RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Buzzer Kemungkaran, Bentuk Modern Mustakbirun

Fungsi buzzer atau influencer adalah mempengaruhi orang yang terhubung dengannya dalam media sosial untuk sebuah opini tertentu. Dalam bisnis tugas mereka adalah memperkenalkan produk, dan dalam politik mereka mencitrakan atau menjatuhkan sebuah entitas politik, atau mendukung sebuah pendapat sehingga menjadi arus yang diikuti oleh followernya.

Sehingga buzzer biasanya adalah selebriti media sosial dengan angka follower yang besar. Atau bisa juga akun-akun kecil yang giat berkomentar, memuji, berdebat, nyinyir, dsb untuk membuat arus opini yang banyak dukungan.

Lebih luas lagi, mereka juga bisa menjadi endorser dari sebuah kemungkaran. Agar penyimpangan seksual, zina, judi, dan kemaksiatan lain bisa diterima masyarakat bahkan dilegalkan oleh pemerintah.

Dalam Al-Qur’an. Allah punya sebutan untuk promotor kejahilan. Diistilahkan sebagai “mustakbirun” (orang yang menyombongkan diri). Sebelum ada media sosial, mereka adalah pemuka-pemuka kaum berpengaruh yang menyombongkan diri di atas bumi, yang mengajak orang-orang untuk mengingkari ajaran para nabi. Setelah ada media sosial, kata mustakbirun mendapat bentuk modernnya pada buzzer-buzzer kemungkaran. Sedangkan mereka yang terpengaruh dan terbawa arus opini keburukan disebut “mustadh’afun” (orang yang lemah).

Dulu, Fir’aun langsung yang menjadi influencer kesyirikan. “Maka Fir’aun dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf:54)

Kini, penguasa tak perlu mengotori tangannya untuk menghasut rakyat menyetujui kemungkaran yang akan ia jalankan atau legalkan dengan kuasanya. Ia cukup mencitrakan diri seolah humanis dengan aktivitas sebagaimana manusia umumnya. Akun media sosialnya diisi hal-hal yang positif saja. Sedangkan aktivitas menghasut, berdebat, bahkan membully orang yang tidak sejalan dikerjakan oleh pasukan “buzzer” yang dibina oleh penguasa. Dengan cara itu, banyak yang terpengaruh oleh arus besar dukungan atau penolakan. Mereka yang tak mau berpikir lebih dalam, rawan membebek pada seruan jahat.

Kini mustakbirun tak hanya monopoli pembesar Quraisy yang menyebar berita hoax pada rakyatnya dengan mengatakan Muhammad saw gila. Bukan hanya disematkan pada Fir’aun, atau pemuka kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, yang mengajak kaumnya menolak untuk bertauhid kepada Allah swt. Bukan hanya istilah untuk mereka yang karena memiliki pengaruh serta anak dan harta yang banyak sehingga merasa tak akan diazab oleh Allah swt, seperti pada Qur’an surat Saba’ ayat 34-35.

Konten kreator dan selebriti media sosial, meski mereka hanya rakyat biasa, sudah bisa menjadi mustakbirun. Dengan cara membuat artikel yang menyesatkan umat. Membuat video yang menghina agama. Membuat meme keren yang mempromosikan kemaksiatan. Berdebat, membully, menyanjung serta aktivitas lain yang akan di-like oleh followernya sehingga memperkuat kemungkaran.

Dan kita pengguna media sosial, jangan sampai berada di posisi mustadh’afun yang terpengaruh buzzer jahat itu. Kuncinya adalah selami kebanaran dengan nurani yang bersih. Jangan menilai kebenaran dari berisik/tidaknya dukungan pada sebuah opini. Mintalah pandangan pada orang-orang bijak yang sholeh. Dan satukan gerak bersama umat Islam yang sungguh-sungguh memperjuangkan agamanya.

Yang menarik adalah, Allah swt menyajikan transkrip dialog obrolan para mustakbirun dan mustadh’afun pada hari kiamat dalam Al-Qur’an. Perhatikan jeritan para pembebek (orang-orang yang lemah dalam memegang al-haq) menagih perlindungan pada para influencer yang dulu dunia bersikap sombong.

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS Ghafir: 47-48)

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Saba: 31-33)

Advertisements
 

UAS, Artis Korea, dan Gorengan Media Massa

Kembali Ustadz Abdul Somad (UAS) dighibahi media massa. Yang sedang digoreng oleh jurnalis-jurnalis keji belakangan, tentang ceramahnya mengingatkan umat Islam untuk menjaga diri dari pengaruh buruk hiburan asing.

Saya curiga, ada dendam politis yang bersenyawa dengan islamophobia berkepentingan untuk merusak nama baik ustadz yang tegas dalam ceramahnya ini.

Sebuah video dari potongan ceramah beliau memperlihatkan jawabannya kepada orang yang bertanya apa hukumnya menggemari dan menyukai film Korea. “Jangan suka kepada orang kafir, siapa yang suka kepada orang kafir, maka dia bagian dari kafir itu. Condong artinya pada orang kafir.” Ia juga berkata, “Jangan ditonton lagi itu sinetron-sinetron korea korea, rusak. nanti pas sakaratul maut, datang dia ramai-ramai. Apa yang sering kita dengar, apa yang sering kita tengok, akan datang saat sakaratul maut.”

Jahat, ada yang mencari uang dengan cara menjatuhkan kehormatan ulama. Diframing tanpa akhlak bahwa Ustadz Abdul Somad mengkafirkan penonton drama Korea.

UAS mewanti-wanti dengan keras. Karena kerusakan dari pengidolaan yang berlebihan ini sudah tampak.

Medio Desember 2017, media massa mengabarkan ada fans drama Korea di Indonesia yang ingin mengikuti perbuatan idolanya Jonghyun SHINee yang telah mati bunuh diri. Gila. Dan begitulah, orang yang sudah fanatik menyukai sesuatu akan berbuat yang di luar akal manusia.

Dampak lain adalah hilangnya sopan santun terhadap yang tua. Dialami oleh ibu Elly Risman ketika memprotes pemerintah saat ingin menghadirkan artis Korea, para penggemar hiburan dari negeri gingseng itu pun membully dan melecehkan sosok ibu berilmu yang amat perhatian terhadap akhlak generasi muda.

Ada pun peringatan UAS, jelas dalilnya tersurat dalam sabda Rasulullah saw, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. (Di hari kiamat)” (HR Muslim) UAS tidak sedang memvonis personal, tetapi mengemukakan kaidah bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum, memiliki kecenderungan kepada mereka, maka dia bagian dari kaum itu.

Tentu tidak serta merta penonton dan penyuka film Korea dihukumi murtad. Selama masih memegang syahadatnya, tidak berhak dihukum kafir. Hanya saja itu adalah penghukuman oleh manusia. Bagaimana dengan Allah swt? Yakin kah bahwa orang yang mengidolakan mereka yang ingkar kepada Allah swt itu diterima keimanannya? Lisan bisa menyatakan syahadat, tapi Allah yang menilai kejujuran hamba-Nya. Di sini lah UAS mewanti-wanti dengan keras.

Ketika kehidupan artis Korea lebih diikuti dari pada kisah perjuangan Rasulullah saw. Ketika hadits Nabi dan firman Allah sangat jarang dibaca dibandingkan berita si idola. Ketika sholawat kepada Nabi Muhammad saw sangat jarang terucap dibanding nama si artis. Ketika cinta kepada Allah swt & Rasul-Nya kalah dibanding cinta kepada public figure oriental nan rupawan. Ketika perilaku dan tampilan tokoh kesayangan diikuti tanpa timbangan halal haram. Maka, sebagaimana hadits di atas, di akhirat kelak ada kemungkinan Allah swt bangkitkan orang tersebut bersama artis Korea idolanya. Sedangkan syafaat Nabi Muhammad saw jauh darinya. Na’udzubillahi min dzalik.

UAS sudah memperingatkan. Sudah tunai tugasnya. Meski jurnalis jahat memplintir dan menghasut agar da’i yang dicintai umat itu dimusuhi penggemar drama Korea.

Media massa itu berhajat dengan pemberitaan seputar drama dan artis Korea. Bila umat Islam mengindahkan nasehat UAS, tentu rugi lah pengelola media. Media pun meminggirkan kode etik jurnalistik. Tidak ditampilkan klarifikasi UAS atas isi ceramahnya. Hanya penggiringan opini sepihak.

Di balik itu semua, juga ada pihak yang dendam secara politis yang sampai sekarang tak henti menyinyiri UAS. Apalagi islamophobia yang melihat UAS memiliki pengaruh di tengah umat.

Ustadz Abdul Somad adalah asset berharga umat Islam. Kasus belakangan tak akan jadi aksi penggorengan yang terakhir kalinya oleh media. Kalau bukan umat Islam yang membela beliau, siapa lagi?

 

Beritahu Mereka, Islam Sesuai dengan Fitrah Manusia!

Dalam video-video youtube tentang kisah perjalanan menjadi mualaf, terungkap bahwa kebanyakan mereka dulunya berpandangan negatif terhadap Islam. Bahwa muslim itu teroris, agamanya mengajarkan kekerasan, dsb. Citra begitu didapat dari agitasi media.

Hingga Allah merancang suatu kejadian dan akhirnya mereka tahu bahwa Islam memuat ajaran yang lurus, yang sesuai dengan jiwa fitrah umat manusia yang menyukai kebaikan. Tak seperti yang ditonton, dibaca, atau didengar selama ini.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30)

Akhir ayat di atas memuat pelajaran, tanpa konten keji media pun banyak manusia yang tidak tahu bahwa Islam adalah agama yang cocok dengan jiwa mereka. Ajaran Islam tak mengekang naluri dasar manusia dalam melampiaskan nafsu, hanya mengaturnya agar tidak terdominasi syahwat. Dan dalam kebutuhan ruhani untuk menyembah sesuatu Yang Agung, Islam memperkenalkan Tuhan dengan deskripsi yang sangat bisa diterima.

Hanya saja, manusia kebanyakan tidak tahu. Bisa karena tertutup info yang salah, atau tak sampai dakwah kepadanya.

Padahal bila sudah mengenal Islam, sekalipun ia orang yang kritis dan kuat logikanya, ia akan menerima Islam sebagai agama yang benar. Justru semakin rasio dipakai, semakin kuat Islam menancap.

Tapi ada satu hal lagi syarat menerima Islam. Yaitu hati yang jujur dan mau pasrah terhadap kebenaran yang telah tersingkap. Jangan seperti kaum Tsamud.

“Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu…” (QS Fussilat: 17)

Karena itu, tugas kita lah untuk menyingkap kabut tebal kesamaran akan ajaran Islam. Dalam sikap, hingga melalui media sosial, apa pun sarana itu harus menjadi informasi bagi orang lain tentang hanifnya agama ini.

Bila kita telah menghantarkan hidayah, selanjutnya urusan mereka dengan kejujuran hatinya. Tapi jangan sampai ada orang dekat kita yang tidak tahu bahwa Islam sesuai dengan fitrah mereka.

Yang terjadi pada akhina Deddy Corbuzier, Allah swt telah mengantarkan tamu-tamu yang memerantarai hidayah kepadanya dalam acara Hitam Putih. Ketika masyarakat meributkan kata kafir, ia undang ustadz untuk memberi penjelasan. Sempat juga hadir di acaranya penghafal Qur’an cilik yang membuatnya terpukau.

Deddy seorang rasional. Dan ketajaman logikanya bertemu ajaran Islam yang selaras dengan fitrah manusia. Fitrah untuk mengibadahi Dzat Yang Maha Agung, juga menjalankan ajaran yang penuh kebaikan yang disenangi jiwa yang tidak mengekang naluri manusiawi.

Jadilah ia yang dikecualikan dari akhir Ar Ruum ayat 30. Ia sudah tahu bahwa Islam itu hanif dan sesuai fitrah. Hatinya yang jujur pun mengantarkannya bersyahadat pada Jumat 21 Juni 2019 kemarin di Pesantren Ora Aji, Yogyakarta.

Barokallah, semoga istiqomah akh Deddy.

 

Ramadhan dan Tanah yang Subur

Apa yang Anda lakukan kalau diberi tanah yang sangat subur seluas satu hektar? (Aminin aja. Bulan Ramadhan lho). Ada metafora sebagai renungan sederhana di bulan suci ini.

Mungkin ada yang akan membangun istana sepenuh lahan itu. Tentu sayang sekali, tanah subur kok tidak dimanfaatkan untuk hal yang produktif.

Ada yang sebagian digunakan untuk berkebun, dan sebagian lagi dibangun rumah. Bisa luasan kebunnya, atau kebalikannya, atau fifty-fifty.

Ada yang sekedar membangun saung atau gubuk kecil tempat selonjoran kaki dan merebahkan badan. Sisanya kebun produktif.

Atau ada yang menjadikan kebun semuanya. Lalu untuk tempat tinggal dia, dibangun di tanah lain dari penjualan hasil kebun.

Tanah yang sangat subur itu diumpamakan bulan Ramadhan pengganda pahala berlipat-lipat. Kesuburan tanah akan terasa manfaatnya bila ditanami tumbuhan produktif yang menghasilkan uang. Maka Ramadhan pun akan terasa manfaatnya bila dalam bulan itu kita kerjakan berbagai aktivitas kebaikan.

Sayang sekali bila tanah yang subur dipakai untuk bermegahan. Dan celaka sekali bila bulan Ramadhan waktu kita habis dipakai untuk urusan dunia.

Puasa diisi dengan nonton film korea dari pagi sampai sore, atau keseringan nongkrongin media sosial, atau tidur seharian, supaya tidak terasa kalau puasa dan tahu-tahunya sudah maghrib. Itulah contoh pemanfaatan waktu yang tidak tepat.

Idealnya adalah memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Gubuk kecil atau saung, diumpamakan sebagai sedikit waktu untuk istirahat setelah penat. Tidur 15-30 menit, atau sesekali nengokin grup wa, boleh-boleh saja. Asal selebihnya dimanfaatkan betul untuk berdzikir kepada Allah.

Yang terbaik adalah yang bisa mengkonversi semua aktivitasnya menjadi ibadah. Maka niat lah menjadi kuncinya. Ketika mengantuk berat, segera diniatkan karena Allah untuk memberi hak kepada tubuh agar bisa kembali berativitas kebaikan. Maka itu bernilai ibadah.

Ia memilih waktu yang lain untuk leha-leha. Yaitu di akhirat kelak, setelah Allah swt mengganjarnya dengan surga karena ridho atas amal sholehnya selama Ramadhan ini.

Allahua’lam bish-showab.

 

Isra Mi’raj dan Ilmu Pengetahuan

Dengan apa manusia menyangkal Isra’ Mi’raj? Dengan ilmunya yang secuil.

Maka dulu mereka berkata tak mungkin bisa seseorang berjalan hanya dalam semalam hilir mudik Mekkah – Yerusalem. Seraya menyangka teknologi di zaman itu telah berada di puncaknya.

Waktu bergulir 14 abad kemudian. Dan tersibaklah ketidakmungkinan itu. Setelah burung besi ramai lalu lalang di angkasa.

Kini, penyangkalan berlanjut dengan, “tak mungkin alam semesta ini dilintasi hanya dalam satu malam”. Diajukan argumentasi teori kecepatan cahaya, teori relativitas, dan lain sebagainya. “Mustahil,” simpul mereka.

Bila misteri Isra’ saja butuh waktu 14 abad untuk dipahami, lalu berapa lama agar Mi’raj terdengar masuk akal?

Akhirnya keimanan menyudahi kerut kening yang keheranan. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun keyakinan akan peristiwa Isra Mi’raj tidak menanti akal terpuaskan.

Sebagian orang yang mengimani kejadian itu membuat spekulasi-spekulasi agar Isra Mi’raj bisa bersesuaian dengan teori-teori yang ada. Ya terserah saja. Namun bila kelak berkembang pengetahuan baru yang membantah yang sempat berlaku, jangan sampai ada iman mengempis.

Jangan sampai minder gara-gara apa yang harusnya diimani tak bisa dibuktikan oleh segenap teori di zaman ini.

John Dalton dibantah oleh JJ Thompson. Heliosentrisme membantah geocentrisme. Banyak penyakit yang dulu tak ada obatnya, kini bisa disembuhkan. Semua ilmu itu akan ada pembaharuan.

Tapi manusia angkuh. Di setiap penemuan anyar, ia menyangka telah mencapai puncak pengetahuan. Lalu dengan itu ia meremehkan apa yang dianggapnya tak masuk akal dalam ajaran agama.

Tak perlu minder. Tentang dua laut yang tak dapat bercampur, tentang perkembangan janin, fenomena pergerakan gunung, dan berbagai hal dalam Al-Qur’an yang telah terbukti oleh sains, itu pun tak menjadikan orang-orang kafir beriman.

Maka bersyukurlah yang telah dikaruniai hidayah dan taufik oleh Allah swt untuk mengimani semua ajaran Islam, yang masuk akal atau pun tidak.

 

Apa Manfaatnya Menulis Doa Di Media Sosial?

Menulis status di media sosial (medsos) harus siap dikomentari baik positif maupun negatif. Karena memang tujuan kita menulis status adalah untuk berinteraksi dengan follower atau friend di medsos. Termasuk menulis status doa, bisa ada yang mengaminkan, atau bisa ada yang malah mengkritik, “Tuhan gak punya akun socmed.”

Ya, ada yang beranggapan begitu, menulis doa di medsos hanyalah pencitraan dan tidak akan didengar Tuhan. Lebih baik doa dipanjatkan saat ibadah, bukan malah dipamerkan di depan umum.

Tapi mohon maaf, ada beberapa kesalahan dalam anggapan ini.

Tuhan Tidak Mendengar Doa Di Sosmed

Anggapan Tuhan tidak akan mendengar doa di medsos jelas salah fatal. Maha suci Allah dari anggapan itu. Allah swt Maha Mengetahui. Ia tahu apa yang terbersit di hati hamba-Nya. Ia juga tahu apa yang diucapkan oleh hamba-Nya, juga apa yang ditulis oleh hamba-Nya. Semua aktivitas suatu makhluk sangat diketahuinya dengan rinci.

Allah Maha Mendengar (As-Sami’) dan Melihat (Al-Bashir).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11).

Dan Dia Maha Mengetahui Perkara Yang Tersembunyi. (Al-Khobir)

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Sejatinya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Allah Maha Mengetahui (Al-Aliim). Bahkan apa yang kita tulis pada status media sosial, telah tertera dalam Lauhul Mahfuzh. Yaitu kitab berisi apa yang terjadi pada kehidupan.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

”Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al-An’am: 59)

Menulis Status Doa Tidak Bermanfaat

Sangat bermanfaat. Ada beberapa alasan menulis sebuah doa di status medsos:

1. Syiar Agama Islam

Kalau doa itu adalah doa yang ma’tsur (berasal dari Rasulullah saw), maka kita sudah ikut menyiarkan agama Islam. Misalnya yang paling sering dishare adalah doa saat turun hujan, itu baik sekali karena masih banyak muslim yang belum hafal doa saat turun hujan. Atau mungkin tidak tahu bahwa saat hujan turun, Rasulullah mengucapkan sebuah doa yang harus dijadikan ikutan oleh umatnya. Termasuk doa lain, misalnya doa meminta rezeki, doa keselamatan, doa meminta perlindungan kepada Allah, dll yang pernah Rasulullah contohkan.

Kalau doa itu bukan berasal dari hadits Rasulullah, maka kita sudah memberi contoh kepada netizen lain dalam hal berserah diri memohon kepada Allah swt.

2. Mengabarkan Hal Aktual Yang Patut Menjadi Perhatian Khalayak

Seperti saat perang di Palestina, menulis status doa di medsos mempunyai efek agar orang lain ikut menaruh perhatian pada apa yang terjadi di sana. Atau berdoa agar korban Sinabung diberi perlindungan Allah swt, membuat orang lain tersadar bahwa ada sesuatu yang terjadi di Sinabung.

Karena medsos bukan surat kabar yang punya gaya bahasa resmi. Medsos adalah media ekspresi pribadi di ruang publik. Mengabarkan apa yang terjadi di Palestina atau Sinabung di medsos, perlu cara yang membuat orang tertarik. Salah satunya adalah doa.

3. Agar Ada yang Mengaminkan

Kemustajaban doa orang lain yang tulus kepada kita, sudah digaransi oleh Rasulullah saw. Jadi, utarakan saja harapan kita di medsos melalui doa. Semoga ada yang meng-amin-kan atau berdoa dengan kata-katanya sendiri.

“Doa seorang muslim kepada saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan adalah mustajab. Terdapat malaikat yang menjadi wakiil baginya. Setiap ia berdoa kebaikan untuk saudaranya itu, malaikat tadi berkata, “Amiin dan untuk mu pula kebaikan itu.” (HR Muslim)

Pencitraan

Ikhlas atau riya’ adalah amalan hati. Orang lain tidak pernah tahu apakah suatu perbuatan dilakukan ikhlas atau riya’. Karena itu tidak boleh seseorang menghakimi niat orang lain.

Jangan pernah kita risih dengan kebaikan orang lain yang dilakukan di depan umum. Allah swt yang lebih tahu niatnya. Terkadang perlu ada yang mempelopori sebuah kebaikan agar ada yang mencotohnya.

Tidak Menghormati Follower/Friend Yang Beragama Lain

Anggapan ini ada, dan agak aneh juga. Karena doa yang ditulis di medsos sama sekali tidak mengganggu kerukunan umat beragama. Kecuali kalau tulisan itu mengandung penghinaan kepada agama lain. Justru kalau ada pemeluk agama lain yang tidak senang dengan sebuah status doa, itulah yang tidak toleran.

Media sosial memang ruang publik. Tapi tidak ada aturan yang melarang urusan agama dibawa ke ruang publik. Malah ketika warga negara bebas mengekspresikan semangat spritualitasnya di tengah khalayak tanpa ada yang mengganggu, saat itulah toleransi beragama sudah berjalan.

 

At-Takatsur dan Lampu Merah Kematian

Di jalanan yang ramai dan agak padat, awalnya Rossi membawa motor dengan santai. Namun ada pengendara lain yang bermanuver menjengkelkan. Rossi pun terusik, lalu meladeni tingkah pemotor itu. Sehingga terjadilah kebut-kebutan di jalan.

Kayak orang bener, mereka berdua meliuk-liuk di antara kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Kadang Rossi ada di depan, kadang yang lain makin ketinggalan. Maklum, Rossi mengendarai motor Yamahmud, mesin haus bensin pabrikan Jepang.

Mendekati persimpangan, Rossi melihat lampu hijau menyala dari kejauhan. Makin kesetanan lah ia. Tarikan gas makin dalam memburu rambu yang membolehkan kendaraan melaju.

Tapi sebentar kemudian lampu kuning menyala dan lampu hijau mati. Dan sesaat lalu giliran lampu merah yang hidup.

Menyadari ia harus berhenti juga di simpangan itu, Rossi pun menurunkan kecepatannya. Membiarkan lawannya melaju mendahului. Percuma balapan, nanti di depan lampu merah motornya akan berada berdekatan dengan motor lawan.

Rossi tersadar juga, buat apa sih balapan? Bukankah tujuannya sampai di rumah, bukan untuk beradu cepat dengan orang lain? Malah dengan trek-trekan itu bisa-bisa ia kecelakaan di jalan, dan sampainya di rumah sakit, bukan ke tujuan semula.

Asyik merenung, tak terasa Rossi sudah sampai di persimpangan. Menanti lampu hijau di samping motor lawannya tadi.

***

Sebuah ilustrasi lain.

Sejak dulu Rossi bersaing dengan sepupunya. Di bidang akademis saat masih sekolah dan kuliah, dalam hal pekerjaan setelah lulus, lalu berlanjut adu pamer rezeki pemberian ciptaan Allah.

Hingga suatu ketika kematian seorang teman yang ia pandang sukses, berdekatan waktunya dengan kematian kawan yang ia anggap kurang beruntung, menyadarkan Rossi.

Di garis kematian semua akan terhenti. Yang sukses maupun yang tidak akan berada berdampingan dalam kubur dengan keadaan tak punya apa-apa.

Sadarnya Rossi diperkuat lagi setelah ia membaca buku “Wahai Jiwaku Dengarkanlah” karangan Zico Alviandri yang berisi tulisan-tulisan taushiyah penuh makna bagi hidup. Buku yang sarat renungan, bahan kontempasi diri. Eeeh.. keceplosan ngiklan. Maaf. Maaf.

Setelah itu Rossi tak meladeni provokasi sepupunya. Ia biarkan anak pamannya itu memerkan karir, barang mewah, dan hal lain.

Rossi sadar, tujuannya adalah selamat sampai di surga. Aktivitas “At-Takatsur” yang dikecam oleh Allah bisa melalaikannya sehingga kehidupan akhiratnya celaka dan tak sampai ke tujuan.

***

Lampu merah kematian akan menghentikan semua orang. Yang ngebut maupun santai akan berhenti berdekatan. Yang berlimpah harta maupun yang berkekurangan akan berada dalam alam yang sama. Menanti kehidupan berikutnya.

Tak perlu ngegas mengejar dunia. Karena tujuan kita adalah akhirat. Sengebut apa pun akan terhenti juga di depan lampu merah kematian.

Yang kita cari adalah keselamatan sampai di tujuan. Yaitu urga Allah seluas langit dan bumi, yang kekal abadi.

Sementara apa yang kita kumpulkan di dunia akan lenyap pada waktunya.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS Ar-Rahman; 26-27)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS At-Takatsur: 1-2)