RSS

Author Archives: Zico Alviandri

Darurat Kedewasaan Sikap Politik Sebagian Masyarakat dan Berkahnya Buat Anies

Masih ingat absennya mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat pada acara pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih beberapa waktu lalu? Itu hanya sebuah episode awal ketidakdewasaan perilaku politik sebagai reaksi terhadap kemenangan pilihan Umat Islam di pemilihan gubernur Jakarta. Jadi perangai seperti apa yang diperlihatkan Ananda Sukarlan kemarin, bukan yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir.

Setelah sikap Djarot, rangkaian perilaku memalukan lain menyusul. Misalnya beberapa pemilintar media terhadap ucapan Anies dan Sandi. Di antaranya, CNN Indonesia yang menulis berita Sandiaga menuduh pejalan kaki sebagai sumber kesemrawutan Tanah Abang, padahal apa yang disampaikan tidak begitu. Juga beritasatu yang memuat pernyataan Sandiaga yang ingin agar trotoar mengakomodasi roda dua, ini juga menyimpang jauh dari wawancara aslinya.

Belum lagi kelakuan buzzer-buzzer yang diketahui sebagai pendukung Ahok, tidak kalah noraknya. Hal-hal kecil dinyinyiri yang pada akhirnya malah memperlihatkan kebodohan mereka sendiri. Seperti helm proyek yang dikenakan Anies Baswedan saat meninjau pengerjaan MRT, tertera label “Gubernur”. Hal remeh begitu membuat pihak yang kontra Anies Baswedan rewel. Padahal Presiden Jokowi pun diketahui pernah mengenakan helm proyek yang berlabel “Presiden”. Itu hanya satu contoh heboh, dan masih banyak lagi.

“Kelakuan kucing garong” juga mereka perlihatkan saat Anies Baswedan menghadiri pernikahan putri pak Jokowi kemarin ini. Para pendukung Ahok menyoraki Anies, lantas dibesar-besarkan oleh media. Padahal junjungan mereka pernah mendapat perlakuan yang lebih parah lagi. Pernah dilempari batu oleh massa, pernah diburu hingga si junjungan terpaksa menyelamatkan diri naik angkot, dll. Bedanya, Anies disoraki oleh pendukung lawan yang keki, sedangkan si junjungan diamuk massa karena kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.

Kejadian yang terbaru, walk outnya Ananda Sukarlan dkk saat Anies Baswedan memberi ceramah pada peringatan HUT Kanisius ke 90, semakin memperlihatkan darurat kedewasaan sikap politik sebagian masyarakat kita. Ananda Sukarlan beralasan walk outnya karena Anies mendapatkan jabatan dengan cara-cara dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Kanisius. Pertanyaannya, bila yang memenangi Pilgub DKI kemarin adalah Agus Yudhoyono, apakah Ananda Sukarlan memberi penilaian yang sama? Jangan-jangan Ananda Sukarlan hanya berkenan bila pemenang Pilgub DKI itu hanya Ahok, meski dibayangi kasus pembagian sembako, video kampanye kontroversial, dll.

Kira-kira sampai kapan ketidakdewasaan ini diperlihatkan? Boleh saja mereka tak bisa berhenti mencintai Ahok, tapi bukan berarti gagal menerima kenyataan.

Berkahnya Buat Anies

Tapi apakah pendukung Ahok itu tahu, bahwa sikap norak mereka malah bisa mengantarkan Anies Baswedan menjadi Presiden menggantikan Jokowi tahun 2019 besok? Nah lho!!

Karena masyarakat kita mudah simpati dengan pihak yang dizhalimi. Saat SBY dipecat oleh Megawati dari jabatan Menteri, masyarakat bersimpati dengan sang jenderal, dan jadilah ia memenangkan pilpres tahun 2004. Apakah pendukung Ahok ingin agar Anies juga begitu? Beberapa kalangan pun ada yang menyebut keterpilihan Jokowi akibat masyarakat simpati kepadanya karena sering difitnah dan dihujat.

Saya yakin akan ada lagi kelakuan yang tidak-tidak dari kelompok yang kalah di Pilgub Jakarta kemarin. Saya sih inginnya Anies Baswedan komitmen sampai akhir jabatannya, jangan ikut-ikutan politisi karbitan kutu loncat. Tapi kalau terus dizolimi begitu, ya siap siap saja kembali melihat fenomena mantan menteri yang dipecat, menjadi presiden.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2017 in Artikel Umum

 

Anies, Mahyeldi, dan Amal Jariah Pemilih Muslim

Kalau berita yang baru saja heboh membuat Anda tersenyum sumringah, maka selamat, itu tandanya masih ada iman di hati. Kabar tentang penutupan Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis yang tengah diburu oleh warganet. Apakah Anda termasuk yang senang?

Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan, sudah mengkonfirmasi. Dikutip media, berikut ini pernyataannya dari Balai Kota, Senin 30 Oktober 2017: “Sudah habis. Otomatis, maka tidak punya izin lagi kemudian. Kan sudah habis, kemudian dengan begitu, tidak ada izin lagi, otomatis kegiatan di situ bukan kegiatan legal lagi. Kegiatan legal adalah kegiatan yang mendapatkan izin, tanpa izin, maka semua kegiatan di situ bukan kegiatan legal.”

Santer Alexis disebut-sebut sebagai tempat maksiat. Siapa yang bilang? Salah satunya adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok. “Di hotel-hotel itu ada enggak prostitusi? ada, prostitusi artis di mana? di hotel. Di Alexis itu lantai 7 nya surga dunia loh (prostitusi). Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi lantai 7,” ujarnya yang terekam dalam jejak digital.

Warga Jakarta maupun luar Jakarta sudah mafhum akan hal tersebut. Tetapi apa daya, selama ini belum ada yang bisa menindak tempat yang mengundang kemurkaan Allah swt itu. Dan rakyat tahu hanya pemegang kekuasaan yang bisa. Pada akhirnya, hari ini seorang Gubernur muslim menepati janji yang pernah ia nyatakan, menutup tempat maksiat terbesar di wilayah yang menjadi amanahnya.

Kiprah Anies mengingatkan saya pada Mahyeldi Ansharullah, walikota Padang. Mungkin jarang masyarakat luar Sumatera Barat yang mengenal sosok ini. Tapi ia pun pernah bersikap tegas terhadap perbuatan maksiat di kota yang ia pimpin.

Istilah “Payung Tenda Ceper” pernah terkenal menyimbolkan lokasi wisata Danau Cimpago Pantai Purus, Padang. Ceritanya, pernah di kawasan itu berdiri payung-payung tenda lebar yang didirikan oleh para pedagang. Payung-payung ini kalau hari masih senja, masih berdiri tinggi. Tapi kian malam ketinggian payung ini makin rendah, dan semakin rendah. Hingga kabarnya tinggi payung hanya cukup menaungi badan dua insan yang berbaring, dengan dua pasang alas kaki mencurigakan terletak di luar. Sedang apa orang di dalamnya? Ah, itu rahasia umum.

Lantas walikota Padang dari Partai Keadilan Sejahtera ini menindak tegas. Per tanggal 1 Januari 2015, melalui Gerakan Padang Bersih (Bersih Lingkungan dan Bersih Maksiat), dibabatlah payung-payung tempat maksiat itu, didukung segenap unsur (TNI, Polri, Pol-PP dan Organisasi Masyarakat) kota Padang. Setelah Pembongkaran, setiap harinya kawasan tersebut dijaga oleh SatPol PP. Dan di atas kawasan tenda ceper tersebut kini dibangun taman bunga yang indah.

Amal Jariah Pemilih Muslim

Tentu tidak cuma dua nama itu saja yang pernah tegas menindak kemaksiatan. Contoh lainnya adalah ibu Tri Rismaharini atau yang terkenal dengan sebutan bu Risma, walikota Surabaya. Ia pernah membongkar kawasan lokalisasi Dolly yang tersohor. Benarlah ungkapan Utsman bin Affan r.a.: “Sesungguhnya Allah bisa mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur’an “

Di balik sosok kepala daerah yang anti maksiat, ada pemilih muslim yang mengantar mereka kepada kekuasaan. Jangan dikira beberapa detik di bilik suara saat rakyat memilih pemimpin yang diyakini akan berbuat baik itu tidak akan menjadi sebuah amal (mari berbaik sangka kepada Allah swt). Pada keterpaksaan mengikuti prosedur demokrasi untuk memperbaiki negeri, ada amal jariah yang bisa diperbuat.

Dalam sistem yang berlaku di negara ini, kita bisa memeriksa track record serta janji-janji para kandidat yang bertarung di pilkada. Bila ada tokoh yang berjanji untuk sebuah kebaikan (seperti menutup Alexis yang dijanjikan pasangan Anies-Sandi) dan kita yakin tokoh itu akan menunaikannya, maka coblosan paku di kotak suara dan juga berbagai kampanye yang kita lakukan untuk meyakinkan orang lain adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Juga pada janji yang mereka laksanakan seperti membangun fasilitas umum, tempat ibadah, dll yang dinikmati oleh orang banyak, ada porsi keterlibatan kita yang semoga itu menjadi amal jariah.

Mendukung pemimpin yang sholeh adalah cara bertaqwa dalam sistem yang tidak ideal. “Dan bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun ayat 16). Dengan catatan, partisipasi kita memilih pemimpin yang baik itu tidak sampai merusak ukhuwah karena persaingan politik.

Tapi bila pemimpin yang dipilih kiranya mengingkari janji, rakyat yang memilihnya tak bisa diminta pertanggung jawaban karena manusia tak bisa mengetahui apa yang terjadi esok hari. Mereka hanya menghukumi berdasar apa yang tampak.

Jadi kini mari bergembira dengan kabar penutupan tempat maksiat. Sebagaimana kita hanya bisa mengingkari kemungkaran dengan lisan dan hati (tanpa punya kekuasan di tangan), maka nyatakanlah kegembiraan itu. Hingga para pendukung maksiat keki.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2017 in Artikel Umum

 

Halaqoh dan Solusi Hijrah

Berapa kuota maksimal melakukan pembunuhan agar masih punya kesempatan bertaubat? Seorang pembunuh di zaman Bani Israil dengan membawa catatan rekor telah membantai 99 jiwa datang menemui seorang sholeh. Ia kemukakan kegundahannya belakangan, “masihkah saya punya kesempatan bertaubat?” Begitu kira-kira katanya.

Mimpi apa rahib itu semalam? Apakah Westerling lahir kepagian? Padahal bagi Allah, membunuh satu nyawa saja sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Maka, pikir sang rahib, sudah tak bisa lagi taubat si pembunuh diterima.

Lalu… KRASSSSHHH…. Mohon bayangkan itu bunyi pedang yang membabat tubuh, supaya ada dramatisasinya. Singkat cerita, sang rahib menjadi orang ke-100 yang dibunuh dengan kejam oleh tamunya. Si sumbu pendek meletup lagi karena kecewa harapannya untuk bertaubat divonis telah tertutup. Dapat hadiah apa bila telah genap angka 100? Payung cantik? Atau gelas, mangkok, piring?

Masih penasaran, si pembunuh bertanya lagi kepada orang-orang, siapa manusia paling berilmu tempat berkonsultasi tentang pertaubatan. Mendapat sebuah nama, pembunuh itu pun pergi menemui. Dan Allah perjumpakan. Setelah mendengar pengakuan dosa, sang alim menjawab dengan ilmu yang dimilikinya.

Pintu taubat senantiasa terbuka bagi setiap hamba selama ruh masih belum tercerabut dari badan. Termasuk bagi si pembunuh. Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Namun ada satu syarat agar taubat itu sukses. Si pembunuh harus meninggalkan lingkungan tempat ia tinggal sekarang, dan beranjak ke suatu daerah yang dihuni orang-orang sholeh. Agar ketaatan pribumi di sana bisa senantiasa menginspirasi diri untuk menjadi lebih baik.

Saya yakin pembaca sudah banyak yang tau kisah ini. Bahwa kemudian kematian mendadak di tengah perjalanan mencegah si pembunuh sampai ke daerah yang disyaratkan orang alim tadi. Selanjutnya terjadi perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat siksa, siapa yang berhak mendapat proyek mengurus arwah manusia super itu. Lalu karena posisi jenazah lebih dekat kepada kampung hijrah yang dituju, maka arwah pembunuh itu pun bersama malaikat rahmat.

Ronin-Ronin Muhajirin

Nabi Muhammad saw lah yang menceritakan hadits di atas, termaktub dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim. Tak hanya beribrah bahwa taubat buat manusia selalu terbuka, tapi juga pelajaran tentang bagaimana taubat bisa sempurna.

Hijrah dan lingkungan yang baik. Itu lah kunci yang ditunjukkan oleh orang alim pada cerita di atas. Harus ada pergerakan meninggalkan lokasi yang tak kondusif menuju bi’ah (lingkungan) yang memacu penghuninya berlomba pada kebaikan.

Hijrah, kata ini sedang trend di tengah masyarakat. Bukan cuma karena beberapa bulan lalu ada hari besar tahun baru Hijriyah yang memuat cerita pindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kata ini marak seiring meningkatnya gairah keislaman masyarakat Indonesia, terutama di kota besar. Umat muslim zaman now dimanjakan dengan fasilitas teknologi informasi yang membuat mereka bisa menimba ilmu di mana saja kapan saja berbekal gawai terhubung koneksi internet. Antusiasime belajar Islam ini merupakan hal yang menggemberikan. Diikuti dengan kemauan menjadi lebih baik, yang diistilahkan dengan hijrah.

Ya mereka ada semangat hijrah. Tapi kemana? Tentu kepada cara hidup yang lebih baik, yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Hijrah dalam artian pindah perilaku. Tidak sampai pindah tempat tinggal sebagaimana yang dipraktekkan pembunuh dalam cerita di atas, dan juga Rasulullah saw serta para sahabatnya.

Satu syarat lagi, lingkungan yang baik. Di mana para muhajirin anak baru ghiroh (ABG) itu mendapatkannya? Ini yang sering luput. Saya temukan langsung orang-orang yang senang memutar video youtube; membaca tulisan di facebook, whatsapp; dll yang bertemakan ilmu keislaman; namun mereka tak punya guru yang membimbing atau komunitas orang sholeh tempat saling mengingatkan. Mereka otodidak belajar Islam.

Lantas, karena maraknya kajian di media sosial ini diiringi dengan dialektika – dari yang santun sampai taraf tahdzir kelas eksekutif, mereka pun tak jarang terbawa dalam perdebatan. Jadilah mereka sebagai ronin, samurai tak bertuan, yang membabat lawan-lawan diskusi berbekal apa yang didengar di kajian, apa yang ditonton di youtube, atau apa yang dibaca dari tulisan di media sosial.

Ronin-ronin muhajirin ini fenomena yang menyedihkan sebenarnya. Lingkungan islami tak ada, hanya berteman koneksi internet yang kadang dibuat untuk kebaikan dan kadang masih dipakai untuk sisa-sisa kelakuan jahiliyah. Di sisi lain mereka sudah punya sparring partner untuk adu urat.

Liqoat Tarbawi, a Small Islamic Environment

Sebenarnya ada solusi hijrah di tengah masyarakat yang antusias menuntut ilmu. Perangkat-perangkatnya lumayan lengkap. Ada pertemuan pekanan tempat mengkalibrasi pemahaman Islam dan tempat memonitoring progress perbaikan diri. Itu lah yang orang sering sebut dengan liqo’ atau halaqoh tarbawi.

Ustadz Ihsan Tanjung ketika diwawancarai Majalah Al Izzah tahun 2000an dulu, mendeskripsikan halaqoh tarbawiah sebagai small Islamic environment. Lingkungan islami yang kecil. Ia istilahkan juga dengan laboratorium islami pembentuk kepribadian muslim.

Sesuai dengan ahdaf/tujuannya, liqo’ ini yang memperkenalkan Islam secara jelas, yang menyeluruh dan shahih bersumber dari Rasulullah, kepada para muhajirin milenial. Kemudian diajaknya para peserta halaqoh itu untuk berinteraksi dengan ajaran Islam: menanamkannya dalam aqidah yang dasar, membentuk pola pikir islami, menyelaraskan selera dan rasa yang islami, serta mengubah tampilan luar serta perilaku amal sesuai ajaran Islam. Lalu jadilah jalan hidup mereka tershibghoh (tercelup) dalam pewarnaan Islam.

Liqo’ ini juga yang membentuk interaksi antar sesama anggotanya menjadi lingkungan tempat saling mengingatkan dan berlomba pada kebaikan. Mereka dipersatukan dengan menelusuri rukun-rukun ukhuwah, yaitu ta’aruf (perkenalan), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaful (saling memikul beban).

Allah yang mempersatukan mereka. “dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal: 63)

Liqo’ juga bersifat ri’ayah ma’nawiyah, atau pemeliharaan semangat berislam dengan kaffah. Dengan membaurkan diri dalam lingkungan orang-orang yang senantiasa antusias, maka futur (rasa malas atau bosan yang datang setelah semangat) akan tergerus suasana.

Ini lah komunitas hijrah yang terarah.

Problematika “Kakak Kelas”

Sebagaimana kritikan seorang ustadz salafi zaman now yang sedang viral, liqo’ dianggap bermasalah karena sering kali yang menjadi murobbi atau pembina dalam halaqoh itu adalah kakak kelas di kampus. Dinilainya kebanyakan sang murobbi bukan lah orang yang punya ilmu mumpuni, bahkan tak mampu berbahasa arab.

Kritik itu terbangun dari pemahaman terhadap halaqoh yang salah. Karena liqo tidak seperti kajian umum. Ia adalah laboratorium hijrah kecil, small Islamic environment, bukan ta’lim dengan peserta ramai diisi oleh ustadz yang ahli dalam bidang tertentu.  Liqo’ juga adalah komunitas tempat saling menjaga semangat menjalankan Islam.

Kegiatan dalam halaqoh biasanya setoran hafalan quran, evaluasi implementasi sunnah dalam keseharian, tahsin, tak jarang juga ada sharing berupa kultum bergilir, dan agenda kebaikan yang disepakati bersama. Memang disampaikan juga materi keislaman dasar, tapi sang murobbi tentu sudah pernah mendapatkannya dari liqoat yang dia ikuti di kelompok lain.

Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah seorang manajer yang baik untuk sebagai murobbi, yang bisa mengkoordinir agenda-agenda itu. Yang terpenting ia bisa memberi keteladanan dalam kesungguhannya menghafal quran, hadits, menjalankan sunnah, berakhlak baik, dan mengikuti ta’lim-ta’lim ilmu. Ia jug bisa memotivasi anggotanya melawan rasa futur dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Selain itu murobbi adalah mentor hijrah bagi para new comer dalam dunia perhijrahan. Layaknya pebisnis mula memerlukan seorang mentor yang membimbingnya dalam dunia bisnis, begitu juga para muhajirin, mereka memerlukan senior yang sudah lebih dulu hijrah yang mengarahkannya agar konsisten dan berada di jalan yang benar.

Ada cerita seorang yang baru bergeliat gairah belajar islamnya, tapi tak punya pembimbing. Akhirnya bahan bacaan yang ia tekuni sehari-hari adalah tentang freemasonry dan dunia teori konspirasi. Sayang sekali, tak terarahkan. Kalau dia tergabung dalam halaqoh yang dibina seorang murobbi, tentu ada yang melatihnya dengan sunnah-sunnah yang dimulai dari yang ringan, merekomendasikannya bacaan-bacaan yang dibutuhkan, dsb.

Mentor hijrah ini tentu lebih berkesan bila ia adalah seorang senior yang sudah berpengalaman memperbaiki diri (dulunya juga pernah nakal). Dibanding seorang ustadz yang dari kecil terliput dalam lingkungan yang baik di pesantren, senior dalam dunia hijrah punya lebih banyak cerita dan pengalaman serta lebih nyambung diajak curhat oleh juniornya.

Tapi tetap lebih banyak sisi positifnya bila seorang ustadz yang menjadi murobbi. Karena lebih kecil kemungkinan ia berbicara di luar ilmunya. Dibanding senior di kampus umum yang terbatas hafalan quran, hadits, serta bahasa Arab. Masing-masing ada kelebihan.

Soal larangan berbicara tanpa ilmu, itu adalah hal yang diwanti-wanti benar ketika seorang masuk ke dalam halaqoh. Karena muhajirin new comer sering terjebak euphoria atas ilmu yang baru ia dapat. Ia bisa terjebak dalam sikap merasa lebih baik dari yang lain, lalu memamerkan ilmunya yang tak jarang ditambah-tambahkan sendiri.

Tapi kondisi begitu tidak cuma berpeluang terjadi dalam halaqoh yang dibina senior di kampus. Di media sosial malah mudah kita dapati fenomena ini. Pun, asatidz banyak juga tergelincir dalam kesalahan perkataan. Misalnya menganggap densus seperti mujtahid, atau menganggap walisongo tak ada bukti otentik, mencela surban pahlawan nasional, dll.

Entahlah, saya rasa bukan soal liqo itu diisi senior di kampus atau tidak. Andai ustadz Adi Hidayat yang menjadi murobbinya, rasanya tetap saja tak kan memuaskan kelompok pengkritik itu. Tahu kan kenapa….

Zico Alviandri

 
 

Mari Jaga Gubernur Kita

Kalau mau disebut pasangan kompromistis, ya boleh lah. Karena saya pun tidak menganggap pasangan Anies-Sandi – yang hari ini dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta yang baru – sebagai pasangan yang ideal, pasangan super, yang akan mampu menjawab semua permasalahan ibu kota Indonesia dalam 5 tahun ini (atau 2 tahun, kalau salah satu di antara mereka ikut bertarung di ajang pemilihan presiden nanti. Allahua’lam).

Sebagai pengganti dari sosok yang tidak disukai banyak warga Jakarta, dua nama ini bisa diterima dengan segala kekurangannya. Kompromistis, karena kemarin ada banyak opsi yang disodorkan untuk melengserkan “si mulut kasar”. Tiap pihak merasa yang mereka unggulkan lebih pantas. Tentu kondisi ini berbahaya, karena yang dibutuhkan adalah persatuan untuk sama-sama menempatkan figur yang tepat bagi Jakarta. Bukan saling klaim. Ya mau tidak mau, dua nama ini harus diterima.

Pasangan ini mendaftar di detik-detik berakhirnya waktu pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di KPUD DKI Jakarta. Jum’at, 23 September 2016, pada pukul 20.55 WIB, Anies dan Sandi memasuki halaman kantor KPUD, diarak oleh para pendukung dari dua partai: Gerindra dan PKS.

Nama Anies sendiri pun muncul di saat-saat akhir, setelah lobi-lobi partai politik yang tak kan mendukung Ahok-Djarot tak mampu mendapat kata sepakat. Akhirnya Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB mengusung Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni. Sementara Gerindra dan PKS harus mencari tokoh lain. Resmi lah tiga pasangan yang berlaga.

Kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara No. 4 Kebayoran Baru sudah disambangi beberapa figur terkenal ketika itu. Salah satunya Yusuf Mansur dan Yusril Ihza Mahendra. Tetapi Gerindra dan PKS belum kunjung menyepakati sebuah nama pun. Begitu alot. Lalu pada Jumat dinihari (23 Sept 2016), datanglah Anies Baswedan. Dan akhirnya partai nasionalis dan partai Islam itu sepakat untuk mengusung mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, beserta Sandiaga Uno sebagai wakilnya yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 2017.

Puaskah khalayak? Tentu tidak. Sempat menyeruak resistensi terhadap Anies Baswedan yang dianggap pengikut syiah. Hanya saja tuduhan itu lemah. Dibantah pula oleh para tokoh Islam. Sehingga lambat laun penolakan itu pun meredup.

Survey mencatat, di awal masa kampanye pasangan Anies-Sandi berada dalam posisi terancam tak lolos di putaran kedua. Tetapi perlahan masyarakat semakin terbuka menerima pasangan ini. Debat kandidat memperlihatkan penguasaan mereka terhadap masalah-masalah Jakarta. Janji-janji mereka dianggap lebih masuk akal. Dan akhirnya suara mereka menempati posisi kedua setelah penyobolasan putaran pertama.

Cerita selanjutnya kita tahu, di putaran kedua mereka menang dengan angka yang cukup telak. Perolehan 3.240.332 suara (57.95 persen), melawan 2.351.245 suara (42.05 persen) yang diraih Ahok-Djarot, di luar perhitungan banyak pihak. Apalagi survey Charta Politika yang dipunggawai Yunarto Wijaya yang kala itu merilis kemenangan Ahok-Djarot, 49 persen melawan 47,1 persen. Angka yang terbukti sangat ngawur.

Sekali lagi, ini adalah pasangan kompromistis dari pihak-pihak yang berwenang menentukan nama bagi penerus kepemimpinan Jakarta. Masyarakat hanya bisa menerima hasil lobi elit politik. Karena – jujur saja – banyak yang menganggap mereka berdua bukan yang paling ideal, maka bisa diprediksi akan banyak kritik diarahkan pada mereka di sepanjang perjalanan tugasnya. Bukan cuma dari kubu penolak, tapi juga kubu pendukung.

Tapi tetap saja Anies-Sandi berhak atas dukungan penuh warga Jakarta. Para penolak sudah bersiaga sejak lama untuk mengkerdilkan citra dan kerja mereka. Ke depan, kita akan melihat nyinyiran beraroma ekstragregasi yang akan ditujukan pada pasangan ini. Posisi kita di mana?

Tempatkan diri kita, pendukung pasangan Anies Sandi, sebagai pengawalnya. Bukan berarti pembela buta. Sebagai pengawal, kita berhak mengingatkan janji politik mereka, toh mereka sejak jauh hari sudah membuka diri. Selain itu, mari besama-sama buktikan bahwa pilihan kita ini tepat. Bahwa mereka juga bekerja. Jangan ragu untuk kabarkan kepada khalayak tentang keberhasilan-keberhasilan mereka yang kemungkinan besar media mainstream akan ogah memberitakan.

Waspada, kubu penolak sudah sejak lama memasang “mata lalatnya” yang sangat awas melihat sedikit saja “sampah” berserak. Mereka menunggu-nunggu kesalahan, bahkan akan mengorek-ngorek setiap centi kekurangan kerja pasangan Anies Sandi. Lalu diumbar sebagai hal yang sangat besar. Sementara kerja positif musuhnya akan ditutupi sedemikian rupa.

Mari jaga Gubernur kita!!!

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2017 in Artikel Umum

 

Anekdot Metromini dan Isu Kebangkitan PKI

Suatu sore metromini 640 yang memiliki rute Tanah Abang – Pasar Minggu berlari membelah jalan Sudirman. Di dalamnya sudah penuh penumpang hingga mereka berdesak-desakan. Aroma harum parfum karyawan kantoran hingga keringat mereka yang bekerja sejak pagi tercampur menjadi satu dihirup oleh penumpang yang duduk maupun yang berdiri.

Bunyi berisik mesin metromini mendominasi. Tetapi seketika kalah oleh suara ribut-ribut para penumpang.

“Mmmh… Siapa nih yang kentut?” Sebuah suara memulai kegaduhan. Diikuti yang lain yang ikut mengomel karena mencium bau kentut.

Tak ada yang mengaku tentu saja. Mata kondektur yang berdiri di pintu bis mini itu melirak-lirik mencurigai satu persatu penumpangnya. Lalu si kondektur pun berkata,

“Ini yang kentut pasti belum bayar…” Ia berteriak keras-keras. Terdengar oleh penumpang dari depan hingga belakang.

Tiba-tiba ada yang menyahut. “Enak aja… Saya udah bayar tadi.”

Dan sontak orang-orang di dalam bus melihat ke sumber suara. Jelas sudah siapa yang kentut tadi. Terpancing oleh akal bulus kondektur.

Kepanasan Isu PKI

Isu kebangkitan PKI, atau bergeliatnya aktivitas penganut paham komunis, sebenarnya bukan cerita baru. Sejak sebelum reformasi tahun 1998, sudah dideteksi adanya kegiatan mereka. Bahkan mereka yang paham peta perpolitikan, telah mensinyalir para pegiat komunis ini sudah membuat partai (walau pun tidak mencantumkan komunis sebagai asas partainya) dan menjadi peserta pemilu tahun 1999. Hanya saja mereka gagal menempatkan satu wakil pun di DPR.

Kini isu itu kembali ramai. Apalagi menjelang 30 September, tanggal di mana sejarah mencatat pemberontakan PKI 52 tahun lalu. Orang-orang mengenang kekejian partai yang berhasil merebut posisi ke-empat pada pemilu tahun 1955 silam, yang mendalangi penculikan 7 jenderal.

Makin gaduh ketika Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyatakan niat untuk mengadakan nonton bareng film G30S/PKI. Film yang sempat rutin diputar di TVRI tiap tahun pada tanggal 30 September, sebelum reformasi. Ada yang protes memang, tapi panglima tegas berkata, “Iya itu memang perintah saya, mau apa?”

Siapa yang memprotes? Tengok lah jagat media sosial. Banyak yang mempermasalahkan. Memang film ini terlalu sadis untuk ditonton anak belia, sehingga alasan ini ada yang mengajukannya. Tapi banyak juga yang sekedar mengada-ngada.

Di kalangan elit politik pun ada juga yang menggugat. Detik.com dalam sebuah headlinenya menulis judul berikut: “PDIP Tuding Panglima TNI Berpolitik soal Nobar Film G30S/PKI”. Politikus PDIP yang dimuat dalam berita tersebut adalah Efendi Simbolon.

Selain itu ada juga ketua LSM yang mengomentari panglima TNI sebagai yang terburuk setelah pasca reformasi. Salah satu sebabnya, menurut Hendardi, ketua Setara Institute yang berkata tadi, panglima TNI telah berpolitik karena mengangkat isu PKI. “Selain isu PKI, pemutaran film G30SPKI, perang pernyataan dengan Menteri Pertahanan, pengukuhan diri sebagai Panglima yang bisa menggerakkan dan memerintahkan apapun pada prajuritnya, adalah akrobat politik Panglima TNI yang sedang mencari momentum politik untuk mempertahankan eksistensinya jelang masa pensiun,” kata Hendardi.

Masih banyak lagi yang bereaksi keras atas keinginan Gatot Nurmantyo.

Namun Gatot menjawab balik. Ia sengaja mengangkat isu PKI untuk melihat siapa yang terpancing dengan isu tersebut.

“Saya katakan bahwa kami punya pengalaman buruk, tiba-tiba berapa jenderal yang dihabisi, maka sistem itu bekerja di TNI sampai saat ini. Biarkan kami seperti ini, kami memancing di air keruh juga (nanti akan) muncul-muncul, kami jadi tahu dengan berbagai cara,” ujarnya dikutip Okezone. Nah lho…

Sebenarnya pancingan model tadi sudah dipaparkan oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Di hadapan awak media, ia beri tips untuk mengenali pendukung PKI. Yaitu yang kepanasan ketika isu kebangkitan komunis digulirkan. Yang gigih menyangkal bahwa partai berlambang palu arit itu telah beraktivitas kembali.

“Jadi, kita patut curigai itu yang bilang nggak ada (PKI), mungkin dia yang komunisme,” begitu ujarnya.

Mudah-mudahan pembaca bisa menangkap korelasi antara cerita di dalam metromini di atas dengan pancingan Panglima TNI. Kondektur cerdik melempar wacana, tiba-tiba ada yang ceroboh membuka kedoknya, dan ketahuan lah siapa yang kentut di dalam metromini. Begitu juga yang dilakukan pak Gatot Nurmantyo, yang mengungkit kebangkitan PKI. Tiba-tiba, ada yang mencak-mencak. Bila ucapan Menhan benar, kita bisa melihat belangnya para aktivis PKI ini.

Sebenarnya kalau memang PKI tidak akan bangkit lagi, kenapa penyangkalnya begitu gigih berkoar-koar di media sosial? Mereka rugi apa bila isu ini rupanya salah? Toh kalau mereka bukan pegiat partai komunis, aparat tidak akan menindak. Alih-alih bersikap tenang dan cuek, mereka malah sangat berisik menyangkal isu ini. Aneh kan?

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2017 in Artikel Umum

 

Garuda Muda, Sudah Pandai Bersyukur, Harus Lebih Pintar Lagi Bersabar

Sangat membanggakan melihat selebrasi gol pemain-pemain muda timnas sepakbola Indonesia. Mereka berlari ke tepi lapangan dengan ekspresi gembira, mengambil posisi, lantas menjatuhkan lutut untuk kemudian bersujud syukur dengan sempurna. Beberapa pemain berderet melakukan itu, tak hanya pencetak gol. Pemandangan begini sudah biasa kita lihat dalam pertandingan timnas U22 yang kemarin berlaga di Sea Games, juga U18 di piala AFF yang digelar di Myanmar baru-baru ini.

Perayaan seperti itu jauh lebih baik daripada, misalnya, gaya selebrasi pemain U18 Myanmar yang banyak disoraki warganet. Mereka bergaya alay atau goyang banci yang bikin empet orang yang melihatnya.

Bagus! Garuda muda Indonesia sudah pandai mensyukuri nikmat Allah swt berupa gol yang mereka lesakkan. Mudah-mudahan itu lah alasan tim U18 kemarin bisa menang dengan angka-angka yang telak. Skornya sampai 9-0 melawan Filipina, 8-0 melawan Brunei, dan tuan rumah negara teroris Myanmar dihabisi 7-1 di laga perebutan tempat ketiga.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Tapi ingat, adik-adik harapan pecinta sepakbola Indonesia, seorang muslim itu tak hanya pandai bersyukur. Ia juga harus mampu bersabar.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur dan sabar adalah perasaan yang saling melengkapi menghadapi kondisi hidup yang sering berubah seperti roller coaster.

Tak banyak teori tentang syukur. Karena dalam kondisi bahagia, orang justru tak butuh kata-kata penyemangat. Tapi nasihat-nasihat tentang sabar bertebaran di mana-mana. Karena sabar itu tak hanya dalam menghadapi musibah. Menurut ulama, sabar itu ada 3 macam.

Pertama, sudah jelas, sabar ketika menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. Dan ketiga, sabar dalam menjauhi larangan Allah swt.

Nah, sabar jenis ketiga ini lah yang harus dipegang kuat di dalam lapangan. Kenapa? Karena provokasi dari lawan itu termasuk godaan untuk melanggar perintah Allah, yaitu kita merespon dengan kekerasan. Tentu di atas lapangan, respon seperti itu merugikan karena wasit akan langsung memberi sanksi yang tegas.

Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari kartu merah yang diterima Hanif Sjahbandi pada laga penyisihan Sea Games ketika melawan Vietnam. Juga kartu merah Sadil Ramdani ketika melawan Thailand di semifinal AFF U18. Dua-duanya bereaksi karena diprovokasi lawan. Bangsa ini bisa memaklumi kok. Kalian masih muda. Punya darah menggejolak. Gengsinya masih tinggi. Sehingga gampang lepas kontrol menghadapi lawan yang banyak tingkah. Tapi jangan terulang lagi kasus begini.

Bangsa ini ingin melihat para pemain yang punya mental baja. Tak terpancing provokasi lawan. Tetap semangat dalam kondisi tertekan. Dan tak juga jumawa saat mendapat kemenangan. Itu lah manifestasi rasa sabar dan syukur yang telah komplit dalam diri seorang atlet.

Tetap semangat!

 

Derita Rohingya Tanggung Jawab Kita

Sebagaimana topografi bumi yang tak rata namun menjadikannya indah, seperti itulah kehidupan umat manusia. Ada yang diberi kelebihan, dan ada yang kekurangan. Dari ketidaksetaraan itu menghadirkan keindahan: rasa berbagi dan saling membantu.

Betapa banyak insan yang tak kenal Tuhannya lantas menganggap Sang Pencipta tak adil begitu melihat keanekaragaman nasib manusia. “Mengapa banyak yang menderita, sedangkan masih ada yang rakus kuasa dan harta. Di mana keadilan Tuhan?” pikirnya.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Itu penjelasan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32. Agar yang lemah bisa mendapat manfaat dari yang kuat, agar yang lebih bisa memberi kepada yang kurang. Allah jadikan nasib manusia yang tak sama sebagai ajang bagi insan untuk menjadi yang terbaik. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani).

Itu lah tujuan Allah swt menciptakan kehidupan. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)

Selagi hidup di dunia, mau kah kita menjadi manusia dengan amal terbaik? Di zaman ini, tak susah mencari manusia yang perlu kita beri manfaat. Terbentang jalan di depan, pada jerit ratap suku Rohingya di Myanmar. Sedangkan bila kita abai atas jeritan itu, apakah kita menyangka masalah ini tak akan Allah singgung saat mempertanggungjawabkan amal di hadapan-Nya?

Pada mereka yang tertindas, kita punya amanah. Bila hati masih merasa terusik, itu adalah anugerah. Panggilan untuk menghias hidup dengan keindahan ta’awun (saling menolong).

Bila tak ada power untuk cegah junta militer berlaku sewenang-wenang, maka berjihad hadap diri dari sifat bakhil!