RSS

Monthly Archives: April 2017

Pertolongan Allah Bukannya Nanggung

“Kabarnya Mesir kena bencana taufan; air yang berubah menjadi darah; juga bencana kutu, katak dan belalang gara-gara mengingkari Musa. Gw cuma bingung. Allah bantuin Musa & Bani Israil kok nanggung amat. Sekalian bantu sampe merdeka nape?”

Mungkin seperti itu kicauan seorang pendukung kerajaan Firaun kalau di zaman itu sudah ada media sosial. Dengan status itu, antara ia menantang Tuhannya Nabi Musa a.s, atau mengolok-olok adzab yang sedang terjadi.

Quran bercerita kepada kita bahwa kemerdekaan Bani Israil tidak datang serta merta. Firaun dan bala tentaranya terlebih dahulu ditimpakan berbagai bencana. Di antaranya taufan; air yang berubah menjadi darah; wabah hama kutu, katak, dan belalang, dll. Tujuannya agar mereka “menyerah” dari watak keras kepala bertahan dalam kekafiran.

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.” (QS Al-A’raf 133-134)

Kenapa Allah tidak memberi pertolongan secara instan kepada Nabi Musa a.s. dan kaumnya? Karena Firaun dan bala tentaranya punya hak untuk diberi jalan bertaubat.

Semua penjahat di dunia punya kesempatan bertaubat. Termasuk penguasa zalim dalam kisah Ashhabul Ukhdud, yang telah membakar orang beriman di dalam parit. (Lihat QS Al-Buruj ayat 10).

Termasuk pemerintah Zionis Israel yang telah melarang adzan berkumandang di Masjid Al-Aqsho. Mereka punya hak dan kesempatan bertaubat. Saya meyakini api yang membakar kota-kota di Israel saat ini adalah jalan yang Allah sediakan buat mereka agar mengoreksi kebijakannya dan menghentikan penindasan kepada warga Palestina.

Lalu kapankah datangnya kemerdekaan Palestina? Insya Allah, ada saatnya Allah berikan pertolongan bagi kaum yang tertindas bila pihak yang lalim tak kunjung menghentikan kekejamannya. Kapan waktunya, itu urusan Allah. Pertolongan Allah itu malah sering kali turun ketika pihak yang diuji sudah hampir putus asa, hingga menjerit, “mata nashrullah?” “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (Lihat QS Al-Baqarah: 214)

Akan tiba waktunya Allah menolong rakyat Palestina. Bukan berarti pertolongan Allah itu nanggung banget. Bagi yang mengenal Tuhannya tentu tidak akan berkata begitu.

Semua punya kesempatan bertaubat, termasuk saya, Anda, dan penulis status yang mirip-mirip dengan paragraf awal.

Advertisements
 

Mendegradasi Nilai, Membenarkan Zina dengan Logika

Cukup berani anak muda itu melangkah menemui Rasulullah yang sedang tak sendiri. Ada orang lain di sekitar Rasulullah yang akan mendengar permintaan anak muda itu dan bisa saja bereaksi hebat. Tapi anak muda itu bergeming. Ia melangkahkan kakinya. Dan saat tepat di hadapan Rasulullah, ia bersuara.

“Ya Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Siapa dia? Apa pangkatnya? Lancang sekali memerintahkan Rasulullah untuk mengeluarkan izin berbuat maksiat. Orang-orang di sekitar Rasulullah tak habis pikir dengan anak muda ini. Tak ada kah sedikit rasa malu untuk mengajukan permintaan kurang ajar seperti itu?

Di tengah keterkejutan dan kemarahan spontan orang-orang di sekitarnya, Rasulullah malah tak menampakkan raut murka. Ia paham, ada gejolak yang hebat di dalam tubuh anak muda itu. Rasulullah tahu, permintaan tadi tak pantas. Tapi inisiatif anak muda ini menemui Rasulullah adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Bisa saja ia turuti nafsunya dan berzina dengan wanita yang ia mau. Tapi anak muda ini masih punya rasa takut kepada Allah sehingga datang mengadu kepada Rasulullah.

Memang, dengan permintaan seperti itu di depan khalayak, seolah-olah anak muda ini sudah kehilangan rasa malu. Tetapi ada sesuatu yang bisa disentuh oleh Rasulullah. Dan beliau saw tahu menanganinya.

“Mendekatlah!” ujar Rasulullah.

Anak muda itu pun menerobos kepungan orang-orang dan duduk di dekat Rasulullah.

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada ibumu?” tanya Rasulullah.

Jleb. Si anak muda tak pernah menyangka akan diajukan pertanyaan semacam itu.

“Tidak, demi Allah ya Rasul,” jawabnya.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka berzina,” ungkap Rasulullah.

“Bagaimana kalau adikmu berbuat begitu?” tanya Rasulullah lagi.

“Tidak, ya Rasul.” Jawab si pemuda. Ia tentu jijik membayangkan adiknya berzina dengan orang lain.

“Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka,” terang Rasulullah.

“Kalau putrimu?” tanya Rasulullah lagi.

“Tidak ya Rasul.”

“Begitu pula orang-orang, tak kan rela anak putrinya berzina.

Kalau bibimu?”

“Tidak ya Rasul.”

“Orang-orang pun tak rela bibinya berzina.”

Telak. Argumen Rasulullah cukup telak menyentuh logika si anak muda. Juga hati kecilnya yang terlanjur membayangkan orang-orang terdekatnya berzina. Tak rela bila itu sampai terjadi.

Ending dari cerita ini, Rasulullah kemudian meletakkan tangan kokoh nan lembutnya ke dada si anak muda, dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

*****

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani. Terjadi pada sekitar 14 abad yang lalu. Di saat peradaban manusia, khususnya di Madinah, masih memiliki standard moral yang terjaga.

Kalau hasrat berzina itu menimpa anak muda di zaman sekarang, lantas ia adukan kepada orang tuanya, kira-kira apa jawaban orang tua? Saya yakin masih banyak yang tak kan mengizinkan, bahkan murka mendengar permintaan macam itu. Tapi jangan salah, ada kok orang tua yang mengizinkan.

Simak kisah Nia Dinata, seorang sutradara dan produser film, seperti yang dikutip oleh okezone. (http://news.okezone.com/…/abg-impikan-ke-belanda-demi-seks-…).

“Saya pernah tersentak ketika anakku bilang, Mom aku ingin nabung dan pergi ke Belanda menikmati seks. Karena di sana bebas dan legal,” sejenak ia pergi ke kamar mandi dan mengucurkan air mata karena anaknya bilang seperti itu. Dia mencoba bersikap tenang dan menanggapinya. “Kamu tahu dari siapa? Tanyanya. “Dari teman-teman di sekolah,” jawab anaknya.

Menghadapi semacam itu, Nia mengatakan remaja harus diberi arahan dan diberi pengetahuan tentang pendidikan seks. Bahkan menanggapi pernyataan anaknya sebagaimana disebut atas. Dia tak segan-segan memberi izin pada anaknya, dengan catatan, anaknya harus memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks.

Di samping itu, dia menyatakan kepada anaknya, untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya.

“Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama mau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya,” katanya.

Dari kutipan artikel di atas, kita temukan di zaman sekarang ada ibu yang mengizinkan anaknya menikmati seks yang bebas seperti di Belanda. Si ibu bukannya menyarankan menikmati seks bersama pasangan nikah (suami atau istri), tetapi malah mempersilakan menikmatinya dengan pacar. Satu pesannya, asal mau sama mau dengan mengerti sex education.

Tak berlaku lagi nilai moral bahwa seks di luar nikah adalah hal yang terlarang. Nilai itu runtuh dilindas oleh logika yang membenarkan perilaku zina. Masih dalam artikel tersebut, di paragraf lain tentang pandangan Nia Dinata terhadap seks pra nikah terulas seperti berikut:

Kembali pada persoalan seks pra nikah di kalangan remaja yang semakin menjamur maka yang paling dibutuhkan sekarang adalah pendidikan seks yang sehat. Menjelaskan bagaimana tentang penyakit menular dan bahaya seperti HIV/AIDS.

“Hal yang paling penting adalah memberi pengetahuan tentang pendidikan seks sehat dan bahaya penyakit menular layaknya HIV AIDS,” kata dia.

Menurut Nia Dinata, yang terpenting adalah pendidikan seks dan kesadaran penyakit menular. Bukan pernikahan yang menjadi legalitas sebuah hubungan seks. Institusi pernikahan tak diperlukan lagi manakala pendidikan seks telah terpenuhi.

Logika pembenaran yang lain belakangan terlihat pada persidangan di Mahkamah Konstitusi dalam agenda judicial review oleh Aliansi Keluarga Indonesia (AILA) terhadap pasal 284, 285 dan 292 KUHP yang dianggap tidak melindungi masyarakat dari maraknya zina. Dalam persidangan yang digelar beberapa kali itu (sampai tulisan ini dibuat, belum ada keputusan oleh Majelis Hakim), turut diundang pihak-pihak yang ingin mempertahankan pasal-pasal tersebut.

Argumentasi pihak yang menolak adanya judicial review adalah karena seks merupakan ranah privat. “Negara tidak usah ikut campur, ini urusan badan saya,” begitu alasan mereka.

Contohnya kala Roichatul Aswidah menyampaikan pandangannya sebagai ahli dari Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), kamis 22 September 2016 lalu. Menurutnya, hak-hak privat manusia harus dihormati. Salah satunya adalah aktivitas seksual seseorang. “Hal ini berlaku bagi perilaku seksual dari seseorang dalam ranah privat atau konsumsi pornografi dalam ranah privat,” ujarnya. (Lihat tautan http://www.kompasiana.com/…/roichatul-aswidah-pornografi-ad…)
“Regulasi yang mengatur perilaku seksual dalam hal ini harus secara hati-hati. Apabila tidak, maka kemudian dapat merupakan sebuah intervensi yang sewenang-wenang atas hak privasi,” ungkapnya lagi.

Logika-logika seperti ini telah menepiskan nilai moral yang berlaku di masyarakat, bahwa zina adalah sesuatu yang terlarang bahkan menjijikkan. Bagi mereka yang membenarkan perilaku zina, individu menjadi kebas nilai dan terlindung dalam ranah privatnya. Mereka mau berbuat apa pun terserah mereka selama itu di dalam ruang privat.

Berbeda dengan tatkala Rasulullah mengajak anak muda dalam cerita di atas untuk membayangkan bila orang-orang dekatnya berzina. Spontan akan menimbulkan rasa jijik dan ketidak relaan. Itu karena mereka saling berpijak pada nilai yang sama.

Kelak, bila logika-logika para pembenar perzinaan ini beredar luas, maka tak akan ada lagi anak yang tak rela orang tuanya berzina. Inginkah kita bila keadaan masyarakat mejadi seperti itu?

Sesungguhnya logika mereka bukan tanpa bantahan. Logika bahwa yang terpenting seks itu aman dan sehat, adalah keliru karena tak ada seks bebas yang sehat. Dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, dokter ahli yang tiap hari berhadapan dengan para penderita penyakit kelamin akitbat seks menyimpang, mempersaksikan apa yang dialaminya.

“Orang seenaknya saja membela zina atas nama kebebasan. Kami, para dokter, yang menyaksikan akibatnya setiap hari. Ada laki-laki yang datang dengan penyakit kelamin yang tidak mungkin tidak karena zina. Awalnya tidak mau mengaku, tapi setelah saya paksa barulah ia mengaku. Memang penyakitnya tak mungkin datang begitu saja, kecuali dengan berganti-ganti pasangan,” ungkapnya saat menjadi pembicara Seminar Kebangsaan “Reformulasi KUHP Delik Kesusilaan dalam Bingkai Nilai-nilai Keindonesiaan” di Senayan, Jakarta, 26 September 2016 lalu. ( http://www.kompasiana.com/…/dewi-inong-jangan-seenaknya-mem…)

“Setiap tahun saya ikut konferensi internasional, dan kemarin saya baru pulang dari Amerika Serikat juga. Di situ semua ahli dalam bidang penyakit kelamin berkumpul, dan kita menyaksikan sendiri betapa dunia sudah semakin menyeramkan,” terangnya lagi.

Justru bila seseorang mengerti pendidikan seks yang benar, maka ia akan menghindari seks bebas bergonta-ganti pasangan dan memilih menyalurkan hasratnya dalam ikatan pernikahan yang legal.

Sekaligus logika bahwa aktivitas seks berada dalam ranah privat menjadi terbantahkan. Karena zina akan menimbulkan penyakit yang menular ke tengah masyarakat. Mungkin aktivitasnya privat, tapi efek yang ditimbulkannya tidak.

Logika pembenaran untuk berzina adalah suatu yang menipu. Masyarakat harus kritis menghadapi pengusung logika itu. Nilai yang kini dianut sudah tepat. Jangan mau nilai itu didegradasi oleh logika yang rapuh.

Zico Alviandri

 

Menyambut Kepemimpinan Generasi Al-Maidah 54

Kama takunu yuwalla `alaykum. Sebagaimana keadaan kalian, maka begitulah pemimpin yang lahir di tengah kalian. Kata-kata ini disangkal oleh para asatidz sebagai perkataan Rasulullah. Ini hanyalah perkataan hikmah Hasan Al-Bashri yang bertemu dengan realita. Seperti kualitas pohon, tumbuhnya tergantung kesuburan tanah. Begitulah profil yang memimpin umat manusia, ia adalah cerminan rakyatnya. Dan benarlah kata-kata hikmah tersebut.

Di sebuah grup whatsapp, seorang teman mengajak introspeksi bahwa pemimpin bangsa ini yang sering diprotes di media sosial, tak lain adalah cerminan rakyatnya juga. Apalagi proses pemilihan pemimpin di negeri ini dilakukan dengan langsung melibatkan rakyatnya. Dari ketua RT hingga presiden, suara rakyat menjadi penentu. Sehingga wajar bila pemimpin yang hadir adalah representasi selera dan keadaan masyarakat.

Tapi mengapa pemimpin yang sudah mirip dengan rakyatnya itu masih sering dipermasalahkan juga? Mungkin memang sifat rakyat negeri ini suka menyalahkan. Apa pun pemimpin yang muncul, akan sering menerima kritikan. Dan begitu pula pemimpinnya. Contohnya, pemerintahan yang telah berlalu menjadi bulan-bulanan dipersalahkan oleh rezim yang sekarang. Klop kan?

Namun dengan aksioma “kama takunu yuwalla ‘alaykum” itu, penulis berbaiksangka kepada Allah, bahwa sedang berjalan skenario perbaikan untuk umat Islam di negara ini melalui kehebohan yang terjadi belakangan. Tepatnya, pada rangkaian pilkada DKI hingga kasus penistaan Al-Qur’an oleh gubernur petahana. Melalui kasus itu Allah ingin menguji sekaligus mempersiapkan pemimpin terbaik buat umat Islam Indonesia.

Ayat yang Saling Terhubung

Tulisan ini terinspirasi oleh grafis yang beredar di media sosial, berupa terjemahan ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah 51 hingga 54. Grafis itu diedit dengan ditambahkan keterangan, tanpa mengubah arti. Dari keterangan ini, terlihatlah ayat 51-54 itu saling terhubung.

Al-Maidah ayat 51 semakin popular belakangan ini. Apalagi sejak “peristiwa Kepulauan Seribu.” Benang merahnya (kata ini juga sedang populer ya?), seperti yang tertulis dalam grafis yang saya singgung itu, adalah larangan memilih pemimpin kafir.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah: 51)

Dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang menyitir tentang keberpihakan orang munafik kepada orang kafir dengan menampakkan rasa inferiority complexnya. Terlihat kekerdilan jiwa kaum munafik sehingga menimbulkan ketakutan yang tak beralasan.

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS Al-Maidah: 52)

Lantas terbitlah keheranan umat Islam terhadap pihak yang selama ini dianggap saudara seiman, yaitu orang-orang munafik tadi.

“Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah: 53)

Hingga kemudian datanglah mekanisme seleksi dari Allah. Ia Azza wa Jalla memperbaharui umat ini dengan generasi yang baik, menggantikan generasi yang Allah anggap “murtad.”

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah: 54).

Mentadaburi itu, kita akan mendapatkan kesinambungan tema antar ayat. Dan lebih memukau lagi, ayat itu mencerminkan kondisi terkini di negara ini. Pas sekali dengan tema pilkada DKI hingga kasus penistaan yang dilakukan oleh gubernur petahana.

Seleksi Allah dan Kebangkitan Generasi Pengganti

Umat muslim terbelah dalam menyambut seruan Al-Maidah 51. Bahkan mereka terbelah juga menyikapi kasus pelecehan Al-Qur’an. Lantas ada pihak yang mengaitkan ayat 51 sampai 53 surat Al-Maidah dengan kondisi terkini. Ayat-ayat tersebut memang turun di Madinah. Namun sejarah terus berulang. Dan ibrah (pelajaran) Al-Qur’an berlaku sepanjang zaman.

Satu hal yang harus diperhatikan, kalau pun ada kesusaian kondisi, tidak lantas menghalalkan seseorang memvonis munafik secara serampangan terhadap muslim lain yang membela gubernur DKI petahana! Memberi peringatan dengan Al-Maidah 52 boleh saja, tapi jangan sampai memvonis munafik.

Kalau benar ada kesesuaian, kita bisa berbaik sangka kepada Allah bahwa ini adalah cara untuk memunculkan pemimpin yang pro kepada umat Islam. Jalannya, dengan hadirnya generasi pengganti seperti yang disebutkan dalam surat Al-Maidah 54, yang menyeleksi orang-orang yang mengaku muslim yang tidak berpihak kepada umat Islam. Generasi ini akan Allah berikan posisi yang kuat di negeri ini, dan Allah munculkan di tengah mereka seorang pemimpin. Sehingga aksioma “kama takunu yuwalla `alaykum” berlaku bagi mereka.

Mungkin masih panjang perjalanan ke arah sana. Tapi tak kan sia-sia bila sejak sekarang kita menyelaraskan kriteria yang telah Allah firmankan dalam ayat tersebut.

Yang asasi dalam rangkaian kriteria itu adalah adanya rasa cinta kepada Allah swt. Rasa ini lahir dari keimanan yang mendalam, ibadah yang intens, dan kepengenalan terhadap Allah yang cukup baik. Rasa ini akan disaingi oleh cinta pada dunia dan hal selain karena Allah. Lantas terjadi persaingan untuk menempati hati seorang hamba. “Tidaklah Allah Ta’ala menjadikan pada diri seseorang dua hati dalam satu rongganya.”(QS Al-Ahzaab: 4)

Dan Allah akan merespon rasa cinta hamba-Nya. Sabdanya dalam hadits Qudsi, “Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil” (HR Bukhari)

Kriteria selanjutnya dalam Al-Maidah 54 adalah bersikap lemah lembut kepada sesama muslim. Orang seperti ini akan pro dengan agenda umat Islam. Tidak anti pati kepada setiap yang berbau Islam, tidak berburuk sangka kepada ulama, atau membenci muslim yang berjuang untuk agenda Islam di berbagai bidang dan metode.

Kriteria ini juga menyaratkan perilaku lemah lembut dalam menasehati umat Islam. Tidak dengan cara mudah menuduh ahli bid’ah, apalagi kafir, kepada muslim ahlus sunnah yang berbeda pendapat.

Selanjutnya adalah bersikap tegas kepada propaganda dan agitasi kemungkaran yang banyak dibela oleh orang kafir. Tentu dengan sikap yang terukur. Menerima kebhinekaan tidak bertentangan dengan ayat ini. Tetapi sikap keras yang dibutuhkan pada kondisi sekarang terutama untuk melawan agenda penyesatan kepada umat Islam yang disebar melalui berbagai media.

Kriteria selanjutnya adalah berjihad, dengan berbagai dimensi jihad yang sesuai dengan situasi yang diperlukan. Muslim di Indonesia ada yang berjihad di bidang pendidikan, ada yang di bidang ekonomi syariah, kampanye melawan korupsi, hingga politik. Muslim yang aktif bergerak dengan segenap kemampuannya lah yang diinginkan oleh ayat Al-Maidah 54 ini.

Dan terakhir, generasi pengganti itu bermental baja. Tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela, di media sosial dan kehidupan nyata. Mereka tidak takut melawan cyber bullying dari pihak-pihak yang kontra terhadap agenda dan opini umat Islam.

Generasi ini semoga segera hadir. Semoga benar, ujian Allah melalui gubernur petahana DKI Jakarta yang disanjung-sanjung media itu menjadi jalan bagi lahirnya generasi ini. Yaitu pihak yang tak terpengaruh pencitraan media, kokoh menyuarakan kebenaran, dan bersama dengan opini umat Islam.

Pilihannya kepada kita hanya dua, apakah membersamai mereka dalam perilaku dan karakteristiknya, atau menjadi generasi yang terseleksi. Inysa Allah, generasi pengganti ini adalah blue print rakyat Indonesia ke depan. Dan dari mereka akan hadir pemimpin yang adil. Sebagaimana aksioma, “Kama takunu yuwalla `alaykum”.

Zico Alviandri

 

Namun Kita lah yang Butuh

Apakah Allah butuh pembelaan kita terhadap ajaran-Nya?

Tidak. Justru kita yang butuh untuk membela agama-Nya. Ketika Allah hadirkan kasus penistaan, Allah hendak memberi kita kesempatan menjadi pembela agama Allah, dengan cara yang benar dan bermartabat. Agar kita punya bukti kesungguhan iman di dada.

Apakah Allah butuh ibadah kita?

Tidak. Justru kita lah yang butuh untuk menyembah-Nya. Allah turunkan perintah ibadah agar kita punya jalan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Penyayang.

Apakah Rasulullah butuh sholawat dan salam kita?

Tidak. Tapi kita lah yang butuh untuk bersholawat kepada Rasulullah saw. Sedangkan Sang Nabi junjungan telah Allah jamin dalam keadaan sejahtera dan damai di sisi-Nya. Kita butuh bersholawat sebagai jalan pembuktian cinta kepada Rasulullah, sehingga syafaatnya bisa kita dapatkan di akhirat kelak.

Apakah Allah swt butuh daging hewan kurban?

Tidak. Tapi kita lah yang butuh untuk berkurban. Sebagai ekspresi ketaqwaan dan ketundukan kita kepada perintah Allah swt.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS Al-Hajj: 37

Apakah Allah swt butuh semua perbuatan baik yang kita lakukan?

Tidak. Namun kita lah yang butuh untuk berbuat baik. Agar Allah swt ridho dan membalas dengan sesuatu yang baik pula.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Israa: 7)

 

Agar Kelahiranmu Sebagai Muslim Tidak Sia-Sia

Anda terlahir di tengah keluarga muslim? Maka Anda otomatis memeluk agama Islam, bukan begitu? Syukurilah keadaan tersebut. Karena nikmat yang paling berharga yang Allah berikan adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Dan – ibaratnya – Anda telah melangkahkan satu kaki ke dalam surga.

Tetapi jangan merasa aman dulu. Karena Allah tetapkan sebagai keniscayaan, setiap orang yang mengaku beriman akan diuji keimanannya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut:2-3)

Ujian yang berbagai macam bentuknya itu, bertujuan mengukur sejauh mana kesungguhan seseorang mempertahankan keimanannya. Kadang, ujian itu dalam beragam bentuk kesusahan. Agar yang diuji terlihat apakah memiliki rasa sabar atau tidak. Kadang berupa kesenangan, agar orang yang diuji terlihat apakah bersyukur atau tidak.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Qs. al-Anbiya’: 35).

Juga sebagai bentuk ujian bagi manusia yang mengaku beriman adalah ditetapkannya syariat oleh Allah swt untuk dipatuhi. Untuk itulah Allah mengutus seorang Rasul di tengah umatnya yang memberi kabar berupa jalan untuk mencapai ridho Tuhan. Barang siapa yang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dia lah yang terbukti memiliki keimanan sejati.

Dan salah satu syariat yang menguji kepatuhan manusia itu adalah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51. Yang sejenis dengan ayat tersebut ada beberapa lagi dalam Al-Qur’an. Ada Ali-Imran 28, An-Nisa 144, Ali Imran 118, dll. Intinya, larangan menjadikan orang non muslim sebagai “wali” dalam berbagai artinya dalam bahasa Indonesia. Bisa berarti pemimpin, teman setia, intinya adalah orang yang diberikan loyalitasnya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Maidah: 51)

Ya, itulah ujian dari Allah swt untuk orang yang mengaku mukmin. Ujiannya akan menjadi begitu rumit ketika seseorang mukmin terlanjur mengidolakan seorang yang tidak beriman kepada Allah, lalu orang itu mencalonkan diri menjadi pemimpin di alam demokrasi. Tentu sang mukmin tergoda untuk memilihnya sebagai pemimpin, menyisihkan saudaranya seiman yang lebih layak menjadi pemimpinnya.

Memang tidak mudah, dan akan sangat menggoda akal untuk mengada-ngadakan alasan yang membantah perintah Allah itu. Padahal Allah yang lebih tahu isi hati manusia. Ia Azza wa Jalla yang menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Di situlah keimanan diuji, apakah benar-benar mempercayai dan memegang teguh perintah-Nya, atau memberikan disclaimer untuk aturan-aturan tertentu.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 16)

Anda terlahir dalam keluarga muslim, dan sampai sekarang masih mencantumkan agama Islam dalam KTP? Jangan sia-siakan keadaan itu! Karena Anda sudah dipermudah oleh Allah untuk memasuki surga-Nya. Masih percaya surga kan? Nah, karena itu, janganlah rasa keidolaan Anda kepada seorang membuat Anda melanggar perintah-Nya. Masalah menyebabkan status kafir atau tidak, itu panjang pembahasannya. Yang paling diwaspadai adalah hidayah yang bisa lepas dari diri Anda. Bisa saja hati Anda mengeras membatu dan tak mampu lagi menerima ajaran Islam. Khawatirlah dengan kondisi tersebut! Hingga bisa-bisa di akhirat kelak Allah tak mengakui keimanan Anda.

Apalagi, karena keidolaan itu, Anda mencela ulama dan para da’i yang sudah menyampaikan kebenaran. Makin besar penghalang Anda dari hidayah.

Karena itu, agar lahirnya Anda sebagai muslim tidak sia-sia, mari tunduk patuh kepada ajaran Allah swt sepenuhnya. Seluruhnya. Totalitas. Kaaffah.

 

Menakar Batas Kesantunan dan Ketegasan

Tanggapan dari Ustadz Farid Nu’man saya terima langsung dari beliau melalui aplikasi whatsapp. Beliau saya anggap guru, meski saya lebih sering mengambil manfaat dari ilmunya melalui tulisan-tulisannya daripada bertemu dalam satu majelis. Ustadz Farid Nu’man meluruskan tulisan saya sebelumnya yang meminta agar kader PKS tak membiarkan akhlak santun pudar oleh pertengkaran di media sosial. Menurut Ustadz Farid, ketegasan juga harus dipelihara, tak hanya kesantunan. Dan ada momen-momen di mana kita dituntut bersikap santun atau tegas.

Mungkin, andai ustadz Farid tidak menulis tanggapan yang menyebar luas melalui aplikasi whatsapp itu, akan ada yang menyangka bahwa Islam mengajarkan umatnya terus menerus bersikap santun dengan melupakan ketegasan. Saya bersyukur ustadz Farid menutup celah kelemahan tulisan saya.

Namun begitu, saya rasa kader PKS tidak perlu diajarkan ketegasan di media sosial. Justru karena kelewat tegas lah saya membuat tulisan itu. Kata pepatah, kalau kelewat longgar kencangkanlah, kalau kelewat kencang longgarkanlah.

Perlu saya klarifikasi lagi, saya tidak menggeneralisasi bahwa semua kader PKS telah kehilangan kesantunan. Tidak. Masih banyak yang aktivitasnya di dunia maya memikat orang banyak. Saya sebut contoh pada dua nama: ustadz Cahyadi Takariawan dan ustadz Salim A Fillah.

Dan saya juga tidak akan membawa contoh perilaku yang buruk dalam tulisan ini. Kalau diminta data persentase kader yang bertingkah tak elok di media sosial, susah juga buat saya yang tidak memiliki tools untuk mendapatkan data yang diminta.

Saya lama menggunakan media sosial, dan belakangan menemukan fenomena yang saya khawatirkan itu. Yang saya amati adalah akun-akun personal yang jelas identitasnya, bukan anonim. Maka saya bikin tulisan yang sebelumnya dengan sasaran kepada seluruh kader baik yang masih terjaga akhlaknya ataupun tidak. Kalau tidak merasa, abaikan. Kalau merasa, mohon jadikan pertimbangan.

Dan melanjutkan tulisan ustadz Farid, saya ingin mengemukakan gagasan tentang kesantunan dan ketegasan. Dalam Al-Qur’an terdapat enam jenis perkataan, yaitu qoulan karima (perkataan yang memuliakan), qoulan baligho (perkataan lugas membekas), qoulan maysuro (ucapan yang memudahkan), qoulan layina (ucapan yang lembut), qoulan ma’rufa (ucapan yang santun), dan qoulan sadida (ucapan yang benar). Seorang muslim harus pandai memainkan orkestrasi jenis ucapan tersebut pada waktu dan tempat yang tepat.

Di manakah batas antara ketegasan dan kesantunan itu?

Bahkan Rasulullah saw pun terkadang marah. Wajar, karena Rasulullah manusia juga seperti kita. “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR Muslim)

Lalu bilakah Rasulullah marah? Jawabannya seperti hadits berikut:

Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah” (HR Bukhari Muslim)

Menurut hadits di atas, garis batas itu ada pada syariat Allah.

Saudaraku kader PKS, partai itu hanyalah sarana dakwah, sarana memperjuangkan tegaknya Islam, tetapi selamanya tidak akan pernah menjadi agama. PKS bukanlah diinul Islam itu sendiri. Jangan ada anggapan bahwa kebijakan PKS adalah mutlak syariat Islam. Meski ada Dewan Syariah di tubuh PKS, tetapi keputusan politik PKS kebanyakan bersifat ijtihadi yang sangat mungkin mendapat ketidak setujuan dari orang lain.

Maka orang yang mengkritik PKS bukanlah sedang mengkritik ajaran Islam. Dan kita tidak perlu memberi perlawanan sebagaimana kepada orang yang menghina Nabi Muhammad saw.

Mungkin ada yang menggugat, “di mana izzah kita bila kita diam dihina?” Lihat kondisi, apakah pembelaan yang dilakukan memang membuat tegaknya izzah atau malah membikin olok-olokan itu berkelanjutan?

Bicara masalah harga diri, Rasulullah saw bukanlah orang yang rendah harga dirinya saat memaafkan penduduk Thoif yang telah melemparinya dengan batu. Rasulullah saw juga masih bisa bersikap santun kepada Yahudi yang datang menagih hutang dengan cara yang kasar hingga Rasulullah saw terjembab karena selendangnya ditarik orang Yahudi itu (diriwayatkan Al Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw juga ada di samping sahabatnya yang sangat ia sayangi, Abu Bakar r.a., saat sahabatnya itu dicaci maki oleh seorang Arab Badui. Beliau saw hanya diam. Justru ketika Abu Bakar r.a. balik memaki Arab Badui tadi, tampaklah ketidak setujuan Rasulullah dan ia beranjak meninggalkan sahabatnya. Saat ditanya mengapa, Rasulullah saw menjawab bahwa tadinya ada malaikat mendoakan Abu Bakar saat Arab Badui itu mencaci. Namun ketika Abu Bakar membalas cacian, malaikat pergi dan setan datang.

Akhlak yang paling menonjol yang ditampilkan Rasulullah saw adalah pemaaf. Dengan akhlak itu mereka yang tadinya memusuhi berbalik menjadi mencintai. Berbondong-bondong warga Makkah masuk Islam saat Fathu Makkah karena akhlak itu.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Kalau memang cacian dan fitnahnya sudah kelewat batas dan melanggar undang-undang, baiknya dilaporkan saja ke aparat hukum. Tak perlu membalas dengan cacian yang tak mengubah keadaan.

Dan perlu disadari, terjun ke dunia politik berarti harus siap dengan segala bentuk permusuhan yang dilancarkan oleh para pesaing politik. Di sisi lain, masyarakat juga mengawasi dan mengomentari setiap langkah yang kita ambil. Sudah siapkah dengan itu semua?

Lantas bagaimana sikap kepada mereka yang menolak seruan yang sudah jelas halal dan haramnya?

Mungkin di situlah kita hampir berada di garis batas kesantunan. Tetapi sudah tepatkah untuk menyeberang ke area ketegasan? Coba amati dulu objeknya.

Baru-baru ini saya mendapat pertanyaan dari seorang kawan, apa yang harus dibaca saat sholat berjamaah ketika imam telah selesai membaca Al-Fatihah? Pertanyaan yang membuat saya tertegun. Karena sebelum itu ia menolak penjelasan saya tentang ayat wala’ wal baro’ yang menjelang pilkada Jakarta ini menjadi populer.

Pertanyaan darinya membuat saya tersadar bahwa wajar ia kesulitan mencerna konsep wala’ wal baro’ karena untuk masalah sholat berjamaah saja ia belum jelas betul. Untuk orang sepertinya, punya kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang berislam saja sudah bagus. Maka jangan terburu mencela orang seperti ini, karena bisa-bisa ia tak mau lagi mendalami Islam. Atau ia lari dari kita untuk memilih mengambil ilmu dari orang sepilis. Kondisinya jadi lebih buruk.

Lagipula ada wanti-wanti dari Hasan Hudaibi bagi kader dakwah. Katanya, “nahnu du’at wa lasna qudhat.” Kita adalah da’i, bukan hakim. Maka cari-carilah uzur untuk mereka. Jangan terburu menjatuhkan vonis, apalagi mengkafirkan. Mungkin penyampaian kita belum meyakinkan dia. Mungkin perlu penjelasan beberapa kali lagi.

Ketegasan barulah diperlukan saat menghadapi aktivis sepilis yang mempermainkan ajaran Islam. Itupun dengan kata-kata yang tetap terjaga dan tak melanggar undang-undang ITE. Jangan sampai mereka di atas angin akibat kita jadi berurusan dengan aparat hukum.

Dalam nahi mungkar pun ada rambunya. Ulama merumuskan, jangan sampai timbul kemungkaran baru yang lebih besar akibat cara-cara kita merespon kemungkaran yang ada. Maka ketegasan itu harus terukur.

Hadits “barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran…” memberi tiga opsi: dengan tangan, lisan, atau hati. Tangan kita bisa mencegah kemungkaran bila memang kita punya kuasa untuk itu. Ketegasan perang Khandaq tak akan ada bila Rasulullah saw tak punya kekuatan untuk mengeksekusi para pengkhianat. Dinaungi hukum yang berlaku di Indonesia, kita bisa delegasikan ketegasan melawan orang-orang yang menghina agama kepada yang berwajib.

Penutup, kalau memang sikap keras itu dibutuhkan, maka perhatikanlah kepada siapa kita bersikap keras. Jangan sampai kepada muslim awam yang masih butuh usaha kita lebih keras untuk membuatnya paham. Perhatikan bagaimana kekerasan itu kita lancarkan. Jangan sampai blunder menghasilkan kemungkaran atau kemudhorotan yang lebih besar.

Yang namanya dakwah adalah menyeru dengan kesantunan. Kekerasan itu ranah hukum yang punya aparat sendiri. Maka tanyakan lagi kepada diri sendiri, siapa kita?

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2017 in Artikel Umum

 

Menyikapi Kemenangan

Merunduk badan dan kepala yang mulia yang dihiasi surban hijau tua nan anggun itu, hingga ujung janggutnya hampir mengenai pelana. Di atas unta, ia saw. senandungkan berulang-ulang surat Al-Fath. “Inna fatahna laka fathan mubina…” Dibacanya dengan merdu dan penuh penghayatan. Disusurinya daratan tinggi Kida dengan diiringi suku Aslam, Ghiffar, Mazinah, Jahinah dan lainnya. Mereka menyongsong kemenangan, memasuki kota tercinta yang selama ini dirindukan: Makkah Al-Mukaromah.

Sepuluh ribu pasukan yang bersamanya tersenyum sumringah dengan dada bergemuruh. Kemenangan itu nyata di depan mata mereka. Sungguh pun begitu, ia saw. tak berlaku sebagaimana panglima perang angkuh yang baru saja mengalahkan musuh, dengan dada membusung, dahu terangkat, dan tawa keras penuh puas.

Di pangkal kemenangan, Rasulullah saw hiasi dengan ketawadhuan. Ia sadari kejayaan di hari Fathu Makkah itu berasal dari Allah. Bahwa Ia Azza wa Jalla yang telah memenangkannya, sebagaimana redaksi ayat yang dibaca. “Andai orang-orang tak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang,” begitu sabdanya.

Tentu kemenangan itu adalah salah satu episode dalam perjuangannya menyiarkan Islam. Di episode lain, kadang ia dapati tekanan yang hebat, kadang ia merebut kemenangan lain. Pahit dan manis silih berganti. Sementara kemenangan sejati adalah ketika dihimpun dalam keridhoan Allah swt di akhirat. Di sana tak ada lagi peristiwa kekalahan.

Dan dalam satu episode itu, ia saw telah mencontohkan bagaimana menyikapi kemenangan yang gemilang. Selain ketundukan di hadapan-Nya, kemenangan itu ia jadikan ajang rekonsiliasi dua pihak yang bertarung. Ia entaskan api permusuhan yang selama ini menyala antara dua pihak dengan cara memaafkan musuh-musuhnya.

Sa’ad bin Ubadah, ketika bertemu “walikota” Makkah Abu Sufyan di mulut lembah, ia berkata: “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Kakbah.” Perkataan ini dikoreksi oleh Rasulullah saw. “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Kakbah,” sabdanya.

Jadi bukan pelampiasan kekesalan yang selama ini memenuhi hati karena permusuhan. Tak ada ajang pembantaian dalam bentuk fisik atau pun verbal kepada musuh-musuhnya. Justru ia membuka pintu maaf, melakukan rekonsiliasi, mendamaikan, menjadikan dua pihak rukun kembali untuk bersama-sama membangun masa depan yang cerah untuk Mekkah.

Andai di kala itu sudah ada media sosial, tentu Rasulullah saw tak kan memenuhi beranda media sosialnya dengan status-status bullying provokatif kepada pihak yang dikalahkan. Atau mengupload meme-meme mengejek dan menyindir pihak yang berhasil disingkirkan.

Dalam ayat lain, Allah swt mengajarkan umat Islam untuk menyambut kemenangan dalam tiga bentuk dzikir: tasbih, tahmid, dan istighfar. Sila rujuk kepada surat An-Nashr. Rasanya keterlaluan bila ada muslim yang tak hafal surat itu.

Bacaan tasbih, tahmid, dan istighfar itu bukanlah mantra penyambut kemenangan yang dirapalkan tanpa mengerti arti. Tapi bila kalimat-kalimat itu diresapi, akan mengkondisikan hati kita yang diliputi euforia, menjaga hati pada keadaan yang terkendali.

Tasbih yang dihayati harusnya menyingkirkan rasa takjub kepada diri sendiri atas kemenangan yang didapat. Semestinya ketakjuban itu hanya kepada Allah swt yang Maha Suci nan Agung. Ia Yang Maha Sempurna yang mengatur peristiwa demi peristiwa sehingga kita meraih kemenangan.

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS Al-Anfal: 17

Maka, Maha Suci Allah, sedang diri kita lemah dan diliputi dosa.

Tahmid terlantun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt. Ia yang memberikan kelegaan luar biasa setelah letih penat perjuangan. Ia yang menghadirkan happy ending dalam sebuah episode pertarungan. Karena itu, panjatkan syukur dengan sepenuh hati kepada-Nya.

Dan istighfar diucapkan untuk memohon ampun atas segala bentuk ketidaksempurnaan amal kita. Agar Allah memaafkan khilaf atau hal yang melampaui batas ketika berjuang. Sehingga Allah swt mengganjar kita dengan pahala yang utuh. Dan dalam istighfar itu kita terjaga dalam kerendah hatian di hadapan-Nya.

Bila belum seperti itu kita menyikapi kemenangan, segeralah bertaubat. Khawatir tak berkah kemenangan itu. Atau kita termasuk orang yang jumawa, kufur, dan menjadikan kondisi di atas angin sebagai jalan untuk perpecahan yang lebih besar.

Zico Alviandri