RSS

Category Archives: Puisi dan Cerpen

Blusukan Umar Pemimpin Milenial

Brrmmm… Brrmmm…

Motor sport berwarna hitam meraung, meliuk-liuk di sela mobil-mobil mewah di atas jalanan yang padat merayap. Pengendaranya seperti sedang tergesa. Berjaket hitam, helm hitam, dan sepatu pantofel hitam, ia mengarah ke sebuah pasar.

Di jok belakang motor, terikat tiga tatakan telur beserta isinya. Membawa benda yang rawan pecah, si pengendara tak mengurangi kecepatannya untuk berhati-hati. Apa yang ia kejar?

Tepat di depan sebuah bangunan pasar inpres, motor itu berhenti. Si pengemudi menebar pandangan kesana kemari. Setelah ditemukan objek yang ia cari, bergegas telur-telur itu ia bawa tanpa menanggalkan helm full face di kepalanya.

“Bu.. Bu… Maaf, ini ibu Ros bukan?” sapanya kepada seorang wanita paruh baya.

Yang dipanggil menoleh. “Benar. Ini siapa?”

“Saya membaca keluhan ibu soal kenaikan drastis harga telur di media sosial. Ini saya bawakan beberapa telur buat ibu untuk bahan membuat kue pesanan.”

Wanita itu kaget. Benar, di tengah belanja tadi ia sempat menulis status di facebook. “Wuaduh.. Harga telur hari ini naiknya tinggi bener. Uangku gak cukup buat bikin kue pesenan bu Marni. Gimana ini?” Lokasi pasar Inpres ikut ditag dalam status tersebut.

“Oh. Terima kasih. Saya senang sekali. Tapi bapak siapa?” tanya wanita itu.

“Tidak penting siapa saya bu. Yang penting ibu bisa bekerja lagi.”

“Gak ah… Kalau gak jelas dari siapa, aku gak mau.”

Akhirnya, terpaksa lah pria dalam balutan serba hitam itu membuka sedikit kaca helmnya.

“Hah?” Wanita itu terbelalak tak percaya. Mulutnya menganga. “Seperti… Bapak Umar? Apa benar ini Pak Umar?”

“Benar bu. Ini mohon terima telurnya. Saya masih banyak tugas. Sudah, jangan heboh..! Saya tidak mau orang lain tahu kalau saya ada di sini.”

Telur diserahkan. Pria itu kembali ke motornya. Meninggalkan bu Ros yang masih berdiri terpaku.

***

Brrmm… Brrmm….

Motor dipacu menyelinap di antara mobil-mobil yang terjebak kemacetan. Pengemudianya berfikir, rupanya tak mudah mengatasi macet dan banjir di ibu kota meski kini ia telah menjadi presiden.

Ia bernama Umar. Tadi di dalam mobil kepresidenan, di tengah iring-iringan, ia sempatkan mencuri dengar apa keluhan rakyatnya melalui media sosial. Secara acak, sampai lah jeritan ibu Ros tadi di gawainya. Maka ia pun memerintahkan agar iring-iringan menepi. Entah bagaimana caranya, sebuah motor dengan mudah ia dapat untuk ia gunakan menemui wanita yang dalam tanggung jawabnya.

Ia terbiasa bulusukan begitu. Dalam balutan serba hitam. Tanpa diketahui orang. Bukan untuk pencitraan. Tapi untuk menunaikan tanggung jawab.

Tak ada kamera merekam atau mengabadikan kiprah heroiknya itu. Tak ada sutradara yang mengatur blusukannya agar lebih penuh drama. Tak ada pula stuntmant yang beratraksi jumpalitan dengan sepeda motor. Hanya ada seorang penulis keren yang mengarang cerpen buatnya.

Brrmm… Brrmmm…

Di atas motor itu Umar melihat baliho para politisi berkampanye. Hatinya berdesir pilu. Kalau saja para politisi itu tahu beratnya amanah dan pertanggung jawaban di akhirat nanti, tentu mereka tak mau sebegitunya memasarkan diri.

Terbayang oleh Umar kejadian beberapa hari lalu. Orang di lingkaran dekatnya mendatangkan konsultan politik. Lalu Umar pun diminta bermain basket, berlatih tinju, ngerap, vlog dan sebagainya untuk mencitrakan diri sebagai pemimpin milienial.

“TIDAK!” hardik Umar. “Rakyatku sedang susah karena harga listrik dan bahan bakar yang mahal. Bagaimana bisa saya melakukan pencitraan penuh kepalsuan begitu?”

Umar tidak mengerti buat apa konsultan politik itu menghasut untuk tampil tidak sebagai dirinya sendiri. Yang lebih gila lagi, ketika berkunjung ke sebuah daerah yang tertimpa bencana, Umar dibisiki untuk berpose tertentu agar terlihat humanis. Sontak Umar marah kepada pembisik itu lalu mengusir para fotografer dan kameramen. “Sana! Kalian ambil gambar kerusakan yang disebabkan oleh gempa. Siarkan kepada masyarakat kita agar mereka mau membantu. Tak perlu lagi ambil foto saya ketika saya sedang bekerja.” ujar Umar.

Sosok pemimpin milenial, tegas, tulus, dan tak pedulikan citra. Orientasinya adalah kerja, kerja, kerja, bukan citra, citra, citra. Umar tak pedulikan pro kontra orang. Tak peduli apakah akan terpilih kembali di pemilihan presiden mendatang. Tak suka menebar janji.

Dia adalah Umar. Milenial baginya, adalah kemampuan mengakses teknologi informasi terkini untuk bekerja menyelesaikan masalah rakyat, bukan untuk narsis di depan rakyatnya.

Foto nyomot dari internet, seorang stutman sedang beraksi di sebuah film.

 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2018 in Puisi dan Cerpen

 

Tulislah Kartini!

Tulislah Kartini!
Gelap tintamu adalah nyala terang hari ini

Tulislah Kartini
Biar gundah tumpah berhelai-helai
bergolak putri yang dipingit dalam balai
Tapi kini kami tak lagi abai
Akan pendidikan yang harus disemai

Tulislah Kartini!
Titipkan pada Nona Zeehandellar, Nyonya Abendanon, atau siapa saja
Karena suratmu akan sampai pada kami juga
Lantas kami anggap itu amanah yang harus dijaga
Tentang anak bangsa yang terdidik pengetahuan dan akhlaknya

Tulislah Kartini!
Minazh zhulumati ilan-nuur

“Tempuh malam hingga petang
Tempuh badai hingga reda
Tempuh perang hingga menang
Tempuh duka hingga suka” (Kartini 15 Agustus 1902)


Puisi dadakan untuk tugas anak di sekolah 😀

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2016 in Puisi dan Cerpen

 

Masa Lalu Belum Berlalu

Masa lalu belum berlalu
karena ia kuarsip dalam ingatan yang hangat
kuletakkan di ujung jarum detik yang berlompat-lompat

Masa lalu belum berlalu
masih sering menyelinap dibalik bantalku
dan pagi yang jingga menjadi ungu

Masa lalu belum berlalu
karena harapan bersikukuh
sementara logika terlalu rapuh
aku terombang ambing kehilangan sauh

Masa lalu belum berlalu
di sebuah etalase ia kukurung
namun ia menyelinap kutemukan di sebuah relung

Masa lalu belum berlalu
karena angin tak mampu menyapu
pun jua ombak yang menderu-deru
cerita yang tak habis, menjadi tugu

 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2016 in Puisi dan Cerpen

 

Dalam Lindungan Ghorqod

Ghorqod

Angin senja Tel Aviv tercampur debu. Kencang melintas di sela-sela empat orang yang sedang berdiri di halaman sebuah rumah di suatu sudut kota itu. Dua pasang suami istri -sepasang tua dan sepasang muda – beberapa saat saling bertukar pelukan penuh haru.

Seorang wanita muda kedua tangannya menggenggam lengan wanita tua. “Pergilah Ma! Ikut bersama kami. Di New Jersey kalian akan hidup bahagia dengan cucu kalian dan terhindar dari peperangan yang melelahkan ini.” Ujar wanita muda kepada wanita tua yang ia memanggilnya mama.

Wanita tua itu berlinangan air mata. Mengalihkan pandangan pada laki-laki tua yang ada di sampingnya.

“Papa dan Mama sudah bertekad untuk menghabiskan hidup di sini. Di tanah yang telah dijanjikan tuhan pada kita.” Ujar lelaki tua.

“Setidaknya untuk menghindari perang yang semakin buruk ini, Pa. Ikutlah bersama kami. Setelah perang ini selesai, kalian bisa kembali ke sini.” Kali ini laki-laki muda yang angkat bicara.

Lelaki tua menggeleng.

Dan angin senja yang tercampur debu itu mengirimkan suara dentuman pada mereka. Tertangkap di sudut mata mereka kilasan api yang meluncur ke bumi menghantam sebuah gedung tinggi sekitar 500 meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Ledakan besar dan bunga api bertaburan laksana dedaunan Pohon Ghorqod yang dilempar kesana kemari oleh angin musim gugur.

Suara sirine meraung-raung sejak semenit lalu. Banyak orang berlarian menuju bunker menyelamatkan diri. Dan ada juga yang memacu kendaraannya keluar kota. Namun di luar pagar rumah itu, sebuah mobil terparkir menanti ke-empat insan selesai melepas haru.

“Kalian pergilah! Taksi sudah menunggu. Lalu lintas sedang kacau dan macet sekarang. Ada begitu banyak orang yang eksodus meninggalkan kota ini melalui bandara dan pelabuhan. Jangan sampai kalian terlambat dan ditinggal pesawat.” Ujar pria tua.

“Ayolah Ma, tinggalkan Tel Aviv hingga perang selesai.” Wanita muda mengangkat kedua tangan mamanya kedadanya. Memelas.

“Tidak. Pergilah sekarang!” Tegas pria tua.

Dan suara klakson taksi berbunyi memanggil mereka. Hampir tak terdengar akibat tersisipi suara dentuman lain dari suatu tempat. Sang supir pun sudah bergidik ngeri ingin segera meninggalkan tempat itu.

Lelaki muda kemudian mengangkat dua koper besar di tangan kanan dan kirinya. Ia memasukkan barang bawaannya ke bagasi, lalu kembali menghampiri istrinya untuk mengajaknya pergi.

Pasutri muda itu menyempatkan diri melambaikan tangan sembari masuk ke dalam mobil. Hingga setelah semuanya siap, sang supir menginjak gas dengan kecepatan tinggi menuju bandara.

Gilad, seorang lelaki Yahudi tua, orang yang dipanggil Papa oleh pasutri muda tadi memandang ke sekelilingnya dengan mata berkaca. Hasrat ingin menyelamatkan diri memang ada, tapi kecintaannya pada tanah Israel lebih utama. Ia lebih ingin bertahan di tanah yang ia tempati sejak lama.

Menjadi yatim piatu setelah menyelesaikan studinya di University of Nevada 40 tahun lalu di Amerika Serikat, Gilad yang hampir sebatang kara berjuang hidup untuk dirinya dan adik perempuannya. Dan Gilad masih bujangan saat beberapa lama kemudian adiknya dinikahi oleh seorang lelaki Yahudi asal Inggris yang mengajaknya tinggal di Israel, tanah yang diidam-idamkan oleh umat Yahudi.

Gilad adalah seorang insinyur mesin. Ia sudah bekerja di sebuah perusahaan otomotif di New Jersey saat adiknya yang telah tinggal lebih dulu dua tahun di Yerussalem mengirimkan surat pada Gilad untuk mengajaknya membangun negara kebanggaan umat Yahudi. “Pemerintah telah memperluas tanah pendudukan dan membangun pemukiman-pemukiman baru di Tepi Barat,” dalam surat itu. “Dan bangsa kita sekarang sedang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun negara. Hiduplah di sini, hingga akhir hayatmu!”

Diyakinkan oleh surat itu, Gilad hijrah ke Yerussalem menempati sebuah rumah di kota Be’er Sheva. Kota yang indah yang menempanya menjadi pekerja keras dengan penuh kecintaan pada Negara Yahudi.

Karir Gilad cukup mentereng. Kerja kerasnya berbuah rezeki yang melimpah sampai ia dibutuhkan untuk bekerja di ibu kota Israel, Tel Aviv. Di sana lah ia bertemu jodohnya, Golda, seorang wanita Yahudi asal Inggris. Mereka berdua hidup dengan mapan dan memiliki dua orang anak.

Anak kedua mereka, seorang putri bernama Hagar, adalah orang yang tadi mengajak mereka tinggal di New Jersey bersama suaminya. Sedangkan putra pertamanya tinggal di kota Haifa, sebelah utara kota Tel Aviv.

*****

Suara baku tembak terdengar sangat dekat saat pasangan suami istri Yahudi tua sedang menyantap makan malam mereka, mengalahkan suara sirine yang meraung di penjuru kota. Golda, sang istri, berbicara pada suaminya, “tunggu apa lagi? Ayo, sembunyi di bunker!”

“Tidak. Aku tidak mau kesana lagi. Terlalu kotor. Bahkan kotoran manusia bisa berserakan di sana.” Jawab Gilad, suaminya.

“Kita kemana?”

Gilad menunjuk ke arah sebuah pohon yang rindang yang telah ditanam di pekarangannya sejak 20 tahun lalu. “Kesana! Ghorqod akan melindungi kita.”

Mereka berdua menyudahi makan malam mereka dengan segera dan terburu-buru menyelinap ke dalam Pohon Ghorqod. Tapi begitu sampai di Pohon itu, mereka terkejut melihat seseorang bersembunyi di dalamnya.

“Noam, sedang apa kamu di sini?” Tanya Gilad kepada tetangganya.

“Izinkan aku bersembunyi di sini. Di sini masih lapang untuk kalian berdua.” Pinta Noam.

“Tidak. Kami tidak mau berbagi dengan orang lain. Pergi!”

“Aku tidak mau pergi dari sini.”

Mendengar sikap keras kepala Noam, Gilad mengeluarkan sepucuk pistol dari saku bajunya. “Pergi!” ujarnya.

Melihat sepucuk pistol itu, Noam terburu-buru keluar dari persembunyian. “Aku harus sembunyi di mana? Aku tak mau mati!” Teriaknya sembari menangis.

“Mengapa kamu tidak sembunyi di bunker? Terserah kamu sembunyi di mana. Di sana ada puing reruntuhan rumah. Batu-batu itu akan menyembunyikanmu dengan aman. Segera pergi!” Gilad menunjuk ke suatu tempat.

Berlari Noam menuju arah yang ditunjuk Gilad. Dan masing-masing orang sudah berada di tempat persembunyiannya.

Sementara itu suara baku tembak terdengar lebih dekat. Pasukan Palestina berhasil memasuki kota Tel Aviv. Bahkan mereka sudah mengirimkan pesan kepada setiap penduduk Tel Aviv melalui SMS untuk segera meninggalkan kota karena mereka akan merebutnya melalui pertempuran bersenjata.

Dari balik Pohon Ghorqod, Gilad melihat tank Merkava di persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya.

“Kita akan aman. IDF akan menghabisi tentara Palestina.” Bisiknya pada Golda yang wajahnya terlihat pucat. Mencoba menenangkan.

Tapi baru selesai Gilad mengucap kata-kata itu, sebuah tembakan terlihat menuju sebuah reruntuhan puing, tempat bersembunyi Noam, disusul dengan suara jeritan.

Mulut Golda menganga. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Noam tertembak padahal ia sudah bersembunyi di tempat yang tak terlihat?” Tanya Golda pada suaminya.

“Diamlah. Saat ini tak ada tempat yang lebih aman selain pohon ini. Batu dan pohon lain tidak bisa dipercaya saat ini. Mereka akan memberitahu pasukan Palestina bahwa ada yang bersembunyi di balik mereka.” Ujar Gilad penuh kepanikan.

Suasana sangat mencekam. Di depan mata mereka kemudian terlihat Merkava berhasil diledakkan oleh sebuah Rocket Propelled Grenade (RPG) anti tank. Dan tak lama kemudian rumah mereka pun terkena ledakan. Runtuh di salah satu sisinya meski tak mengenai pasangan suami istri Yahudi tua itu yang sedang bersembunyi di balik Pohon Ghorqod.

Gilad dan Golda bergetar menyaksikan pemandangan itu. Berpelukan, mereka berdua menangis sejadi-jadinya. Rumah yang mereka bangun dan tempati bertahun-tahun lamanya hancur sudah. Dan pasangan suami istri Yahudi tua itu hanya bisa pasrah melihat api melalap rumah dan isinya.

Sementara suasana di luar semakin tak menentu. Api menyala di mana-mana. Dentuman di mana-mana. Pesawat F-16 dan Helikopter Apache milik Israel berjatuhan. Malam itu, saat awan mendung menelan bulan, begitu terang oleh api yang dilentikkan oleh mesiu.

“Kita tak akan selamat. Sampai kapan kita bersembunyi di pohon ini?” teriak Golda yang menangis meratap. “Orang-orang Palestina itu akan merebut kembali tanah yang sudah kita rebut dari mereka.”

Gilad melihat ke atas pada sebuah batang. Telah tergantung dua utas tali di sana.

“Istriku, kita telah berjanji untuk mati di tanah ini. Kita berjanji untuk tidak akan pernah pergi dari tanah ini walaupun harus mati. Tapi bukan mati dengan cara dibunuh oleh muslim,” ujar Gilad.

Golda mengerti maksud suaminya. Berdua mereka menggapai tali yang menjuntai yang membentuk simpul dengan sebuah lubang sebesar kepala manusia. Mereka memasukkan kepalanya ke dalam tali itu, dan memenuhi janjinya: mati di tanah harapan.

******

Keterangan:
* Ghorqod adalah pohon milik umat Yahudi, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga muslimin memerangi yahudi. Mereka diperangi oleh muslimin sehingga orang yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon. Batu dan pohon itu berkata: Wahai muslim, wahai hamba Allah, Ini dia yahudi berada dibelakangku, kemarilah dan bunuhlah dia. Melainkan pohon Ghorqod. Sesungguhnya ia adalah daripada pohon Yahudi”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah meramalkan tentang peperangan antara Umat Muslim melawan Yahudi di penghujung zaman, sampai-sampai Yahudi bersembunyi di pohon dan batu atas serangan Umat Muslim. Namun hanya Pohon Ghorqod yang sedikit aman buat mereka.

Saat ini pemerintah Israel tengah menggalakkan penanaman Pohon Ghorqod di negara mereka dengan berkedok reboisasi.

18 Juli 2014

 
1 Comment

Posted by on June 29, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Perbuatan Aneh Di Kala Jam Istirahat

Sholat Dhuha

Lagi-lagi orang itu. Tiap jam istirahat pertama, pukul 09.30 WIB, orang itu selalu terlihat berjalan menuju musholla sekolah, kemudian melepas sepatunya di teras dan mengenakan bakiak lalu berjalan ke tempat air wudhu’. Hal yang ganjil. Karena hanya dia yang melakukan aktifitas itu sementara yang lain sibuk bermain basket di lapangan atau pergi ke kantin.

Saya kini berani mendekat ke arahnya, dan ingin menanyakan tentang aktifitas anehnya itu. Sebelumnya tidak berani karena saya tak mengenalnya. Nanti disangkanya SKSD (sok kenal sok dekat). Tapi semenjak hari ahad kemarin, saat saya mengantarkan ibu ke acara arisan keluarga, saya mulai mengenal orang aneh itu. Rupanya kami punya hubungan saudara.

“Oh SMA seratus dua? Anak saya juga sekolah di sana. Tapi dia kelas dua sekarang. Kakak kelas kamu. Hepiii.. Sini! Kenalin adik kelas kamu.” Masih terngiang ucapan ibunya. Dan sejak itu saya tahu nama orang yang sering saya perhatikan itu adalah Hepi. Hubungan kami? Dia adalah kakak sepupu dari iparnya mertuanya pamannya cucunya buyutnya rekan kerjanya om saya. Agak rumit memang.

Kini saya berada di belakang Kak Hepi (harus memanggil kak! Dia lebih tua) yang sedang mengambil air wudhu’. Sejenak kemudian ia selesai membasuh kakinya, dan berbalik arah.

“Kak Hepi mau sholat?”

Ia terkejut melihat saya. “Oh kamu Ndri. Iya nih mau sholat. Mumpung istirahat”

“Emangnya shubuh masih ada jam segini?”

“Ya enggak lah. Ini gak lagi mau sholat subuh kok.”

“Terus sholat apa?”

“Dhuha.”

Saya mengernyitkan dahi.

“Pernah dengar sholat dhuha? Atau surat Adh-dhuha?” Tanyanya.

“I.. i.. iya pernah.” Jawab saya.

“Jam segini ini disebut waktu dhuha. Dari setelah matahari terbit sampai beberapa saat akan masuk zhuhur. Ada sholat sunnat, namanya sholat dhuha. Pernah dengar kan? Tau kan surat Adh-Dhuha?” Ia memberi penjelasan.

“Surat Adh-Dhuha pernah denger sih kak.”

“Hafal?”

“Nggak.”

“Kamu hafalnya surat apa aja?”

“Al-Fatihah, Qulhu, sama Wal Ashri.”

“Lho? Kamu sholatnya pake surat itu-itu aja?”

“Ya gak apa-apa lah kak. Yang penting kan hatinya bersih.” Jawab saya. Iya doong.. yang penting hatinya dooong…

****

“Udah lu tanyain, Ndri?”

Saat masuk kelas, saya langsung ditodong pertanyaan oleh teman-teman saya yang juga sejak lama memperhatikan kebiasaan Hepi. Tadi saat saya mendekati Hepi dan menginterogasi kebiasaannya itu, teman-teman saya yang punya jiwa kepo yang sama mengintip dari jendela kelas.

“Udah. Sholat sunnat Dhuha katanya. Baru denger gw. Eh.. kayaknya pernah denger sih. Tapi aneh aja lah. Gak lazim.”

“Iya kok cuma dia sendiri yang sholat. Rajin amat ya?” Timpal teman saya.

“Emang sholatnya ada berapa?” Tanya seorang yang laen.

“Hah? Maksudnya?” Saya balik bertanya.

“Kok itu dua. Emang ada yang satu, ada yang tiga?”

“DHUHAAAAA…” teman yang ini memang sering memancing kekesalan. Lucu enggak, nyebelin iya.

“Dhuha itu apa?” Tanya yang lain.

Dan sebelum saya sempat menjawab, ada penjelasan dari Feri, anak berkacamata yang kutu buku. “Ibu kota Negara Qatar.”

“Lhaa… Itu kan Doha.” Jawab saya.

“Iya.. Dhuha, Doha. Sama.” Jawabnya percaya diri.

“Tapi kata kak Hepi, Dhuha itu waktu antara setelah matahari terbit sama beberapa sebelum zhuhur deh.”

“Iya bener. Nih jawaban google. Waktu ketika matahari sepenggalan naik.”

Hendy! Dia benar-benar IT Literate. Kemana-mana tak lepas dari gadgetnya, dari smartphone blackberry, Iphone, hingga Karce (entah buat apa kalkulator itu). Jawabannya telak, menumpas kesotoyan akut si Feri yang kutu buku itu. Mana mungkin Feri mendebat google?

“Tapi kenapa cuma dia sih yang ngerjain? Kali dia aliran apaaa gitu ya. Aliran sesat kali ya?”

“Hah? Aliran sesat? Eh, dia anak Rohis ya?”

“Iya. Kata temen gw dia anak Rohis.”

“Hati-hati bro! Kata katro tipi, Rohis itu bibit teroris. Pantesan aja kelakuannya aneh-aneh. Yang laen gak sholat, dia malah sendirian sholat Dhuha.”

“Sholat Dhuha itu memang ada. Ga aneh lah kalo ada orang yang Sholat Dhuha. Malah bagus. Pada baru denger ya?” Kali ini terdengar suara Hasan, yang sejak tadi sibuk mengerjakan PR yang belum sempat dibuatnya di rumah. Tidak sempat bergabung dengan pembicaraan orang-orang penasaran ini.

“Baru denger, San. Beneran.”

“Coba tanya sama guru ngaji kalian deh!” Solusi dari Hasan.

“Guru ngaji? Siapa ya? Gw ga punya, San.”

“Gw juga ga punya, San. Dulu waktu masih kecil waktu ikut TPA sih punya. Sekarang enggak.”

“Penasehat spiritual maksud lu, San? Gw juga ga punya. Kalo guru balet punya.”

Orang-orang serempak memandang ke arah Feri. Pengakuan yang mengejutkan. Rupanya selain kutu buku, dia juga….

“Ya udah, ya udah, ya udah… Entar kita tanya bu Sum, guru agama.” Ujar Hasan.

*****

“Oooh sholat dhuha. Itu memang sholat sunnat yang diajarkan oleh Rasulullah.” Bu Sum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang di antara muridnya, tentang sholat dhuha, setelah ia menerangkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. “Sholat Dhuha itu kalau dikerjakan, bisa mendatangkan rezeki lho buat kita. Kalian harusnya rajin mengerjakan sholat sunnat, biar diberi rezeki berupa nilai yang bagus.”

“Waktunya kapan bu?”

“Sejak setelah matahari terbit, hingga beberapa saat sebelum matahari terbenam.”

Jawabannya sama persis!! Persis dengan penjelasan Hepi.

“Jadi beneran ada ya bu? Tapi kok jarang yang ngerjain?”

“Naah itu dia masalahnya. Sholat Dhuha itu memang ada. Banyak manfaatnya. Tapi umat Islam sekarang ini jauh dari contoh kehidupan Rasulullah. Saat ada yang mencoba mengikuti Rasulullah, malah dibilang aneh. Itu tadi karena sedikit yang mengamalkan.”

“Bu Sum juga gak pernah saya liat Sholat Dhuha di mushola.” Daaarr… Suara seorang siswa putri. Telak seperti menampar pipi Bu Sum yang mengangguk-angguk, grogi, terlihat berfikir, dan tak bisa berkata apa-apa.

“Iya bu. Kalau bu Sum rajin Sholat Dhuha, kan rezeki Bu Sum lancar. Bude Lastri gak akan sering ibu utangin kalo Bu Sum jajan di kantin.”

Alamaaaak… ini terlalu vulgar. Lagi-lagi si Feri. Temannya yang duduk di sebelahnya terlihat menepuk jidat. Siswa lain yang duduk di depannya menggeleng-gelengkan kepala. Siswa lain ada yang mulutnya menganga dengan tatapan terperangah ke arah Feri. Betapa beraninya dia.

“Iya. Mulai besok kita coba rutin untuk Sholat Dhuha. Untuk kelas ini, akan ibu absen siapa saja yang Sholat Dhuha. Ada penambahan nilai.”

Aduh, saya kurang setuju. Kenapa pula ibadah harus diiming-imingi nilai. Yang penting kan hatinya.

*****

Kini musholla sekolah saya ramai diisi orang-orang yang Sholat Dhuha tiap jam istirahat tiba. Tidak cuma siswa dari kelas saya, tapi juga siswa kelas lain. Terutama kelas tiga yang sebentar lagi menghadapi ujian nasional.

Memang awal yang meramaikan adalah kelas saya karena mencari nilai. Tapi kemudian pembicaraan Sholat Dhuha ini terus menyebar, hingga semakin banyak yang melakukan.

Kini Sholat Dhuha tidak lagi menjadi misteri. Semua guru agama sudah menjelaskan tentang keutamaan Sholat Sunnat Dhuha saat mereka mengajar. Anak-anak mengerti. Yang merasa butuh mendekati Tuhannya, ia akan mengerjakan sholat sunnat itu.

Andai saja Hepi tidak berani menjadi pelopor kebaikan karena takut dianggap aneh, atau takut dituding teroris oleh orang-orang yang termakan isu katro tipi, mungkin pelaku Sholat Dhuha tidak akan sebanyak sekarang. Tapi Hepi berani menjadi nomor satu yang memulai kebiasaan baik yang harusnya ada pada setiap muslim.

Itulah kunci bila kebaikan ingin tersebar di bumi ini. Harus ada yang berani mempeloporinya. Harus ada yang tidak takut dibilang aneh. Seperti Hepi.
20 Oktober 2012

 
1 Comment

Posted by on June 16, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Elegi Sebuah Keputusan

Di hadapanku kini sedang menangis seorang gadis bernama Dewi, pacarku yang hubunganku dengannya telah terjalin selama delapan bulan. Dalam isaknya yang menurutku begitu cengeng, ia memintaku untuk tidak mem-PHK-nya dari jabatan sebagai seorang pacarku.

“Jangan putusin Dewi ya, Andri…” Ujarnya sambil terisak.

Aku mengambil sebuah gelas yang terletak di atas meja yang memisahkan aku dan Dewi saat ini, kemudian meneguk airnya beberapa tegukan.

“Hhh… Dewi…” Ujarku setelah selesai aku minum. “Kenapa sih cuma sama kegiatan-kegiatanku aja kamu sampe cemburu?” Lanjutku sembari menaruh gelas itu kembali ke samping sebuah piring yang berisi nasi goreng hidangan Cafe Yayang yang sebenarnya telah dihidangkan dua menit yang lalu kepada kami berdua. Namun selera kami belum bangkit untuk segera menikmatinya.

“Kalau kegiatan-kegaitanmu selama ini bisa menjauhkan aku dengan kamu, jelas aku cemburu.” Jawabnya.

Aku menunduk sambil menghisap nafas dalam-dalam, mencari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada Dewi, yang aku mengenalnya melalui sebuah perjumpaan yang sangat modern, melalui chating.

Mulanya hanya main-main saja ketika aku men-double klik sebuah nama yang terpampang di channel #Padang, yang menurutku cukup unik, ce-elok. Maka obrolan melalui ruang maya yang menjadi awal perkenalanku padanya pun dimulai setelah aku menuliskan kalimat, “He jangan ngelamun, elok-elok kok ngelamun. Beko kok lah tasapo baru tau raso.”

Percakapan mulai seru ketika setelah kami menyerahkan data asl (age, sex, location) kami masing-masing, kami menemukan kesamaan umur dan tempat. Hanya jenis kelamin saja yang berbeda. Selanjutnya humor-humor segar mengalir melalui komputer kami masing-masing Dan begitulah, terjadi jawab menjawab antara kami hingga ketika sudah saatnya bagiku untuk gtg (Get to go), aku meninggalkan emailku padanya yang ketika tiga hari kemudian aku kembali ke warnet untuk memeriksa emailku, rupanya telah ia kirim sebuah surat perkenalan.

Email darinya kiranya terus datang setelah aku meladeni satu-persatu email-emailnya yang masuk padaku. Mulanya isi surat-surat elektronik kami hanyalah berupa perkenalan identitas diri saja seperti apa hobi, kegiatan, sampai binatang peliharaan kami. Namun yang terjadi selanjutnya rupanya tidak cukup sebatas perkenalan diri semata.

Yang membuatku heboh – meski ini sudah ku duga sebelumnya – ia meminta fotoku. Maka dengan berbekal PeDe yang cukup tinggi, aku kirim sebuah fotoku yang paling gagah, foto ketika aku berhasil menaklukan puncak gunung Merapi (Gunung Merapi yang terletak di Sumatera Barat). Dan ia pun balas memberikan foto, sebuah foto yang menggambarkan seorang gadis cantik di sebuah taman bunga yang entah di mana, aku tak tahu. Aku tak mengira, ia begitu cantik. Sesuai dengan nicknya selama ini, ce-elok.

Perkenalan kami rasanya tanggung sekali rasanya kalau tidak ada kopi darat. Maka kopi darat antara kami terjadi di sebuah kafe yang bernama Café Yayang yang tak jauh dari rumahnya di Lapai – daerah terkenal di Padang – pada sabtu sore di mana saat itu ia datang dengan mengenakan baju merah mawar yang makin mempercantik dirinya.

Kopi darat hanyalah gerbang menuju perjumpaan rutin selanjutnya yang selalu sama, tempat dan saatnya. Kadang kami juga bertemu di warnet tertentu untuk bermain internet bersama-sama.

Besarnya frekuensi pertemuan kami menyebabkan kami pun sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dekat: pacaran. Maka dua bulan sebelum Ebtanas, kami telah berjanji di Cafe Yayang pada suatu sore di hari sabtu untuk – yang kata remaja saat ini – ‘jadian’.

Begitulah, hubungan pacaran kami lancar-lancar saja sampai ketika hasil UMPTN diumumkan dan hasilnya aku lulus di matematika Universitas Andalas, sedangkan ia lulus di Sastra Inggris Universitas Negeri Padang. Perbedaan kampus tak menghalangi pacaran kami karena toh selama ini kami juga beda sekolah.

Waktu terus bergulir, perlahan aku mulai tertarik untuk aktif di organisasi di kampus ini. Semua kegiatan dari setiap organisasi di MIPA ini telah aku ikuti. Dan karena kawan-kawan di jurusanku banyak yang ikut Forum Studi Islam, maka berbekal ikut-ikutan, aku mulai rajin mengikuti kegiatan FSI itu.

Kegiatan-kegiatan itu benar-benar menambah pengetahuan agamaku. Bahkan aku mulai mengerti aturan Islam mengenai pergaulan laki-laki dan wanita.

Sebabnya kegiatan-kegiatan itu begitu menyita waktuku – hingga aku tak sempat lagi ke warnet dan menelepon Dewi, maka kegiatan-kegiatan itu diprotes oleh Dewi kini.

“Andri… Andri janji ya sama Dewi, jangan cuekin Dewi lagi.” Kali ini suara Dewi memecah hening di antara kami.

Isak Dewi masih persatu. Untung saja tak begitu banyak orang di Café ini, hanya lima meja termasuk meja kami yang tertempati oleh pengunjung yang semuanya aku perhatikan sedang… pacaran. Ups, aku mulai muak melihat kegiatan yang kusebut barusan belakangan ini.

“Oke deh Dewi, aku nggak kan mutusin kamu. But, aku nggak suka aja kalau kamu sering cerita-cerita masalah kamu sama aku.”

“Cerita-cerita masalah?”

“Iya, emangnya aku psikolog kamu?”

“Andri… kok sepertinya nggak ada hubungannya dengan pembicaraan kita selama ini? Aku tuh mempermasalahkan kegiatan kamu itu. Sampe-sampe kamu mau mutusin aku karena kamu sibuk. Nggak ada hubungannya dengan kebiasaan aku suka ngadu masalah-masalah aku ke kamu”

“Yaa gitu. Kalo kamu nggak mau diputusin, kamu harus rubah kebiasaan kamu. Kamu nggak boleh lagi mengeluh di hadapan aku.”

Tampak olehku dahi Dewi berkerut tanda kebingungan mendengar ucapan-ucapanku.

“Cuma dengan tidak lagi mengeluh di hadapan kamu, kamu nggak akan mutusin aku?” Tanyanya.

“Iya, emangnya kenapa?”

“Lalu kegiatan-kegiatan kamu?”

“Tetap jalan. Dan aku akan berusaha untuk tetap merhatiin kamu.”

“Apa gara-gara aku sering ngeluh kamu jadi cuekin aku?”

”Nggak.”

“Lho, jadi… Gimana sih maksud kamu.”

“Aku ingin kamu ngaduin masalah-masalah kamu ke Uni Irna.”

“Uni Irna kakak mu? Memangnya kenapa?”

“Yah gitulah. Aku cuma pengen kamu dekat dengan kakakku. Mudahkan? Kamu kan satu kampus dengan Uni Irna. Tapi itu kalau kamu mau. Kalau nggak, ya mungkin aku harus konsentrasi ke kuliah dan organisasiku. Pacarannya nanti aja kalau aku sudah nikah nanti.”

“Pacaran kalau sudah nikah? Ih, aneh deh kamu Andri. Ya sudah, kalau itu syarat dari kamu, aku akan berusaha untuk dekat dengan kakakmu.”

Aku melempar senyum keluar, pada hujan yang sudah agak reda meski rintik-rintik tipis masih ingin bercanda pada kulit bumi.

*****

Langkah dipercepatku menjamahi trotoar di bahu jalan Sudirman – Jalan di mana warung internet langgananku berada – ketika matahari satu jam lagi tertelan langit barat. Berikutnya setelah aku sudah berada di depan warnet Idola, aku bergegas ke dalam mencari bilik yang kosong yang – AlhamduliLlah – langsung aku temukan. Segera pada komputer yang ada dibilik itu, aku double klik icon internet explorer dan kuketik http://www.muslimmuda.com – web site tempat aku mendaftarkan email – pada addres di layar explorer yang telah muncul.

Langkah selanjutnya adalah aku mencari email balasan dari Dewi di kotak inbox. Dan email yang aku cari itu aku temukan.

Email itu berisi tentang penerimaannya terhadap permintaan maafku yang kukirim melalui email tiga hari yang lalu. Janji kencan di Café Yayang pada sabtu sore kemarin terpaksa aku batalkan sepihak karena ada acara mabit (menginap) yang diadakan di Masjid Nurul ‘Ilmi dan waktunya pun dimulai pada Sabtu sore.

Pemaklumannya itu membuatku terkejut. Biasanya ia akan marah padaku dan dengan manja memintaku untuk memperhatikannya sebagai layaknya orang pacaran. Bukan cuma itu saja yang membuatku terkejut. Ia juga bercerita kalau ia makin dekat saja dengan Uni Irna. Ia mulai merasakan kelembutan Uni Irna yang menyentuhnya pada setiap kali ia mengadu masalah-masalah yang ia hadapi kepada Uni Irna. Ia juga bercerita kalau sebentar lagi ia akan mengenakan jilbab, sebagai suatu realisasi nasihat-nasihat Uni Irna selama ini. Jelas sekali dari suratnya, Uni Irna memiliki pengaruh yang besar sekali pada diri Dewi.

Dalam pada itu, riak-riak kekhawatiran menerpa dinding hatiku. Di satu sisi, siasatku untuk mendekatinya pada Uni Irna telah berhasil. Di sisi lain, mulai timbul ketakutan pada diriku ketika ia pada akhirnya memutuskan aku secara sepihak.

Azzamku luruh oleh nafsu yang lupa aku belenggu ketika aku mulai mengetik sebuah surat yang berisi permohonan agar ia juga tidak lupa memperhatikan aku, dan tidak sampai memutuskan aku setelah ia dekat dengan Uni Irna.

*****

Jarum jam di dinding Café Yayang membentuk 120 derajat dengan Jarum pendek menunjuk ke angka delapan setelah bel jam itu berbunyi delapan kali. Aku duduk sendiri di meja dekat pintu masuk, ditemani tempias hujan yang memeluk aku yang menanti Dewi selama satu jam ini.

Rasa bosan mendekapku erat bersama rasa kesal yang menggerogoti rasa kangen pada Dewi. Sementara nasi goreng yang sudah begitu lama terhidang baru aku makan setengahnya.

Tanpa nada yang teratur, aku mengetukkan jari-jariku di atas meja. Dan setelah lima menit waktu beranjak dari delapan tepat, tanpa menghabiskan nasiku aku beranjak dari Café tersebut, kemudian menembus gerimis malam menuju sebuah warnet terdekat.

Dengan niatan ingin memarahi Dewi melalui email – karena malam ini ia telah mengingkari janjinya dan belakangan ini ia tidak pernah lagi meneleponku, aku membuka emailku setelah sebuah komputer yang tadinya menganggur aku ambil alih. Aku tak salah untuk kesal padanya. “Bukankah dahulu ia yang mengemis-ngemis padaku agar aku tidak memutusinya?” Pikirku.

Terlebih dahulu aku membuka kotak surat yang sudah seminggu ini tidak aku buka karena sibuk. Dan setelah inbox terbuka, sebuah surat bersubject “Maafkan Dewi” yang mengejutkan aku, langsung aku buka.

Assalamualaikum wr. wb.

Andri, maafkan Dewi kalau surat ini membuat Andri sedih, kesal, atau marah pada Dewi. Tapi Dewi rasa, Andri tidak akan sampai seperti itu. Karena bukankah Andri sendiri yang sengaja mendekatkan Dewi pada Uni Irna?

Andri, setelah Dewi mengenal Uni Irna lebih dekat, Dewi mulai mengenal keindahan Islam. Uni Irna selalu menjawab dengan bijak kesedihan-kesedihan Dewi. Dewi diperkenalkan pada sebuah trouble solver yang bernama Islam. Dewi jadi sadar, betapanya agama yang Dewi anut selama ini begitu Dewi acuhkan sehingga keindahan-keindahannya tidak dapat Dewi nikmati.

Dewi juga diajak untuk ikut kegiatan-kegiatan Islam di kampus. Sama seperti kamu, Dewi pun lama-lama mulai tertarik dengan kegiatan keislaman. Kegiatan keislaman itu sedikit banyak makin menambah luas pengetahuan keislaman Dewi.

Dewi juga ikut kajian mingguan yang ada di kampus. Pokoknya, Uni Irna sukses membuat Dewi aktif di setiap kegiatan keislaman.

Hingga akhirnya pada suatu saat di sebuah acara keislaman, Dewi mendengar bahwa Islam tidak mengenal pacaran. Pada mulanya Dewi ragu, Ndri. Tapi Uni Irna berhasil meyakinkan Dewi. Dan dari Uni Irna lagi, rupanya kamu juga udah tau kalau pacaran itu dilarang dalam Islam.

Begitulah Andri, Dewi akhirnya punya keberanian untuk memutuskan hubungan kita. Toh rupanya syarat kamu agar Dewi dekat dengan Uni Irna bertujuan supaya Dewi siap kalau suatu waktu kamu memutuskan hubungan kita.

Andri, insya Allah, kalau Allah menghendaki pacaran kita ini akan tetap berlanjut. Tapi nanti Ndri, ketika kita sudah diresmikan oleh penghulu. Tapi selama kita belum resmi, kita berlindung saja kepada Allah dari cinta yang berasal dari nafsu.

Mudah-mudahan masing-masing kita mendapatkan pasangan yang terbaik yang pilihan Allah.

Wassalamualaikum wr. wb.

Dewi

Seketika kurasakan sekujur tubuhku menjadi lemas. Aku telah kedahuluan olehnya.

*****

Ket: Beko kok lah tasapo baru tau raso : Nanti kalau sudah kesurupan baru tahu rasa

Pernah dimuat di muslimmuda.com sekitar tahun 2001-2002.

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Ana Pamit, Ustadz

Waktu terasa berjalan sangat lama saat Dedi duduk berhadap-hadapan dengan Ustadz Hisyam di tengah ruangan sebuah masjid di suatu malam yang sedikit mendung. Ustadz Hisyam adalah pembimbing Dedi belajar Islam yang telah dikenalnya selama enam tahun.

“Bagaimana akhi?” Suara Ustadz Hisyam terasa seperti runtuhan beban berat dari atas langit yang menimpa dada Dedi.

“Ustadz…” Dedi menarik nafas berat. “Mungkin pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir kita. Pekan depan ana sudah tidak akan ada di kelompok ini lagi.”

Dedi menundukkan mukanya. Tak mampu menatap wajah Ustadz Hisyam. Dan pada degup jantung yang berdetak kencang, Dedi menanti dengan cemas respon dari guru ngajinya itu.

“Lho… Kenapa akhi?”

Dedi menduga terjadi perubahan air muka yang drastis pada Ustadz Hisyam. Dari nadanya, jelas ustadz terkejut bukan kepalang.

“Iya ustadz, ana rasa demi kebaikan kita, ana mencukupkan diri di kelompok bimbingan antum.”

“Ada apa? Ceritalah. Antum merasa futur dan mau meninggalkan jalan dakwah ini?”

“Bukan ustadz. Justru karena masih adanya hamasah, ana berniat meninggalkan kelompok ini.”

Ustadz Hisyam makin terkejut mendengar jawaban Dedi.

“Lho… Lalu kenapa antum berhenti halaqoh?”

“Ana tidak berhenti halaqoh, ustadz. Insya Allah ana tetap berdakwah meski tidak berada di kelompok ini.”

“Antum kemana? Beralih ke harokah lain?”

“Bukan juga ustadz.” Dedi menggigit bibir bawahnya. Ia mendapati tanggannya bergetar tak karuan. Entah Ustadz Hisyam melihatnya entah tidak.

“Antum… Antum mau meninggalkan ana saat kondisi ana seperti ini?”

Terdengar oleh Dedi pertanyaan itu adalah tuduhan tidak setia kawan seorang murid yang mengkhianati guru yang sedang ditimpa masalah. Tapi Dedi merasa kesalahan itu tidak layak ikut ditanggungnya.

*****

Wajar bila Ustadz Hisyam menagih rasa setia kawan padanya. Ustadz Hisyam sedang menjauh dari para aktifis dakwah di kampung ini. Bukan aktifis dakwah yang menjauhi ustadz Hisyam sebenarnya, tapi beliau sendiri yang menjauhi mereka. Karena suatu masalah.

Padahal Dedi dulu berada pada kondisi yang lebih parah. Sendirian tak punya kawan, di tengah keluarga yang broken home. Tak ada orang tua yang memberinya kasih sayang. Dedi yang semula anak manis di bangku sekolah dasar, menjadi anak urakan menjelang kelulusan studinya di sekolah menengah pertama. Adiktif oleh obat-obatan terlarang. Menarik diri dari pergaulan.

Dan adalah Ustadz Hisyam yang menjadi penyambung hidupnya saat beliau menemukan Dedi yang hampir bunuh diri enam tahun lalu di toilet masjid Ukhuwah, masjid tempat ia berada kini. Sebuah pisau cutter hampir saja memotong nadinya bila sedetik saja Ustadz Hisyam terlambat memergoki usaha Dedi. Pada setetes air yang bertengger di pelupuk matanya kini, terbayang oleh Dedi kejadian saat itu.

“Hei, kenapa kamu?” Tanya Ustadz Hisyam yang berhasil menyambar pisau dari tangan Dedi.

“Jangan halangin gw. Hidup gw udah ancur. Gw mau mati. Gw pantes mati.” Dedi berteriak di sebuah kamar kecil yang lupa ia kunci. Ustadz Hisyam yang hendak buang hajat, memasuki kamar itu dan tanpa ia duga memergoki pemandangan yang mengerikan.

Dedi mencoba merebut pisau itu tapi gagal. Dan pada akhirnya setelah usaha yang cukup keras Ustadz Hisyam berhasil menenangkan Dedi. Qodarullah, Dedi melakukan transaksi obat-obatan terlarang di teras masjid Ukhuwah yang sepi dan posisinya agak jauh dari keramaian dan pengawasan penduduk. Pada pikiran yang kalut, ia yang kesusahan mencari uang untuk memenuhi ketergantungannya pada obat-obatan terlarang memutuskan untuk bunuh diri saja. Lalu ia beranjak ke toilet untuk mewujudkan hasratnya.

Sejak kejadian itu Dedi yang sudah ditenangkan oleh Ustadz Hisyam, jadi sering tidur di Masjid. Berhasil meninggalkan dunia buruk pelariannya, dan berubah menjadi aktivis dakwah.

Bertahun-tahun Dedi menimba ilmu dari Ustadz Hisyam. Sampai sekarang. Sampai terjadi kondisi rumit antara Ustadz Hisyam dan beberapa aktifis dakwah di kampungnya.

Menurut Dedi, ini hanyalah masalah kesalahpahaman. Ada perbedaan cara pandang pada masalah teknis dakwah. Tapi yang muncul adalah tudingan penyimpangan asholah dakwah. Ustadz Hisyam menjadi sosok yang asing bagi Dedi. Tidak seperti yang ia kenal. Di setiap pekan halaqohnya, tujuh puluh persen isinya tudingan, ghibah, dan cacian. Dedi bingung.

Hingga akhirnya ia teringat nasihat Ustadz Hisyam tiga tahun lalu tentang hidup berjamaah. Bahwa pendapat pribadi yang kita pikir benar, tidak lebih baik dari pendapat hasil musyawarah yang kita pikir salah. Saat itu ustadz Hisyam mengecam karakter orang yang menarik diri dari jamaah, memusuhi saudara-saudaranya di jalan dakwah hanya karena perbedaan pendapat masalah furu’iyah. Dedi mengerti, saatnya kini ia aplikasikan nasihat-nasihat Ustadz Hisyam untuk tetap bersama jamaah dakwah walaupun pahit. Walaupun sang penolongnya enam tahun yang lalu sudah berjarak cukup jauh dari rekan-rekan dakwahnya.

*****

“Ana hanya ingin mengaplikasikan nasihat-nasihat antum tentang hidup berjamaah, tentang prinsip syuro, tentang kelapangan hati pada ikhwah, tentang baik sangka dan ukhuwah, tentang tabayun, dan semua tentang dakwah yang sudah ana kenal.” Suara Dedi bergetar

Dan kini di antara mereka hanya diam. Suara decak cicak membelah, bersautan dengan suara denting besi yang beradu pada jam kuno yang membunyikan tanda pukul sepuluh malam.

“Jadi, menurut antum ana yang tidak menjalankan apa yang sudah ana nasihatkan?” Suara ustadz Hisyam terdengar lirih.

“Ana mencintai antum karena Allah, ustadz. Ana tidak membenci antum. Ana…. ana putuskan ini semua demi kebaikan kita.”

Tangan Dedi menggapai tangan kasar milik ustadz Hisyam. Kasar karena kesederhanaannya, karena kemuliaannya, segan menggantungkan hidup dari ilmu agama yang ia miliki. Sehari-hari Ustadz Hisyam adalah seorang montir yang punya bengkel sendiri. Bukan dari ceramah ia mengisi piring makannya.

Pada wajahnya yang deras mengalir air mata, Dedi mencium tangan Ustadz Hisyam.

“Semoga Allah melembutkan hati kita semua, ustadz. Dan jamaah ini kembali utuh bersama antum. Ana pamit, ustadz.”

Dedi beranjak. Tak mau lebih larut dalam drama kepamitannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Puisi Untuk Anakku

I

 Itu dunia anakku, gengamlah!

Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!

Buaian hanya sementara

Selanjutnya kertas dan pena

Kau hadirkan pada mereka

Keilmuan seluas samudra

Hadirkan cahaya sibak gulita

Kau tembus bumi, merobek angkasa

Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.

Itu cakrawala anakku, rengkuhlah

Kau milik zamanmu, bersiagalah

Pelukan bunda hanya sementara

Selanjutnya keringat dan air mata

Kau suguhkan pada mereka

Hujjah dan qoulan syadida

Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa

Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka

Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga

Hingga kau diterima dalam ridho-Nya

II

Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik

Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik

Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik

Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik

Aku bukan pemikul beban yang terpaksa

Tapi aku penggembala penuh cinta

Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa

menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia

III

Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban

Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban

Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban

Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban

Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.

*****

20 Oktober 2009. Untuk ulang tahun Raudhatur Rahmah yang pertama pada tanggal 21 Oktober 2009.

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Kisah Ospek Fani

Rasa senangku sejak aku tahu bahwa aku diterima di SMUN1 – SMUN favorit di kotaku – dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu sudut lapangan upacara sekolah yang memuat namaku pada urutan kesepuluh dari daftar siswa yang diterima, harus dikalahkan oleh rasa kesalku setelah dua minggu aku resmi menjadi siswa SMU dambaanku ini. Betapa tidak, belakangan ini aku harus menjadi objek rasa jumawa kakak-kakak kelasku yang menjunjung tinggi rasa senioritas. Dengan memanfaatkan Masa Orientasi Siswa – suatu acara penyambutan siswa baru yang digelar selama beberapa hari, mereka – kakak-kakak kelasku sesuka hatinya membentak, mencaci, menghina, dan menyuruh ini itu aku dan siswa baru lainnya. Kesal aku jadinya. Makanya, rasa gembiraku seketika berubah menjadi rasa dongkol.

Rasanya ingin marah, tapi aku tak tahu harus kutumpahkan ke mana semua rasa ini. Membalas jelas tidak mungkin. Namun mereka sudah keterlaluan. Siapa yang tidak kesal diberi hukuman menghitung keliling lapangan basket sekolahku dengan jengkal? Siapa yang tidak marah disuruh berakting menirukan gaya gorila di tengah lapangan dan menjadi tertawaan orang banyak?

Puncaknya adalah saat aku dipanggil seorang kakak kelas untuk ‘tur’ keliling sekolah. Aku harus masuk ke setiap kelas yang berisi siswa baru untuk berlagak menjadi artis dan menyanyikan sebuah lagu dengan sapu ijuk sebagai mixnya. Lalu kakak kelas itu berlaga seperti menejerku. Aku dibantu oleh dua siswa lain yang selokal dengan ku sebagai koreografernya. Dan aku juga diberi nama yaitu Tukiyem, artis dari Hollywood yang sengaja konser dari kota film di Amerika itu ke SMUN1 untuk menghibur peserta MOS. Aku disuruh menyanyikan lagu yang hits di Hollywood seperti lagu soundtracknya film Sinchan, soundtracknya film Kobochan, dan lagu anak lainnya di depan kelas. Di setiap penghujung konserku, menejerku bertanya pada hadirin apakah mereka puas atas penampilanku.

Untungnya mereka menjawab puas. Begitulah aku diajak keliling sekolah menyusuri setiap kelas yang saat itu sedang diberi materi berupa pengenalan organisasi ekstrakurikuler yang ada di sekolahku oleh panitia MOS. Kebetulan di kelasku waktu itu organisasi yang diperkenalkan adalah Rohani Islam. Dan aku tak sempat mendengarkannya karena ada konser penting itu. Karena kejadian itu, aku menjadi sangat malu. Sejak konser itu aku selalu dipanggil Tukiyem oleh orang-orang di sekolahku.

“Tukiyem, nyanyi lagu soundtracknya film Si Komo dong!”

Di pikiranku saat ini, semua kakak kelasku angkuh. Tidak ada satu pun yang ramah. Dan setiap pagi saat aku harus datang pada acara MOS, aku memandang sinis kakak kelasku.Kalau ada kesempatan ingin rasanya aku telan mereka bulat-bulat.

*****

Saat bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat, peserta MOS bertebaran ke lapangan untuk berburu tanda tangan panitia MOS. Di pinggir lapangan, telah menunggu panitia-panitia MOS mencari mangsa. Inilah pekerjaan yang paling aku benci. Karena biasanya panitia berkesempatan untuk mengerjai adik barunya. Tapi herannya, meski dikerjai, siswa baru itu tetap semangat memburu tanda tangan.

Pun aku saat ini. Aku khawatir apabila jumlah tanda tangan yang kudapat tidak mencapai syarat sampai hari akhir Masa Orientasi Siswa, yaitu 50 buah tanda tangan panitia, maka aku akan dikerjai di ruang macan. Ruang macan adalah ruang tempat penyiksaan peserta MOS yang bermasalah dengan panitia atau kakak kelasnya. Sudah sering aku mendengar cerita yang buruk-buruk tentang ruangan itu dari kawanku yang pernah masuk ke sana.

Dari namanya saja sudah menyeramkan. Pernah ada seorang peserta MOS yang berani melawan perintah panitia MOS. Dan akhirnya panitia itu pun tersinggung. Hingga sisiwa baru itu pun dipermasalahkannya sampai masuk ke ruang macan. Di ruang macan itu ia mendapatkan pelayanan mengerikan: Bangku-bangku beterbangan, suara cempreng dengan volume besar memarahinya di telinga kanan dan kiri. Wajah-wajah garang yang bebas mengeluarkan amarah. Bahkan tertangkap oleh matanya seorang panitia MOS yang sedang on sembari memegang sebatang rokok yang ia yakini berisi ganja sedang memarahinya.

Dari kerumunan di tengah lapangan ini, aku menatap kesebuah sisi lapangan yang berada tepat di bawah ring basket. Di situ terdapat seseorang gadis berjilbab yang mengenakan tanda pengenal panitia MOS sedang duduk sendirian. Berpayung di bawah banyangan ring basket dari terik matahari di tengah hari kini. Meski aku belum berkesempatan untuk mengenakan jilbab seperti kakak itu, namun aku yakin bahwa orang yang berjilbab mestilah orang yang baik-baik. Maka segera saja aku hampiri kakak itu untuk mendapatkan tanda tangannya.

“Kak, Assalamualaikum. Minta tanda tangannya kak.”

Pintaku dengan lembut dan hati-hati.

“Oh, siapa nama kamu?” Tanyanya.

“Fani.” Jawabku. Sejauh ini tidak nampak tanda-tanda bahwa aku akan dikerjai.

“Bagus juga nama kamu. Mana bukunya, biar kakak tanda tanganin.”

Lega hatiku, tampaknya benar dugaanku bahwa orang yang satu ini tidak buas. Ku berikan bukuku dengan penuh senyuman pada kakak itu.

“Oya, selagi kakak nanda tanganin buku kamu, kakak bisa nggak minta tolong?”

O..o.. aku terkecoh. Alamat aku bakal dikerjai lagi.

Tapi mudah-mudahan tidak sesadis panitia yang lain, harapku.

“Boleh. Minta tolong apa kak?”

“Kamu bilangin ke kakak yang itu tuh…” Dia menunjuk ke seorang pria berkacamata hitam yang berdiri di tengah-tengah kawannya di seberang lapangan sana yang sedang berkumpul menyaksikan teman-teman baruku dikerjai. Tampaknya orang itu kakak kelas tapi bukan seorang panitia MOS.

“Yang pakai kacamata hitam itu kak?”

“Iya. Bilangin ke dia, kalo dia itu sok jago dan belaga hebat. Trus walaupun begitu, kamu tetep suka sama dia dan dia boleh ngerjain kamu.”

Oh tidak. Aku terkecoh. Penampilan adem berjilbab itu rupanya juga seorang yang kejam. Seketika aku lemas.

“Mmm… nggak berani Mbak. Tampangnya serem sih.” Aku mencoba merayunya.

“Mau ditandatanganin nggak sih?” Suaranya setengah meninggi.

Aku terpaku sejenak. Akhirnya dengan rasa terpaksa aku turuti juga perintah “Nona Muda” itu.

Kecemasan menemani perjalananku memotong orang-orang yang seliweran di tengah lapangan menuju kakak yang ditunjukkan oleh mbak tadi.

“Kak… Mmm.. Saya disuruh Mbak yang itu…” Aku menunjuk kepada gadis berjilbab tadi di seberang lapangan sana. Rupanya Mbak itu pun memperhatikan aku. “Saya disuruh ngomong… ngngng… kalo kakak sok jago, belagu, sok hebat, tapi… ngngng…”

Mendengar ucapanku seketika raut mukanya berubah garang menggantikan cengiran genit yang menyambut kedatanganku.

“Apa kata kamu dek?” Suaranya garang.

“Tapi saya tetep suka sama kakak. Dan kakak boleh ngerjain saya sepuas kakak.”

Menyebalkan, tiba-tiba rautnya berubah lagi dipenuhi cengiran nakal menjijikkan.

“Oooh… gitu. Sebentar ya, kakak pikir-pikir dulu.

Pokoknya itu komitmen kamu untuk saya kerjain. Oke adek manis. Nama kamu siapa?”

“Fani, kak?”

“Nama kakak Dicko.” Kembali cengirannya dipamerkan padaku. ‘Huek’ muntahku dalam hati.

Dia diam. Sesaat kemudian dia menjentikkan jarinya seraya berujar, “Aha! Dek, kamu ke depan sana, trus minta mikropon sama Mbak Ningsih yang berambut panjang dan berpita biru itu, trus kamu teriak make mikropon, “GUA CINTA DICKO. SIAPA YANG BERANI NGEREBUT DICKO DARI GUA, MAKA HADAPI GUA DULU.” Oke dek? Setuju?”

Tiba-tiba kurasakan badanku lemas. Hukuman ini tugas ini kurasakan begitu berat. Bahkan mataku pun sedikit panas. Kurasakan kristal-kristal bening di mataku mendesak ingin keluar.

“Ayo Kok diem aja. Cepet laksanain.” Bentakannya padaku menarik perhatian kawan-kawan di dekatnya.

Kupaksakan kakiku melangkah daripada kawan-kawannya itu turut mengerjai aku. Jantung ini terasa begitu kencang berdegup. Getaran kakiku terlihat dari bergoyangnya rok biru seragam sekolahku ketika masih di SLTP, yang kukenakan untuk acara MOS ini. Mbak Ningsih yang ditunjuk kakak tadi pun telah dekat.

“Mbak, minjem mikroponnya.”

“Oh ya. Silakan.”

Alhamdulillah mulus. Ragu-ragu, aku mulai berteriak seperti yang disuruh oleh kak Dicko.

“GUA CINTA DICKO. SIAPA YANG BERANI NGEREBUT DICKO DARI GUA, MAKA HADAPI GUA DULU.”

Tiba-tiba semua mata yang ada di sana memandang ke arahku dengan perasaan di hatinya masing-masing.

Mukaku memerah menahan malu. Lalu mataku menangkap sesosok tubuh milik Mbak Ningsih mendekat padaku dan… PLAK. Tamparan telak mendarat di pipiku. Aku terkejut.

“Kurang ajar. Anak baru udah belaga centil. Mau ngerebut pacar orang lagi. Nih, gua yang ngehadapin elu. Lu yang nantang tadi kan? Coba rebut Dicko dari gua.” PLAK… sekali lagi tamparan keras mendarat di pipiku.

Mataku mulai menghangat didesak air mata yang hendak mengalir deras. Secepat kilat aku berlari menjauhi Mbak Ningsih. Membawa air mata yang mulai mengalir persatu, menembus tatapan iba orang-orang yang melihat kejadian ini, serta mengacuhkan tawa terbahak Kak Dicko dan kawan-kawannya.

Aku terus berlari tanpa tahu arah mana yang kutuju. Yang jelas aku harus menjauhi tatapan orang-orang. Hingga telah sampai langkahku di depan musholla yang kudapati sedang lengang. Ada beberapa orang di depan – yang merupakan daerah untuk pria – sedang membaca Al-Qur’an. Aku menuju daerah di belakang hijab, daerah untuk wanita, dan langsung kulepas sepatuku dan masuk ke dalam.

Tak kupedulikan seorang gadis berjilbab yang sedang menekuni Al-Quran. Keheningan di Musholla ini kumanfaatkan untuk menangis sejadi-jadinya sekaligus berlindung dari terik matahari siang dan terik kejamnya prilaku kakak kelasku.

Di tengah isakku, tak kuhiraukan sebuah tepukan hangat menyapa pundakku bersama teguran hangat gadis itu.

“Masya Allah, kenapa kamu dek?”

Di selingi hening, ia bertanya lagi, “Pasti gara-gara dikerjain ya?”

Lagi aku tak mengacuhkan. Karena aku tak tahu harus berkata apa.

“Sabar dek, Allah bersama orang-orang yang sabar! Kakak juga nggak bisa berbuat banyak. Yang jelas acara seperti ini sudah diprotes ke kepala sekolah. Dan rencananya, hari ini MOS hanya diisi oleh pengenalan organisasi ekskul dari sekolah dan materi dari guru. Tapi rupanya terjadi penyimpangan pada pelaksanaannya. Sabar dek. Insya Allah, Allah memberi pahala atas kesabaranmu.”

Kata-kata itu bersamaan dengan angin sejuk yang masuk dari luar musholla yang membelai tengkukku. Namun kata-kata itu lebih sejuk karena mampu membelai hati.

Kupandangi gadis itu dan kudapati keteduhan dari rautnya. Detik berikutnya senyuman indah mengembang dari bibir yang baru saja melantunkan kalam yang suci, disambung dengan pelukan hangat padaku dan belaian tangannya yang mengelus rambut kepalaku yang belum ditutupi jilbab.

“Saya kira, sudah nggak ada lagi orang yang baik di sekolah ini. Rupanya masih ada kakak, orang yang baik.”

“Sudah, ikut kakak yuk, kita berwudhu. Sambil nunggu waktu Zhuhur, kita baca Al-Qur’an. Insya Allah hati kamu teduh.”

Tangan gadis itu menuntunku ke tempat berwudhu wanita.

Tak lama suara adzan Zhuhur bergema.

*****

Setahun kemudian, aku sedang duduk bersama Mbak Hanifah di bangku di bawah pohon Akasia di pinggir lapangan sambil berteduh dari panas matahari di siang ini tatkala beberapa siswa baru yang kesemuanya wanita mendekat pada kami, aku dan Mbak Hanifah.

“Mbak minta tanda tangannya dong.”

Aku menanggapinya dengan senyuman. “Kalo mau tanda tangan, harus ngucapin passwordnya dulu.” Sahutku.

“Apa passwordnya kak?”

“Assalamualaikum!” Jawab Mbak Hanifah.

“Assalamaualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap mereka serempak.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab kami. “Kumpulin bukunya ya. Yang mau tanda tangan harus di tes dulu baca Qur’annya. Siapa yang non muslim? Siapa yang sedang berhalangan?”

Angin pancaroba yang rutin pada bulan Juli ini membelai jilbab lebarku. Aku mencoba memperkenalkan Islam pada mereka melalui acara MOS yang lagi-lagi masih mengandung perploncoan walau sudah diprotes. Aku menukar senyum dengan Mbak Hanifah yang menyapaku saat aku menangis di Musholla waktu acara MOS dulu. Yang menurutku adalah embun di tengah padang senioritas yang gersang. “Terima kasih telah menunjukiku pada jalan yang telah kau tempuh lebih dulu,” batinku.

Padang, 2001

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Saat Hasrat Berpecah Menggelora

Berpisah

Muka Rohmat memerah. Duduk di salah satu tangga jalan masuk masjid kampus, ia membaca surat keputusan ketua Forum Rohis Peduli (FRP) berulang-ulang dengan diterangi matahari senja.

“Tidak bisa ditolerir… Tidak bisa ditolerir…” Gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Di surat itu, terbaca jelas SK pembentukan panitia rihlah yang mengikut-sertakan beberapa akhwat dalam kepanitiaan.

Rohmat memegang dahinya yang licin karena berminyak. Berfikir keras, mempertimbangkan sesuatu. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah handphone. Setelah mencari nomor yang hendak dihubunginya di phone book, Rohmat mendekatkan handphone ketelinganya.

Sebuah saluran terhubung. Tuuuutt….

“Assalamu’alaikum…” Suara orang di suatu tempat, menjawab panggilan telepon.

“Wa’alaikum salam. Akh Heri, ini Rohmat. Sudah dapat SK Kepanitiaan rihlah dari si Luqman?” Kali ini suara Rohmat.

“Sudah. Kenapa memangnya akh?”

“Gak bisa ditolerir!! Ana kan sudah bilang, kalau rihlah jangan ajak akhwat. Khawatir timbul fitnah.”

“Iya, tapi ini sesuai keputusan syuro akh, Insya Allah hal-hal yang potensial menimbulkan fitnah akan diminimalisir.”

“Minimalisir bukan berarti tidak ada sama sekail kan? Ah, payah si Luqman. Tidak bisa begini caranya. Lama-lama FRP ini ikut-ikutan menyimpang seperti Rohis kampus.”

“Menyimpang bagaimana akh? Antum jangan berlebih-lebihan. Ini sudah jadi keputusan syuro…”

“Keputusan syuro, keputusan syuro. Sama saja jawaban kalian dengan jawaban anak-anak Rohis. Syuro cuma jadi legitimasi penyimpangan. Tidak bisa begini caranya. Sampaikan pada Luqman, ana cabut dari FRP. Wadah ini sudah tidak bisa diharapkan lagi…”

Tuuut… Tuut.. Tuut… Rohmat menyudahi pembicaraannya.

*****

Pukul 12.30 siang di kampus Universitas Bangun Mulia adalah waktu pergantian satu mata kuliah ke mata kuliah berikutnya. Dan saat-saat itu adalah saat di mana masjid kampus penuh dengan mahasiswa yang hendak menunaikan sholat zhuhur. Saat di mana para aktifis Rohis bertemu dan melepas canda. Begitu juga dengan para aktifis Forum Rohis Peduli, mereka memanfaatkan waktu sekitar 12.30 sebagai tempat bertemu dan saling mengakrabi.

Tapi sebuah pemandangan aneh tampak di mata para aktifis Rohis. Luqman dan Rohmat, dua pentolan Forum Rohis Peduli, berpapasan di depan masjid. Luqman memberi salam dan mengulurkan tangan, tapi Rohmat mengabaikan salam dan uluran tangan Luqman.

Beberapa aktifis Rohis yang melihat pemandangan itu terperangah.

“Walah, ada apa lagi ini?” Tanya salah seorang dari mereka berbisik-bisik.

“Jangan-jangan pecah lagi…”

“Yaa… pecah lagi? Jadi FRPP dong… Forum Rohis Peduli Peduli.”

Tawa pecah di tengah kerumunan aktifis Rohis.
*****
Forum Rohis Peduli adalah sebuah organisasi yang mewadahi beberapa mantan pengurus Rohis yang kecewa dengan kepengurusan saat ini.

Semuanya bermula saat terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis. Sebelum Muktamar Rohani Islam Universitas Bangun Mulia yang ke 15, muncul desas-desus Adi dekat dengan seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan Adi. Mahasiswi itu bukan anggota Rohis. Seseorang aktifis Rohis pernah memergoki Adi dan mahasiswi itu sedang bersama-sama di sebuah toko buku.

Kisah kepergoknya Adi dan mahasiswi itu berkembang menjadi cerita yang liar. Ada cerita bahwa Adi berpacaran. Tapi ada juga yang bilang bahwa walau pun tidak berpacaran, seorang aktifis Rohis tidak pantas berdua-duaan dengan wanita non muhrim. Klarifikasi dari Adi sendiri, bahwa ia dan temannya itu tanpa janjian bertemu di sebuah toko buku. Dan keduanya sama-sama hendak membeli beberapa buku kuliah yang sama. Makanya Adi dan temannya itu terlihat beberapa waktu berjalan beriringan. Tapi dengan tujuan hendak mencari buku dan mendiskusikan buku mana yang sebaiknya dibeli. Itu saja.

Terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis mendapat protes yang keras dari beberapa aktifis. Termasuk Rohmat yang adalah kandidat kuat ketua Rohis. Permasalahan ini tidak tuntas karena pemrotes bersikeras ingin agar Adi turun dari posisi ketua, sedangkan Adi dan pengurus yang lain bersikeras menjalankan amanat Muktamar yang dalam AD/ART Rohani Islam Universitas Bangun Mulia adalah tempat pengambilan keputusan tertinggi.

Masalah yang tidak tuntas ini mulai ditumpuk dengan masalah lain saat pemilihan ketua BEM sudah dekat. Hasil musyawarah, Rohis mendukung seorang calon ketua BEM yang bukan anggota Rohis.

“Dani itu anak Rohis juga lho waktu SMA. Dan sampai sekarang dia masih terlibat dalam acara-acara alumni Rohis SMA-nya. Memang dia memilih aktif di BEM saat baru masuk kuliah, daripada aktif di Rohis. Tapi pengalamannya di BEM, dan statusnya sebagai alumni aktifis Rohis SMA, ditambah dengan pengaruh dan dukungan dari teman-teman fakultasnya, saya rasa menjadi alasan yang kuat untuk mendukung Dani. Lagi pula akhlak Dani di BEM sangat baik.” Begitu ungkap Adi, menyampaikan alasan musyawarah mendukung Dani.

Dan saat ditanya mengapa bukan Luqman yang naik menjadi ketua BEM, Adi menjawab, “Luqman itu visioner. Wawasannya tentang keorganisasian cukup luas. Makanya ia ditempatkan membawahi bidang keorganisasian. Ia sangat dibutuhkan Rohis.” Begitu jawab Adi.

Tapi alasan ini tidak diterima oleh Rohmat, Luqman dan beberapa aktifis Rohis lainnya yang semakin membuat kegaduhan. Pendapat mereka, Rohis harus mengusung anggotanya menjadi ketua BEM seperti yang sudah-sudah di tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak percaya anggota luar Rohis memimpin BEM dan mengkhawatirkan BEM menjadi alat legalisasi kemaksiatan di kampus. Akhirnya sejak saat itu, setiap keputusan Rohis selalu mendapat kritik keras dari beberapa aktifisnya. Tidak pernah ada keputusan yang bebas kritik.

Hiruk pikuk ini berujung dengan pecahnya organisasi Rohani Islam. Pemicunya adalah diturunkannya Luqman dari Ketua Bidang Keorganisasian Rohani Islam. Sudah lima kali rapat penting Luqman tidak hadir. Akhirnya Luqman, Rohmat, dan dua puluh aktifis lainnya lintas angkatan membentuk sebuah wadah bernama Forum Rohis Peduli.

Wadah ini berjalan sendiri. Meski ada rasa saling menghormati di antara aktifis Rohis dan FRP. Mereka masih mau untuk sholat berjamaah, dan menerima imam sholat walaupun bukan dari organisasinya.

Wadah ini solid, hingga sebuah keputusan yang membuat kekesalan Rohmat kembali meledak.

*****

Sore itu hujan mengurung dan menyatukan tiga kelompok di ruangan masjid yang cukup luas. Ada kelompok aktifis Rohis, dan ada Adi di sana. Ada kelompok FRP, ada Luqman di sana. Dan ada kelompok Rohmat yang bersiap menetaskan sebuah wadah baru.

Jenuh dengan hujan yang turun, Adi memandangi kedua kelompok yang berjauhan itu. Adi berinisiatif menyatukan mereka. Dengan percaya diri Adi mendatangi bergantian kedua kelompok itu. Agak dipaksa, akhirnya Adi, Rohmat, dan Luqman bersatu juga dalam satu lingkaran. Hanya mereka bertiga, di tengah ruangan masjid.

“Ana benar-benar masih berharap antum semua kembali ke Rohis. Luqman, andai antum menjelaskan alasan ketidak hadiran antum dalam syuro-syuro penting, dan alasannya syar’i, Insya Allah ana terima. Tapi, ana mohon yang lalu kita lupakan saja dan kita membangun dakwah ini kedepan tanpa menengok masa lalu.”

“Tidak bisa.” Rohmat bersuara agak keras. Bersaing dengan suara tetes hujan yang jatuh ke bumi. “Kecuali antum mengakui noda masa lalu antum dengan teman sekelas antum, dan bersedia mengundurkan diri dari Rohis.”

“Afwan akh, posisi ketua ini adalah amanat Muktamar. Ana tidak bisa begitu saja meninggalkan amanat ini. Apalagi alasannya adalah sesuatu yang dituduhkan pada ana padahal tuduhan itu sangat lemah,” Adi tegas.

“Kalau begitu, memang kita tidak pernah bisa bersatu. Terima saja itu. Kita fastabiqul khoirot saja.” Suara Luqman kali ini.

“Ayo laah… Ana tidak mengerti, antum semua keluar dari Rohis membentuk wadah baru. Dan setelah wadah itu terbentuk, antum pun pecah lagi. Gak capek kita begini terus?”

“Ini masalah prinsip soalnya. Sudah lah, benar kata Luqman. Kita bekerja saja. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan siapa yang benar di antara kita.” Jawab Rohmat.

Adi menarik nafas berat.

“Atau… mungkin kita bisa buat acara bersama? Ayo dong… Rohis dengan Mahasiswa Pecinta Alam saja bisa, masa kita tidak bisa?” Dengan tersenyum Adi mencetuskan idenya.

“Acara apa?” Tanya Luqman.

“Ya.. seperti… mungkin seminar Ekonomi Syariah. Sekalian ada pertunjukan nasyid.” Jawab Adi.

“Nasyid?” Luqman bertanya lagi.

“Iya…”

“Siapa aja grup nasyid yang mengisi acara itu?”

“Ya… bisa Azzam12, Nuansa Warna…”

“Nuansa Warna?”

“Iya…”

“Ah… nasyid tidak semangat itu akh. Nasyid seperti itu malah melenakan. Lebih baik mendengar murottal daripada nasyid seperti itu. Kalau Azzam12, masih bisa diterima.”

“Tapi kan seminar itu untuk umum, akh. Kalau orang umum, nasyid seperti Azzam12 susah diterima.”

“Tidak bisa. Itu melenakan. Justru dipertanyakan nilai syar’i-nya.”

“Ya… ya sudah. Mungkin tanpa nasyid saja kali ya.” Ujar Adi, tidak mau berdebat lebih jauh.

“Acara seminarnya untuk ikhwan dan akhwat?” Kali ini Rohmat bertanya.

“Iya lah… Untuk umum.”

“Wah… Kalau begitu harus ada hijab antara laki-laki dan wanita.”

“Dipisah saja mungkin akh. Orang umum akan kaget dengan hijab itu”

“Tidak bisa. Kalau sekedar dipisah, masih ada kemungkinan lirik-lirikan antara laki-laki dan perempuan. Harus ada kain atau sesuatu untuk menghijab!”

Adi terbengong dan habis akal. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan bergumam, “Yah… mungkin sudah ditakdirkan kita berlomba-lomba dalam kebajikan pada grupnya masing-masing.

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2015 in Puisi dan Cerpen