RSS

Category Archives: Artikel Umum

Orang Minang Pelit? Ambulans di Gaza Membantahnya

Saat kecil saya sering dikatain “PMP”. Padang Memang Pelit. Sebuah streotip untuk orang Minang. Tapi baru-baru ini, viral foto yang mematahkan penilaian tersebut.

Beredar foto ambulans di Gaza dengan logo Pemkot Padang berdampingan dengan logo Aksi Cepat Tanggap (ACT). Itu adalah sumbangan dari masyarakat dan pemerintah di ibu kota Sumatera Barat.

Kata Branch Manager ACT Padang Aan Saputra yang dikutip media: ““Ambulan dari para dermawan dan Pemerintah Kota Padang dibeli dan dimodifikasi langsung di Palestina.” Ia menambahkan, “Bantuan tersebut dihimpun pada awal 2020 dan disalurkan pada Mei 2020 berupa satu unit ambulans yang ketika itu wali kota masih dijabat Mahyeldi.”

Dia menyampaikan tidak hanya memberikan bantuan satu unit ambulan, Pemkot juga mendukung operasional ambulan tersebut. “Untuk operasional ambulan langsung dikelola oleh perwakilan ACT di Palestina,” ujarnya.

Buya Mahyeldi, politisi PKS yang sekarang menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Barat membenarkan. “Itu (ambulans) bantuan Pemkot Padang bersama warga pada Maret 2020 lalu,” katanya dikutip Republika.

Ejekan “padang memang pelit” itu menggeneralisasi suku Minang. Memang, masyarakat umum kalau memanggil orang dari Sumatera Barat dengan sebutan “orang Padang.” Ini perlu diluruskan. Padang adalah kota, bukan suku, juga bukan Provinsi. Kalau tidak diluruskan, nanti salah kaprah begitu bisa membuat orang jadi Presiden.

Dan stereotip itu akhirnya terbantahkan. Kalau Anda melihat ada orang bersedekah, apalagi untuk Palestina, percayalah dia sebenarnya sudah terbiasa berderma.

Maka, orang Minang itu ya sebenarnya ahli shodaqoh. Entah dari mana tuduhan pelit itu berasal. Mungkin karena banyak dari mereka yang berprofesi pedagang, dan dalam transaksi jual beli ada tawar menawar, banyak pembeli yang bukan orang Minang dikecewakan karena ditolak saat menawar barang kemurahan. Barangkali begitu.

Justru kalau Anda mendengar orang suka beralasan bahkan malah nyinyir ketika diajak bersedekah, besar kemungkinan dia orang yang kikir. Karena Allah sudah sampaikan fenomena ini dalam surat Al-Ma’arij ayat 19-21.

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.”

Jadi, jangan sembarangan nuduh orang Minang pelit ya! Tapi setelah baca tulisan ini, jangan pula bilang begini ke saya: “Oh lu gak pelit? Ya udah, sini transfer uang ke gw sekarang!” T__T

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2021 in Artikel Umum

 

PKS, Belajarlah dari Sanjungan yang Pernah Ada

Sejak didirikan partai ini memang biasa dipuji. Pujian pertama yang membesarkan hati – seingat saya – adalah tulisan Dahlan Iskan yang berjudul “Massa Santun di Dunia yang Bergetah” setelah melihat deklarasi Partai Keadilan di Gelora Pancasila Surabaya, tahun 1998.

Pasca pemilu 2004 yang melambungkan perolehan suara PKS (setelah hanya mendapat 1,3% suara di pemilu 1999 ketika masih bernama PK), saya dengar sendiri pujian dari pengamat militer Salim Said di televisi. “Memang mereka bersih”, begitu kira-kira mengomentari tagline partai “Bersih dan Peduli”.

Belum lagi sanjungan dari masyarakat umum, sudah kenyang kuping saya mendengarnya.

Dan apa yang ditulis Imam Syamsi Ali kemarin, saya yakin bukan pujian yang terakhir dari tokoh publik. Akan ada lagi kata-kata yang membuat hidung kader PKS megar.

Kita tidak bisa mendikte atau melarang khalayak untuk berbicara. Mereka akan menilai apa yang tampak. Yang bagus akan dibicarakan bagus, yang buruk pun begitu. Hanya saja, kita perlu waspada akan pujian atau cacian orang.

Ketika PKS dituduh eksklusif, partai itu merespon dengan taujih yang intens kepada kadernya untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Dakwah sya’bi istilahnya.

Ketika PKS dicurigai gerakan wahabi, dijawab dengan penyelenggaraan amaliyah khas ahlussunnah wal jama’ah, bahkan maulid nabi.

Tapi ketika PKS pernah dipuji sebagai partai yang bersih dan sederhana tanpa ada pejabat yang berurusan dengan KPK, kita tahu yang terjadi berikutnya. Tidak perlu didetailkan. Bahkan pada 2007 sudah muncul gerakan yang diberi nama “Forum Kader Peduli” untuk mengingatkan elit partai agar menjaga kesahajaan dan kebersihan perilaku politik. Atau diistilahkan “kembali ke asholah dakwah.”

Idealnya cacian dijawab dengan perbaikan diri. Sementara pujian disikapi tanpa besar kepala. Tapi kenyataannya tak selalu begitu.

Sepenilaian saya, setelah pemilu 2004 adalah masa panen pujian bagi PKS. Menjelang 2009, mulai banyak pertanyaan keraguan. Dan mulai 2013, caci maki – yang insya Allah menjadi penebus dosa – harus ditangguk kader partai yang kini berlambang bulatan oranye itu.

Lalu setelah sikap yang konsisten ditunjukkan beberapa tahun belakangan, perlahan saya menemukan kondisi seolah kembali ke siklus 2004. Tokoh-tokoh umat memuji. Begitu juga masyarakat.

Alhamdulillah, semoga sanjungan itu merupakan cerminan kondisi yang sebenarnya. Tapi sebagai orang yang punya harapan besar pada komunitas ini, bolehkah saya menyisakan sedikit kekhawatiran?

Akan hadirnya sikap besar kepala dan tinggi hati pada kadernya. Tentang munculnya perasaan “ana khoirun minhu”. Mengenai tingkah yang meremehkan komponen bangsa lain. Itu yang saya takutkan.

Cukuplah teguran-Nya kala banyak kader merasa paling bersih, lalu kasus-kasus berdatangan menghenyak. Padahal PKS adalah jamaah manusia. Di antara mereka ada yang sedikit berbuat kesalahan dan ada yang banyak.

Maka mekanisme tawashaw bil haq wa bish shobr harus dipastikan tetap ada. Mengingatkan untuk tetap membumi, karena tak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Segala prestasi adalah karunia-Nya. Bukan karena soliditas dan militansi, bukan karena banyaknya kaum terdidik, bukan karena mampu berbuat amal kepedulian yang lebih dari orang.

Sekali lagi saya menulis ini karena saya punya harapan besar kepada kelompok tersebut. Setelah pernah gagal menjaga rasa kagum publik, janganlah sedikit pujian belakangan menghadirkan kesombongan.

Ingat, PKS hadir untuk melayani masyarakat, baik terbalas puji atau caci.

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2020 in Artikel Umum

 

Sebuah Kisah Lain di Dunia Politik Negeri Ini

Bukankah politik itu identik dengan perebutan kekuasaan?

Benar, itu yang terjadi. Tapi harusnya bukan kepada teman seperjuangan yang satu tujuan, atau pembagian tugas yang bisa diselesaikan dengan musyawarah. Namun rebutlah dari pihak yang tak berpihak pada rakyat.

Bukanlah politik itu banyak trik bahkan tipu muslihat?

Benar. Tapi jangan pernah bermain intrik di tengah rekan seperjuangan. Yang berbagai masalah bisa dipecahkan dengan musyawarah. Tapi bermain intriklah menghadapi mereka yang culas menipu rakyat.

Bukanlah politik itu sikut menyikut orang sekitar?

Jangan lakukan itu di sekitar orang-orang tawadhu’. Tapi lakukanlah kepada yang ambisius dan penyikut rakyat demi membela cukong.

Bukankah dalam politik itu tak ada yang rela jabatannya dirampas?

Amanah itu menjadi beban berat di akhirat. Jangan diminta, kecuali musyawarah menunjuk dan menugaskan untuk memperjuangkan sebuah posisi. Jangan rela jabatan dirampas pengkhianat. Tapi legawalah bila rekan seperjuangan telah bersepakat.

Bukankah politik itu gaduh?

Gaduhlah meributkan setiap aturan yang meresahkan rakyat. Tapi di lingkungan yang tenang, yang terisi orang-orang tawadhu’, malulah untuk membuat kerusuhan.

Bukankah politik itu ambisius?

Jadikanlah kemenangan Islam atau syahid ambisi utama di dadamu. Ambisi jabatan boleh saja bila ada maslahat. Namun rambu utama, tetap musyawarah di atas ambisi pribadi.

Bukankah politik itu kejam?

Yang kejam adalah watak manusia yang mewarnai politik, ekonomi, atau kehidupan sosial. Hadirlah dengan ketulusan, lalu berpolitiklah, berekonomilah, dan bersosialisasilah! Tawarkan alternatif politik yang tak kejam, namun sejuk tanpa pertengkaran.

Masih adakah harapan kepada pemain politik?

Berharaplah hanya kepada Allah. Namun jangan ingkari, masih banyak orang baik yang berkiprah di berbagai bidang – termasuk politik – yang perlu kita dukung.

Masih bisakah politisi dijadikan teladan?

Silakan memalingkan muka, malu melihat kelakuan mereka. Tapi ijinkan saya bercerita.

Kemarin ada hajatan di sebuah entitas politik. Tentang pergantian kepemimpinan tingkat atas. Yang biasanya di partai lain diwarnai kegaduhan.

Tapi di sana tidak. Tak ada kemarahan, tak ada ambisi meletup tak terkendali, tak ada kisruh apa-apa.

Malah yang diberi amanah sempat menangis dan meminta diserahkan kepada yang lain saja.

Tiap 5 tahun biasa seperti itu. Orang-orang tawadhu berkumpul dan bermusyawarah membagi tugas. Pergantian pimpinan lancar tak ada perlawanan.

Dari pimpinan pusat sampai pimpinan ranting di tingkat kelurahan terbiasa dengan suasana begitu. Sering juga penunjukkan calon anggota dewan diwarnai saling tolak dan saling menyerahkan kepada yang dirasa lebih berhak.

Memang ada yang merasa tidak cocok dan akhirnya mental sendiri.

Itu terjadi di Partai Keadilan Sejahtera. Di internal mereka ada budaya malu perlihatkan nafsu.

Tapi di eksternal, kepada para pesaing politik, mereka siap berebut kuasa untuk berlomba melayani masyarakat dan membenahi birokrasi.

Itu kisah yang bisa saya ceritakan kepada Anda. Tentang tabiat lain di dunia politik yang biasanya kejam, ambisius, sikut-sikutan, dan penuh kegaduhan, ada alternatifnya di negeri ini. Semoga sedikit memudarkan rasa apatis Anda.

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2020 in Artikel Umum

 

Komunisme, Ideologi Haus Darah

 

Dari orang tua, saya dapat cerita bahwa kakek di kampung hampir menjadi keganasan PKI. Rumahnya sudah diberi tanda khusus bersama beberapa rumah tokoh lain. Tapi takdir Allah berlaku berbeda dari makar yang telah dirancang. Masyarakat bergerak lebih dahulu “menghabisi” kader-kader komunis di sana.

Ideologi yang berslogan sama rasa sama rata itu memandang kepemimpinan dalam adat Minang yang dilangsungkan oleh tigo tungku sajarangan/tigo tali sapilin, yaitu penghulu, alim ulama, dan niniak mamak sebagai warisan feodal yang harus diganyang. Mereka anggap hal tersebut menciptakan perbedaan kelas.

Di tahun-tahun itu, antara pengikut komunis dan lawan politiknya terdapat dua pilihan. Membunuh atau terbunuh.

Saya tidak pungkiri adanya pembantaian dan penangkapan tanpa keadilan yang jelas pasca G30S/PKI saat rakyat, mahasiswa dan tentara memburu kader-kader Karl Max. Bukan soal benar atau salah. Bagi saya itu adalah kecelakaan sejarah. Disebut kecelakaan, karena keberadaan PKI hanya membuat celaka.

Berhasil atau tidaknya pemberontakan G30S/PKI tetap akan ada pembantaian. Karena gagal, maka pengikut komunis diburu. Andai menang, mereka yang memburu. Bahkan bisa lebih sadis lagi.

Tapi alhamdulillah Allah lindungi negeri ini.

Kini keturunan PKI menuntut negara meminta maaf. Namun keturunan mereka yang terbantai oleh partai itu, kepada siapa meminta hal serupa? Andai gerakan PKI berhasil, pembantaian akan meluas, dan anak cucu para korban tidak akan pernah bisa mengangkat wacana permintaan maaf oleh negara.

Tapi persoalannya bukan sekedar maaf memaafkan. Lebih dari itu, atas berulang kalinya pembantaian yang dilakukan, sudah tidak boleh lagi ada tempat untuk sebuah gerakan berideologi komunis berdiri legal di Indonesia.

Itulah ideologi haus darah. “Selama 74 tahun komunis itu rata-rata membunuh 1.621.621 orang setiap tahun atau 4.504 orang per hari atau tiga orang per menit di 75 negara,” ujar penyair angkatan 1966, Taufiq Ismail.

Stalin telah membunuh 43 juta orang. Sekitar 39 juta orang mati di kamp-kamp kerja paksa.

Komunis China dari 1949 hingga 1987 telah membunuh 40 juta warganya.

Rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot selama April 1975 – Desember 1978 telah membantai dua juta atau 28,57 persen jumlah penduduk.

Komunis juga membantai keluarga kesultanan di Sumatera Timur. Belum lagi Madiun, pesantren-pesantren di Jawa, dan yang dikenang tiap tahun: para Jenderal Angkatan Darat.

Di tengah hasutan yang menuduh tentara dan orde baru keji karena membantai orang-orang tak bersalah saat membasmi PKI pasca G30S/PKI, jangan lupakan bahwa orang tua atau kakek nenek kita adalah potensi korban pembantaian oleh PKI andai mereka berhasil dalam pemberontakan tersebut dalam rangka memaksakan ideologinya.

 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2020 in Artikel Umum

 

Sexual Consent, Propaganda Kebebasan Zina

Semakin berkembang jaman, aktivitas yang terkategorikan mendekati zina yang dilarang dalam Al Qur’an surat Al Israa ayat 32 (“… wa laa taqrobuz zinaa…”) kini bukan cuma pacaran saja. Tapi juga pengesahan undang-undang sampai propaganda istilah “sexual consent”.

Ada lorong menuju zina yang dibangun oleh para feminis radikal di balik kampanye anti kekerasan seksual. Sekedar melihat covernya, kampanye itu mulia. Tapi diulik lebih dalam, ada pesan yang menjerumus. Karena yang tidak dianggap kekerasan seksual adalah aktivitas seks dengan persetujuan tanpa melihat halal atau haramnya.

Justru yang diinginkan mereka adalah tak ada ganggu gugat untuk aktivitas seksual yang terbangun konsensus pada 2 anak manusia apa pun bentuknya, ternaungi ikatan pernikahan atau tidak, bahkan apa pun orientasinya.

Sexual consent diperkenalkan untuk perlahan menggusur pernikahan. Menggiurkan bagi mereka yang ingin bebas dari norma agama dan budaya. Menjadi komponen yang mengelilingi neraka, sebagaimana hadits Rasulullah: “Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal-hal syahwat (yang menyenangkan).” (HR Muslim).

Yang menjadi objek kampanye sexual consent adalah anak kita yang beranjak dewasa, adik-adik kita, keluarga dan kerabat serta kawan-kawan kita. Mencakup semua pihak yang ditanyakan Rasulullah kepada seorang pemuda yang meminta izin berzina, yang ketika itu Rasulullah berkata:

“Wahai anak muda, apakah engkau suka bila perzinaan itu terjadi atas diri ibumu? Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu? Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu? Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu?”

Maka, wahai umat muslim, bagaimana bila pertanyaan Rasulullah itu ditujukan ke kita? Apakah kita rela ajaran sexual consent diterima oleh keluarga kita? Na’udzubillahi min dzalik, tsumma na’udzubillahi min dzalik.

Bersamaan dengan kampanye itu, terancam nyawa-nyawa teraborsi yang menjadi ampas perilaku sexual consent. Atau anak yang tumbuh tanpa orang tua yang utuh yang tak menemukan keteladanan tanggung jawab keluarga. Yang paling dekat adalah wanita yang dibiarkan menanggung sendiri akibat sexual concern bak habis manis sepah dibuang.

Wahai umat muslim, lalu kalau tidak setuju, janganlah bisu melihat penganjur kemaksiatan menyeru manusia berperilaku seksual suka sama suka tanpa timbangan agama dan moral. Bersuaralah menghadang di setiap jalan yang mereka lalui.

Mereka tak kan segan mengkampanyekannya di kampus negeri kepada mahasiswa baru yang dalam usia gejolak. Indoktrinasi kebejatan berlabel ilmiah diberikan kepada calon ilmuwan sejak dini.

Puncaknya adalah adanya payung hukum dalam bentuk undang-undang untuk melegalkan sexual consent. Disarukan dalam kata “penghapusan kekerasan seksual”. Padahal perbuatan keji yang dipandang agama dan budaya lebih luas dari sekedar aktifitas seksual tanpa konsensus.

Wahai umat muslim, jangan tinggalkan para anggota dewan yang masih memiliki nurani berjibaku sementara kita tak menahu apa yang terjadi. Bersuaralah tak kalah kencang dengan para penganjur kemaksiatan. Buka mata buka telinga dan bersatulah dalam kebulatan tekad menghadang legalisasi kemaksiatan.

“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaklah ia mengubah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah mengubah dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2020 in Artikel Umum

 

Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih Zaman Now

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak bernama Bawang Putih yang sering mendapat perlakuan diskriminatif. Punya saudara tiri bernama Bawang Merah.

Sikap Bawang Merah ini provokatif dan suka mengintimidasi Bawang Putih.

Suatu kali kawan Bawang Merah yang merupakan gubernur dari sebuah provinsi yang menerapkan syariat Islam, tertangkap KPK. Gubernur itu dikenal kurang berkenan dengan isu syariat Islam. Tapi Bawang Merah malah mencak-mencak dan menuduh Bawang Putih munafik. Peristiwa penangkapan itu dimanfaatkan benar oleh Bawang Merah untuk menyindir dan mencaci maki Bawang Putih.

Si Bawang Merah ini sebenarnya sering melakukan korupsi. Bawang Putih juga pernah kedapatan. Memang agak ga beres itu rumah. Tapi jumlah kasus korupsi Bawang Putih jauuuh lebih kecil dari Bawang Merah. Namun seorang kawan Bawang Merah berkoar-koar di media masa bermaksud mempermalukan Bawang Putih. Katanya, “Bawang Putih telah melahirkan dua koruptor besar.” Sementara kasus korupsi Bawang Merah yang mencapai puluhan jumlahnya tak diungkit-ungkit.

Bawang Merah ini terkenal dengan sikap barbar. Suatu ketika ada koran lokal yang membuat berita yang tak mengenakkan. Langsung digeruduk oleh Bawang Merah. Kantor koran itu dirusaknya. Tetapi ia malah menuduh Bawang Putih radikal dan harus dibubarkan. Padahal Bawang Putih suka menolong bila ada bencana, sering melakukan bakti sosial, dll.

Bawang Merah ini suka mendadak berpenampilan agamis bila mendekati pemilu/pilkada/pilpres. Sementara Bawang Putih konsisten dengan jilbabnya. Tetapi Bawang Merah menuduh Bawang Putih mempolitisasi agama.

Bawang Merah ini juga pernah mencemooh orang yang beriman kepada hari akhirat, menuduh Bawang Putih kearab-araban, dll. Ketika Bawang Merah mencoba menarik simpati masyarakat dengan berpidato memakai istilah agama, ia malah memalukan dirinya sendiri. Ia kesulitan mengucapkan “subhanahu wata’ala” dan “laa hawla wala quwwata illa billah”.

Menjadi pemimpin, Bawang Merah suka ingkar janji. Harga-harga barang meroket. Harga Bawang Putih mahal karena ketidak becusan si Bawang Merah bekerja. Tapi menterinya malah bilang, “Tidak usah makan bawang putih tidak apa kan?” Dan Bawang Merah sering kedapatan berbohong. Komunikasinya memalukan.

Sementara Bawang Putih mengukir prestasi dengan ratusan penghargaan.

Anehnya, Bawang Merah dibela habis-habisan oleh sekelompok kecebong di sebuah kolam. Dikarang cerita hoax untuk mengagungkan Bawang Merah sekaligus memfitnah Bawang Putih. Tapi tetap Bawang Putih yang dituduh mereka tukang hoax dan tukang fitnah.

Bawang Merah suka mengkambing hitamkan Bawang Putih. Setiap ada peristiwa buruk, selalu Bawang Putih yang disalahkan Bawang Merah.

Begitulah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Cerita ini tidak dibuat endingnya untuk mempersilakan pembaca melanjutkan kisahnya.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2020 in Artikel Umum

 

Maaf, Minang Terlanjur Identikkan Diri Dengan Islam

Sudah lama gereja-gereja berdiri di Sumatera Barat. Injil berbahasa Indonesia atau bahasa asing pun tidak dipermasalahkan beredar di sana di kalangan umat Nasrani. Tapi ketika kitab itu ditulis ke dalam bahasa Minang, jadi tidak bisa diterima.

Tidak ada masalah dengan kehidupan antar umat beragama di Sumatera Barat. Rukun-rukun saja. Bertahun-tahun begitu. Ketika musibah gempa terjadi tahun 2009 lalu, warga di sana saling membantu. Hanya saja, kalau urusan adat, Minang tidak bisa dicampurkan dengan sembarang agama.

Karena Minang sudah mengidentikkan diri 100% sebagai budaya (dengan turunannya seperti bahasa) yang menyerap ajaran-ajaran Islam. Sebagaimana yang telah diikrarkan oleh tiga unsur pemegang kekuasaan tradisional, yaitu niniak mamak (pemuka adat), alim ulama, dan cadiak pandai (cendekiawan) setelah Perang Padri:

Adaik jo syarak takkan bacarai
Adaik basandi syarak
Syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato adaik mamakai

Adat dan syariat takkan bercerai
Adat bersendi syariat
Syariat bersendi Kitabullah
Syariat berkata, adat memakai

Kalau ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, dia tidak diakui lagi kesukuannya. Hanya saja dia tetap bisa ber-ktp Sumatera Barat, dan diperlakukan sesuai dengan aturan negara yang mengatur kehidupan antar warga.

Begitulah, karena menyatunya adat tersebut dengan Islam, makanya Injil berbahasa Minang dianggap mencederai adat dan budaya.

Ini bukan bermaksud merendahkan agama lain. Tapi demi menjaga kemurnian budaya yang luhur.

Memang, bahasa Minang sudah ada mungkin sejak sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat dan sekitarnya, ketika orang-orang di sana masih memeluk agama Budha atau pagan. Tapi setelah ketetapan “tigo tungku sajarangan”, adaik basandi syarak pun berlaku. Adat dan budaya yang bertentangan dihapus dengan proses. Sementara yang tak berlawanan tetap diteruskan. Dan distempel dengan “berlandaskan syariat”.

Bahasa itu satu paket dengan budaya dan adat Minang. Sudah menjadi kesepakatan para tokoh adat & tokoh agama bahwa bahasa adalah bahagian kekayaan adat & agama di Minangkabau

Tentang toleransi, mereka sudah cukup bertoleransi dengan terjaganya kerukunan umat beragama di Sumatera Barat. Tapi kalau penolakan itu dianggap tidak toleran, maka orang Minang di mana pun berada akan menuduh balik: justru mereka yang membuat kontroversi itulah yang tidak toleran dengan adat yang sudah berlaku.

Toleransi beragama sudah ditunjukkan, masak tidak bisa ditimbal balik dengan toleransi terhadap budaya?

Kalau ditagih soal Bhinneka Tunggal Ika, justru inilah keragaman yang harus dihargai. Bukankah setiap adat boleh hadir dengan keunikannya masing-masing? Maka inilah kekhasan Minang.

Kalau Anda bisa menghargai keidentikkan budaya Bali dengan Hindu, maka apa susahnya menghargai orang Minang?

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2020 in Artikel Umum

 

Wahai Pancasila, Komunisme Itu Musuhmu, Maka Jadikanlah Ia Musuh!

Terima kasih kepada Fraksi PKS yang telah mengingatkan DPR pentingnya Tap MPRS larangan komunisme menjadi landasan dalam penyusunan RUU Ideologi Pancasila.

Sebagai ideologi terbuka, semua bisa mengarang yang indah-indah tentang nilai Pancasila. Tapi bila musuhnya dilupakan, maka di sana lah peluang pengkhianatan yang pernah terjadi bisa terulang kembali.

Aidit pun bisa bicara soal Pancasila. Manis kata-katanya. Menerima Pancasila keseluruhan termasuk sila pertama. Bahkan membuat buku berjudul “Aidit Membela Pantja Sila.”

Sebagaimana golongan Iblis pun bisa mengajarkan Abu Huroiroh ayat kursi.

Tapi sekalinya komunisme diterima berdampingan dengan ajaran agama dan nasionalisme dalam konsep nasakom, maka itulah kesempatan mereka berkhianat seketika bangsa ini lengah.

Jadi, sebagaimana manusia diperintahkan Tuhan untuk benar-benar menganggap setan sebagai musuh, begitupun bangsa ini yang bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara seharusnya sungguh-sungguh menganggap PKI sebagai musuh.

Sayangnya berulang kali kesadaran ini dicoba diganggu. Yang terdekat adalah perkataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Kata-kata itu dusta dan berbahaya. Agama adalah akar Pancasila. Bagaimana bisa saling bertentangan? Maka tertawalah musuh Pancasila yang sebenarnya.

Lengahnya bangsa ini terhadap komunis akan berlanjut ketika RUU Haluan Ideologi ini dirumuskan tanpa merujuk pada Tap MPRS.

Semua jalan sedang dicoba. Setelah film G30S/PKI tidak rutin lagi tayang di TVRI seperti sebelum era reformasi, pemutarbalikkan sejarah juga diupayakan oleh para akademisi, lambang-lambang palu arit mulai dibuat biasa terlihat, dan sebagainya.

Bahkan institusi tentara yang menjadi benteng tangguh pemikiran komunisme pernah coba disusupi oleh anak seorang bocah yang mengaburkan sejarah pemberontakan G30S/PKI saat wawancara tes masuk. Luar biasa frontalnya mereka.

Dicoba juga dengan propaganda bahwa PKI telah binasa dan tak perlu dikhawatirkan.

Sekali lagi atas nama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI, saya sampaikan terimakasih kepada PKS yang tidak melupakan para pengkhianat itu. Selamat berjuang terus.

 
Leave a comment

Posted by on June 1, 2020 in Artikel Umum

 

Banjir Jakarta dan SARA

Para relawan kemanusiaan dari berbagai komunitas tengah sibuk mengevakuasi korban ketika Ruhut Sitompul mengeluarkan nyinyiran khasnya di twitter.

“Ma’afkan Kami Tuhan, karena Kesombongan Orang yg terpilih menjadi Gubernur dgn cara SARA Ujaran Kebencian Fitnah & Teror Rakyat Jakarta & Sekitarnya menjadi Korban Bencana Hujan Banjir berkepanjangan karena Ibu Kota tidak Ditata dgn baik hanya Bersilat Lidah saja MERDEKA,” begitu tulisnya di akun @ruhutsitompul, 2 Januari 2020.

SARA kembali diungkit-ungkit. Seperti biasa, bersama nyinyiran kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sementara malam sebelumnya, ormas Front Pembela Islam (FPI) dikabarkan sedang sibuk menyelamatkan warga Tionghoa. JPNN memuat kiprah mereka.

https://www.jpnn.com/news/fpi-evakuasi-warga-tionghoa-dari-banjir-di-bekasi-nih-fotonya

Tak hanya warga keturunan, sebuah video memperlihatkan ormas yang totalitas mendukung Anies Baswedan di pilgub Jakarta 2017 lalu itu menyalurkan bantuannya kepada “orang bule” di tengah banjir.

Tak kalah dengan FPI, Partai Keadilan Sejahtera juga mengerahkan para kadernya turun menerjang banjir. Partai ini lah yang ikut mengusung Anies Baswedan.

Sebuah ucapan terima kasih melalui whatsapp disampaikan oleh seorang warga bernama Bitler Lumbangaol. Ia mensyukuri bantuan PKS di komplek Arsip pada tanggal 1 Januari 2020. “Kiranya Tuhan yang membalas kebaikannya,” begitu tulis bapak tersebut.

Ucapan terima kasih juga datang oleh sebuah nomor whatsapp dengan nama pengguna Grace kepada kader PKS Pondok Gede. Ia mengenang pertolongan yang ia dapat 12 tahun lalu. Dan akunya, sejak itu ia jatuh cinta kepada partai dakwah tersebut.

Tuduhan SARA masih terus dibunyikan. Kendati didapati kejadian yang sebaliknya.

Masih hangat memori aksi 212 dan 112 yang diselingi iring-iringan pengantin non muslim. Para peserta aksi memberi jalan dan kemudahan bagi para pengantin untuk menuju gerejanya. Pemandangan itu jelas memupus tuduhan SARA. Tapi para penuduh tak pernah mempertimbangkan.

Kasus yang sering diangkat adalah kematian Nenek Hindun. Kabar burung mengatakan musholla dekat tempat ia tinggal menolak agar jenazakhnya disholatkan di sana.

Padahal kenyataannya bukan penolakan. Tapi jenazah Nenek Hindun disholatkan di rumah untuk efisiensi waktu karena hari sudah menjelang malam dan ada tanda-tanda hujan akan turun.

Bahkan imam yang menyolati Nenek Hindun adalah ustadz Syafi’i, kader/simpatisan PKS. Dan mobil ambulan yang mengangkut jenazah Nenek Hindun milik Partai Gerindra, partai pengusung pasangan Anies-Sandi.

https://zicoofficial.wordpress.com/2017/03/20/peristiwa-nenek-hindun-ada-mutiara-toleransi-dalam-lumpur-politisasi/

Sindiran “gubernur seiman” juga sering dilontarkan melengkapi tuduhan SARA. Padahal SMRC pernah merilis survei pada Oktober 2016 yang memperlihatkan justru pilihan pemeluk protestan-katolik terkonsolidasi kepada Ahok sampai 95,7 persen.

http://www.teropongsenayan.com/50338-survei-smrc-protestan-dan-katolik-bulat-pilih-ahok

Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) merilis survei serupa di bulan Desember 2016. Hasilnya 90 persen etnis Cina memilih pasangan Ahok-Djarot, 4 persen mendukung Anies-Sandi dan 1 persen mendukung Agus-Sylvi.

https://www.suara.com/news/2016/12/19/013100/survei-hampir-100-persen-etnis-cina-pilih-ahok

Tuduhan SARA itu jauh panggang dari api. Tapi lagu lama dari radio rusak ini terus diputar. Sementara yang tertuduh SARA tengah melakukan kerja kemanusiaan tanpa pandang bulu.

Bagi yang mengeluhkan politik identitas di Indonesia, harusnya sudah paham di mana titik pusat masalah itu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2020 in Artikel Umum

 

Kemana Argumen Kaum Nyinyir Idul Adha Jelang Tahun Baru?

Menjelang perayaan Idul Adha, biasanya bersileweran argumen-argumen yang menghasut atau menakut-nakuti masyarakat yang bertujuan agar hari raya tersebut tidak lagi disakralkan. Uniknya, beberapa hasutan itu sebenarnya relevan untuk perayaan tahun baru. Namun orang-orang itu cuma nyinyir kepada syariat Islam, dan malah mendukung acara mubazir pergantian tahun.

Mereka bilang daripada dibelikan hewan kurban, lebih baik uangnya dialihkan untuk dana pendidikan masyarakat miskin. Karena itu yang lebih dibutuhkan. Tetapi untuk pesta pora masyarakat di malam tahun baru, tidak ada himbauan serupa. Mereka diam atas keborosan yang tak bermanfaat.

Mereka mempersoalkan penyembelihan massal di hari Idul Adha yang menurut mereka tak berperikemanusiaan. Padahal saat malam tahun baru, orang-orang berpesta membakar ikan dan daging barbeque. Tak kalah banyak hewan yang dikorbankan. Tapi mereka tak bersuara.

Mereka coba menakut-nakuti umat Islam dengan penyakit darah tinggi dan kolesterol akibat makan daging kurban. Tapi mereka tidak mengingatkan masyarakat atas bahaya penyakit menular seperti difteri dari terompet yang ditiup bergiliran. Toh tiap terompet sudah melalui uji tiup oleh pembuatnya.

Kini mereka bilang himbauan tidak meniup terompet itu tidak berpihak pada rakyat kecil yang berjualan setahun sekali. Padahal perilaku mereka melarang orang membeli hewan kurban juga tak punya keberpihakan kepada para pedagang.

Mungkin bukan standard jamak. Standard mereka cuma satu: yaitu ritual Islam harus dicemooh.

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2019 in Artikel Umum