RSS

Category Archives: Artikel Umum

Surat Terbuka Untuk Gerakan Mahasiswa 2019

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan

Dua puluh satu tahun lalu rakyat Indonesia merasakan euforia yang luar biasa atas kebebasan yang didapat setelah terkungkung selama 32 tahun. Reformasi berhasil menggulingkan kekuasaan tiran orde baru. Masyarakat telah bebas mengemukakan pendapatnya di berbagai tempat tanpa khawatir “digebuk” oleh penguasa.

Kadang kegembiraan itu kebablasan. Hujat dan caci maki jadi kebiasaan. Bahkan ada yang mengartikan bebas berbuat apa saja meski merugikan orang.

Tapi dengan reformasi yang diperjuangkan senior kalian angkatan 98, terbitlah harapan Indonesia akan jaya. Semua orang punya kesempatan yang sama dalam memimpin dan membangun bangsa. Dan penyakit yang diderita negara ini, yaitu Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), akan segera diberantas.

Merindukan kejayaan. Begitulah yang dirasakan para mahasiswa kala itu. Melalui 6 tuntutan reformasi: Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amendemen UUD 1945, Hapuskan Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya, Tegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.

Saya yakin kalian yang kini turun ke jalan pun merindukan kejayaan untuk negeri ini. Kami juga, dan kami titipkan kerinduan itu pada kalian.

Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Dulu masyarakat bingung dengan yang terjadi pada bangsa ini. Negara kaya raya dengan hasil alam dan tambang. Tapi masih banyak rakyat miskin dengan kesenjangan sosial yang tinggi.

Kini masih. Setelah reformasi bergulir 21 tahun, rupanya keadaan tak banyak berubah. Kejayaan yang dirindukan tak kunjung hadir. KKN yang ingin diberantas, malah semakin kronis.

Kalian yang turun ke jalan, kami titipkan kebingungan ini. Mohon lawan segala upaya pembodohan bangsa dan pelemahan ikhtiar pemberantasan korupsi.

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
di lembar sejarah manusia

Ya, kalian tengah menggoreskan sejarah indah tentang aksi heroisme buat negara ini. Tapi satu pesan saya. Telah ada contoh orang-orang yang dulu dikenal sebagai penggerak perjuangan, namun ketika merengkuh kekuasaan ia berubah menjadi tokoh antagonis yang harus dilawan oleh gerakan mahasiswa.

Ada orang-orang yang dulu berteriak lantang anti korupsi, tapi setelah menjabat ia malah melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Kalian jangan seperti orang-orang itu! Tetaplah istiqomah dalam idealisme sampai mati.

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Selamat berjuang. Selamat bergerak. Peluh bahkan darah kalian adalah asupan buat kejayaan negeri yang sedang kita rindukan bersama. Panaskan aspal-aspal hitam dengan sepatu kalian. Berteriaklah lantang. Tuntaskan agenda reformasi.

Enyahkan kroni-kroni orde baru yang sejak 98 sampai sekarang masih bercokol di kekuasaan. Tuntut undang-undang yang berpihak pada rakyat. Tetap pastikan TNI berada di baraknya. Kawal otonomi daerah, jangan sampai kekayaan mereka dihisap habis oleh pusat yang mengakibatkan gejolak seperti di Papua sekarang. Gugat ketidak adilan hukum. Dan lawan mereka yang ingin memelihara penyakit KKN di negeri ini.

Ya, kalian tentu punya agenda lain hari ini. Tapi yang jelas tidak akan bertentangan dengan 6 tuntutan reformasi dulu.

Selamat berjuang. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Zico Alviandri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2019 in Artikel Umum

 

Ternodanya Predikat Negara Tersantuy

Apa kabarnya gelar yang disematkan oleh situs pemesanan akomodasi lastminute[dot]com kepada Indonesia sebagai negara yang paling santai di dunia, mengalahkan Australia dan Islandia?

Andai perilaku suporter sepakbola Indonesia dimasukkan sebagai penilaian, rasanya skor Indonesia akan berkurang drastis. Apalagi setelah kerusuhan kecil di stadion GBK saat tim Garuda melawan Harimau Malaya kemarin ini. Karena ulah norak beberapa suporter, sepakbola nusantara terancam mendapat hukuman oleh FIFA.

Kategori yang dijadikan ukuran negara santai diantaranya adalah, hak pribadi warga negara, jumlah hari libur, suhu udara, level polusi cahaya dan udara, serta ketersediaan destinasi wisata dan relaksasi seperti spa dan pantai.

Ya, itu semua memang fasilitas mendukung untuk bisa bersantai. Bagi orang desa, cukup saung yang nyaman di tengah sawah, angin sepoi-sepoi, plus nasi, krupuk, dan ikan asin. Bagi pensiunan di sore hari, cukup kursi goyang, burung bersuara merdu di sangkarnya, serta kopi dan rebusan di meja. Bagi orang kota lebih sederhana lagi: kasur, hp, kuota, dan sinyal.

Ketika heboh berita prestasi negara tersantai, warganet dan media online menampilkan bukti-bukti foto bahwa predikat itu memang layak disandang Indonesia. Ada petani yang tiduran di sawah, pejalan kaki leyeh-leyeh di tengah jalan, dsb. Lucu dan jadi ada benarnya juga.

Hingga kemudian kelakuan anak-anak negara api menyerang. Menyadarkan kita bahwa rakyat ini ga santai-santai amat kok. Suporternya sumbu pendek dan kampungan. Doyan ribut. Ga terima kekalahan.

Perilaku “ga nyantai” ini bahkan sudah merenggut korban nyawa dalam perseturuan Viking vs The Jak. Juga di beberapa perselisihan antar suporter lainnya.

Ada yang membela keributan kemarin. Katanya, suporter Indonesia ketika menonton langsung di Malaysia pun diteriaki dan dicaci maki. Lho, kenapa mau ikut-ikutan berbuat salah?

Ini bukan nasionalisme. Melainkan kelakuan bocah panasan. Kalau ada oknum berbuat tak pantas, apakah harus timbulkan dendam yang dibalaskan kepada seluruh suporter Malaysia, bahkan kepada negaranya? (Ada yang meneriakkan ganyang Malaysia kemarin. Cuma gara gara sepakbola.)

Yang berbuat entah siapa, dendamnya jadi melebar kemana-mana.

Dan ini terjadi juga pada suporter antar klub dalam negeri. Dendam yang tak tuntas. Harus saling balas. Rusuh diimbangi rusuh, biar terlihat gagah.

Begitulah. Di tingkat negara, suporter kita ribut. Di tingkat klub, tak kalah rusuh. Tanding antar kelurahan, sekolah, bahkan kelas pun bisa tak lepas dari tawuran. Di level apa pun harus selalu siap untuk bergelut. Bola yang bundar itu hanyalah sarana pengantar menuju baku hantam.

Kalau dibilang insan sepakbola kita kurang rekreasi, sebenarnya pertandingan sepakbola itu lah bentuk rekreasi. Entah kenapa malah jadi tegang dan berhawa panas.

Saya merindukan orang-orang masuk ke dalam stadion membawa keluarganya, istri, anak-anak, orang tua, tanpa khawatir kerusuhan. Mereka menikmati pertandingan. Bernyanyi dan menyemangati tim idola. Ketika menang, memberi applause tanpa berlebihan. Ketika kalah, tetap diberi semangat sembari tak lupa mengapresiasi lawan. Dan terhadap suporter lain, bisa menghargai dan memberi rasa aman pada mereka yang sudah datang dari jauh.

Bila itu terwujud, tentu bisa memperkuat kategori penilaian sebagai negara santuy.

Ya, fasilitas buat nyantai sih banyak. Tapi entah kenapa, kalau udah nonton bola, jadi sumbu pendek. Bahkan walau yang bertanding itu klub luar negeri, fans yang sedang nonton bareng malah berantem sendiri. Noraknya sampai sebegitunya.

 
Leave a comment

Posted by on September 7, 2019 in Artikel Umum

 

Milkul Yamin dan Retorika-Retorika yang Memesona

Alhamdulillah, sebagai orang awam, dapat perbendaharaan istilah baru dari kehebohan belakangan ini yang dipicu oleh desertasi S3 mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga.

Istilah itu berbunyi: Milkul Yamin. Diambil dari Al-Qur’an surat Al Mu’minuun ayat 6, “…Aw maa malakat aymaanuhum…” artinya “…atau budak yang mereka miliki…” Makna istilah itu adalah budak dalam kepemilikan pribadi. Selama ini saya tahunya hanya Milkita, merk makanan.

Juga sedang populer istilah lain, yaitu “bucin”. Singkatan dari budak cinta. Maka memadukan dua istilah ini, bisa lah terbentuk term baru: “milkul yamin cinta”. Disingkat micin. Keren gak sih?

Perbudakan memang pernah ada berabad-abad, bahkan bermilenial-milenial lamanya. Pada 31 Januari 1865, presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln memutuskan untuk menghapus perbudakan di negaranya. Dan di seluruh dunia, pada zaman modern saat ini, sudah tidak lagi ditemukan hal tersebut.

Orang awam baru tahu, bahwa ada yang menggunakan istilah milkul yamin untuk membenarkan hubungan seksual non marital. (Nah, istilah keren lagi nih). Bahwa hubungan intim di luar pernikahan – menurut pemikiran kontroversial itu – bukanlah zina karena dipayungi hukum milkul yamin yang membolehkan.

Ya, jaman dulu budak boleh digauli tuannya. Hukum terhadap orang merdeka berbeda dengan hukum terhadap budak yang diperlakukan sekehendak tuannya laksana barang kepemilikan. Tapi saya jadi khawatir orang Palembang atau Sunda jadi salah sangka. Dikiranya boleh berhubungan badan dengan anak kecil. Budak kan dalam bahasa Palembang & Sunda artinya bocah cilik.

Enak dong menggauli budak? Bayangan saya tentang budak didapat setelah menonton film Little Missy di TVRI waktu kecil (yang tidak tahu film ini, boleh memanggil saya abang atau om). Ada orang-orang Negro yang hidup dalam kerangkeng dan acap mendapat cambukan dari tuannya yang bernama Baron Araruna. Juga ada budak wanita bernama Ba, pengasuh nona Missy. Badannya besar, hitam, gemuk. Nah, sering kalau disebut budak wanita, yang terbayang adalah sosok Ba itu. Jadi, apakah enak boleh menggauli budak wanita? Tergantung gimana dulu.

Membenarkan hubungan seksual di luar nikah dengan alasan milkul yamin, maka asumsinya wanita itu adalah budak pria? Gitu gak sih? Saya berbaik sangka, mungkin yang punya pemikiran tersebut terlalu menghayati syair lama. Begini bunyinya:

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

Hayo… siapa yang baca itu sambil nyanyi? Ketauan ya umurnya.

Jadi, benarkah milkul yamin alasan yang tepat untuk melegalkan hubungan seksual non marital? Saya sih ikut ulama terpercaya yang membantah desertasi mahasiswa S3 tersebut.

Hanya saja, ada pelajaran yang bisa diambil dari kehebohan ini. Tentang bagaimana istilah yang asing terdengar bisa memesona dan mengelabui masyarakat awam.

Seseorang menyampaikan informasi bahwa air yang sering kita minum mengandung zat kimia berbahaya bernama Dihidrogen Monoksida. Orang awam mendengar nama itu tentu langsung khawatir dan terpengaruh. Padahal Dihidrogen Monoksida adalah nama kimia untuk air (H2O).

Seseorang yang baru hijrah melihat temannya saat tasyahud dalam sholat tidak menggerak-gerakkan jari telunjuk. Lantas dia bilang, “Manhaj kamu tidak kokoh. Sholatnya belum benar. Manhaj salafus sholih adalah menggerak-gerakkan telunjuk saat doa dalam tahiyat”. Terdengar keren, padahal istilah itu salah penempatan.

Karena itu, sebagai awam kita harus berhati-hati terhadap retorika orang yang akan menyimpangkan ajaran Allah. Kemarin ada istilah tafsir hermeneutika yang diterapkan untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Istilahnya terdengar indah, padahal itu adalah konsep kafir memahami kitab suci mereka agar ajaran agamanya selalu sesuai dengan keinginan masyarakat dan perkembangan zaman.

Kuncinya jangan latah, jangan kagetan, jangan gampang terpesona. Kekuatan retorika inilah yang menjadi kekuatan orang munafiq mempengaruhi umat muslim, sebagaimana yang dikupas oleh Allah swt dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun ayat 4. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka…”

Terakhir, saya suguhkan sebuah dialog antara Mandra dan pacarnya, Munaroh, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Tautan: https://www.youtube.com/watch?v=mcoF0tfhfmM ). Perhatikan bagaimana retorika Mandra begitu memukau. Tapi…..

Mandra: Apalagi sih yang kamu ingin bicarakan?

Munaroh: Aye pingin minta maaf bang

Mandra: Maaf? Maaf untuk apa?

Munaroh: Ya.. Aye kan pernah ngecewain abang. Pernah ngkhianatin cinta abang

Mandra: Cinta. Apalah arti sebuah cinta?

Munaroh: Abang kok ngomongnya gitu?

Mandra: Iya dong. Cinta itu kan sesuatu yang indah. Bahkan sekarang sudah tidak indah lagi. Diakhiri dengan kekecewaan.

Munaroh: Ya.. Karena itu, aye jadi ngerasa bersalah bang.

Mandra: Kenapa kamu harus merasa bersalah? Selama ini kamu terlalu banyak memberikan keindahan, Roh. Aku sendiri tidak tahu apakah ada relevansinya dengan hubungan kita.

Munaroh: Relevansi apaan sih bang?

Mandra: Ya Relevansi. Eee… maksudnya… Eee… cinta itu kan relevansi. Eee… begini. Kita prinsip. Prinsip aja kita bedua. Ee… Pokoknya begini aja dah. Eee.. anggap aja antara hubungan kita yang pernah terjalin dulu itu, mmm… hanyalah sebuah kenangan belaka.

Munaroh: Kok abang gitu sih?

Mandra: Ini realita Roh. Realita. Sesuatu yang mungkin sulit untuk kita lupakan. Dan apa pun alasannya, ini tidak mungkin terulang lagi di antara kita. Ya toh?

Munaroh: Jadi abang gak berharap kita bisa bersatu lagi?

Mandra: Bersatu lagi? Itu sama saja kau mencari jarum dalam jerami. Tidak mungkin Roh. Kau kan sekarang sudah menjadi istri orang lain. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2019 in Artikel Umum

 

Jangan Dekati Masjid Kami Bila Hanya Ingin Cari Keributan!

Kalau niat tuan suduh buruk, memang bisa tuan mengendap ke dalam majelis-majelis agama untuk mencuri dengar dan mencari hal yang bisa dijadikan bahan provokasi. Termasuk di dalam acara pengajian kami, di masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah swt di situ.

Ketika hanya Allah swt yang banyak disebut, tuan sudah mulai meradang. Tuan tuding kami fanatik, sektarian, bigot, dan kata-kata lain yang entah tuan dapat dari mana. Tak heran, perangai tuan itu sudah dikabarkan dalam Al-Qur’an.

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS Az Zumar: 45)

Ketika sang ustadz menyebut bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Azza wa Jalla; ketika dibahas bahwa hanya Islam agama yang haq, dan agama selain itu bathil; tuan akan meradang lebih hebat. Tuan sangkakan kami anti toleransi, anti kebhinekaan.

Ketika dibaca ayat Al-Qur’an bahwa Tuhan Maha Suci dari memiliki anak atau dilahirkan, tuan akan temukan bahan untuk menghasut ketentraman penganut agama lain.

Ketika dilantunkan ayat Al-Qur’an surat Maryam 90-91, tuan akan semakin bersemangat untuk mengadu domba antar umat beragama.

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak,” bunyi ayat itu.

Ketika dikaji secara logika Al-Qur’an, keganjilan konsep politeisme, atau rapuhnya klaim-klaim ketuhanan selain Allah swt, tuan akan berang bercampur suka cita mendapat alasan untuk mengintimidasi kami.

Ketika dibahas tafsir Al-Fatihah memasuki ayat terakhir tentang makna Al-maghdhub dan Adh-dhollin, juga ayat tentang kelompok yang “selamanya tak akan ridho”, atau tentang kaum bebal laksana keledai pemanggul kitab, tuan bisa jadikan itu untuk menuduh kami umat yang anti kedamaian.

Jauh-jauh lah. Kami berlindung kepada Allah swt dari kejahatan makhluk seperti tuan.

Konsep teologi tiap agama pasti saling bertentang paham. Apa yang dikaji di masjid, akan menafikan apa khutbah para pendeta. Begitu pun sebaliknya, apa yang kami yakini akan dibantah di rumah-rumah ibadah mereka.

Kami tak kan pernah permasalahkan sama sekali apa yang dibahas di sana. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Hanya saja mari kita bersepakat, bahwa setiap kajian agama teologis ini hanyalah untuk kalangan sendiri. Maka tak perlu tuan yang beragama lain mencuri dengar dari kajian kami. Pun kami tak ada keperluan menguping apa yang pemuka agama lain khotbahkan.

Selama itu dipegang erat, kedamaian umat beragama akan terjaga. Namun bila orang seperti tuan datang dengan membawa provokasi, menyampaikan apa yang dikaji di masjid kepada jamaah gereja, pura, dan wihara; atau sebaliknya; maka terancamlah kerukunan yang berharga itu.

Kami serahkan kepada Allah swt.

Disadur dari pernyataan tertulis ustadz Fahmi Salim yang dikutip Republika[dot]co[dot]id, 19 Agustus 2019, ada kisah yang diceritakan Buya Hamka seperti di bawah ini:

Dalam rubrik “Dari Hati ke Hati” di Majalah Pandji Masjarakat, Buya Hamka menceritakan kisah nyata persekusi yang dialami oleh KH SS Djam’an, ulama terkenal pada tahun 1960-an.

Saat memberikan pengajian di rumah warga masyarakat, ia (KH SS Djam’an) menjelaskan tafsir firman Allah ayat 4-5 surah al-Kahfi tentang makna Tauhid yang murni dan menyesatkan paham trinitas.

Rupanya, ada yang nguping menginteli pengajian tersebut.

Selepas pengajian, saat hendak pulang Kiai Djam’an dikepung sekumpulan pemuda berbadan kekar dan sangar, sambil meneriakkan kalimat, “Anda anti-Pancasila!”

Buya Hamka menulis, “Kita disuruh toleransi. Toleransi dengan tafsiran bahwa kita jangan atau dilarang menerangkan akidah kita. Siapa yang berani menerangkan akidah kita, maka rumahnya bisa dikepung atau bisa diproses.” Demikian sindir Buya Hamka, mencontohkan kejadian yang menimpa Kiai Djam’an itu.

Dahulu, tahun 1960, Buya Hamka pernah berkhutbah di Masjid Agung Al Azhar bahwa di Indonesia saat ini Islam dalam bahaya akibat wabah intoleransi dan tudingan anti-Pancasila oleh organ-organ Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme –Red) kepada partai Islam, ormas Islam dan tokoh-tokoh ulama Islam. Rupanya, khutbah Buya Hamka itu sampai juga ke telinga Bapak Sukarno, presiden dan pemimpin besar revolusi yang ditabalkan oleh Nasakom.

Ia (Presiden Sukarno) lalu bereaksi dan menyatakan dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di istana negara, “Ada orang yang mengatakan Islam dalam bahaya di republik ini. Sebenarnya, orang yang berkata itu sendirilah yang sekarang dalam bahaya.”

Tak lama kemudian, pada tahun 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rezim Nasakom dengan tuduhan hendak menggulingkan pemerintah, berencana membunuh presiden dan menteri agama, dan kontra-revolusi.

Rupanya, kata-kata bapak Presiden itu adalah isyarat bahwa Buya Hamka sudah diincar dan jadi target persekusi dan kriminalisasi ulama di era kejayaan komunis di bawah naungan rezim Nasakom.

Tampaknya, sejarah kembali berulang.

Tidak pada tempatnya memperkarakan tokoh agama yang berceramah agama ditujukan kepada penganut agamanya sendiri, apalagi disampaikan di tempat khusus seperti rumah ibadah.

Tujuannya adalah memperkuat keimanan pemeluknya.

Itu bukan mencela atau menista tuhan agama lain.

Ayat yang menyatakan, jangan kamu mencela sesembahan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah itu sangat jelas maknanya, larangan mencela secara terbuka dan tanpa landasan ilmu pengetahuan, tujuannya semata-mata untuk memperkeruh toleransi umat beragama dan menciptakan situasi chaos dalam masyarakat beragama.

Jika peneguhan akidah disampaikan kepada internal umat dengan membandingkan dengan konsep tuhan-tuhan agama lain, tidak dengan tujuan merusak harmoni sosial, maka tidak ada alasan logis dan legal untuk mengharamkannya karena itu adalah bagian dari dakwah agama.

Seperti ayat-ayat Alquran mengecam kemusyrikan dan kekafiran Ahli Kitab dan musyrikin Quraish, aapakah lalu kemudian boleh memperkarakan dan memidanakan ayat-ayat Allah?

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2019 in Artikel Umum

 

Bau Kematian, Antara Muslim dan Islamophoba

Terbuat dari apa hidung yang hanya mencium bau kematian menjelang Idul Adha saja? Padahal kematian itu selalu ada di dekat kehidupan manusia. Sejak sebelum Idul Qurban, Kashmir sedang dibombardir. Sudah biasa jatuh korban nyawa di sana.

Oh, mungkin mereka hanya terenyuh bila kematian itu pada hewan? Kalau begitu apakah mereka mencium bau kematian ketika lewat gerobak tukang sayur? Ikan, ayam, atau daging sapi selalu tersedia tiap hari. Atau pileknya cuma sembuh di bulan Dzulhijjah?

Saya tidak tahu apakah penyayang hewan itu suka main ke kebun binatang. Yang jelas, di sana harimau tidak akan diberi makanan semur jengkol atau terong balado. Selalu ada bau kematian demi menghidupi hewan-hewan carnivora.

Apakah penyayang hewan yang menggugat ibadah qurban itu pilih kasih? Makanan binatang peliharaan seperti kucing dan anjing adalah daging olahan. Apakah mereka tak mencium bau kematian ketika memberi pakan hewan kesayangan?

Main ke alam bebas, lebih sadis lagi. Singa akan membunuh Heyna, vise versa. Kematian seekor hewan bukan cuma karena alasan ingin dimakan, tak jarang karena persaingan hukum rimba.

Bau kematian ada di mana-mana dan kapan saja. Jangan lah sok jadi pahlawan saat Idul Adha saja.

Dan kalau mereka mengategorikan bakteri itu sebagai hewan, apakah masih mau minum obat batuk? Jangan jauh jauh, kalau ada nyamuk menghisap darah mereka, apa ga ditepokin?

Saya pernah lihat sebuah kartun yang lucu. Seseorang melepas burung yang ada dalam sangkar. “Pergilah! Bebaslah!” ujarnya. Baru beberapa meter burung itu terbang, seekor elang datang memangsanya. Akhirnya penyayang hewan itu blunder sendiri. Apa yang ia sangka sikap menyelamatkan, rupanya jalan kematian bagi binatang tersebut.

Artinya, apa yang manusia kira sebagai cara menyayangi hewan, belum tentu itu yang terbaik bagi hewan tersebut.

Setiap perilaku dan pemikiran yang mencoba melawan kodrat yang berlaku dalam kehidupan akan menjadi lucu.

Dari awal keberadaan manusia, hewan sudah menjadi makanan makhluk paling superior di muka bumi. Lalu kalau itu disalahkan, apakah mereka tidak berfikir bahwa tumbuhan yang mereka makan pun makhluk hidup? Pohon singkong, jahe, bahkan pohon toge juga berhak merasakan kehidupan. Pohon kemangi punya hak tumbuh dengan daun-daunnya. Apakah mentang-mentang manusia tidak bisa melihat ekspresi tanaman, lantas tak bisa dicium bau kematian pada makhluk itu?

Alhamdulillah Islam berdiri pada argumen yang jelas soal kehidupan. Pertama, manusia adalah khalifah (ups.. keceplosan) di muka bumi. Kedua, langit dan bumi dan seisinya Allah swt buat tunduk untuk manusia. Boleh dimanfaatkan. Termasuk hewan.

Tapi kemudian, ketiga, Islam ingatkan bahwa benda-benda (hidup atau mati) selain manusia pun berdzikir kepada Allah. Binatang, tumbuhan, dan gunung itu hidup dan memuji-Nya.

Karena itu, keempat, Islam ajarkan akhlak untuk manusia. Ada larangan untuk menyakiti hewan.

Maka meskipun harus membunuh agar bisa makan, Islam ajarkan cara membunuh yang terbaik.

Rasa sakit yang dijumpai saat kematian, akan hewan-hewan itu alami juga walau pun tidak disembelih oleh manusia. Ketika hewan itu tua atau sakit, tak kan bisa mengelak dari pedihnya sakaratul maut. Apalagi saat jadi mangsa binatang buas. Cakaran dan gigitan pasti sangat menyiksa.

Termasuk menjadi hikmah bagi pequrban adalah merenungi sakaratul maut yang akan dihadapi. Bau kematian selalu ada di sekitarnya, dan kelak orang-orang akan mencium itu dari dirinya.

Mungkin penggugat ibadah qurban itu terlalu ekstrovert. Syariat ini hadir untuk memberi peringatan bagi manusia. Bukannya dijadikan renungan untuk diri sendiri, malah memikirkan hewan yang tak kan ada balasan abadi setelah kematian atas perbuatan selama hidup.

Akhirnya, bau kematian memberi kecerdasan bagi muslim yang mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, dan hanya menjadi tunggangan bodoh bagi islamophobia.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2019 in Artikel Umum

 

Jangan Biarkan Islamophobia Menjegal Putra-Putra Terbaik Bangsa

Enzo Zenz Allie adalah salah satu putra bangsa terbaik yang punya kesempatan untuk mengabdi kepada negara ini di jalur militer. Di usianya yang muda, ia sudah mendapatkan “cobaan” seperti yang dirasakan pohon sengon. Sebagaimana pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang diterpa angin. Artinya, semakin tinggi reputasi seseorang semakin deras ujian menimpanya.

Tapi Enzo masih muda. Masih berusia 18. Terlalu dini mendapatkan tuduhan anti NKRI dan terpapar HTI hanya karena di akun media sosialnya terdapat foto di mana ia membawa bendera tauhid. Yang memfitnahnya pun bodoh, tidak bisa membedakan mana bendera tauhid mana bendera HTI.

Enzo, Taruna Akmil tampan keturunan Prancis, telah menunjukkan prestasinya lulus menghadapi ujian masuk Akademi Militer. Setidaknya menguasai empat bahasa, Indonesia, Inggris, Perancis, dan Jerman. Sedangkan para pemfitnahnya, belum tentu tampan, dan berbahasa Islamophobia. Enzo berada di jalur yang benar untuk membela bangsa, sedang pemfitnahnya hanya pahlawan kesiangan dengan kelakuan memecah belah bangsa. Kurang bebal apalagi orang yang tak kunjung paham dijelaskan bahwa bendera Tauhid milik seluruh umat Islam, bukan punya HTI?

Alhamdulillah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi telah menyatakan bahwa Enzo bersih dari paham radikalisme. “Tidak (radikal). Kita kan ada sistem seleksi yang berbeda dengan seleksi orang mau kerja shift siang, shift malam. Ini untuk megang senjata dia. Jadi sudah selektif,” terangnya. “Kemudian potensi ekstremnya kita bisa baca di hasil psikotes, di hasil kepribadiannya. Kebaca di situ ini anak begini begitu. Kalau nggak lolos, dia kecoret di situ. Pada saat seleksi MI (mental ideologi) itu, selain tertulis juga ada wawancara, pada saat wawancara, pewawancara itu bawa laptop, ditanya kamu punya akun medsos apa, ya akun saya ini, ini, ini, setiap orang ditanya hal yang sama,” ujarnya lagi kepada media.

Bahaya bila islamophobia dan tauhidphobia semakin tak terkendali dan membabi-buta membunuh karakter putra-putra terbaik bangsa.

Penyakit islamophobia lain misalnya mempersoalkan tumbuhnya semangat berislam di kampus-kampus. Ada yang menyindir, “kalau mau mencari ustadz, jangan di pesantren, tapi di kampus.” Lho, memangnya untuk menjadi taat harus lulus pesantren dulu? Kalau lulusan kuliah non agama, tidak boleh mendalami ilmu agama?

Dari kampus-kampus itu tampil lah orang-orang cerdas yang siap mengabdi untuk negara sebagai PNS, atau bekerja di BUMN, atau posisi lain. Tak dipungkiri, selain mereka yang berpenampilan Islami pun juga banyak putra bangsa yang punya potensi hebat. Hanya saja, jadi tak adil kalau kompetensi terdegradasi karena tampilan agamis.

Jenggot dan jilbab lebar bagi sebagian kalangan yang bebal dijadikan indikasi radikalisme. Simbol-simbol di atas banyak di temukan di kalangan aparatur negara serta pegawai BUMN. Lantas mereka pun cemas dengan nasib negara yang dikelola “radikalis”. Halah, kayak mereka bisa lulus tes PNS aja.

Ketika ada anggota dewan yang bangga menyatakan menjadi anak PKI, kalangan Islamophobia itu tak cemas dengan nasib bangsa.

Uniknya fenomena semangat keislaman yang tinggi itu banyak ditemukan di fakultas eksakta seperti MIPA. Sebenarnya bisa dipahami. Di ilmu eksaksta mudah ditemukan kebesaran Allah swt. Yang berada di jurusan Biologi akan melihat kekuasaan Allah swt dalam kehidupan yang sangat kecil dalam bentuk sel. Sedang yang kuliah di astronomi akan melihat benda-benda langit yang luar biasa besarnya.

Islamophobia kini menemukan ajang berekspresi dalam bentuk anti-HTI. Dengan itu mereka menyerang membabi buta. Bendera tauhid, jenggot, jilbab, cadar, disangkut pautkan dengan HTI. Akhirnya banyak jatuh korban dari pembunuhan karakter seperti itu, tak terkecuali putra-putra terbaik bangsa yang mengabdi untuk negara.

Ah… Andai ditemukan bendera Tauhid di pohon sengon yang dipermasalahkan kemarin, tentu makin kencang lagi suara mereka.

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2019 in Artikel Umum

 

Jilbab yang Kian Gencar Digugat

Memperdebatkan siapa yang salah (laki-laki atau perempuan) dalam kasus pelecehan seksual sama seperti berdebat tentang siapa yang lebih dahulu ada, ayam atau telur. Tak kan ada habisnya.

Karena tiap kasus tak sama. Yang jelas, yang sudah pasti bersalah adalah si pelaku. Konteks tulisan ini untuk kasus yang menimpa wanita. Maka, laki-laki pasti bersalah.

Memang, tiap orang dituntut bersikap preventif agar tidak menjadi korban atas kejahatan apa pun bentuknya. Tapi menyeret kaum Hawa sebagai biang kerok, belum tentu tepat juga. Tidak menutup kemungkinan wanita yang telah menjaga diri dengan baik masih menjadi korban. Sedangkan pelaku kejahatan tak akan pernah mendapat pembenaran karena tergoda oleh penampilan seronok.

Hikmah Perintah Jilbab

Islam memberi solusi bagi wanita agar terhindar dari pelecehan seksual, yaitu jilbab. Turunnya surat Al Ahzab ayat 59 yang memuat perintah berjilbab berkenaan langsung dengan peristiwa pelecehan terhadap wanita oleh orang-orang jahat di Madinah. Terutama pada frasa “falaa yu’dzain”. (Sehingga mereka tidak diganggu)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut dijelaskan begini:

“Bahwa dahulu kaum lelaki yang fasik dari kalangan penduduk Madinah gemar keluar di malam hari bilamana hari telah gelap. Mereka gentayangan di jalan-jalan Madinah dan suka mengganggu wanita yang keluar malam. Saat itu rumah penduduk Madinah kecil-kecil. Bila hari telah malam, kaum wanita yang hendak menunaikan hajatnya keluar, dan hal ini dijadikan kesempatan oleh orang-orang fasik untuk mengganggunya. Tetapi apabila mereka melihat wanita yang keluar itu memakai jilbab, maka mereka berkata kepada teman-temannya, “Ini adalah wanita merdeka, jangan kalian ganggu.” Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, “Ini adalah budak,” lalu mereka mengganggunya.”

Adalah salah bila menyangka jilbab otomatis menghilangkan risiko pelecehan. Dan juga salah bila menyangka wanita yang tak mengenakan jilbab wajar bila dilecehkan.

Syariat menutup aurat dilakukan dengan motivasi dasar untuk patuh atas perintah Allah swt, Sang Pencipta Manusia yang paham atas watak makhluk-Nya. Itu pertama. Lalu hikmah yang menyertai syariat tersebut adalah bonus yang diperoleh dengan syarat yang kondisional

Layaknya hikmah berpuasa agar sehat. Umat muslim menahan lapar dan dahaga seharian adalah karena ibadah. Peluang menjadi sehat karena shaum tersebut, sangat besar. Tapi tidak serta merta. Karena kadang berlaku sebaliknya yang membuat sakit tambah parah sehingga ada rukshoh (keringanan) dalam aturan puasa.

Begitu juga hikmah dalam ibadah lainnya.

Artikel Menghebohkan Tentang Jilbab

Belakangan ini beredar artikel yang membantah jilbab mencegah pelecehan seksual. Judulnya cukup bombastis. “17% Korban Pelecehan Seksual Perempuan Berhijab, Kamu Masih Menyalahkan Pakaian Terbuka”.

Aura yang terasa dari judul tersebut adalah jangan salahkan pakaian seksi karena jilbab pun bisa dilecehkan. Atau, jilbab sudah tidak relevan dalam menghindari pelecehan seksual.

Tentu terdengar janggal. Mudah menghitung berapa persen yang tak berhijab yang terkena pelecehan, yaitu 83%. Pertanyaannya, kenapa judulnya tidak dibuat “83% Korban Pelecehan Seksual Perempuan Tidak Berhijab, Kamu Masih Mau Berpakaian Terbuka?”

Tapi tidak nyaman rasanya kampanye hijab sambil menyalahkan mereka yang menjadi korban. Judul artikel di atas memancing hal itu. Karena logika yang aneh dari si penulis.

Sama seperti mempersoalkan sebuah titik hitam di kertas putih polos. Yang digugat adalah hal kecil, dengan menghiraukan warna yang dominan.

Tak kalah menggelitik, pola pikir yang malah mempersoalkan pihak yang sudah lebih ketat berupaya preventif.

Dengan gaya berpikir seperti itu, saya menyarankan si penulis untuk menyurvei rumah-rumah yang kecurian. Lalu bisa bikin judul tulisan: “99% Pencurian Terjadi di Rumah yang Terkunci, Masih Menyalahkan Rumah yang Pintunya Dibiarkan Tidak Terkunci?”

Saya menghargai bila penulis mengajak agar orang-orang tidak lebih galak pada korban pelecehan daripada pelaku. Tapi tidak dengan menyinggung hijab.

Agitasi Melawan Jilbab

Artikel di atas adalah rangkaian dari gugatan-gugatan terhadap syariat menutup aurat. Selain ini, ada yang mempertentangkan kebaya dengan hijab. Dikatakannya kebaya adalah pakaian asli Nusantara, dan hijab itu ke-arab-araban.

Padahal dalam salah satu pendapat, asal kata kebaya adalah dari bahasa Arab: abaya, yang berarti pakaian. Lagi pula kebaya bisa dipakai bersamaan dengan jilbab kok.

Ada juga celotehan yang bilang bahwa dulu tak ada pelecehan seksual ketika pakaian wanita terbuka. Namun ketika Islam datang, pelecehan marak.

Padahal kasus perkosaan telah terjadi sejak zaman dulu kala. Celotehan tersebut tak lebih hanya provokasi dan ujaran kebencian.

Kalau manusia dilegalkan mengambil setiap barang yang dia lihat, tentu tak ada kejahatan pencurian. Begitu logikanya.

Untuk menggugat jilbab dituduhkan juga bahwa ini hanyalah fenomena belakangan saja, sejak 80an. Islam masuk sejak lama dengan damai ke Indonesia, tapi tak ada wanita yang berjilbab. Begitu katanya.

Tapi kemarin beredar foto wanita Minangkabau di Payakumbuh tahun 1800an yang berjilbab panjang. Pahlawan Nasional di zaman kemerdekaan HR Rasuna Said pun mengenakan hijab.

Saya khawatir ke depannya makin bebas saja orang-orang merendahkan ajaran Islam di negara ini. Entahlah, seperti ada pemantik yang membuat mereka makin buas. Entah itu kemenangan dalam kontes demokrasi, entah apa…

 
Leave a comment

Posted by on July 23, 2019 in Artikel Umum