RSS

Author Archives: Zico Alviandri

Saat Merasa Selalu Dirundung Masalah

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Pernah merasakan hidup teramat sulit, atau bahkan merasa orang yang paling sial di dunia? Tiap saat ada saja kesulitan yang datang. Kalau ada yang meminta untuk membuat daftar masalah yang sedang dihadapi, akan mudah menyusun list yang panjang.

Tetapi apa pun masalahnya, tak pernah ada alasan untuk mengeluh. Apalagi kalau mau sedikit berusaha menghitung perbandingan nikmat yang sedang didapat dan musibah yang sedang dihadapi. Sangat tidak sebanding.

Persoalannya, apakah kita akan bersikap adil bersikap terhadap nikmat dan musibah yang datang? Kalau besaran reaksi terhadap satu musibah sama dengan besaran reaksi terhadap nikmat, maka orang-orang akan melihat kita sebagai manusia yang senantiasa ceria. Karena musibah itu tertutup sudah oleh kenikmatan yang jauh lebih banyak didapat. Sadarkah?

Yang terjadi adalah, nikmat yang tiap detik dirasakan oleh manusia dianggapnya sebagai sesuatu yang memang layak didapat. Sesuatu yang wajar dan tak perlu ada reaksi apa-apa. Berbeda dengan masalah, dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang tidak wajar menimpanya. Akibatnya manusia lebih sering bereaksi terhadap musibah daripada nikmat.

Sikap seperti ini yang disitir oleh Allah swt.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij: 19-21)

Padahal Allah swt saat memberi sebuah kesulitan, menyertakan pula beberapa kemudahan. Bukan satu kesulitan satu kemudahan, tapi bersama satu kesulitan terdapat banyak kemudahan.

Ibnu Katsir memberikan tafsir pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 seperti tertulis di atas.

“Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh “Al-’usri” (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh “yusran” berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak.”

Keimanan di dalam hati kita akan membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an. Pembuktiannya mudah, tinggal hitung saja kenikmatan yang sedang kita rasakan. Syaratnya, kita harus membuka hati bahwa semua kemudahan, kelapangan, dan kesenangan yang kita rasakan itu bersumber dari Allah swt bukan karena kerja keras kita semata.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Tips agar bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt dengan senantiasa mengucapkan hamdalah saat terasa sebuah kesenangan. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS 93:11).

Dan terhadap kesulitan, bersikaplah ridho dan lapang dada. Lalu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat memang lebih banyak daripada kesulitan.

Advertisements
 

Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Alkisah, segerombolan penipu licik berprofesi sebagai penjahit ingin mengecoh raja. Harta menjadi motivasi mereka. Sang paduka dikenal gila sanjungan dan sangat bermurah hati kepada para pemujanya.

Mereka datang ke istana dengan prototype baju-baju megah dan indah. Mereka tidak hendak menjual barang yang dibawa, tetapi menawarkan untuk membuatkan jubah dari sutra super halus kepada raja. Saking tingginya kualitas pakaian yang hendak dibikin itu, hanya orang pandai yang bisa melihatnya.

Tawaran itu disetujui dengan jangka waktu tertentu. Raja tertarik karena ingin mengetahui siapa saja yang termasuk kalangan orang bodoh di istana yang tak mampu melihat keindahan jubah impiannya.

Jelang deadline, perdana menteri diutus untuk memantau pekerjaan para penjahit. Sang menteri terkejut karena tak melihat satu helai benang pun. Namun demi tak mau dibilang bodoh, menteri hanya mengangguk-angguk dan menyampaikan kepada raja, sebagaimana kalimat para penjahit, bahwa baju telah hampir selesai.

Waktu telah tiba. Para penipu itu membawa “hasil kerjanya” ke istana. Rupanya raja pun tak bisa melihat baju itu. Tapi karena tak mau dianggap bodoh, beliau menurut saja saat ia yang hanya berpakaian dalam dipakaikan jubah kebesaran oleh para penjahit.

Seisi istana memuji raja. Meski tak satu pun melihat rupa baju tersebut. Dan raja yang kegeeran pun berkeliling wilayah kekuasannya untuk memamerkan betapa anggunnya ia memakai pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang cerdas.

Rakyat di kumpulkan mendadak untuk melihat fashion show. Mulut mereka menganga melihat raja yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tak berani bertanya atau mengkritik.

Dan sang paduka pun menahan rasa kedinginan. Terasa sekali hembusan angin menerpa badannya tanpa penghalang apa pun. Hingga akhirnya seorang anak kecil berteriak, “kok raja gak malu gak pake baju?”

Anak kecil itu jujur. Sehingga keraguan pun memenuhi hati sang paduka. Buru-buru ia kembali ke istana karena tak yakin bahwa ia sedang mengenakan pakaian. Sementara para penjahit itu telang hilang sejak menerima upahnya.

*****

Mungkin pembaca pernah mendengar cerita di atas. Menjadi pelajaran bahwa orang yang gila sanjung akan mudah sekali dikelabui.

Kata “bengak” bisa saja diberi kepanjangan yang bagus-bagus. Tapi orang Sumatra paham bahwa arti kata itu adalah bodoh yang parah.

Kata “blegug” bisa juga diberi kepanjangan yang keren-keren. Tapi orang Sunda mengerti bahwa itu adalah kata umpatan.

Nusantara kaya akan bahasa daerah. Dan tiap bahasa punya kata makian tersendiri. Yang kata itu bisa saja dijadikan akronim dengan arti yang bagus-bagus.

Namun orang pintar tak kan mau dijuluki Si Bengak, Mang Blegug, dan cacian lain walau dengan kepanjangan yang dibuat indah.

Beda dengan orang bodoh gila pujian yang gampang terkecoh. Ia akan cengar-cengir saja dijuluki dengan kata-kata umpatan oleh para penjilat yang menipu, hanya karena kata itu dibikinkan kepanjangan yang menyanjung.

Sebagaimana baju transparan yang sejatinya hinaan, namun sayang raja malah kegeeran.

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2019 in Artikel Umum

 

Ketika Doa Tak Terwujud

Sebuah ilustrasi. Spongebob sedih cukup dalam ketika ia gagal mendapat predikat employee of the month di restoran Krusty Krab tempatnya bekerja. Padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk beberapa kebutuhan yang ia harap bisa didapat melalui penghargaan itu.

Ia sudah berdoa siang malam dalam sujud panjangnya tiap sholat maupun waktu-waktu mustajab lain. Tapi tak disangka, harapannya tak terkabul kali ini. “Apakah Tuhan mengacuhkan aku?” tanyanya dalam hati.

Ya, ia mulai menggugat Tuhan. Mengapa tak dikabulkan bisik penuh harapnya itu. Dan apa yang salah? “Oke, oke, aku pasti punya dosa. Tapi apa telah tertutup bagiku untuk memanjatkan doa?” Spongebob bingung, sedih, dan kecewa.

Ketika pulang kerja, di parkiran ia menghidupkan motor transparannya pemberian paman Mermaid Man. Sembari menanti mesin panas, Spongebob berdoa untuk keselamatan seperti yang biasa ia lakukan bila hendak bepergian. Dan seketika hatinya terenyuh.

Ia mendadak sadar bahwa setiap hari Allah mengabulkan doanya. Buktinya, ia selalu selamat pergi dan pulang dari kerja. Bahkan ketika harus lembur sampai dini hari, ia tetap pulang dengan selamat meski melewati jalan yang rawan begal.

Spongebob jadi sadar, bahwa pengabulan Allah terhadap doanya lebih banyak daripada yang (ia sangka) tertolak. Ia pun merenung, bahwa doa yang rutin diucapkan agar mendapat keluarga yang samara dengan anak-anak yang menjadi qurrota a’yun sebenarnya telah terwujud. Doa untuk mendapat kesehatan juga sering terkabul meski ada kalanya sakit ringan melanda. Juga doa mendapat kelapangan rezeki karena nyatanya ia sedang dalam kecukupan.

Ia juga tiap hari berdoa memohon ampun kepada Allah, memohon ditunjukkan jalan yang lurus. Dan sampai kini ia istiqomah dengan Islam sebagai minhajul hayah.

Spongebob menyusuri jalan pulang dengan hati yang masih sedih tapi dikuat-kuatkan. Teringat ia akan surat An-Najm ayat 24. “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” Konteks ayat itu sebenarnya menyangkal prasangka orang musyrik bahwa mereka akan mendapat syafaat dari sembahan selain Allah swt. Tetapi redaksi ayat tersebut secara harfiah juga sekaligus membantah bahwa manusia pasti akan selalu mendapat yang ia inginkan. Belum tentu.

Spongebob mengangguk perlahan. Ia tersadar, bahwa doa hanyalah sebuah proposal kepada Tuhan. Namun bukanlah komando layaknya atasan kepada bawahan.

Masalahnya, manusia (eh.. Spongebob mah spons ya…?) si pembuat proposal itu pengetahuannya terbatas, tak mengetahui yang ghaib, serta berlumur nafsu sehingga apa yang diajukannya itu belum tentu yang terbaik bila menyangkut urusan dunia. Allah yang lebih tahu yang terbaik untuknya.

Bukan doa tak terjawab. Tapi angan-angan yang tak terwujud.

Spongebob teringat cerita bagaimana Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. mengarungi hari bertahun-tahun bersama doa mendapat keturunan. Dan Allah tahu saat yang tepat untuk mengabulkan doa itu. Sehingga Ismail a.s., Ishaq a.s., dan Yahya a.s. adalah sosok luar biasa yang hadir di bumi berdasar skenario Allah swt.

Allah telah mempersilakan hamba-Nya berdoa. Namun “falyastijibuu lii”, “penuhi perintah-Ku” kata Allah dalam QS Al-Baqarah:186, termasuk perintah berbaiksangka dan ridho atas ketetapan Allah. “Wal yu’minuu bii”, dan berimanlah dengan sifat Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Ia tak kan menzholimi hamba-Nya.

Berdoalah, haturkan permohonan. Bila sudah, Allah bebas untuk memodifikasi skenario yang kita inginkan. Konten doa urusan Allah, sedang urusan kita untuk ridho pada apa yang akan terjadi.

Spongebob mengangguk. Sampai di rumah, hatinya agak lapang. Sedihnya berkurang.

Tapi setengah jam lagi bakal kepikiran lagi dan bakal sedih lagi. Yhaa…

 

Penyebab Kader PKS Mudah Jantungan

Di sebuah grup whatsapp, ada tautan dibagikan. Berita tentang pimpinan DPRD Jambi yang tersangkut korupsi karena kongkalingkong dengan Zumi Zola, Gubernur Jambi Non Aktif yang beberapa waktu lalu ditangkap KPK.

Bunga, sebut saja begitu namanya… Eh jangan Bunga. Mmm… Kumbang aja deh, Kumbang.

Kumbang, sebut saja begitu namanya, berdebar jantungnya melihat tautan itu. Penasaran namun cemas, ia buka link tersebut untuk melihat berita di dalamnya. Ada satu yang ingin diperiksa: adakah anggota legislatif dari PKS yang terjerat?

Alhamdulillah… Seperti yang sudah-sudah, ia tidak menemukan nama dari PKS. Lega bukan main. Ia tersenyum, dan melanjutkan menjadi silent reader di grup itu.

Apa yang dialami Kumbang dirasakan juga oleh banyak kader PKS lainnya. Tiap ada berita penangkapan tersangka korupsi oleh KPK, jantungnya berdegup kencang. Mereka khawatir kalau perkara baru itu menyeret nama tokoh partainya.

Kalau benar ada saudara separtai tersangkut korupsi, maka yang dirasakan pertama kali adalah kecewa bukan main. Partai ini memang dikenal dengan mesinnya yang gigih dan rela berkorban. Sunduquna juyubuna, kas kami berasal dari kantong kami sendiri. Kalau ada pejabat publik yang sudah diperjuangkan mati-matian, dengan biaya dan tenaga kader yang rela berkorban, namun membuat ulah yang mencoreng nama partai, maka sangat sangat sangat sangat mengecewakan sekali orang itu.

Yang dirasakan selanjutnya adalah bully-an dari pihak luar. Walau pun si kader tidak ada sangkut pautnya dengan pejabat yang terjerat kasus, dia tetap kena imbas pencibiran hingga caci maki. Sudah lah dikecewakan, diejek dan diintimidasi verbal pula.

Maklum, jangankan kader sendiri yang terkena kasus, bahkan bila ada tetangga kader PKS yang terbuka aibnya, partai dakwah itu bisa disalahkan. Partai tersebut memang rentan dibully.

Kumbang dan kader PKS lainnya mungkin iri dengan kader partai lain yang cuek bebek seperti tidak terjadi apa-apa bila ada tokoh partainya yang terjerat kasus. Bila tak menyangkut PKS, rasanya kasus korupsi tak kan sebegitu heboh dan bombastis diberitakan. Walau jumlahnya banyak, kader partai lain tak merasakan hujatan se-bertubi-tubi yang sebanding dengan satu kasus korupsi oleh kader partai berlambang bulan sabit tersebut.

Selain itu, kader partai lain relatif tak punya rasa kepemilikan sebesar kader PKS. Karena akar rumput di partai lain tak perlu mengeluarkan uang untuk membesarkan partai. Cukup tokoh yang bermodal besar yang dipasang sebagai caleg atau calon kepala daerah yang mengeluarkan dana. Makanya, bila ada yang terjerat korupsi, itu urusan yang bersangkutan. Tak perlu kecewa karena toh tak rugi apa pun.

Konsistensi menjaga diri dari korupsi juga menjadi “jualan” PKS kepada konstituennya. Sehingga satu kasus saja cukup membuat partai itu terpukul. Maklum, PKS tak punya tokoh penggaet suara. Beda dengan partai lain yang diisi nama besar. Walau pun badai korupsi menerpa, menempati peringkat papan atas penghasil koruptor, tak kan mengurangi loyalitas konstituen kepada sosok di partai tersebut.

Kumbang telah terbiasa sport jantung. Meski sedang tidak naik Lion Air, melihat berita tangkap tangan KPK, ia cemas. Bila ada pejabat publik dari PKS yang akan diperiksa, ia risau.

Lamat-lamat ia merapalkan doa – yang juga diucapkan oleh kader PKS lain meski dengan redaksi berbeda, “Ya Allah, jagalah para pejabat publik dari partaiku dari bersikap tidak amanah. Kuatkan iman mereka. Dan bangkitkan kejayaan negara dan umat Islam melalui tangan mereka. Amin.”

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Mewaspadai Gerakan Desakralisasi Agama

Saya dapati orang-orang yang membela candaan keterlaluan comicus Joshua dan Ge Pamungkas adalah orang-orang yang sakit hati karena agama dibawa-bawa ke politik. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, apakah sengaja ada gerakan massif merendahkan agama agar tidak lagi sakral dalam kehidupan masyarakat?

Kini perbuatan mengolok-olok agama, khususnya Islam, bukan cuma pekerjaan ustadz gadungan yang mengaku bapaknya janda. Atau seorang pengaku penikmat kopi yang lidahnya mati rasa di acara talkshow televisi. Atau dosen komunikasi yang provokatif agitatif yang kehilangan kebijaksanaan bertutur kata. Kita lihat mulai muncul badut-badut wannabe yang beratraksi dengan kata-kata mencoba melawak dengan menjadikan agama sebagai candaan. Saya khawatir gerakan mendesakralisasi agama di depan publik ini menjadi trend tanpa tersentuh hukum.

Karena amat sangat tersita energi masyarakat bila tiap penistaan agama harus disikapi dengan protes massal ratusan ribu orang agar aparat bertindak. Untuk (mantan) penguasa yang dibekingi kekuatan besar, wajar lah kemarin aspal Jakarta dipanasi derap kaki yang marah. Tetapi setelah satu dibekuk, rupanya pengikutnya tanpa malu melanjutkan kerja-kerja penistaan agama di depan khalayak.

Gerakan ini seperti mencoba membalas dendam atas kehadiran agama dalam pilihan sadar umat Islam di pilkada Jakarta kemarin. Ada yang marah karena kalah. Mereka ingin melampiaskannya dengan penistaan, halus hingga kasar.

Kampanye Untuk Tak Membela Tuhan

Agar penistaan agama tak mendapat perlawanan berarti, agar masyarakat bisa menerima bahwa agama bukan topik yang sakral yang harus diperlakukan hati-hati dalam dialog di muka umum, dikampanyekanlah kalimat indah namun beracun: Tuhan tidak perlu dibela.

Diajaklah umat manusia agar membiarkan Tuhan yang membela sendiri para penghina-Nya. Sebagai makhluk, kita tak perlu reaktif bila ada yang menghina simbol agama. Sikap begini membuka pintu penerimaan untuk gerakan penistaan agama secara massif.

Itu artinya simbol-simbol agama tidak perlu lagi mendapat tempat di hati manusia. Karena ketersinggungan seseorang terhadap celaan tergantung sedalam apa keberadaan sesuatu yang dicela itu di hatinya. Ketika ejekan kepada klub bola kesayangan lebih membuat marah daripada hinaan kepada agama, maka klub bola lebih mendapat tempat di kalbu orang itu daripada agama.

Tuhan Yang Maha Kaya tidak akan pernah hina karena dicela ciptaan-Nya. Begitu juga klub bola berprestasi, tentu tidak akan pernah hina dicela fans lawan. Tetapi ini soal harga diri manusia yang mendengar hinaan tersebut. Bagi orang beriman, penghinaan terhadap simbol agama adalah bentuk merendahkan harga diri. Tuhan Yang Maha Agung tak kan pernah hina, tetapi manusia lah yang hina bila tidak tersinggung.

Sikap membiarkan Tuhan membela diri-Nya sendiri dari para penghina-Nya adalah sebuah tasyabuh (penyerupaan) kelakuan Bani Israil yang dicela dalam Qur’an. Ketika umat itu diperintahkan Allah untuk masuk ke wilayah Palestina, mereka enggan dan menyuruh Musa berperang berdua dengan Tuhan. Mirip ketika umat Islam ditantang untuk membela Allah (QS Muhammad: 7), ada seruan agar biar Tuhan sendiri yang membela diri-Nya.

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”” (QS Al-Maidah: 24)

Agama yang Makin Hadir dalam Kehidupan

Namun gelombang kebangkitan Islam agaknya susah dicegah. Aksi 411, 212, dan yang sebagainya serta reuni-reuninya hanyalah salah satu indikator. Tanda yang lebih mencolok adalah Islam mulai hadir dalam kesadaran berekonomi. Gerakan anti riba menjadi semarak. Umat Islam makin selektif memilih jenis transaksi. Dilanjutkan juga dengan ikhtiar membentuk koperasi 212 sebagai perlawanan terhadap keserakahan kapitalisme.

Islam mulai meluber, dari masjid kemudian mengisi tempat di kehidupan masyarakat. Tak hanya lagi urusan sholat, puasa, zakat, dan umroh. Islam menjadi gaya hidup dalam balutan busana yang menyesuaikan syariat. Hadir dalam tontonan di layar kaca maupun layar lebar. Hadir dalam tulisan sastra yang menghadirkan nasihat. Menjadi acuan dalam mengkonsumsi makanan hingga kosmetik.

Entahlah apakah ketika Yuswohady menulis buku “Marketing to the middle class muslim”, terpikir juga olehnya bahwa marketing terhadap pilihan politik umat Islam juga perlu dibahas. Apalagi setelah pilkada Jakarta, sensitifitas masyarakat semakin meningkat. Kemarahan mereka belum selesai kepada partai-partai pendukung penista agama. Tak hanya itu, mereka juga terbakar pada isu UU Ormas dan putusan MK untuk gugatan pasal KUHP perzinaan kemarin.

Kini umat Islam makin memasrahkan diri untuk diatur oleh ajaran agamanya. Makin mendapat tempat di hati. Kesakralannya makin mengisi berbagai lini kehidupan masyarakat.

Karena itu gerakan penistaan kepada agama akan membuat perpecahan di masyarakat makin menjadi. Cara itu tak kan efektif membendung kesadaran berislam pada masyarakat. Kalau rezim saat ini tidak tegas menindak gerakan penistaan, maka gelombang ini bisa saja menyapu rezim yang dianggapnya tak berpihak pada waktunya nanti.

Zico Alviandri

10 Januari 2018

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Semangat Ibadah dan Masa Promo

SPG itu tersenyum manis. “Mau berlanganan AndalehTV pak? Lagi masa promo. Sebulan seratus ribu rupiah saja. Bisa nonton channel-channel dari luar negeri bahkan planet lain,” katanya.

Seseorang yang lewat di depan stand AndalehTV itu tertarik. “Kapan lagi bisa nonton banyak channel dengan modal cuma Rp 100.000,” pikirnya. Terjadi deal. Dan esoknya televisi orang tersebut telah terpenuhi puluhan saluran pilihan.

Lantas berselancar lah ia dari tayangan satu ke tayangan lain. Yang paling membuatnya terkesan adalah channel olahraga. Pertandingan-pertandingan langsung sepakbola dari liga ternama di dunia bisa ia nikmati. Tak perlu ke luar negeri dan memesan tiket.

Namun, yang namanya masa promo, tentu ada jangka waktunya. Setelah tiga bulan, hanya channel lokal yang bisa ia akses. “Buat apa bayar kalo cuma nonton siaran stasiun lokal?” pikirnya.

Lalu ia menghubungi customer service AndalehTV. Jawaban petugas, kalau masih mau nonton saluran olahraga serta channel pilihan lain, harus membayar sampai Rp 300.000. Orang itu terlanjur ketagihan dengan siaran langsung sepakbola. Akhirnya ia bersedia membayar lebih. Asalkan masih bisa menikmati tayangan favoritnya.

Masa promo itu berhasil menggaet seorang pelanggan yang rela berkorban lebih setelah tahu bahwa ada manfaat yang bisa ia dapat.

***

Sadarkah kita, dalam menyembah-Nya ada fenomena yang mirip dengan ilustrasi di atas?

“Al imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Itu lah prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada masa-masa rajin karena Allah memberi rasa semangat ke dalam jiwa. Beribadah begitu ringan. Kalbu terasa lapang dengan isak tangis di malam hari. Terasa melegakan lapar dahaga di siang hari. Manisnya iman dikecap. Cinta kepada Allah memenuhi dada.

Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya. Rasulullah saw mengajarkan umatnya doa berikut:  “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” (HR.Muslim)

Lalu, sebagaimana fitrah manusia, datanglah rasa bosan. Ibadah yang tadinya ringan, mulai terasa berat. Kiranya Allah tengah menguji orang yang telah merasakan nikmatnya beribadah itu dengan mood yang berkurang tak seperti kemarin.

Masih mau merasakan syahdunya sholat malam? Bisa, tapi tidak mudah. Indahnya kondisi jiwa ketika “masa promo” di saat hati sedang giat, mensyaratkan orang yang tengah futur itu harus melawan kantuk dan rasa malas demi kembali dapat rasakan sejuknya hati di kala sujud.

Mau kembali rasakan kelegaan di kala berlapar dahaga? Bisa, tapi tidak mudah. Saat hati tak seantusias kemarin, perlu perjuangan ekstra agar tetap menjalankan rutinitas shaum sunnah.

Tapi pilihan di tangan Anda. Bisa saja rasa malas itu dituruti. Kalau begitu, Anda membiarkan rasa manisnya beribadah yang telah Allah berikan tak terulang lagi. Memang ada gantinya. Kenikmatan duniawi berupa tidur yang nyenyak, rasa kenyang di hari yang terik, dsb.

Untuk jiwa yang sedang terliputi rasa bosan dan malas, coba kenang lagi lezatnya ibadah saat masa semangat. Yakin mau berhenti berlangganan indahnya taat kepada Allah?

Zico Alviandri

 

“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri