RSS

Category Archives: Pernikahan Keluarga dan Rumah Tangga

Wahai Pria, Lapangkan Bahumu Untuknya!

Bahu seorang laki-laki sejati selalu terhampar untuk wanitanya (yang halal). Saat dirundung duka, kepala si wanita bisa rebah di atas bahu lelaki, membasahinya dengan air mata, dan mengadukan segala masalah yang sedang dihadapi.

Idealnya begitu. Terutama bila mereka baru memasuki usia muda perkawinan. Kalau sudah agak lamaan, gak janji deh ya…

Namun ketersediaan bahu lelaki rupanya tak hanya untuk mencurahkan air mata. Rugi sekali bila sekedar tempat berbagi duka. Bahu lelaki juga tempat wanita meletakkan senyumnya di kala bahagia. Dan begitulah yang dipraktekkan oleh istri Rasulullah saw, ibunda Aisyah r.ha.

Ia bercerita:

أَنَّ الْحَبَشَةَ كَانُوا يَلْعَبُونَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، قَالَتْ: فَاطَّلَعْتُ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ ، فَطَأْطَأَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْكِبَيْهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ حَتَّى شَبِعْتُ، ثُمَّ انْصَرَفْتُ

Orang-orang Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari raya. Dia (‘Aisyah) berkata: “Aku pun menonton di atas bahunya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merendahkan bahunya untukku, sehingga aku bisa melihat mereka di atas bahunya sampai aku puas, kemudian aku berpaling.” (HR. Ahmad No. 24296, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1798, dan Sunan An Nasa’i No. 1594. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1594, juga Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24296)

Begitulah, ibunda Aisyah r.ha menyaksikan sebuah tontonan dalam hiruk pikuk hari raya dengan menopangkan dagunya di atas bahu Rasulullah saw. Dan Rasulullah pun tak segan sedikit berletih-letih untuk merendahkan badan agar bahunya bisa dijadikan sandaran bagi Aisyah r.ha.

Potret romanis itu terjadi di muka umum. Seolah menghapus keraguan di hati para sahabat untuk bermesraan dengan pasangan dengan cara yang pantas di tempat umum.

Pas sekali momen hari raya akan segera hadir. Wahai pria, meski hati kalian terasa sempit sesak oleh kenaikan tarif listrik, meski kau pun butuh tempat bersandar mengadukan THR yang cepat raib, namun jangan pernah sempitkan bahu untuk wanitamu. Lapangkan. Biarkan duka dan suka bertaburan di sana.

Dan ingat juga, bahumu ada dua!!!!

 

Agar Anak Tak Segan Curhat Kepada Orangtuanya

Di suatu sesi menggosip, seorang ibu bercerita kepada teman-temannya tentang kelucuan anak perempuannya yang sedang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak yang suka memperhatikan seorang teman lelaki. Si anak setiap hari bercerita tentang kelakuan temannya itu.

“Mah, masak tadi Rio bekalnya ketinggalan di rumah. Rio bawa tempat bekalnya, tapi pas dibuka, kosong,” begitu ibu tadi menirukan curhat si anak. Tiap hari, ada saja cerita si anak tentang Rio.

“Tapi saya tidak pernah menggoda dia. Saya tidak pernah ‘cie cie-in’ dia,” lanjut ibu itu. Apa pasal? “Karena,” terang si ibu, “kalau dia malu, dia tidak mau lagi curhat sama kita.”

Penjelasan ibu itu mendapat sambutan anggukan dari teman-teman yang mendengar keterangannya. Mereka membenarkan. Seorang gadis yang sedang nimbrung di sesi gosip itu pun menguatkan penjelasan si ibu. “Iya benar. Waktu kecil mama pernah ‘cie -cie-in’ saya pas lagi cerita temen cowok. Sejak itu saya gak mau lagi curhat sama mama. Malu.”

Curhat anak begitu berharga bagi orangtua. Saat anak curhat, orangtua merasa masih dipercayai oleh anak dan bahagia melihat anak mau membuka komunikasi pada orang tuanya.

Tetapi bila anak tidak mau curhat, maka orangtua akan khawatir kepada siapa si anak akan menceritakan berbagai keluh kesahnya. Pernah ada kasus di mana seorang anak nyaman curhat kepada teman facebooknya. Sampai-sampai anak itu nurut saja saat teman facebooknya “menculiknya”. Orangtua juga khawatir bila teman curhatnya malah memberi saran yang menyesatkan pada anak.

Banyak anak yang enggan curhat kepada orangtua. Sayangnya itu bukan salah si anak, tetapi karena sikap orangtua yang membuat anak trauma untuk curhat pada ibu atau ayahnya.

Ada beberapa sebab, salah satunya adalah mempermalukan si anak saat curhat. Seperti ilustrasi di atas, celetukan “cieee” dari orangtua bisa membuat anak malu dan kapok untuk curhat kembali. Padahal saat anak curhat, ia merasa orangtua bisa dijadikan teman bicara yang asyik dan dipercaya.

Hal lain yang membuat anak enggan curhat pada orangtuanya adalah karena orangtua lebih mendominasi pembicaraan. Saat anak membuka obrolan, ia punya banyak hal yang bisa ia katakan. Tetapi itu bisa terhalang karena tanggapan orangtua yang malah mendominasi pembicaraan. Kadang orangtua gatel untuk terburu-buru memberi nasihat padahal anak belum selesai berbicara. Atau si anak berbicara sejengkal, orangtua menasihatinya sedepa.

Yang anak inginkan saat berkomunikasi dengan orangtuanya adalah ia bisa menumpahkan aduannya. Bukan meminta saran. Sama seperti orang dewasa, ada kalanya orang dewasa curhat hanya sekadar ingin didengar, bukan dinasihati.

Tetapi nasihat dari orang tua tetap wajib. Tinggal porsi dan caranya dijaga agar jangan sampai anak merasa jengah tiap kali curhat. Waktu yang tepat adalah saat si anak sudah selesai menumpahkan semua memori yang ingin ia ceritakan.

Orangtua pun harus pintar-pintar memancing anak bercerita. Tetapi bukan dengan pertanyaan investigatif seperti seorang polisi. Kadang ada saat anak tidak mau bercerita, atau hanya ingin bicara sedikit, orangtua juga tidak bisa memaksanya berbicara banyak. Khawatir tersimpan dalam pikirannya bahwa orang tuanya terlalu “kepo” dan terlalu ingin banyak tahu. Sifat normal manusia justru akan menghindari bicara banyak kepada orang yang kepo.

Cara asyik menggali anak untuk bercerita misalnya dengan berkata, “ajari bunda lagu yang diajarin di sekolah dong.” Atau mengajaknya bermain sekolah-sekolahan dan ia menjadi gurunya. Minta ia mengajarkan apa yang diajarkan di sekolah. Sembari itu, pancing anak untuk bercerita dan terbiasa curhat kepada Anda.

Zico Alviandri

 

Mendegradasi Nilai, Membenarkan Zina dengan Logika

Cukup berani anak muda itu melangkah menemui Rasulullah yang sedang tak sendiri. Ada orang lain di sekitar Rasulullah yang akan mendengar permintaan anak muda itu dan bisa saja bereaksi hebat. Tapi anak muda itu bergeming. Ia melangkahkan kakinya. Dan saat tepat di hadapan Rasulullah, ia bersuara.

“Ya Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Siapa dia? Apa pangkatnya? Lancang sekali memerintahkan Rasulullah untuk mengeluarkan izin berbuat maksiat. Orang-orang di sekitar Rasulullah tak habis pikir dengan anak muda ini. Tak ada kah sedikit rasa malu untuk mengajukan permintaan kurang ajar seperti itu?

Di tengah keterkejutan dan kemarahan spontan orang-orang di sekitarnya, Rasulullah malah tak menampakkan raut murka. Ia paham, ada gejolak yang hebat di dalam tubuh anak muda itu. Rasulullah tahu, permintaan tadi tak pantas. Tapi inisiatif anak muda ini menemui Rasulullah adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Bisa saja ia turuti nafsunya dan berzina dengan wanita yang ia mau. Tapi anak muda ini masih punya rasa takut kepada Allah sehingga datang mengadu kepada Rasulullah.

Memang, dengan permintaan seperti itu di depan khalayak, seolah-olah anak muda ini sudah kehilangan rasa malu. Tetapi ada sesuatu yang bisa disentuh oleh Rasulullah. Dan beliau saw tahu menanganinya.

“Mendekatlah!” ujar Rasulullah.

Anak muda itu pun menerobos kepungan orang-orang dan duduk di dekat Rasulullah.

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada ibumu?” tanya Rasulullah.

Jleb. Si anak muda tak pernah menyangka akan diajukan pertanyaan semacam itu.

“Tidak, demi Allah ya Rasul,” jawabnya.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka berzina,” ungkap Rasulullah.

“Bagaimana kalau adikmu berbuat begitu?” tanya Rasulullah lagi.

“Tidak, ya Rasul.” Jawab si pemuda. Ia tentu jijik membayangkan adiknya berzina dengan orang lain.

“Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka,” terang Rasulullah.

“Kalau putrimu?” tanya Rasulullah lagi.

“Tidak ya Rasul.”

“Begitu pula orang-orang, tak kan rela anak putrinya berzina.

Kalau bibimu?”

“Tidak ya Rasul.”

“Orang-orang pun tak rela bibinya berzina.”

Telak. Argumen Rasulullah cukup telak menyentuh logika si anak muda. Juga hati kecilnya yang terlanjur membayangkan orang-orang terdekatnya berzina. Tak rela bila itu sampai terjadi.

Ending dari cerita ini, Rasulullah kemudian meletakkan tangan kokoh nan lembutnya ke dada si anak muda, dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

*****

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani. Terjadi pada sekitar 14 abad yang lalu. Di saat peradaban manusia, khususnya di Madinah, masih memiliki standard moral yang terjaga.

Kalau hasrat berzina itu menimpa anak muda di zaman sekarang, lantas ia adukan kepada orang tuanya, kira-kira apa jawaban orang tua? Saya yakin masih banyak yang tak kan mengizinkan, bahkan murka mendengar permintaan macam itu. Tapi jangan salah, ada kok orang tua yang mengizinkan.

Simak kisah Nia Dinata, seorang sutradara dan produser film, seperti yang dikutip oleh okezone. (http://news.okezone.com/…/abg-impikan-ke-belanda-demi-seks-…).

“Saya pernah tersentak ketika anakku bilang, Mom aku ingin nabung dan pergi ke Belanda menikmati seks. Karena di sana bebas dan legal,” sejenak ia pergi ke kamar mandi dan mengucurkan air mata karena anaknya bilang seperti itu. Dia mencoba bersikap tenang dan menanggapinya. “Kamu tahu dari siapa? Tanyanya. “Dari teman-teman di sekolah,” jawab anaknya.

Menghadapi semacam itu, Nia mengatakan remaja harus diberi arahan dan diberi pengetahuan tentang pendidikan seks. Bahkan menanggapi pernyataan anaknya sebagaimana disebut atas. Dia tak segan-segan memberi izin pada anaknya, dengan catatan, anaknya harus memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks.

Di samping itu, dia menyatakan kepada anaknya, untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya.

“Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama mau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya,” katanya.

Dari kutipan artikel di atas, kita temukan di zaman sekarang ada ibu yang mengizinkan anaknya menikmati seks yang bebas seperti di Belanda. Si ibu bukannya menyarankan menikmati seks bersama pasangan nikah (suami atau istri), tetapi malah mempersilakan menikmatinya dengan pacar. Satu pesannya, asal mau sama mau dengan mengerti sex education.

Tak berlaku lagi nilai moral bahwa seks di luar nikah adalah hal yang terlarang. Nilai itu runtuh dilindas oleh logika yang membenarkan perilaku zina. Masih dalam artikel tersebut, di paragraf lain tentang pandangan Nia Dinata terhadap seks pra nikah terulas seperti berikut:

Kembali pada persoalan seks pra nikah di kalangan remaja yang semakin menjamur maka yang paling dibutuhkan sekarang adalah pendidikan seks yang sehat. Menjelaskan bagaimana tentang penyakit menular dan bahaya seperti HIV/AIDS.

“Hal yang paling penting adalah memberi pengetahuan tentang pendidikan seks sehat dan bahaya penyakit menular layaknya HIV AIDS,” kata dia.

Menurut Nia Dinata, yang terpenting adalah pendidikan seks dan kesadaran penyakit menular. Bukan pernikahan yang menjadi legalitas sebuah hubungan seks. Institusi pernikahan tak diperlukan lagi manakala pendidikan seks telah terpenuhi.

Logika pembenaran yang lain belakangan terlihat pada persidangan di Mahkamah Konstitusi dalam agenda judicial review oleh Aliansi Keluarga Indonesia (AILA) terhadap pasal 284, 285 dan 292 KUHP yang dianggap tidak melindungi masyarakat dari maraknya zina. Dalam persidangan yang digelar beberapa kali itu (sampai tulisan ini dibuat, belum ada keputusan oleh Majelis Hakim), turut diundang pihak-pihak yang ingin mempertahankan pasal-pasal tersebut.

Argumentasi pihak yang menolak adanya judicial review adalah karena seks merupakan ranah privat. “Negara tidak usah ikut campur, ini urusan badan saya,” begitu alasan mereka.

Contohnya kala Roichatul Aswidah menyampaikan pandangannya sebagai ahli dari Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), kamis 22 September 2016 lalu. Menurutnya, hak-hak privat manusia harus dihormati. Salah satunya adalah aktivitas seksual seseorang. “Hal ini berlaku bagi perilaku seksual dari seseorang dalam ranah privat atau konsumsi pornografi dalam ranah privat,” ujarnya. (Lihat tautan http://www.kompasiana.com/…/roichatul-aswidah-pornografi-ad…)
“Regulasi yang mengatur perilaku seksual dalam hal ini harus secara hati-hati. Apabila tidak, maka kemudian dapat merupakan sebuah intervensi yang sewenang-wenang atas hak privasi,” ungkapnya lagi.

Logika-logika seperti ini telah menepiskan nilai moral yang berlaku di masyarakat, bahwa zina adalah sesuatu yang terlarang bahkan menjijikkan. Bagi mereka yang membenarkan perilaku zina, individu menjadi kebas nilai dan terlindung dalam ranah privatnya. Mereka mau berbuat apa pun terserah mereka selama itu di dalam ruang privat.

Berbeda dengan tatkala Rasulullah mengajak anak muda dalam cerita di atas untuk membayangkan bila orang-orang dekatnya berzina. Spontan akan menimbulkan rasa jijik dan ketidak relaan. Itu karena mereka saling berpijak pada nilai yang sama.

Kelak, bila logika-logika para pembenar perzinaan ini beredar luas, maka tak akan ada lagi anak yang tak rela orang tuanya berzina. Inginkah kita bila keadaan masyarakat mejadi seperti itu?

Sesungguhnya logika mereka bukan tanpa bantahan. Logika bahwa yang terpenting seks itu aman dan sehat, adalah keliru karena tak ada seks bebas yang sehat. Dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, dokter ahli yang tiap hari berhadapan dengan para penderita penyakit kelamin akitbat seks menyimpang, mempersaksikan apa yang dialaminya.

“Orang seenaknya saja membela zina atas nama kebebasan. Kami, para dokter, yang menyaksikan akibatnya setiap hari. Ada laki-laki yang datang dengan penyakit kelamin yang tidak mungkin tidak karena zina. Awalnya tidak mau mengaku, tapi setelah saya paksa barulah ia mengaku. Memang penyakitnya tak mungkin datang begitu saja, kecuali dengan berganti-ganti pasangan,” ungkapnya saat menjadi pembicara Seminar Kebangsaan “Reformulasi KUHP Delik Kesusilaan dalam Bingkai Nilai-nilai Keindonesiaan” di Senayan, Jakarta, 26 September 2016 lalu. ( http://www.kompasiana.com/…/dewi-inong-jangan-seenaknya-mem…)

“Setiap tahun saya ikut konferensi internasional, dan kemarin saya baru pulang dari Amerika Serikat juga. Di situ semua ahli dalam bidang penyakit kelamin berkumpul, dan kita menyaksikan sendiri betapa dunia sudah semakin menyeramkan,” terangnya lagi.

Justru bila seseorang mengerti pendidikan seks yang benar, maka ia akan menghindari seks bebas bergonta-ganti pasangan dan memilih menyalurkan hasratnya dalam ikatan pernikahan yang legal.

Sekaligus logika bahwa aktivitas seks berada dalam ranah privat menjadi terbantahkan. Karena zina akan menimbulkan penyakit yang menular ke tengah masyarakat. Mungkin aktivitasnya privat, tapi efek yang ditimbulkannya tidak.

Logika pembenaran untuk berzina adalah suatu yang menipu. Masyarakat harus kritis menghadapi pengusung logika itu. Nilai yang kini dianut sudah tepat. Jangan mau nilai itu didegradasi oleh logika yang rapuh.

Zico Alviandri

 

Karena Kelembutannya, Dakwah Bersemi

pengajian ibu ibu

“Pengajian apa?” Itu pertanyaan saya kepada adik saya saat mendengar ia ada agenda pengajian. Pertanyaan menyelidik, karena adik saya pernah terjebak pada suatu pengajian yang mengajak aggotanya untuk membentuk sebuah negara sendiri.

“Pengajian umum ibu-ibu biasa kok. Ta’lim” Ujarnya. Kemudian adik saya menceritakan tentang sosok ketua pengajian di komplek perumahan baru di Cileungsi itu. Rupanya ketuanya adalah mantan aktifis dakwah kampus. Aku manggut-manggut.

“Tapi dimusuhin.” Kata adik saya lagi.

Saya terperanjat. “Lho, kenapa?”

Rupanya ada ibu-ibu yang punya latar belakang berbeda, yang menganggap pengajian yang diasuh mantan aktifis dakwah kampus itu pengajian yang sesat. Pengajiannya dinilai beda karena tidak ada yasinan, tidak ada pembacaan Barzanji, sholawatan, dan alasan lain.

“Terus ketua pengajiannya klarifikasi dengan ibu yang musuhin itu. Dia bilang, ‘Bu, agama saya Islam, sama enggak? Nabi saya Muhammad saw, sama enggak? Pedoman saya Al-Qur’an dan hadits, sama enggak? Lalu kita bedanya apa?’ Begitu pertanyaan ketua pengajiannya kepada ibu-ibu yang musuhin dia.” Ujar adik saya.

Wow, saya kagum dengan keberanian akhwat itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang yang menyebar isu.

“Ketua pengajiannya juga udah mempersilakan kalau anggota pengajian mau baca yasinan. Pekan pertama yasinan, pekan kedua belajar tajwid. Begitu usul ketua pengajiannya. Dia juga bilang ke anggotanya, ‘Ibu-ibu, saya memang pernah belajar Islam di kampus. Tapi kalau rebanaan, baca Barzanji, saya gak bisa. Gak pernah belajar itu. Masih mau nunjuk saya jadi ketua?'” Lanjut adik saya.

“Terus akhirnya ibu yang musuhin tadi gimana?” Tanya saya.

“Ibu itu tetep aja musuhin. Mereka bikin kelompok pengajian sendiri. Tapi cuma jadi minoritas di sini.”

Saya menyayangkan sekali keadaan ini. Inilah keadaan nyata umat Islam walau tercermin dalam lingkup sebuah komplek perumahan. Susah sekali bersatu hanya karena ada perbedaan pendapat dan perbedaan tradisi.

“Warga sini ga curiga dengan ketua pengajian itu?” Tanya saya.

“Iya memang awalnya warga sini bisik-bisik… Dia aliran apa sih. Tapi lama-lama orang-orang bisa nerima. Sebabnya ketua pengajian itu lembut banget.” Jawab adik saya.

Aha.. Kelembutan. Itu dia kunci sukses dakwah. Dan saya saksikan sendiri bagaimana masyarakat bisa menerima seorang da’iyah karena kelembutan sikap yang dimilikinya.  Kelembutan itu yang bisa membuat mantan aktifis dakwah kampus itu bertahan menghadapi fitnah saat ia membangun dakwah di masyarakatnya. Kelembutan itu sejatinya adalah kekuatan. Sedang sikap keras dan kasar itu adalah kelemahan. Kelembutanlah yang mendorong da’iyah itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang penebar keraguan terhadap dakwahnya. Kelembutan juga yang membuatnya legawa bila anggota pengajian tidak lagi menghendakinya memimpin pengajian ibu-ibu, walau akhirnya anggota pengajian tetap mendukungnya memimpin penyelenggaraan pengajian rutin di kompleks itu.

Pada kelembutan seorang da’i, ada mental yang baja.

 

Saat Akal Si Kecil Sudah Sampai

ayah bersama anak remajanya

Alya tiba-tiba bersikap serba salah. Saat sedang bersama orang tuanya mengunjungi rumah sanak famili dalam acara keluarga besar, Alya tiba-tiba menarik diri, hilang fokus, dan sedikit ketakutan. Sikap anak berusia 11 tahun dan masih duduk di bangku kelas 6 SD ini ditangkap oleh ibunya. Interogasi pun dimulai.

Ada apa? Rupanya Alya mendapatkan menstruasi pertama kali. Ibunya Alya hidup di zaman modern. Andai ia hidup setidaknya sekitar 80 tahun yang lalu, tentu akan langsung terpikirkan pernikahan untuk anak sebelia itu. Zaman terlalu cepat berubah, hanya terpaut beberapa puluh tahun, usia standard layak menikah tiba-tiba berubah.

Tapi di lain itu, Neng Alya kini sudah mulai dicatat amalannya dan harus berhadapan dengan pahala dan dosa. Di usia sebelia itu, dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kenyataan ini yang tak bisa diubah oleh zaman.

Ada pihak-pihak yang menggugat kata remaja dimasukkan dalam pengkategorian seseorang berdasarkan umur. Alasannya, Islam tidak mengenal remaja. Islam hanya mengenal 2 kategori: Belum baligh, atau sudah baligh. Alasannya lagi, kategori remaja diperkenalkan oleh psikolog barat dan bisa mengaburkan pandangan tentang syariat. Hmm.. Silakan dipertimbangkan protes itu.

Pro atau kontra atas pandangan tadi, memang sudah menjadi realita bahwa para orang tua saat ini tidak terlalu peduli dengan masa aqil baligh seorang anak. Aqil baligh, yang ditandai dengan mulai masuknya kewajiban mandi wajib bagi seseorang, memiliki makna leksikal “sudah sampai akalnya.” Karena itu, menjadi otomatis bila seorang anak mimpi basah (bagi pria) atau mendapatkan menstruasi (bagi wanita), anak itu dibebankan syariat-syariat Islam yang harus dijalankannya secara kaffah, baik syariat individu (seperti sholat, puasa, bahkan zakat); hingga syariat yang berkaitan dengan muamalah (seperti menyambung silaturahim, berdakwah, hingga… aturan-aturan dalam pernikahan).

Di masa aqil baligh, saat seorang anak berhadapan dengan 2 pilihan dalam aktivitasnya: dosa atau pahala, sangat berhak untuk diberikan pembekalan oleh orang tuanya tentang ajaran-ajaran Islam secara utuh (lihat QS 2:208). Ini bukan soal sekedar memberikan pemahaman tentang apa fungsi sperma atau mengapa sel telur harus dilepas sebulan sekali. Atau hanya bekal tatacara mandi wajib. Sangat penting bagi orang tua menyadari bahwa sang anak sudah memasuki usia layak untuk berjuang bagi dirinya sendiri.

Di usianya memasuki aqil baligh, sesungguhnya seorang anak butuh diajarkan metode yang tepat untuk menentukan baik dan buruk. Poin-poin norma benar-salah mungkin sudah diajarkan dan dihafal oleh anak sedari kecil. Tapi saat di usianya, ia akan menemukan kasus-kasus yang harus secara cermat ia pertimbangkan dan selesaikan. Periksalah, apakah ia punya metode sederhana untuk menyikapi suatu persoalan. Bila orang tuanya mengerti kaidah fiqh, lebih hebat lagi bila bisa diajarkan secara aplikatif.

Kita memang hidup dalam kultur yang berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Namun yakinkah bahwa zaman ini lebih baik karena ada pandangan seorang anak remaja harus bebas dari tugas mencari nafkah? Bila tugas itu menghalangi waktu belajarnya, memang tidak baik. Dulu, memang bersekolah bukan hal yang primer bagi usia remaja. Hanya saja tidak bisa juga orang tua tak mengajarkannya cermat berinvestasi dan cermat mengatur pengeluaran. Belajar bisnis kecil-kecilan yang tak mengganggu belajarnya adalah hak seorang anak yang memasuki aqil baligh. Lepaskanlah dan berilah ia kepercayaan. Karena akalnya sudah sampai. Harus diasah dan dikembangkan.

Dan terakhir ini mungkin hal yang kontroversial. Allah menjadikan saat akal seseorang memasuki kesiapan untuk memanggul beban syariat, dijadikan juga reproduksinya matang dan siap untuk mencetak keturunan. Sekaligus juga ketertarikan dengan lawan jenis. Itu satu paket. Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS 2: 286). Berarti, secara naluriah sesungguhnya saat aqil baligh seorang anak sudah siap dan layak menikah. Cuma…

Memang di zaman ini lahir kata “cuma” untuk teori di atas. Mengeksepsi kenyataan puluhan tahun lalu bahwa pernikahan sangat lumrah terjadi di usia belasan tahun. Zaman ini memaksa seseorang dewasa lebih lambat. Ia bisa bertambah tua, namun belum tentu dewasa.

Tidak lain karena kampanye pembatasan kelahiran anak yang “menghasut” manusia zaman ini untuk menikah lebih telat. Mengabaikan betapa beratnya seorang manusia menjaga syahwat. Bahkan dalam kadar yang kebablasan, dimunculkan pula kampanye terselubung seks bebas. Kondom dijual bebas dan petugas mini market atau apotik tak mempedulikan seorang anak di bawah 17 tahun membeli kondom (padahal dalam kampanye lain, pernikahan ideal di atas usia 25 tahun). Standard usia wajar menikah yang ditandai matangnya reproduksi digeser oleh frame materialistis yang dikandung oleh kampanye tadi.

Dalam bahasan kontroversial menikah muda yang ada di benak pembaca, mohon pahami bahwa saat aqil baligh, sudah menjadi hak anak untuk diarahkan siap mengurus dirinya sendiri bahkan mempertanggung-jawabkan kemampuan seksualnya secara syar’i. Godaan bagi dirinya adalah perzinahan. Sadar atau tidak umat Islam terpasung oleh kampanye usia ideal menikah di atas 25 tahun, lantas orang tua mengabaikan kewajibannya untuk membuat anak siap menjalankan agamanya, mencari nafkah, serta menikah setelah usia aqil baligh. Orang tua cenderung tak peduli bahwa seorang anak butuh pembekalan itu semua. Di pikirannya, pendidikan di luar rumah sudah membina anaknya secara utuh, mendidiknya mencari nafkah dan juga berumah tangga. Padahal kenyataannya tidak begitu. Pendidikan di Indonesia berorientasi pada nilai dan gelar, bukan kemampuan yang menopang kedewasaan seseorang.

Terserah berapa tahun idealnya anak anda menikah dalam pandangan anda, tapi menuju ke arah sana adalah menjadi bagian dari tanggung jawab anda.

 

Saat Harus Memulainya Tanpa Perasaan Cinta

memulai rumah tangga

Dari sebuah siaran radio pagi, terdengar curhatan seorang gadis tentang persahabatannya dengan seorang teman pria. Telah melalui waktu yang lama bersama. Sekolah di SMP yang sama, SMA yang sama, bahkan Kampus yang sama. Teman main band. Dan tinggal berdekatan.

Mereka berdua belum mempunyai pasangan. Akhirnya, berinisiatiflah mereka untuk menjalin hubungan – pacaran. “Kenapa ga dicoba? Jalanin aja dulu,” pikir mereka.

Tapi setelah perjalanan waktu, kehampaan perasaan mengkandaskan hubungan mereka. Tidak ada perasaan cinta, itu alasannya. “Padahal dia baek banget. Gak jelek-jelek amat…” Begitu cerita si gadis melalui telepon. Dan mereka berdua jujur bahwa tak punya ketertarikan satu sama lain dan mereka tak bisa melanjutkan hubungan itu. Kembalilah dua insan itu dalam taraf hubungan persahabatan.

Cerita ini menggelitik akal dan perasaan saya, yang telah menikahi seorang muslimah sekitar 6 tahun lalu tanpa perasaan cinta atau suka sebelumnya. Agak berbeda dengan cerita curhatan gadis di siaran radio itu, saya bahkan tidak teralu mengenal pasangan saya saat melamarnya. Perkenalan pertama kali terjadi difasilitasi oleh pembimbing ruhani kami dan itu pun dengan niat mencari pasangan untuk menikah di jalan Allah. Setelah dua kali pertemuan, kami sepakat untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Dan saya pun mendatangi orang tuanya untuk melamar beberapa lama kemudian.

Pernikahan telah berjalan yang awalnya sama seperti gadis dan kawannya itu, tak ada perasaan apa-apa. Kenal pun baru. Tapi kami berhasil membinanya. Bahkan kini telah dikaruniai dua orang anak. Sekarang, adakah perasaan cinta itu di antara kami? Insya Allah ada. Saya rasakan.

Lantas, apakah penentu dari dua cerita yang hampir sama namun berkelanjutan berbeda? Jawabnya adalah niat dan komitmen!

Niat saya dan gadis itu berbeda. Niat saya, ingin mencari pendamping untuk hidup berdua dengan serius dalam mahligai pernikahan. Sedangkan niat gadis itu adalah mencoba menjalani hubungan yang kapan pun bisa saja disudahi tanpa pertimbangan dalam, yang hubungan itu dinamakan pacaran. Komitmen yang mengikat antara pernikahan dan pacaran tentu sangat berbeda. Pernikahan diikat oleh sebuah komitmen yang Allah sebut mitsaqon gholizho, sedangkan pacaran tak ada ikatan itu. Malah ulama mengatakan pacaran itu haram.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu mitsaqon gholizho (perjanjian yang kuat.).”

Niat dan komitmen membuat sebuah ikatan menjadi kokoh dan tak tergoyahkan oleh pasang surut cinta. Niat membangun rumah tangga yang menghadirkan generasi Islam yang sehat dan punya manfaat untuk umat, akan berbeda dengan niat pacaran yang hanya sekedar ingin mendapatkan manis dari perasaan saling cinta.

Dalam rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, membangun keluarga adalah tujuan. Pasangan dianggap sebagai partner menghadirkan keakraban di dalam keluarga. Yang menjadi perekat adalah cinta kepada Allah swt. Cinta kepada pasangan bukan perekat yang utama, walau itu adalah pemanis dalam berumah tangga. Bila cinta kepada pasangan hilang, ada tanggung jawab untuk menjamin keberadaan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah yang telah dibangun itu agar tetap utuh. Perpisahan tentu bukan jalan yang baik untuk missi menghadirkan generasi pembina umat. Tak tega melihat anak hidup dalam broken home. Idealnya seperti itu.

Tetapi dalam jalinan pacaran, pasangan dianggap sebagai partner yang harus menghadirkan cinta. Terjadi persaingan adu saling manja. Tak ada pertimbangan yang dalam bila harus saling berpisah. Karena itu ikatannya rapuh.

Wajar bila orang yang tak terpikirkan untuk membangun komitmen pernikahan di jalan Allah heran dengan pernikahan yang dimulai tanpa perasaan asmara. Tak dimulai dengan mabuk kepayang. Wajar mereka heran apakah ikatan seperti ini bisa bertahan. Karena yang dimengertinya adalah pernikahan itu merupakan muara dari dua aliran asmara. Tak lebih.

Tapi yang lebih mengherankan lagi bila ada aktivis dakwah yang pacaran (di luar nikah). Selain mereka harusnya mengerti bahwa pacaran itu berada pada zona “taqrobuz-zina” (mendekati zina), juga karena mereka yang harusnya paham bahwa ikatan cinta kepada Allah adalah kokoh malah bersandar pada ikatan asmara yang kapan pun bisa datang dan bisa hilang.

Bila tiba saatnya aktivis dakwah yang pacaran itu mengikat ikatan mereka dengan halal, mereka harus meluruskan niat mereka untuk membangun rumah tangga yang samara dan punya dampak untuk perkembangan Islam. Mereka harus punya kesadaran bahwa perasaan saling suka yang membuat mereka pacaran itu kelak bisa hilang – dengan izin Allah – dan komitmen untuk membangun keluarga yang islami lah yang mereka pegang erat-erat bila rasa saling suka itu hilang. Bila niatnya untuk sekedar menghalalkan rasa saling suka, sayang sekali gelar aktivis dakwah itu.

 

Hati-Hati Ngomporin Orang Menikah

kapan nikah
Di sebuah forum, pembicara mengulas topik tentang perlunya menyegerakan menikah. Peserta forum itu terdiri dari bujang-bujang yang beberapa di antara mereka sudah masuk usia layak menikah dan punya kesiapan finansial yang memadai. Sindiran-sindiran pembicara cukup menusuk hingga membuat para peserta mesem-mesem. Di usia yang sudah harusnya menikah, kalau tidak disegerakan, memang membawa kekhawatiran kalau-kalau para bujang itu malah pacaran, atau bermaksiat yang lebih parah lagi. Jadi “pengomporan” yang dilakukan oleh pembicara itu wajar adanya.

Tapi sayang, di tengah peserta ada beberapa remaja usia SMA. Mereka ikut tertawa, ikut mesem-mesem, ikut mengangguk-angguk mendengarkan materi bersama peserta yang lain. Mereka setuju, pacaran harus dijauhi. Dan penggantinya, menikah harus disegerakan.

Kemudian pulanglah remaja usia SMA itu dan bertemu kedua orang tuanya. Berbekal materi-materi “kompor” yang didapat tadi, remaja itu memohon kepada orang tuanya agar segera dinikahkan. Nah lho…

Akhirnya orang tuanya cuma bisa mengelus dada dan keheranan dengan aktifitas pengajian si anak. “Pengajian macam apa ini?” Pikir mereka. Dan dari mulut si ibu, terlontar kata-kata: “Memang, kalau anak sudah ikut pengajian itu, nggak lama mereka akan minta nikah.” Maklum, si ibu sudah mendapati beberapa anak remaja tanggung ikut pengajian itu. Stigma tidak bisa dihindari, karena setiap anak remaja yang dilihatnya ikut pengajian itu, mereka akan merengek minta nikah.

Hadits yang berbunyi, “Berbicaralah kepada manusia menurut pengetahuan mereka.” (HR Ad-Dialami, Bukhori) Memang mengindikasikan ada levelisasi pada kemampuan manusia dalam menangkap suatu retorika dan materi pembicaraan. Seperti tidak mungkin kita memberi pelajaran kalkulus pada anak SD, atau ushul fiqh pada anak yang baru belajar membaca Qur’an, materi yang mengandung provokasi untuk segera menikah rasanya terlalu dini diberikan pada anak remaja usia SMP atau SMA yang baru belajar Islam.

Memang tidak jarang seorang mentor menjawab pertanyaan, “Kak, kalau kita gak boleh pacaran, terus gimana kalo kita suka sama seseorang?”, dengan jawaban, “Islam tidak mengenal pacaran. Kalau kita suka sama seseorang, kita miliki dengan jalan yang halal, yaitu pernikahan.” Tentu seorang anak remaja puber yang mabuk kepayang dengan lawan jenis, dan pada saat yang sama ia mulai merasakan tentramnya hidup dalam jalan Islam, akan “kebelet” nikah agar cintanya berlabuh dengan indah dan halal. Dan kalau seperti ini, yang kaget adalah orang tua si anak.

Jawaban tadi tidak salah. Tapi kalau mau memberikan jawaban polos itu, lihat-lihtlah kondisi psikologis si remaja. Kalau misalnya diberikan jawaban, “Jodoh nggak kemana. Kehidupan kita telah diatur oleh Allah sebelum kita lahir di kitab Lauhul Mahfuzh. Sekarang kamu konsentrasi aja dulu belajar yang serius sampe lulus SMA dan lulus kuliah dan bekerja, fokus membentuk kepribadian yang muslim, dan membuat orang tua ridho. Perkuat cinta kamu kepada Allah karena cuma Dia yang berhak dicintai. Kalau Allah kehendaki, di saat kamu sudah siap berumah tangga, kamu akan menikah dengan dia.” Ya memang jawabannya panjang lebar. Dan tekankan agar anak itu melakukan hal-hal yang positif di usianya. Kalau belum apa-apa sudah diprovokasi menikah, konsentrasi belajarnya bisa buyar. Sayang kalau dakwah ini dipenuhi oleh remaja-remaja kebelet nikah dan melupakan prioritasnya di usianya.

Idealnya memang saat seorang anak sudah baligh, maka itulah saat yang tepat untuk menikah. Tapi dengan sistem pendidikan di negara ini, rasanya hal tersebut susah. Usia hingga SMA adalah usia wajib belajar. Sistem pendidikannya masih menerapkan disiplin yang ketat. Seragam hingga absensi diatur dengan ketat. Agak susah kalau anak usia SMA harus membagi perhatiannya antara belajar dengan mencari nafkah atau mengasuh anak. Beda dengan anak kuliahan yang sistem belajar di kampusnya tidak begitu ketat seperti SMP/SMA. Ada banyak cerita anak kuliahan yang sudah menikah.

Tapi walau masa kuliahan sudah lepas dari pendidikan penuh disiplin dan ketat, tetap saja seorang “pengompor” harus hati-hati memprovokasi anak kuliahan. Karena tidak semua orang punya kemampuan membagi waktu antara menikah dan belajar. Banyak kasus mahasiswa yang menikah namun kuliahnya berantakan. Kondisi tiap orang berbeda. Perhatikan prioritas dan potensi seseorang. Jangan sampai seorang kader dakwah yang punya potensi besar menjadi ahli di bidang tertentu, potensinya tenggelam karena terprovokasi untuk menikah dan kuliahnya jadi berantakan karena sibuk mencari uang dan gagal mengatur waktu.

Sebuah cerita lain, Seno adalah kader dakwah yang baru saja lulus kuliah dan baru saja diterima bekerja. Selama ini kuliahnya dibiayai oleh orang tuanya dan kakaknya. Orang tuanya pensiunan PNS berpangkat rendah dan hidupnya dibantu dengan pemberian anaknya yang sudah mapan. Gaji PNS-nya tidak memadai untuk kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari Seno mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada orang tuanya. Orang tuanya kaget dan pusing tujuh keliling. Tidak ada tabungan untuk membiayai pernikahan Seno. Bahkan Seno sendiri tidak punya apa-apa untuk hidup berumah tangga. Tidak punya kasur, lemari, perabotan, bahkan tabungan. Ia mengandalkan gaji barunya yang sebenarnya jauh dari cukup untuk menghidupi dua orang. Seno berkilah bahwa calon istrinya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Orang tuanya bingung, bukankah menafkahi itu tugas suami. Orang tuanya berfikir apakah di pengajian Seno tidak diajarkan bahwa suami berkewajiban menafkahi istri?

Rupanya Seno mendapat “kompor” dari guru ngajinya, yang dulu menikah dalam kondisi serba tidak berkecukupan. “Ana aja bisa, tidur dengan kasur busa kecil, tinggal di petakan sempit. Makan kadang cuma pake tempe.” Semakin bingung orang tuanya, ini pengajian macam apa. Dan kakaknya marah-marah karena orang tuanya belum lagi menikmati gaji Seno, tapi Seno malah sudah buru-buru menghidupi orang lain. “Mana bakti kamu?” Tanya kakaknya. Itu baru kesiapan finansial yang nihil dimiliki Seno. Kesiapan ilmu? Seno sendiri baru beberapa bulan ikut pengajian.

Memang harus hati-hati memprovokasi seseorang untuk menikah. Kasus Seno akan menjadi kontraproduktif bagi dakwah. Kasusnya akan terdengar oleh keluarga besar, dan akan menimbulkan antipati bagi dakwah. Cerita seorang sahabat yang menikah dengan cincin besi, itu tepat diberikan pada bujang yang sudah semestinya menikah tapi takut miskin. Namun untuk bujang seperti Seno, ia masih punya waktu untuk menabung mempersiapkan diri menikah sehingga tidak perlu membuat pusing orang tuanya, atau malah mengandalkan hidup dari istrinya (walau istrinya rela). Ia sudah punya semangat menikah, tinggal dimenej dan diarahkan untuk persiapan yang cukup. Ayat “Kalau kamu miskin Allah akan mengkayakan kamu,” (QS An-Nur : 32) bukan berarti tergesa menikah dengan persiapan yang sangat minim, padahal kalau mau bersabar menunggu persiapan itu akan terpenuhi.

Kebanyakan orang tua kader dakwah adalah orang umum dan tidak punya latar belakang dunia dakwah. Mereka punya logika sendiri dalam menilai anaknya apakah sudah harus menikah atau belum. Remaja yang terjejal cerita idealis tentang orang yang sukses menikah dini, biasanya mendapat resistensi dari orang tuanya yang menilai bahwa usia menikah adalah usia di mana sang anak punya penghasilan yang mapan. Benturan ini bisa membuat buruk citra dakwah atau suatu pengajian.

Seorang pengompor tidak boleh lepas dari menjelaskan apa itu persiapan menikah, bila memprovokasi orang untuk menikah. Jangan menjelaskan yang manis-manis saja tentang pernikahan. Provokasi yang tepat sasaran adalah pada bujang yang punya persiapan namun punya keraguan untuk menikah, bukan pada remaja tanggung yang persiapannya nihil dan masih jauh namun rentan tergoda untuk tergesa menikah.