RSS

Monthly Archives: November 2015

Sekelumit Tentang Kepahlawanan

Hadir di saat yang tepat, tunjukkan kegigihan, dan beri kontribusi yang berharga. Sederhana. Tak perlu syarat yang muluk-muluk untuk menjadi pahlawan, yang semua orang bisa melakukannya.

Isa a.s. adalah seorang yang besar, sehingga diangkat menjadi Rasul. Namun di balik kebesaran itu, ia tetap membutuhkan kehadiran para pahlawan untuk berjuang bersama di sisinya. Yaitu para sahabatnya, orang-orang biasa.

“Siapa yang akan menjadi penolongku untuk agama Allah?” Tanya Isa a.s. Dan para sahabatnya hadir di saat yang tepat, menunjukkan kesetiaan, dan memberi kontribusinya kepada Isa a.s. melalui jawaban “Kamilah penolong agama-agama Allah.” (QS 61:14)

Agar punya sesuatu yang akan diberi, maka mantapkanlah kapasitas diri!

Pahlawan memiliki kepekaan dan senantiasa siap sedia menuang jasa. Karena itu, pahlawan bukan orang yang sembarang membuang waktu dan tidak peduli dengan sesama.

Dan pahlawan menginspirasi akan kegigihannya. Sejarah tak pernah mengagungkan nama yang mudah menyerah dan cengeng.

Tetapi abaikan satu hal: Keinginan untuk dipuji, keinginan untuk dikenang, dan keinginan pamrih lainnya. Ketidaktulusan hanya mengantarkan cerita anti klimaks dan celaan, alih-alih pujian.

Allah sudah menakdirkan nama tertentu yang terus bergaung dengan waktu. Namun begitu banyak nama yang tidak terkenal di dunia namun populer di akhirat. Dengan keadaan itu, si empunya nama dapat terjaga keikhlasannya.

Mari berbuat baik, bukan atas alasan ingin dijuluki pahlawan, tetapi karena hidup menjadi berarti bila komitmen pada nilai-nilai kepahlawanan.

 

Alhamdulillah dimuat di KabarUmat

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2015 in Artikel Umum

 

Elaborasi Pesan Sohibul Iman Untuk Pemuda

Lima hal yang disampaikan Presiden PKS, Mohamad Sohibul, kepada pemuda melalui akun twitternya @msi_sohibuliman begitu berbobot. Poin-poin itu ia sampaikan juga pada Seminar Nasional dan Peluncuran Sekolah Konstitusi Fraksi PKS, bertepatan di hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015.

Poin-poin itu antara lain academic excellent, scientific discourse capability, networking, socio political engagement, dan religious activity.

Sohibul Iman memberi penjelasan singkat mengenai academic excellent: “Seorang aktivis, kompetensi keilmuannya harus excellent. IPK Jangan diremehkan.”

Bayangan kesuksesan Bill Gates, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg membenak di kalangan pemuda. Mereka bukan ilmuwan, tetapi justru konglomerat yang pernah mengalami kegagalan akademik. Mereka menjadi inspirasi akan totalitas. Demi menekuni sesuatu, rela mengenyampingkan pendidikan hingga berujung kesuksesan dan ketenaran.

Cerita mereka benar adanya, namun menjadi populer karena kisah yang anti mainstream. Umumnya, kesuksesan justru berbanding lurus dengan prestasi akademik. Cerita orang seperti mereka adalah minoritas, yang tidak semua orang yang terputus akademiknya mampu sebersinar mereka.

Justru nama seperti Dr Eng. Khairul Anwar, anak bangsa penemu teknologi 4G yang harusnya menjadi panutan utama pemuda. Ia berhasil menciptakan teknologi yang dipakai oleh berbagai perusahaan teknologi besar dunia karena ditunjang oleh kesungguhan menempuh pendidikan. Begitu juga Dr Warsito Purwo Taruno yang menciptakan alat pembasmi sel kanker. Penemuannya tak kalah berguna bagi umat manusia. Dan ia bisa sampai pada kesuksesan seperti itu ditunjang oleh akademik yang baik.

Ada lebih banyak lagi nama orang-orang yang sukses karena prestasi akademiknya.

Tentang scientific discourse capability, Sohibul Iman menjelaskan: “Berlatih diskusi dan berdebat ilmiah penting untuk menguji dan menyampaikan gagasannya secara ilmiah.”

Yang terjadi saat ini anak muda di Indonesia memanfaatkan sarana internet dan media sosial untuk berdebat mengenai hal yang tidak ada gunanya. Perdebatan yang berlangsung menggunakan kata-kata yang tidak baik, bahkan malah berupa caci maki, alih-alih menggunakan referensi data dan fakta yang diolah dengan ilmiah.

Media sosial telah menjadi sarana caci maki, menggosip, menghujat, memfitnah, dan tidak dimanfaatkan dengan baik untuk berdiskusi hal yang ilmiah untuk meningkatkan kapasitas.

Poin kedua yang disampaikan Sohibul Iman harus menjadi refleksi bagi anak muda Indonesia.

Poin yang ke-3 adalah networking. Dijelaskannya yaitu, “Jaringan yang luas. Mulai segera saat mahasiswa, jangan tunggu lulus. Mulai dengan kakak tingkatnya walau sekedar tanya kabar.”

Membangun networking yang baik berarti membangun juga personal branding. Makin luas dikenal orang, dan semakin dipahami kapasitas dan kapabilitasnya. Networking dibangun bukan saat memutuskan menjadi pengusaha, atau ketika butuh memasukkan lamaran kerja. Saat itu sudah sedikit telat.

Membangun networking sejalan dengan perintah Rasulullah untuk menjalin silaturahim. Fadhilahnya adalah keluasan rezeki.

Tentang socio political engagement, yang dijelaskan oleh Sohibul Iman adalah: “Pemuda harus terlibat kegiatan sosial dan politik. Mulai dari lingkungan yang paling kecil. Pemuda harus tahu persoalan sosial politik. Jangan acuh tak acuh. Mahasiswa harus merasakan demo sesekali.”

Konon, Berthold Brech, seorang penyair dan dramawan Jerman, mengatakan bahwa buta terburuk adalah buta politik. Karena sesungguhnya dari politik semua urusan kehidupan diatur. Dari harga tepung hingga harga obat. Orang yang benci potik, menurut Berthold, berpotensi menyebabkan pelacuran hingga korupsi besar.

Negara ini diberi nikmat berupa pemuda-pemuda yang tidak buta politik hingga kemerdekaan bisa diwujudkan. Mereka mengejar prestasi akademik hingga ke negeri penjajah, membangun diskusi ilmiah mencari cara mewujudkan negeri yang merdeka, dan membangun networking dengan sesama pemuda di berbagai daerah. Empat dasar itu yang mewujudkan sumpah pemuda.

Maka itu, sangat disayangkan bila pemuda zaman sekarang buta politik. Sumpah pemuda yang mengubah nasib bangsa tak diteruskan perjuangannya.

Dan terakhir, Sohibul Iman menyebut poin ini sebagai modal moralitas. Yaitu religious activity.

Agama memberikan keteraturan dan ketenangan hidup. Agama menjadi sumber nilai yang membangun integritas seseorang. Tujuan hidup manusia sendiri adalah beribadah kepada Tuhan, dan agama memberi jalan tercapainya tujuan itu.

Sejatinya Islam merangkum ke empat poin sebelumnya. Islam menyuruh ummatnya menuntut ilmu (academic excelent). Islam mengajarkan untuk membangun diskusi dengan baik (wajadilhum billati hiya ahsan, QS An Nahl 125). Islam menyuruh ummatnya membangun silaturahim (HR Bukhori: barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka bersilaturahimlah). Dan Rasulullah saw beserta para sahabat membentangkan kisah keteladanan dalam kepemimpinan dan mengatur urusan umat manusia.

Poin yang disampaikan Sohibul Iman kepada pemuda tadi adalah jabaran kepribadian yang paripurna. Menjadi ilmuwan, berwawasan, populer, idealis, dan agamis.

 

Alhamdulillah dimuat di KabarUmat dan web PKS

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2015 in Artikel Umum

 

Sebelum Merasakan Nikmatnya Ibadah

Mendatangi masjid untuk shalat Zhuhur, saya terlambat shalat berjamaah rombongan pertama. Keperluan di kantor yang dilanjut makan siang membuat saya hanya bisa mengikuti rombongan shalat jamaah berikutnya.

Lalu sempat terpikir untuk memperbaiki semangat beribadah. Saya harus membaca lagi artikel-artikel fadhilah amal, atau kalau perlu membaca khusyuknya ibadah para sufi yang lurus.

Di dalam masjid, beberapa jamaah ada yang sudah beranjak meninggalkan tempat shalatnya, dan sebagian masih duduk meneruskan dzikir. Ada ruang kosong di tengah yang dapat diisi untuk shalat jamaah gelombang berikutnya. Kami yang belum menunaikan kewajiban segera menuju ke sana berkumpul membentuk shaf.

Di dekat shaf pertama, ada seorang yang terlihat begitu asyik berdzikir. Menundukkan kepala, memejamkan mata, dan memutar tasbih dengan mulut komat-kamit. Entah ia mendengar iqamat yang dikumandangkan di dekatnya, atau tidak.

Orang-orang makin berdatangan untuk bergabung. Sementara shaf pertama mentok oleh orang yang duduk itu. Ditunggu-tunggu, orang itu tak jua beranjak. Akhirnya dibuatlah shaf kedua.

Peristiwa tadi menyentuh saya. Ada yang lebih penting dari merasakan nikmatnya beribadah, yaitu peduli dengan sesama.

Teringat kisah Rasulullah saw mempercepat shalatnya saat ia sedang mengimami umat muslim, karena terdengar suara anak kecil menangis. Agar sang ibu yang ikut serta berjamaah bisa segera mengurusi anaknya. (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Yusuf Qaradhawi dalam Fiqh Aulawiyat pun menjelaskan bahwa hak hamba lebih prioritas atas hak Allah semata-mata. (Untuk mengerti duduk perkaranya dan menghindari salah paham, silakan langsung merujuk ke buku tersebut)

Orang yang asyik duduk berdzikir tadi menyentil saya untuk introspeksi adakah perilaku saya yang kurang peduli dengan sekitar? Ya, saya tetap harus mencoba memperbaiki kualitas ibadah saya yang kurang ini, tapi yang utama adalah jangan sampai ibadah saya baik namun hubungan pada sesama manusia buruk. Atau malah ibadah saya membuat orang lain kesusahan. Allahu a’lam.

 

Alhamdulillah dimuat di dakwatuna

 

Penjelasan Tentang Mushaf Kuno yang Ditemukan di Kampus Inggris

Penemuan lembaran Alquran kuno di Universitar Birmingham, Inggris baru-baru ini menjadi perbincangan yang hangat. Sekali lagi klaim Alquran sebagai mukjizat umat Islam menemui kenyataannya. Alquran benar-benar terjaga dari penambahan dan pengurangan akibat kesalahan manusia sengaja atau tidak.

Timbul pertanyaan dari penemuan ini. Misalnya seorang netizen yang setelah memperhatikan foto lembaran yang beredar, mempertanyakan mengapa hurufnya tidak seperti huruf yang ada di dalam mushaf modern. Pertanyaan lain, kalau benar itu adalah lembaran Qur’an, surat apa yang tertulis pada lembaran  – yang berdasarkan hasil uji radio karbon berasal dari generasi Rasulullah atau para sahabat atau tabi’in – tersebut?

Justru pertanyaan ini semakin menunjukkan kebesaran penemuan itu.

Sejarah Penulisan Al-Qur’an

Aksara Arab (Rasam) telah beberapa kali mengalami perubahan. Dan perubahan itu bertujuan untuk memelihara Al-Qur’an.

Bermula dari sejarah penulisan Qur’an, karena sejatinya Al Qur’an itu beredar dalam bentuk bacaan yang dihafal di kepala dan dada umat Islam. Pertama kali Al-Qur’an dikumpulkan (dibukukan) dalam sebuah mushaf resmi terjadi pada zaman khalifah Abu Bakar r.a. setelah para sahabat yang hafal Al-Qur’an mulai berkurang akibat syahid dalam memerangi kaum yang murtad dan enggan menunaikan zakat. Zaid bin Tsabit menjadi kepala proyek ini dibantu dengan para sahabat yang hafal Al-Qur’an.

Mushaf baku ini kemudian diwariskan kepada zaman Umar bin Khathab yang kemudian tersimpan dalam rumah anaknya, Hafshah. Umat muslim masih terus membaca Al-Qur’an berdasarkan hafalan atau manuskrip yang mereka buat sendiri.

Tantangan lain muncul di zaman Utsman karena bacaan Qur’an merebak ke berbagai wilayah. Perbedaan dialek antar wilayah membuat cara membaca ayat Qur’an pun berbeda-beda sesuai dengan guru mereka masing-masing. Hampir-hampir saja perbedaan cara membaca Al-Qur’an tersebut menimbulkan bentrokan fisik satu sama lain. Mengantisipasi hal ini, Utsman kemudian menyalin mushaf zaman Abu Bakar dan membuat penulisan standard yang menyesuaikan dengan dialek suku Quraisy (karena Nabi Muhammad saw bersuku Quraisy), dan membuat 7 copy yang disebar ke beberapa tempat.

Kemudian Islam semakin luas tersebar ke berbagai wilayah, termasuk wilayah non Arab. Aksara yang ada saat itu cukup menyulitkan orang non Arab untuk membacanya karena tulisan dalam mushaf hanya berupa konsonan tanpa tanda baca. Dan huruf-huruf saat itu pun belum dengan tanda titik. Bayangkan, non Arab akan kesulitan membedakan ba, ta, tsa, nun, dan ya tanpa tanda titik; membedakan jim, ha, kho; membedakan dal, dzal; membedakan shod atau dhod dan tho atau zho.

Penyempurnaan penulisan Al-Qur’an dilakukan pada zaman Abdul Malik bin Marwan sehingga kita yang hidup di zaman modern dan bukan orang Arab bisa membaca Qur’an dengan baik tanpa kesalahan.

Allahu akbar.

Surat yang Tertulis di Perkamen Tersebut

Pertanyaan selanjutnya, surat apa yang tertulis pada perkamen tersebut? Ada beberapa foto yang beredar di internet dari mushaf yang ditemukan. Dan yang paling terkenal adalah pada foto di bawah. Karena pada lembaran itu cukup mudah dikenali surat yang tertulis.

Pada lembaran itu tertulis akhir surat Maryam dan awal surat Thoha. Allahu akbar. Hafalkah pembaca terjemahan surat Thoha yang mengantarkan Umar bin Khattab r.a. masuk Islam? Begini terjemahannya: “Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

Dan renungi juga akhir surat Maryam, khususnya pada ayat ke-97. “Maka sungguh, telah Kami mudahkan (Al Quran) itu dengan bahasamu (Muhammad), agar dengan itu engkau dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar engkau dapat memberi peringatan kepada kaum yang membangkang.”

Ayat-ayat yang tertulis pada lembaran kuno itu menjelaskan tentang Qur’an! Allahu Akbar!!! Seolah penulis yang hidup di zaman lampau itu memberi pesan kepada kita yang hidup di zaman modern tentang kemudahan Al-Qur’an. Allahu akbar!

Lihat penjelasan pada gambar di bawah:

Perhatikan pada gambar, di halaman sebelah kiri terdapat tanda tiga baris berombak yang membelah halaman. Itu adalah pemisah antara surat Maryam dan surat Thoha.

Paling mudah melihat surat Thoha. Di awali dengan tulisan “Bismillahirrohmanirrohiim” tepat di bawah tanda berombak itu. Begitulah aksara kuno, huruf sin agak samar, dan huruf nun pun samar. Tulisan selanjutnya jelas terlihat rangkaian huruf Tho dan Ha. Selanjutnya mudah mencocokkan bahwa tulisan berikutnya adalah “Maa anzalna….”

Sebelum tanda berombak itu adalah ayat-ayat terakhir surat Maryam. Mudah kok mencocokkannya. Silakan mengambil wudhu untuk kemudian mengambil mushaf, lalu cocokkan dengan seksama. Atau buka saja Al-Qur’an digital di gadget atau web browser dan buka akhir surat Maryam. Mudah kok.

*ditulis dengan dada bergemuruh

 

Alhamdulillah dimuat di dakwatuna dan kabarumat

 

Memantau Permainan Isu oleh Media dan Tokoh di Seputar Kerusuhan Tolikara

Insiden intoleransi yang terjadi di Tolikara Papua pada hari Idul Fitri yang lalu menyita perhatian masyarakat. Selain disesalkan, juga dikhawatirkan insiden itu meluas.

Lantas berbagai tokoh mengeluarkan pernyataan yang mencoba menyejukkan. Media massa juga berhati-hati memberitakan hal ini.

Hanya saja, ada banyak kejanggalan di sekitar kasus ini. Berita media massa maupun pernyataan tokoh bukannya meredakan masalah, malah menimbulkan kegaduhan baru.

1. MetroTV Mengubah Judul Berita

Maraknya informasi penyerangan jamaah sholat Idul Fitri di media sosial banyak merujuk kepada pemberitaan MetroTV. Saya pun mendapat informasi kerusuhan dari teman di media sosial yang memposting berita di MetroTV. Dari link berikut, MetroTV awalnya menulis judul, “Saat Imam Takbir Pertama, Sekolompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara”.

Sangat jelas pada judul berita akan adanya serangan yang ditujukan kepada jamaah sholat Ied. Namun selang beberapa lama, MetroTV mengubah judul berita yang tersebar kemana-mana itu menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”.

Seperti ada yang ditutupi dari judul berita. Judul pertama lebih memancing perhatian masyarakat daripada judul kedua.

Awalnya saya sangat apresiasi dengan MetroTV yang berani mengabarkan insiden intoleransi di sana. Pasalnya, MetroTV tengah mendapat penilaian publik sebagai media pendukung pemerintah yang hanya mengabarkan yang baik-baik saja. Bahkan ada yang menuduh MetroTV anti Islam.

Namun pengubahan judul berita itu membuat apresiasi saya surut dan bahkan berbalik kecewa. Tak hanya saya, netizen pun banyak yang kecewa dan melampiaskannya di media sosial.

2. JK Menyalahkan Speaker

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membuat kehebohan baru. Di hadapan wartawan, beliau memberikan pernyataan yang terkesan menyalahkan speaker alih-alih sikap intoleransi Gereja Injil Di Indonesia (GIDI). Kesannya, umat muslim menjadi biang pemantik kerusuhan.

“Ya ada dua acara agak berdekatan di situ. Ada acara Idul Fitri ada pertemuan pemuka masyatakat gereja. Memang asal muasal soal speaker itu, mungkin butuh komunikasi lebih baik lagi untuk acara dua seperti itu,” ujarnya.

Padahal beberapa hari sebelum kejadian, GIDI mengeluarkan surat edaran yang sangat anti konstitusi: melarang umat agama lain melaksanakan ibadah. Tanpa menyinggung soal speaker, GIDI menginginkan umat Islam tak merayakan Idul Fitri.

Sholat Idul Fitri di tempat kerusuhan tepatnya dilaksanakan di lapangan Koramil 1702-11. Wajar saja di lapangan terbuka itu digunakan speaker, karena suara khotib dan imam sholat ingin didengar oleh jamaah.

Pernyataan JK ini tak meredakan masalah, malah memantik amarah umat muslim kepadanya.

3. Tempo Memposisikan Perusuh Sebagai Korban

Bukan Tempo namanya kalau tidak memframing berita di tengah hiruk pikuk ini. Di sebuah beritanya, ia pasang judul “Rusuh di Tolikara, Semua Korban Adalah Jemaat GIDI.”

Dari judul itu terkesan bahwa justru jemaat GIDI yang menjadi korban kerusuhan. Padahal pemicunya dari mereka. Ada inisiatif dari jemaat GIDI untuk menghentikan aktivitas sholat Idul Fitri dan mereka menghampiri komplek militer tempat sholat Ied digelar. Tentu saja selalu ada aparat yang berjaga di komplek militer. Ketika ada perusuh yang mencoba berbuat onar, tentu saja aparat bertindak.

Berita Tempo ini menafikan pemilik kios dan penghuni rumah yang terbakar. Menafikan umat muslim jamaah sholat Ied yang diserang. Sejatinya mereka adalah korban.

4. Pengalihan Ala Kompas

Lain lagi yang dilakukan kompas. Di link berikut yang tayang pada 17 Juli (pada hari h kerusuhan), Kompas menulis “Belasan Kios dan Rumah Warga Hangus Dibakar Massa Tak Dikenal.

Memang bukan seperti MetroTV yang mengubah judul, tapi dengan judul berita ini Kompas seperti menutup-nutupi peristiwa inti di tempat kerusuhan, yaitu penyerangan terhadap jamaah sholat Idul Fitri. Terbakarnya masjid pun tidak disebut dalam judul, meski sekilas diceritakan juga dalam tulisan.

5. Media Massa Menulis Musholla, Bukan Masjid

Yang terbakar sejatinya adalah Masjid, bukan Musholla. Masjid itu bernama Darul Muttaqin. Pengertian di masyarakat, Musholla lebih kecil daripada Masjid meski fungsinya sama. Dengan pemilihan diksi ini, seakan beberapa media mencoba mereduksi masalah. Namun salut buat Republika yang konsisten menyebut Masjid.

6. Pernyataan Luhut: Yang Dibakar Kios, Bukan Musholla

Pernyataan Kepala Staff Kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan ikut membuat gaduh. Dalam pernyataannya, ia mencoba meyakinkan publik bahwa Masjid tidak menjadi sasaran pembakaran. Melainkan, kios dan rumah lah yang dibakar perusuh. Hanya saja, karena letaknya berdekatan, maka masjid ikut terbakar.

Pernyataan ini bisa dipahami, terlepas benar atau tidaknya. Namun memancing rasa gemas bagi sebagian pihak, terutama yang tidak mempercayai pernyataan tim sukses Jokowii ini. Karena aroma pengalihan masalah terasa jelas. “Bagaimana mungkin kios dan masjid berdekatan, namun yang dibakar massa hanya kios yang mengitari masjid?” bantah seorang teman.

7. Mendagri Bilang Kasus Ini Bukan SARA

Lain lagi yang dikatakan Mendagri. Ia menyatakan bahwa kasus ini tidak berbau SARA.

“Kerusuhan Tolikara bukan isu SARA, melainkan lebih merupakan luapan sekelompok anggota masyarakat yang kesal dan emosional,” ujarnya.

Padahal sudah jelas kerusuhan diawali protes jemaat GIDI atas diselenggarakannya sholat Ied. Kalau itu bukan SARA, lantas kasus seperti apa yang disebut SARA? Bila pelakunya umat muslim kah?

8. Kontradiksi Antara Menteri Tedjo dengan Kepala Kemenag Tolikara

Menteri Koordinator Polhukam Tedjo Edhy datang membela GIDI. Menurutnya, GIDI tak pernah mengeluarkan surat edaran yang melarang umat muslim merayakan Idul Fitri.

Namun pernyataan ini bertolak belakang dengan pengakuan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolikara, Yusak Mauri membenarkan adanya surat pemberitahuan dari Badan Pekerja Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli Nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015. Yusak mengaku telah mengklarifikasi ke Sekretaris Badan Pekerja GIDI Wilayah Toli, Marthen Jingga.

Penutup, mungkin ada beberapa hal lagi yang dimainkan oleh secara cerdik oleh media massa dalam kasus ini. Selalu menarik melihat bagaimana media massa menyusupkan opini dalam pemberitaan, atau mengalihkan suatu masalah. Saya percaya tak ada media yang bebas kepentingan.

 

Alhamdulillah dimuat di dakwatuna dan kabarumat.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2015 in Artikel Umum