RSS

Monthly Archives: September 2017

Anekdot Metromini dan Isu Kebangkitan PKI

Suatu sore metromini 640 yang memiliki rute Tanah Abang – Pasar Minggu berlari membelah jalan Sudirman. Di dalamnya sudah penuh penumpang hingga mereka berdesak-desakan. Aroma harum parfum karyawan kantoran hingga keringat mereka yang bekerja sejak pagi tercampur menjadi satu dihirup oleh penumpang yang duduk maupun yang berdiri.

Bunyi berisik mesin metromini mendominasi. Tetapi seketika kalah oleh suara ribut-ribut para penumpang.

“Mmmh… Siapa nih yang kentut?” Sebuah suara memulai kegaduhan. Diikuti yang lain yang ikut mengomel karena mencium bau kentut.

Tak ada yang mengaku tentu saja. Mata kondektur yang berdiri di pintu bis mini itu melirak-lirik mencurigai satu persatu penumpangnya. Lalu si kondektur pun berkata,

“Ini yang kentut pasti belum bayar…” Ia berteriak keras-keras. Terdengar oleh penumpang dari depan hingga belakang.

Tiba-tiba ada yang menyahut. “Enak aja… Saya udah bayar tadi.”

Dan sontak orang-orang di dalam bus melihat ke sumber suara. Jelas sudah siapa yang kentut tadi. Terpancing oleh akal bulus kondektur.

Kepanasan Isu PKI

Isu kebangkitan PKI, atau bergeliatnya aktivitas penganut paham komunis, sebenarnya bukan cerita baru. Sejak sebelum reformasi tahun 1998, sudah dideteksi adanya kegiatan mereka. Bahkan mereka yang paham peta perpolitikan, telah mensinyalir para pegiat komunis ini sudah membuat partai (walau pun tidak mencantumkan komunis sebagai asas partainya) dan menjadi peserta pemilu tahun 1999. Hanya saja mereka gagal menempatkan satu wakil pun di DPR.

Kini isu itu kembali ramai. Apalagi menjelang 30 September, tanggal di mana sejarah mencatat pemberontakan PKI 52 tahun lalu. Orang-orang mengenang kekejian partai yang berhasil merebut posisi ke-empat pada pemilu tahun 1955 silam, yang mendalangi penculikan 7 jenderal.

Makin gaduh ketika Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyatakan niat untuk mengadakan nonton bareng film G30S/PKI. Film yang sempat rutin diputar di TVRI tiap tahun pada tanggal 30 September, sebelum reformasi. Ada yang protes memang, tapi panglima tegas berkata, “Iya itu memang perintah saya, mau apa?”

Siapa yang memprotes? Tengok lah jagat media sosial. Banyak yang mempermasalahkan. Memang film ini terlalu sadis untuk ditonton anak belia, sehingga alasan ini ada yang mengajukannya. Tapi banyak juga yang sekedar mengada-ngada.

Di kalangan elit politik pun ada juga yang menggugat. Detik.com dalam sebuah headlinenya menulis judul berikut: “PDIP Tuding Panglima TNI Berpolitik soal Nobar Film G30S/PKI”. Politikus PDIP yang dimuat dalam berita tersebut adalah Efendi Simbolon.

Selain itu ada juga ketua LSM yang mengomentari panglima TNI sebagai yang terburuk setelah pasca reformasi. Salah satu sebabnya, menurut Hendardi, ketua Setara Institute yang berkata tadi, panglima TNI telah berpolitik karena mengangkat isu PKI. “Selain isu PKI, pemutaran film G30SPKI, perang pernyataan dengan Menteri Pertahanan, pengukuhan diri sebagai Panglima yang bisa menggerakkan dan memerintahkan apapun pada prajuritnya, adalah akrobat politik Panglima TNI yang sedang mencari momentum politik untuk mempertahankan eksistensinya jelang masa pensiun,” kata Hendardi.

Masih banyak lagi yang bereaksi keras atas keinginan Gatot Nurmantyo.

Namun Gatot menjawab balik. Ia sengaja mengangkat isu PKI untuk melihat siapa yang terpancing dengan isu tersebut.

“Saya katakan bahwa kami punya pengalaman buruk, tiba-tiba berapa jenderal yang dihabisi, maka sistem itu bekerja di TNI sampai saat ini. Biarkan kami seperti ini, kami memancing di air keruh juga (nanti akan) muncul-muncul, kami jadi tahu dengan berbagai cara,” ujarnya dikutip Okezone. Nah lho…

Sebenarnya pancingan model tadi sudah dipaparkan oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Di hadapan awak media, ia beri tips untuk mengenali pendukung PKI. Yaitu yang kepanasan ketika isu kebangkitan komunis digulirkan. Yang gigih menyangkal bahwa partai berlambang palu arit itu telah beraktivitas kembali.

“Jadi, kita patut curigai itu yang bilang nggak ada (PKI), mungkin dia yang komunisme,” begitu ujarnya.

Mudah-mudahan pembaca bisa menangkap korelasi antara cerita di dalam metromini di atas dengan pancingan Panglima TNI. Kondektur cerdik melempar wacana, tiba-tiba ada yang ceroboh membuka kedoknya, dan ketahuan lah siapa yang kentut di dalam metromini. Begitu juga yang dilakukan pak Gatot Nurmantyo, yang mengungkit kebangkitan PKI. Tiba-tiba, ada yang mencak-mencak. Bila ucapan Menhan benar, kita bisa melihat belangnya para aktivis PKI ini.

Sebenarnya kalau memang PKI tidak akan bangkit lagi, kenapa penyangkalnya begitu gigih berkoar-koar di media sosial? Mereka rugi apa bila isu ini rupanya salah? Toh kalau mereka bukan pegiat partai komunis, aparat tidak akan menindak. Alih-alih bersikap tenang dan cuek, mereka malah sangat berisik menyangkal isu ini. Aneh kan?

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2017 in Artikel Umum

 

Garuda Muda, Sudah Pandai Bersyukur, Harus Lebih Pintar Lagi Bersabar

Sangat membanggakan melihat selebrasi gol pemain-pemain muda timnas sepakbola Indonesia. Mereka berlari ke tepi lapangan dengan ekspresi gembira, mengambil posisi, lantas menjatuhkan lutut untuk kemudian bersujud syukur dengan sempurna. Beberapa pemain berderet melakukan itu, tak hanya pencetak gol. Pemandangan begini sudah biasa kita lihat dalam pertandingan timnas U22 yang kemarin berlaga di Sea Games, juga U18 di piala AFF yang digelar di Myanmar baru-baru ini.

Perayaan seperti itu jauh lebih baik daripada, misalnya, gaya selebrasi pemain U18 Myanmar yang banyak disoraki warganet. Mereka bergaya alay atau goyang banci yang bikin empet orang yang melihatnya.

Bagus! Garuda muda Indonesia sudah pandai mensyukuri nikmat Allah swt berupa gol yang mereka lesakkan. Mudah-mudahan itu lah alasan tim U18 kemarin bisa menang dengan angka-angka yang telak. Skornya sampai 9-0 melawan Filipina, 8-0 melawan Brunei, dan tuan rumah negara teroris Myanmar dihabisi 7-1 di laga perebutan tempat ketiga.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Tapi ingat, adik-adik harapan pecinta sepakbola Indonesia, seorang muslim itu tak hanya pandai bersyukur. Ia juga harus mampu bersabar.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur dan sabar adalah perasaan yang saling melengkapi menghadapi kondisi hidup yang sering berubah seperti roller coaster.

Tak banyak teori tentang syukur. Karena dalam kondisi bahagia, orang justru tak butuh kata-kata penyemangat. Tapi nasihat-nasihat tentang sabar bertebaran di mana-mana. Karena sabar itu tak hanya dalam menghadapi musibah. Menurut ulama, sabar itu ada 3 macam.

Pertama, sudah jelas, sabar ketika menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. Dan ketiga, sabar dalam menjauhi larangan Allah swt.

Nah, sabar jenis ketiga ini lah yang harus dipegang kuat di dalam lapangan. Kenapa? Karena provokasi dari lawan itu termasuk godaan untuk melanggar perintah Allah, yaitu kita merespon dengan kekerasan. Tentu di atas lapangan, respon seperti itu merugikan karena wasit akan langsung memberi sanksi yang tegas.

Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari kartu merah yang diterima Hanif Sjahbandi pada laga penyisihan Sea Games ketika melawan Vietnam. Juga kartu merah Sadil Ramdani ketika melawan Thailand di semifinal AFF U18. Dua-duanya bereaksi karena diprovokasi lawan. Bangsa ini bisa memaklumi kok. Kalian masih muda. Punya darah menggejolak. Gengsinya masih tinggi. Sehingga gampang lepas kontrol menghadapi lawan yang banyak tingkah. Tapi jangan terulang lagi kasus begini.

Bangsa ini ingin melihat para pemain yang punya mental baja. Tak terpancing provokasi lawan. Tetap semangat dalam kondisi tertekan. Dan tak juga jumawa saat mendapat kemenangan. Itu lah manifestasi rasa sabar dan syukur yang telah komplit dalam diri seorang atlet.

Tetap semangat!

 

Derita Rohingya Tanggung Jawab Kita

Sebagaimana topografi bumi yang tak rata namun menjadikannya indah, seperti itulah kehidupan umat manusia. Ada yang diberi kelebihan, dan ada yang kekurangan. Dari ketidaksetaraan itu menghadirkan keindahan: rasa berbagi dan saling membantu.

Betapa banyak insan yang tak kenal Tuhannya lantas menganggap Sang Pencipta tak adil begitu melihat keanekaragaman nasib manusia. “Mengapa banyak yang menderita, sedangkan masih ada yang rakus kuasa dan harta. Di mana keadilan Tuhan?” pikirnya.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Itu penjelasan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32. Agar yang lemah bisa mendapat manfaat dari yang kuat, agar yang lebih bisa memberi kepada yang kurang. Allah jadikan nasib manusia yang tak sama sebagai ajang bagi insan untuk menjadi yang terbaik. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani).

Itu lah tujuan Allah swt menciptakan kehidupan. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)

Selagi hidup di dunia, mau kah kita menjadi manusia dengan amal terbaik? Di zaman ini, tak susah mencari manusia yang perlu kita beri manfaat. Terbentang jalan di depan, pada jerit ratap suku Rohingya di Myanmar. Sedangkan bila kita abai atas jeritan itu, apakah kita menyangka masalah ini tak akan Allah singgung saat mempertanggungjawabkan amal di hadapan-Nya?

Pada mereka yang tertindas, kita punya amanah. Bila hati masih merasa terusik, itu adalah anugerah. Panggilan untuk menghias hidup dengan keindahan ta’awun (saling menolong).

Bila tak ada power untuk cegah junta militer berlaku sewenang-wenang, maka berjihad hadap diri dari sifat bakhil!