RSS

Category Archives: Artikel Umum

Darurat Kedewasaan Sikap Politik Sebagian Masyarakat dan Berkahnya Buat Anies

Masih ingat absennya mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat pada acara pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih beberapa waktu lalu? Itu hanya sebuah episode awal ketidakdewasaan perilaku politik sebagai reaksi terhadap kemenangan pilihan Umat Islam di pemilihan gubernur Jakarta. Jadi perangai seperti apa yang diperlihatkan Ananda Sukarlan kemarin, bukan yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir.

Setelah sikap Djarot, rangkaian perilaku memalukan lain menyusul. Misalnya beberapa pemilintar media terhadap ucapan Anies dan Sandi. Di antaranya, CNN Indonesia yang menulis berita Sandiaga menuduh pejalan kaki sebagai sumber kesemrawutan Tanah Abang, padahal apa yang disampaikan tidak begitu. Juga beritasatu yang memuat pernyataan Sandiaga yang ingin agar trotoar mengakomodasi roda dua, ini juga menyimpang jauh dari wawancara aslinya.

Belum lagi kelakuan buzzer-buzzer yang diketahui sebagai pendukung Ahok, tidak kalah noraknya. Hal-hal kecil dinyinyiri yang pada akhirnya malah memperlihatkan kebodohan mereka sendiri. Seperti helm proyek yang dikenakan Anies Baswedan saat meninjau pengerjaan MRT, tertera label “Gubernur”. Hal remeh begitu membuat pihak yang kontra Anies Baswedan rewel. Padahal Presiden Jokowi pun diketahui pernah mengenakan helm proyek yang berlabel “Presiden”. Itu hanya satu contoh heboh, dan masih banyak lagi.

“Kelakuan kucing garong” juga mereka perlihatkan saat Anies Baswedan menghadiri pernikahan putri pak Jokowi kemarin ini. Para pendukung Ahok menyoraki Anies, lantas dibesar-besarkan oleh media. Padahal junjungan mereka pernah mendapat perlakuan yang lebih parah lagi. Pernah dilempari batu oleh massa, pernah diburu hingga si junjungan terpaksa menyelamatkan diri naik angkot, dll. Bedanya, Anies disoraki oleh pendukung lawan yang keki, sedangkan si junjungan diamuk massa karena kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.

Kejadian yang terbaru, walk outnya Ananda Sukarlan dkk saat Anies Baswedan memberi ceramah pada peringatan HUT Kanisius ke 90, semakin memperlihatkan darurat kedewasaan sikap politik sebagian masyarakat kita. Ananda Sukarlan beralasan walk outnya karena Anies mendapatkan jabatan dengan cara-cara dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Kanisius. Pertanyaannya, bila yang memenangi Pilgub DKI kemarin adalah Agus Yudhoyono, apakah Ananda Sukarlan memberi penilaian yang sama? Jangan-jangan Ananda Sukarlan hanya berkenan bila pemenang Pilgub DKI itu hanya Ahok, meski dibayangi kasus pembagian sembako, video kampanye kontroversial, dll.

Kira-kira sampai kapan ketidakdewasaan ini diperlihatkan? Boleh saja mereka tak bisa berhenti mencintai Ahok, tapi bukan berarti gagal menerima kenyataan.

Berkahnya Buat Anies

Tapi apakah pendukung Ahok itu tahu, bahwa sikap norak mereka malah bisa mengantarkan Anies Baswedan menjadi Presiden menggantikan Jokowi tahun 2019 besok? Nah lho!!

Karena masyarakat kita mudah simpati dengan pihak yang dizhalimi. Saat SBY dipecat oleh Megawati dari jabatan Menteri, masyarakat bersimpati dengan sang jenderal, dan jadilah ia memenangkan pilpres tahun 2004. Apakah pendukung Ahok ingin agar Anies juga begitu? Beberapa kalangan pun ada yang menyebut keterpilihan Jokowi akibat masyarakat simpati kepadanya karena sering difitnah dan dihujat.

Saya yakin akan ada lagi kelakuan yang tidak-tidak dari kelompok yang kalah di Pilgub Jakarta kemarin. Saya sih inginnya Anies Baswedan komitmen sampai akhir jabatannya, jangan ikut-ikutan politisi karbitan kutu loncat. Tapi kalau terus dizolimi begitu, ya siap siap saja kembali melihat fenomena mantan menteri yang dipecat, menjadi presiden.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2017 in Artikel Umum

 

Anies, Mahyeldi, dan Amal Jariah Pemilih Muslim

Kalau berita yang baru saja heboh membuat Anda tersenyum sumringah, maka selamat, itu tandanya masih ada iman di hati. Kabar tentang penutupan Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis yang tengah diburu oleh warganet. Apakah Anda termasuk yang senang?

Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan, sudah mengkonfirmasi. Dikutip media, berikut ini pernyataannya dari Balai Kota, Senin 30 Oktober 2017: “Sudah habis. Otomatis, maka tidak punya izin lagi kemudian. Kan sudah habis, kemudian dengan begitu, tidak ada izin lagi, otomatis kegiatan di situ bukan kegiatan legal lagi. Kegiatan legal adalah kegiatan yang mendapatkan izin, tanpa izin, maka semua kegiatan di situ bukan kegiatan legal.”

Santer Alexis disebut-sebut sebagai tempat maksiat. Siapa yang bilang? Salah satunya adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok. “Di hotel-hotel itu ada enggak prostitusi? ada, prostitusi artis di mana? di hotel. Di Alexis itu lantai 7 nya surga dunia loh (prostitusi). Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi lantai 7,” ujarnya yang terekam dalam jejak digital.

Warga Jakarta maupun luar Jakarta sudah mafhum akan hal tersebut. Tetapi apa daya, selama ini belum ada yang bisa menindak tempat yang mengundang kemurkaan Allah swt itu. Dan rakyat tahu hanya pemegang kekuasaan yang bisa. Pada akhirnya, hari ini seorang Gubernur muslim menepati janji yang pernah ia nyatakan, menutup tempat maksiat terbesar di wilayah yang menjadi amanahnya.

Kiprah Anies mengingatkan saya pada Mahyeldi Ansharullah, walikota Padang. Mungkin jarang masyarakat luar Sumatera Barat yang mengenal sosok ini. Tapi ia pun pernah bersikap tegas terhadap perbuatan maksiat di kota yang ia pimpin.

Istilah “Payung Tenda Ceper” pernah terkenal menyimbolkan lokasi wisata Danau Cimpago Pantai Purus, Padang. Ceritanya, pernah di kawasan itu berdiri payung-payung tenda lebar yang didirikan oleh para pedagang. Payung-payung ini kalau hari masih senja, masih berdiri tinggi. Tapi kian malam ketinggian payung ini makin rendah, dan semakin rendah. Hingga kabarnya tinggi payung hanya cukup menaungi badan dua insan yang berbaring, dengan dua pasang alas kaki mencurigakan terletak di luar. Sedang apa orang di dalamnya? Ah, itu rahasia umum.

Lantas walikota Padang dari Partai Keadilan Sejahtera ini menindak tegas. Per tanggal 1 Januari 2015, melalui Gerakan Padang Bersih (Bersih Lingkungan dan Bersih Maksiat), dibabatlah payung-payung tempat maksiat itu, didukung segenap unsur (TNI, Polri, Pol-PP dan Organisasi Masyarakat) kota Padang. Setelah Pembongkaran, setiap harinya kawasan tersebut dijaga oleh SatPol PP. Dan di atas kawasan tenda ceper tersebut kini dibangun taman bunga yang indah.

Amal Jariah Pemilih Muslim

Tentu tidak cuma dua nama itu saja yang pernah tegas menindak kemaksiatan. Contoh lainnya adalah ibu Tri Rismaharini atau yang terkenal dengan sebutan bu Risma, walikota Surabaya. Ia pernah membongkar kawasan lokalisasi Dolly yang tersohor. Benarlah ungkapan Utsman bin Affan r.a.: “Sesungguhnya Allah bisa mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur’an “

Di balik sosok kepala daerah yang anti maksiat, ada pemilih muslim yang mengantar mereka kepada kekuasaan. Jangan dikira beberapa detik di bilik suara saat rakyat memilih pemimpin yang diyakini akan berbuat baik itu tidak akan menjadi sebuah amal (mari berbaik sangka kepada Allah swt). Pada keterpaksaan mengikuti prosedur demokrasi untuk memperbaiki negeri, ada amal jariah yang bisa diperbuat.

Dalam sistem yang berlaku di negara ini, kita bisa memeriksa track record serta janji-janji para kandidat yang bertarung di pilkada. Bila ada tokoh yang berjanji untuk sebuah kebaikan (seperti menutup Alexis yang dijanjikan pasangan Anies-Sandi) dan kita yakin tokoh itu akan menunaikannya, maka coblosan paku di kotak suara dan juga berbagai kampanye yang kita lakukan untuk meyakinkan orang lain adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Juga pada janji yang mereka laksanakan seperti membangun fasilitas umum, tempat ibadah, dll yang dinikmati oleh orang banyak, ada porsi keterlibatan kita yang semoga itu menjadi amal jariah.

Mendukung pemimpin yang sholeh adalah cara bertaqwa dalam sistem yang tidak ideal. “Dan bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun ayat 16). Dengan catatan, partisipasi kita memilih pemimpin yang baik itu tidak sampai merusak ukhuwah karena persaingan politik.

Tapi bila pemimpin yang dipilih kiranya mengingkari janji, rakyat yang memilihnya tak bisa diminta pertanggung jawaban karena manusia tak bisa mengetahui apa yang terjadi esok hari. Mereka hanya menghukumi berdasar apa yang tampak.

Jadi kini mari bergembira dengan kabar penutupan tempat maksiat. Sebagaimana kita hanya bisa mengingkari kemungkaran dengan lisan dan hati (tanpa punya kekuasan di tangan), maka nyatakanlah kegembiraan itu. Hingga para pendukung maksiat keki.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2017 in Artikel Umum

 

Mari Jaga Gubernur Kita

Kalau mau disebut pasangan kompromistis, ya boleh lah. Karena saya pun tidak menganggap pasangan Anies-Sandi – yang hari ini dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta yang baru – sebagai pasangan yang ideal, pasangan super, yang akan mampu menjawab semua permasalahan ibu kota Indonesia dalam 5 tahun ini (atau 2 tahun, kalau salah satu di antara mereka ikut bertarung di ajang pemilihan presiden nanti. Allahua’lam).

Sebagai pengganti dari sosok yang tidak disukai banyak warga Jakarta, dua nama ini bisa diterima dengan segala kekurangannya. Kompromistis, karena kemarin ada banyak opsi yang disodorkan untuk melengserkan “si mulut kasar”. Tiap pihak merasa yang mereka unggulkan lebih pantas. Tentu kondisi ini berbahaya, karena yang dibutuhkan adalah persatuan untuk sama-sama menempatkan figur yang tepat bagi Jakarta. Bukan saling klaim. Ya mau tidak mau, dua nama ini harus diterima.

Pasangan ini mendaftar di detik-detik berakhirnya waktu pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di KPUD DKI Jakarta. Jum’at, 23 September 2016, pada pukul 20.55 WIB, Anies dan Sandi memasuki halaman kantor KPUD, diarak oleh para pendukung dari dua partai: Gerindra dan PKS.

Nama Anies sendiri pun muncul di saat-saat akhir, setelah lobi-lobi partai politik yang tak kan mendukung Ahok-Djarot tak mampu mendapat kata sepakat. Akhirnya Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB mengusung Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni. Sementara Gerindra dan PKS harus mencari tokoh lain. Resmi lah tiga pasangan yang berlaga.

Kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara No. 4 Kebayoran Baru sudah disambangi beberapa figur terkenal ketika itu. Salah satunya Yusuf Mansur dan Yusril Ihza Mahendra. Tetapi Gerindra dan PKS belum kunjung menyepakati sebuah nama pun. Begitu alot. Lalu pada Jumat dinihari (23 Sept 2016), datanglah Anies Baswedan. Dan akhirnya partai nasionalis dan partai Islam itu sepakat untuk mengusung mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, beserta Sandiaga Uno sebagai wakilnya yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 2017.

Puaskah khalayak? Tentu tidak. Sempat menyeruak resistensi terhadap Anies Baswedan yang dianggap pengikut syiah. Hanya saja tuduhan itu lemah. Dibantah pula oleh para tokoh Islam. Sehingga lambat laun penolakan itu pun meredup.

Survey mencatat, di awal masa kampanye pasangan Anies-Sandi berada dalam posisi terancam tak lolos di putaran kedua. Tetapi perlahan masyarakat semakin terbuka menerima pasangan ini. Debat kandidat memperlihatkan penguasaan mereka terhadap masalah-masalah Jakarta. Janji-janji mereka dianggap lebih masuk akal. Dan akhirnya suara mereka menempati posisi kedua setelah penyobolasan putaran pertama.

Cerita selanjutnya kita tahu, di putaran kedua mereka menang dengan angka yang cukup telak. Perolehan 3.240.332 suara (57.95 persen), melawan 2.351.245 suara (42.05 persen) yang diraih Ahok-Djarot, di luar perhitungan banyak pihak. Apalagi survey Charta Politika yang dipunggawai Yunarto Wijaya yang kala itu merilis kemenangan Ahok-Djarot, 49 persen melawan 47,1 persen. Angka yang terbukti sangat ngawur.

Sekali lagi, ini adalah pasangan kompromistis dari pihak-pihak yang berwenang menentukan nama bagi penerus kepemimpinan Jakarta. Masyarakat hanya bisa menerima hasil lobi elit politik. Karena – jujur saja – banyak yang menganggap mereka berdua bukan yang paling ideal, maka bisa diprediksi akan banyak kritik diarahkan pada mereka di sepanjang perjalanan tugasnya. Bukan cuma dari kubu penolak, tapi juga kubu pendukung.

Tapi tetap saja Anies-Sandi berhak atas dukungan penuh warga Jakarta. Para penolak sudah bersiaga sejak lama untuk mengkerdilkan citra dan kerja mereka. Ke depan, kita akan melihat nyinyiran beraroma ekstragregasi yang akan ditujukan pada pasangan ini. Posisi kita di mana?

Tempatkan diri kita, pendukung pasangan Anies Sandi, sebagai pengawalnya. Bukan berarti pembela buta. Sebagai pengawal, kita berhak mengingatkan janji politik mereka, toh mereka sejak jauh hari sudah membuka diri. Selain itu, mari besama-sama buktikan bahwa pilihan kita ini tepat. Bahwa mereka juga bekerja. Jangan ragu untuk kabarkan kepada khalayak tentang keberhasilan-keberhasilan mereka yang kemungkinan besar media mainstream akan ogah memberitakan.

Waspada, kubu penolak sudah sejak lama memasang “mata lalatnya” yang sangat awas melihat sedikit saja “sampah” berserak. Mereka menunggu-nunggu kesalahan, bahkan akan mengorek-ngorek setiap centi kekurangan kerja pasangan Anies Sandi. Lalu diumbar sebagai hal yang sangat besar. Sementara kerja positif musuhnya akan ditutupi sedemikian rupa.

Mari jaga Gubernur kita!!!

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2017 in Artikel Umum

 

Anekdot Metromini dan Isu Kebangkitan PKI

Suatu sore metromini 640 yang memiliki rute Tanah Abang – Pasar Minggu berlari membelah jalan Sudirman. Di dalamnya sudah penuh penumpang hingga mereka berdesak-desakan. Aroma harum parfum karyawan kantoran hingga keringat mereka yang bekerja sejak pagi tercampur menjadi satu dihirup oleh penumpang yang duduk maupun yang berdiri.

Bunyi berisik mesin metromini mendominasi. Tetapi seketika kalah oleh suara ribut-ribut para penumpang.

“Mmmh… Siapa nih yang kentut?” Sebuah suara memulai kegaduhan. Diikuti yang lain yang ikut mengomel karena mencium bau kentut.

Tak ada yang mengaku tentu saja. Mata kondektur yang berdiri di pintu bis mini itu melirak-lirik mencurigai satu persatu penumpangnya. Lalu si kondektur pun berkata,

“Ini yang kentut pasti belum bayar…” Ia berteriak keras-keras. Terdengar oleh penumpang dari depan hingga belakang.

Tiba-tiba ada yang menyahut. “Enak aja… Saya udah bayar tadi.”

Dan sontak orang-orang di dalam bus melihat ke sumber suara. Jelas sudah siapa yang kentut tadi. Terpancing oleh akal bulus kondektur.

Kepanasan Isu PKI

Isu kebangkitan PKI, atau bergeliatnya aktivitas penganut paham komunis, sebenarnya bukan cerita baru. Sejak sebelum reformasi tahun 1998, sudah dideteksi adanya kegiatan mereka. Bahkan mereka yang paham peta perpolitikan, telah mensinyalir para pegiat komunis ini sudah membuat partai (walau pun tidak mencantumkan komunis sebagai asas partainya) dan menjadi peserta pemilu tahun 1999. Hanya saja mereka gagal menempatkan satu wakil pun di DPR.

Kini isu itu kembali ramai. Apalagi menjelang 30 September, tanggal di mana sejarah mencatat pemberontakan PKI 52 tahun lalu. Orang-orang mengenang kekejian partai yang berhasil merebut posisi ke-empat pada pemilu tahun 1955 silam, yang mendalangi penculikan 7 jenderal.

Makin gaduh ketika Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyatakan niat untuk mengadakan nonton bareng film G30S/PKI. Film yang sempat rutin diputar di TVRI tiap tahun pada tanggal 30 September, sebelum reformasi. Ada yang protes memang, tapi panglima tegas berkata, “Iya itu memang perintah saya, mau apa?”

Siapa yang memprotes? Tengok lah jagat media sosial. Banyak yang mempermasalahkan. Memang film ini terlalu sadis untuk ditonton anak belia, sehingga alasan ini ada yang mengajukannya. Tapi banyak juga yang sekedar mengada-ngada.

Di kalangan elit politik pun ada juga yang menggugat. Detik.com dalam sebuah headlinenya menulis judul berikut: “PDIP Tuding Panglima TNI Berpolitik soal Nobar Film G30S/PKI”. Politikus PDIP yang dimuat dalam berita tersebut adalah Efendi Simbolon.

Selain itu ada juga ketua LSM yang mengomentari panglima TNI sebagai yang terburuk setelah pasca reformasi. Salah satu sebabnya, menurut Hendardi, ketua Setara Institute yang berkata tadi, panglima TNI telah berpolitik karena mengangkat isu PKI. “Selain isu PKI, pemutaran film G30SPKI, perang pernyataan dengan Menteri Pertahanan, pengukuhan diri sebagai Panglima yang bisa menggerakkan dan memerintahkan apapun pada prajuritnya, adalah akrobat politik Panglima TNI yang sedang mencari momentum politik untuk mempertahankan eksistensinya jelang masa pensiun,” kata Hendardi.

Masih banyak lagi yang bereaksi keras atas keinginan Gatot Nurmantyo.

Namun Gatot menjawab balik. Ia sengaja mengangkat isu PKI untuk melihat siapa yang terpancing dengan isu tersebut.

“Saya katakan bahwa kami punya pengalaman buruk, tiba-tiba berapa jenderal yang dihabisi, maka sistem itu bekerja di TNI sampai saat ini. Biarkan kami seperti ini, kami memancing di air keruh juga (nanti akan) muncul-muncul, kami jadi tahu dengan berbagai cara,” ujarnya dikutip Okezone. Nah lho…

Sebenarnya pancingan model tadi sudah dipaparkan oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Di hadapan awak media, ia beri tips untuk mengenali pendukung PKI. Yaitu yang kepanasan ketika isu kebangkitan komunis digulirkan. Yang gigih menyangkal bahwa partai berlambang palu arit itu telah beraktivitas kembali.

“Jadi, kita patut curigai itu yang bilang nggak ada (PKI), mungkin dia yang komunisme,” begitu ujarnya.

Mudah-mudahan pembaca bisa menangkap korelasi antara cerita di dalam metromini di atas dengan pancingan Panglima TNI. Kondektur cerdik melempar wacana, tiba-tiba ada yang ceroboh membuka kedoknya, dan ketahuan lah siapa yang kentut di dalam metromini. Begitu juga yang dilakukan pak Gatot Nurmantyo, yang mengungkit kebangkitan PKI. Tiba-tiba, ada yang mencak-mencak. Bila ucapan Menhan benar, kita bisa melihat belangnya para aktivis PKI ini.

Sebenarnya kalau memang PKI tidak akan bangkit lagi, kenapa penyangkalnya begitu gigih berkoar-koar di media sosial? Mereka rugi apa bila isu ini rupanya salah? Toh kalau mereka bukan pegiat partai komunis, aparat tidak akan menindak. Alih-alih bersikap tenang dan cuek, mereka malah sangat berisik menyangkal isu ini. Aneh kan?

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2017 in Artikel Umum

 

Mereka yang Berjasa Tapi “Berbahaya”

Terapi Kanker Dr Wasito

Bagaimana kabarnya Dr. Warsito sekarang? Nama lengkapnya, Dr. Warsito Purwo Taruno, M.Eng. Ia anak bangsa penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker. Tak sedikit penderita sakit yang mengerikan ini membaik kondisinya setelah diterapi oleh alat yang diciptakan sang ilmuwan.

Tetapi jasa baiknya tak bisa dinikmati lama oleh rakyat Indonesia. Meski masih banyak masyarakat yang mengantri ingin berikhtiar dengan alat tersebut. Sejak Desember 2015, Klinik Edwar Technology tidak menerima pasien baru untuk ditangani, namun pasien lama diperbolehkan untuk berkonsultasi.

Kementerian Kesehatan, melalui surat yang ditujukan kepada wali kota Tangerang, ditandatangani Sekretaris jendral Kementrian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, menyebutkan bahwa PT Edwar telah melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tahapan proses penelitian yang sudah ditetapkan badan penelitian dan pengembangan Kemenkes. Klinik riset kanker yang dikelola Warsito tidak masuk dalam jenis klinik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia hanya mengenal dua jenis klinik yaitu klinik pratama dan klinik utama.

“Istilah penggunaan ‘Klinik Riset Kanker’ tidak dikenal dalam peraturan tentang klinik dan untuk penggunaan kata klinik harus sesuai standar yang ada dan memiliki izin operasional yang berlaku,” bunyi surat itu. Dan klinik itu pun kabarnya telah ditutup hingga kini.

Bagaimana dengan sang ilmuwan? Kabar terakhir yang saya terima tentang peraih BJ Habibie Technology Awards dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut akan mengembangkan teknologinya di luar negeri.

Penemuan Dr. Warsito ini sejatinya telah menolong banyak orang. Tetapi sekaligus membahayakan bisnis pihak lain. Terutama rumah sakit yang berbisnis dengan jasa pengobatan kanker. Pada akhirnya, Dr Warsito pun terjegal.

Mobil Listrik

Gas buang apa yang dikeluarkan oleh mobil listrik? Seharusnya tidak ada. Emisi gas buang hanya ada pada mobil yang menggunakan bahan bakar minyak atau gas. Tetapi untuk bahan bakar listrik, tak akan ada gas buang yang berbahaya bagi lingkungan. Namun kenyataannya, mobil listrik milik proyek Dahlan Iskan yang diberi nama Selo ini dinyatakan tidak lulus uji emisi.

“Mobil itu tidak lulus uji emisi, terlebih lagi hasil test drive mobil ini bahaya kalau digunakan di jalan umum”, ujar Sarjono Turin, Kepala Sub Direktorat Penyelidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung.

Pernyataan itu dikeluarkan di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi. Dalam perkara ini, vonis hukuman dijatuhkan kepada Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama Dasep Ahmadi, rekanan pembuat mobil listrik, 14 Maret 2016 lalu.

Sejatinya penemuan mobil listrik ini berjasa bagi pengembangan teknologi di Indonesia. Bahkan akan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Tetapi penemuan ini juga berbahaya bagi kelangsungan bisnis produsen-produsen mobil yang sudah besar. Pada akhirnya, proyek ini tersandung kasus korupsi.

Beras Maknyus

Yang terbaru dan sedang heboh adalah kasus Beras Maknyus. Pada Kamis malam lalu, 20 Juli 2017, Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang tediri dari Mabes Polri, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di daerah Bekasi yang memproduksi beras bermerk “Maknyus”.

Diungkap aparat, pelanggaran yang dilakukan oleh PT IBU adalah membeli gabah dari petani jauh melampaui harga normal yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, disinyalir beras ini mengandung mutu dan komposisi yang tidak sesuai sebagai beras premium. Usaha PT IBU ini membahayakan bagi penguasaha beras lainnya.

Belakangan kasus ini disangkut pautkan juga dengan komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) (Induk PT IBU), bapak Anton Apriantono, mantan Menteri Pertanian zaman presiden SBY dan merupakan politisi PKS.

Dari pembicaraan di dunia maya, diketahui bahwa sesungguhnya PT IBU ini berjasa kepada petani karena telah memberi gabah dengan harga yang di atas HET. Tetapi sekaligus berbahaya bagi pebisnis lain. Pada akhirnya Beras Maknyus pun terjaring kasus.

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2017 in Artikel Umum

 

Aku Adalah Kau yang Lain yang Harusnya Kau Jaga Perasaannya

Bagaimana suasana hati Anda kalau dalam suatu pengajian sang ustadz menggunakan nama Anda untuk contoh pelaku perbuatan cabul? Saya sih akan protes, “Emang gak ada nama laen, ustadz?” Dan bagaimana bila nama orang tua Anda yang dijadikan contoh? Akan lebih tidak rela lagi saya rasa.

Banyak kah orang yang ketika lahir diberi nama Muhammad oleh orang tuanya, namun ketika dewasa dihukum sebagai pelaku kejahatan? Ada banyak. Tapi rela kah Anda bila ada sebuah film yang menceritakan tokoh bernama Muhammad sebagai pelaku kejahatan dan digambarkan begitu buruk? Saya sih tidak rela. Dan saya yakin umat Islam akan protes. Kalau tidak salah dulu pernah ada telenovela yang seorang tokohnya bernama Fatimah dan digambarkan sebagai antagonis. Kemudian muncul protes umat Islam.

Anda punya tokoh idola? Bagaimana bila ada orang yang mengarang cerita dengan tokoh jahatnya bernama sama dengan idola Anda? Anda pendukung pak Jokowi tidak akan terima kan kalau ada cerpen yang memuat tokoh bernama Jokowi dengan perilaku yang buruk? Walau pun pembuat cerita menulis disclaimer: “Nama dalam kisah di atas hanyalah rekaan, kalau ada kesamaan itu hanya kebetulan saja”. Anda tetap tak terima dan mungkin melaporkan cerita itu ke aparat sebagai penghinaan kepada kepala negara.

Bagaimana perasaan Anda bila melihat film yang peran antagonisnya digambarkan satu suku dengan Anda? Saya rasa sedikit banyak akan protes juga dalam hati. Atau bila ada peran antagonis yang agamanya sama dengan Anda, sedang yang lain agamanya beda tapi baik-baik semua. Bahkan bila si antagonis itu profesinya sama dengan Anda, akan ada juga perasaan sebal.

Rela kah Anda bila nama Anda dipakai oleh teman untuk menamakan anjing kesayangannya? Saya rasa Anda akan komplen.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, kira-kira bisa dimengertikah mengapa banyak umat Islam yang aktif di pengajian merasa tersinggung dengan film “Kau Adalah Aku yang Lain” yang baru saja memenangkan Festival Film Pendek yang diselenggarakan Polri?

Tak Adakah Alternatif Cerita Lain?

Andai yang menghadang mobil ambulan dalam film itu adalah preman, tentu orang akan menganggap wajar. Tapi yang diceritakan adalah orang yang aktif di pengajian. Tentu umat muslim akan tersinggung. Mereka merasa tak diajarkan sebegitu ekstrim seperti di film, tak akan bertindak sebegitu bodoh, tapi mengapa ada penggalan cerita tersebut.

Bila objektif cerita ingin mengajarkan toleransi, mengapa harus dengan contoh buruk yang melibatkan jamaah pengajian? Padahal contoh baiknya sudah ada dan bisa dijadikan cerita tanpa membuat satu pihak pun tersinggung. Yaitu saat umat Islam ikut “mengarak” sepasang pengantin non muslim di aksi 411 maupun 112.

Saya meragukan bila tak ada film lain yang diikutsertakan dalam festival tersebut yang tak kan menuai kontroversi publik, dan memiliki bobot yang tak kalah bagus. Saya berprasangka ada. Lalu mengapa bukan film itu yang dimenangkan?

Pada akhirnya, alih-alih menghantarkan pesan dengan mulus kepada masyarakat, film itu malah menimbulkan keributan baru. Kampanye toleransi, bhineka, dll akan semakin dianggap retorika kosong belaka oleh masyarakat.

Seharusnya pihak penyelenggaranya punya sense of crisis dengan perselisihan yang tak kunjung usai di tengah masyarakat. Kalau ada niat meredakan ketegangan, harusnya berhati-hati agar tidak memicu ketersinggungan salah satu pihak. Bisa kok dibuat alternatif cerita lain yang menggambarkan toleransi dengan indah tanpa kontroversi.

Raso Jo Pareso

Ada sebuah falsafah dari kampung saya yang berbunyi “raso jo pareso.” Dalam Bahasa Indonesia berarti rasa dan periksa. Falsafah ini mengajarkan masyarakat Minangkabau untuk memastikan terlebih dahulu perkataan yang akan disampaikan kepada lawan bicara, jangan sampai menyinggungnya. Dengan cara merasai seolah ada di posisi pendengar, dan memeriksa kembali apakah ada redaksi kata yang rawan disalah tafsirkan.

Dari raso jo pareso itu kita tahu, membawakan nama teman untuk permisalan buruk akan membuat ia tersinggung. Begitu juga bila membawa nama keluarganya, nama tokoh yang dihormatinya, dll. Merasai dan memeriksa, hingga kita tahu bahwa bila kita yang menjadi dia, akan merasa tidak enak juga.

Inilah manifestasi dari kalimat “kau adalah aku yang lain” yang dijadikan judul dalam film tersebut. Jadi ironis, kalimat tersebut tidak diresapi benar dengan konsep raso jo pareso hingga akhirnya menimbulkan kemarahan dari “aku yang lain”-nya si sutradara, produser, dan penyelenggara.

Kalau aku adalah kau yang lain, mengapa masih kau buat aku tersinggung? Peka lah! Gunakan raso jo pareso. Karena aku adalah kau yang lain yang harus kau jaga perasaannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2017 in Artikel Umum

 

Pelajaran Dari Telinga yang Tendensius

Ada satu cerita humor yang masih saya ingat dari sebuah ceramah KH Zainuddin MZ Allahuyarham. Ia mengisahkan tentang seorang jamaah majelis taklim yang mengantuk saat mendengar khutbah, lalu hilang fokus.

Menghadap kepada jamaah, dengan wibawanya sang ustadz berkata, “Pencurian yang paling baik adalah mencuri salam.” Ustadz menjelaskan, ketika seseorang mendengar salam yang bukan ditujukan kepadanya, dan ia tetap menjawab salam tersebut, maka itulah yang diistilahkan dengan mencuri salam.

Peserta pengajian yang mengantuk itu salah mendengar. Yang ia tangkap, pencurian yang terbaik adalah maling ayam. Sepulang dari majelis taklim ia pun mempraktekkan “ilmu” yang ia dapat. Ketika dibekuk dihakimi massa, ia pun menggunakan ceramah sang ustadz sebagai dalih.

Salah dengar memang bisa terjadi pada siapa saja. Ada banyak penyebab. Mungkin artikulasi dari pembicara yang kurang baik. Atau ada gangguan kepada gelombang bunyi berupa noise/distorsi, dll sehingga tak sempurna ditangkap pendengaran. Atau masalahnya ada di pendengar, entah indranya yang ada gangguan atau otaknya kurang fokus untuk mencerna yang disampaikan.

Tak jarang, belum apa-apa si pendengar punya stigma tersendiri untuk si pembicara. Dalam kasus ini, kalimat yang jelas saja sering disalah artikan. Apalagi kata yang samar. Maka ucapan pun ditafsirkan sesuai dengan stigma yang ditempel kepada pembicara. Hal seperti ini yang sering menimbulkan salah paham.

Sehingga kita mengerti, mengapa ada yang bisa salah dengar pada khutbah Idul Fitri yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir di Masjid Al Azhar, 25 Juni 2017 kemarin.

Sedihnya, salah dengar atas ceramah ustadz Bachtiar Nasir ini terlanjut menimbulkan penghakiman kepada beliau. Lini massa gaduh. Ada yang mendengar ustadz berkata, “Islam toleran adalah Islam setan”. Maklum, ustadz yang merupakan salah satu punggawa GNPF MUI ini dicap radikal dan tidak toleran oleh segelintir pihak. Kemudian perkataan salah dengar ini disebarkan via media sosial tanpa klarifikasi. Pada akhirnya berujung permintaan maaf karena si penyebar sudah salah menangkap informasi.

Ada pameo yang berbunyi, “orang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.” Telinga yang tendensius, akan memilih-milih informasi sesuai selera, menafsir kembali informasi yang diterima, bahkan berujung salah dengar.

Kita berbaiksangka, kejadian ini memang salah dengar, bukan produk fabrikasi hoax untuk menciptakan gaduh di masyarakat. Tapi tak mampunya masyarakat kita menyikapi informasi kembali memantik pertengkaran antara kita.

Terngiang lagi apa yang pernah dikicaukan oleh M Sohibul Iman, Presiden PKS melalui akun twitternya. “Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkan irreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” tulisnya.

Ya, sejak pilpres 2014 masyarakat sudah terbiasa dengan kabar bohong dan terbiasa tak berhati-hati. Berbagai seruan untuk melawan hoax menjadi angin lalu. Berkali-kali peringatan agar mengutamakan tabayun, tak ada pengaruhnya. Menciptakan perselisihan berlarut-larut yang seperti tak bisa lagi dipulihkan. Irreversible damage.

Sekali lagi, masyarakat gagal melewati ujian. Bukan oleh provokasi yang dibuat-buat, tapi karena telinga yang belum apa-apa punya tendensi akibat stigma atau prasangka.

Mohon jadikan pelajaran, kalau kita ingin menyudahi permusuhan yang kontra produktif ini, mari tepis segala stigma, terutama kepada pihak yang berseberangan. Berdialoglah dengan bebas prasangka. Mohon ini dijadikan syarat bagi rekonsiliasi nasional.

Dan saya meminta kepada semua pihak, berhenti menjadi kompor agitasi stigma intoleran kepada umat Islam. Kurang apa indahnya toleransi yang terselip pada aksi massa umat Islam yang lalu, saat mereka ikut menjadi “pengarak pernikahan” bagi pasangan non muslim. Cerita ini sudah menjadi legenda.

Lantas membuat dan menyebarkan film yang menggambarkan peserta pengajian yang tak punya rasa kemanusiaan, hanyalah bentuk pengekalan stigma kepada umat Islam. Cara ini tak kan meredakan permusuhan, malah membuat potensi salah dengar dan kegaduhan yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2017 in Artikel Umum