RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Pandanglah Allah Dalam Berbagai Keadaan

(Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi setiap saat)

Ketika menjelma Jibril menjadi seorang rupawan yang berpenampilan rapi, ia selipkan pertanyaan definisi Ihsan kepada Rasulullah saw di hadapan para sahabat. Maka jawab Rasulullah, “engkau beribadah seakan melihat-Nya. Kalau tak mampu, maka kau hadirkan perasaan diawasi oleh-Nya”.

Allah swt adalah Dzat yang kepada-Nya kita arahkan pandangan batin dalam ibadah, dalam keadaan berdosa, dalam nikmat, serta musibah.

Dengan memandang-Nya dalam ibadah, hadirlah kekhusyukan. Dan dengan Ihsan, membantu kita mencapai keikhlasan.

Bukan pada ibadah yang kita perbuat, kita memandang. Tapi pada Yang Maha Agung Pemilik Jiwa Kita. Dengan begitu, maka tak kan lahir ujub dan riya’.

Jangan pandang betapa mati-matiannya sujud kita, betapa sungguhnya puasa kita, betapa merdunya alunan tilawah kita. Tapi pandanglah Allah yang berhak kita ibadahi. Sehingga terasa tak ada apa-apanya ibadah kita dibanding kebesaran-Nya. Tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.

Juga jangan pandang momen kita beribadah. Sepuluh malam terakhir Ramadhan, atau malam ganjilnya, atau malam yang dicurigai sebagai Lailatul Qadar, tapi pandanglah Allah Tuhan malam-malam itu semua. Yang memberi kita nikmat terus-terusan tak hanya di malam spesial saja.

Memang benar kita bersungguh mencari Lailatul Qadar mengikuti sunnah Rasulullah. Tapi dalam kesungguhan itu, Allah yang kita pandang. Sehingga tak peduli bagi kita apakah berhasil menemukan malam seribu bulan atau tidak, yang penting adalah menyembah Tuhan Yang Penuh Kemuliaan.

Juga dalam keadaan berdosa, Allah yang kita pandang.

Bilal bin Said berkata, “Jangan kamu melihat pada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat!”

Kecil atau besar, kita telah bersikap lancang kepada Tuhan Yang Maha Perkasa.

Dengan memandang Allah Yang Maha Keras Siksanya, maka kita segera beristighfar, bertaubat dan tak kan lagi berani melakukan dosa yang sama.

Atau kita terhindar dari putus asa untuk bertaubat karena yang kita pandang adalah Tuhan Maha Pengampun.

Dalam nikmat, pandanglah Allah agar kita tak lupa daratan. Kalau tidak, maka kita disibukkan oleh euforia. Tersita waktu menyuci mobil baru, mengagumi gawai baru, dsb.

Tetapi bila Allah yang kita pandang, maka kita disibukkan dengan syukur mengucap hamdalah. Tak peduli besar atau kecil nikmat yang didapat.

Sehingga terhindar juga dari rasa kurang puas lalu lupa berterima kasih kepada-Nya.

Dalam musibah pun Allah lagi yang kita pandang. Agar malam-malam kita tidak dilanda insomnia memikirkan masalah yang datang. Atau kita meremehkan musibah yang sejatinya adalah teguran dari Allah swt.

Dengan memandang Allah, kita ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, lalu penuhi kesadaran bahwa Ia Azza wa Jalla lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Serahkan pada Allah, bertawakkal dan berikhtiar. Lalu tenanglah hati ini dan bisa berfikir jernih.

Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi, yang kita pandang dalam berbagai keadaan.

 

Untuk Saudaraku Penggemar Kajian Akhir Jaman

Telah berlalu malam ke 15 Ramadhan 1441 H, dan tak ada huru-hara, bunyi keras, asap, atau apa pun yang gencar diwanti-wanti sebelumnya. Dan memang sumber dari cerita huru-hara sendiri adalah hadits yang divonis palsu oleh para ulama. Sedari awal, andai mau mencari pendapat dari ustadz/ulama lain yang perhatian terhadap kemurnian hadits, tak ada alasan untuk khawatir atas cerita bombastis pertengahan akhir Ramadhan.

Kemarin kabar itu gencar di tahun 2012 yang bertepatan malam 15 Ramadhannya saat itu adalah malam jum’at. Tapi tak ada apa-apa. Di tahun 2020 muncul lagi. Juga tak terjadi yang dikhawatirkan. Di tahun-tahun ke depan akan ditemui kembali malam jum’at 15 Ramadhan. Kemungkinan besar akan biasa-biasa saja. Kalau pun ada kehebohan di suatu tempat, tetap tidak akan mengubah derajat hadits itu menjadi hasan atau shohih. Hanya kebetulan belaka, sesuai yang Allah takdirkan.

Saudaraku, ada kewajiban bagi saya untuk mengingatkan. Terutama kepada yang gemar dengan kajian akhir jaman.

Kajian tanda-tanda kiamat membuat kita mempersiapkan diri dengan meningkatkan iman dan taqwa? Saya tidak memungkiri itu bagus. Tapi uban yang tumbuh di kepala adalah bukti yang lebih dekat agar kita berbenah.

Satu tanda kiamat itu entah kapan terjadinya. Tapi berkurangnya umur, keriputnya kulit, melemahnya daya lihat mata, adalah tanda terdekat kiamat kecil yang semua orang hadapi. Maka memperhatikan gejala mendekatnya ajal lebih penting karena lebih dekat dengan diri kita.

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz Dzariyat: 21)

Mencari hal yang memotivasi agar kita mempersiapkan bekal akhirat, itu bagus. Tapi apakah hanya pada kejadian akhir jaman? Ingatlah Allah memuji ulil albab pada Ali Imron 191 yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bertebaran di kitab suci Allah memerintahkan kita merenungi hujan yang turun, penciptaan makhluk, dan juga apa yang pada diri kita sendiri. Hujan sering tercurah, sedang tanda kiamat entah kapan. Ada yang lebih dekat untuk kita jadikan motivasi bertaqwa.

Jangan sampai naik/turunnya iman kita bergantung pada tanda akhir jaman. Ketika bertemu prediksi yang dekat, kita taat. Tapi setelah prediksi itu meleset, iman kembali turun.

Saudaraku, saya sarankan agar cerita yang Anda dapat dalam hadits kajian akhir jaman agar ditanyakan lagi kepada ustadz yang paham tentang hadits. Tanyakan keshohihannya. Agar kita mendapat informasi berlapis dan bersikap selektif.

Memang salah orang yang lebih mengagungkan akal. Tapi jauh lebih berbahaya orang yang bermain dengan imajinasi dalam beragama.

Saudaraku, jangan lupakan prioritas dalam menuntut ilmu. Banyak hal yang butuh kita tambah dalam pengetahuan. Tentang fiqh, aqidah, membina keluarga, siroh, dll. Saya alami sendiri, suatu ketika didebat oleh teman yang gandrung dengan bacaan teori konspirasi. Namun saat ia mudik lebaran, ia masih bertanya bagaimana cara menjamak sholat kepada saya.

Dalam riwayat kedua Hadits Arbain Nawawi, jibril yang menjelma menjadi manusia bertanya kepada Rasulullah tentang islam, iman, dan ihsan. Barulah terakhir tentang tanda kiamat. Itu pun tak ada memastikan kapan terjadinya. Menurut saya ibrohnya adalah mempelajari aqidah, fiqh, dan tazkiyatun nafs adalah hal yang lebih didahulukan sebelum mengkaji akhir jaman. Allahua’lam.

Saudaraku, jangan sampai kita termasuk yang hafal tanda-tanda kiamat, termasuk kisah yang dhoif dan palsu, namun tak paham bagaimana hukum darah nyamuk di baju yang akan dipakai untuk sholat.

Saudaraku, jangan sampai penyikapan atas kajian akhir jaman menjadi kontraproduktif terhadap hidup umat. Misal karena meyakini teknologi akan musnah, lantas menganggap tak berguna menguasai teknologi.

Mendengar instruksi dari seorang ustadz agar menyimpanan bekal makanan setahun guna menghadapi huru hara pertengahan Ramadhan, saya timbul rasa khawatir. Di tengah krisis begini diperlukan sikap saling berbagi. Lalu bagaimana bila umat jadi kikir dan menimbun makanan karena terpengaruh cerita itu? Harga bahan pokok melambung, tetangga miskin kian kelaparan.

Tak kalah penting dari kajian akhir jaman adalah kajian akhir bulan yang bertujuan membantu saudara kita yang gajinya pas-pasan.

Saudaraku, menyimak kajian akhir jaman dibutuhkan sikap bijak. Pastikan keshohihan sumber cerita. Jangan lupa prioritas. Dan ingat, banyak hal di sekitar kita yang lebih dekat untuk dijadikan bahan mendekat kepada Allah swt.

Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua. Amin

 

Buat Apa Menanti Ad-Dukhan?

Kemarin umat muslim bangga dengan Jackie Ying, muslimah Singapura yang menemukan rapid test cepat Covid-19. Sama bangganya kepada Khoirul Anwar yang punya andil dalam penemuan teknologi 4G, serta BJ Habibie dan sederet nama lain yang punya kontribusi kepada dunia dalam bidang ilmu pengetahuan.

Saya pun begitu. Tapi maaf, saya sedikit terusik dengan teori Ad-Dukhan yang beredar di tengah sebagian muslim yang rajin ikut pengajian. Yang katanya sebuah peristiwa di mana bumi terselimuti asap tebal yang membuat teknologi lumpuh.

Ya saya tahu, ad-dukhan itu dari hadits Rasulullah saw. Tapi dari mana kesimpulan bahwa teknologi jadi tak berguna karena peristiwa tersebut?

Saya terlibat perdebatan beberapa tahun lalu dengan dua orang teman yang begitu meyakini akan kemusnahan teknologi karena asap pekat jelang kiamat. Saya korek dari mana asal pendapat itu. Rupanya dari kajian-kajian akhir jaman. Alasannya, dalam hadits disebutkan tentang perang besar jelang kiamat yang menggunakan pedang, tombak, bahkan kuda. Berangkat dari hadits tersebut, diyakini kelak kemajuan dunia persenjataan akan lenyap lalu peradaban kembali seperti abad-abad pertengahan. Nah, momentum lenyapnya segala kecanggihan itu disebabkan adanya peristiwa ad-dukhan. Namun sampai kini saya belum menemukan literatur yang menjelaskan hal tersebut.

Teori itu lah yang kini beredar dan diyakini sebagian umat muslim. Dibumbui juga dengan hadits huru-hara di tengah bulan Ramadhan disertai suara keras. Setiap tahun hadits ini menyebar, menimbulkan suasana dramatis. (Hadits tersebut palsu. Lihat: http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.com/2014/02/hadits-huru-hara-di-bulan-ramadhan.html )

Melalui tulisan ini saya ingin menyerukan kepada umat muslim, bahwa ada PR yang besar yang diemban oleh kita. Yaitu menjadi sokoguru dunia. Ustadziyatul ‘alam. Salah satu tugasnya adalah menyemarakkan dunia dengan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi penduduk bumi. Dan hal itu dicapai dengan penguasaan teknologi.

Lantas sayang sekali bila fokus kita malah dialihkan kepada penantian peristiwa ad-dukhan, kemusnahan teknologi, dan segala huru-haranya.

Kapan Terjadi Ad-Dukhan?

Peristiwa kabut asap ini sendiri sebagian ulama mengatakan sudah terjadi di jaman Rasulullah hidup, ketika kaum Quraisy mengalami kelaparan ekstrim atas doa nabi Muhammad saw. Sehingga tercipta fatamorgana di langit berupa asap. Sila disimak tafsir surat Ad Dukhan. Meski, sebagian ulama mengatakan ayat 10-11 itu akan terwujud menjelang kiamat.

Dan telah berlalu juga berbagai peristiwa yang mirip Ad-Dukhan. Seperti meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 yang melontarkan abu dan asap dalam jumlah besar membuat matahari bagai terbenam dan langit merah.

Atau erupsi Gunung Tambora pada 1815 yang disebut letusan gunung berapi terbesar pada 1.500 tahun terakhir. Menyebabkan “tahun tanpa musim panas” karena debu dan sulfur dioksida akibat erupsi menghalangi sinar Matahari.

Atau kebakaran hutan hampir setiap tahun di Sumatera dan Kalimantan. Peristiwa semacam ini dan banyak lagi kalau mau dicocokkan sebagai ad-dukhan rasanya cocok saja karena nyata adanya asap yang besar menutupi bumi.

Namun para penggemar kajian akhir jaman memilih skenario lain: akan adanya meteor yang jatuh, membuat rotasi bumi melambat, mengakibatkan asap menyebar ke seluruh penjuru dunia, lalu teknologi lumpuh. Akhirnya rudal tak berlaku, diganti pedang dan tombak.

Hadits Ramalan Sarat Kiasan

Kesimpulan “teknologi akan lenyap” timbul dari cara membaca hadits ramalan dengan tekstual. Menurut pengampu kajian akhir zaman, pedang, tombak, dan sebagainya tersurat dalam sabda Rasulullah. Misalnya, dajjal akan dibunuh nabi Isa a.s. dengan tombak.

Tak hanya itu, yang tertera dalam hadits arbain tentang budak melahirkan tuannya pun ada yang mengartikan bahwa perbudakan akan kembali muncul menjelang kiamat.

Saya bukan ahli hadits sehingga tak bisa menilai derajat dari riwayat-riwayat tersebut. Namun yang perlu diperhatikan, bukankah sabda-sabda Rasulullah tentang kejadian yang akan datang itu sarat dengan kiasan?

Misalnya, hadits periodeisasi umat Islam. Disebutkan ada periode mulkan ‘adhon yang artinya kepemimpinan raja yang menggigit. Ini jelas adalah kiasan. Dan telah diterangkan oleh para ulama masa kini, bahwa periode ini telah kita lewati di mana cirinya adalah khilafah yang menganut sistem kerajaan sebelum Turki Utsmani runtuh, di mana sekarang adalah masanya mulkan jabbariyan.

Perhatikan juga ketika Rasulullah saw berkata kepada istri-istrinya tentang siapa yang paling pertama menyusul Nabi saw. ke alam barzakh. Ketika itu sabdanya, “yang paling panjang tangannya.” Sontak para istri nabi pun saling mengukur lengan mereka, yang kemudian diketahui bahwa Saudah lah yang paling panjang tangannya. Tapi yang terjadi? Zainab binti Jahzy r.ha. yang pertama wafat setelah Nabi. Hingga tersibaklah hakikat “yang paling panjang tangannya” adalah kiasan yang bermakna yang paling banyak sedekah.

Nah, dari dua contoh di atas, jelas sekali bahwa hadits tentang yang terjadi di masa datang itu Rasulullah sabdakan kadang dalam berbentuk kiasan. Sehingga, apa yang disebut pedang, tombak, dll andai benda-benda tersebut benar-benar disebutkan dalam hadits shohih tentang akhir jaman, tak menutup kemungkinan itu adalah perumpamaan. Juga budak yang melahirkan tuannya, banyak ulama menjelaskan maksudnya adalah kedurhakaan anak kepada orang tua begitu besar.

Maka teori lumpuhnya teknologi dan kehidupan kembali ke abad pertengahan itu jangan dulu ditelan bulat-bulat.

Jangan Putus Asa Lalu Menanti Imam Mahdi

Setuju, bahwa umat Islam kini seperti dalam sabda Rasulullah: bagai hidangan yang siap disantap oleh musuh-musuhnya. Bagai buih di lautan. Dikarenakan mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Umat muslim terpuruk. Berkali-kali gagal ketika hendak bangkit. Terbentur oleh bengisnya mulkan jabbariyan.

Sayangnya ada segelintir yang lelah dengan proyek kebangkitan Islam dan lebih menunggu Imam Mahdi datang dan menerangi dunia dengan keadilan. Sehingga tanda-tanda kiamat seperti ad-dukhan ini begitu dinanti.

Padahal umat Islam ditugaskan berbuat. Bukan berhasil. Dengarkan sabda Rasulullah:

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR Bukhari & Ahmad)

Maka, berbuatlah. Terangi dunia dengan penemuan yang bermanfaat buat manusia. Tak perlu menunggu ad-dukhan. Oke, andai benar ad-dukhan itu melenyapkan teknologi, tapi kembali ke hadits di atas bahwa kita diperintahkan untuk berbuat meski tahu besok kiamat. Maka teknologi yang dikuasai umat Islam tak kan dihitung sia-sia andai kabut asap membuat satelit lumpuh, internet tak bisa diakses, hingga akhirnya pandai besi kembali banjir pesanan.

Kita diperintahkan untuk mempersiapkan hari kiamat, alih-alih sibuk berspekulasi mengutak-atik skenario dengan hadits-hadits akhir jaman.

Untuk pertanyaan, “apa yang kau siapkan untuk hari kiamat?”, selain amal sholeh individu, jawaban “penguasaan teknologi untuk kebaikan umat manusia” juga harus diupayakan.

 

Es Krim Vienetta, Social Climber, dan Rasa Syukur pada Orang Tua

Karena banyak permintaan, akhirnya es krim Vienetta kembali diproduksi oleh Walls. Penikmatnya banyak yang ingin sekedar nostalgia dengan es krim mahal dari jaman orde baru ini.

Tapi banyak juga yang penasaran, karena saat kecil mereka belum pernah merasakannya. Harga menjadi alasan yang membuat para orang tua enggan membelikan. Kini setelah lebih sejahtera, es krim yang dulu bikin ngiler itu kini diburu.

Ini tentang para social climber. Tapi maksudnya bukan orang yang bergaul dengan kalangan kelas atas agar terlihat bagian dari mereka. Ada beberapa definisi dari istilah itu. Yang saya maksud adalah parvenu dalam bahas Perancis, yang menurut wikipedia: A parvenu is a person who is a relative newcomer to a socioeconomic class. Mereka yang kini lebih sejahtera dibanding sebelumnya.

Orang-orang yang dulu tak dibelikan orang tuanya es krim Vienetta, tapi kini sanggup beli 2 kali seminggu bahkan tiap hari buat anak-anaknya.

Tentu tak hanya makanan tersebut. Saya yakin pembaca pun ada barang yang waktu kecil bikin ngiler ga mampu terbeli, tapi kini punya kelapangan untuk memiliki benda tersebut kalau masih ada di pasaran.

Dulu ketika saya merengek meminta keju Kraft kepada ibu, saya yakin beliau menahan sesak di dadanya ketika menjawab “di rumah gak ada kulkas,” untuk menolak permintaan saya. Apa daya, makanan sejenis keju cuma bisa saya nikmati ketika diajak ke Jakarta ke rumah saudara.

Na’udzubillah, mungkin ada social climber yang menyalahkan orang tuanya karena hidup dalam keterbatasan saat kecil. Padahal mereka bisa hidup lebih baik saat dewasa karena peras keringat banting tulang ayah dan ibunya.

Tentu saja banyak juga yang bersyukur. Menunaikan perintah Allah swt dalam surat Luqman ayat 14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Untuk kawan-kawan yang baru bisa mencicipi Vienetta setelah dewasa, saya mengajak untuk mengenang jerih payah orang tua – setelah bersyukur pada Allah. Pada rasa dingin dan manis es tersebut, bersitkan kerja keras mereka menyekolahkan kita, membiayai kita kuliah, dan membelikan buku-buku untuk belajar.

Untuk yang pendidikannya lebih tinggi dari orang tua hingga bisa lebih sejahtera, untuk orang yang besar di kampung namun kini tinggal di komplek perumahan di kota, untuk yang kini dimanjakan dengan kendaraan pribadi, saya berpesan bahwa keadaan lebih baik ini bukan untuk menyombongkan diri pada yang telah membesarkan kita.

Untuk yang anaknya lebih termanjakan dengan makanan, mainan, dan barang-barang dibanding dirinya dulu waktu kecil, ingatlah andai kata orang tua Anda mampu mereka bisa saja lebih memanjakan anak-anaknya daripada Anda.

Tak ada salahnya kita beli barang yang dulu kita inginkan, lalu pajang di suatu tempat yang bisa kita sering lihat di samping foto kedua orang tua. Agar selalu terkenang jasa mereka.

 

Rasulullah dan Bunyi-Bunyi Misterius

 

Fenomena dentuman pada dini hari yang terdengar di sekitar Depok dan Jakarta Selatan pada Sabtu, 11 April 2020 kemarin mungkin akan menambah daftar suara misterius di alam yang belum terungkap sumbernya. Acara televisi On The Spot perlu memperbaharui episode yang pernah membahas tentang hal ini.

Kemungkinannya bermacam-macam. Dari suara erupsi anak Krakatau hingga petir di atmosfer. Sebagian orang menganggap hanya fenomena alam biasa sehingga tak perlu takut. Sebagian yang lain khawatir hingga menghubungkannya dengan tanda kiamat.

Namun sesungguhnya bumi memang terbiasa dengan suara misterius. Di masa Rasulullah dan para sahabat, beberapa kali mereka mendengar bunyi yang aneh.

Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda: “Jangan takut! Jangan takut!” kata Anas; “Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i)

Dari kisah di atas, tidak dijelaskan apa penyebab suara tersebut. Hanya keteladanan yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw selaku pemimpin yang menenangkan rakyatnya. Artinya memang benar bukan suatu yang membahayakan, hanyalah fenomena alam biasa.

Rasulullah bukan meremehkan. Beliau bukan tipe pemimpin yang andai ada wabah di Madinah, ia malah mempromosikan wisata di kota yang dipimpinnya itu. Tanggungjawab sebagai orang pertama yang menginvestigasi hal yang dikhawatirkan orang banyak, lalu memberi arahan kepada rakyat, telah ia tunaikan. Ia sigap, bukan becanda-canda dahulu lalu panik kemudian.

Kisah kedua sebagai berikut. Abu Hurairah berkata, “Kami dulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.” (HR. Muslim)

Kalau ini, memang bukan fenomena alam biasa. Tapi fenomena lintas alam. Kejadiannya di neraka, terdengarnya sampai di bumi. Sengaja Allah kehendaki begitu, bukannya salah server, tetapi sebagai sarana tarbiyah para sahabat serta umat muslim yang hanya mengetahui peristiwa ini dari hadits nabi.

Tidak dijelaskan, apakah selain para sahabat yang bersama Rasulullah, ada lagi yang mendengar bunyi tersebut.

Para sahabat memang memiliki pendengaran yang lebih peka dibanding orang biasa. Abdullah bin Mas’ud r.a. memberi kesaksian bahwa pernah ketika Rasulullah saw dan para sahabat disajikan hidangan, mereka mendengar bagaimana makanan itu bertasbih.

Adakah di antara kita yang pernah mendengar kopi dalgona memuji Allah swt? Bisa autoindigo. Atau mendengar makanan menjawab ketika Chef Juna bilang, “rasanya kayak sampah”?

Mereka juga pernah mendengar batang kurma menangis karena fungsinya sebagai mimbar Rasulullah berkhutbah akan diganti dengan yang baru.

Untunglah Rasulullah peluk pohon itu hingga ia berhenti menangis. Kalau tidak, kata Rasulullah, pohon ini akan terus menangis sampai kiamat. Drama Korea bakal kalah sedih dibanding tangisannya.

Kembali ke fenomena menghebohkan di sekitaran Depok dan Jaksel. (Orang Depok menyebutnya dentuman, anak Jaksel menyebutnya “suara keras which is kejadiannya pas in the middle of the night.”) Sikap kita sebagai muslim akan tetap dalam perasaan tak aman atas bencana yang suatu waktu bisa Allah turunkan pada kita.

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS Al Mulk: 16-17)

Andai fenomena alam biasa, tetap saja hal itu adalah tanda besarnya kekuasaan Allah swt yang membuat kita kagum sembari merendahkan diri.

Ada atau tidak ada suara yang aneh tadi, tetap selalu waspada dengan rajin memperbaharui taubat. Kalau masalah kiamat yang sudah dekat, lebih dekat lagi kematian (kiamat kecil). Tanpa membahas tanda-tanda akhir jaman pun yang namanya memperbaiki diri itu sudah keharusan.

Namun tak perlu paranoid, ketakutan, lalu kehilangan akal sehat. Sampai-sampai membuat, atau percaya, atau menyebarkan teori konspirasi yang sarat cocoklogi. Atau teori konstipasi yang sarat cucokrowo.

Kita kembalikan kepada para ahli tentang asal usul bunyi tersebut. Kalau pun tak terkuak, ya biasa lah… ilmu manusia itu terbatas.

Ingat, alam ini terbiasa dengan suara yang belum teridentifikasi. Bahkan ketika pada malam hari di Madinah ada suara menggelegar menakutkan, Rasulullah hanya bersabda, “jangan takut.”

Yuk, tidak berspekulasi, serahkan pada ahli.

 

Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah

“Apa yang bisa diperbuat oleh musuhku?” ujar Syaikh Ibnu Taimiyah suatu hari. Mohon koreksi bila ada kesalahan redaksi atau person yang dikutip. “Bila aku dipenjara, maka itu jadi uzlahku. Bila aku diusir, maka itu jadi rihlahku. Dan bila aku dibunuh, maka semoga itu menjadi syahidku,” lanjutnya.

Nah, bisakah kita buat kalimat serupa kepada virus corona yang sedang mewabah? “Kalau gara-gara kamu aku dikarantina, insya menjadi uzlah. Dan kalau kamu sebabkan aku mati, semoga Allah menganggapku syahid.”

Ya, sebagaimana penjara menjadi tempat uzlah, karantina pun bisa. Sehingga kelapangan waktu di rumah termanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hamka dan Sayyid Quthb dalam penjaranya bisa hasilkan karya besar berupa kitab tafsir. Banyak juga ulama lain yang hasilkan masterpiece di balik jeruji.

Ada cerita dari bilik-bilik sempit di Mesir. Penjara itu memuat para aktivis dakwah dari berbagai bidang. Ada yang pakar syariah, juga ada penghafal Qur’an. Alhasil, terbentuklah madrasah baru di ruangan pengap itu yang meluluskan pakar syariah baru dan yang menamatkan hafalannya 30 juz.

Namun karantina akibat wabah ini sangat berbeda dengan suasana penjara. Masih ada keleluasaan beraktifitas di rumah. Bisa makan kapan mau, nonton tivi, maen game, atau bulan madu yang seru bagi pasutri baru. Pasutri lama juga bisa berbulan madu kembali. Namanya juga iseng ya, di rumah aja.

Yang mirip mungkin tahanan rumah, atau tahanan napi koruptor yang mewah.

Dari banyak pilihan aktivitas yang bisa dikerjakan, jangan sia-siakan untuk menjadikannya ajang uzlah. Yaitu aktivitas berdua-duaan dengan Allah swt dalam kemesraan ibadah. Jalan yang ditempuh sebagian orang-orang sholeh untuk mengoptimalkan hidupnya dalam totalitas ibadah kepada Allah swt.

Karantina ini adalah “i’tikaf” kita di rumah. Ketika mushaf merasakan kembali sibuknya ia dibolak-balik, yang biasanya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Ketika sajadah senantiasa basah oleh air wudhu dan air mata. Ketika biji tasbih merasakan hangat jemari kita.

Inilah keluangan untuk banyak bermuhasabah, tafakur, dan tadabur. Inilah kesempatan kita “curi start” rajin beribadah sebelum Ramadhan. Inilah pengganti hilangnya kebiasaan sholat berjamaah di masjid.

Naudzubillah, jangan sampai masa karantina ini diisi layaknya lagu Mbah Surip.

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangun … tidur lagi
Hahahaha…

 

Ibrah dari Tangis Muadzin yang Pecah

Sang muadzin meneteskan air mata. Suaranya parau bergetar ketika menyisipkan kalimat “shollu fii buyutikum” dalam kumandang adzannya. Tangisnya pecah karena harus melihat pemandangan yang tak biasa. Masjid yang selalu penuh kini lengang.

Itu terjadi di negeri luar. Belum berlaku di Indonesia. Meski MUI telah keluarkan fatwa, tapi tak ada paksaan dari pemerintaah untuk meniadakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam keadaan tersebut, orang-orang akan terbagi menjadi 3 golongan.

Pertama, yang sedih dan merasa kehilangan kesempatan sholat berjamaah seperti biasa. Tiap waktu sholat tiba, mereka akan dirundung rindu untuk bersama dengan umat muslim dalam satu shof yang lurus dan rapat seperti sedia kala.

Orang seperti ini sejatinya tidak akan kehilangan pahala berjamaah sekalipun ia terpaksa lakukan di rumah. Karena ia sudah berniat, dan sudah pula ada buktinya dengan kebiasaan yang dilakukan ketika tak ada uzur/penghalang. Tentu kita paham, Allah memberi pahala seseorang atas niatnya walau pun batal atau gagal terlaksana.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR Bukhori)

Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang hadits tersebut: “Ini adalah bagi orang yang terbiasa melakukan ketaatan dan kemudian ia tercegah, dan niatnya jika tidak ada penghalang ia akan melakukan rutinitasnya.”

Golongan kedua adalah orang yang menyesal karena selama ini menyia-nyiakan kesempatan beramal saat dalam kondisi mudah. Ini adalah orang yang tak rutin berjamaah, atau baru berangkat ke masjid ketika sudah iqomah. Ia paham harusnya bisa optimal lagi beramal. Namun rasa malas membuat kualitas ibadahnya pas-pasan.

“Manfaatkanlah masa aman sebelum masa krisis”. Ya, kalimat itu tidak pernah disabdakan Rasulullah saw. Yang ada dalam hadits adalah redaksi berikut: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim)

Namun memanfaatkan masa aman sebelum masa krisis itu sejalan dengan hadits di atas, yang intinya adalah mengoptimalkan setiap kesempatan sebelum hilang.

Golongan orang kedua mungkin tak seperti yang pertama yang menikmati “privilage” pahala yang tetap mengalir karena kebiasaan dan niat. Makanya rasa sesal itu hadir.

Di beberapa daerah, ada yang belum begitu darurat sehingga masih bisa menyelenggarakan sholat berjamaah dengan normal. Maka, bila Anda berada di daerah itu, optimalkanlah amal Anda. Rutinkan ke masjid, dan melangkahlah sebelum iqomat.

Dan bagi yang tinggal di daerah yang dianjurkan untuk beribadah di rumah, masih banyak amal yang bisa dikerjakan. Maka bacalah Al Qur’an sebelum mata Anda tak mampu lagi melihat rangkaian huruf hijaiyah. Kerjakan sholat sunnah selagi akal dan kesadaran masih berfungsi.

Rajin-rajinlah menghubungi orang tua sebelum susah atau tak mungkin mendengar suara mereka lagi. Sayangi anggota keluarga sebelum mereka tak bisa merasakan kasih sayang Anda.

Dan banyak lagi.

Bersyukurlah bila masih ada rasa penyesalan ketika sebuah kesempatan hilang. Karena jangan sampai seperti golongan ketiga.

Yaitu yang cuek, atau bahkan senang dengan kosongnya masjid. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Yaa ‘Isaa, salam ‘alaika

Wahai Nabi Isa, semoga keselamatan tercurah untukmu. Keselamatan ketika kau dilahirkan, ketika wafat, dan saat dibangkitkan. Aku mengaminkan doamu yang tertulis dalam Al Qur’an surat Maryam 33. Dan semoga keselamatan tercurah pula pada hamba-Nya yang beriman.

Wahai Nabi Isa, para mufassir telah menjelaskan maksud doamu. Bahwa keselamatan yang kau minta dari gangguan setan. Dan semoga kami yang hidup di zaman ini dianugerahi keselamatan serupa. Terlindung dari bujuk rayu setan untuk berbuat syirik.

Wahai Nabi Isa, kami paham jalan keselamatan adalah pada aqidah yang lurus. Sebagaimana ucapanmu dalam ayat 36 surat Maryam: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” Maka tiada keselamatan pada ritual syirik yang menyembah selain Allah swt. Wal iyadzu billah.

Wahai Nabi Isa, ketika kami mendoakanmu selamat, maka tak pantas kami menjadi penyebab kau ditanya oleh Allah swt di akhirat kelak. Pertanyaan yang dikabarkan dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 116. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.”

Wahai Nabi Isa, maka tak seharusnya doamu dalam QS Maryam 33 itu dijadikan pembenar untuk mengucapkan selamat pada mereka yang merayakan sebentuk kemusyrikan. Keselamatan apa kah yang mereka inginkan?

Tanpa ucapan selamat mereka, kau tetap diselamatkan oleh Allah swt. Sementara mereka dengan aqidahnya sedang dalam bahaya. Dan muslim yang berdalil dengan QS Maryam 33 untuk ucapkan selamat yang menyemarakkan kesyirikan, aku ragu doanya akan kembali pada mereka. Padahal doa kebaikan untuk orang lain Allah kabulkan juga buat pemintanya.

 

Rahasia Posisi Surat Al Ikhlas

Pada mushaf standard, letak surat Al-Ikhlas sangat “strategis”. Bila dibuka dari kiri (seperti membuka buku beraksara latin), maka surat tersebut terletak paling atas di halaman paling awal.

Sehingga “Qul huwallahu ahad” beserta artinya akan pertama kali dibaca oleh orang yang penasaran dengan Al Qur’an namun belum paham bahwa kitab suci itu dibaca dari kanan.

Nah, kestrategisan ini lah yang telah mengantarkan banyak orang memeluk Islam. Mereka yang selama ini menganut kepercayaan bahwa tuhan ada lebih dari satu, tiba-tiba disodorkan konsep tauhid. Mereka yang menyangka tuhan memiliki anak, dilahirkan, atau memiliki keserupaan dengan makhluk; diperkenalkan konsep yang lebih mengagungkan tentang Sang Pencipta.

Berikutnya, setelah terbersit kekaguman pada Al Qur’an, lalu mereka sudah mengerti cara membuka mushaf yang benar, bertemu lah dengan ayat awal Al Baqoroh. Bahwa kitab itu tidak memiliki keraguan di dalamnya. Maka bertambah tebal lah keyakinan di dalam dada mereka.

Kelebihan lain, surat Al Ikhlas ini sangat ringkas. Namun cukup memicu timbulnya berbagai tanya dan gugatan di hati orang yang telah salah memahami tuhan.

Bila kemudian Al Qur’an dibuka lebih dalam, akan ditemukan retorika yang lebih menggugah akal. Misalnya dalam QS Al Mu’minun: 91.

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Sehingga, di dalam pengembaraan seseorang mencari Tuhan dalam Qur’an, ia akan diajak berpikir deduktif. Maksudnya ia terlebih dahulu bertemu poin inti tentang tauhid dalam surat Al Ikhlas, baru kemudian penjelasan-penjelasan rinci lebih lanjut di surat lain.

Ini lah salah satu hikmah Allah meletakkan surat tersebut di bagian akhir Al Qur’an. Masya Allah.

 

Benci Kemunafikan Tapi Bangga Dengan Kebejatan

“Munafik!” Terlontar tudingan itu dari lisan seseorang untuk membela kemaksiatan. “Munafik!” Tertulis vonis itu pada komentar berita di jejaring sosial sebagai pembelaan atas gugatan yang menyerang kemungkaran.

Kalau yang dimaksud adalah apa yang terucap tidak sama dengan apa yang diperbuat, maka kemunafikan memang pantas dibenci. Ia haram mendompleng idealisme.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS 61: 2-3)

Tapi apa ganti dari kemunafikan? Kebanggaan atas kebejatan kah?

“Sudah, ngaku aja kalo lu juga suka!” Kalimat itu menyempurnakan vonis munafik. Mengajak para penggugat kemungkaran untuk mengakui bahwa dirinya pun bejat dan tak pantas mengingkari.

Maka begitulah gaya pemuja kemaksiatan. Memeluk erat kebejatan dan simbol-simbolnya, dan kemudian menciptakan tameng berupa “tuduhan munafik” yang akan mereka layangkan pada setiap yang menentang. Seperti pemabuk yang menjinjing ringan botol arak dan berjalan di tengah kampung. Ketika orang kampung mengingatkannya bahwa isi botol itu terlarang, ia balik berteriak, “Hey sadarlah. Kalian pun mabuk!!”

Tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan. Bahkan ketika diri ini memang penuh noda, maka menutupi kekurangan diri – disertai dengan penyesalan – adalah sebuah keselamatan dan bisa menjadi jalan untuk berubah.

Abu Hurairah ra, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (HR Muslim)

Seorang mukmin tak mungkin bangga dengan kebejatan. Karena konsekuensi iman menuntut begitu. Bahkan pada kadar iman yang paling rendah, tidak ada ruang untuk bersikap biasa-biasa saja atau acuh pada kemaksiatan. Ubah! Atau gugat! Atau kau membencinya, dan itu derajat yang amat rendah pada strata keimanan. Di luar sikap itu, tidak ada iman!!!

Dari Abu Said Al-Khudri ra: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Sudah jelas, tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan selama iman ini ada di dada.

“Munafik. Padahal lu suka kan? Gw juga suka, tapi gw gak munafik kayak lu. Semua juga suka, kalee…” Maa lakum, kaifa tahkumun (QS 68:36)? Bagaimana bisa begitu, apa dasar kamu menghakimi seperti itu? Lantas yang bagaimana munafik itu sebenarnya?

Ibnu Mas’ud r.a., sahabat Rasulullah saw, memberikan deskripsi perbedaan orang mukmin dan munafik. “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang fajir/munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Lalu siapa sebenarnya yang pantas padanya disematkan gelar “munafik”?

Zico Alviandri

Tulisan Lama, 6 Oktober 2009