RSS

Category Archives: Artikel Umum

Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Alkisah, segerombolan penipu licik berprofesi sebagai penjahit ingin mengecoh raja. Harta menjadi motivasi mereka. Sang paduka dikenal gila sanjungan dan sangat bermurah hati kepada para pemujanya.

Mereka datang ke istana dengan prototype baju-baju megah dan indah. Mereka tidak hendak menjual barang yang dibawa, tetapi menawarkan untuk membuatkan jubah dari sutra super halus kepada raja. Saking tingginya kualitas pakaian yang hendak dibikin itu, hanya orang pandai yang bisa melihatnya.

Tawaran itu disetujui dengan jangka waktu tertentu. Raja tertarik karena ingin mengetahui siapa saja yang termasuk kalangan orang bodoh di istana yang tak mampu melihat keindahan jubah impiannya.

Jelang deadline, perdana menteri diutus untuk memantau pekerjaan para penjahit. Sang menteri terkejut karena tak melihat satu helai benang pun. Namun demi tak mau dibilang bodoh, menteri hanya mengangguk-angguk dan menyampaikan kepada raja, sebagaimana kalimat para penjahit, bahwa baju telah hampir selesai.

Waktu telah tiba. Para penipu itu membawa “hasil kerjanya” ke istana. Rupanya raja pun tak bisa melihat baju itu. Tapi karena tak mau dianggap bodoh, beliau menurut saja saat ia yang hanya berpakaian dalam dipakaikan jubah kebesaran oleh para penjahit.

Seisi istana memuji raja. Meski tak satu pun melihat rupa baju tersebut. Dan raja yang kegeeran pun berkeliling wilayah kekuasannya untuk memamerkan betapa anggunnya ia memakai pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang cerdas.

Rakyat di kumpulkan mendadak untuk melihat fashion show. Mulut mereka menganga melihat raja yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tak berani bertanya atau mengkritik.

Dan sang paduka pun menahan rasa kedinginan. Terasa sekali hembusan angin menerpa badannya tanpa penghalang apa pun. Hingga akhirnya seorang anak kecil berteriak, “kok raja gak malu gak pake baju?”

Anak kecil itu jujur. Sehingga keraguan pun memenuhi hati sang paduka. Buru-buru ia kembali ke istana karena tak yakin bahwa ia sedang mengenakan pakaian. Sementara para penjahit itu telang hilang sejak menerima upahnya.

*****

Mungkin pembaca pernah mendengar cerita di atas. Menjadi pelajaran bahwa orang yang gila sanjung akan mudah sekali dikelabui.

Kata “bengak” bisa saja diberi kepanjangan yang bagus-bagus. Tapi orang Sumatra paham bahwa arti kata itu adalah bodoh yang parah.

Kata “blegug” bisa juga diberi kepanjangan yang keren-keren. Tapi orang Sunda mengerti bahwa itu adalah kata umpatan.

Nusantara kaya akan bahasa daerah. Dan tiap bahasa punya kata makian tersendiri. Yang kata itu bisa saja dijadikan akronim dengan arti yang bagus-bagus.

Namun orang pintar tak kan mau dijuluki Si Bengak, Mang Blegug, dan cacian lain walau dengan kepanjangan yang dibuat indah.

Beda dengan orang bodoh gila pujian yang gampang terkecoh. Ia akan cengar-cengir saja dijuluki dengan kata-kata umpatan oleh para penjilat yang menipu, hanya karena kata itu dibikinkan kepanjangan yang menyanjung.

Sebagaimana baju transparan yang sejatinya hinaan, namun sayang raja malah kegeeran.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2019 in Artikel Umum

 

Penyebab Kader PKS Mudah Jantungan

Di sebuah grup whatsapp, ada tautan dibagikan. Berita tentang pimpinan DPRD Jambi yang tersangkut korupsi karena kongkalingkong dengan Zumi Zola, Gubernur Jambi Non Aktif yang beberapa waktu lalu ditangkap KPK.

Bunga, sebut saja begitu namanya… Eh jangan Bunga. Mmm… Kumbang aja deh, Kumbang.

Kumbang, sebut saja begitu namanya, berdebar jantungnya melihat tautan itu. Penasaran namun cemas, ia buka link tersebut untuk melihat berita di dalamnya. Ada satu yang ingin diperiksa: adakah anggota legislatif dari PKS yang terjerat?

Alhamdulillah… Seperti yang sudah-sudah, ia tidak menemukan nama dari PKS. Lega bukan main. Ia tersenyum, dan melanjutkan menjadi silent reader di grup itu.

Apa yang dialami Kumbang dirasakan juga oleh banyak kader PKS lainnya. Tiap ada berita penangkapan tersangka korupsi oleh KPK, jantungnya berdegup kencang. Mereka khawatir kalau perkara baru itu menyeret nama tokoh partainya.

Kalau benar ada saudara separtai tersangkut korupsi, maka yang dirasakan pertama kali adalah kecewa bukan main. Partai ini memang dikenal dengan mesinnya yang gigih dan rela berkorban. Sunduquna juyubuna, kas kami berasal dari kantong kami sendiri. Kalau ada pejabat publik yang sudah diperjuangkan mati-matian, dengan biaya dan tenaga kader yang rela berkorban, namun membuat ulah yang mencoreng nama partai, maka sangat sangat sangat sangat mengecewakan sekali orang itu.

Yang dirasakan selanjutnya adalah bully-an dari pihak luar. Walau pun si kader tidak ada sangkut pautnya dengan pejabat yang terjerat kasus, dia tetap kena imbas pencibiran hingga caci maki. Sudah lah dikecewakan, diejek dan diintimidasi verbal pula.

Maklum, jangankan kader sendiri yang terkena kasus, bahkan bila ada tetangga kader PKS yang terbuka aibnya, partai dakwah itu bisa disalahkan. Partai tersebut memang rentan dibully.

Kumbang dan kader PKS lainnya mungkin iri dengan kader partai lain yang cuek bebek seperti tidak terjadi apa-apa bila ada tokoh partainya yang terjerat kasus. Bila tak menyangkut PKS, rasanya kasus korupsi tak kan sebegitu heboh dan bombastis diberitakan. Walau jumlahnya banyak, kader partai lain tak merasakan hujatan se-bertubi-tubi yang sebanding dengan satu kasus korupsi oleh kader partai berlambang bulan sabit tersebut.

Selain itu, kader partai lain relatif tak punya rasa kepemilikan sebesar kader PKS. Karena akar rumput di partai lain tak perlu mengeluarkan uang untuk membesarkan partai. Cukup tokoh yang bermodal besar yang dipasang sebagai caleg atau calon kepala daerah yang mengeluarkan dana. Makanya, bila ada yang terjerat korupsi, itu urusan yang bersangkutan. Tak perlu kecewa karena toh tak rugi apa pun.

Konsistensi menjaga diri dari korupsi juga menjadi “jualan” PKS kepada konstituennya. Sehingga satu kasus saja cukup membuat partai itu terpukul. Maklum, PKS tak punya tokoh penggaet suara. Beda dengan partai lain yang diisi nama besar. Walau pun badai korupsi menerpa, menempati peringkat papan atas penghasil koruptor, tak kan mengurangi loyalitas konstituen kepada sosok di partai tersebut.

Kumbang telah terbiasa sport jantung. Meski sedang tidak naik Lion Air, melihat berita tangkap tangan KPK, ia cemas. Bila ada pejabat publik dari PKS yang akan diperiksa, ia risau.

Lamat-lamat ia merapalkan doa – yang juga diucapkan oleh kader PKS lain meski dengan redaksi berbeda, “Ya Allah, jagalah para pejabat publik dari partaiku dari bersikap tidak amanah. Kuatkan iman mereka. Dan bangkitkan kejayaan negara dan umat Islam melalui tangan mereka. Amin.”

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Mewaspadai Gerakan Desakralisasi Agama

Saya dapati orang-orang yang membela candaan keterlaluan comicus Joshua dan Ge Pamungkas adalah orang-orang yang sakit hati karena agama dibawa-bawa ke politik. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, apakah sengaja ada gerakan massif merendahkan agama agar tidak lagi sakral dalam kehidupan masyarakat?

Kini perbuatan mengolok-olok agama, khususnya Islam, bukan cuma pekerjaan ustadz gadungan yang mengaku bapaknya janda. Atau seorang pengaku penikmat kopi yang lidahnya mati rasa di acara talkshow televisi. Atau dosen komunikasi yang provokatif agitatif yang kehilangan kebijaksanaan bertutur kata. Kita lihat mulai muncul badut-badut wannabe yang beratraksi dengan kata-kata mencoba melawak dengan menjadikan agama sebagai candaan. Saya khawatir gerakan mendesakralisasi agama di depan publik ini menjadi trend tanpa tersentuh hukum.

Karena amat sangat tersita energi masyarakat bila tiap penistaan agama harus disikapi dengan protes massal ratusan ribu orang agar aparat bertindak. Untuk (mantan) penguasa yang dibekingi kekuatan besar, wajar lah kemarin aspal Jakarta dipanasi derap kaki yang marah. Tetapi setelah satu dibekuk, rupanya pengikutnya tanpa malu melanjutkan kerja-kerja penistaan agama di depan khalayak.

Gerakan ini seperti mencoba membalas dendam atas kehadiran agama dalam pilihan sadar umat Islam di pilkada Jakarta kemarin. Ada yang marah karena kalah. Mereka ingin melampiaskannya dengan penistaan, halus hingga kasar.

Kampanye Untuk Tak Membela Tuhan

Agar penistaan agama tak mendapat perlawanan berarti, agar masyarakat bisa menerima bahwa agama bukan topik yang sakral yang harus diperlakukan hati-hati dalam dialog di muka umum, dikampanyekanlah kalimat indah namun beracun: Tuhan tidak perlu dibela.

Diajaklah umat manusia agar membiarkan Tuhan yang membela sendiri para penghina-Nya. Sebagai makhluk, kita tak perlu reaktif bila ada yang menghina simbol agama. Sikap begini membuka pintu penerimaan untuk gerakan penistaan agama secara massif.

Itu artinya simbol-simbol agama tidak perlu lagi mendapat tempat di hati manusia. Karena ketersinggungan seseorang terhadap celaan tergantung sedalam apa keberadaan sesuatu yang dicela itu di hatinya. Ketika ejekan kepada klub bola kesayangan lebih membuat marah daripada hinaan kepada agama, maka klub bola lebih mendapat tempat di kalbu orang itu daripada agama.

Tuhan Yang Maha Kaya tidak akan pernah hina karena dicela ciptaan-Nya. Begitu juga klub bola berprestasi, tentu tidak akan pernah hina dicela fans lawan. Tetapi ini soal harga diri manusia yang mendengar hinaan tersebut. Bagi orang beriman, penghinaan terhadap simbol agama adalah bentuk merendahkan harga diri. Tuhan Yang Maha Agung tak kan pernah hina, tetapi manusia lah yang hina bila tidak tersinggung.

Sikap membiarkan Tuhan membela diri-Nya sendiri dari para penghina-Nya adalah sebuah tasyabuh (penyerupaan) kelakuan Bani Israil yang dicela dalam Qur’an. Ketika umat itu diperintahkan Allah untuk masuk ke wilayah Palestina, mereka enggan dan menyuruh Musa berperang berdua dengan Tuhan. Mirip ketika umat Islam ditantang untuk membela Allah (QS Muhammad: 7), ada seruan agar biar Tuhan sendiri yang membela diri-Nya.

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”” (QS Al-Maidah: 24)

Agama yang Makin Hadir dalam Kehidupan

Namun gelombang kebangkitan Islam agaknya susah dicegah. Aksi 411, 212, dan yang sebagainya serta reuni-reuninya hanyalah salah satu indikator. Tanda yang lebih mencolok adalah Islam mulai hadir dalam kesadaran berekonomi. Gerakan anti riba menjadi semarak. Umat Islam makin selektif memilih jenis transaksi. Dilanjutkan juga dengan ikhtiar membentuk koperasi 212 sebagai perlawanan terhadap keserakahan kapitalisme.

Islam mulai meluber, dari masjid kemudian mengisi tempat di kehidupan masyarakat. Tak hanya lagi urusan sholat, puasa, zakat, dan umroh. Islam menjadi gaya hidup dalam balutan busana yang menyesuaikan syariat. Hadir dalam tontonan di layar kaca maupun layar lebar. Hadir dalam tulisan sastra yang menghadirkan nasihat. Menjadi acuan dalam mengkonsumsi makanan hingga kosmetik.

Entahlah apakah ketika Yuswohady menulis buku “Marketing to the middle class muslim”, terpikir juga olehnya bahwa marketing terhadap pilihan politik umat Islam juga perlu dibahas. Apalagi setelah pilkada Jakarta, sensitifitas masyarakat semakin meningkat. Kemarahan mereka belum selesai kepada partai-partai pendukung penista agama. Tak hanya itu, mereka juga terbakar pada isu UU Ormas dan putusan MK untuk gugatan pasal KUHP perzinaan kemarin.

Kini umat Islam makin memasrahkan diri untuk diatur oleh ajaran agamanya. Makin mendapat tempat di hati. Kesakralannya makin mengisi berbagai lini kehidupan masyarakat.

Karena itu gerakan penistaan kepada agama akan membuat perpecahan di masyarakat makin menjadi. Cara itu tak kan efektif membendung kesadaran berislam pada masyarakat. Kalau rezim saat ini tidak tegas menindak gerakan penistaan, maka gelombang ini bisa saja menyapu rezim yang dianggapnya tak berpihak pada waktunya nanti.

Zico Alviandri

10 Januari 2018

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Kesederhanaan Artifisial Para Politisi

Sebagai rakyat, kebahagiaan saya bukan saat melihat pemimpin berkaos oblong, memakai sandal jepit, atau tampilan ngenes lainnya. Tidak. Saya bahagia bila pemimpin berhasil membuat rakyatnya punya daya beli sandang yang layak.

Maka bila nanti media menampilkan pemimpin negeri ini masak menggunakan kayu bakar, saya tidak terharu. Tapi saya bahagia bila rakyat Indonesia tidak lagi mengantri untuk membeli gas 3Kg, tidak mengeluh harga bahan bakar mahal. Bila itu terwujud, maka sang pemimpin telah bekerja dengan benar.

Tampilan Sederhana Jelang Pesta Demokrasi

Cerita ada orang yang mendadak berpenampilan miskin menjelang even kontestasi demokrasi (misal pilkada, pemilu, pilpres, dlsb) menjadi terlalu basi di negeri ini. Ada kandidat pemilihan gubernur tiba-tiba rajin naik angkot. Ada pemimpin partai politik tumben-tumbenan suka menyamar menjadi rakyat biasa, naik becak dan sebagainya di masa kampanye.

Mendadak, tumben-tumbenan, karena biasanya si politisi gak gitu-gitu amat. Mereka terbiasa naik mobil berkelas, berpenampilan necis, layaknya pejabat. Mereka juga bukan orang miskin. Hanya saja ada keperluan menebar jaring simpati ke tengah masyarakat. Ada harapan untuk dinilai merakyat. Dianggap memiliki kehidupan yang setara dan dekat dengan rakyat. Dan usaha itu dilakukan dalam momen sesekali saja.

Inilah kesederhanaan artifisial. Kesederhanaan buatan. Tak alami dan dibuat-buat. Kecuali para pemuja politisi itu, khalayak malah melihatnya sebagai sesuatu yang norak. Malu-maluin.

Idealnya yang dijual oleh peserta kontestasi demokrasi adalah prestasi dan gagasan. Tapi sejak disadari pentingnya pencitraan bagi politisi, maka tampilan merakyat itu menjadi bumbu yang dijual. Makanya tahun 2014 lalu di pinggir jalan-jalan raya di Indonesia terpampang baliho foto full body seorang tokoh dengan deskripsi harga barang-barang yang dikenakan (kemeja, sepatu, celana, dll). Ingin menggambarkan si tokoh suka memakai sesuatu yang murah-murah.

Kalau ini menjadi trend, ya sudah silakan para politisi beradu penampilan paling gembel. Sekalian saja mereka mencicipi tidur di emperan toko selama sebulan, lalu fotonya disebar viral ke publik. Tapi apa iya itu adalah cara untuk menggaet pemilih? Yang pasti, cara seperti itu tidak akan pernah ada hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat yang akan dipimpinnya.

Maka makin jauhlah negeri ini dari demokrasi yang mencerdaskan. Cara begini mencoba membodohi rakyat bahwa pemimpin dipilih berdasarkan tingkat kegembelannya. Bukan kerjanya.

Inspirasi Umar bin Khattab

Khalifah kedua sepeninggal Rasulullah saw ini memang mewarisi kesederhanaan gurunya. Bekas tikar di punggung Rasulullah – padahal ia adalah seorang pemimpin umat, begitu berkesan. Maka Umar bin Khattab r.a. memimpin dengan slogan yang menyejarah: “Kalau rakyatku kenyang, aku yang paling terakhir kenyang. Kalau rakyatku lapar, aku yang paling pertama lapar.”

Ia orang yang tak silau melihat kilau kekayaan Kisra. Dalam keseharian, ia berpergian dengan pakaian yang punya tambalan di mana-mana. Padahal ia memimpin wilayah yang kian luas dan kaya. Dalam perjalanan dari Madinah ke Palestina setelah pembebasan Al-Quds, ia bergantian menuntun unta dengan pelayannya. Sampai-sampai orang mengira Umar bin Khattab adalah pelayan, dan yang di atas unta itu khalifah.

Tapi kesederhanaan Umar bin Khattab itu dilaluinya hari demi hari. Umar tidak tumben-tumbenan memakai sandal jepit setelah beberapa waktu lalu menikahkan anaknya dengan pesta yang teramat mewah. Ia tidak bangga berkaos oblong padahal tangannya menggenggam ponsel mahal. Ia tidak pamer kepada media sedang sarapan arem-arem padahal biasanya makanannya berkelas.

Kesederhanaan Umar bin Khattab yang menginspirasi itu bukanlah kesederhanaan artifisial. Dalam semua aspek kehidupannya ia memang hidup sederhana (kecuali dalam ibadah dan visi kepimpinan). Alami dan setiap hari begitu adanya.

Kepemimpinan Umar beserta kesederhanaannya mengagumkan manusia di dunia. Membuat orang-orang memimpikan punya pemimpin seperti Umar. Makanya para politisi ingin dianggap seperti dia.

Pemimpin Berpenampilan Apa Adanya

Memang, rakyat tidak suka dengan pemimpin yang memamerkan kemewahan di saat kondisi rakyat yang masih banyak yang susah. Itu pemimpin yang berjarak. Tak peka terhadap krisis.

Memang, masyarakat merindukan pemimpin yang merakyat. Tidak gila kemegahan, tidak gila sanjung, tapi rendah hati dan punya kehidupan yang membaur dengan rakyatnya. Idealnya seperti itu.

Tetapi rakyat tidak akan mengeluh bila sang pemimpin memakai pakaian yang pantas pada acara seremonial. Berbatik, bersepatu tertutup yang mengkilat, itu masih dalam ambang wajar. Yang penting dalam balutan yang dikenakannya tetap terjaga kewibawaannya. Berpenampilan nyeleneh di acara resmi malah bisa menjatuhkan wibawa pemimpin.

Dan lebih penting dari penampilan, adalah hasil kerja yang bisa memakmurkan rakyat. Kalau bersendal jepit dan berkaos oblong tidak bisa membuat harga bahan pokok terjangkau, tak bisa mencegah gas LPG langka, buat apa? Akhirnya penampilan seperti itu cuma jadi hiburan dan candaan masyarakat. Tak ada pengaruh apa-apa dengan kesejahteraan rakyat.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2018 in Artikel Umum

 

Darurat Kedewasaan Sikap Politik Sebagian Masyarakat dan Berkahnya Buat Anies

Masih ingat absennya mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat pada acara pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih beberapa waktu lalu? Itu hanya sebuah episode awal ketidakdewasaan perilaku politik sebagai reaksi terhadap kemenangan pilihan Umat Islam di pemilihan gubernur Jakarta. Jadi perangai seperti apa yang diperlihatkan Ananda Sukarlan kemarin, bukan yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir.

Setelah sikap Djarot, rangkaian perilaku memalukan lain menyusul. Misalnya beberapa pemilintar media terhadap ucapan Anies dan Sandi. Di antaranya, CNN Indonesia yang menulis berita Sandiaga menuduh pejalan kaki sebagai sumber kesemrawutan Tanah Abang, padahal apa yang disampaikan tidak begitu. Juga beritasatu yang memuat pernyataan Sandiaga yang ingin agar trotoar mengakomodasi roda dua, ini juga menyimpang jauh dari wawancara aslinya.

Belum lagi kelakuan buzzer-buzzer yang diketahui sebagai pendukung Ahok, tidak kalah noraknya. Hal-hal kecil dinyinyiri yang pada akhirnya malah memperlihatkan kebodohan mereka sendiri. Seperti helm proyek yang dikenakan Anies Baswedan saat meninjau pengerjaan MRT, tertera label “Gubernur”. Hal remeh begitu membuat pihak yang kontra Anies Baswedan rewel. Padahal Presiden Jokowi pun diketahui pernah mengenakan helm proyek yang berlabel “Presiden”. Itu hanya satu contoh heboh, dan masih banyak lagi.

“Kelakuan kucing garong” juga mereka perlihatkan saat Anies Baswedan menghadiri pernikahan putri pak Jokowi kemarin ini. Para pendukung Ahok menyoraki Anies, lantas dibesar-besarkan oleh media. Padahal junjungan mereka pernah mendapat perlakuan yang lebih parah lagi. Pernah dilempari batu oleh massa, pernah diburu hingga si junjungan terpaksa menyelamatkan diri naik angkot, dll. Bedanya, Anies disoraki oleh pendukung lawan yang keki, sedangkan si junjungan diamuk massa karena kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.

Kejadian yang terbaru, walk outnya Ananda Sukarlan dkk saat Anies Baswedan memberi ceramah pada peringatan HUT Kanisius ke 90, semakin memperlihatkan darurat kedewasaan sikap politik sebagian masyarakat kita. Ananda Sukarlan beralasan walk outnya karena Anies mendapatkan jabatan dengan cara-cara dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Kanisius. Pertanyaannya, bila yang memenangi Pilgub DKI kemarin adalah Agus Yudhoyono, apakah Ananda Sukarlan memberi penilaian yang sama? Jangan-jangan Ananda Sukarlan hanya berkenan bila pemenang Pilgub DKI itu hanya Ahok, meski dibayangi kasus pembagian sembako, video kampanye kontroversial, dll.

Kira-kira sampai kapan ketidakdewasaan ini diperlihatkan? Boleh saja mereka tak bisa berhenti mencintai Ahok, tapi bukan berarti gagal menerima kenyataan.

Berkahnya Buat Anies

Tapi apakah pendukung Ahok itu tahu, bahwa sikap norak mereka malah bisa mengantarkan Anies Baswedan menjadi Presiden menggantikan Jokowi tahun 2019 besok? Nah lho!!

Karena masyarakat kita mudah simpati dengan pihak yang dizhalimi. Saat SBY dipecat oleh Megawati dari jabatan Menteri, masyarakat bersimpati dengan sang jenderal, dan jadilah ia memenangkan pilpres tahun 2004. Apakah pendukung Ahok ingin agar Anies juga begitu? Beberapa kalangan pun ada yang menyebut keterpilihan Jokowi akibat masyarakat simpati kepadanya karena sering difitnah dan dihujat.

Saya yakin akan ada lagi kelakuan yang tidak-tidak dari kelompok yang kalah di Pilgub Jakarta kemarin. Saya sih inginnya Anies Baswedan komitmen sampai akhir jabatannya, jangan ikut-ikutan politisi karbitan kutu loncat. Tapi kalau terus dizolimi begitu, ya siap siap saja kembali melihat fenomena mantan menteri yang dipecat, menjadi presiden.

 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2017 in Artikel Umum

 

Anies, Mahyeldi, dan Amal Jariah Pemilih Muslim

Kalau berita yang baru saja heboh membuat Anda tersenyum sumringah, maka selamat, itu tandanya masih ada iman di hati. Kabar tentang penutupan Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis yang tengah diburu oleh warganet. Apakah Anda termasuk yang senang?

Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan, sudah mengkonfirmasi. Dikutip media, berikut ini pernyataannya dari Balai Kota, Senin 30 Oktober 2017: “Sudah habis. Otomatis, maka tidak punya izin lagi kemudian. Kan sudah habis, kemudian dengan begitu, tidak ada izin lagi, otomatis kegiatan di situ bukan kegiatan legal lagi. Kegiatan legal adalah kegiatan yang mendapatkan izin, tanpa izin, maka semua kegiatan di situ bukan kegiatan legal.”

Santer Alexis disebut-sebut sebagai tempat maksiat. Siapa yang bilang? Salah satunya adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok. “Di hotel-hotel itu ada enggak prostitusi? ada, prostitusi artis di mana? di hotel. Di Alexis itu lantai 7 nya surga dunia loh (prostitusi). Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi lantai 7,” ujarnya yang terekam dalam jejak digital.

Warga Jakarta maupun luar Jakarta sudah mafhum akan hal tersebut. Tetapi apa daya, selama ini belum ada yang bisa menindak tempat yang mengundang kemurkaan Allah swt itu. Dan rakyat tahu hanya pemegang kekuasaan yang bisa. Pada akhirnya, hari ini seorang Gubernur muslim menepati janji yang pernah ia nyatakan, menutup tempat maksiat terbesar di wilayah yang menjadi amanahnya.

Kiprah Anies mengingatkan saya pada Mahyeldi Ansharullah, walikota Padang. Mungkin jarang masyarakat luar Sumatera Barat yang mengenal sosok ini. Tapi ia pun pernah bersikap tegas terhadap perbuatan maksiat di kota yang ia pimpin.

Istilah “Payung Tenda Ceper” pernah terkenal menyimbolkan lokasi wisata Danau Cimpago Pantai Purus, Padang. Ceritanya, pernah di kawasan itu berdiri payung-payung tenda lebar yang didirikan oleh para pedagang. Payung-payung ini kalau hari masih senja, masih berdiri tinggi. Tapi kian malam ketinggian payung ini makin rendah, dan semakin rendah. Hingga kabarnya tinggi payung hanya cukup menaungi badan dua insan yang berbaring, dengan dua pasang alas kaki mencurigakan terletak di luar. Sedang apa orang di dalamnya? Ah, itu rahasia umum.

Lantas walikota Padang dari Partai Keadilan Sejahtera ini menindak tegas. Per tanggal 1 Januari 2015, melalui Gerakan Padang Bersih (Bersih Lingkungan dan Bersih Maksiat), dibabatlah payung-payung tempat maksiat itu, didukung segenap unsur (TNI, Polri, Pol-PP dan Organisasi Masyarakat) kota Padang. Setelah Pembongkaran, setiap harinya kawasan tersebut dijaga oleh SatPol PP. Dan di atas kawasan tenda ceper tersebut kini dibangun taman bunga yang indah.

Amal Jariah Pemilih Muslim

Tentu tidak cuma dua nama itu saja yang pernah tegas menindak kemaksiatan. Contoh lainnya adalah ibu Tri Rismaharini atau yang terkenal dengan sebutan bu Risma, walikota Surabaya. Ia pernah membongkar kawasan lokalisasi Dolly yang tersohor. Benarlah ungkapan Utsman bin Affan r.a.: “Sesungguhnya Allah bisa mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur’an “

Di balik sosok kepala daerah yang anti maksiat, ada pemilih muslim yang mengantar mereka kepada kekuasaan. Jangan dikira beberapa detik di bilik suara saat rakyat memilih pemimpin yang diyakini akan berbuat baik itu tidak akan menjadi sebuah amal (mari berbaik sangka kepada Allah swt). Pada keterpaksaan mengikuti prosedur demokrasi untuk memperbaiki negeri, ada amal jariah yang bisa diperbuat.

Dalam sistem yang berlaku di negara ini, kita bisa memeriksa track record serta janji-janji para kandidat yang bertarung di pilkada. Bila ada tokoh yang berjanji untuk sebuah kebaikan (seperti menutup Alexis yang dijanjikan pasangan Anies-Sandi) dan kita yakin tokoh itu akan menunaikannya, maka coblosan paku di kotak suara dan juga berbagai kampanye yang kita lakukan untuk meyakinkan orang lain adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Juga pada janji yang mereka laksanakan seperti membangun fasilitas umum, tempat ibadah, dll yang dinikmati oleh orang banyak, ada porsi keterlibatan kita yang semoga itu menjadi amal jariah.

Mendukung pemimpin yang sholeh adalah cara bertaqwa dalam sistem yang tidak ideal. “Dan bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun ayat 16). Dengan catatan, partisipasi kita memilih pemimpin yang baik itu tidak sampai merusak ukhuwah karena persaingan politik.

Tapi bila pemimpin yang dipilih kiranya mengingkari janji, rakyat yang memilihnya tak bisa diminta pertanggung jawaban karena manusia tak bisa mengetahui apa yang terjadi esok hari. Mereka hanya menghukumi berdasar apa yang tampak.

Jadi kini mari bergembira dengan kabar penutupan tempat maksiat. Sebagaimana kita hanya bisa mengingkari kemungkaran dengan lisan dan hati (tanpa punya kekuasan di tangan), maka nyatakanlah kegembiraan itu. Hingga para pendukung maksiat keki.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2017 in Artikel Umum

 

Mari Jaga Gubernur Kita

Kalau mau disebut pasangan kompromistis, ya boleh lah. Karena saya pun tidak menganggap pasangan Anies-Sandi – yang hari ini dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta yang baru – sebagai pasangan yang ideal, pasangan super, yang akan mampu menjawab semua permasalahan ibu kota Indonesia dalam 5 tahun ini (atau 2 tahun, kalau salah satu di antara mereka ikut bertarung di ajang pemilihan presiden nanti. Allahua’lam).

Sebagai pengganti dari sosok yang tidak disukai banyak warga Jakarta, dua nama ini bisa diterima dengan segala kekurangannya. Kompromistis, karena kemarin ada banyak opsi yang disodorkan untuk melengserkan “si mulut kasar”. Tiap pihak merasa yang mereka unggulkan lebih pantas. Tentu kondisi ini berbahaya, karena yang dibutuhkan adalah persatuan untuk sama-sama menempatkan figur yang tepat bagi Jakarta. Bukan saling klaim. Ya mau tidak mau, dua nama ini harus diterima.

Pasangan ini mendaftar di detik-detik berakhirnya waktu pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di KPUD DKI Jakarta. Jum’at, 23 September 2016, pada pukul 20.55 WIB, Anies dan Sandi memasuki halaman kantor KPUD, diarak oleh para pendukung dari dua partai: Gerindra dan PKS.

Nama Anies sendiri pun muncul di saat-saat akhir, setelah lobi-lobi partai politik yang tak kan mendukung Ahok-Djarot tak mampu mendapat kata sepakat. Akhirnya Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB mengusung Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni. Sementara Gerindra dan PKS harus mencari tokoh lain. Resmi lah tiga pasangan yang berlaga.

Kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara No. 4 Kebayoran Baru sudah disambangi beberapa figur terkenal ketika itu. Salah satunya Yusuf Mansur dan Yusril Ihza Mahendra. Tetapi Gerindra dan PKS belum kunjung menyepakati sebuah nama pun. Begitu alot. Lalu pada Jumat dinihari (23 Sept 2016), datanglah Anies Baswedan. Dan akhirnya partai nasionalis dan partai Islam itu sepakat untuk mengusung mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, beserta Sandiaga Uno sebagai wakilnya yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 2017.

Puaskah khalayak? Tentu tidak. Sempat menyeruak resistensi terhadap Anies Baswedan yang dianggap pengikut syiah. Hanya saja tuduhan itu lemah. Dibantah pula oleh para tokoh Islam. Sehingga lambat laun penolakan itu pun meredup.

Survey mencatat, di awal masa kampanye pasangan Anies-Sandi berada dalam posisi terancam tak lolos di putaran kedua. Tetapi perlahan masyarakat semakin terbuka menerima pasangan ini. Debat kandidat memperlihatkan penguasaan mereka terhadap masalah-masalah Jakarta. Janji-janji mereka dianggap lebih masuk akal. Dan akhirnya suara mereka menempati posisi kedua setelah penyobolasan putaran pertama.

Cerita selanjutnya kita tahu, di putaran kedua mereka menang dengan angka yang cukup telak. Perolehan 3.240.332 suara (57.95 persen), melawan 2.351.245 suara (42.05 persen) yang diraih Ahok-Djarot, di luar perhitungan banyak pihak. Apalagi survey Charta Politika yang dipunggawai Yunarto Wijaya yang kala itu merilis kemenangan Ahok-Djarot, 49 persen melawan 47,1 persen. Angka yang terbukti sangat ngawur.

Sekali lagi, ini adalah pasangan kompromistis dari pihak-pihak yang berwenang menentukan nama bagi penerus kepemimpinan Jakarta. Masyarakat hanya bisa menerima hasil lobi elit politik. Karena – jujur saja – banyak yang menganggap mereka berdua bukan yang paling ideal, maka bisa diprediksi akan banyak kritik diarahkan pada mereka di sepanjang perjalanan tugasnya. Bukan cuma dari kubu penolak, tapi juga kubu pendukung.

Tapi tetap saja Anies-Sandi berhak atas dukungan penuh warga Jakarta. Para penolak sudah bersiaga sejak lama untuk mengkerdilkan citra dan kerja mereka. Ke depan, kita akan melihat nyinyiran beraroma ekstragregasi yang akan ditujukan pada pasangan ini. Posisi kita di mana?

Tempatkan diri kita, pendukung pasangan Anies Sandi, sebagai pengawalnya. Bukan berarti pembela buta. Sebagai pengawal, kita berhak mengingatkan janji politik mereka, toh mereka sejak jauh hari sudah membuka diri. Selain itu, mari besama-sama buktikan bahwa pilihan kita ini tepat. Bahwa mereka juga bekerja. Jangan ragu untuk kabarkan kepada khalayak tentang keberhasilan-keberhasilan mereka yang kemungkinan besar media mainstream akan ogah memberitakan.

Waspada, kubu penolak sudah sejak lama memasang “mata lalatnya” yang sangat awas melihat sedikit saja “sampah” berserak. Mereka menunggu-nunggu kesalahan, bahkan akan mengorek-ngorek setiap centi kekurangan kerja pasangan Anies Sandi. Lalu diumbar sebagai hal yang sangat besar. Sementara kerja positif musuhnya akan ditutupi sedemikian rupa.

Mari jaga Gubernur kita!!!

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2017 in Artikel Umum