RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Ibrah dari Tangis Muadzin yang Pecah

Sang muadzin meneteskan air mata. Suaranya parau bergetar ketika menyisipkan kalimat “shollu fii buyutikum” dalam kumandang adzannya. Tangisnya pecah karena harus melihat pemandangan yang tak biasa. Masjid yang selalu penuh kini lengang.

Itu terjadi di negeri luar. Belum berlaku di Indonesia. Meski MUI telah keluarkan fatwa, tapi tak ada paksaan dari pemerintaah untuk meniadakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam keadaan tersebut, orang-orang akan terbagi menjadi 3 golongan.

Pertama, yang sedih dan merasa kehilangan kesempatan sholat berjamaah seperti biasa. Tiap waktu sholat tiba, mereka akan dirundung rindu untuk bersama dengan umat muslim dalam satu shof yang lurus dan rapat seperti sedia kala.

Orang seperti ini sejatinya tidak akan kehilangan pahala berjamaah sekalipun ia terpaksa lakukan di rumah. Karena ia sudah berniat, dan sudah pula ada buktinya dengan kebiasaan yang dilakukan ketika tak ada uzur/penghalang. Tentu kita paham, Allah memberi pahala seseorang atas niatnya walau pun batal atau gagal terlaksana.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR Bukhori)

Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang hadits tersebut: “Ini adalah bagi orang yang terbiasa melakukan ketaatan dan kemudian ia tercegah, dan niatnya jika tidak ada penghalang ia akan melakukan rutinitasnya.”

Golongan kedua adalah orang yang menyesal karena selama ini menyia-nyiakan kesempatan beramal saat dalam kondisi mudah. Ini adalah orang yang tak rutin berjamaah, atau baru berangkat ke masjid ketika sudah iqomah. Ia paham harusnya bisa optimal lagi beramal. Namun rasa malas membuat kualitas ibadahnya pas-pasan.

“Manfaatkanlah masa aman sebelum masa krisis”. Ya, kalimat itu tidak pernah disabdakan Rasulullah saw. Yang ada dalam hadits adalah redaksi berikut: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim)

Namun memanfaatkan masa aman sebelum masa krisis itu sejalan dengan hadits di atas, yang intinya adalah mengoptimalkan setiap kesempatan sebelum hilang.

Golongan orang kedua mungkin tak seperti yang pertama yang menikmati “privilage” pahala yang tetap mengalir karena kebiasaan dan niat. Makanya rasa sesal itu hadir.

Di beberapa daerah, ada yang belum begitu darurat sehingga masih bisa menyelenggarakan sholat berjamaah dengan normal. Maka, bila Anda berada di daerah itu, optimalkanlah amal Anda. Rutinkan ke masjid, dan melangkahlah sebelum iqomat.

Dan bagi yang tinggal di daerah yang dianjurkan untuk beribadah di rumah, masih banyak amal yang bisa dikerjakan. Maka bacalah Al Qur’an sebelum mata Anda tak mampu lagi melihat rangkaian huruf hijaiyah. Kerjakan sholat sunnah selagi akal dan kesadaran masih berfungsi.

Rajin-rajinlah menghubungi orang tua sebelum susah atau tak mungkin mendengar suara mereka lagi. Sayangi anggota keluarga sebelum mereka tak bisa merasakan kasih sayang Anda.

Dan banyak lagi.

Bersyukurlah bila masih ada rasa penyesalan ketika sebuah kesempatan hilang. Karena jangan sampai seperti golongan ketiga.

Yaitu yang cuek, atau bahkan senang dengan kosongnya masjid. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Yaa ‘Isaa, salam ‘alaika

Wahai Nabi Isa, semoga keselamatan tercurah untukmu. Keselamatan ketika kau dilahirkan, ketika wafat, dan saat dibangkitkan. Aku mengaminkan doamu yang tertulis dalam Al Qur’an surat Maryam 33. Dan semoga keselamatan tercurah pula pada hamba-Nya yang beriman.

Wahai Nabi Isa, para mufassir telah menjelaskan maksud doamu. Bahwa keselamatan yang kau minta dari gangguan setan. Dan semoga kami yang hidup di zaman ini dianugerahi keselamatan serupa. Terlindung dari bujuk rayu setan untuk berbuat syirik.

Wahai Nabi Isa, kami paham jalan keselamatan adalah pada aqidah yang lurus. Sebagaimana ucapanmu dalam ayat 36 surat Maryam: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” Maka tiada keselamatan pada ritual syirik yang menyembah selain Allah swt. Wal iyadzu billah.

Wahai Nabi Isa, ketika kami mendoakanmu selamat, maka tak pantas kami menjadi penyebab kau ditanya oleh Allah swt di akhirat kelak. Pertanyaan yang dikabarkan dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 116. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.”

Wahai Nabi Isa, maka tak seharusnya doamu dalam QS Maryam 33 itu dijadikan pembenar untuk mengucapkan selamat pada mereka yang merayakan sebentuk kemusyrikan. Keselamatan apa kah yang mereka inginkan?

Tanpa ucapan selamat mereka, kau tetap diselamatkan oleh Allah swt. Sementara mereka dengan aqidahnya sedang dalam bahaya. Dan muslim yang berdalil dengan QS Maryam 33 untuk ucapkan selamat yang menyemarakkan kesyirikan, aku ragu doanya akan kembali pada mereka. Padahal doa kebaikan untuk orang lain Allah kabulkan juga buat pemintanya.

 

Rahasia Posisi Surat Al Ikhlas

Pada mushaf standard, letak surat Al-Ikhlas sangat “strategis”. Bila dibuka dari kiri (seperti membuka buku beraksara latin), maka surat tersebut terletak paling atas di halaman paling awal.

Sehingga “Qul huwallahu ahad” beserta artinya akan pertama kali dibaca oleh orang yang penasaran dengan Al Qur’an namun belum paham bahwa kitab suci itu dibaca dari kanan.

Nah, kestrategisan ini lah yang telah mengantarkan banyak orang memeluk Islam. Mereka yang selama ini menganut kepercayaan bahwa tuhan ada lebih dari satu, tiba-tiba disodorkan konsep tauhid. Mereka yang menyangka tuhan memiliki anak, dilahirkan, atau memiliki keserupaan dengan makhluk; diperkenalkan konsep yang lebih mengagungkan tentang Sang Pencipta.

Berikutnya, setelah terbersit kekaguman pada Al Qur’an, lalu mereka sudah mengerti cara membuka mushaf yang benar, bertemu lah dengan ayat awal Al Baqoroh. Bahwa kitab itu tidak memiliki keraguan di dalamnya. Maka bertambah tebal lah keyakinan di dalam dada mereka.

Kelebihan lain, surat Al Ikhlas ini sangat ringkas. Namun cukup memicu timbulnya berbagai tanya dan gugatan di hati orang yang telah salah memahami tuhan.

Bila kemudian Al Qur’an dibuka lebih dalam, akan ditemukan retorika yang lebih menggugah akal. Misalnya dalam QS Al Mu’minun: 91.

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Sehingga, di dalam pengembaraan seseorang mencari Tuhan dalam Qur’an, ia akan diajak berpikir deduktif. Maksudnya ia terlebih dahulu bertemu poin inti tentang tauhid dalam surat Al Ikhlas, baru kemudian penjelasan-penjelasan rinci lebih lanjut di surat lain.

Ini lah salah satu hikmah Allah meletakkan surat tersebut di bagian akhir Al Qur’an. Masya Allah.

 

Benci Kemunafikan Tapi Bangga Dengan Kebejatan

“Munafik!” Terlontar tudingan itu dari lisan seseorang untuk membela kemaksiatan. “Munafik!” Tertulis vonis itu pada komentar berita di jejaring sosial sebagai pembelaan atas gugatan yang menyerang kemungkaran.

Kalau yang dimaksud adalah apa yang terucap tidak sama dengan apa yang diperbuat, maka kemunafikan memang pantas dibenci. Ia haram mendompleng idealisme.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS 61: 2-3)

Tapi apa ganti dari kemunafikan? Kebanggaan atas kebejatan kah?

“Sudah, ngaku aja kalo lu juga suka!” Kalimat itu menyempurnakan vonis munafik. Mengajak para penggugat kemungkaran untuk mengakui bahwa dirinya pun bejat dan tak pantas mengingkari.

Maka begitulah gaya pemuja kemaksiatan. Memeluk erat kebejatan dan simbol-simbolnya, dan kemudian menciptakan tameng berupa “tuduhan munafik” yang akan mereka layangkan pada setiap yang menentang. Seperti pemabuk yang menjinjing ringan botol arak dan berjalan di tengah kampung. Ketika orang kampung mengingatkannya bahwa isi botol itu terlarang, ia balik berteriak, “Hey sadarlah. Kalian pun mabuk!!”

Tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan. Bahkan ketika diri ini memang penuh noda, maka menutupi kekurangan diri – disertai dengan penyesalan – adalah sebuah keselamatan dan bisa menjadi jalan untuk berubah.

Abu Hurairah ra, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (HR Muslim)

Seorang mukmin tak mungkin bangga dengan kebejatan. Karena konsekuensi iman menuntut begitu. Bahkan pada kadar iman yang paling rendah, tidak ada ruang untuk bersikap biasa-biasa saja atau acuh pada kemaksiatan. Ubah! Atau gugat! Atau kau membencinya, dan itu derajat yang amat rendah pada strata keimanan. Di luar sikap itu, tidak ada iman!!!

Dari Abu Said Al-Khudri ra: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Sudah jelas, tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan selama iman ini ada di dada.

“Munafik. Padahal lu suka kan? Gw juga suka, tapi gw gak munafik kayak lu. Semua juga suka, kalee…” Maa lakum, kaifa tahkumun (QS 68:36)? Bagaimana bisa begitu, apa dasar kamu menghakimi seperti itu? Lantas yang bagaimana munafik itu sebenarnya?

Ibnu Mas’ud r.a., sahabat Rasulullah saw, memberikan deskripsi perbedaan orang mukmin dan munafik. “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang fajir/munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Lalu siapa sebenarnya yang pantas padanya disematkan gelar “munafik”?

Zico Alviandri

Tulisan Lama, 6 Oktober 2009

 

 

Ekspresi Cinta Itu Ada Pada Hal Kecil dan Bisa Diperbandingkan

Di suatu kesempatan ia berbicara soal pusaka yang sakti. Yang bila diacungkan, setiap yang bernyawa akan mati.

Mendengar itu, saya mengira dia orang yang gandrung dengan hal-hal yang ajaib yang di luar nalar manusia.

Tetapi di kesempatan lain, ia menyangkal keistimewaan nabi Muhammad saw. Misalnya ada sinar dari tubuh sang nabi saat bayi. Di hadapan jama’ah, ia menganggap tak ada keistimewaan pada masa kecil Rasulullah saw. Layaknya anak kecil lain yang dekil dan tak terawat. Bahkan bukan tak mungkin punya kebiasaan maling jambu.

Maka saya pun heran. Mengapa pada benda pusaka ia sakralkan begitu rupa, tapi pada Nabi Muhammad saw yang dijuluki Al Amin, yang dikenal tak pernah berbohong dan selalu jujur, ia sifati punya potensi jadi pencuri?

Ketika dia meninta maaf kepada halayak, saya hampir menilai bahwa ia pun sebenarnya cinta kepada Rasulullah saw. Itu sebelum saya menonton potongan video lain ketika ia berbicara soal benda pusaka dan video ia menganggap masa kecil Rasulullah saw bisa saja mencuri.

Lalu lihat pendukungnya. Atas deskripsi Rasulullah saw yang terdengar merendahkan, mereka cari pembenarannya. Satu kasus saat Rasulullah pilek dan sakit mata ditarik menjadi gambaran global tentang masa kecil Rasulullah yang – dalam bayangan mereka – kumuh, dekil dan tak terawat.

Tapi pada kiainya, mereka bela habis-habisan bila ada yang menghina bahkan sekedar menyindir.

Dari kasus ini saya belajar sebuah hal, bahwa rasa cinta itu ada pada hal-hal detail yang kecil. Seperti bagaimana kita berbicara tentang hal yang kita cintai.

Benar, cinta butuh pengorbanan sebagai buktinya. Lautan luas disebrangi, gunung tinggi didaki. Tapi orang yang matanya berbinar, berbicara dengan semangat, dan bercerita dengan membangga-banggakan dan dengan diksi terpilih, sudah cukup sebagai indikasi ia mencintai sesatu yang dibicarakan.

Besaran cinta itu pun makin terlihat ketika diperbandingkan.

Kalau dari contoh di atas, cinta kepada benda pusaka diperbandingkan dengan kepada Rasulullah pada deskripsi yang ajaib-ajaib. Atau cinta kepada kiai dan kepada Rasulullah diperbandingkan saat ada yang merendahkan dua hal tersebut.

 

Sunnah Sayyiah Rasa Heran Terhadap Ajaran Islam

Berabad-abad lalu para ulama telah membahas hukum catur. Mereka berbeda pendapat. Dan memang ada yang mengharamkan.

Kemarin, Ustadz Abdul Somad (UAS) menyampaikan dalam ceramahnya pembahasan yang telah final diijtihadkan oleh para ulama. Tiba-tiba anak-anak malas ngaji plus non muslim terjangkit islamophobia bersikap norak dengan mencela beliau.

Saya rasa bukan soal catur. Bahkan mereka akan kaget dan heran terhadap banyak hal dalam ajaran Islam.

Andai mereka baru tahu adanya kewajiban sholat 5 waktu sehari semalam buat muslim, mereka akan memprotes mengapa banyak sekali sholatnya. Terasa merepotkan dan membebankan. Muncul gugatan bahwa ibadah tersebut hanya buang-buang waktu dan mengganggu usaha mencari nafkah dan aktifitas keseharian.

Andai mereka baru tahu Islam melarang miras, judi, dan zina, mereka akan mengejek agama ini. Dikatakannya terlalu mengekang, membuat hidup membosankan, dan merenggut kesenangan.

Andai mereka baru tahu ada syariat puasa, zakat, dan naik haji, akan ada saja celaan kepada yang menyampaikan tentang kewajiban tersebut. Dituduhnya lah sang da’i ingin membunuh orang dengan rasa lapar, atau ingin merampas harta orang, dan sebagainya.

Dan bukan kah walau pun mereka sudah tahu, tapi sinisme kepada syariat Islam tetap saja ada? Perintah qurban termasuk salah satu yang sering dipermasalahkan. Tiap tahun ada saja yang menyindirnya sebagai ajang pembantaian tak berkemanusiaan. Apalagi kebolehan poligami serta aturan jihad.

Maka ini bukan tentang catur semata. “Malu ditertawakan,” kata Menag. Padahal selain soal hukum catur pun mereka sudah sering menertawakan. Lalu apakah kita turuti saja nafsu mereka, tak perlu disampaikan dan dilaksanakan ajaran yang akan dikomentari orang agar pak Menag tak malu? Naudzubillah.

Para pencela itu hanya melanjutkan kebiasaan para penyembah berhala yang merasa janggal dengan seruan tauhid.

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta. Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”” (QS Shad:5)

Itulah sunnah sayyiah rasa heran kepada ajaran Islam yang diturunkan dari penyembah berhala jaman feodal hingga jaman milenial.

 

Buzzer Kemungkaran, Bentuk Modern Mustakbirun

Fungsi buzzer atau influencer adalah mempengaruhi orang yang terhubung dengannya dalam media sosial untuk sebuah opini tertentu. Dalam bisnis tugas mereka adalah memperkenalkan produk, dan dalam politik mereka mencitrakan atau menjatuhkan sebuah entitas politik, atau mendukung sebuah pendapat sehingga menjadi arus yang diikuti oleh followernya.

Sehingga buzzer biasanya adalah selebriti media sosial dengan angka follower yang besar. Atau bisa juga akun-akun kecil yang giat berkomentar, memuji, berdebat, nyinyir, dsb untuk membuat arus opini yang banyak dukungan.

Lebih luas lagi, mereka juga bisa menjadi endorser dari sebuah kemungkaran. Agar penyimpangan seksual, zina, judi, dan kemaksiatan lain bisa diterima masyarakat bahkan dilegalkan oleh pemerintah.

Dalam Al-Qur’an. Allah punya sebutan untuk promotor kejahilan. Diistilahkan sebagai “mustakbirun” (orang yang menyombongkan diri). Sebelum ada media sosial, mereka adalah pemuka-pemuka kaum berpengaruh yang menyombongkan diri di atas bumi, yang mengajak orang-orang untuk mengingkari ajaran para nabi. Setelah ada media sosial, kata mustakbirun mendapat bentuk modernnya pada buzzer-buzzer kemungkaran. Sedangkan mereka yang terpengaruh dan terbawa arus opini keburukan disebut “mustadh’afun” (orang yang lemah).

Dulu, Fir’aun langsung yang menjadi influencer kesyirikan. “Maka Fir’aun dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf:54)

Kini, penguasa tak perlu mengotori tangannya untuk menghasut rakyat menyetujui kemungkaran yang akan ia jalankan atau legalkan dengan kuasanya. Ia cukup mencitrakan diri seolah humanis dengan aktivitas sebagaimana manusia umumnya. Akun media sosialnya diisi hal-hal yang positif saja. Sedangkan aktivitas menghasut, berdebat, bahkan membully orang yang tidak sejalan dikerjakan oleh pasukan “buzzer” yang dibina oleh penguasa. Dengan cara itu, banyak yang terpengaruh oleh arus besar dukungan atau penolakan. Mereka yang tak mau berpikir lebih dalam, rawan membebek pada seruan jahat.

Kini mustakbirun tak hanya monopoli pembesar Quraisy yang menyebar berita hoax pada rakyatnya dengan mengatakan Muhammad saw gila. Bukan hanya disematkan pada Fir’aun, atau pemuka kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, yang mengajak kaumnya menolak untuk bertauhid kepada Allah swt. Bukan hanya istilah untuk mereka yang karena memiliki pengaruh serta anak dan harta yang banyak sehingga merasa tak akan diazab oleh Allah swt, seperti pada Qur’an surat Saba’ ayat 34-35.

Konten kreator dan selebriti media sosial, meski mereka hanya rakyat biasa, sudah bisa menjadi mustakbirun. Dengan cara membuat artikel yang menyesatkan umat. Membuat video yang menghina agama. Membuat meme keren yang mempromosikan kemaksiatan. Berdebat, membully, menyanjung serta aktivitas lain yang akan di-like oleh followernya sehingga memperkuat kemungkaran.

Dan kita pengguna media sosial, jangan sampai berada di posisi mustadh’afun yang terpengaruh buzzer jahat itu. Kuncinya adalah selami kebanaran dengan nurani yang bersih. Jangan menilai kebenaran dari berisik/tidaknya dukungan pada sebuah opini. Mintalah pandangan pada orang-orang bijak yang sholeh. Dan satukan gerak bersama umat Islam yang sungguh-sungguh memperjuangkan agamanya.

Yang menarik adalah, Allah swt menyajikan transkrip dialog obrolan para mustakbirun dan mustadh’afun pada hari kiamat dalam Al-Qur’an. Perhatikan jeritan para pembebek (orang-orang yang lemah dalam memegang al-haq) menagih perlindungan pada para influencer yang dulu dunia bersikap sombong.

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS Ghafir: 47-48)

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Saba: 31-33)