RSS

Monthly Archives: March 2020

Ibrah dari Tangis Muadzin yang Pecah

Sang muadzin meneteskan air mata. Suaranya parau bergetar ketika menyisipkan kalimat “shollu fii buyutikum” dalam kumandang adzannya. Tangisnya pecah karena harus melihat pemandangan yang tak biasa. Masjid yang selalu penuh kini lengang.

Itu terjadi di negeri luar. Belum berlaku di Indonesia. Meski MUI telah keluarkan fatwa, tapi tak ada paksaan dari pemerintaah untuk meniadakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam keadaan tersebut, orang-orang akan terbagi menjadi 3 golongan.

Pertama, yang sedih dan merasa kehilangan kesempatan sholat berjamaah seperti biasa. Tiap waktu sholat tiba, mereka akan dirundung rindu untuk bersama dengan umat muslim dalam satu shof yang lurus dan rapat seperti sedia kala.

Orang seperti ini sejatinya tidak akan kehilangan pahala berjamaah sekalipun ia terpaksa lakukan di rumah. Karena ia sudah berniat, dan sudah pula ada buktinya dengan kebiasaan yang dilakukan ketika tak ada uzur/penghalang. Tentu kita paham, Allah memberi pahala seseorang atas niatnya walau pun batal atau gagal terlaksana.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR Bukhori)

Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang hadits tersebut: “Ini adalah bagi orang yang terbiasa melakukan ketaatan dan kemudian ia tercegah, dan niatnya jika tidak ada penghalang ia akan melakukan rutinitasnya.”

Golongan kedua adalah orang yang menyesal karena selama ini menyia-nyiakan kesempatan beramal saat dalam kondisi mudah. Ini adalah orang yang tak rutin berjamaah, atau baru berangkat ke masjid ketika sudah iqomah. Ia paham harusnya bisa optimal lagi beramal. Namun rasa malas membuat kualitas ibadahnya pas-pasan.

“Manfaatkanlah masa aman sebelum masa krisis”. Ya, kalimat itu tidak pernah disabdakan Rasulullah saw. Yang ada dalam hadits adalah redaksi berikut: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim)

Namun memanfaatkan masa aman sebelum masa krisis itu sejalan dengan hadits di atas, yang intinya adalah mengoptimalkan setiap kesempatan sebelum hilang.

Golongan orang kedua mungkin tak seperti yang pertama yang menikmati “privilage” pahala yang tetap mengalir karena kebiasaan dan niat. Makanya rasa sesal itu hadir.

Di beberapa daerah, ada yang belum begitu darurat sehingga masih bisa menyelenggarakan sholat berjamaah dengan normal. Maka, bila Anda berada di daerah itu, optimalkanlah amal Anda. Rutinkan ke masjid, dan melangkahlah sebelum iqomat.

Dan bagi yang tinggal di daerah yang dianjurkan untuk beribadah di rumah, masih banyak amal yang bisa dikerjakan. Maka bacalah Al Qur’an sebelum mata Anda tak mampu lagi melihat rangkaian huruf hijaiyah. Kerjakan sholat sunnah selagi akal dan kesadaran masih berfungsi.

Rajin-rajinlah menghubungi orang tua sebelum susah atau tak mungkin mendengar suara mereka lagi. Sayangi anggota keluarga sebelum mereka tak bisa merasakan kasih sayang Anda.

Dan banyak lagi.

Bersyukurlah bila masih ada rasa penyesalan ketika sebuah kesempatan hilang. Karena jangan sampai seperti golongan ketiga.

Yaitu yang cuek, atau bahkan senang dengan kosongnya masjid. Na’udzubillahi min dzalik.