RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Saat Merasa Selalu Dirundung Masalah

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Pernah merasakan hidup teramat sulit, atau bahkan merasa orang yang paling sial di dunia? Tiap saat ada saja kesulitan yang datang. Kalau ada yang meminta untuk membuat daftar masalah yang sedang dihadapi, akan mudah menyusun list yang panjang.

Tetapi apa pun masalahnya, tak pernah ada alasan untuk mengeluh. Apalagi kalau mau sedikit berusaha menghitung perbandingan nikmat yang sedang didapat dan musibah yang sedang dihadapi. Sangat tidak sebanding.

Persoalannya, apakah kita akan bersikap adil bersikap terhadap nikmat dan musibah yang datang? Kalau besaran reaksi terhadap satu musibah sama dengan besaran reaksi terhadap nikmat, maka orang-orang akan melihat kita sebagai manusia yang senantiasa ceria. Karena musibah itu tertutup sudah oleh kenikmatan yang jauh lebih banyak didapat. Sadarkah?

Yang terjadi adalah, nikmat yang tiap detik dirasakan oleh manusia dianggapnya sebagai sesuatu yang memang layak didapat. Sesuatu yang wajar dan tak perlu ada reaksi apa-apa. Berbeda dengan masalah, dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang tidak wajar menimpanya. Akibatnya manusia lebih sering bereaksi terhadap musibah daripada nikmat.

Sikap seperti ini yang disitir oleh Allah swt.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij: 19-21)

Padahal Allah swt saat memberi sebuah kesulitan, menyertakan pula beberapa kemudahan. Bukan satu kesulitan satu kemudahan, tapi bersama satu kesulitan terdapat banyak kemudahan.

Ibnu Katsir memberikan tafsir pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 seperti tertulis di atas.

“Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh “Al-’usri” (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh “yusran” berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak.”

Keimanan di dalam hati kita akan membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an. Pembuktiannya mudah, tinggal hitung saja kenikmatan yang sedang kita rasakan. Syaratnya, kita harus membuka hati bahwa semua kemudahan, kelapangan, dan kesenangan yang kita rasakan itu bersumber dari Allah swt bukan karena kerja keras kita semata.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Tips agar bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt dengan senantiasa mengucapkan hamdalah saat terasa sebuah kesenangan. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS 93:11).

Dan terhadap kesulitan, bersikaplah ridho dan lapang dada. Lalu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat memang lebih banyak daripada kesulitan.

Advertisements
 

Ketika Doa Tak Terwujud

Sebuah ilustrasi. Spongebob sedih cukup dalam ketika ia gagal mendapat predikat employee of the month di restoran Krusty Krab tempatnya bekerja. Padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk beberapa kebutuhan yang ia harap bisa didapat melalui penghargaan itu.

Ia sudah berdoa siang malam dalam sujud panjangnya tiap sholat maupun waktu-waktu mustajab lain. Tapi tak disangka, harapannya tak terkabul kali ini. “Apakah Tuhan mengacuhkan aku?” tanyanya dalam hati.

Ya, ia mulai menggugat Tuhan. Mengapa tak dikabulkan bisik penuh harapnya itu. Dan apa yang salah? “Oke, oke, aku pasti punya dosa. Tapi apa telah tertutup bagiku untuk memanjatkan doa?” Spongebob bingung, sedih, dan kecewa.

Ketika pulang kerja, di parkiran ia menghidupkan motor transparannya pemberian paman Mermaid Man. Sembari menanti mesin panas, Spongebob berdoa untuk keselamatan seperti yang biasa ia lakukan bila hendak bepergian. Dan seketika hatinya terenyuh.

Ia mendadak sadar bahwa setiap hari Allah mengabulkan doanya. Buktinya, ia selalu selamat pergi dan pulang dari kerja. Bahkan ketika harus lembur sampai dini hari, ia tetap pulang dengan selamat meski melewati jalan yang rawan begal.

Spongebob jadi sadar, bahwa pengabulan Allah terhadap doanya lebih banyak daripada yang (ia sangka) tertolak. Ia pun merenung, bahwa doa yang rutin diucapkan agar mendapat keluarga yang samara dengan anak-anak yang menjadi qurrota a’yun sebenarnya telah terwujud. Doa untuk mendapat kesehatan juga sering terkabul meski ada kalanya sakit ringan melanda. Juga doa mendapat kelapangan rezeki karena nyatanya ia sedang dalam kecukupan.

Ia juga tiap hari berdoa memohon ampun kepada Allah, memohon ditunjukkan jalan yang lurus. Dan sampai kini ia istiqomah dengan Islam sebagai minhajul hayah.

Spongebob menyusuri jalan pulang dengan hati yang masih sedih tapi dikuat-kuatkan. Teringat ia akan surat An-Najm ayat 24. “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” Konteks ayat itu sebenarnya menyangkal prasangka orang musyrik bahwa mereka akan mendapat syafaat dari sembahan selain Allah swt. Tetapi redaksi ayat tersebut secara harfiah juga sekaligus membantah bahwa manusia pasti akan selalu mendapat yang ia inginkan. Belum tentu.

Spongebob mengangguk perlahan. Ia tersadar, bahwa doa hanyalah sebuah proposal kepada Tuhan. Namun bukanlah komando layaknya atasan kepada bawahan.

Masalahnya, manusia (eh.. Spongebob mah spons ya…?) si pembuat proposal itu pengetahuannya terbatas, tak mengetahui yang ghaib, serta berlumur nafsu sehingga apa yang diajukannya itu belum tentu yang terbaik bila menyangkut urusan dunia. Allah yang lebih tahu yang terbaik untuknya.

Bukan doa tak terjawab. Tapi angan-angan yang tak terwujud.

Spongebob teringat cerita bagaimana Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. mengarungi hari bertahun-tahun bersama doa mendapat keturunan. Dan Allah tahu saat yang tepat untuk mengabulkan doa itu. Sehingga Ismail a.s., Ishaq a.s., dan Yahya a.s. adalah sosok luar biasa yang hadir di bumi berdasar skenario Allah swt.

Allah telah mempersilakan hamba-Nya berdoa. Namun “falyastijibuu lii”, “penuhi perintah-Ku” kata Allah dalam QS Al-Baqarah:186, termasuk perintah berbaiksangka dan ridho atas ketetapan Allah. “Wal yu’minuu bii”, dan berimanlah dengan sifat Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Ia tak kan menzholimi hamba-Nya.

Berdoalah, haturkan permohonan. Bila sudah, Allah bebas untuk memodifikasi skenario yang kita inginkan. Konten doa urusan Allah, sedang urusan kita untuk ridho pada apa yang akan terjadi.

Spongebob mengangguk. Sampai di rumah, hatinya agak lapang. Sedihnya berkurang.

Tapi setengah jam lagi bakal kepikiran lagi dan bakal sedih lagi. Yhaa…

 

Semangat Ibadah dan Masa Promo

SPG itu tersenyum manis. “Mau berlanganan AndalehTV pak? Lagi masa promo. Sebulan seratus ribu rupiah saja. Bisa nonton channel-channel dari luar negeri bahkan planet lain,” katanya.

Seseorang yang lewat di depan stand AndalehTV itu tertarik. “Kapan lagi bisa nonton banyak channel dengan modal cuma Rp 100.000,” pikirnya. Terjadi deal. Dan esoknya televisi orang tersebut telah terpenuhi puluhan saluran pilihan.

Lantas berselancar lah ia dari tayangan satu ke tayangan lain. Yang paling membuatnya terkesan adalah channel olahraga. Pertandingan-pertandingan langsung sepakbola dari liga ternama di dunia bisa ia nikmati. Tak perlu ke luar negeri dan memesan tiket.

Namun, yang namanya masa promo, tentu ada jangka waktunya. Setelah tiga bulan, hanya channel lokal yang bisa ia akses. “Buat apa bayar kalo cuma nonton siaran stasiun lokal?” pikirnya.

Lalu ia menghubungi customer service AndalehTV. Jawaban petugas, kalau masih mau nonton saluran olahraga serta channel pilihan lain, harus membayar sampai Rp 300.000. Orang itu terlanjur ketagihan dengan siaran langsung sepakbola. Akhirnya ia bersedia membayar lebih. Asalkan masih bisa menikmati tayangan favoritnya.

Masa promo itu berhasil menggaet seorang pelanggan yang rela berkorban lebih setelah tahu bahwa ada manfaat yang bisa ia dapat.

***

Sadarkah kita, dalam menyembah-Nya ada fenomena yang mirip dengan ilustrasi di atas?

“Al imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Itu lah prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada masa-masa rajin karena Allah memberi rasa semangat ke dalam jiwa. Beribadah begitu ringan. Kalbu terasa lapang dengan isak tangis di malam hari. Terasa melegakan lapar dahaga di siang hari. Manisnya iman dikecap. Cinta kepada Allah memenuhi dada.

Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya. Rasulullah saw mengajarkan umatnya doa berikut:  “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” (HR.Muslim)

Lalu, sebagaimana fitrah manusia, datanglah rasa bosan. Ibadah yang tadinya ringan, mulai terasa berat. Kiranya Allah tengah menguji orang yang telah merasakan nikmatnya beribadah itu dengan mood yang berkurang tak seperti kemarin.

Masih mau merasakan syahdunya sholat malam? Bisa, tapi tidak mudah. Indahnya kondisi jiwa ketika “masa promo” di saat hati sedang giat, mensyaratkan orang yang tengah futur itu harus melawan kantuk dan rasa malas demi kembali dapat rasakan sejuknya hati di kala sujud.

Mau kembali rasakan kelegaan di kala berlapar dahaga? Bisa, tapi tidak mudah. Saat hati tak seantusias kemarin, perlu perjuangan ekstra agar tetap menjalankan rutinitas shaum sunnah.

Tapi pilihan di tangan Anda. Bisa saja rasa malas itu dituruti. Kalau begitu, Anda membiarkan rasa manisnya beribadah yang telah Allah berikan tak terulang lagi. Memang ada gantinya. Kenikmatan duniawi berupa tidur yang nyenyak, rasa kenyang di hari yang terik, dsb.

Untuk jiwa yang sedang terliputi rasa bosan dan malas, coba kenang lagi lezatnya ibadah saat masa semangat. Yakin mau berhenti berlangganan indahnya taat kepada Allah?

Zico Alviandri

 

“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri

 

Halaqoh dan Solusi Hijrah

Berapa kuota maksimal melakukan pembunuhan agar masih punya kesempatan bertaubat? Seorang pembunuh di zaman Bani Israil dengan membawa catatan rekor telah membantai 99 jiwa datang menemui seorang sholeh. Ia kemukakan kegundahannya belakangan, “masihkah saya punya kesempatan bertaubat?” Begitu kira-kira katanya.

Mimpi apa rahib itu semalam? Apakah Westerling lahir kepagian? Padahal bagi Allah, membunuh satu nyawa saja sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Maka, pikir sang rahib, sudah tak bisa lagi taubat si pembunuh diterima.

Lalu… KRASSSSHHH…. Mohon bayangkan itu bunyi pedang yang membabat tubuh, supaya ada dramatisasinya. Singkat cerita, sang rahib menjadi orang ke-100 yang dibunuh dengan kejam oleh tamunya. Si sumbu pendek meletup lagi karena kecewa harapannya untuk bertaubat divonis telah tertutup. Dapat hadiah apa bila telah genap angka 100? Payung cantik? Atau gelas, mangkok, piring?

Masih penasaran, si pembunuh bertanya lagi kepada orang-orang, siapa manusia paling berilmu tempat berkonsultasi tentang pertaubatan. Mendapat sebuah nama, pembunuh itu pun pergi menemui. Dan Allah perjumpakan. Setelah mendengar pengakuan dosa, sang alim menjawab dengan ilmu yang dimilikinya.

Pintu taubat senantiasa terbuka bagi setiap hamba selama ruh masih belum tercerabut dari badan. Termasuk bagi si pembunuh. Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Namun ada satu syarat agar taubat itu sukses. Si pembunuh harus meninggalkan lingkungan tempat ia tinggal sekarang, dan beranjak ke suatu daerah yang dihuni orang-orang sholeh. Agar ketaatan pribumi di sana bisa senantiasa menginspirasi diri untuk menjadi lebih baik.

Saya yakin pembaca sudah banyak yang tau kisah ini. Bahwa kemudian kematian mendadak di tengah perjalanan mencegah si pembunuh sampai ke daerah yang disyaratkan orang alim tadi. Selanjutnya terjadi perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat siksa, siapa yang berhak mendapat proyek mengurus arwah manusia super itu. Lalu karena posisi jenazah lebih dekat kepada kampung hijrah yang dituju, maka arwah pembunuh itu pun bersama malaikat rahmat.

Ronin-Ronin Muhajirin

Nabi Muhammad saw lah yang menceritakan hadits di atas, termaktub dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim. Tak hanya beribrah bahwa taubat buat manusia selalu terbuka, tapi juga pelajaran tentang bagaimana taubat bisa sempurna.

Hijrah dan lingkungan yang baik. Itu lah kunci yang ditunjukkan oleh orang alim pada cerita di atas. Harus ada pergerakan meninggalkan lokasi yang tak kondusif menuju bi’ah (lingkungan) yang memacu penghuninya berlomba pada kebaikan.

Hijrah, kata ini sedang trend di tengah masyarakat. Bukan cuma karena beberapa bulan lalu ada hari besar tahun baru Hijriyah yang memuat cerita pindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kata ini marak seiring meningkatnya gairah keislaman masyarakat Indonesia, terutama di kota besar. Umat muslim zaman now dimanjakan dengan fasilitas teknologi informasi yang membuat mereka bisa menimba ilmu di mana saja kapan saja berbekal gawai terhubung koneksi internet. Antusiasime belajar Islam ini merupakan hal yang menggemberikan. Diikuti dengan kemauan menjadi lebih baik, yang diistilahkan dengan hijrah.

Ya mereka ada semangat hijrah. Tapi kemana? Tentu kepada cara hidup yang lebih baik, yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Hijrah dalam artian pindah perilaku. Tidak sampai pindah tempat tinggal sebagaimana yang dipraktekkan pembunuh dalam cerita di atas, dan juga Rasulullah saw serta para sahabatnya.

Satu syarat lagi, lingkungan yang baik. Di mana para muhajirin anak baru ghiroh (ABG) itu mendapatkannya? Ini yang sering luput. Saya temukan langsung orang-orang yang senang memutar video youtube; membaca tulisan di facebook, whatsapp; dll yang bertemakan ilmu keislaman; namun mereka tak punya guru yang membimbing atau komunitas orang sholeh tempat saling mengingatkan. Mereka otodidak belajar Islam.

Lantas, karena maraknya kajian di media sosial ini diiringi dengan dialektika – dari yang santun sampai taraf tahdzir kelas eksekutif, mereka pun tak jarang terbawa dalam perdebatan. Jadilah mereka sebagai ronin, samurai tak bertuan, yang membabat lawan-lawan diskusi berbekal apa yang didengar di kajian, apa yang ditonton di youtube, atau apa yang dibaca dari tulisan di media sosial.

Ronin-ronin muhajirin ini fenomena yang menyedihkan sebenarnya. Lingkungan islami tak ada, hanya berteman koneksi internet yang kadang dibuat untuk kebaikan dan kadang masih dipakai untuk sisa-sisa kelakuan jahiliyah. Di sisi lain mereka sudah punya sparring partner untuk adu urat.

Liqoat Tarbawi, a Small Islamic Environment

Sebenarnya ada solusi hijrah di tengah masyarakat yang antusias menuntut ilmu. Perangkat-perangkatnya lumayan lengkap. Ada pertemuan pekanan tempat mengkalibrasi pemahaman Islam dan tempat memonitoring progress perbaikan diri. Itu lah yang orang sering sebut dengan liqo’ atau halaqoh tarbawi.

Ustadz Ihsan Tanjung ketika diwawancarai Majalah Al Izzah tahun 2000an dulu, mendeskripsikan halaqoh tarbawiah sebagai small Islamic environment. Lingkungan islami yang kecil. Ia istilahkan juga dengan laboratorium islami pembentuk kepribadian muslim.

Sesuai dengan ahdaf/tujuannya, liqo’ ini yang memperkenalkan Islam secara jelas, yang menyeluruh dan shahih bersumber dari Rasulullah, kepada para muhajirin milenial. Kemudian diajaknya para peserta halaqoh itu untuk berinteraksi dengan ajaran Islam: menanamkannya dalam aqidah yang dasar, membentuk pola pikir islami, menyelaraskan selera dan rasa yang islami, serta mengubah tampilan luar serta perilaku amal sesuai ajaran Islam. Lalu jadilah jalan hidup mereka tershibghoh (tercelup) dalam pewarnaan Islam.

Liqo’ ini juga yang membentuk interaksi antar sesama anggotanya menjadi lingkungan tempat saling mengingatkan dan berlomba pada kebaikan. Mereka dipersatukan dengan menelusuri rukun-rukun ukhuwah, yaitu ta’aruf (perkenalan), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaful (saling memikul beban).

Allah yang mempersatukan mereka. “dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal: 63)

Liqo’ juga bersifat ri’ayah ma’nawiyah, atau pemeliharaan semangat berislam dengan kaffah. Dengan membaurkan diri dalam lingkungan orang-orang yang senantiasa antusias, maka futur (rasa malas atau bosan yang datang setelah semangat) akan tergerus suasana.

Ini lah komunitas hijrah yang terarah.

Problematika “Kakak Kelas”

Sebagaimana kritikan seorang ustadz salafi zaman now yang sedang viral, liqo’ dianggap bermasalah karena sering kali yang menjadi murobbi atau pembina dalam halaqoh itu adalah kakak kelas di kampus. Dinilainya kebanyakan sang murobbi bukan lah orang yang punya ilmu mumpuni, bahkan tak mampu berbahasa arab.

Kritik itu terbangun dari pemahaman terhadap halaqoh yang salah. Karena liqo tidak seperti kajian umum. Ia adalah laboratorium hijrah kecil, small Islamic environment, bukan ta’lim dengan peserta ramai diisi oleh ustadz yang ahli dalam bidang tertentu.  Liqo’ juga adalah komunitas tempat saling menjaga semangat menjalankan Islam.

Kegiatan dalam halaqoh biasanya setoran hafalan quran, evaluasi implementasi sunnah dalam keseharian, tahsin, tak jarang juga ada sharing berupa kultum bergilir, dan agenda kebaikan yang disepakati bersama. Memang disampaikan juga materi keislaman dasar, tapi sang murobbi tentu sudah pernah mendapatkannya dari liqoat yang dia ikuti di kelompok lain.

Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah seorang manajer yang baik untuk sebagai murobbi, yang bisa mengkoordinir agenda-agenda itu. Yang terpenting ia bisa memberi keteladanan dalam kesungguhannya menghafal quran, hadits, menjalankan sunnah, berakhlak baik, dan mengikuti ta’lim-ta’lim ilmu. Ia jug bisa memotivasi anggotanya melawan rasa futur dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Selain itu murobbi adalah mentor hijrah bagi para new comer dalam dunia perhijrahan. Layaknya pebisnis mula memerlukan seorang mentor yang membimbingnya dalam dunia bisnis, begitu juga para muhajirin, mereka memerlukan senior yang sudah lebih dulu hijrah yang mengarahkannya agar konsisten dan berada di jalan yang benar.

Ada cerita seorang yang baru bergeliat gairah belajar islamnya, tapi tak punya pembimbing. Akhirnya bahan bacaan yang ia tekuni sehari-hari adalah tentang freemasonry dan dunia teori konspirasi. Sayang sekali, tak terarahkan. Kalau dia tergabung dalam halaqoh yang dibina seorang murobbi, tentu ada yang melatihnya dengan sunnah-sunnah yang dimulai dari yang ringan, merekomendasikannya bacaan-bacaan yang dibutuhkan, dsb.

Mentor hijrah ini tentu lebih berkesan bila ia adalah seorang senior yang sudah berpengalaman memperbaiki diri (dulunya juga pernah nakal). Dibanding seorang ustadz yang dari kecil terliput dalam lingkungan yang baik di pesantren, senior dalam dunia hijrah punya lebih banyak cerita dan pengalaman serta lebih nyambung diajak curhat oleh juniornya.

Tapi tetap lebih banyak sisi positifnya bila seorang ustadz yang menjadi murobbi. Karena lebih kecil kemungkinan ia berbicara di luar ilmunya. Dibanding senior di kampus umum yang terbatas hafalan quran, hadits, serta bahasa Arab. Masing-masing ada kelebihan.

Soal larangan berbicara tanpa ilmu, itu adalah hal yang diwanti-wanti benar ketika seorang masuk ke dalam halaqoh. Karena muhajirin new comer sering terjebak euphoria atas ilmu yang baru ia dapat. Ia bisa terjebak dalam sikap merasa lebih baik dari yang lain, lalu memamerkan ilmunya yang tak jarang ditambah-tambahkan sendiri.

Tapi kondisi begitu tidak cuma berpeluang terjadi dalam halaqoh yang dibina senior di kampus. Di media sosial malah mudah kita dapati fenomena ini. Pun, asatidz banyak juga tergelincir dalam kesalahan perkataan. Misalnya menganggap densus seperti mujtahid, atau menganggap walisongo tak ada bukti otentik, mencela surban pahlawan nasional, dll.

Entahlah, saya rasa bukan soal liqo itu diisi senior di kampus atau tidak. Andai ustadz Adi Hidayat yang menjadi murobbinya, rasanya tetap saja tak kan memuaskan kelompok pengkritik itu. Tahu kan kenapa….

Zico Alviandri

 
 

Garuda Muda, Sudah Pandai Bersyukur, Harus Lebih Pintar Lagi Bersabar

Sangat membanggakan melihat selebrasi gol pemain-pemain muda timnas sepakbola Indonesia. Mereka berlari ke tepi lapangan dengan ekspresi gembira, mengambil posisi, lantas menjatuhkan lutut untuk kemudian bersujud syukur dengan sempurna. Beberapa pemain berderet melakukan itu, tak hanya pencetak gol. Pemandangan begini sudah biasa kita lihat dalam pertandingan timnas U22 yang kemarin berlaga di Sea Games, juga U18 di piala AFF yang digelar di Myanmar baru-baru ini.

Perayaan seperti itu jauh lebih baik daripada, misalnya, gaya selebrasi pemain U18 Myanmar yang banyak disoraki warganet. Mereka bergaya alay atau goyang banci yang bikin empet orang yang melihatnya.

Bagus! Garuda muda Indonesia sudah pandai mensyukuri nikmat Allah swt berupa gol yang mereka lesakkan. Mudah-mudahan itu lah alasan tim U18 kemarin bisa menang dengan angka-angka yang telak. Skornya sampai 9-0 melawan Filipina, 8-0 melawan Brunei, dan tuan rumah negara teroris Myanmar dihabisi 7-1 di laga perebutan tempat ketiga.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Tapi ingat, adik-adik harapan pecinta sepakbola Indonesia, seorang muslim itu tak hanya pandai bersyukur. Ia juga harus mampu bersabar.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur dan sabar adalah perasaan yang saling melengkapi menghadapi kondisi hidup yang sering berubah seperti roller coaster.

Tak banyak teori tentang syukur. Karena dalam kondisi bahagia, orang justru tak butuh kata-kata penyemangat. Tapi nasihat-nasihat tentang sabar bertebaran di mana-mana. Karena sabar itu tak hanya dalam menghadapi musibah. Menurut ulama, sabar itu ada 3 macam.

Pertama, sudah jelas, sabar ketika menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. Dan ketiga, sabar dalam menjauhi larangan Allah swt.

Nah, sabar jenis ketiga ini lah yang harus dipegang kuat di dalam lapangan. Kenapa? Karena provokasi dari lawan itu termasuk godaan untuk melanggar perintah Allah, yaitu kita merespon dengan kekerasan. Tentu di atas lapangan, respon seperti itu merugikan karena wasit akan langsung memberi sanksi yang tegas.

Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari kartu merah yang diterima Hanif Sjahbandi pada laga penyisihan Sea Games ketika melawan Vietnam. Juga kartu merah Sadil Ramdani ketika melawan Thailand di semifinal AFF U18. Dua-duanya bereaksi karena diprovokasi lawan. Bangsa ini bisa memaklumi kok. Kalian masih muda. Punya darah menggejolak. Gengsinya masih tinggi. Sehingga gampang lepas kontrol menghadapi lawan yang banyak tingkah. Tapi jangan terulang lagi kasus begini.

Bangsa ini ingin melihat para pemain yang punya mental baja. Tak terpancing provokasi lawan. Tetap semangat dalam kondisi tertekan. Dan tak juga jumawa saat mendapat kemenangan. Itu lah manifestasi rasa sabar dan syukur yang telah komplit dalam diri seorang atlet.

Tetap semangat!

 

Derita Rohingya Tanggung Jawab Kita

Sebagaimana topografi bumi yang tak rata namun menjadikannya indah, seperti itulah kehidupan umat manusia. Ada yang diberi kelebihan, dan ada yang kekurangan. Dari ketidaksetaraan itu menghadirkan keindahan: rasa berbagi dan saling membantu.

Betapa banyak insan yang tak kenal Tuhannya lantas menganggap Sang Pencipta tak adil begitu melihat keanekaragaman nasib manusia. “Mengapa banyak yang menderita, sedangkan masih ada yang rakus kuasa dan harta. Di mana keadilan Tuhan?” pikirnya.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Itu penjelasan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32. Agar yang lemah bisa mendapat manfaat dari yang kuat, agar yang lebih bisa memberi kepada yang kurang. Allah jadikan nasib manusia yang tak sama sebagai ajang bagi insan untuk menjadi yang terbaik. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani).

Itu lah tujuan Allah swt menciptakan kehidupan. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)

Selagi hidup di dunia, mau kah kita menjadi manusia dengan amal terbaik? Di zaman ini, tak susah mencari manusia yang perlu kita beri manfaat. Terbentang jalan di depan, pada jerit ratap suku Rohingya di Myanmar. Sedangkan bila kita abai atas jeritan itu, apakah kita menyangka masalah ini tak akan Allah singgung saat mempertanggungjawabkan amal di hadapan-Nya?

Pada mereka yang tertindas, kita punya amanah. Bila hati masih merasa terusik, itu adalah anugerah. Panggilan untuk menghias hidup dengan keindahan ta’awun (saling menolong).

Bila tak ada power untuk cegah junta militer berlaku sewenang-wenang, maka berjihad hadap diri dari sifat bakhil!