RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Memuhasabahi Maulid Nabi

Tepiskan dulu perdebatan berabad-abad tentang bid’ah atau tidaknya maulid nabi. Belum saatnyakah kegiatan tiap tahun ini dievaluasi? Bukan menggugat peringatannya, tapi efektifitas isi acaranya.

Memang kebenaran kisahnya perlu diuji oleh sejarawan, tentang Sholahuddin Al Ayyubi yang membangkitkan semangat umat Islam dengan maulid dan barzanji. Terlepas shahih tidaknya cerita itu, bukankah yang diinginkan dari peringatan maulid adalah perbaikan kondisi umat muslim? Lalu sudah sejauh apa efektifitasnya?

Ketika Ratib, Maulid Barzanji, Dibayiah, Simtudduror, Syarfal Anam dibacakan, berapa persen hadirin yang mengerti lalu tergugah semangatnya? Jangan sampai mereka yang hadir sekedar mendengar lantunan tanpa paham makna.

Ketika tetabuhan bergemuruh, apakah sudah mampu memantik semangat kebangkitan Islam? Atau sekedar irama penyemarak?

Ketika berdiri menghormati Nabi, sedalam apa penghayatannya? Kira-kira bila beliau hadir di hadapan, mampukah hadirin menceritakan kondisi umat Islam yang terpuruk saat ini padanya? Sanggupkah melihat raut kecewanya?

Ketika bangkit menghormati Nabi, tidak tergerakkah hasrat untuk membangkitkan izzah umat Islam? Agar tak ada lagi yang berani menghinanya.

Ketika bangun untuk menghormati Nabi, tidakkah tebersit malu padanya dengan kondisi umat yang terpecah belah?

Kemudian bagaimana dengan ceramah-ceramah maulid, apakah mampu memotivasi hadirin untuk meneladani Rasulullah di semua aspek kehidupan? Karena kalau itu yang terjadi, maka umat Islam jaman ini akan kembali mulia sebagaimana jaman sahabat. Maka jangan sampai ceramah maulid hanya sekedar konten komedi tanpa membekas di hati.

Bagaimana caranya agar peringatan maulid di negeri ini bila dihadiri pejabat maka ia akan malu untuk korupsi, atau taubat bila terlanjur?

Bagaimana caranya agar peringatan maulid di negeri ini bisa membuat pemuda pemudi mengidolakan Rasulullah yang paling utama dari artis-artis Korea?

Bagaimana caranya agar peringatan maulid di jaman ini bisa membuat kafir harbi penghina nabi tak lagi berani membuat karikatur atau olok-olok lainnya?

Wahai alumni maulid, berakhlaklah seperti Nabi dan sebarkan akhlak itu ke penjuru bumi.

Wahai alumni maulid, berdirilah dalam majelis dengan tekad membuat Nabi bangga pada umatnya.

Wahai alumni maulid, jadilah kalian seperti Sholahuddin Al Ayubi. Bahkan jadilah kalian seperti para sahabat yang dekat dengan pribadi Rasulullah.

Agar majelis yang diselenggarakan tiap tahun tak hanya ritual belaka tanpa makna dan membekas.

 

Antara Pelacur dan Pemuda Sholeh

Dari dulu pelacur begitu gencar memusuhi orang sholeh. Juraij, seorang pemuda Bani Israil telah merasakan fitnahnya.

Andai Juraij menjawab panggilan ibunya ketika ia sedang sholat sunnah, tentu fitnah itu tak terjadi. Namun kejengkelan ibunya telah memuncak. “Ya Allah, ini adalah Juraij. Dia adalah anakku. Aku mengajaknya berbicara, tetapi dia menolak,” adunya. “Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sebelum Engkau memperlihatkan kepadanya wanita pezina.”

Masih beruntung Juraij tidak dikutuk menjadi batu di Pantai Air Manis, Padang. Tapi doa itu saja sudah cukup membuat susah hidupnya.

Seorang pelacur yang molek tertantang untuk menaklukkan pemuda sholeh tersebut. Ia punya rekor menaklukkan pria lebih hebat dari rekor kemenangan 29-0 milik Khabib Nurmagomedov. Tapi Juraij begitu sholeh. Tak mudah takluk dirayu begitu saja.

Tak dapat Juraij, malah seorang penggembala yang diajak berzina. Lalu ketika hamil, diaku-akulah bahwa itu anak pemuda yang terkenal sholeh seantero kampung.

Saat itu test DNA tidak ada. Pelacur mana peduli asal benih yang dikandungnya. Makanya lucu kalau ada pelacur yang menantang orang test DNA. Siapa sih itu?

Orang kampung mempersekusi Juraij. Singkat cerita, orang jujur dimenangkan Allah swt. Bayi yang dilahirkan pelacur itu tiba-tiba berbicara menjawab fitnah tersebut. “Bapakku adalah fulan penggembala kambing.” Case closed.

Kisah lain terjadi juga pada seorang sholeh yang bertemu wanita nakal. Sebuah jebakan dipersiapkan sehingga pemuda tadi masuk ke rumah perempuan tersebut. Setelah di dalam, pintu dikunci.

“Kamu tidak bisa lepas dari saya sebelum engkau minum segelas arak ini atau engkau berzina dengan aku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?” kata si pezina.

Pemuda sholeh memilih arak yang disangkanya risiko terrendah. Tapi ia salah. Dalam keadaan mabuk ia berzina dengan wanita tadi. Dan anak kecil itu juga jadi sasaran oleh akal yang tertutup.

Tapi pelacur pernah taubat juga. Pada kisah lain yang juga terjadi di jaman Bani Israil, seorang pemuda sholeh bangkit syahwatnya ketika lewat di depan rumah wanita yang sedang mangkal. Ia pun mengumpulkan uang untuk melampiaskan hasrat itu.

Setelah berada satu ranjang dengan si gadis (ya kali gadis…), pemuda tadi menjalankan bidak e2-e4 sebagai pembukaan Spanyol. Eh… kok malah maen catur. Ngaco nih…

Jadi gini, pemuda tadi yang sudah tinggal mengeksekusi, malah tiba-tiba ketakutan. “Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT, Tuhanku, maka izinkanlah aku untuk keluar!” ujarnya. Mungkin si pelacur dalam hati berbicara, “kan lu sendiri yang mau masuk ke sini, Bambaaang…”

Melihat ekspresi pemuda yang ketakutan sembali berucap “celaka dan rusak”, pelacur itu pun tersentuh hatinya. Ia sadar, lalu seiring waktu bertaubat dengan sungguh kepada Allah swt.

Lalu gadis (masih aja dibilang gadis) tersebut, mencari rumah si pemuda untuk minta dinikahi sekaligus minta diajarkan agama. Ketemu. Tetapi begitu melihatnya, pemuda sholeh itu langsung menjerit keras dan wafat.

Singkat cerita, kesungguhan taubat si wanita ditunjukkan dengan menikahi pria sholeh yang miskin yang masih bersaudara dengan pemuda tadi. Dalam kisah ini disebutkan Allah memberi karunia tujuh putra yang menjadi nabi di tengah Bani Israil. Allahua’lam.

Begitulah cerita tentang pelacur dan pemuda sholeh. Sudah dari jaman dulu pelacur cari gara-gara dengan orang sholeh. Tak bisa akur, kecuali si pelacur bertaubat kepada Allah swt.

Meski memang kita tidak boleh memvonis akhir dari hidup seseorang. Karena ada kisah pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing ketika ia sedang kehausan di akhir hayatnya.

Eitts… Tapi ada catatannya. Bila dianalisa, jelaslah bahwa wanita itu menjadi pelacur karena terdesak keadaan. Kalau tidak, mana mungkin ia sampai kehausan lalu berjalan mencari sumur. Hidupnya jelas beda dengan pelacur yang rate-nya puluhan sampai ratusan juta rupiah yang melonte karena rakus dunia.

 

Mumi Mesir dan Surat Ghofir

Apakah Anda membaca berita penemuan peti mati di Mesir yang berusia 2.500 tahun baru-baru ini? Harusnya tulisan ini serius. Tapi sebelum membahas penemuan itu, mohon izin untuk menyelipkan sebuah cerita humor (tentu saja fiksi) yang punya korelasi dengan tema.

Para ahli sejarah meneliti peninggalan zaman purba di tiga negara: Inggris, Jepang, dan Indonesia. Penggalian dilakukan. Dan pada kedalaman 200 meter para peneliti menemukan tembaga di sebuah daerah di Inggris. Lalu disimpulkan bahwa sejak 10.000 tahun lalu masyarakat Inggris sudah menggunakan kawat tembaga untuk berkomunikasi.

Di Jepang, pada kedalaman 500 meter ditemukan serpihan kaca yang disimpulkan bahwa sejak 10.000 tahun lalu masyarakat Jepang sudah menggunakan teknologi fiber optic.

Berbeda dengan di Indonesia, sudah 1000 meter lebih kedalaman digali namun tak ditemukan suatu hal yang menarik. Kesimpulan diambil, bahwa masyarakat Nusantara sudah menggunakan teknologi wireless (tanpa kabel) sejak 10.000 tahun lalu.

Kembali ke dunia nyata, baru-baru ini di awal Oktober 2020 di Mesir ditemukan 59 peti mati kuno yang terawetkan yang telah terkubur sejak 2.500 tahun lalu. Melanjutkan penemuan 14 peti mati pada awal September sebelumnya.

Arkeolog mendapat banyak limpahan peninggalan kebudayaan kuno di Mesir. Dari bangunan hingga teknologi pengawetan mayat. Bahkan jasad Fir’aun yang didakwahi Musa a.s. pun disinyalir telah ditemukan.

Piramida yang menjulang tinggi, hieroglif atau aksara Mesir yang terukir di bangunan-bangunan yang masih berdiri, makam para raja/Fir’aun, mumi, Sphinx dan patung-patung, menyisakan jejak adanya peradaban maju dua-tiga millenium yang lalu.

Dan peninggalan-peninggalan itulah yang disinggung Allah swt dalam Al-Qur’an surat Ghafir dua kali.

Pertama dalam ayat ke-21.

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.”

Dan yang kedua, ayat ke-82

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.$

Kedua ayat tersebut tentu Allah sengaja letakkan di sebuah surat yang membahas 20 ayat (dari ayat ke-23 sampai ke-42) tentang dakwah tauhid di Mesir. Yang juga menarik dalam penggalan kisah di surat tersebut, sebagai tokoh utama adalah seorang pemuda dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya lalu berusaha mengajak kaumnya beriman atas apa yang disampaikan Musa a.s.. Pemuda itu juga menggunakan pengaruhnya untuk menggagalkan pembunuhan kepada Rasulullah.

Ayat ke-21 di atas didahulukan untuk membuka cerita dakwah di Mesir, di kerajaan yang hingga kini dunia modern masih menemukan peninggalan-peninggalannya yang menakjubkan. Lalu ayat ke-82 diulang lagi dengan redaksi yang hampir serupa sebelum surat Ghafir itu berakhir untuk menjaga fokus pelajaran kepada pembacanya.

Bisa dipahami bila Allah gunakan redaksi “mereka lebih hebat” dalam dua ayat tadi ketika yang diajak bicara adalah orang-orang Quraisy yang tak mampu membuat bangunan seperti Piramida. Lalu bagaimana dengan jaman sekarang ketika gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dan teknologi komunikasi sudah begitu canggih? Rasanya kita akan menganggap peradaban modern lebih hebat dari era Firaun.

Ya tetap saja, sehebat apapun peradaban itu bila penduduknya tidak beriman kepada Allah swt, maka sebuah ketentuan berlaku: adzab akan meluluhlantakkan apa yang ada di muka bumi.

Kecanggihan teknologi tak mampu menentang kuasa Allah. Makanya di awal surat Ghafir tertulis: “… Karena itu janganlah engkau (Muhammad) tertipu oleh keberhasilan usaha mereka di seluruh negeri.” (QS: 40: 4)

Sila sempatkan waktu setelah membaca tulisan ini untuk membuka kembali surat Ghafir – atau terkenal juga dengan nama surat Al-Mu’min yang merujuk pada pemuda beriman dari keluarga Fir’aun – lalu tadabburi sambil membayangkan suasana Mesir jaman dahulu yang bertebaran Sphrinx, bangunan Piramida menjulang tinggi, dan benda-benda lain yang bertahan di dunia modern ini, yang kemudian Allah sudahi peradaban itu karena kekafiran mereka.

Lalu ucapkan, shodaqallahul’ azhim.

 

Pandanglah Allah Dalam Berbagai Keadaan

(Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi setiap saat)

Ketika menjelma Jibril menjadi seorang rupawan yang berpenampilan rapi, ia selipkan pertanyaan definisi Ihsan kepada Rasulullah saw di hadapan para sahabat. Maka jawab Rasulullah, “engkau beribadah seakan melihat-Nya. Kalau tak mampu, maka kau hadirkan perasaan diawasi oleh-Nya”.

Allah swt adalah Dzat yang kepada-Nya kita arahkan pandangan batin dalam ibadah, dalam keadaan berdosa, dalam nikmat, serta musibah.

Dengan memandang-Nya dalam ibadah, hadirlah kekhusyukan. Dan dengan Ihsan, membantu kita mencapai keikhlasan.

Bukan pada ibadah yang kita perbuat, kita memandang. Tapi pada Yang Maha Agung Pemilik Jiwa Kita. Dengan begitu, maka tak kan lahir ujub dan riya’.

Jangan pandang betapa mati-matiannya sujud kita, betapa sungguhnya puasa kita, betapa merdunya alunan tilawah kita. Tapi pandanglah Allah yang berhak kita ibadahi. Sehingga terasa tak ada apa-apanya ibadah kita dibanding kebesaran-Nya. Tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.

Juga jangan pandang momen kita beribadah. Sepuluh malam terakhir Ramadhan, atau malam ganjilnya, atau malam yang dicurigai sebagai Lailatul Qadar, tapi pandanglah Allah Tuhan malam-malam itu semua. Yang memberi kita nikmat terus-terusan tak hanya di malam spesial saja.

Memang benar kita bersungguh mencari Lailatul Qadar mengikuti sunnah Rasulullah. Tapi dalam kesungguhan itu, Allah yang kita pandang. Sehingga tak peduli bagi kita apakah berhasil menemukan malam seribu bulan atau tidak, yang penting adalah menyembah Tuhan Yang Penuh Kemuliaan.

Juga dalam keadaan berdosa, Allah yang kita pandang.

Bilal bin Said berkata, “Jangan kamu melihat pada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat!”

Kecil atau besar, kita telah bersikap lancang kepada Tuhan Yang Maha Perkasa.

Dengan memandang Allah Yang Maha Keras Siksanya, maka kita segera beristighfar, bertaubat dan tak kan lagi berani melakukan dosa yang sama.

Atau kita terhindar dari putus asa untuk bertaubat karena yang kita pandang adalah Tuhan Maha Pengampun.

Dalam nikmat, pandanglah Allah agar kita tak lupa daratan. Kalau tidak, maka kita disibukkan oleh euforia. Tersita waktu menyuci mobil baru, mengagumi gawai baru, dsb.

Tetapi bila Allah yang kita pandang, maka kita disibukkan dengan syukur mengucap hamdalah. Tak peduli besar atau kecil nikmat yang didapat.

Sehingga terhindar juga dari rasa kurang puas lalu lupa berterima kasih kepada-Nya.

Dalam musibah pun Allah lagi yang kita pandang. Agar malam-malam kita tidak dilanda insomnia memikirkan masalah yang datang. Atau kita meremehkan musibah yang sejatinya adalah teguran dari Allah swt.

Dengan memandang Allah, kita ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, lalu penuhi kesadaran bahwa Ia Azza wa Jalla lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Serahkan pada Allah, bertawakkal dan berikhtiar. Lalu tenanglah hati ini dan bisa berfikir jernih.

Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi, yang kita pandang dalam berbagai keadaan.

 

Untuk Saudaraku Penggemar Kajian Akhir Jaman

Telah berlalu malam ke 15 Ramadhan 1441 H, dan tak ada huru-hara, bunyi keras, asap, atau apa pun yang gencar diwanti-wanti sebelumnya. Dan memang sumber dari cerita huru-hara sendiri adalah hadits yang divonis palsu oleh para ulama. Sedari awal, andai mau mencari pendapat dari ustadz/ulama lain yang perhatian terhadap kemurnian hadits, tak ada alasan untuk khawatir atas cerita bombastis pertengahan akhir Ramadhan.

Kemarin kabar itu gencar di tahun 2012 yang bertepatan malam 15 Ramadhannya saat itu adalah malam jum’at. Tapi tak ada apa-apa. Di tahun 2020 muncul lagi. Juga tak terjadi yang dikhawatirkan. Di tahun-tahun ke depan akan ditemui kembali malam jum’at 15 Ramadhan. Kemungkinan besar akan biasa-biasa saja. Kalau pun ada kehebohan di suatu tempat, tetap tidak akan mengubah derajat hadits itu menjadi hasan atau shohih. Hanya kebetulan belaka, sesuai yang Allah takdirkan.

Saudaraku, ada kewajiban bagi saya untuk mengingatkan. Terutama kepada yang gemar dengan kajian akhir jaman.

Kajian tanda-tanda kiamat membuat kita mempersiapkan diri dengan meningkatkan iman dan taqwa? Saya tidak memungkiri itu bagus. Tapi uban yang tumbuh di kepala adalah bukti yang lebih dekat agar kita berbenah.

Satu tanda kiamat itu entah kapan terjadinya. Tapi berkurangnya umur, keriputnya kulit, melemahnya daya lihat mata, adalah tanda terdekat kiamat kecil yang semua orang hadapi. Maka memperhatikan gejala mendekatnya ajal lebih penting karena lebih dekat dengan diri kita.

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz Dzariyat: 21)

Mencari hal yang memotivasi agar kita mempersiapkan bekal akhirat, itu bagus. Tapi apakah hanya pada kejadian akhir jaman? Ingatlah Allah memuji ulil albab pada Ali Imron 191 yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bertebaran di kitab suci Allah memerintahkan kita merenungi hujan yang turun, penciptaan makhluk, dan juga apa yang pada diri kita sendiri. Hujan sering tercurah, sedang tanda kiamat entah kapan. Ada yang lebih dekat untuk kita jadikan motivasi bertaqwa.

Jangan sampai naik/turunnya iman kita bergantung pada tanda akhir jaman. Ketika bertemu prediksi yang dekat, kita taat. Tapi setelah prediksi itu meleset, iman kembali turun.

Saudaraku, saya sarankan agar cerita yang Anda dapat dalam hadits kajian akhir jaman agar ditanyakan lagi kepada ustadz yang paham tentang hadits. Tanyakan keshohihannya. Agar kita mendapat informasi berlapis dan bersikap selektif.

Memang salah orang yang lebih mengagungkan akal. Tapi jauh lebih berbahaya orang yang bermain dengan imajinasi dalam beragama.

Saudaraku, jangan lupakan prioritas dalam menuntut ilmu. Banyak hal yang butuh kita tambah dalam pengetahuan. Tentang fiqh, aqidah, membina keluarga, siroh, dll. Saya alami sendiri, suatu ketika didebat oleh teman yang gandrung dengan bacaan teori konspirasi. Namun saat ia mudik lebaran, ia masih bertanya bagaimana cara menjamak sholat kepada saya.

Dalam riwayat kedua Hadits Arbain Nawawi, jibril yang menjelma menjadi manusia bertanya kepada Rasulullah tentang islam, iman, dan ihsan. Barulah terakhir tentang tanda kiamat. Itu pun tak ada memastikan kapan terjadinya. Menurut saya ibrohnya adalah mempelajari aqidah, fiqh, dan tazkiyatun nafs adalah hal yang lebih didahulukan sebelum mengkaji akhir jaman. Allahua’lam.

Saudaraku, jangan sampai kita termasuk yang hafal tanda-tanda kiamat, termasuk kisah yang dhoif dan palsu, namun tak paham bagaimana hukum darah nyamuk di baju yang akan dipakai untuk sholat.

Saudaraku, jangan sampai penyikapan atas kajian akhir jaman menjadi kontraproduktif terhadap hidup umat. Misal karena meyakini teknologi akan musnah, lantas menganggap tak berguna menguasai teknologi.

Mendengar instruksi dari seorang ustadz agar menyimpanan bekal makanan setahun guna menghadapi huru hara pertengahan Ramadhan, saya timbul rasa khawatir. Di tengah krisis begini diperlukan sikap saling berbagi. Lalu bagaimana bila umat jadi kikir dan menimbun makanan karena terpengaruh cerita itu? Harga bahan pokok melambung, tetangga miskin kian kelaparan.

Tak kalah penting dari kajian akhir jaman adalah kajian akhir bulan yang bertujuan membantu saudara kita yang gajinya pas-pasan.

Saudaraku, menyimak kajian akhir jaman dibutuhkan sikap bijak. Pastikan keshohihan sumber cerita. Jangan lupa prioritas. Dan ingat, banyak hal di sekitar kita yang lebih dekat untuk dijadikan bahan mendekat kepada Allah swt.

Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua. Amin

 

Buat Apa Menanti Ad-Dukhan?

Kemarin umat muslim bangga dengan Jackie Ying, muslimah Singapura yang menemukan rapid test cepat Covid-19. Sama bangganya kepada Khoirul Anwar yang punya andil dalam penemuan teknologi 4G, serta BJ Habibie dan sederet nama lain yang punya kontribusi kepada dunia dalam bidang ilmu pengetahuan.

Saya pun begitu. Tapi maaf, saya sedikit terusik dengan teori Ad-Dukhan yang beredar di tengah sebagian muslim yang rajin ikut pengajian. Yang katanya sebuah peristiwa di mana bumi terselimuti asap tebal yang membuat teknologi lumpuh.

Ya saya tahu, ad-dukhan itu dari hadits Rasulullah saw. Tapi dari mana kesimpulan bahwa teknologi jadi tak berguna karena peristiwa tersebut?

Saya terlibat perdebatan beberapa tahun lalu dengan dua orang teman yang begitu meyakini akan kemusnahan teknologi karena asap pekat jelang kiamat. Saya korek dari mana asal pendapat itu. Rupanya dari kajian-kajian akhir jaman. Alasannya, dalam hadits disebutkan tentang perang besar jelang kiamat yang menggunakan pedang, tombak, bahkan kuda. Berangkat dari hadits tersebut, diyakini kelak kemajuan dunia persenjataan akan lenyap lalu peradaban kembali seperti abad-abad pertengahan. Nah, momentum lenyapnya segala kecanggihan itu disebabkan adanya peristiwa ad-dukhan. Namun sampai kini saya belum menemukan literatur yang menjelaskan hal tersebut.

Teori itu lah yang kini beredar dan diyakini sebagian umat muslim. Dibumbui juga dengan hadits huru-hara di tengah bulan Ramadhan disertai suara keras. Setiap tahun hadits ini menyebar, menimbulkan suasana dramatis. (Hadits tersebut palsu. Lihat: http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.com/2014/02/hadits-huru-hara-di-bulan-ramadhan.html )

Melalui tulisan ini saya ingin menyerukan kepada umat muslim, bahwa ada PR yang besar yang diemban oleh kita. Yaitu menjadi sokoguru dunia. Ustadziyatul ‘alam. Salah satu tugasnya adalah menyemarakkan dunia dengan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi penduduk bumi. Dan hal itu dicapai dengan penguasaan teknologi.

Lantas sayang sekali bila fokus kita malah dialihkan kepada penantian peristiwa ad-dukhan, kemusnahan teknologi, dan segala huru-haranya.

Kapan Terjadi Ad-Dukhan?

Peristiwa kabut asap ini sendiri sebagian ulama mengatakan sudah terjadi di jaman Rasulullah hidup, ketika kaum Quraisy mengalami kelaparan ekstrim atas doa nabi Muhammad saw. Sehingga tercipta fatamorgana di langit berupa asap. Sila disimak tafsir surat Ad Dukhan. Meski, sebagian ulama mengatakan ayat 10-11 itu akan terwujud menjelang kiamat.

Dan telah berlalu juga berbagai peristiwa yang mirip Ad-Dukhan. Seperti meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 yang melontarkan abu dan asap dalam jumlah besar membuat matahari bagai terbenam dan langit merah.

Atau erupsi Gunung Tambora pada 1815 yang disebut letusan gunung berapi terbesar pada 1.500 tahun terakhir. Menyebabkan “tahun tanpa musim panas” karena debu dan sulfur dioksida akibat erupsi menghalangi sinar Matahari.

Atau kebakaran hutan hampir setiap tahun di Sumatera dan Kalimantan. Peristiwa semacam ini dan banyak lagi kalau mau dicocokkan sebagai ad-dukhan rasanya cocok saja karena nyata adanya asap yang besar menutupi bumi.

Namun para penggemar kajian akhir jaman memilih skenario lain: akan adanya meteor yang jatuh, membuat rotasi bumi melambat, mengakibatkan asap menyebar ke seluruh penjuru dunia, lalu teknologi lumpuh. Akhirnya rudal tak berlaku, diganti pedang dan tombak.

Hadits Ramalan Sarat Kiasan

Kesimpulan “teknologi akan lenyap” timbul dari cara membaca hadits ramalan dengan tekstual. Menurut pengampu kajian akhir zaman, pedang, tombak, dan sebagainya tersurat dalam sabda Rasulullah. Misalnya, dajjal akan dibunuh nabi Isa a.s. dengan tombak.

Tak hanya itu, yang tertera dalam hadits arbain tentang budak melahirkan tuannya pun ada yang mengartikan bahwa perbudakan akan kembali muncul menjelang kiamat.

Saya bukan ahli hadits sehingga tak bisa menilai derajat dari riwayat-riwayat tersebut. Namun yang perlu diperhatikan, bukankah sabda-sabda Rasulullah tentang kejadian yang akan datang itu sarat dengan kiasan?

Misalnya, hadits periodeisasi umat Islam. Disebutkan ada periode mulkan ‘adhon yang artinya kepemimpinan raja yang menggigit. Ini jelas adalah kiasan. Dan telah diterangkan oleh para ulama masa kini, bahwa periode ini telah kita lewati di mana cirinya adalah khilafah yang menganut sistem kerajaan sebelum Turki Utsmani runtuh, di mana sekarang adalah masanya mulkan jabbariyan.

Perhatikan juga ketika Rasulullah saw berkata kepada istri-istrinya tentang siapa yang paling pertama menyusul Nabi saw. ke alam barzakh. Ketika itu sabdanya, “yang paling panjang tangannya.” Sontak para istri nabi pun saling mengukur lengan mereka, yang kemudian diketahui bahwa Saudah lah yang paling panjang tangannya. Tapi yang terjadi? Zainab binti Jahzy r.ha. yang pertama wafat setelah Nabi. Hingga tersibaklah hakikat “yang paling panjang tangannya” adalah kiasan yang bermakna yang paling banyak sedekah.

Nah, dari dua contoh di atas, jelas sekali bahwa hadits tentang yang terjadi di masa datang itu Rasulullah sabdakan kadang dalam berbentuk kiasan. Sehingga, apa yang disebut pedang, tombak, dll andai benda-benda tersebut benar-benar disebutkan dalam hadits shohih tentang akhir jaman, tak menutup kemungkinan itu adalah perumpamaan. Juga budak yang melahirkan tuannya, banyak ulama menjelaskan maksudnya adalah kedurhakaan anak kepada orang tua begitu besar.

Maka teori lumpuhnya teknologi dan kehidupan kembali ke abad pertengahan itu jangan dulu ditelan bulat-bulat.

Jangan Putus Asa Lalu Menanti Imam Mahdi

Setuju, bahwa umat Islam kini seperti dalam sabda Rasulullah: bagai hidangan yang siap disantap oleh musuh-musuhnya. Bagai buih di lautan. Dikarenakan mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Umat muslim terpuruk. Berkali-kali gagal ketika hendak bangkit. Terbentur oleh bengisnya mulkan jabbariyan.

Sayangnya ada segelintir yang lelah dengan proyek kebangkitan Islam dan lebih menunggu Imam Mahdi datang dan menerangi dunia dengan keadilan. Sehingga tanda-tanda kiamat seperti ad-dukhan ini begitu dinanti.

Padahal umat Islam ditugaskan berbuat. Bukan berhasil. Dengarkan sabda Rasulullah:

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR Bukhari & Ahmad)

Maka, berbuatlah. Terangi dunia dengan penemuan yang bermanfaat buat manusia. Tak perlu menunggu ad-dukhan. Oke, andai benar ad-dukhan itu melenyapkan teknologi, tapi kembali ke hadits di atas bahwa kita diperintahkan untuk berbuat meski tahu besok kiamat. Maka teknologi yang dikuasai umat Islam tak kan dihitung sia-sia andai kabut asap membuat satelit lumpuh, internet tak bisa diakses, hingga akhirnya pandai besi kembali banjir pesanan.

Kita diperintahkan untuk mempersiapkan hari kiamat, alih-alih sibuk berspekulasi mengutak-atik skenario dengan hadits-hadits akhir jaman.

Untuk pertanyaan, “apa yang kau siapkan untuk hari kiamat?”, selain amal sholeh individu, jawaban “penguasaan teknologi untuk kebaikan umat manusia” juga harus diupayakan.

 

Es Krim Vienetta, Social Climber, dan Rasa Syukur pada Orang Tua

Karena banyak permintaan, akhirnya es krim Vienetta kembali diproduksi oleh Walls. Penikmatnya banyak yang ingin sekedar nostalgia dengan es krim mahal dari jaman orde baru ini.

Tapi banyak juga yang penasaran, karena saat kecil mereka belum pernah merasakannya. Harga menjadi alasan yang membuat para orang tua enggan membelikan. Kini setelah lebih sejahtera, es krim yang dulu bikin ngiler itu kini diburu.

Ini tentang para social climber. Tapi maksudnya bukan orang yang bergaul dengan kalangan kelas atas agar terlihat bagian dari mereka. Ada beberapa definisi dari istilah itu. Yang saya maksud adalah parvenu dalam bahas Perancis, yang menurut wikipedia: A parvenu is a person who is a relative newcomer to a socioeconomic class. Mereka yang kini lebih sejahtera dibanding sebelumnya.

Orang-orang yang dulu tak dibelikan orang tuanya es krim Vienetta, tapi kini sanggup beli 2 kali seminggu bahkan tiap hari buat anak-anaknya.

Tentu tak hanya makanan tersebut. Saya yakin pembaca pun ada barang yang waktu kecil bikin ngiler ga mampu terbeli, tapi kini punya kelapangan untuk memiliki benda tersebut kalau masih ada di pasaran.

Dulu ketika saya merengek meminta keju Kraft kepada ibu, saya yakin beliau menahan sesak di dadanya ketika menjawab “di rumah gak ada kulkas,” untuk menolak permintaan saya. Apa daya, makanan sejenis keju cuma bisa saya nikmati ketika diajak ke Jakarta ke rumah saudara.

Na’udzubillah, mungkin ada social climber yang menyalahkan orang tuanya karena hidup dalam keterbatasan saat kecil. Padahal mereka bisa hidup lebih baik saat dewasa karena peras keringat banting tulang ayah dan ibunya.

Tentu saja banyak juga yang bersyukur. Menunaikan perintah Allah swt dalam surat Luqman ayat 14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Untuk kawan-kawan yang baru bisa mencicipi Vienetta setelah dewasa, saya mengajak untuk mengenang jerih payah orang tua – setelah bersyukur pada Allah. Pada rasa dingin dan manis es tersebut, bersitkan kerja keras mereka menyekolahkan kita, membiayai kita kuliah, dan membelikan buku-buku untuk belajar.

Untuk yang pendidikannya lebih tinggi dari orang tua hingga bisa lebih sejahtera, untuk orang yang besar di kampung namun kini tinggal di komplek perumahan di kota, untuk yang kini dimanjakan dengan kendaraan pribadi, saya berpesan bahwa keadaan lebih baik ini bukan untuk menyombongkan diri pada yang telah membesarkan kita.

Untuk yang anaknya lebih termanjakan dengan makanan, mainan, dan barang-barang dibanding dirinya dulu waktu kecil, ingatlah andai kata orang tua Anda mampu mereka bisa saja lebih memanjakan anak-anaknya daripada Anda.

Tak ada salahnya kita beli barang yang dulu kita inginkan, lalu pajang di suatu tempat yang bisa kita sering lihat di samping foto kedua orang tua. Agar selalu terkenang jasa mereka.

 

Rasulullah dan Bunyi-Bunyi Misterius

 

Fenomena dentuman pada dini hari yang terdengar di sekitar Depok dan Jakarta Selatan pada Sabtu, 11 April 2020 kemarin mungkin akan menambah daftar suara misterius di alam yang belum terungkap sumbernya. Acara televisi On The Spot perlu memperbaharui episode yang pernah membahas tentang hal ini.

Kemungkinannya bermacam-macam. Dari suara erupsi anak Krakatau hingga petir di atmosfer. Sebagian orang menganggap hanya fenomena alam biasa sehingga tak perlu takut. Sebagian yang lain khawatir hingga menghubungkannya dengan tanda kiamat.

Namun sesungguhnya bumi memang terbiasa dengan suara misterius. Di masa Rasulullah dan para sahabat, beberapa kali mereka mendengar bunyi yang aneh.

Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda: “Jangan takut! Jangan takut!” kata Anas; “Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i)

Dari kisah di atas, tidak dijelaskan apa penyebab suara tersebut. Hanya keteladanan yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw selaku pemimpin yang menenangkan rakyatnya. Artinya memang benar bukan suatu yang membahayakan, hanyalah fenomena alam biasa.

Rasulullah bukan meremehkan. Beliau bukan tipe pemimpin yang andai ada wabah di Madinah, ia malah mempromosikan wisata di kota yang dipimpinnya itu. Tanggungjawab sebagai orang pertama yang menginvestigasi hal yang dikhawatirkan orang banyak, lalu memberi arahan kepada rakyat, telah ia tunaikan. Ia sigap, bukan becanda-canda dahulu lalu panik kemudian.

Kisah kedua sebagai berikut. Abu Hurairah berkata, “Kami dulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.” (HR. Muslim)

Kalau ini, memang bukan fenomena alam biasa. Tapi fenomena lintas alam. Kejadiannya di neraka, terdengarnya sampai di bumi. Sengaja Allah kehendaki begitu, bukannya salah server, tetapi sebagai sarana tarbiyah para sahabat serta umat muslim yang hanya mengetahui peristiwa ini dari hadits nabi.

Tidak dijelaskan, apakah selain para sahabat yang bersama Rasulullah, ada lagi yang mendengar bunyi tersebut.

Para sahabat memang memiliki pendengaran yang lebih peka dibanding orang biasa. Abdullah bin Mas’ud r.a. memberi kesaksian bahwa pernah ketika Rasulullah saw dan para sahabat disajikan hidangan, mereka mendengar bagaimana makanan itu bertasbih.

Adakah di antara kita yang pernah mendengar kopi dalgona memuji Allah swt? Bisa autoindigo. Atau mendengar makanan menjawab ketika Chef Juna bilang, “rasanya kayak sampah”?

Mereka juga pernah mendengar batang kurma menangis karena fungsinya sebagai mimbar Rasulullah berkhutbah akan diganti dengan yang baru.

Untunglah Rasulullah peluk pohon itu hingga ia berhenti menangis. Kalau tidak, kata Rasulullah, pohon ini akan terus menangis sampai kiamat. Drama Korea bakal kalah sedih dibanding tangisannya.

Kembali ke fenomena menghebohkan di sekitaran Depok dan Jaksel. (Orang Depok menyebutnya dentuman, anak Jaksel menyebutnya “suara keras which is kejadiannya pas in the middle of the night.”) Sikap kita sebagai muslim akan tetap dalam perasaan tak aman atas bencana yang suatu waktu bisa Allah turunkan pada kita.

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS Al Mulk: 16-17)

Andai fenomena alam biasa, tetap saja hal itu adalah tanda besarnya kekuasaan Allah swt yang membuat kita kagum sembari merendahkan diri.

Ada atau tidak ada suara yang aneh tadi, tetap selalu waspada dengan rajin memperbaharui taubat. Kalau masalah kiamat yang sudah dekat, lebih dekat lagi kematian (kiamat kecil). Tanpa membahas tanda-tanda akhir jaman pun yang namanya memperbaiki diri itu sudah keharusan.

Namun tak perlu paranoid, ketakutan, lalu kehilangan akal sehat. Sampai-sampai membuat, atau percaya, atau menyebarkan teori konspirasi yang sarat cocoklogi. Atau teori konstipasi yang sarat cucokrowo.

Kita kembalikan kepada para ahli tentang asal usul bunyi tersebut. Kalau pun tak terkuak, ya biasa lah… ilmu manusia itu terbatas.

Ingat, alam ini terbiasa dengan suara yang belum teridentifikasi. Bahkan ketika pada malam hari di Madinah ada suara menggelegar menakutkan, Rasulullah hanya bersabda, “jangan takut.”

Yuk, tidak berspekulasi, serahkan pada ahli.

 

Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah

“Apa yang bisa diperbuat oleh musuhku?” ujar Syaikh Ibnu Taimiyah suatu hari. Mohon koreksi bila ada kesalahan redaksi atau person yang dikutip. “Bila aku dipenjara, maka itu jadi uzlahku. Bila aku diusir, maka itu jadi rihlahku. Dan bila aku dibunuh, maka semoga itu menjadi syahidku,” lanjutnya.

Nah, bisakah kita buat kalimat serupa kepada virus corona yang sedang mewabah? “Kalau gara-gara kamu aku dikarantina, insya menjadi uzlah. Dan kalau kamu sebabkan aku mati, semoga Allah menganggapku syahid.”

Ya, sebagaimana penjara menjadi tempat uzlah, karantina pun bisa. Sehingga kelapangan waktu di rumah termanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hamka dan Sayyid Quthb dalam penjaranya bisa hasilkan karya besar berupa kitab tafsir. Banyak juga ulama lain yang hasilkan masterpiece di balik jeruji.

Ada cerita dari bilik-bilik sempit di Mesir. Penjara itu memuat para aktivis dakwah dari berbagai bidang. Ada yang pakar syariah, juga ada penghafal Qur’an. Alhasil, terbentuklah madrasah baru di ruangan pengap itu yang meluluskan pakar syariah baru dan yang menamatkan hafalannya 30 juz.

Namun karantina akibat wabah ini sangat berbeda dengan suasana penjara. Masih ada keleluasaan beraktifitas di rumah. Bisa makan kapan mau, nonton tivi, maen game, atau bulan madu yang seru bagi pasutri baru. Pasutri lama juga bisa berbulan madu kembali. Namanya juga iseng ya, di rumah aja.

Yang mirip mungkin tahanan rumah, atau tahanan napi koruptor yang mewah.

Dari banyak pilihan aktivitas yang bisa dikerjakan, jangan sia-siakan untuk menjadikannya ajang uzlah. Yaitu aktivitas berdua-duaan dengan Allah swt dalam kemesraan ibadah. Jalan yang ditempuh sebagian orang-orang sholeh untuk mengoptimalkan hidupnya dalam totalitas ibadah kepada Allah swt.

Karantina ini adalah “i’tikaf” kita di rumah. Ketika mushaf merasakan kembali sibuknya ia dibolak-balik, yang biasanya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Ketika sajadah senantiasa basah oleh air wudhu dan air mata. Ketika biji tasbih merasakan hangat jemari kita.

Inilah keluangan untuk banyak bermuhasabah, tafakur, dan tadabur. Inilah kesempatan kita “curi start” rajin beribadah sebelum Ramadhan. Inilah pengganti hilangnya kebiasaan sholat berjamaah di masjid.

Naudzubillah, jangan sampai masa karantina ini diisi layaknya lagu Mbah Surip.

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangun … tidur lagi
Hahahaha…

 

Ibrah dari Tangis Muadzin yang Pecah

Sang muadzin meneteskan air mata. Suaranya parau bergetar ketika menyisipkan kalimat “shollu fii buyutikum” dalam kumandang adzannya. Tangisnya pecah karena harus melihat pemandangan yang tak biasa. Masjid yang selalu penuh kini lengang.

Itu terjadi di negeri luar. Belum berlaku di Indonesia. Meski MUI telah keluarkan fatwa, tapi tak ada paksaan dari pemerintaah untuk meniadakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam keadaan tersebut, orang-orang akan terbagi menjadi 3 golongan.

Pertama, yang sedih dan merasa kehilangan kesempatan sholat berjamaah seperti biasa. Tiap waktu sholat tiba, mereka akan dirundung rindu untuk bersama dengan umat muslim dalam satu shof yang lurus dan rapat seperti sedia kala.

Orang seperti ini sejatinya tidak akan kehilangan pahala berjamaah sekalipun ia terpaksa lakukan di rumah. Karena ia sudah berniat, dan sudah pula ada buktinya dengan kebiasaan yang dilakukan ketika tak ada uzur/penghalang. Tentu kita paham, Allah memberi pahala seseorang atas niatnya walau pun batal atau gagal terlaksana.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR Bukhori)

Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang hadits tersebut: “Ini adalah bagi orang yang terbiasa melakukan ketaatan dan kemudian ia tercegah, dan niatnya jika tidak ada penghalang ia akan melakukan rutinitasnya.”

Golongan kedua adalah orang yang menyesal karena selama ini menyia-nyiakan kesempatan beramal saat dalam kondisi mudah. Ini adalah orang yang tak rutin berjamaah, atau baru berangkat ke masjid ketika sudah iqomah. Ia paham harusnya bisa optimal lagi beramal. Namun rasa malas membuat kualitas ibadahnya pas-pasan.

“Manfaatkanlah masa aman sebelum masa krisis”. Ya, kalimat itu tidak pernah disabdakan Rasulullah saw. Yang ada dalam hadits adalah redaksi berikut: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim)

Namun memanfaatkan masa aman sebelum masa krisis itu sejalan dengan hadits di atas, yang intinya adalah mengoptimalkan setiap kesempatan sebelum hilang.

Golongan orang kedua mungkin tak seperti yang pertama yang menikmati “privilage” pahala yang tetap mengalir karena kebiasaan dan niat. Makanya rasa sesal itu hadir.

Di beberapa daerah, ada yang belum begitu darurat sehingga masih bisa menyelenggarakan sholat berjamaah dengan normal. Maka, bila Anda berada di daerah itu, optimalkanlah amal Anda. Rutinkan ke masjid, dan melangkahlah sebelum iqomat.

Dan bagi yang tinggal di daerah yang dianjurkan untuk beribadah di rumah, masih banyak amal yang bisa dikerjakan. Maka bacalah Al Qur’an sebelum mata Anda tak mampu lagi melihat rangkaian huruf hijaiyah. Kerjakan sholat sunnah selagi akal dan kesadaran masih berfungsi.

Rajin-rajinlah menghubungi orang tua sebelum susah atau tak mungkin mendengar suara mereka lagi. Sayangi anggota keluarga sebelum mereka tak bisa merasakan kasih sayang Anda.

Dan banyak lagi.

Bersyukurlah bila masih ada rasa penyesalan ketika sebuah kesempatan hilang. Karena jangan sampai seperti golongan ketiga.

Yaitu yang cuek, atau bahkan senang dengan kosongnya masjid. Na’udzubillahi min dzalik.