RSS

Category Archives: Artikel Umum

Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih Zaman Now

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak bernama Bawang Putih yang sering mendapat perlakuan diskriminatif. Punya saudara tiri bernama Bawang Merah.

Sikap Bawang Merah ini provokatif dan suka mengintimidasi Bawang Putih.

Suatu kali kawan Bawang Merah yang merupakan gubernur dari sebuah provinsi yang menerapkan syariat Islam, tertangkap KPK. Gubernur itu dikenal kurang berkenan dengan isu syariat Islam. Tapi Bawang Merah malah mencak-mencak dan menuduh Bawang Putih munafik. Peristiwa penangkapan itu dimanfaatkan benar oleh Bawang Merah untuk menyindir dan mencaci maki Bawang Putih.

Si Bawang Merah ini sebenarnya sering melakukan korupsi. Bawang Putih juga pernah kedapatan. Memang agak ga beres itu rumah. Tapi jumlah kasus korupsi Bawang Putih jauuuh lebih kecil dari Bawang Merah. Namun seorang kawan Bawang Merah berkoar-koar di media masa bermaksud mempermalukan Bawang Putih. Katanya, “Bawang Putih telah melahirkan dua koruptor besar.” Sementara kasus korupsi Bawang Merah yang mencapai puluhan jumlahnya tak diungkit-ungkit.

Bawang Merah ini terkenal dengan sikap barbar. Suatu ketika ada koran lokal yang membuat berita yang tak mengenakkan. Langsung digeruduk oleh Bawang Merah. Kantor koran itu dirusaknya. Tetapi ia malah menuduh Bawang Putih radikal dan harus dibubarkan. Padahal Bawang Putih suka menolong bila ada bencana, sering melakukan bakti sosial, dll.

Bawang Merah ini suka mendadak berpenampilan agamis bila mendekati pemilu/pilkada/pilpres. Sementara Bawang Putih konsisten dengan jilbabnya. Tetapi Bawang Merah menuduh Bawang Putih mempolitisasi agama.

Bawang Merah ini juga pernah mencemooh orang yang beriman kepada hari akhirat, menuduh Bawang Putih kearab-araban, dll. Ketika Bawang Merah mencoba menarik simpati masyarakat dengan berpidato memakai istilah agama, ia malah memalukan dirinya sendiri. Ia kesulitan mengucapkan “subhanahu wata’ala” dan “laa hawla wala quwwata illa billah”.

Menjadi pemimpin, Bawang Merah suka ingkar janji. Harga-harga barang meroket. Harga Bawang Putih mahal karena ketidak becusan si Bawang Merah bekerja. Tapi menterinya malah bilang, “Tidak usah makan bawang putih tidak apa kan?” Dan Bawang Merah sering kedapatan berbohong. Komunikasinya memalukan.

Sementara Bawang Putih mengukir prestasi dengan ratusan penghargaan.

Anehnya, Bawang Merah dibela habis-habisan oleh sekelompok kecebong di sebuah kolam. Dikarang cerita hoax untuk mengagungkan Bawang Merah sekaligus memfitnah Bawang Putih. Tapi tetap Bawang Putih yang dituduh mereka tukang hoax dan tukang fitnah.

Bawang Merah suka mengkambing hitamkan Bawang Putih. Setiap ada peristiwa buruk, selalu Bawang Putih yang disalahkan Bawang Merah.

Begitulah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Cerita ini tidak dibuat endingnya untuk mempersilakan pembaca melanjutkan kisahnya.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2020 in Artikel Umum

 

Maaf, Minang Terlanjur Identikkan Diri Dengan Islam

Sudah lama gereja-gereja berdiri di Sumatera Barat. Injil berbahasa Indonesia atau bahasa asing pun tidak dipermasalahkan beredar di sana di kalangan umat Nasrani. Tapi ketika kitab itu ditulis ke dalam bahasa Minang, jadi tidak bisa diterima.

Tidak ada masalah dengan kehidupan antar umat beragama di Sumatera Barat. Rukun-rukun saja. Bertahun-tahun begitu. Ketika musibah gempa terjadi tahun 2009 lalu, warga di sana saling membantu. Hanya saja, kalau urusan adat, Minang tidak bisa dicampurkan dengan sembarang agama.

Karena Minang sudah mengidentikkan diri 100% sebagai budaya (dengan turunannya seperti bahasa) yang menyerap ajaran-ajaran Islam. Sebagaimana yang telah diikrarkan oleh tiga unsur pemegang kekuasaan tradisional, yaitu niniak mamak (pemuka adat), alim ulama, dan cadiak pandai (cendekiawan) setelah Perang Padri:

Adaik jo syarak takkan bacarai
Adaik basandi syarak
Syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato adaik mamakai

Adat dan syariat takkan bercerai
Adat bersendi syariat
Syariat bersendi Kitabullah
Syariat berkata, adat memakai

Kalau ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, dia tidak diakui lagi kesukuannya. Hanya saja dia tetap bisa ber-ktp Sumatera Barat, dan diperlakukan sesuai dengan aturan negara yang mengatur kehidupan antar warga.

Begitulah, karena menyatunya adat tersebut dengan Islam, makanya Injil berbahasa Minang dianggap mencederai adat dan budaya.

Ini bukan bermaksud merendahkan agama lain. Tapi demi menjaga kemurnian budaya yang luhur.

Memang, bahasa Minang sudah ada mungkin sejak sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat dan sekitarnya, ketika orang-orang di sana masih memeluk agama Budha atau pagan. Tapi setelah ketetapan “tigo tungku sajarangan”, adaik basandi syarak pun berlaku. Adat dan budaya yang bertentangan dihapus dengan proses. Sementara yang tak berlawanan tetap diteruskan. Dan distempel dengan “berlandaskan syariat”.

Bahasa itu satu paket dengan budaya dan adat Minang. Sudah menjadi kesepakatan para tokoh adat & tokoh agama bahwa bahasa adalah bahagian kekayaan adat & agama di Minangkabau

Tentang toleransi, mereka sudah cukup bertoleransi dengan terjaganya kerukunan umat beragama di Sumatera Barat. Tapi kalau penolakan itu dianggap tidak toleran, maka orang Minang di mana pun berada akan menuduh balik: justru mereka yang membuat kontroversi itulah yang tidak toleran dengan adat yang sudah berlaku.

Toleransi beragama sudah ditunjukkan, masak tidak bisa ditimbal balik dengan toleransi terhadap budaya?

Kalau ditagih soal Bhinneka Tunggal Ika, justru inilah keragaman yang harus dihargai. Bukankah setiap adat boleh hadir dengan keunikannya masing-masing? Maka inilah kekhasan Minang.

Kalau Anda bisa menghargai keidentikkan budaya Bali dengan Hindu, maka apa susahnya menghargai orang Minang?

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2020 in Artikel Umum

 

Wahai Pancasila, Komunisme Itu Musuhmu, Maka Jadikanlah Ia Musuh!

Terima kasih kepada Fraksi PKS yang telah mengingatkan DPR pentingnya Tap MPRS larangan komunisme menjadi landasan dalam penyusunan RUU Ideologi Pancasila.

Sebagai ideologi terbuka, semua bisa mengarang yang indah-indah tentang nilai Pancasila. Tapi bila musuhnya dilupakan, maka di sana lah peluang pengkhianatan yang pernah terjadi bisa terulang kembali.

Aidit pun bisa bicara soal Pancasila. Manis kata-katanya. Menerima Pancasila keseluruhan termasuk sila pertama. Bahkan membuat buku berjudul “Aidit Membela Pantja Sila.”

Sebagaimana golongan Iblis pun bisa mengajarkan Abu Huroiroh ayat kursi.

Tapi sekalinya komunisme diterima berdampingan dengan ajaran agama dan nasionalisme dalam konsep nasakom, maka itulah kesempatan mereka berkhianat seketika bangsa ini lengah.

Jadi, sebagaimana manusia diperintahkan Tuhan untuk benar-benar menganggap setan sebagai musuh, begitupun bangsa ini yang bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara seharusnya sungguh-sungguh menganggap PKI sebagai musuh.

Sayangnya berulang kali kesadaran ini dicoba diganggu. Yang terdekat adalah perkataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Kata-kata itu dusta dan berbahaya. Agama adalah akar Pancasila. Bagaimana bisa saling bertentangan? Maka tertawalah musuh Pancasila yang sebenarnya.

Lengahnya bangsa ini terhadap komunis akan berlanjut ketika RUU Haluan Ideologi ini dirumuskan tanpa merujuk pada Tap MPRS.

Semua jalan sedang dicoba. Setelah film G30S/PKI tidak rutin lagi tayang di TVRI seperti sebelum era reformasi, pemutarbalikkan sejarah juga diupayakan oleh para akademisi, lambang-lambang palu arit mulai dibuat biasa terlihat, dan sebagainya.

Bahkan institusi tentara yang menjadi benteng tangguh pemikiran komunisme pernah coba disusupi oleh anak seorang bocah yang mengaburkan sejarah pemberontakan G30S/PKI saat wawancara tes masuk. Luar biasa frontalnya mereka.

Dicoba juga dengan propaganda bahwa PKI telah binasa dan tak perlu dikhawatirkan.

Sekali lagi atas nama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI, saya sampaikan terimakasih kepada PKS yang tidak melupakan para pengkhianat itu. Selamat berjuang terus.

 
Leave a comment

Posted by on June 1, 2020 in Artikel Umum

 

Banjir Jakarta dan SARA

Para relawan kemanusiaan dari berbagai komunitas tengah sibuk mengevakuasi korban ketika Ruhut Sitompul mengeluarkan nyinyiran khasnya di twitter.

“Ma’afkan Kami Tuhan, karena Kesombongan Orang yg terpilih menjadi Gubernur dgn cara SARA Ujaran Kebencian Fitnah & Teror Rakyat Jakarta & Sekitarnya menjadi Korban Bencana Hujan Banjir berkepanjangan karena Ibu Kota tidak Ditata dgn baik hanya Bersilat Lidah saja MERDEKA,” begitu tulisnya di akun @ruhutsitompul, 2 Januari 2020.

SARA kembali diungkit-ungkit. Seperti biasa, bersama nyinyiran kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sementara malam sebelumnya, ormas Front Pembela Islam (FPI) dikabarkan sedang sibuk menyelamatkan warga Tionghoa. JPNN memuat kiprah mereka.

https://www.jpnn.com/news/fpi-evakuasi-warga-tionghoa-dari-banjir-di-bekasi-nih-fotonya

Tak hanya warga keturunan, sebuah video memperlihatkan ormas yang totalitas mendukung Anies Baswedan di pilgub Jakarta 2017 lalu itu menyalurkan bantuannya kepada “orang bule” di tengah banjir.

Tak kalah dengan FPI, Partai Keadilan Sejahtera juga mengerahkan para kadernya turun menerjang banjir. Partai ini lah yang ikut mengusung Anies Baswedan.

Sebuah ucapan terima kasih melalui whatsapp disampaikan oleh seorang warga bernama Bitler Lumbangaol. Ia mensyukuri bantuan PKS di komplek Arsip pada tanggal 1 Januari 2020. “Kiranya Tuhan yang membalas kebaikannya,” begitu tulis bapak tersebut.

Ucapan terima kasih juga datang oleh sebuah nomor whatsapp dengan nama pengguna Grace kepada kader PKS Pondok Gede. Ia mengenang pertolongan yang ia dapat 12 tahun lalu. Dan akunya, sejak itu ia jatuh cinta kepada partai dakwah tersebut.

Tuduhan SARA masih terus dibunyikan. Kendati didapati kejadian yang sebaliknya.

Masih hangat memori aksi 212 dan 112 yang diselingi iring-iringan pengantin non muslim. Para peserta aksi memberi jalan dan kemudahan bagi para pengantin untuk menuju gerejanya. Pemandangan itu jelas memupus tuduhan SARA. Tapi para penuduh tak pernah mempertimbangkan.

Kasus yang sering diangkat adalah kematian Nenek Hindun. Kabar burung mengatakan musholla dekat tempat ia tinggal menolak agar jenazakhnya disholatkan di sana.

Padahal kenyataannya bukan penolakan. Tapi jenazah Nenek Hindun disholatkan di rumah untuk efisiensi waktu karena hari sudah menjelang malam dan ada tanda-tanda hujan akan turun.

Bahkan imam yang menyolati Nenek Hindun adalah ustadz Syafi’i, kader/simpatisan PKS. Dan mobil ambulan yang mengangkut jenazah Nenek Hindun milik Partai Gerindra, partai pengusung pasangan Anies-Sandi.

https://zicoofficial.wordpress.com/2017/03/20/peristiwa-nenek-hindun-ada-mutiara-toleransi-dalam-lumpur-politisasi/

Sindiran “gubernur seiman” juga sering dilontarkan melengkapi tuduhan SARA. Padahal SMRC pernah merilis survei pada Oktober 2016 yang memperlihatkan justru pilihan pemeluk protestan-katolik terkonsolidasi kepada Ahok sampai 95,7 persen.

http://www.teropongsenayan.com/50338-survei-smrc-protestan-dan-katolik-bulat-pilih-ahok

Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) merilis survei serupa di bulan Desember 2016. Hasilnya 90 persen etnis Cina memilih pasangan Ahok-Djarot, 4 persen mendukung Anies-Sandi dan 1 persen mendukung Agus-Sylvi.

https://www.suara.com/news/2016/12/19/013100/survei-hampir-100-persen-etnis-cina-pilih-ahok

Tuduhan SARA itu jauh panggang dari api. Tapi lagu lama dari radio rusak ini terus diputar. Sementara yang tertuduh SARA tengah melakukan kerja kemanusiaan tanpa pandang bulu.

Bagi yang mengeluhkan politik identitas di Indonesia, harusnya sudah paham di mana titik pusat masalah itu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2020 in Artikel Umum

 

Kemana Argumen Kaum Nyinyir Idul Adha Jelang Tahun Baru?

Menjelang perayaan Idul Adha, biasanya bersileweran argumen-argumen yang menghasut atau menakut-nakuti masyarakat yang bertujuan agar hari raya tersebut tidak lagi disakralkan. Uniknya, beberapa hasutan itu sebenarnya relevan untuk perayaan tahun baru. Namun orang-orang itu cuma nyinyir kepada syariat Islam, dan malah mendukung acara mubazir pergantian tahun.

Mereka bilang daripada dibelikan hewan kurban, lebih baik uangnya dialihkan untuk dana pendidikan masyarakat miskin. Karena itu yang lebih dibutuhkan. Tetapi untuk pesta pora masyarakat di malam tahun baru, tidak ada himbauan serupa. Mereka diam atas keborosan yang tak bermanfaat.

Mereka mempersoalkan penyembelihan massal di hari Idul Adha yang menurut mereka tak berperikemanusiaan. Padahal saat malam tahun baru, orang-orang berpesta membakar ikan dan daging barbeque. Tak kalah banyak hewan yang dikorbankan. Tapi mereka tak bersuara.

Mereka coba menakut-nakuti umat Islam dengan penyakit darah tinggi dan kolesterol akibat makan daging kurban. Tapi mereka tidak mengingatkan masyarakat atas bahaya penyakit menular seperti difteri dari terompet yang ditiup bergiliran. Toh tiap terompet sudah melalui uji tiup oleh pembuatnya.

Kini mereka bilang himbauan tidak meniup terompet itu tidak berpihak pada rakyat kecil yang berjualan setahun sekali. Padahal perilaku mereka melarang orang membeli hewan kurban juga tak punya keberpihakan kepada para pedagang.

Mungkin bukan standard jamak. Standard mereka cuma satu: yaitu ritual Islam harus dicemooh.

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2019 in Artikel Umum

 

Surat Terbuka Untuk Para Pahlawan Nusantara

Duhai Bung Tomo, aku mengadu kepadamu. Bangsa ini telah malu mengenalkan jihad kepada para pelajar. Ada narasi radikal, anti pancasila, dan hal-hal lain untuk menakut-nakuti rakyat. Seolah ajaran jihad itu mengancam keutuhan negara.

Bung Tomo, bukankah padahal ajaran itu yang melecut para pejuang menentang penjajah seperti yang kau saksikan sendiri pada 10 November 1945? Sekarang 74 tahun berlalu, ruh jihad hendak dikubur. Bangsa ini seakan kacang lupa pada kulitnya.

Duhai Kiai Hasyim Asy’ari, aku mengadu kepadamu. Bangsa ini melarang pelajar mengenal tentang jihad. Padahal engkau yang menginisiasi resolusi jihad melawan penjajah. Mereka lupa peristiwa bersejarah itu. Menutup mata bahwa Islam lah yang memberi ruh perjuangan bangsa ini merebut kemerdekaannya.

Duhai Pangeran Diponegoro, bangsa ini risih dengan kata jihad dan seakan perlahan hendak melenyapkannya. Kepada engkau yang dulu semangatnya berkobar melakukan amaliah itu aku mengadu. Maaf, mungkin kau kecewa melihat generasi penerusmu yang telah dianugerahi kemerdekaan.

Duhai Pangeran Antasari, Duhai Pangeran Hasanudin, Duhai Sultan Agung, Duhai Imam Bonjol, duhai para pahlawan bangsa yang menerjang penjajah dengan teriakan takbir, aku mengadu kepada kalian. Berpuluh tahun setelah merdeka, spirit jihad seperti yang kalian miliki dulu itu hendak dipadamkan dengan kata-kata syubhat radikalisme.

Juga aku mengadu kepada para Walisongo. Duhai, bangsa ini hanya mau mengenang kesenian kalian. Tapi malu mengakui kekhalifahan yang pernah mengutus kalian berdakwah di bumi nusantara. Walisongo hanya diingat wayangnya, lagunya, gamelannya, sembari menepis sejarah kekhalifahan yang membentuk kalian menjadi du’at.

Juga aku mengadu kepada para pembesar kerajaan Aceh dan para raja kerajaan Islam yang memiliki hubungan erat dengan Kekhalifatan Turki Utsmani. Bangsa ini telah menuduh khilafah sebagai musuh Pancasila. Melupakan sejarah bahwa tanah Nusantara ini pun dibela oleh pasukan khalifah yang mengarungi samudera membendung penjajah Portugis.

Dan kepada Allah swt kuadukan semua ini. Mereka hendak memadamkan cahaya-Mu ya Allah, tapi Kau akan tetap menyempurnakan cahaya itu walau orang kafir, munafik, dan musyrik tak suka.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2019 in Artikel Umum

 

Solusi yang Ditunda-tunda Untuk Anies dan Jakarta

Miris membaca berita soal rencana anggaran Pemprov DKI tahun 2020 yang diperbincangkan masyarakat belakangan. Pengadaan lem aibon Rp 82,8 miliar dan ballpoint Rp 123,8 miliar adalah contoh keanehan pada RAPBD itu.

Dalam video yang dirilis oleh diskominfotik Pemprov DKI, Gubernur Anies Baswedan sampai garuk-garuk kepala melihat angka-angka yang tidak masuk di akal. Ketika Rapat Pembahasan RAPBD 2020 bersama SKPD, Anies berpesan tegas agar anggaran Jakarta yang bertriliun-triliun rupiah tersebut bisa menyentuh rakyat yang paling miskin. Ia juga menyindir, “kita ini ingin meningkatkan pendidikan atau mau membahagiakan yang bekerja di bidang pendidikan?”

Anies marah ada anggaran penghapus dan kalkulator masing-masing sebesar 31 miliar. “Ini karena kecil-kecil, sembunyi-sembunyi sana sini, lolos.” Katanya. “Karena itu kita petani satu-satu.” Tidak boleh ada anggaran tidak jelas, perintahnya. Cukup sudah belanja yang tidak penting.

Anies bukannya diam terhadap bau mark up yang menyengat. Terbantah sudah apa yang dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah bahwa Gubernur DKI itu tidak mungkin mengecek satu per satu usulan anggaran dalam rancangan KUA PPAS 2020. Potongan-potongan video dari diskominfotik saat Anies membredel angka-angka rekaan anak buahnya sudah tersebar di media sosial.

Hanya saja bagi hatersnya, Anies tetap dituduh bersalah walau ia telah melawan. Berbeda ketika Ahok juga dikerjai para perancang anggaran – sampai-sampai ia mengatakan “pemahaman nenek lu” – haters Anies memuji-muji Ahok setinggi langit. Sama-sama dikerjai bawahan, sama-sama melawan, tapi yang satu dibully yang satu dipuji.

Di jaman Jokowi-Ahok pun pernah terjadi anggaran ganda APBD 2014 yang mencapai 1,8 Triliun yang ditemukan BPK DKI Jakarta. Kala itu Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi mensinyalir adanya pembiaran oleh Gubernur Jokowi. Sampai muncul suara mendesak KPK turun tangan melakukan penyidikan, yang dilantangkan oleh Koordinator Barisan Muda Anti Korupsi (Berantas) Hamidi.

Kasus anggaran UPS tahun 2016 juga belum begitu lama berlalu. Jadi, memang anggaran fantastis ini sudah jadi penyakit sejak lama. Tak hanya di Jakarta, bahkan di Pemprov seluruh Indonesia. Bedanya, media lebih sibuk menyoroti ibu kota. Apalagi yang memimpin saat ini adalah orang yang mendapat dukungan umat Islam.

Anies melawan sendirian. Karena sampai saat ini belum ada wakil tempat membagi kerjanya. Padahal PKS telah menyodorkan dua kandidat yang sangat bisa diandalkan untuk memeriksa anggaran. Sayang, DPRD DKI terlalu lama kerjanya untuk memutuskan pengganti Sandiaga Uno itu.

Antara Ahmad Syaikhu atau Agung Yulianto harusnya sedang menemani Anies hari-hari ini untuk menyisir keanehan dalam RAPBD 2020. Mereka berdua sama-sama alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Dari latar belakang pendidikan, sudah cukup bukti keandalan mereka.

Ditambah lagi karir Ahmad Syaikhu sebagai anggota DPRD Bekasi pada 2004 dan DPRD Jabar periode 2009-2013. Pada 2013, Syaikhu mendampingi Rahmat Effendi memimpin kota Bekasi setelah menang dalam Pilkada.

Sementara Agung Yulianto memulai kariernya sebagai auditor dan sempat berdinas di BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) Pusat. Terakhir ia memutuskan untuk menjadi pengusaha.

Uji kepatutan dan kelayakan telah digelar bulan Februari 2019 lalu untuk mereka berdua. Hasilnya, menurut ketua tim penguji Ubedilah Badrun, keduanya memiliki kelebihan yang bisa memperkuat Anies Baswedan mengelola provinsi yang dihuni 10,5 juta jiwa itu.

Syaikhu memiliki modal yang kuat di bidang pemerintahan. “Syaikhu itu mampu mengambil keputusan-keputusan karena mungkin latar belakangnya sebagai eksekutor. Dia terlihat mudah untuk memilih kebijakan,” kata Ubedilah kepada CNNIndonesia.com.

Sementara Agung memiliki kemampuan untuk menerjemahkan setiap visi menjadi suatu program. Selama fit and proper test, kata Ubed, Agung terlihat menonjol di bidang ekonomi. Dia dinilai mampu menguasai isu perekonomian terutama peta ekonomi di Jakarta. Agung juga dipandang sebagai orang yang terbuka saat ujian. “Dia memahami pola keuangan pemerintah dan mampu di eksekutor di ekonomi. Penguasaan detail tentang peta ekonomi juga terlihat pada diri Agung.”

Bisa dibayangkan bila yang menjadi wakil Anies adalah Muhammad Taufik yang pernah terjerat kasus korupsi logistik pemilu? Apakah tepat bila profil seperti itu yang membantu Anies mengawasi anggaran? Liputan6 pernah mengangkat berita bahwa politikus Gerindra itu dicalonkan partainya menjadi pengganti Sandiaga Uno. “Sudah ada, Pak Taufik. Tetap. Kan ditunjuk oleh DPP saya enggak bisa jawab,” kata Anggota DPRD DKI asal Gerindra, Syarif kepada Liputan6.

Terasa sekali bahwa balaikota butuh sosok Ahmad Syaikhu atau Agung Yulianto. Menurut saya, zalim lah anggota DPRD yang sengaja mengulur-ngulur penetapan wagub Jakarta. Harusnya masyarakat ibukota sekarang bisa tenang dipimpin oleh orang yang amanah dan paham seluk beluk anggaran.

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2019 in Artikel Umum

 

Surat Terbuka Untuk Gerakan Mahasiswa 2019

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan

Dua puluh satu tahun lalu rakyat Indonesia merasakan euforia yang luar biasa atas kebebasan yang didapat setelah terkungkung selama 32 tahun. Reformasi berhasil menggulingkan kekuasaan tiran orde baru. Masyarakat telah bebas mengemukakan pendapatnya di berbagai tempat tanpa khawatir “digebuk” oleh penguasa.

Kadang kegembiraan itu kebablasan. Hujat dan caci maki jadi kebiasaan. Bahkan ada yang mengartikan bebas berbuat apa saja meski merugikan orang.

Tapi dengan reformasi yang diperjuangkan senior kalian angkatan 98, terbitlah harapan Indonesia akan jaya. Semua orang punya kesempatan yang sama dalam memimpin dan membangun bangsa. Dan penyakit yang diderita negara ini, yaitu Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), akan segera diberantas.

Merindukan kejayaan. Begitulah yang dirasakan para mahasiswa kala itu. Melalui 6 tuntutan reformasi: Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amendemen UUD 1945, Hapuskan Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya, Tegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.

Saya yakin kalian yang kini turun ke jalan pun merindukan kejayaan untuk negeri ini. Kami juga, dan kami titipkan kerinduan itu pada kalian.

Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Dulu masyarakat bingung dengan yang terjadi pada bangsa ini. Negara kaya raya dengan hasil alam dan tambang. Tapi masih banyak rakyat miskin dengan kesenjangan sosial yang tinggi.

Kini masih. Setelah reformasi bergulir 21 tahun, rupanya keadaan tak banyak berubah. Kejayaan yang dirindukan tak kunjung hadir. KKN yang ingin diberantas, malah semakin kronis.

Kalian yang turun ke jalan, kami titipkan kebingungan ini. Mohon lawan segala upaya pembodohan bangsa dan pelemahan ikhtiar pemberantasan korupsi.

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
di lembar sejarah manusia

Ya, kalian tengah menggoreskan sejarah indah tentang aksi heroisme buat negara ini. Tapi satu pesan saya. Telah ada contoh orang-orang yang dulu dikenal sebagai penggerak perjuangan, namun ketika merengkuh kekuasaan ia berubah menjadi tokoh antagonis yang harus dilawan oleh gerakan mahasiswa.

Ada orang-orang yang dulu berteriak lantang anti korupsi, tapi setelah menjabat ia malah melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Kalian jangan seperti orang-orang itu! Tetaplah istiqomah dalam idealisme sampai mati.

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Selamat berjuang. Selamat bergerak. Peluh bahkan darah kalian adalah asupan buat kejayaan negeri yang sedang kita rindukan bersama. Panaskan aspal-aspal hitam dengan sepatu kalian. Berteriaklah lantang. Tuntaskan agenda reformasi.

Enyahkan kroni-kroni orde baru yang sejak 98 sampai sekarang masih bercokol di kekuasaan. Tuntut undang-undang yang berpihak pada rakyat. Tetap pastikan TNI berada di baraknya. Kawal otonomi daerah, jangan sampai kekayaan mereka dihisap habis oleh pusat yang mengakibatkan gejolak seperti di Papua sekarang. Gugat ketidak adilan hukum. Dan lawan mereka yang ingin memelihara penyakit KKN di negeri ini.

Ya, kalian tentu punya agenda lain hari ini. Tapi yang jelas tidak akan bertentangan dengan 6 tuntutan reformasi dulu.

Selamat berjuang. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2019 in Artikel Umum

 

Ternodanya Predikat Negara Tersantuy

Apa kabarnya gelar yang disematkan oleh situs pemesanan akomodasi lastminute[dot]com kepada Indonesia sebagai negara yang paling santai di dunia, mengalahkan Australia dan Islandia?

Andai perilaku suporter sepakbola Indonesia dimasukkan sebagai penilaian, rasanya skor Indonesia akan berkurang drastis. Apalagi setelah kerusuhan kecil di stadion GBK saat tim Garuda melawan Harimau Malaya kemarin ini. Karena ulah norak beberapa suporter, sepakbola nusantara terancam mendapat hukuman oleh FIFA.

Kategori yang dijadikan ukuran negara santai diantaranya adalah, hak pribadi warga negara, jumlah hari libur, suhu udara, level polusi cahaya dan udara, serta ketersediaan destinasi wisata dan relaksasi seperti spa dan pantai.

Ya, itu semua memang fasilitas mendukung untuk bisa bersantai. Bagi orang desa, cukup saung yang nyaman di tengah sawah, angin sepoi-sepoi, plus nasi, krupuk, dan ikan asin. Bagi pensiunan di sore hari, cukup kursi goyang, burung bersuara merdu di sangkarnya, serta kopi dan rebusan di meja. Bagi orang kota lebih sederhana lagi: kasur, hp, kuota, dan sinyal.

Ketika heboh berita prestasi negara tersantai, warganet dan media online menampilkan bukti-bukti foto bahwa predikat itu memang layak disandang Indonesia. Ada petani yang tiduran di sawah, pejalan kaki leyeh-leyeh di tengah jalan, dsb. Lucu dan jadi ada benarnya juga.

Hingga kemudian kelakuan anak-anak negara api menyerang. Menyadarkan kita bahwa rakyat ini ga santai-santai amat kok. Suporternya sumbu pendek dan kampungan. Doyan ribut. Ga terima kekalahan.

Perilaku “ga nyantai” ini bahkan sudah merenggut korban nyawa dalam perseturuan Viking vs The Jak. Juga di beberapa perselisihan antar suporter lainnya.

Ada yang membela keributan kemarin. Katanya, suporter Indonesia ketika menonton langsung di Malaysia pun diteriaki dan dicaci maki. Lho, kenapa mau ikut-ikutan berbuat salah?

Ini bukan nasionalisme. Melainkan kelakuan bocah panasan. Kalau ada oknum berbuat tak pantas, apakah harus timbulkan dendam yang dibalaskan kepada seluruh suporter Malaysia, bahkan kepada negaranya? (Ada yang meneriakkan ganyang Malaysia kemarin. Cuma gara gara sepakbola.)

Yang berbuat entah siapa, dendamnya jadi melebar kemana-mana.

Dan ini terjadi juga pada suporter antar klub dalam negeri. Dendam yang tak tuntas. Harus saling balas. Rusuh diimbangi rusuh, biar terlihat gagah.

Begitulah. Di tingkat negara, suporter kita ribut. Di tingkat klub, tak kalah rusuh. Tanding antar kelurahan, sekolah, bahkan kelas pun bisa tak lepas dari tawuran. Di level apa pun harus selalu siap untuk bergelut. Bola yang bundar itu hanyalah sarana pengantar menuju baku hantam.

Kalau dibilang insan sepakbola kita kurang rekreasi, sebenarnya pertandingan sepakbola itu lah bentuk rekreasi. Entah kenapa malah jadi tegang dan berhawa panas.

Saya merindukan orang-orang masuk ke dalam stadion membawa keluarganya, istri, anak-anak, orang tua, tanpa khawatir kerusuhan. Mereka menikmati pertandingan. Bernyanyi dan menyemangati tim idola. Ketika menang, memberi applause tanpa berlebihan. Ketika kalah, tetap diberi semangat sembari tak lupa mengapresiasi lawan. Dan terhadap suporter lain, bisa menghargai dan memberi rasa aman pada mereka yang sudah datang dari jauh.

Bila itu terwujud, tentu bisa memperkuat kategori penilaian sebagai negara santuy.

Ya, fasilitas buat nyantai sih banyak. Tapi entah kenapa, kalau udah nonton bola, jadi sumbu pendek. Bahkan walau yang bertanding itu klub luar negeri, fans yang sedang nonton bareng malah berantem sendiri. Noraknya sampai sebegitunya.

 
Leave a comment

Posted by on September 7, 2019 in Artikel Umum

 

Milkul Yamin dan Retorika-Retorika yang Memesona

Alhamdulillah, sebagai orang awam, dapat perbendaharaan istilah baru dari kehebohan belakangan ini yang dipicu oleh desertasi S3 mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga.

Istilah itu berbunyi: Milkul Yamin. Diambil dari Al-Qur’an surat Al Mu’minuun ayat 6, “…Aw maa malakat aymaanuhum…” artinya “…atau budak yang mereka miliki…” Makna istilah itu adalah budak dalam kepemilikan pribadi. Selama ini saya tahunya hanya Milkita, merk makanan.

Juga sedang populer istilah lain, yaitu “bucin”. Singkatan dari budak cinta. Maka memadukan dua istilah ini, bisa lah terbentuk term baru: “milkul yamin cinta”. Disingkat micin. Keren gak sih?

Perbudakan memang pernah ada berabad-abad, bahkan bermilenial-milenial lamanya. Pada 31 Januari 1865, presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln memutuskan untuk menghapus perbudakan di negaranya. Dan di seluruh dunia, pada zaman modern saat ini, sudah tidak lagi ditemukan hal tersebut.

Orang awam baru tahu, bahwa ada yang menggunakan istilah milkul yamin untuk membenarkan hubungan seksual non marital. (Nah, istilah keren lagi nih). Bahwa hubungan intim di luar pernikahan – menurut pemikiran kontroversial itu – bukanlah zina karena dipayungi hukum milkul yamin yang membolehkan.

Ya, jaman dulu budak boleh digauli tuannya. Hukum terhadap orang merdeka berbeda dengan hukum terhadap budak yang diperlakukan sekehendak tuannya laksana barang kepemilikan. Tapi saya jadi khawatir orang Palembang atau Sunda jadi salah sangka. Dikiranya boleh berhubungan badan dengan anak kecil. Budak kan dalam bahasa Palembang & Sunda artinya bocah cilik.

Enak dong menggauli budak? Bayangan saya tentang budak didapat setelah menonton film Little Missy di TVRI waktu kecil (yang tidak tahu film ini, boleh memanggil saya abang atau om). Ada orang-orang Negro yang hidup dalam kerangkeng dan acap mendapat cambukan dari tuannya yang bernama Baron Araruna. Juga ada budak wanita bernama Ba, pengasuh nona Missy. Badannya besar, hitam, gemuk. Nah, sering kalau disebut budak wanita, yang terbayang adalah sosok Ba itu. Jadi, apakah enak boleh menggauli budak wanita? Tergantung gimana dulu.

Membenarkan hubungan seksual di luar nikah dengan alasan milkul yamin, maka asumsinya wanita itu adalah budak pria? Gitu gak sih? Saya berbaik sangka, mungkin yang punya pemikiran tersebut terlalu menghayati syair lama. Begini bunyinya:

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

Hayo… siapa yang baca itu sambil nyanyi? Ketauan ya umurnya.

Jadi, benarkah milkul yamin alasan yang tepat untuk melegalkan hubungan seksual non marital? Saya sih ikut ulama terpercaya yang membantah desertasi mahasiswa S3 tersebut.

Hanya saja, ada pelajaran yang bisa diambil dari kehebohan ini. Tentang bagaimana istilah yang asing terdengar bisa memesona dan mengelabui masyarakat awam.

Seseorang menyampaikan informasi bahwa air yang sering kita minum mengandung zat kimia berbahaya bernama Dihidrogen Monoksida. Orang awam mendengar nama itu tentu langsung khawatir dan terpengaruh. Padahal Dihidrogen Monoksida adalah nama kimia untuk air (H2O).

Seseorang yang baru hijrah melihat temannya saat tasyahud dalam sholat tidak menggerak-gerakkan jari telunjuk. Lantas dia bilang, “Manhaj kamu tidak kokoh. Sholatnya belum benar. Manhaj salafus sholih adalah menggerak-gerakkan telunjuk saat doa dalam tahiyat”. Terdengar keren, padahal istilah itu salah penempatan.

Karena itu, sebagai awam kita harus berhati-hati terhadap retorika orang yang akan menyimpangkan ajaran Allah. Kemarin ada istilah tafsir hermeneutika yang diterapkan untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Istilahnya terdengar indah, padahal itu adalah konsep kafir memahami kitab suci mereka agar ajaran agamanya selalu sesuai dengan keinginan masyarakat dan perkembangan zaman.

Kuncinya jangan latah, jangan kagetan, jangan gampang terpesona. Kekuatan retorika inilah yang menjadi kekuatan orang munafiq mempengaruhi umat muslim, sebagaimana yang dikupas oleh Allah swt dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun ayat 4. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka…”

Terakhir, saya suguhkan sebuah dialog antara Mandra dan pacarnya, Munaroh, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Tautan: https://www.youtube.com/watch?v=mcoF0tfhfmM ). Perhatikan bagaimana retorika Mandra begitu memukau. Tapi…..

Mandra: Apalagi sih yang kamu ingin bicarakan?

Munaroh: Aye pingin minta maaf bang

Mandra: Maaf? Maaf untuk apa?

Munaroh: Ya.. Aye kan pernah ngecewain abang. Pernah ngkhianatin cinta abang

Mandra: Cinta. Apalah arti sebuah cinta?

Munaroh: Abang kok ngomongnya gitu?

Mandra: Iya dong. Cinta itu kan sesuatu yang indah. Bahkan sekarang sudah tidak indah lagi. Diakhiri dengan kekecewaan.

Munaroh: Ya.. Karena itu, aye jadi ngerasa bersalah bang.

Mandra: Kenapa kamu harus merasa bersalah? Selama ini kamu terlalu banyak memberikan keindahan, Roh. Aku sendiri tidak tahu apakah ada relevansinya dengan hubungan kita.

Munaroh: Relevansi apaan sih bang?

Mandra: Ya Relevansi. Eee… maksudnya… Eee… cinta itu kan relevansi. Eee… begini. Kita prinsip. Prinsip aja kita bedua. Ee… Pokoknya begini aja dah. Eee.. anggap aja antara hubungan kita yang pernah terjalin dulu itu, mmm… hanyalah sebuah kenangan belaka.

Munaroh: Kok abang gitu sih?

Mandra: Ini realita Roh. Realita. Sesuatu yang mungkin sulit untuk kita lupakan. Dan apa pun alasannya, ini tidak mungkin terulang lagi di antara kita. Ya toh?

Munaroh: Jadi abang gak berharap kita bisa bersatu lagi?

Mandra: Bersatu lagi? Itu sama saja kau mencari jarum dalam jerami. Tidak mungkin Roh. Kau kan sekarang sudah menjadi istri orang lain. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2019 in Artikel Umum