RSS

Monthly Archives: December 2011

Susahnya Menyeberang Di Lenteng Agung

Tiap pagi, saat berangkat bekerja, ada ritual mendebarkan yang harus saya jalani. Yaitu saya harus menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung. Jalan yang terdiri dari dua jalur yang dipisahkan oleh rel kereta api. Seharusnya tak ada yang istimewa dari menyeberang jalan. Tapi Jalan Raya Lenteng Agung menurut saya punya tantangan tersendiri untuk menaklukannya. Bukan cuma menurut saya, tapi juga masyarakat sekitar.

Rumah saya (masih kontrak) berada di Kelurahan Srengseng Sawah RW 2. Untuk pergi ke kantor, saya harus naik angkutan yang mengarah ke Jakarta. Satu jalur jalan – saya tak hafal lebarnya, tapi bisa muat 4 mobil berjajar – yang arusnya mengarah ke Depok harus saya lewati. Saya menargetkan bisa menyeberang sebelum jam setengah tujuh, karena kalau lewat dari jam tersebut, kendaraan makin ramai. Arus yang mengarah ke Depok memang lengang dibanding jalan yang arusnya mengarah ke Jakarta. Tapi justru karena lengang, orang-orang memacu kendaraannya kencang-kencang. Di sini letak kesulitannya. Karena kalau mau nekad menerobos, berapa sigap supir mobil/motor mengerem kendaraannya saat berkecepatan tinggi?

Tapi yang jelas arus ini lebih mudah dilalui. Selanjutnya, telah menunggu rel kereta api dua arah untuk diseberangi. Sudah sering orang tertabrak kereta api di sekitar situ. Memang kereta jarang-jarang munculnya. Tapi catatan beberapa kecelakaan membuat lintasan ini tetap angker untuk diseberangi.

Kemudian, tantangan berikutnya adalah jalur lain yang lebarnya tidak beda jauh dengan jalan sebelumnya. Kali ini arusnya mengarah ke Jakarta. Saat jam kerja, kendaraannya sangat padat. Ramai lancar. Kalau merayap, masih bisa diseberangi dengan mudah. Tapi kalau ramai lancar, agak horror bagi penyeberang jalan. Kadang cara yang dilakukan adalah nekad menerobos arus dengan memberi isyarat kendaraan dengan tangan agar mau memperlambat atau berhenti.

Cerita kecelakaan saat orang menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung ini sudah sering terdengar. Yang pernah saya dengar – seingat saya – pernah yang menjadi korban adalah nenek-nenek. Orang yang tidak gesit tentu berpotensi besar menjadi korban.

Tantangan ini diperparah dengan motor yang sering melawan arus. Pernah ada yang menjadi korban ketabrak motor yang melawan arus ini. Saat itu, si korban hendak menyeberang. Konsentrasi pada satu arah membuat ia tak sadar ada motor dari arah berlawanan. Saya pun pernah hampir dilanggar oleh motor yang melanggar arus. Saat kondisi memungkinkan untuk menyeberang, saya yang berada di tepi mulai mengayunkan langkah. Dan… hampir saja dicumbu oleh motor yang melawan arus.

Ini cerita di satu tempat. Di sepanjang Jalan Raya Lenteng Agung, menyeberang jalan bukan hal yang mudah. Bahkan dibilang sangat sulit. Hanya di depan stasiun Lenteng Agung saja agak mudah, itu pun karena penyeberang jalan ramai. Orang-orang bergerombol nekad membelah arus. Kalau yang menyeberang cuma satu atau dua orang saja, menyeramkan.

Memang ada jembatan penyeberangan. Tapi sepanjang Jalan itu – dari perbatasan Depok sampai Tanjung Barat – hanya ada 2. Satu di halte UI, satu lagi di stasiun Pancasila. Yang terdekat dari tempat saya biasa menyeberang adalah halte UI. Kalau mau kesana, bisa menghabiskan jalan – kecepatan normal – lima belas menit.

Aspirasi sudah disampaikan kepada yang berwenang. Tapi entah kenapa tidak pernah terwujud adanya jembatan penyeberangan yang memudahkan orang. Di sekitar Stasiun Lenteng Agung selalu menjadi langganan macet. Orang yang menyeberang jalan memberi kontribusi cukup besar dalam kemacetan. Andai ada jembatan penyeberangan, tentu kemacetan bisa dikurangi.

Entah lah… Apa yang dipikirkan oleh pemerintah. Rasanya urusan nyawa bukan hal yang sepele. Apakah mereka tidak pernah berfikir bahwa kasus kecelakaan – termasuk kasus orang tertabrak kereta – kelak akan ditanyakan kepada orang yang memerintah Jakarta saat ini di Hari Kiamat.

Tulisan ini untuk suarajakarta.com

 
21 Comments

Posted by on December 30, 2011 in Orat Oret

 

Makhluk Penuh Cinta

Postingan ini repost dari blog lama saya. Tulisan asli ada di sini. Saya tulis posting ulang di blog baru untuk memperingati hari ibu. Selamat hari ibu buat narablog dan pengunjung blog ini 🙂

*****

Allah Maha Penyayang. Sudah paham kita bahwa kata ‘maha’ pada sifat Allah itu telah menunjukkan bahwa Allah swt tiada tandingannya dalam sifat itu. Tapi tetap saja Rasulullah memperbandingkan sifat kasih sayang Allah dengan sifat kasih sayang makhluk – untuk memberi pemahaman kepada umat bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang yang diperbandingkan. Tentu kasih sayang makhluk yang diperbandingkan itu bukanlah kasih sayang yang sepele. Kalau kita ingin memberi pemahaman pada anak kita yang masih kecil sebesar apa ikan paus itu, tentu kita tidak akan memperbandingkan dengan ikan cupang, tapi kita akan katakan “tahu sebesar apa ikan hiu atau lumba-lumba? Ikan paus jauh lebih besar.”

Umar bin Khatab pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. “Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Muttafaq Alaih)

Perbandingan itu membuat saya memahami bahwa begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan setiap bentuk kasih sayang yang lain, sekaligus membuat saya tersadar begitu besarnya cinta seorang ibu sampai-sampai dijadikan perbandingan untuk cinta yang maha dahsyat milik Allah swt.

Sebuah Berita Memulai Cerita Cinta

Test Pack, Ultrasanografi (USG), atau apa pun medianya telah memulai perjalanan kisah cinta yang agung. Tidak malu-malu air mata menghias di kerling mata seorang calon ibu ketika mendapat berita hadirnya buah hati yang menyatu pada jasadnya. Bukan simbiosis mutalisme, apalagi parasitisme, tapi jalinan hubungan yang dijalani oleh organisme yang memakan makanan induk semangnya pada jasad seorang wanita merupakan simbiosis cintaisme. Simbiosis yang sangat-sangat ditunggu oleh seorang wanita.

Setelah hadirnya kabar itu, seorang wanita akan menemukan cinta di sekelilingnya, di setiap harinya.

Morning Sickness dan Semua Kepayahan

Jasadnya saja yang menderita morning sickness, tapi hatinya along day hapiness. Rasa mual memang mengganggu, tapi tak menjadi beban pikiran. Dan setiap kepayahan yang terasakan, tak mampu mempengaruhi hari-hari bahagia seorang wanita. Ada cinta baru, kebahagiaan, dan rasa syukur kepada Allah swt yang berkekuatan dahsyat mendominasi kesadaran wanita tanpa ada yang bisa mengkudetanya.

Siapa yang bilang kalau cinta itu pasti selalu mudah dan menyenangkan?

Ekspresi yang Tak Rasional

Seorang pria dengan pikiran rasionalnya mempertanyakan kebiasaan seorang wanita mengandung yang rajin mengelus perut dan berbicara pada janinnya. “Sia-sia. Bagaimana mungkin jasad itu mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan?” Wanita itu menjawab, “Ah, tahu apa kamu tentang cinta ini. Apakah kau percaya ada energi hangat yang jatuh dari matahari ke bumi? Kau melihatnya? Kalau kau tak melihatnya tapi percaya, maka lebih masuk akal lagi bahasa cinta ini. Tapi kemampuan rasional mu terbatas, wahai pria…”

Perbincangan wanita pada janinnya itu monolog. Indoktrinasi cinta dari seorang calon ibu pada anaknya.

Dan Wujud Cinta itu pun Terlihat Nyata

Yang mencintai merasakan perih, yang dicintai menangis keras. Ada pertengkaran kah? Justru puncak kebahagiaan baru saja hadir. Rasa geregetan selama sembilan bulan untuk segera melihat buah hati tuntas sudah. Cinta bergemuruh di dada seorang ibu. Kalau selama ini usapan cinta terhalang oleh perut, kini cinta itu bisa ditransfer langsung di dekat jantung seorang ibu. Jantung yang tiap hari denyutnya digerakkan oleh cinta.

Seorang ibu mengerti, bila bayi menangis di tengah malam adalah karena ia rindu mendengar detak jantung si ibu. Selama sembilan bulan sebelumnya si bayi tak pernah alpa sehari pun mendengar denyut jantung si ibu, kini setelah lahir si bayi merasa kehilangan denyut cinta itu. Karenanya, kapan pun ia merasa rindu, si bayi mengeak keras.

Dan waktu terus berjalan, sang anak tumbuh besar. Tapi cerita cinta si ibu tidak pernah berhenti. Ketika seorang anak sudah lama disapih, sudah lupa bunyi detak irama cinta dari ‘alat musik’ jantung seorang ibu, si anak pun mulai tergerus kesadarannya akan cinta seorang ibu. Itu yang membuat seorang anak berani menantang ibunya. Semoga bukan karena tidak mampunya ibu membahasakan cinta pada seorang anak ketika si anak telah tumbuh. Karena bahasa cinta di setiap umur seorang anak itu berbeda-beda. Seorang ibu harus paham bahasa yang tepat untuk setiap usia.

Bahkan setelah remaja, seorang anak mulai memadu cinta ibunya. Tak masalah karena itu fitrah. Tapi saat nama lain mulai masuk ke hati, sering kali nama itu bersikap egois dengan berusaha menyingkirkan nama ibu yang sebelumnya ada di hati seorang anak. Tragis. Semoga bukan karena kedudukan cinta ibu di hati anak yang memang lemah. Seorang anak di dunia ini akan menemukan berbagai cinta, kalau ibu tidak mampu mengokohkan cintanya di hati seorang anak, maka cinta ibu itu rawan dikalahkan oleh cinta lain.

Bakti yang Agung Pada Manusia Penuh Cinta

Cinta. Menjadi alasan yang kuat kalau seorang muslim wajib menaati orang tuanya, terutama ibu. “Penuhilah hak ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i; diriwayatkan juga oleh Bukhari, kita adab; Thabrani; dan Al-Hakim). Kalau Rasulullah mengumpamakan surga berada di bawah telapak kaki ibu, lalu apa yang ada di kening seorang ibu? Cinta di jantung seorang ibu, surga di telapak kakinya.

Seorang hamba merindukan keridhoan Tuhannya. Ia lakukan amal-amal jawarih (amal anggota tubuh) dan nawafil (sunnah). Ia tahan kantuk di sepertiga akhir malam, ia tahan lapar di siang hari, dan bergegas ia ke masjid untuk ihtiromil waqtih (menghormati waktu) sholat wajib. Sudah sampai kah pada ridho Tuhannya? “Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi,Hakim). Kalau ia belum melakukan birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) sehingga orang tuanya ridho, amal-amal itu beserta kesusahannya belum membuat Allah swt ridho.

Keridhoan orang tua… padahal itu mudah. Karena cinta ibu pada anak tertanam kuat di jantungnya. Kesusahan mengandung, melahirkan, dan mengasuh adalah upaya menanam pondasi cinta sampai ke dasar jantung. Apa yang dapat meruntuhkan bangunan kokoh itu? Kedurhakaan!!

“Siapa yang membuat orang tuanya sedih, maka ia telah durhaka kepada keduanya.” (HR Bukhari)

Hamba itu ingin menyempurnakan usahanya. Ia tak mampu terus menerus sholat dan puasa sepanjang waktu. Tapi ada amal ruhbaniah/kependetaan (seperti pada hadits riwayat Ahmad) yang sebanding dengan terus menerus sholat dan puasa selama mengerjakan amal itu. Yaitu jihad. (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah). Hamba itu bersemangat kepada amalan itu. Adakah halangan?

“Aku ingin berangkat perang, dan aku datang untuk meminta nasihat Anda.” Kata seorang pemuda kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi bertanya, “Apakah Anda masih punya ibu?” Jawab pemuda itu, “Ya masih.” Nabi berkata “(Kalau begitu) pergilah, penuhilah kewajiban Anda untuk berbakti kepadanya, sebab surga itu berada di antara kedua kakinya.” (HR Hakim, shahih menurut beliau dan disepakati Adz-Dzahabi).

Ibu… wanita itu adalah manusia penuh cinta. Respon lah cinta itu karena surga dan keridhoan Allah bergantung dari bagaimana kita merespon cinta ibu.

Robirhamhuma kama robbayani sighoro. “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS 17:24)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS 46:15)

 
 

Untuk Istriku Di Hari Ultah Pernikahan Ke-4

Kita pernah menjalani malam-malam di mana kita mengapit selat sunda. Tiap dua pekan sekali, aku harus merobek angin laut malam demi menumpahkan setumpuk kerinduan pada kamu dan buah hati kita. Dua setengah tahun lamanya. Berjuang melawan birokrasi yang ingkar janji, berupaya menjalani hidup seperti pasangan lain: tinggal dalam satu atap. Dan pada akhirnya kita tidak boleh berhenti bersyukur kepada Allah swt karena letih dan sedih itu terbayar. Allah mengizinkan kita hidup serumah di sebuah “kampung” di pinggir Jakarta yang masyarakatnya begitu religius, ramah, dan penuh kekeluargaan layaknya orang-orang betawi.

Empat tahun lamanya, dan lebih beberapa bulan setelah proses ta’aruf kita, dengan sifat cuek aku menyelami kepribadianmu, dan dengan sifat perhatian kau jelajahi karakterku. Kalau kau protes aku cuek, sesungguhnya itu anugrah bagimu karena aku jadi minim mempersoalkan kekuranganmu. Tapi aku bukan orang yang lupa untuk memuji tiap masakan sundamu. Lidah minangku menjadikan setiap makanan yang terhidang dari tanganmu itu terasa aneh… “Rasa cinta”, kataku. Dan kau tersipu saat kubilang itu pertama kali.

Setahun kurang dua bulan setelah kita menikah, Allah menitipkan bayi perempuan pada kita. Aku beri nama Raudhatur Rahmah, Taman Kasih Sayang. Karena begitulah ia, adalah pengejewantahan rasa kasih sayang kita. Sebelumnya aku ingin memberinya nama “Raudhatuna Fi Mahabbatillah”, “Taman Kami Dalam Cinta Ilahi.” Tapi ustadz menertawakan nama itu. Nama kok seperti kalimat. Dan setelah mempertimbangkan beberapa opsi, Raudhatur Rahmah itu lah yang terpilih.

Sesungguhnya tiap anak kita – yang sekarang atau yang akan datang  – adalah Taman Kasih Sayang buatku. Hanya saja karena nama tiap anak harus unique, maka untuk anak kedua terpaksa aku cari nama yang lain. Lagi pula ia lelaki. Aku pilih Urwatul Wutsqo yang artinya ‘ikatan yang kokoh’. Dalam Al-Qur’an, urwatul wutsqo ditujukan pada ikatan kepada tali agama Allah. Ya memang begitu, aku ingin anak kita teguh berpegang pada tali agama Allah. Nama itu doa. Semoga ia menjadi penyelamat kita di akhirat kelak. Amiin

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke empat. Aku mencoba mengingat-ingatnya beberapa hari kemarin. Tapi tetap saja di hari-H aku melupakan hari spesial ini. Kau yang mengingatkan melalui sms tadi pagi. Dan kalau kau tahu, ini adalah ketiga kalinya berturut-turut aku lupa hari ulang tahun pernikahan kita.

Kita tidak pernah tahu apa yang telah digariskan oleh Allah pada kita. Yang kita bisa adalah mempersiapkan penyikapan yang terbaik. Bila yang akan tiba adalah kesenangan, kita sikapi dengan syukur. Bila yang akan tiba adalah kesusahan, kita sikapi dengan sabar. Tapi Allah memberi kesempatan buat kita untuk sedikit intervensi dalam masa depan kita, melalui doa. Maka doaku di hari ulang tahun pernikahan ini adalah kiranya kita tidak terpeleset dari niat kita menikah: Mencari Ridho Allah Swt. Dan satu doa itu aku rasa sudah mencukupi semuanya, karena doa itu punya turunan lain seperti “Semoga kita tidak terlenakan sedikit pun dari upaya membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah”, “Semoga kita tidak lalai dalam mendidik anak kita menjadi bagian dari generasi yang sholeh”, dan “Semoga kita dipersatukan lagi di akhirat kelak.”

Mohon maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat selama ini. Dan untukmu, sudah aku setting sebuah program yang mengotomatisasi pemberian maaf saat kau bersalah. Memang kadang program itu tidak bekerja. Kadang aku marah atau merajuk. Karena program itu berjalan di hati manusia yang punya nafsu, bukan di mesin yang saklek.

Aku sayang kamu karena Allah.

Bintaro, 16 Desember 2011

 
30 Comments

Posted by on December 16, 2011 in Surat Terbuka

 

Testimoni Untuk Sang Manajer

Tulisan ini adalah kenang-kenangan untuk Widianty yang telah bekerja selama 7 Tahun untuk perusahaan Anugrah Argon Medica, dengan posisi terakhir sebagai manager MIS, membawahi beberapa orang staff termasuk saya salah satunya. Per 31 Desember 2011 beliau akan resign. Sedihnya…

*****

Tanggal 9 Desember 2011, saya mendapat undangan meeting (rapat) yang awalnya saya pikir hanyalah sebuah meeting biasa. Rapat divisi MIS (Management Information System), yang berada di bawah departement ITD (Information Technology Department) di perusahaan Anugrah Argon Medica. Divisi MIS dipimpin oleh seorang profesional, wanita karir, bernama Widianty. (Dari awal saya terlanjur memanggilnya “Bu Widi”. Yang lain ada yang memanggil “Mbak Widi”, “Ci Widi”, “Widun” atau “Widi” saja. Cuma saya yang memanggil dengan awalan “Bu”)

Mulai tampak bahwa rapat kali ini tidaklah biasa saat Bu Widi menyuruh para staffnya untuk segera berkumpul ke parkiran mobilnya karena rapat akan diadakan di luar kantor. Saat ditanya mengapa, jawabannya karena tidak ada ruangan yang available di kantor, semua sedang dipakai. Dan akhirnya lima orang staf divisi MIS beserta Manager mengadakan rapat di sebuah rumah makan di bilangan Bintaro sektor 7.

Awalnya, kami membahas Rencana Kerja (RK) tahun 2012 dan 2013. Ditemani cemilan Dimsum dan minuman ringan, kami membahasnya dengan santai tapi serius. Dan setelah pembahasan itu, topik pun beralih. Sebuah kalimat pembuka terlontar dari Bu Widi, “Kalo nggak ada gw MIS masih bisa jalan gak?” Kami terhenyak.

Tak ada gelagat Bu Widi akan resign. Bahkan suasana MIS saat itu sedang kompak-kompaknya dan sedang semangat-semangatnya. Bu Widi akui itu. Ketika tiap orang ditanya apa pendapatnya, kami hanya bisa ‘nyengir’ dengan hati sedih. “Ci Widi itu back up.. eh bukan back up… Selalu ada di depan kita.. apa ya istilahnya…”, ujar seorang staff bernama Rethia. Agak sulit mengumpulkan berbagai redaksi dan kosa kata dalam keadaan kaget. Walau pun beberapa kalimat itu cukup dirangkum dalam satu kata: “Mengayomi”.

Jawaban saya? “Mau gak mau harus siap. Tapi kami akan kehilangan seorang teman diskusi yang enak, pemimpin yang melindungi anak buahnya….” dan seterusnya. Sumpah mati kata-kata itu jujur lho… 😀 Kata-kata itu terpaksa dikeluarkan dari lidah saya yang kelu. Speechless.

Saya menulis testimoni ini pada 15 Desember 2011 sebagai kenang-kenangan untuk bu Widianty. Tim ITD sepakat menulis testimoni untuk beliau. Mungkin yang lain tidak ada yang menulis sepanjang ini. Tapi saya paksakan untuk mengumpulkan berbagai kosa kata dan melecut diri saya agar bisa merangkai kalimat, serta meminggirkan “query-query SQL” pekerjaan saya itu sejenak, dua jenak, atau seribu jenak, demi testimoni ini. Dan kemudian mempostingnya di blog.

Juni 2009, setelah saya menyelamatkan diri dari konsultan yang sedang collapse dan pindah ke sebuah konsultan lain yang menurunkan gaji saya sampai sebesar Rp 500.000, saya mendapat panggilan interview di gedung El-Nusa di daerah Cilandak. Wawancara diadakan pagi-pagi, pukul 08.00. Srengseng Sawah tempat saya tinggal dan Cilandak tidak terlalu jauh sehingga saya tidak masalah dengan waktu wawancara itu.

Setelah mengikuti psikotest, saya dipanggil ke sebuah ruangan untuk proses selanjutnya. Ruangan itu kecil, dan saat saya masuk terasa sekali perbedaan suhu dengan di luarnya. Saat itu saya sampai menggigil. Dingin sekali. Seorang wanita di dalam ruangan itu menanyakan beberapa pertanyaan kepada saya, dan di ujung wawancara ia menyodorkan tiga lembar kertas berisi syntax Sql. Saya diminta menyederhanakan kode-kode komputer itu, atau istilahnya tuning.

Saya tahu itu bahasa PL/SQL punya Oracle. Cuma sayang, tidak begitu banyak pengalaman saya mengarang menggunakan PL/SQL. Dengan badan menggigil yang memecah konsentrasi, saya jawab seadanya. Saya akan menghindarkan subquery, dan.. saya lupa jawaban waktu itu.

Mungkin wanita itu tidak puas dengan jawaban saya karena setelah hari itu tidak ada lagi panggilan proses selanjutnya.

Setahun kemudian, Juni 2010, saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan Tv Kabel dan kontrak saya hampir habis, saya iseng memenuhi panggilan wawancara dari perusahaan PT Anugrah Argon Medica (AAM), sebuah perusahaan anggota Dexa Group. Teman saya telah lebih dahulu diterima di anak perusahaan Dexa Group dan menawarkan saya bekerja di situ karena ada posisi kosong. Saya ambil saja tawaran itu dengan mengirimkan lamaran ke alamat email yang ia tunjukkan, walaupun untuk memperpanjang kontrak di perusahaan Tv Kabel itu saya tak masalah.

Wawancara dilangsungkan di Gedung Titan Center, Bintaro Sektor 7. Psikotest saya jalani, dan kemudian saya dipanggil untuk proses berikutnya. Saya dipertemukan dengan seorang wanita. Pertama kali melihatnya saya seperti pernah mengenalnya. Selama wawancara dengannya, saya mengingat-ingat di mana saya pernah mengenal wanita itu. Dan.. ‘ting…’ saya ingat, setahun lalu wanita ini pernah juga mewawancarai saya. Tapi kenapa sekarang ia ada di Bintaro? Saya berpikir kalau wanita itu resign dari perusahaan yang ada di Cilandak dan pindah ke perusahaan di Bintaro ini.

Tiga lembar kertas berisi query Sql yang panjang itu rupanya disodorkan kembali pada saya. Saya sudah menduganya. Dan karena pengalaman oracle sudah cukup saya miliki, enteng saja saya jawab. Partisi table, membuat index, dan memecah beberapa bagian query itu ke dalam table-table temporary. Kali ini sepertinya wanita itu puas dengan jawaban saya karena hari itu juga proses saya dilanjutkan dengan wawancara dengan kepala department ITD, pak Sugondo Cahyadi Suwindra. (Panggilannya Pak Dado. Beberapa bulan setelah saya diterima di AAM, beliau resign).

Hari itu saya masih menyimpan kesan bahwa saya diwawancarai untuk kedua kali oleh orang yang sama yang telah pindah kerja. Tapi di bus saat pulang, saya baru tersadar… AAM bukanlah perusahaan yang asing di telinga saya. Ia adalah perusahaan yang setahun lalu saya mengirimkan lamaran kesana. Berarti… Kantornya dong yang pindah???

Pada akhirnya saya diterima bekerja di perusahaan distributor farmasi itu. Saya senang sekali gaji saya naik. Lebih tinggi dibanding kalau saya teruskan kontrak saya di perusahaan media. Hehe.. Saya bekerja di bawah pengawasan Widianty, wanita yang dua kali mewawancari saya. Entah dia sadar atau tidak kalau dalam waktu setahun dia dua kali mewawancari saya di lokasi berbeda.

Kesan saya padanya sangat baik. Saya belajar banyak cara memimpin dari beliau. Karakter kepemimpinan beliau:

1. Mengayomi. Anak buahnya merasa terlindungi oleh beliau. Saat berurusan dengan department lain atau tim lain, beliau care dan keberadaan beliau membuat kami memiliki back-up. Karena sering seorang karyawan mengeluh kalau boss nya cuek dan terkesan melepas masalah saat karyawan itu berususan dengan pihak luar. Bu Widi bukan tipe orang seperti ini.

2. Punya kapabilitas dari sisi teknis. Beliau memimpin dengan punya pemahaman yang utuh terhadap teknis pekerjaan. Saya pernah mendengar keluhan seorang karyawan yang merasa boss nya tidak memiliki kapasitas teknis atas pekerjaannya. “Boss gw gak tau apa-apa.” Katanya. Dan Bu Widi alhamdulillah bukan tipe orang seperti ini.

3. Memahami proses bisnis. Beliau sudah 7 tahun bekerja di AAM. Wajar kalau paham proses bisnis perusahaan ini.

4. Pembelajar yang hebat. Pernah terjadi suatu masalah, dan beliau punya inisiatif untuk memecahkan masalah itu dari pada orang yang bertanggung jawab langsung. Bu Widi aktif bertanya kesana-kesini untuk pemecahan masalah itu.

5. Mampu menjaga emosinya. Saya tidak pernah merasa dimarahi oleh Bu Widi. Saya rasa teman-teman di sini juga. Kalau ada kesalahan, beliau fokus pada pemecahan masalah daripada menyalahkan orang.

6. Kadang mampu memposisikan seperti teman, padahal ia pemimpin. Low profile. Itulah mengapa tim MIS bisa kompak. Ia seperti unsur perekat bagi kami.

7. Teman diskusi yang enak. Dia melayani diskusi saya dengan baik dan tak ada sikap otoriter. Apabila usul saya dirasa lebih baik, ia menerima.

Begitulah kesan positif saya pada Bu Widi. Saya cuma bisa mengucapkan selamat jalan (kalau jadi resign :D) dan semoga ia sukses di tempat baru. Orang seperti ia rasanya akan selalu sukses di tempat mana pun ia bekerja. Namun sebelum 31 Desember, kami berharap Bu Widi berubah pikiran dan tetap bersama kami di MIS. 😀

 
61 Comments

Posted by on December 15, 2011 in Orat Oret

 

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Kulihat harta dunia di tangan seseorang
Lahirlah gundah semakin ia berlipat bilangan
Hinalah siapa yang memandang dengan keagungan
Agung lah siapa yang memandang dengan kehinaan
(Suara Persaudaraan)

“Rumput tetangga lebih hijau”. Ungkapan yang berarti bahwa orang lain memiliki kenikmatan atau kebaikan yang lebih dari pada diri kita. Bagaimana sikap kita ketika menghadapi kenyataan tersebut? Dengki, iri, atau ikut senang?

Mudah-mudahan tidak ada penyikapan negatif. Berikut ini kemungkinan dan penyikapan yang tepat saat melihat rumput tetangga lebih hijau…

Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita memandangnya dari jauh.

Jarak sering menipu pandangan. Bulan yang terlihat indah dengan sinarnya yang kuning keemasan di malam hari, sebenarnya bila dilihat lebih dekat, adalah sebuah padang tandus yang berlubang-lubang oleh meteor. Sebuah bukit yang sebenarnya agak gundul, bila dilihat dari jauh tetap saja terlihat biru.
Semuanya jelas bila dilihat lebih dekat. Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia dari kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi kita akan mengkoreksi pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia.

Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena ketamakan dan kurangnya rasa syukur pada diri kita.

Rasulullah pernah bersabda “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (dalam Jami’ ash-Shaghir karya Suyuthi)
Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Introspeksilah, dan semoga kita terhindar dari sifat buruk ini.

Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena mental pecundang yang ada pada diri kita.

Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu under estimate terhadap dirinya.
Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran 139)

Boleh saja rumput tetangga lebih hijau dari kita, Memangnya kenapa?

Sifat cuek hadir pada saat yang tepat dalam urusan seperti ini. Jangan sifat cuek hanya ada pada kritik atas kesalahan kita saja. Atau seperti istilah begini: “gw sih asik asik aja… Selama dia gak nyenggol gw.”

Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena rumputnya dicat oleh pemiliknya.

Kadang kala ada orang yang seleranya melompat dari kemampuannya. Seleranya berada di kebutuhan tersier, sedangkan kemampuannya berada di kebutuhan primer. Dan orang tersebut memaksakan diri meraih apa yang ia selerakan. Sehingga terlihat lah ia parlente, dan mewah. Keadaannya palsu. Hijau rumputnya adalah karena cat, bukan hijau alami.
Jadi, jangan buru-buru takjub lah terhadap orang yang kehidupannya terlihat mewah.

Alhamdulillah, rumput tetangga lebih hijau. Saya ikut senang.

Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari-Muslim) Maka melihat saudaranya seiman memiliki nikmat yang lebih, seharusnya sikap seorang mukmin seperti apa yang telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kaum Anshor, “ …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” (QS 59 : 9)

Rumput tetangga yang lebih hijau memberi motivasi bagi diri saya!!

Maka telah hadir energi positif, alih-alih energi negative berupa kedengkian. Motivasi seperti ini adalah bahan bakar yang baik untuk kehidupan.

Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi dibanding tetangga yang lain, alhamdulillah rumput saya masih lebih hijau…

Dalam urusan akhirat, kita seharusnya melihat ke atas, tetapi dalam urusan dunia, lihat lah ke bawah. Kalau kesyukuran itu hadir karena perbandingan, maka seharusnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.

Biarkan saja rumput tetangga lebih hijau, karena orientasi saya adalah surga dan keridhoan Allah, bukan rumput.

Ya, seharusnya orientasi seorang mukmin adalah surga dan keridhoan Allah. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3 : 14)
Maka seharusnya seorang mukmin sibuk menghijaukan rumput surganya daripada mengurusi hijaunya rumput tetangganya.

Asyik.. rumput tetangga lebih hijau. Bisa buat makan si Shaun, domba kesayangan saya.

Waaa… parah niiih…..

(repost dari http://andaleh.blogsome.com/2008/08/15/rumput-tetangga-lebih-hijau/)

 
 

Materi

Di depan kelas kini sudah berdiri Pak Amrizal yang akan mengajarkan pelajaran kimia. Pak Amrizal itu pun kemudian menuliskan tulisan “Materi” ke papan tulis.

“Baik anak-anak, sekarang kita belajar mengenai materi.” Ujar pak Amrizal setelah mengucapkan salam.

“Seperti telah diulas sedikit pada pertemuan terakhir, bahwa materi adalah sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Sekarang, siapa yang tahu contoh materi ini?”

Karena khawatir terhadap budaya cemooh-nya Indonesia yang begitu kental, maka tak seorang anak pun yang mau menjawab.

“Baiklah kalau tidak ada yang mau menjawab. Bapak akan panggil melalui absen.” Pak Amrizal mengambil absen untuk kemudian menyebut sebuah nama, “Syafrie!”

“Contoh materi itu… mmmm… ya materai, Pak.”

“Materai?”

“Iya, yang kayak prangko itu lho.”

“Oke deh, ananda… Baik, nomor absent 24, Hafidz Alyusra, apa lagi contoh materi?”

“Materazzi Pak!” Jawab Hafidz yang gila bola.

“Apa itu?”

“Pemain belakang Inter Milan, Pak.”

“Oooh, jadi Materazzi itu mewakili manusia. Ya, manusia itu memang materi. Sekarang… Imam Taufik. Apalagi contoh materi?”

“Cewek Matre, Pak.”

“Lho, manusia kan udah disebut. Yang laen dong.”

“Oh ya, duit Pak.”

“Baik-baik. Tampaknya kalian sudah mengerti apa itu materi. Jadi…”

“Pak, kalau materi itu memiliki massa dan menempati ruang, maka ada suatu benda yang sangat cocok dan paling cocok disebut materi.” Interupsi Hamzatil Frengki.

“Apa itu?”

“Kursi, Pak.”

“Oh ya. Kursi memang termasuk materi. Tapi dari mana kamu berkesimpulan bahwa kursi paling cocok dikatakan materi.”

“Karena kursi memiliki massa pak. Coba, orang kalo mau dapet kursi, misalnya untuk pemilihan gubernur, dia kasak-kusuk cari massa. Sampe-sampe Presiden pun dijadiin massa dia. Nggak peduli banyak massa yang nggak suka sama dia.

Apalagi musim kampanye dan pemilu. Banyak yang ribut cari masa supaya dia dapet kursi di MPR atau pun di DPR. Pokoknya, kursi itu memiliki massa deh.

Dan kursi itu juga menempati ruang lho. Baik ruang MPR, ruang DPR plus terdakwa, ruang Gubernur, ruang DPRD, sampe ruangan yang bernama hati. Kalo di ruangan hati itu, jelas banyak orang yang memiliki hati yang ditempati kursi. Nggak peduli itu politikus, tukang becak yang mimpi jadi gubernur, sampe aktifis dakwah sekali pun. Banyak juga yang hatinya ditempati kursi.”

“Mmm… ya, ya… benar kata-kata mu, Nak. Memang kursi itu benar-benar memiliki massa dan menempati ruang. Kursi memang sebuah materi. Menurutmu, bagaimana dengan kursi Allah, apakah materi?”

“Jelas. Kursi Allah kan dalam ayat kursi dikatakan terdiri dari langit dan bumi. Hitung aja sama bapak sendiri berapa massanya langit dan bumi. Juga menempati ruang, yaitu jagad raya ini. Nah, kursi Allah ini sebenarnya lebih besar dari kursi-kursi yang ada. Tetapi nggak ngerti kenapa kok banyak yang nggak nyadar, bahwa ia berada di kursi Allah. Bukannya memuji Allah Yang Memiliki Kursi yang Agung, eh tapi dia rebutan kursi yang cuma berapa harilah jangka waktunya. Seharusnya orang-orang pencari massa dan ingin menempati ruang ini membaca ayat kursi minimal dua kali sehari, pagi dan petang.”

“SubhanaLlah. Bagus sekali paparanmu tentang kursi. Lalu tentang materi, bagaimana menurutmu Frengki?”

“Wah, sebenarnya materi itu udah dijadikan sembahan, Pak. Tanyain aja ke orang-orang, apa tujuan hidup kamu? Paling jawabnya pingin punya rumah gede lah, punya uang banyak lah. Yah, semua itu kan cuma materi. Padahal, ketika manusia sudah pindah ke alam baka’, sudah tidak ada lagi HP yang menempati ruang, laptop, baju, bola, game, semuanya tidak menempati ruang kecuali amal soleh yang berwujud kawan kita kelak. Amal soleh itulah yang menjadi materi ketika kita di alam baqa’. Seharusnya manusia mencari materi berupa amal soleh itu, Pak. Sekali pun di dunia tidak memiliki massa dan menempati ruang, tetapi pahala itu menempati ruang di alam kubur, dan memiliki massa di jembatan timbangan kelak.”

“Ya… ya… ya. Betul kata kamu Frengki. Materi yang sejati adalah amal soleh. Menempati ruang ketika kita di kubur nanti dan memiliki massa ketika kita ditimbang oleh Allah kelak. SubhanaLlah. Baik, kita akan meneruskan pandangan materi ini dari prespektif kimia…”

Ditulis tahun 2002-an

 

Hijrah

Realistis, bukan menyerah. Dakwah untuk semua manusia, bukan cuma untuk masyarakat Mekkah. Bila di sana masyarakat tak mau menerima, sedangkan di tempat lain ada tangan-tangan terbuka menerima dakwah, untuk apa ‘ngotot’ tetap berada di sana? Hijrah adalah sikap yang realistis. Bukan sikap gampang menyerah, juga bukan sikap keras kepala.

Seorang sales tentu tidak akan memaksakan diri menjajakan jualannya pada seseorang yang sudah menolaknya. Ketika ia berpaling dari orang tersebut dan berupaya menggaet pembeli lain, berarti ia sedang menuju pada kesuksesan dan tidak akan pernah diartikan ‘menyerah’.

Justru yang menyerah adalah yang bertahan dalam lingkungan yang zhalim. Padahal bumi ini luas. Kemenangan adalah saat kita mampu menyelamatkan diri dari kezhaliman dengan cara yang elegan.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” (QS 4:97)

Bergerak, bukannya stagnan. Hijrah adalah suatu terobosan menghindari keadaan yang jumud (mandeg). Hijrah adalah manuver yang ter-skema dengan apik. Pendelegasian  seorang pembuka dakwah sebelum hijrah merupakan langkah yang brilian. Bahkan pilihan pada siapa yang akan menjalankan tugas, adalah pilihan yang sangat jitu. Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda tampan yang keluar dari kehidupan borjuis menuju Islam, mampu memainkan peran dengan sukses. Dan Rasulullah pun dengan mulus melanjutkan manuvernya: hijrah ke Madinah.

Hijrah, manuver yang sama yang sudah diusulkan oleh seorang ‘alim kepada pembunuh 100 manusia. Sebelumnya, pembunuh itu berkonsultasi pada seorang Rahib mengenai kemungkinannya bertaubat. Tapi Rahib itu malah memvonis bahwa taubatnya tak kan diterima. Ia bunuh Rahib itu untuk menggenapkan 100 orang korbannya. Selanjutnya ia berkonsultasi pada seorang ‘alim yang penuh ilmu. Orang ‘alim itu menyuruhnya hijrah menuju kampung yang diisi orang-orang baik, meninggalkan kampung yang berisi orang-orang jahat. Itulah manuver elegan menuju kemenangan: Hijrah.

Konsistensi, bukannya tidak setia. Konsistensi harusnya hanyalah pada kebaikan, bukan pada keburukan. Dan untuk para Nabi dan pada da’i (du’at), kesetiaan hanyalah pada dakwah, bukan pada objek dakwah. Sekalipun objek dakwah itu kita cintai. Karena itu, hijrah adalah sikap konsisten untuk berdakwah secara berkesinambungan. Kalau objek dakwah menolak, maka demi menjaga kontinuitas dakwah, beralihlah pada mereka yang siap menerima dakwah. Karena kalau dipaksakan, dakwah tidak akan berkembang dan akan stagnan.

Rasulullah saw sangat mencintai kota Mekkah. Tapi kesetiaan pada dakwah membuatnya untuk patuh pada perintah Allah swt: Hijrah ke Madinah. Dan Rasulullah pun menempatkan sikap konsistennya pada tempat yang tepat.

Cinta tidak menjamin hidayah itu tertransfer mulus. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS 28:56) Kisah Abu Thalib telah membuktikan ayat ini. Karena itu, Ibrahim a.s. bukan lah tidak setia ketika ia meninggalkan bapaknya, Adzar. Ia mencintai bapaknya. Tapi demi dakwah, ia harus hijrah untuk menemukan lingkungan yang siap menerima dakwah. Ia setia pada dakwah.

Hijrah adalah konsistensi, manuver, dan kemenangan. Ketika Nabi Yunus a.s. pergi dalam keadaan marah meninggalkan kaumnya, itu bukan bentuk Hijrah. Karena Hijrah adalah manuver yang penuh perhitungan, bukan berlandaskan emosi. Hijrah adalah konsistensi, bukan berlandaskan ketidak-setiaan untuk terus membimbing umat dengan sabar. Hijrah adalah kemenangan, bukan menyerah kalah padahal Allah belum memerintahkan untuk hijrah. Saat para Nabi hijrah meninggalkan kaumnya, itu karena Allah telah memerintahkan begitu. Biasanya karena akan ada adzab untuk kaum tersebut.

Hijrah meninggalkan kemaksiatan pada kebaikan, adalah sebuah kemenangan, manuver, dan kesetiaan pada kebaikan.

—–

Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari jadikan momentum tahun baru ini untuk bermuhasabah. Dan mari hijrah pada menuju yang lebih baik. Dari dunia yang buruk menuju dunia yang baik. Atau dunia yang sudah baik menuju dunia yang lebih baik lagi. 🙂

17 Desember 2009