RSS

Perginya Sang Cita Cita

12 Sep

“Pengen jadi kayak Habibie.” Itu jawaban saya di masa kecil saat ditanya orang cita-citanya mau jadi apa. Atau jawaban lain, “Pengen jadi Menristek”.

Ibu saya memperkenalkan sosok dengan mata yang agak melotot dan berbicara dengan penuh tenaga itu sebagai orang jenius. “Bisa bikin pesawat,” ujar ibu saya.

Lalu dengan diiming-imingi akan seperti Habibie, saya disuapi makanan. “Liat itu pak Habibie melotot matanya karena suka makan sambel. Ayo buka mulutnya lebar-lebar. A…”

Sampai akhir SD saya masih yakin ingin menjadi seperti beliau. Tapi ketika bertemu pelajaran matematika di SMP, saya lupa dengan cita-cita itu. Apalagi saat SMA. Impian berubah-ubah. Kadang mau jadi arsitek, ahli tata kota, lalu wartawan, ingin masuk LIPIA, dll. Akhirnya lulus kuliah menyandang gelar S.T. dari jurusan Teknik Informatika.

Cita-cita waktu kecil rasanya terlalu tinggi digapai. Walau saya aktif di partai politik, tetap saja terlalu bermimpi bila ingin menjadi Menristek. Kapasitas dan pendidikan saya jauh panggang dari api. Apa kata para doktor kalau ada lulusan S1 mau jadi Menristek? Lagian di partai pun hanya sebagai “remahan teri kacang”.

Tapi keinginan seperti Habibie rasanya belum tertutup. Ya tentu bukan jadi Menristek.

Di suatu tayangan televisi, beliau yang sedang menghadiri sebuah acara tertangkap kamera menggerakkan bibir tidak henti. Ia tidak sedang berbicara kepada siapa-siapa. Yakin saya bahwa ia sedang berdzikir.

Habibie adalah potret orang hebat yang taat berbibadah. Tak hanya dzikir di setiap kesempatan, ia juga dikenal orang yang teguh menjaga puasa sunnahnya.

Maka menjadi seperti Habibie, adalah menjadi orang yang karyanya bermanfaat buat manusia, sembari tetap mengoptimalkan ibadah yang bisa didedikasikan untuk Allah swt.

Meski merasa tak mungkin menjadi Menristek, saya tetap mengaguminya. Ketika ia terpilih sebagai wakil presiden daripada Soeharto, saya senang luar biasa. Apalagi ketika reformasi. Soeharto lengser, ia naik menjadi presiden.

Namun hati ini sedih melihat ia dihujat orang-orang hanya karena ia orang orde baru. Ia juga dihujat oleh orang-orang yang tak suka ia sebagai tokoh Islam.

Padahal ia adalah sosok yang sangat berharga buat negeri ini. Keahliannya di bidang pesawat terbang masih menyisakan kagum bagi banyak orang yang mengenalnya.

Ia telah menelurkan karya yang mengangkat harga diri bangsa: pesawat N250 yang diluncurkan pada peringatan HUT RI ke 50, tahun 1995. Sayang, krisis moneter membelit Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) yang ia dirikan pada 1976. Kemudian IPTN tutup dan berganti nama menjadi PTDI.

Setelah masa jabatannya habis, ia tak mau lagi menjabat menjadi presiden. Padahal prestasinya luar biasa. Dollar turun sampai Rp 6.500. Ekonomi begitu cepat membaik di tangannya. Saya setuju bila ia adalah presiden terbaik yang pernah ada di negeri ini.

Tak banyak cakap, ia redakan krisis ekonomi dengan turunnya dollar, tanpa perlu sesumbar janjikan di bawah sepuluh ribu. Pesawat rancangannya bukan lah pencitraan politis semata dengan bermandikan hoax yang hanya jadi bahan olok-olok.

Ditinggal sosoknya, bangsa ini jelas kehilangan seorang guru, kontributor, dan tokoh panutan yang besar. Dalam sedih, terlantun Al Fatihah untuknya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2019 in Orat Oret

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: