RSS

Category Archives: Artikel Umum

Mereka yang Berjasa Tapi “Berbahaya”

Terapi Kanker Dr Wasito

Bagaimana kabarnya Dr. Warsito sekarang? Nama lengkapnya, Dr. Warsito Purwo Taruno, M.Eng. Ia anak bangsa penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker. Tak sedikit penderita sakit yang mengerikan ini membaik kondisinya setelah diterapi oleh alat yang diciptakan sang ilmuwan.

Tetapi jasa baiknya tak bisa dinikmati lama oleh rakyat Indonesia. Meski masih banyak masyarakat yang mengantri ingin berikhtiar dengan alat tersebut. Sejak Desember 2015, Klinik Edwar Technology tidak menerima pasien baru untuk ditangani, namun pasien lama diperbolehkan untuk berkonsultasi.

Kementerian Kesehatan, melalui surat yang ditujukan kepada wali kota Tangerang, ditandatangani Sekretaris jendral Kementrian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, menyebutkan bahwa PT Edwar telah melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tahapan proses penelitian yang sudah ditetapkan badan penelitian dan pengembangan Kemenkes. Klinik riset kanker yang dikelola Warsito tidak masuk dalam jenis klinik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia hanya mengenal dua jenis klinik yaitu klinik pratama dan klinik utama.

“Istilah penggunaan ‘Klinik Riset Kanker’ tidak dikenal dalam peraturan tentang klinik dan untuk penggunaan kata klinik harus sesuai standar yang ada dan memiliki izin operasional yang berlaku,” bunyi surat itu. Dan klinik itu pun kabarnya telah ditutup hingga kini.

Bagaimana dengan sang ilmuwan? Kabar terakhir yang saya terima tentang peraih BJ Habibie Technology Awards dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut akan mengembangkan teknologinya di luar negeri.

Penemuan Dr. Warsito ini sejatinya telah menolong banyak orang. Tetapi sekaligus membahayakan bisnis pihak lain. Terutama rumah sakit yang berbisnis dengan jasa pengobatan kanker. Pada akhirnya, Dr Warsito pun terjegal.

Mobil Listrik

Gas buang apa yang dikeluarkan oleh mobil listrik? Seharusnya tidak ada. Emisi gas buang hanya ada pada mobil yang menggunakan bahan bakar minyak atau gas. Tetapi untuk bahan bakar listrik, tak akan ada gas buang yang berbahaya bagi lingkungan. Namun kenyataannya, mobil listrik milik proyek Dahlan Iskan yang diberi nama Selo ini dinyatakan tidak lulus uji emisi.

“Mobil itu tidak lulus uji emisi, terlebih lagi hasil test drive mobil ini bahaya kalau digunakan di jalan umum”, ujar Sarjono Turin, Kepala Sub Direktorat Penyelidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung.

Pernyataan itu dikeluarkan di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi. Dalam perkara ini, vonis hukuman dijatuhkan kepada Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama Dasep Ahmadi, rekanan pembuat mobil listrik, 14 Maret 2016 lalu.

Sejatinya penemuan mobil listrik ini berjasa bagi pengembangan teknologi di Indonesia. Bahkan akan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Tetapi penemuan ini juga berbahaya bagi kelangsungan bisnis produsen-produsen mobil yang sudah besar. Pada akhirnya, proyek ini tersandung kasus korupsi.

Beras Maknyus

Yang terbaru dan sedang heboh adalah kasus Beras Maknyus. Pada Kamis malam lalu, 20 Juli 2017, Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang tediri dari Mabes Polri, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di daerah Bekasi yang memproduksi beras bermerk “Maknyus”.

Diungkap aparat, pelanggaran yang dilakukan oleh PT IBU adalah membeli gabah dari petani jauh melampaui harga normal yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, disinyalir beras ini mengandung mutu dan komposisi yang tidak sesuai sebagai beras premium. Usaha PT IBU ini membahayakan bagi penguasaha beras lainnya.

Belakangan kasus ini disangkut pautkan juga dengan komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) (Induk PT IBU), bapak Anton Apriantono, mantan Menteri Pertanian zaman presiden SBY dan merupakan politisi PKS.

Dari pembicaraan di dunia maya, diketahui bahwa sesungguhnya PT IBU ini berjasa kepada petani karena telah memberi gabah dengan harga yang di atas HET. Tetapi sekaligus berbahaya bagi pebisnis lain. Pada akhirnya Beras Maknyus pun terjaring kasus.

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2017 in Artikel Umum

 

Aku Adalah Kau yang Lain yang Harusnya Kau Jaga Perasaannya

Bagaimana suasana hati Anda kalau dalam suatu pengajian sang ustadz menggunakan nama Anda untuk contoh pelaku perbuatan cabul? Saya sih akan protes, “Emang gak ada nama laen, ustadz?” Dan bagaimana bila nama orang tua Anda yang dijadikan contoh? Akan lebih tidak rela lagi saya rasa.

Banyak kah orang yang ketika lahir diberi nama Muhammad oleh orang tuanya, namun ketika dewasa dihukum sebagai pelaku kejahatan? Ada banyak. Tapi rela kah Anda bila ada sebuah film yang menceritakan tokoh bernama Muhammad sebagai pelaku kejahatan dan digambarkan begitu buruk? Saya sih tidak rela. Dan saya yakin umat Islam akan protes. Kalau tidak salah dulu pernah ada telenovela yang seorang tokohnya bernama Fatimah dan digambarkan sebagai antagonis. Kemudian muncul protes umat Islam.

Anda punya tokoh idola? Bagaimana bila ada orang yang mengarang cerita dengan tokoh jahatnya bernama sama dengan idola Anda? Anda pendukung pak Jokowi tidak akan terima kan kalau ada cerpen yang memuat tokoh bernama Jokowi dengan perilaku yang buruk? Walau pun pembuat cerita menulis disclaimer: “Nama dalam kisah di atas hanyalah rekaan, kalau ada kesamaan itu hanya kebetulan saja”. Anda tetap tak terima dan mungkin melaporkan cerita itu ke aparat sebagai penghinaan kepada kepala negara.

Bagaimana perasaan Anda bila melihat film yang peran antagonisnya digambarkan satu suku dengan Anda? Saya rasa sedikit banyak akan protes juga dalam hati. Atau bila ada peran antagonis yang agamanya sama dengan Anda, sedang yang lain agamanya beda tapi baik-baik semua. Bahkan bila si antagonis itu profesinya sama dengan Anda, akan ada juga perasaan sebal.

Rela kah Anda bila nama Anda dipakai oleh teman untuk menamakan anjing kesayangannya? Saya rasa Anda akan komplen.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, kira-kira bisa dimengertikah mengapa banyak umat Islam yang aktif di pengajian merasa tersinggung dengan film “Kau Adalah Aku yang Lain” yang baru saja memenangkan Festival Film Pendek yang diselenggarakan Polri?

Tak Adakah Alternatif Cerita Lain?

Andai yang menghadang mobil ambulan dalam film itu adalah preman, tentu orang akan menganggap wajar. Tapi yang diceritakan adalah orang yang aktif di pengajian. Tentu umat muslim akan tersinggung. Mereka merasa tak diajarkan sebegitu ekstrim seperti di film, tak akan bertindak sebegitu bodoh, tapi mengapa ada penggalan cerita tersebut.

Bila objektif cerita ingin mengajarkan toleransi, mengapa harus dengan contoh buruk yang melibatkan jamaah pengajian? Padahal contoh baiknya sudah ada dan bisa dijadikan cerita tanpa membuat satu pihak pun tersinggung. Yaitu saat umat Islam ikut “mengarak” sepasang pengantin non muslim di aksi 411 maupun 112.

Saya meragukan bila tak ada film lain yang diikutsertakan dalam festival tersebut yang tak kan menuai kontroversi publik, dan memiliki bobot yang tak kalah bagus. Saya berprasangka ada. Lalu mengapa bukan film itu yang dimenangkan?

Pada akhirnya, alih-alih menghantarkan pesan dengan mulus kepada masyarakat, film itu malah menimbulkan keributan baru. Kampanye toleransi, bhineka, dll akan semakin dianggap retorika kosong belaka oleh masyarakat.

Seharusnya pihak penyelenggaranya punya sense of crisis dengan perselisihan yang tak kunjung usai di tengah masyarakat. Kalau ada niat meredakan ketegangan, harusnya berhati-hati agar tidak memicu ketersinggungan salah satu pihak. Bisa kok dibuat alternatif cerita lain yang menggambarkan toleransi dengan indah tanpa kontroversi.

Raso Jo Pareso

Ada sebuah falsafah dari kampung saya yang berbunyi “raso jo pareso.” Dalam Bahasa Indonesia berarti rasa dan periksa. Falsafah ini mengajarkan masyarakat Minangkabau untuk memastikan terlebih dahulu perkataan yang akan disampaikan kepada lawan bicara, jangan sampai menyinggungnya. Dengan cara merasai seolah ada di posisi pendengar, dan memeriksa kembali apakah ada redaksi kata yang rawan disalah tafsirkan.

Dari raso jo pareso itu kita tahu, membawakan nama teman untuk permisalan buruk akan membuat ia tersinggung. Begitu juga bila membawa nama keluarganya, nama tokoh yang dihormatinya, dll. Merasai dan memeriksa, hingga kita tahu bahwa bila kita yang menjadi dia, akan merasa tidak enak juga.

Inilah manifestasi dari kalimat “kau adalah aku yang lain” yang dijadikan judul dalam film tersebut. Jadi ironis, kalimat tersebut tidak diresapi benar dengan konsep raso jo pareso hingga akhirnya menimbulkan kemarahan dari “aku yang lain”-nya si sutradara, produser, dan penyelenggara.

Kalau aku adalah kau yang lain, mengapa masih kau buat aku tersinggung? Peka lah! Gunakan raso jo pareso. Karena aku adalah kau yang lain yang harus kau jaga perasaannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2017 in Artikel Umum

 

Pelajaran Dari Telinga yang Tendensius

Ada satu cerita humor yang masih saya ingat dari sebuah ceramah KH Zainuddin MZ Allahuyarham. Ia mengisahkan tentang seorang jamaah majelis taklim yang mengantuk saat mendengar khutbah, lalu hilang fokus.

Menghadap kepada jamaah, dengan wibawanya sang ustadz berkata, “Pencurian yang paling baik adalah mencuri salam.” Ustadz menjelaskan, ketika seseorang mendengar salam yang bukan ditujukan kepadanya, dan ia tetap menjawab salam tersebut, maka itulah yang diistilahkan dengan mencuri salam.

Peserta pengajian yang mengantuk itu salah mendengar. Yang ia tangkap, pencurian yang terbaik adalah maling ayam. Sepulang dari majelis taklim ia pun mempraktekkan “ilmu” yang ia dapat. Ketika dibekuk dihakimi massa, ia pun menggunakan ceramah sang ustadz sebagai dalih.

Salah dengar memang bisa terjadi pada siapa saja. Ada banyak penyebab. Mungkin artikulasi dari pembicara yang kurang baik. Atau ada gangguan kepada gelombang bunyi berupa noise/distorsi, dll sehingga tak sempurna ditangkap pendengaran. Atau masalahnya ada di pendengar, entah indranya yang ada gangguan atau otaknya kurang fokus untuk mencerna yang disampaikan.

Tak jarang, belum apa-apa si pendengar punya stigma tersendiri untuk si pembicara. Dalam kasus ini, kalimat yang jelas saja sering disalah artikan. Apalagi kata yang samar. Maka ucapan pun ditafsirkan sesuai dengan stigma yang ditempel kepada pembicara. Hal seperti ini yang sering menimbulkan salah paham.

Sehingga kita mengerti, mengapa ada yang bisa salah dengar pada khutbah Idul Fitri yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir di Masjid Al Azhar, 25 Juni 2017 kemarin.

Sedihnya, salah dengar atas ceramah ustadz Bachtiar Nasir ini terlanjut menimbulkan penghakiman kepada beliau. Lini massa gaduh. Ada yang mendengar ustadz berkata, “Islam toleran adalah Islam setan”. Maklum, ustadz yang merupakan salah satu punggawa GNPF MUI ini dicap radikal dan tidak toleran oleh segelintir pihak. Kemudian perkataan salah dengar ini disebarkan via media sosial tanpa klarifikasi. Pada akhirnya berujung permintaan maaf karena si penyebar sudah salah menangkap informasi.

Ada pameo yang berbunyi, “orang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.” Telinga yang tendensius, akan memilih-milih informasi sesuai selera, menafsir kembali informasi yang diterima, bahkan berujung salah dengar.

Kita berbaiksangka, kejadian ini memang salah dengar, bukan produk fabrikasi hoax untuk menciptakan gaduh di masyarakat. Tapi tak mampunya masyarakat kita menyikapi informasi kembali memantik pertengkaran antara kita.

Terngiang lagi apa yang pernah dikicaukan oleh M Sohibul Iman, Presiden PKS melalui akun twitternya. “Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkan irreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” tulisnya.

Ya, sejak pilpres 2014 masyarakat sudah terbiasa dengan kabar bohong dan terbiasa tak berhati-hati. Berbagai seruan untuk melawan hoax menjadi angin lalu. Berkali-kali peringatan agar mengutamakan tabayun, tak ada pengaruhnya. Menciptakan perselisihan berlarut-larut yang seperti tak bisa lagi dipulihkan. Irreversible damage.

Sekali lagi, masyarakat gagal melewati ujian. Bukan oleh provokasi yang dibuat-buat, tapi karena telinga yang belum apa-apa punya tendensi akibat stigma atau prasangka.

Mohon jadikan pelajaran, kalau kita ingin menyudahi permusuhan yang kontra produktif ini, mari tepis segala stigma, terutama kepada pihak yang berseberangan. Berdialoglah dengan bebas prasangka. Mohon ini dijadikan syarat bagi rekonsiliasi nasional.

Dan saya meminta kepada semua pihak, berhenti menjadi kompor agitasi stigma intoleran kepada umat Islam. Kurang apa indahnya toleransi yang terselip pada aksi massa umat Islam yang lalu, saat mereka ikut menjadi “pengarak pernikahan” bagi pasangan non muslim. Cerita ini sudah menjadi legenda.

Lantas membuat dan menyebarkan film yang menggambarkan peserta pengajian yang tak punya rasa kemanusiaan, hanyalah bentuk pengekalan stigma kepada umat Islam. Cara ini tak kan meredakan permusuhan, malah membuat potensi salah dengar dan kegaduhan yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2017 in Artikel Umum

 

Menangisi Ketiadaan Raja Faisal

Tanggal 25 Maret 1975 mungkin menjadi titik kulminasi kebangkitan Islam. Seorang ksatria yang dengan gagah melindungi setiap dakwah Islam di muka bumi – tanpa membeda-bedakan kelompok atau pelaku dakwah – dengan tragis terbunuh dengan cara yang keji. Maka berduka lah segenap umat Islam di penjuru dunia.

Sosok itu adalah Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman as-Saud rahimahullah. Dibunuh oleh keponakannya sendiri, yaitu Faisal bin Mus’ad yang baru saja pulang dari Amerika Serikat. Mus’ad menyamar sebagai delegasi Kuwait yang ingin bertemu Raja Faisal secara mendadak. Pada saat Raja Faisal berjalan kearahnya untuk menyambut, Faisal bin Mus’ad pun tiba-tiba mengeluarkan sepucuk pistol dan menembakkannya ketubuh Raja Faisal sebanyak tiga kali. (sumber: wikipedia)

Raja Faisal mengingatkan saya kepada sosok Hamzah bin Abdul-Muththalib a.s., paman Nabi Muhammad saw yang menjadi pelindung bagi dakwah Rasulullah saw. Mereka berdua sama-sama orang kuat yang memiliki keberpihakan kepada dakwah Islam. Dan dengan kekuatannya, ia menjadi penjamin dakwah tetap berjalan. Raja Faisal lah yang mengecam pemerintah Indonesia karena memenjarakan Mohammad Natsir, da’i dan politisi partai Masyumi. Raja Faisal juga yang berupaya melindungi Sayyid Quthb dari hukuman gantung oleh Jamal Abdul Nasser.

Ya, terhadap Sayyid Quthb, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, Raja Faisal punya keberpihakan. Di masa kepemimpinannya, Kerajaan Arab Saudi mensponsori penerbitan buku-buku karangan Sayyid Quthb. Termasuk Ma’alim Fi Thariq. Pembelaan kepada Sayyid Quthb pun turut diperlihatkan oleh ulama Arab Saudi, salah satunya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Beliau ikut meminta penundaan terhadap hukuman mati untuk Sayyid Quthb. Alhamdulillah, penguasa dan ulama ketika itu kompak dalam pembelaan kepada sesama muslim.

Saya tidak hidup di zaman itu. Tetapi saya yakin, mengingat pembelaan Syaikh Bin Baz, friksi antara pegiat dakwah Salafi – yang berkembang di Arab Saudi – dan Ikhwanul Muslimin tidak semenyedihkan sekarang. Apalagi Fatwa Lajnah Daimah nomor 2/237-238 menyandingkan antara Ahlul hadits, Jamaah Anshor Sunnah, dan Ikhwanul Muslimin dalam “kelompok yang paling dekat dengan kebenaran.” Fatwa itu pun memerintahkan agar tiap kelompok saling bekerjasama.

Kini setelah bertahun-tahun wafatnya Raja Faisal, buku-buku yang diterbitkan Sayyid Quthb – yang sebenarnya ia tulis untuk mengoreksi kehidupan sekuler di negerinya, Mesir – dituduh sebagai biang kerusuhan di jazirah Arab. Buku-buku itu memang tak lepas dari kekurangan dan kritikan. Bila ada yang menjadikannya referensi untuk melakukan teror, toh pelaku teror juga menggunakan ayat-ayat Qur’an sebagai pembenaran. Tentu kesalahan ada pada penafsiran para pelaku.

Pertanyaan sederhana, apakah terbunuhnya Raja Faisal ketika itu diinspirasi oleh tulisan Sayyid Quthb? Apakah anggota Ikhwanul Muslimin yang membunuh Raja Faisal?

Jawabannya bukan. Selama Raja Faisal hidup, keadaan baik-baik saja. Tak ada yang menafsirkan tulisan Sayyid Quthb untuk membuat konspirasi kepada Raja Faisal. Tidak juga anggota Ikhwanul Muslimin.

Sebenarnya buku-buku Sayyid Quthb pun tidak dijadikan rujukan utama dalam gerakan Ikhwan. Karyanya hanyalah salah satu inspirasi untuk kebangkitan Islam. Anggota Ikhwan lebih banyak menyerap gagasan Hasan Al-Banna yang dituang dalam Majmu Rasail.

Pada tahun 1975 itu bukan Ikhwan yang membuat kekacauan yang berujung pada wafatnya sang pembela dakwah Islam. Tapi kini Ikhwan tertuduh menjadi penyebab kekacauan di berbagai jazirah Arab. Tahun 1975 kekacauan tidak disebabkan oleh tulisan Sayyid Quthb, tapi kini karya-karyanya dituduh pemicu terorisme.

Selain Arab Saudi, negara yang menampung pengungsian anggota Ikhwan – karena diusir dari Mesir – adalah Qatar. Tetapi tak pernah terdengar isu anggota Ikhwan merencanakan pemberontakan kepada kepala negara Qatar. Hubungan mereka baik-baik saja. Tak terdengar karya Sayyid Quthb menginspirasi anggota Ikhwan untuk merebut kekuasaan di Qatar.

Kemarin ini Arab Spring merebak di Timur Tengah. Yang terjadi adalah rakyat yang selama ini ditindas oleh Mulkan Jabbariyan (diktator) mencoba melepaskan kungkungan. Di Tunisia, pilot yang menolak menerbangkan Ben Ali – yang dianggap pahlawan oleh rakyat sana sebagai pencetus momentum kejatuhan diktator – tak pernah disebut sebagai anggota Ikhwan. Di Mesir, bahkan pendukung liberalisme ikut ambil bagian bersama masyarakat untuk menjatuhkan Hosni Mobarak. Di Suriah, FSA -kelompok yang awal memberontak kepada Bashar Assad – berhaluan nasionalis dan bukan sayap Ikhwan. Tetapi yang disalahkan atas kekacauan semua ini hanyalah Ikhwan.

Entah lah apa yang terjadi di istana kerajaan Arab Saudi. Namun ketika Raja Salman naik, sempat terpercik harapan akan hubungan yang membaik antara para Pelayan Tanah Haram dengan aktivis pergerakan. Apalagi sempat terlihat hubungan mesra antara Raja Salman, Erdogan, dan Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani. Hubungan itu sedikit banyak akan berimbas pada membaiknya hubungan antara pengikut dakwah salafi dan Ikhwanul Muslimin.

Tapi semua terjadi begitu cepat. Pada 20 Mei 2017 Trump berkunjung ke Arab Saudi, bertemu dengan para anggota kerajaan. Beberapa hari kemudian, tanggal 5 Juni, Kerajaan Arab Saudi memutus hubungan dengan Qatar. Dan kemudian para pegiat dakwah salafi dan Ikhwan di Indonesia (mungkin di negara lain juga) terlibat perang kata-kata di bulan yang penuh berkah ini. Innalillahi…

 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2017 in Artikel Umum

 

Fenomena Plagiator Muda, Tak Beri Solusi Tapi Perpecahan Abadi

Jangan heran kalau selebriti muda yang baru naik daun itu tertangkap basah memplagiat tulisan orang. Karena dari awal, tidak ada hal baru dalam gagasannya. Esensi “semua agama sama” adalah hal basi, yang kemudian ia kemas ulang dalam retorika dan diksi yang seolah baru.

Hanya saja, kemunculan anak itu memberi kegirangan luar biasa bagi pengusung pluralisme agama. Bagi mereka, terpenuhilah kebutuhan akan kader penerus yang akan mengamplifikasi gagasan usang dan “me-repost” wacana lama di media sosial.

Momennya kemunculannya pun tepat. Setelah keterpurukan si junjungan di bilik pemungutan suara dan ruang sidang, penganut liberalisme agama mendapatkan sosok baru untuk dipuja. Seolah mengurangi pedihnya luka.

Terlalu lebay anak itu disanjung-sanjung, bahkan diundang ke upacara peringatan Pancasila. Kini, Pancasila seolah jadi jargon jualan tanpa isi moral. Tak peduli seorang plagiat yang tak jujur, atau biduan yang menggoyang-goyang bokongnya di depan publik, siapa pun asal sesuai selera boleh saja disematkan gelar Pancasilais dan menjadi duta.

Ada yang tahu nama Muhammad Abrary Pulungan? Mungkin masyarakat sudah lupa. Anak ini berani melaporkan kecurangan Ujian Nasional di sekolahnya. Tapi untuk kejujuran seperti ini, tak banyak apresiasi sebagaimana si plagiator muda.

Padahal bangsa ini darurat kejujuran. Beberapa waktu lalu seorang murid di Padang Sidempuan terpaksa menenggak racun akibat diteror seorang gurunya setelah ia mengunggah status di media sosial yang mengindikasikan kecurangan pada Ujian Nasional.

Ada banyak lagi anak yang pantas mendapat apresiasi lebih. Para siswa yang telah memenangkan olimpiade pelajaran di tingkat internasional tidak pernah mendapat ulasan seheboh si plagiator di media massa. Atau para atlet yang berprestasi mengharumkan nama Indonesia.

Diangkatnya nama si plagiator muda hanyalah sarana mempolitisasi kebhinekaan dan Pancasila. Seorang walikota yang hendak maju menyalonkan diri jadi gubernur sudah terlihat eksis berfoto bersamanya. Siapa yang butuh suara kaum kotak-kotak, sila berpose dan memuji-muji anak itu.

Dan buruknya, fenomena plagiator muda ini akan mengekalkan politik identitas dan perpecahan anak bangsa. Sebab tulisannya menyinggung hal yang sensitif dan mengangkat hal yang kontroversial. Ia bisa menjadi simbol baru permusuhan antar masyarakat, bahan perdebatan baru di media sosial, dan standard baru untuk stigmatisasi. Seperti yang telah terlihat belakangan ini.

Sementara anak itu tak menghadirkan solusi yang menyatukan bangsa ini. Hanya plagiarisme yang sebabkan keriuhan baru.

 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2017 in Artikel Umum

 

Film Iqro dan Pilkada Jakarta

Raut gundah Professor Wibowo masih terbayang di benak saya. Dalam rapat bersama penyumbang dana untuk operasional Bosscha, Professor Wibowo dengan suara tercekat memaparkan bahwa Bosscha adalah anugerah Allah swt untuk Indonesia yang terpelihara dari kekejaman perang dunia kedua. Tatkala Jepang menjatuhkan bom ke atas tanah Bosscha, Allah swt menghendaki agar bom itu tidak meledak.

Begitu perih hati Professor Wibowo mendengar ancaman dana untuk Bosscha akan dihentikan. Bosscha dianggap tak lagi efektif dan produktif sebagai tempat observasi benda-benda langit karena terganggu polusi cahaya di sekitar. Terutama sejak pembangunan hotel yang berjarak 200 meter dari gedung berkubah itu.

Semoga sepenggal cerita di atas tidak menjadi “spoiler” bagi film Iqro yang tengah tayang di bioskop-bioskop tanah air. Kesan setelah menonton film Iqro akhir pekan kemarin masih begitu kuat. Tentang jumawanya konglomerasi yang tega membuat kerusakan demi membangun bisnis dengan dana besarnya. Mengendarai birokrasi yang tak tahan godaan uang.

Pada film tersebut, dikisahkan tentang pembangunan hotel di dekat Bosscha yang semakin mengganggu pengamatan benda-benda langit akibat polusi cahaya yang ditimbulkan. Operasional Bosscha pun terancam dihentikan.

Ketika para penonton dibuat sesak dada akibat konflik di film tersebut, sesungguhnya di dunia nyata kisah ketamakan ini sedang terjadi. Meski bukan pada Bosscha korbannya, namun menimpa nelayan di pesisir Jakarta yang terganggu akibat pembangunan pulau reklamasi di Teluk Jakarta.

Apa yang dirasa para nelayan itu lebih menyakitkan dari yang dirasakan Professor Wibowo (diperankan Cok Sumbara). Karena mengganggu pencarian nafkah mereka. Para nelayan harus berjalan lebih jauh untuk mencari ikan dan menghabiskan lebih banyak modal untuk bahan bakar.

Dalam film Iqro, penonton mungkin gemas dengan konglomerat yang seenaknya membangun tanpa izin. Begitu pula di dunia nyata, sebenarnya banyak masyarakat yang gemas dengan ketamakan pengembang yang bahu membahu dengan birokrasi menguruk laut menjadi pulau palsu reklamasi. Tak peduli lingkungan rusak, namun proyek terus berjalan meski tanpa amdal.

Mei 2016 sebenarnya nelayan telah memenangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas izin reklamasi untuk Pulau G. Namun ketika itu proyek telah terlanjur berjalan. Reklamasi juga melanggar beberapa peraturan, misalnya Pasal 36 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 31 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan peraturan lain. (Lihat: http://www.bantuanhukum.or.id/web/reklamasi-teluk-jakarta-proyek-ambisius-penuh-pelanggaran/ )

Menteri Susi Pudjiastuti sendiri dalam beberapa kesempatan berbicara kepada media meyatakan ketidak setujuannya atas reklamasi ini. Kenyataannya proyek terus berjalan.

Ini yang membuat pikiran saya seketika terasosiasi dengan kasus reklamasi Teluk Jakarta saat melihat adegan film Iqro yang menceritakan pembangunan illegal hotel bintang 5 yang berjarak ratusan meter dari Bosscha.

Memang film Iqro ini dibuat tanpa ada hubungannya dengan pilkada Jakarta. Namun moral story dari film ini tentu mengajak kita untuk berfikir ulang untuk memilih calon yang ngotot ingin mereklamasi Teluk Jakarta.

Zico Alviandri

8 Februari 2017

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2017 in Artikel Umum

 

Jangan Caci Bumi yang Kau Pijak, Jangan Rendahkan Langit Tempat Kau Berlindung!

Oleh ayah, saya diberi nama Zico. Bukan nama pribumi. Tapi cukup keren meski saya akui penampilan saya tak mampu imbangi kerennya nama saya itu. Dan mohon jangan diplesetkan menjadi cacian yang marak dibincangkan di media sosial belakangan, meski terdengar mirip, meski sekedar bergurau. Karena umpatan itu sudah melampaui batas.

Saya perantau. Kakek dan orang tua saya hijrah dari sebuah kampung di pesisir ranah Minang ke kaki pulau Sumatera, tepatnya di Bandar Lampung. Saya lahir dan besar di situ, lantas melanjutkan kuliah di pulau seberang. Hingga sekarang tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.

Memang, suku saya terkenal dengan budaya merantaunya. Sampai-sampai kata perantau itu menjadi judul film yang menceritakan seorang pemuda Minang. Saya yakin, jumah penduduk di Sumatera Barat itu masih lebih kecil dari jumlah orang Minang yang merantau ke penjuru dunia.

Sebagai perantau, yang dicamkan oleh saya adalah pepatah leluhur yang berbunyi: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Maksudnya, ada budaya yang harus dihormati oleh perantau di mana pun ia tinggal. Tak hanya dihormati, tapi orang perantau haruslah berbaur dan menjaga kelestarian budaya setempat.

Perantau dari mana pun, adalah pantang untuk membuat kekacauan karena menghina budaya setempat. Di Nusantara ini masyarakat hidup dengan menjalin aturan agama dan budaya. Maka tak boleh pula bagi perantau menghina agama penduduk di tempat ia tinggal, menistakan kitab suci yang dijunjung di sana, atau memaki pemuka agama yang dimuliakan masyarakatnya.

Kalau ini terjadi tentu tak segan penduduk asli mengusir si perantau. “Tak tahu diuntung”, ucap mereka. “Sudah mencari penghidupan di tempat kami, kau tak bisa menghormati kami.” Tak ingin pula kita terjadi hal yang lebih ditakutkan lagi: kerusuhan massal karena dipantik oleh lidah yang tak punya adab.

Tak hanya budaya, penduduk setempat pun tak boleh pula kita rendahkan kehormatannya. Senyampang kita mampu hidup sukses di perantauan, bukan berarti berbuat sekehendak hati lalu memandang hina, memaki, membentak, menuduh pencuri, dan perbuatan tak pantas lain kepada pribumi.

Memang dalam diri pendatang itu punya motivasi yang lebih besar untuk hidupnya dari warga asli. Mereka harus survive. Tak hanya suapan nasi yang dicari, tempat berteduh juga harus diperjuangkan. Maka mereka berjuang lebih gigih, hingga – berkat karunia Allah swt – si perantau pun menjadi lebih makmur dari yang lainnya.

Umumnya begitu, meski banyak juga pengecualiannya seperti saya. Hiks…

Sayangnya setelah berjaya, tak jarang si perantau lupa diri. Ia memandang rendah pribumi, menganggap mereka pemalas dan bodoh, dan segala lintasan pikiran lain yang ditiup-tiupkan nafsunya. Sikap congkak ditampakkan. Dan yang seperti ini lah bisa memicu kerusuhan sosial.

Tak pantas bagi perantau bersikap seperti itu. Tahu diri lah. Kalian menumpang di tempat orang. Bila bisa lebih sukses, tetap lah rendah hati.

Dan sebagai perantau, tak patut pula merusak kampung yang ditempati. Merusak buminya, merusak lautnya, merusak udaranya. Misal, membangun pabrik, tapi tak acuh dengan limbah yang merusak lingkungan. Atau sebagai developer, si perantau ini menimbun laut membangun pulau. Reklamasi, kata orang sekarang. Padahal dengan pekerjaannya itu para nelayan menjadi kesusahan mencari ikan dan laut pun tercemar. Dan parahnya lagi, pulau yang dibuat itu disediakan untuk perantau lain yang satu kampung dengan kita. Dibangun kemegahan sedemikian rupa di tengah lingkungan yang rusak. Tak ada manfaat sedikit pun untuk warga asli.

Hidup sebagai perantau harusnya hidup dengan penuh tenggang rasa. Melapangkan hati seluas-luasnya, dan mampu merunduk serendahnya meski telah berjaya di tanah orang. Itu semua demi si perantau sendiri, agar tak membangkitkan kemarahan orang kampung, tak mengundang perkara untuk diusir, atau menyebabkan kerusuhan sosial yang lebih besar.

Tahu diri lah! Jangan dicaci bumi yang kau pijak, dan jangan rendahkan langit tempat kau berlindung! Kata-kata itu saya camkan. Dan saya rasa, berlaku pula untuk semua perantau.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2017 in Artikel Umum