RSS

Monthly Archives: July 2014

Hiduplah Bersamanya!

Dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global”, Hermawan Kartajaya menulis sebuah kisah.

“Seorang teman pergi ke dokter internis, ahli penyakit dalam. Dia mendadak suka haus. Oleh dokter, ia divonis diabetes mellitus. Dokter geleng-geleng kepala. Sambil mengernyitkan dahi, dokter bertanya bagaimana bisa dalam usia kurang dari 40 tahun sudah terkena penyakit kronis ini. “Kamu bisa mati kalau tidak hati-hati. Ini penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Paling-paling Cuma bisa dilakukan pencegahan saja!”.

Lantas teman saya dianjurkan ke ahli gizi. Oleh ahli gizi, dia diharuskan untuk diet ketat. Mengetahui kalau dia kena diabetes, teman saya jadi murung. Tapi dia tetap berusaha keras untuk mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh ahli gizi itu.

Tiga bulan kemudian, dia pergi ke Singapura untuk check up. Kali ini dia pergi ke salah satu dokter ahli penyakit dalam yang praktek di Mt-Elizabeth Hospital. Hasilnya sama, diabetes mellitus. Tapi ada yang sangat berbeda. Si dokter Cuma ketawa dan menghibur, “ya, Anda memang sudah diabetes. Ini penyakit kronis. Yang penting you have to live with it!”. Maksudnya si dokter ingin mengatakan, ya mau apa lagi. Sudah terlanjur diabetes. Yang penting jangan terlalu dipikirkan penyakit itu. Tapi bagaimana caranya hidup produktif bersama diabetes!”

Cerita di atas ada lanjutannya, tapi saya potong sampai di situ. Pointnya tentang bagaimana memanjakan client. Cerita itu dimuat dalam buku marketing. Tulisan ini tidak membicarakan tentang pelayanan pada client, tapi ada pelajaran bagus dari cerita di atas.

Pelajaran itu ada pada kata-kata si dokter Singapura untuk menyambut musibah yang dialami oleh penderita diabetes pada cerita di atas. “Yang penting you have to live with it.” Becanda kah si dokter? Atau meremehkan? Atau malah mengejek?

Tidak, tapi dokter itu memang benar untuk menyambut musibah dengan ceria. Apalagi musibah seumur hidup seperti penyakit diabetes.

Dalam buku La Tahzan, Dr ‘Aidh Al-Qarni (siapa yang tidak tahu buku itu, dan siapa yang tidak kenal beliau?) pada tulisan yang berjudul “Pendapat Orang-Orang Bijak Tentang Sabar” menulis: “Konon Anusyirwan pernah mengatakan, “semua ujian di dunia ini bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama, yang bisa dicari jalan keluarnya, yakni guncangan jiwa. Dan kedua, yang tidak bisa dicari jalan keluarnya. Yang ini sembuh justru dengan menyambutnya.” Menurut kalangan bijak bestari, “jalan keluar yang tidak memberikan jalan keluar adalah kesabaran.””

Karena diabetes mellitus – menurut dokter – tidak bisa dicari jalan keluarnya, maka menyambutnya dengan kesabaran itu jauh lebih baik. Kesabaran malah menjadi “jalan keluar” dari musibah yang tidak ada jalan keluarnya.

Diabetes mellitus hanyalah satu contoh. Ada banyak jenis musibah yang bila menimpa seseorang, maka seseorang itu harus hidup bersamanya. Misalnya cacat permanen. Dari namanya saja – permanen, kita harus hidup bersama cacat itu sepanjang hayat. Tapi silakan googling, ada banyak cerita tentang orang cacat yang berprestasi.

Musibah yang kita harus hidup bersamanya bukan sebatas pada penyakit. Ada banyak derita lain. Yang paling menarik adalah…. persoalan asmara. Nah lho…

Dalam bukunya “Catatan seorang ukhti: 4, Karena Cinta Harus Diupayakan”, ada kisah yang menarik tentang rasa cinta yang membekas dan tak mau hilang. Itu menimpa pada seorang wanita yang sudah berkeluarga selama (kalau tidak salah) 5 tahun (maaf saya tidak punya bukunya, cuma pernah baca saja 😀 ). Pada curhatnya dia mengaku tidak bahagia dalam rumah tangganya. Penyebabnya adalah perasaan cinta yang tidak bisa hilang kepada seorang lelaki yang bukan menjadi suaminya.

Menurut saya, perasaan cinta yang tidak bisa hilang itu seharusnya bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia. Kecuali kalau dipaksakan solusinya adalah hidup bersama orang yang dicintai. Tentu itu susah untuk diupayakan (kalau tidak mau dibilang tidak bisa). Dan selama wanita itu tidak hidup bersama pria yang dicintainya, ia tidak akan bisa bahagia.

Kalau perasaan itu sudah diupayakan untuk lenyap namun tidak kunjung hilang juga, maka kesabaran lah solusinya! Biarkan kesabaran – yang harus sudah ada sejak awal musibah – menemani perasaan itu, dan kita bisa fokus pada dunia nyata. Jangan biarkan perasaan itu tidak terkontrol oleh kesabaran hingga mengganggu dunia nyata kita.

Begitulah, ada banyak musibah lain yang kita harus hidup bersamanya. Bisa berupa kegagalan kita menggapai cita-cita dan kesempatan itu telah hilang. Mungkin kematian dari salah seorang yang kita cintai. Atau mungkin ada pembaca yang pada masa kecilnya pernah diperkosa (duh sadis banget contohnya). Biarkan musibah itu mengiringi kita, dan kita hadirkan kesabaran untuk melengkapinya. Selanjutnya, semua musibah itu tidak bisa menghalangi produktifitas kita.

Tetapi ingat, kesabaran harus sudah dihadirkan sejak awal musibah. ”Sesungguhnya yang namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Tetap semangat!!! 🙂

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah (QS 70:5)

6 Agustus 2009. Reblog

Advertisements
 

Karena Doa Robithoh

Sebuah amplop putih berisi undangan menjadi pembicara sebuah seminar berada di tanganku. Dengan hati-hati aku robek amplop itu untuk mengeluarkan isinya, sebuah kertas HVS yang terlipat. Saat kubuka kertas itu aku menemukan namaku, Adi Saputra, sebagai pembicara dengan topik “Al-Qur’an menolak Pluralisme” di salah satu baris di antara deretan huruf-huruf yang membentuk isi surat.

Aku menghadapkan wajahku pada orang di depanku. “Baik. Insya Allah bisa.” Ujarku sambil tersenyum.

“Makasih banyak, bang. Makasih banyak.” Senyum orang di depanku lebih lebar. Terasa seperti senang mendengar kesediaanku.

“Siapa aja pembicara yang diundang?”

“Dari LSM Kajian Pluralisme Indonesia, ada Pak Hendrawan.”

“Oh… Langsung ketua umumnya nih, yang turun?”

“Bukan bang, bukan Pak Hendrawan Ketum LSM KPI. Saya dapat rekomendasi dari Ketumnya untuk mengundang seorang anggota baru LSM itu yang baru dua bulan berada di Indonesia setelah menyelesaikan S2 di Texas. Namanya memang mirip dengan nama ketumnya.”

“Oh begitu. Yah, nama Hendrawan memang pasaran sih. Hahaha…” Candaku diikuti tawa kurir pengantar undangan.

“Baik bang, saya mohon diri dulu. Ada rapat acara pukul 2 siang nanti.”

“Ya, silakan. Terima kasih undangannya ya, Mas… Siapa namanya?” Tanyaku.

“Saya juga Hendrawan pak. Tapi bukan saya yang jadi pembicara. Saya masih mahasiswa kok.” Dia nyengir.

“Hah? Ya ampun. Hahahaha…” Kini tawaku lebih keras dari sebelumnya. Tapi jadi merasa tidak enak hati setelah terlanjur mencandai nama Hendrawan.

“Mari bang…”

“Ya.. Mari.”

Aku menarik nafas panjang. Hendrawan… Mungkin nama itu benar pasaran. Tapi ada satu entitas unik yang memakai nama Hendrawan yang melekat dalam hati. Setiap mendengar nama Hendrawan, rasa penasaranku bangkit dan kerinduanku mengharu biru. Cukup lama nama Hendrawan hadir sebagai pelengkap doa Robithoh yang sering kulantunkan pada pagi atau sore hari tanpa pernah lagi bertemu muka dengan pemilik nama itu selama 12 tahun. Aku rindu pada pemilik nama pasaran itu.

*****

Saat itu, 12 tahun yang lalu, di sebuah musholla sederhana di tepi kompleks sekolah, aku hadir di tengah lingkaran kecil yang sedang menyimak kajian keislaman yang dibawakan oleh seorang alumni. Ada sebuah dialog yang begitu berkesan dan mengisi hati.

“Doa-doa di Al-Ma’tsurat itu doa Rasulullah ya kak?” Tanyaku yang sedang mengamati sebuah buku kecil berjudul Al-Ma’tsurat Wazhifah Kubro.

“Ya.” Jawab Alumni pengisi kajian. “Rasulullah rutin membacanya pagi dan sore. Karena Rasulullah tauladan kita, kita juga harus amalkan dong.”

“Doa Robithoh juga doa Rasulullah?” Kali ini yang bertanya adalah orang di sebelahku. Bernama Hendrawan.

“Bukan. Itu doa yang diajarkan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Kita kan diperbolehkan membaca doa apa saja redaksinya selama itu baik. Bahkan kita boleh berdoa dengan bahasa Indonesia. Nah, doa Robithoh ini memang bukan doa yang pernah Rasulullah lafalkan. Tapi doa ini begitu indah dan sangat baik. Dan tentu saja boleh kita amalkan.”

Hendrawan manggut-manggut.

“Iya Kak, kata-katanya indah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati ini telah berhimpun dalam taat padamu…” Aku mengeja halaman Doa Robithoh yang kubuka. “Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya… ”

“Kamu bisa bayangkan wajah saudara kamu ketika membaca doa itu. Supaya lebih khidmat.” Ujar kakak Alumni.

“Begitu ya kak? Aku mau membayangkan wajah Adi supaya dia gak gampang futur.” Ujar Hendrawan sedikit tertawa nakal.

“Oke, ana juga bayangin wajah antum, Hen.” Jawabku.

“Bagus. Kalian saling mendoakan ya! Biar ketua dan sekretaris Rohis tetap kompak.”

“Hehehehe…” Aku dan Hendrawan dan anggota pengajian lain cengengesan.

*****

Ruangan ini cukup luas. Berukuran 20×10 meter. Peserta seminar yang hadir pun cukup banyak. Ada sekitar seratusan bangku yang terisi oleh manusia. Terlihat dari wajahnya, para peserta cukup antusias mengikuti seminar kali ini.

Dan setelah 20 menit pembicara pertama menghabiskan waktu yang dijatah panitia untuk memaparkan pandangannya tentang “Al-Qur’an Mengajarkan Pluralisme”, kini giliranku memaparkan topik “Al-Qur’an Menolak Pluralisme Agama.” Sebuah makalah sudah siap di tangan. Aku pun memulai pembicaraan setelah tahmid dan sholawat.

“Nama saya Adi Saputra. Saya aktif sebagai ketua Yayasan Cinta Quran. Mulai akrab dengan Al-Qur’an sejak SMA ketika bergabung dengan Rohis SMA 83.

Ya saya pernah aktif di Rohis SMA. Bahkan berlanjut di Rohis kampus. Kalau Pak Hendrawan tadi bilang bahwa Rohis-Rohis SMA merupakan tunas permusuhan dengan perbedaan dan pluralisme, mungkin saja itu pengalaman beliau pribadi. Karena dulu ketika menjabat Ketua Rohis SMA 83, Pak Hendrawan ini sekretaris saya. Saya akrab sekali dengan dia, dulu. Saya tidak menyangka setelah 12 tahun berpisah akhirnya kami disatukan dalam acara seminar ini. Saya berterima kasih banyak pada panitia.”

Suasana sedikit gaduh di selingi tawa dan tepukan tangan kecil. Aku melihat Hendrawan yang disampingku tertawa. Tiba-tiba tangannya membuka hendak merangkulku. Aku sambut rangkulan itu. Setelah berangkulan, wajahnya bergerak mendekati mikrofon.

“Ya saya juga kangen dengan Pak Adi. Saya juga berterima kasih pada panitia.”

Aku menahan haruku. Dengan menahan sesak di dada, aku melanjutkan pemaparan makalah yang akan membantah pemaparan Hendrawan tentang pluralisme yang telah disampaikan sebelum giliranku.

*****

Acara seminar memasuki masa istirahat pas ketika adzan zhuhur berkumandang. Aku hanya bisa menyempatkan berbincang sedikit dengan Hendrawan menanyakan kondisinya, kerja dimana, dan tinggal dimana, serta bertukar nomor HP sebelum kemudian aku bergegas menuju masjid kampus.

Setelah mengikuti sholat zhuhur berjama’ah dan dilanjutkan sholat sunnah ba’diyah, aku yang bersiap meninggalkan kampus ini – karena tugasku menjadi pembicara sudah kutunaikan – didatangi seseorang yang juga menjadi pembicara pada sesi pagi tadi, Hendrawan.

“Sudah sholat, Hen?” Tanyaku.

“Sudah Di. Benar-benar perjumpaan yang tidak diduga.” Dia memandangiku sejenak dan melanjutkan kalimatnya, “Dan kamu tidak berubah. Tetap istiqomah di jalan dakwah.” Hendrawan tersenyum. Seperti bangga. Atau mengejekku?

“Kamu sendiri bagaimana Hen? Aku tidak menyangka kamu menjadi pendukung liberalisme sekarang.” Tanyaku.

“Panjang ceritanya, Di. Setelah aku ikut orang tuaku pulang kampung ke Magelang, kita masih saling kirim kabar kan, dan kamu tahu kan aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada dana?”

Aku mengangguk.

“Tahun kedua aku di Magelang, Allah melapangkan rezki orang tuaku. Usaha orang tuaku mulai memperlihatkan kesuksesan hingga terkumpul dana untuk melanjutkan kuliahku. Aku memilih IAIN Semarang.

Awalnya aku aktif di dakwah kampus. Tapi setelah semester tiga, aku mulai mengurangi kegiatan dakwah kampus. Itu karena aku tak bisa menahan rasa cintaku pada seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Aku berpacaran, dan teman-teman aktifis dakwah tak bisa lagi menerimaku.

Aku mulai jauh dari dakwah. Lulus kuliah, aku meneruskan baktiku di kampus, menjadi asisten dosen. Beberapa saat mengajar di kampus, aku mendapat beasiswa melanjutkan studi di luar negeri. Dan di luar sana aku banyak berinteraksi dengan pemikiran liberal.

Dulu saat menjadi mahasiswa dan asisten dosen, aku memang dikepung pemikiran-pemikiran seperti itu. Kondisiku yang jauh dari lingkungan aktivis dakwah membuat filterku rusak dan sedikit demi sedikit menikmati diskusi liberalisme.

Memang kadang ada pertentangan batin. Hati kecilku tak setuju dengan pikiran-pikiran ini. Tapi lingkungan telah terlanjur menyeretku lebih dalam.”

Ia diam. Dan dalam diam itu, aku menyerobot pembicaraan.

“Kamu tahu, sampai sekarang kamu masih aku doakan. Doa Robithoh yang aku ucapkan pagi dan petang itu, aku maksudkan agar Allah meneguhkan hati kamu dalam dakwah. Wasyroh suduroha bi faidil imani bika.”

“Terasa, Di. Aku beberapa kali bermimpi kita membaca Doa Robithoh bersama.” Potong Hendrawan. Aku terperanjat mendengar pengakuannya.

“Aku tidak bohong. Setelah bermimpi seperti itu aku berdoa agar kita dipertemukan dan kamu bisa menyelamatkan aku dari lingkungan yang buruk. Alhamdulillah doaku terkabul. Kita bertemu lagi, Di.”

“Kalau hati kamu menolak pemikiran sesat itu, kenapa kamu bertahan dalam lingkungan yang buruk?”

“Pertemuan ini ikhtiarku untuk keluar dari lingkungan yang buruk. Kamu tahu siapa yang merekomendasikan kamu jadi pembicara di seminar ini? Aku. Aku yang merekomendasikan kamu. Selama ini aku mencari tahu tentang kamu lewat internet. Dan ketemu. Dan pas sekali momennya saat aku ditawari menjadi pembicara seminar ini.”

Aku menatap sahabatku itu erat-erat.

“Aku sudah diangkat jadi PNS. Jadi, aku tidak lagi mengkhawatirkan nafkahku kalau aku murtad dari kelompok liberalis.” Ujar Hendrawan disambung dengan tawanya. Aku juga ikut tertawa.

“Kamu mau kalau mulai ngaji lagi dari materi ma’rifatulloh?” Tanyaku.

“Siapa takut?” Kami tertawa bahagia. Doa Robithohku tak sia-sia. Allah masih melekatkan hati kami dalam dakwah, Insya Allah.

 
3 Comments

Posted by on July 21, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Puisi Kekaguman Pada Gaza

Ada berjuta kata teruntai ajarkan kegigihan
Tapi tak ingin kudengar kecuali kau yang mengajarkannya,
Gaza

Ada berjuta kata petuah semangat kehidupan
Tapi tak ingin kumembacanya kecuali kau yang menuliskannya,
Gaza

Karena kau lah bukti nyata nyali yang hidup
Kangkangi ledakan mesiu yang layu menguncup
Burung besi dan kereta baja mereka menyeret semangat yang redup
Tak mampu kandaskan semangatmu yang meletup-letup

Ada berjuta teriakan ajakan bangkit
Tapi yang lantang kudengar hanya teriakanmu,
Gaza

Ada berjuta deklarasi semangat bertahan
Tapi yang nyata kulihat hanyalah tenagamu,
Gaza

Meski dikucilkan
Dalam isolasi tirani penjajahan
Kau perlihatkan nafasmu lebih panjang dari nafas dunia kebanyakan
Dan kau terus tumbuh menerobos batasan

Kagumku padamu kalahkan sedihku untukmu,
Gaza

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Berdoalah Untuk Palestina, Di Atas Sajadah Dan Social Media

Begitu banyak yang mencibir doa untuk Palestina di social media. Ada yang bilang Tuhan tidak punya akun facebook atau twitter sehingga tidak akan mendengar doa yang ditulis dalam status socmed. Ada yang bilang pencitraan. Ada yang bilang Palestina butuh bantuan bukan status socmed, dll. Lalu, apakah memang menulis doa untuk Palestina di social media tidak ada gunanya?

Sangat berguna! Karena social media adalah tempat kita berinteraksi dengan banyak manusia di zaman ini. Sebuah doa yang tertulis pada time line kita akan terbaca oleh friend atau follower kita. Doa itu tentu saja memuat sebuah informasi. Dengan menulis doa untuk Palestina, kita telah mengirim pesan pada orang sekitar di social media bahwa ada sesuatu yang terjadi di sana yang harus menjadi perhatian umat manusia. Satu doa bisa membangkitkan kesadaran yang membaca. Lalu bila ada banyak doa, akan membuat mata pengguna social makin terbuka tentang bencana yang terjadi di Palestina.

Bisa saja kita menulis status socmed layaknya sebuah reportase berita. Misalnya, “Telah terjadi penyerangan terhadap Gaza oleh Israel yang mengakibatkan jatuhnya puluhan korban.” Sampaikah pesan itu? Mungkin sampai. Tetapi sebuah pesan yang dibubuhi emosi tentu lebih dapat menyentuh perasaan orang yang membacanya. Keadaan yang terjadi di Palestina bukan cuma perlu disebar layaknya sebuah kabar biasa, tapi perlu pesan yang menggugah sehingga mengundang orang lain berbuat sesuatu, misalnya ikut berduka dan menyebarkan berita, ikut berdoa, hingga mendonasikan dana.

Social media bukanlah surat kabar. Social media adalah ruang gratis untuk berekspresi. Kita sudah terbiasa berekspresi saat kesal, saat senang, saat menontong pertandingan sepakbola, dll. Lalu untuk Palestina, apakah kita tidak punya ekspresi kesedihan sedikit pun? Selayaknya kita mencurahkan semua perasaan pada Palestina di social media hingga yang lain mendengar dan ikut berempati. Tidak ada yang salah.

Dalam doa tentu saja ada penghibaan, ada bahasa pengharapan yang halus dan menggugah. Menuliskan status doa pada social media dengan rangkaian kata-kata yang menyentuh bisa membuat orang lain yang membacanya ikut tergugah terbawa oleh perasaan hati kita. Dan pesan bahwa ada tragedi yang terjadi di Palestina pun masuk sampai ke hati pembacanya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang mengatakan, “Tuhan tak punya akun social media?” Biarkan saja mereka karena kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui. Ia ‘Azza wa jalla tentu tahu setiap huruf yang kita tulis di social media. Secara sunnah Rasulullah, tata cara berdoa adalah mengadahkan tangan dan melafalkan apa yang kita minta dengan kelembutan suara. Memang salah kalau kita tidak berdoa seperti yang dituntun oleh Rasulullah, tapi hanya menulis status di socmed untuk meminta kepada-Nya. Tetapi menuliskan status doa di social media tentu punya tujuan agar orang lain juga tahu perasaan kita hingga berdoa seperti itu, dan sementara itu kita sudah menunaikan cara yang Rasulullah ajarkan dalam berdoa.

Jadi, tulislah doa untuk Palestina dalam status socmed-mu dengan kata-kata yang indah dan menggugah agar dibaca oleh orang lain. Jangan lupa, lantunkan kata-kata itu dengan cara yang sunnah pada waktu-waktu yang mustajab di atas sajadah atau dalam kondisi apapun yang diperkenakan berdoa. Jangan lupa juga berikan donasi untuk Palestina. Dan kita pun sudah menunaikan apa yang kita bisa perbuat untuk Palestina.