahun lalu dengan dua orang teman yang begitu meyakini akan kemusnahan teknologi karena asap pekat jelang kiamat. Saya korek dari mana asal pendapat itu. Rupanya dari kajian-kajian akhir jaman. Alasannya, dalam hadits disebutkan tentang perang besar jelang kiamat yang menggunakan pedang, tombak, bahkan kuda. Berangkat dari hadits tersebut, diyakini kelak kemajuan dunia persenjataan akan lenyap lalu peradaban kembali seperti abad-abad pertengahan. Nah, momentum lenyapnya segala kecanggihan itu disebabkan adanya peristiwa ad-dukhan. Namun sampai kini saya belum menemukan literatur yang menjelaskan hal tersebut.

Teori itu lah yang kini beredar dan diyakini sebagian umat muslim. Dibumbui juga dengan hadits huru-hara di tengah bulan Ramadhan disertai suara keras. Setiap tahun hadits ini menyebar, menimbulkan suasana dramatis. (Hadits tersebut palsu. Lihat: http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.com/2014/02/hadits-huru-hara-di-bulan-ramadhan.html )

Melalui tulisan ini saya ingin menyerukan kepada umat muslim, bahwa ada PR yang besar yang diemban oleh kita. Yaitu menjadi sokoguru dunia. Ustadziyatul ‘alam. Salah satu tugasnya adalah menyemarakkan dunia dengan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi penduduk bumi. Dan hal itu dicapai dengan penguasaan teknologi.

Lantas sayang sekali bila fokus kita malah dialihkan kepada penantian peristiwa ad-dukhan, kemusnahan teknologi, dan segala huru-haranya.

Kapan Terjadi Ad-Dukhan?

Peristiwa kabut asap ini sendiri sebagian ulama mengatakan sudah terjadi di jaman Rasulullah hidup, ketika kaum Quraisy mengalami kelaparan ekstrim atas doa nabi Muhammad saw. Sehingga tercipta fatamorgana di langit berupa asap. Sila disimak tafsir surat Ad Dukhan. Meski, sebagian ulama mengatakan ayat 10-11 itu akan terwujud menjelang kiamat.

Dan telah berlalu juga berbagai peristiwa yang mirip Ad-Dukhan. Seperti meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 yang melontarkan abu dan asap dalam jumlah besar membuat matahari bagai terbenam dan langit merah.

Atau erupsi Gunung Tambora pada 1815 yang disebut letusan gunung berapi terbesar pada 1.500 tahun terakhir. Menyebabkan “tahun tanpa musim panas” karena debu dan sulfur dioksida akibat erupsi menghalangi sinar Matahari.

Atau kebakaran hutan hampir setiap tahun di Sumatera dan Kalimantan. Peristiwa semacam ini dan banyak lagi kalau mau dicocokkan sebagai ad-dukhan rasanya cocok saja karena nyata adanya asap yang besar menutupi bumi.

Namun para penggemar kajian akhir jaman memilih skenario lain: akan adanya meteor yang jatuh, membuat rotasi bumi melambat, mengakibatkan asap menyebar ke seluruh penjuru dunia, lalu teknologi lumpuh. Akhirnya rudal tak berlaku, diganti pedang dan tombak.

Hadits Ramalan Sarat Kiasan

Kesimpulan “teknologi akan lenyap” timbul dari cara membaca hadits ramalan dengan tekstual. Menurut pengampu kajian akhir zaman, pedang, tombak, dan sebagainya tersurat dalam sabda Rasulullah. Misalnya, dajjal akan dibunuh nabi Isa a.s. dengan tombak.

Tak hanya itu, yang tertera dalam hadits arbain tentang budak melahirkan tuannya pun ada yang mengartikan bahwa perbudakan akan kembali muncul menjelang kiamat.

Saya bukan ahli hadits sehingga tak bisa menilai derajat dari riwayat-riwayat tersebut. Namun yang perlu diperhatikan, bukankah sabda-sabda Rasulullah tentang kejadian yang akan datang itu sarat dengan kiasan?

Misalnya, hadits periodeisasi umat Islam. Disebutkan ada periode mulkan ‘adhon yang artinya kepemimpinan raja yang menggigit. Ini jelas adalah kiasan. Dan telah diterangkan oleh para ulama masa kini, bahwa periode ini telah kita lewati di mana cirinya adalah khilafah yang menganut sistem kerajaan sebelum Turki Utsmani runtuh, di mana sekarang adalah masanya mulkan jabbariyan.

Perhatikan juga ketika Rasulullah saw berkata kepada istri-istrinya tentang siapa yang paling pertama menyusul Nabi saw. ke alam barzakh. Ketika itu sabdanya, “yang paling panjang tangannya.” Sontak para istri nabi pun saling mengukur lengan mereka, yang kemudian diketahui bahwa Saudah lah yang paling panjang tangannya. Tapi yang terjadi? Zainab binti Jahzy r.ha. yang pertama wafat setelah Nabi. Hingga tersibaklah hakikat “yang paling panjang tangannya” adalah kiasan yang bermakna yang paling banyak sedekah.

Nah, dari dua contoh di atas, jelas sekali bahwa hadits tentang yang terjadi di masa datang itu Rasulullah sabdakan kadang dalam berbentuk kiasan. Sehingga, apa yang disebut pedang, tombak, dll andai benda-benda tersebut benar-benar disebutkan dalam hadits shohih tentang akhir jaman, tak menutup kemungkinan itu adalah perumpamaan. Juga budak yang melahirkan tuannya, banyak ulama menjelaskan maksudnya adalah kedurhakaan anak kepada orang tua begitu besar.

Maka teori lumpuhnya teknologi dan kehidupan kembali ke abad pertengahan itu jangan dulu ditelan bulat-bulat.

Jangan Putus Asa Lalu Menanti Imam Mahdi

Setuju, bahwa umat Islam kini seperti dalam sabda Rasulullah: bagai hidangan yang siap disantap oleh musuh-musuhnya. Bagai buih di lautan. Dikarenakan mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Umat muslim terpuruk. Berkali-kali gagal ketika hendak bangkit. Terbentur oleh bengisnya mulkan jabbariyan.

Sayangnya ada segelintir yang lelah dengan proyek kebangkitan Islam dan lebih menunggu Imam Mahdi datang dan menerangi dunia dengan keadilan. Sehingga tanda-tanda kiamat seperti ad-dukhan ini begitu dinanti.

Padahal umat Islam ditugaskan berbuat. Bukan berhasil. Dengarkan sabda Rasulullah:

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR Bukhari & Ahmad)

Maka, berbuatlah. Terangi dunia dengan penemuan yang bermanfaat buat manusia. Tak perlu menunggu ad-dukhan. Oke, andai benar ad-dukhan itu melenyapkan teknologi, tapi kembali ke hadits di atas bahwa kita diperintahkan untuk berbuat meski tahu besok kiamat. Maka teknologi yang dikuasai umat Islam tak kan dihitung sia-sia andai kabut asap membuat satelit lumpuh, internet tak bisa diakses, hingga akhirnya pandai besi kembali banjir pesanan.

Kita diperintahkan untuk mempersiapkan hari kiamat, alih-alih sibuk berspekulasi mengutak-atik skenario dengan hadits-hadits akhir jaman.

Untuk pertanyaan, “apa yang kau siapkan untuk hari kiamat?”, selain amal sholeh individu, jawaban “penguasaan teknologi untuk kebaikan umat manusia” juga harus diupayakan.

 

Es Krim Vienetta, Social Climber, dan Rasa Syukur pada Orang Tua

Karena banyak permintaan, akhirnya es krim Vienetta kembali diproduksi oleh Walls. Penikmatnya banyak yang ingin sekedar nostalgia dengan es krim mahal dari jaman orde baru ini.

Tapi banyak juga yang penasaran, karena saat kecil mereka belum pernah merasakannya. Harga menjadi alasan yang membuat para orang tua enggan membelikan. Kini setelah lebih sejahtera, es krim yang dulu bikin ngiler itu kini diburu.

Ini tentang para social climber. Tapi maksudnya bukan orang yang bergaul dengan kalangan kelas atas agar terlihat bagian dari mereka. Ada beberapa definisi dari istilah itu. Yang saya maksud adalah parvenu dalam bahas Perancis, yang menurut wikipedia: A parvenu is a person who is a relative newcomer to a socioeconomic class. Mereka yang kini lebih sejahtera dibanding sebelumnya.

Orang-orang yang dulu tak dibelikan orang tuanya es krim Vienetta, tapi kini sanggup beli 2 kali seminggu bahkan tiap hari buat anak-anaknya.

Tentu tak hanya makanan tersebut. Saya yakin pembaca pun ada barang yang waktu kecil bikin ngiler ga mampu terbeli, tapi kini punya kelapangan untuk memiliki benda tersebut kalau masih ada di pasaran.

Dulu ketika saya merengek meminta keju Kraft kepada ibu, saya yakin beliau menahan sesak di dadanya ketika menjawab “di rumah gak ada kulkas,” untuk menolak permintaan saya. Apa daya, makanan sejenis keju cuma bisa saya nikmati ketika diajak ke Jakarta ke rumah saudara.

Na’udzubillah, mungkin ada social climber yang menyalahkan orang tuanya karena hidup dalam keterbatasan saat kecil. Padahal mereka bisa hidup lebih baik saat dewasa karena peras keringat banting tulang ayah dan ibunya.

Tentu saja banyak juga yang bersyukur. Menunaikan perintah Allah swt dalam surat Luqman ayat 14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Untuk kawan-kawan yang baru bisa mencicipi Vienetta setelah dewasa, saya mengajak untuk mengenang jerih payah orang tua – setelah bersyukur pada Allah. Pada rasa dingin dan manis es tersebut, bersitkan kerja keras mereka menyekolahkan kita, membiayai kita kuliah, dan membelikan buku-buku untuk belajar.

Untuk yang pendidikannya lebih tinggi dari orang tua hingga bisa lebih sejahtera, untuk orang yang besar di kampung namun kini tinggal di komplek perumahan di kota, untuk yang kini dimanjakan dengan kendaraan pribadi, saya berpesan bahwa keadaan lebih baik ini bukan untuk menyombongkan diri pada yang telah membesarkan kita.

Untuk yang anaknya lebih termanjakan dengan makanan, mainan, dan barang-barang dibanding dirinya dulu waktu kecil, ingatlah andai kata orang tua Anda mampu mereka bisa saja lebih memanjakan anak-anaknya daripada Anda.

Tak ada salahnya kita beli barang yang dulu kita inginkan, lalu pajang di suatu tempat yang bisa kita sering lihat di samping foto kedua orang tua. Agar selalu terkenang jasa mereka.

 

Rasulullah dan Bunyi-Bunyi Misterius

 

Fenomena dentuman pada dini hari yang terdengar di sekitar Depok dan Jakarta Selatan pada Sabtu, 11 April 2020 kemarin mungkin akan menambah daftar suara misterius di alam yang belum terungkap sumbernya. Acara televisi On The Spot perlu memperbaharui episode yang pernah membahas tentang hal ini.

Kemungkinannya bermacam-macam. Dari suara erupsi anak Krakatau hingga petir di atmosfer. Sebagian orang menganggap hanya fenomena alam biasa sehingga tak perlu takut. Sebagian yang lain khawatir hingga menghubungkannya dengan tanda kiamat.

Namun sesungguhnya bumi memang terbiasa dengan suara misterius. Di masa Rasulullah dan para sahabat, beberapa kali mereka mendengar bunyi yang aneh.

Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda: “Jangan takut! Jangan takut!” kata Anas; “Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i)

Dari kisah di atas, tidak dijelaskan apa penyebab suara tersebut. Hanya keteladanan yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw selaku pemimpin yang menenangkan rakyatnya. Artinya memang benar bukan suatu yang membahayakan, hanyalah fenomena alam biasa.

Rasulullah bukan meremehkan. Beliau bukan tipe pemimpin yang andai ada wabah di Madinah, ia malah mempromosikan wisata di kota yang dipimpinnya itu. Tanggungjawab sebagai orang pertama yang menginvestigasi hal yang dikhawatirkan orang banyak, lalu memberi arahan kepada rakyat, telah ia tunaikan. Ia sigap, bukan becanda-canda dahulu lalu panik kemudian.

Kisah kedua sebagai berikut. Abu Hurairah berkata, “Kami dulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.” (HR. Muslim)

Kalau ini, memang bukan fenomena alam biasa. Tapi fenomena lintas alam. Kejadiannya di neraka, terdengarnya sampai di bumi. Sengaja Allah kehendaki begitu, bukannya salah server, tetapi sebagai sarana tarbiyah para sahabat serta umat muslim yang hanya mengetahui peristiwa ini dari hadits nabi.

Tidak dijelaskan, apakah selain para sahabat yang bersama Rasulullah, ada lagi yang mendengar bunyi tersebut.

Para sahabat memang memiliki pendengaran yang lebih peka dibanding orang biasa. Abdullah bin Mas’ud r.a. memberi kesaksian bahwa pernah ketika Rasulullah saw dan para sahabat disajikan hidangan, mereka mendengar bagaimana makanan itu bertasbih.

Adakah di antara kita yang pernah mendengar kopi dalgona memuji Allah swt? Bisa autoindigo. Atau mendengar makanan menjawab ketika Chef Juna bilang, “rasanya kayak sampah”?

Mereka juga pernah mendengar batang kurma menangis karena fungsinya sebagai mimbar Rasulullah berkhutbah akan diganti dengan yang baru.

Untunglah Rasulullah peluk pohon itu hingga ia berhenti menangis. Kalau tidak, kata Rasulullah, pohon ini akan terus menangis sampai kiamat. Drama Korea bakal kalah sedih dibanding tangisannya.

Kembali ke fenomena menghebohkan di sekitaran Depok dan Jaksel. (Orang Depok menyebutnya dentuman, anak Jaksel menyebutnya “suara keras which is kejadiannya pas in the middle of the night.”) Sikap kita sebagai muslim akan tetap dalam perasaan tak aman atas bencana yang suatu waktu bisa Allah turunkan pada kita.

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS Al Mulk: 16-17)

Andai fenomena alam biasa, tetap saja hal itu adalah tanda besarnya kekuasaan Allah swt yang membuat kita kagum sembari merendahkan diri.

Ada atau tidak ada suara yang aneh tadi, tetap selalu waspada dengan rajin memperbaharui taubat. Kalau masalah kiamat yang sudah dekat, lebih dekat lagi kematian (kiamat kecil). Tanpa membahas tanda-tanda akhir jaman pun yang namanya memperbaiki diri itu sudah keharusan.

Namun tak perlu paranoid, ketakutan, lalu kehilangan akal sehat. Sampai-sampai membuat, atau percaya, atau menyebarkan teori konspirasi yang sarat cocoklogi. Atau teori konstipasi yang sarat cucokrowo.

Kita kembalikan kepada para ahli tentang asal usul bunyi tersebut. Kalau pun tak terkuak, ya biasa lah… ilmu manusia itu terbatas.

Ingat, alam ini terbiasa dengan suara yang belum teridentifikasi. Bahkan ketika pada malam hari di Madinah ada suara menggelegar menakutkan, Rasulullah hanya bersabda, “jangan takut.”

Yuk, tidak berspekulasi, serahkan pada ahli.

 

Jangan Bosan Bersamanya di Rumah

Harusnya kita bisa menikmati masa-masa ini, ketika terpaksa harus banyak berada di rumah untuk waktu yang belum jelas kapan berakhir. Tapi cerita di negeri Cina dan Australia membuat resah.

Dari negeri tirai bambu, media mewartakan: “Angka perceraian di China dilaporkan meningkat, dikarenakan pasangan “menghabiskan waktu terlalu lama selama karantina virus corona”.” Wah, memangnya kenapa bila terlalu sering bersama pasangan hidup? Bukankah pepatah bilang “jodoh tak kan kemana”? Nah, terwujudlah saat karantina, kita dan jodoh tak bisa kemana-mana.

Sementara dari negeri Kangguru, media menulis: “Australia mengumumkan peningkatan kasus kekerasan sebanyak 75 persen selama wabah virus corona berlangsung.” Apa pasal?” Hanya berada di rumah, stres tak dapat bekerja, atau bepergian dengan bebas ke luar rumah adalah beberapa faktor yang berkontribusi terhadap KDRT,” begitu menurut CEO Wayss Liz Thomas.

Aduh, menakutkan. Rumah yang harusnya menjadi tempat ternyaman, malah membuat bosan. Dan pasangan hidup yang harusnya menjadi tempat melabuhkan kasih sayang, malah penyebab timbulnya stress dan rasa jemu.

Tapi jangan seperti mereka. Jangan bosan dengan belahan jiwa yang telah kita ambil perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho) untuk menyandinginya dalam hidup. Justru jadikan ia sebagai sumber penyemangat hidup. Dalam kebersamaan yang panjang dalam ruang yang terbatas, ada beberapa tips agar tidak merasa jenuh

1. Menghidupkan rumah sebagai arena fastabiqul khoirot.

Saya telah menulis artikel berjudul “Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah.” Ketika mau tak mau harus mengucilkan diri dari keramaian masyarakat, maka jadikan saja itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt. Bersama keleluasaan waktu, berjarak dari sesaknya aktivitas di tengah manusia, maka saingilah para ulama yang zuhud yang telah meninggalkan dunia untuk berkonsentrasi kepada Allah dalam kekhusyukan ibadahnya.

https://zicoofficial.wordpress.com/2020/04/09/karantina-niatkan-saja-sekalian-uzlah/

Jangan sendirian dalam berniat uzlah. Ajak juga istri dan anak-anak. Lalu jadikan rumah kita layaknya masjid di kala Ramadhan yang sibuk dengan bacaan AlQur’an, dzikir, sholat, dll. Insya Allah, ada keseruan baru yang bermanfaat.

2. Menjejaki apa yang diperbuat Rasulullah di rumah.

Mengisi rumah dengan sunnah akan mendatangkan keberkahan di sepetak rezeki yang telah Allah anugerahkan. Apalagi bila kepala rumah tangganya meneladani Rasulullah dalam perilaku, jadilah ia pribadi yang menyenangkan, bukan membosankan.

Semarakkanlah kegiatan di rumah sebagaimana yang diperbuat Rasulullah. Misalnya seperti dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 34.

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”

Ayat itu turun untuk para isteri nabi. Menjadi gambaran buat kita, bahwa rumah Rasulullah menjadi madrasah yang mulia bagi penghuninya. Di mana di sana diajarkan ayat-ayat yang agung dan hikmah-hikmah dari pribadi yang menjadi teladan milyaran umat manusia.

Rasulullah juga memberi tips membangun keceriaan di dalam rumah dalam sabdanya sebagai berikut:

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya lantas ia ikut shalat bersamnya. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan suaminya lantas ia ikut shalat. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Dawud).

3. Akhlak di atas cinta.

Di internet bisa kita temukan artikel yang membahas berapa lama rasa cinta bertahan. Nyala api asmara itu ada jangka waktunya. Misalnya, liputan6 menulis penelitian Universitas Otonomi Nasional Meksiko yang menyimpulkan waktu 4 tahun sebagai keberlangsungan gejolak di dalam hati.

Lalu, setelah asam di gunung dan garam di laut bertemu dalam satu belanga pernikahan, bisa jadi hadirlah rasa jemu setelah rasa cinta yang menjadi penyebab dua insan bersepakat membangun mahligai itu hilang.

Maka akhlaklah penyelamat rumah tangga. Ketika daya tarik fisik telah pudar, masing-masing pihak sudah hafal kelemahan dan kekurangan pasangannya, akhlak yang harus dikedepankan. Memaafkan, menerima apa adanya, menghargai, berlaku santun dan lemah lembut, dan sebagainya.

Meski rasa bosan hadir, akhlak yang terjaga akan melindungi rumah tangga dari pertikaian kecil atau gara-gara yang dicari-cari. Di usia menua yang menggerogoti fisik, hadir keindahan yang lain yaitu akhlakul karimah.

Juga di masa karantina, akhlak yang kokoh tak akan bisa digeser oleh rasa bosan selalu melihat wajah pasangan.

https://zicoofficial.wordpress.com/2014/06/11/akhlak-sebagai-benteng-keutuhan-rumah-tangga/

4. Mengulang masa bulan madu dahulu

Ada joke tentang #dirumahsaja : “Satu hari negatif corona, 14 hari kemudian positif hamil.”

Sebenarnya ada kesempatan yang didapat ketika banyak berada di rumah bagi orang kantoran. Sebelum karantina di hari kerja, suami dan atau istri pulang ke rumah dengan keadaan lelah sepulang dari kantor. Belum tentu malam hari akan berlangsung dengan “hangat”.

Tetapi karena tidak ada aktivitas pergi/pulang, tak terjebak macet, maka kebugaran fisik tetap terjaga sampai malam hari. Dan “kehangatan” itu bisa sering-sering diwujudkan.

Orang bule memberi istilah – bila diterjemahkan – dengan “membuat cinta”. Kenyataannya memang kegiatan itu menumbuhkan cinta. Tak jauh-jauh kok untuk membunuh rasa bosan. Ada kegiatan menyenangkan bersama pasangan yang walaupun telah “dikenyangkan” tapi tak lama timbul lagi rasa “lapar”.

Jadi, jangan bosan di rumah bersamanya.

Mohon maaf kalau tulisan ini tak ramah jomblo.