RSS

Monthly Archives: July 2017

Mereka yang Berjasa Tapi “Berbahaya”

Terapi Kanker Dr Wasito

Bagaimana kabarnya Dr. Warsito sekarang? Nama lengkapnya, Dr. Warsito Purwo Taruno, M.Eng. Ia anak bangsa penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker. Tak sedikit penderita sakit yang mengerikan ini membaik kondisinya setelah diterapi oleh alat yang diciptakan sang ilmuwan.

Tetapi jasa baiknya tak bisa dinikmati lama oleh rakyat Indonesia. Meski masih banyak masyarakat yang mengantri ingin berikhtiar dengan alat tersebut. Sejak Desember 2015, Klinik Edwar Technology tidak menerima pasien baru untuk ditangani, namun pasien lama diperbolehkan untuk berkonsultasi.

Kementerian Kesehatan, melalui surat yang ditujukan kepada wali kota Tangerang, ditandatangani Sekretaris jendral Kementrian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, menyebutkan bahwa PT Edwar telah melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tahapan proses penelitian yang sudah ditetapkan badan penelitian dan pengembangan Kemenkes. Klinik riset kanker yang dikelola Warsito tidak masuk dalam jenis klinik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia hanya mengenal dua jenis klinik yaitu klinik pratama dan klinik utama.

“Istilah penggunaan ‘Klinik Riset Kanker’ tidak dikenal dalam peraturan tentang klinik dan untuk penggunaan kata klinik harus sesuai standar yang ada dan memiliki izin operasional yang berlaku,” bunyi surat itu. Dan klinik itu pun kabarnya telah ditutup hingga kini.

Bagaimana dengan sang ilmuwan? Kabar terakhir yang saya terima tentang peraih BJ Habibie Technology Awards dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut akan mengembangkan teknologinya di luar negeri.

Penemuan Dr. Warsito ini sejatinya telah menolong banyak orang. Tetapi sekaligus membahayakan bisnis pihak lain. Terutama rumah sakit yang berbisnis dengan jasa pengobatan kanker. Pada akhirnya, Dr Warsito pun terjegal.

Mobil Listrik

Gas buang apa yang dikeluarkan oleh mobil listrik? Seharusnya tidak ada. Emisi gas buang hanya ada pada mobil yang menggunakan bahan bakar minyak atau gas. Tetapi untuk bahan bakar listrik, tak akan ada gas buang yang berbahaya bagi lingkungan. Namun kenyataannya, mobil listrik milik proyek Dahlan Iskan yang diberi nama Selo ini dinyatakan tidak lulus uji emisi.

“Mobil itu tidak lulus uji emisi, terlebih lagi hasil test drive mobil ini bahaya kalau digunakan di jalan umum”, ujar Sarjono Turin, Kepala Sub Direktorat Penyelidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung.

Pernyataan itu dikeluarkan di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi. Dalam perkara ini, vonis hukuman dijatuhkan kepada Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama Dasep Ahmadi, rekanan pembuat mobil listrik, 14 Maret 2016 lalu.

Sejatinya penemuan mobil listrik ini berjasa bagi pengembangan teknologi di Indonesia. Bahkan akan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Tetapi penemuan ini juga berbahaya bagi kelangsungan bisnis produsen-produsen mobil yang sudah besar. Pada akhirnya, proyek ini tersandung kasus korupsi.

Beras Maknyus

Yang terbaru dan sedang heboh adalah kasus Beras Maknyus. Pada Kamis malam lalu, 20 Juli 2017, Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang tediri dari Mabes Polri, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di daerah Bekasi yang memproduksi beras bermerk “Maknyus”.

Diungkap aparat, pelanggaran yang dilakukan oleh PT IBU adalah membeli gabah dari petani jauh melampaui harga normal yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, disinyalir beras ini mengandung mutu dan komposisi yang tidak sesuai sebagai beras premium. Usaha PT IBU ini membahayakan bagi penguasaha beras lainnya.

Belakangan kasus ini disangkut pautkan juga dengan komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) (Induk PT IBU), bapak Anton Apriantono, mantan Menteri Pertanian zaman presiden SBY dan merupakan politisi PKS.

Dari pembicaraan di dunia maya, diketahui bahwa sesungguhnya PT IBU ini berjasa kepada petani karena telah memberi gabah dengan harga yang di atas HET. Tetapi sekaligus berbahaya bagi pebisnis lain. Pada akhirnya Beras Maknyus pun terjaring kasus.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2017 in Artikel Umum

 

Kita Beriman Sekaligus Kafir Bersamaan

(Catatan, kata kafir/beriman di artikel ini menggunakan istilah secara bahasa. Bukan terminologi dari aqidah yang sudah baku. Keterangan ada di akhir artikel)

Kalau ada teman non muslim yang bertanya kepada saya apakah dia kafir, rasanya saya tidak perlu mencari kalimat buat ngeles, takut membuatnya tersinggung, hingga akhirnya jawaban saya kurang lugas, kurang tegas, dan bisa disalah artikan. Simpel saja, saya akan sampaikan bahwa setiap manusia adalah orang yang beriman sekaligus juga orang kafir dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana bisa begitu? Begini…

Bila Anda pro terhadap sesuatu hal, maka otomatis Anda akan kontra dengan penolakan terhadap hal tersebut.

Misalnya, kalau Anda pro dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tentu Anda kontra dengan keinginan agar TDL tetap. Saya pro dengan pendapat bahwa bumi itu bulat, maka saya otomatis kontra dengan anggapan bumi itu datar. Dalam pilkada, kalau Anda pro dengan satu calon, maka Anda akan kontra dengan calon lain. Bukan begitu?

Maka kalau Anda pro dengan kepercayaan bahwa Allah swt itu adalah Tuhan yang satu yang tiada tuhan selain-Nya, tentu Anda akan kontra dengan kepercayaan kepada tuhan selain Allah swt. Sehingga Anda disebut beriman kepada Allah swt, sekaligus kafir kepada sembahan selain Allah swt.

Allah swt mengistilahkan kondisi ini sebagai punya pegangan yang kuat, atau punya dasar yang kokoh.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Begitu lah kondisi seorang muslim. Ia adalah orang kafir, karena ingkar kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah swt), dan ia juga adalah orang yang beriman, karena percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Nah, saya akan kembalikan pertanyaan itu kepada teman saya, di mana posisi Anda? Apa yang Anda imani sebagai Tuhan yang Anda sembah? Kalau ia menyebut nama lain selain Allah swt, maka jelas ia adalah orang beriman menurut teologi agama yang dianutnya, sekaligus orang kafir dalam pandangan agama di luar yang ia anut.

Maka anggapan kafir harusnya bisa ditanggapi dengan santai. Kalau saya kafir, toh Anda juga kafir, dan kita semua kafir dengan apa yang kita ingkari. Dan dalam bersamaan, saya sebenarnya beriman, Anda beriman, dan semua orang beriman menurut apa yang dipercayainya.

Bisa damai gak kalau gitu?

————

Makna Kafir Secara Bahasa

  1. Secara bahasa bermakna menutupi, sitar (penutup)
  2. Kafir juga bermakna ingkar (جحد ) menurut Abu Ubaid, Gharibul Hadits,3/13
  3. Menurut Al Azhari seseorang dinamakan kafir karena hatinya tertutup
  4. Kafir juga digunakan untuk istilah sarung senjata sehingga tertutup dari luar
  5. Kafir juga nama lain dari petani yang pekerjaannya menutupi biji-bijian sehabis ditanam agar aman dari hewan dan agar bisa tumbuh.

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ [الحديد:20

Seperti hujan yang turun yang tanamannya  membuat petani  kagum.. (Al Hadid:20)

Makna Kafir secara Istilah

  1. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kata ‘kafir’ memiliki makna,” Tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, menolak risalah Islam, ragu-ragu terhadap Islam, mendustakan Islam, dan orang yang mengatakan kafir dgn lisan, sengaja dan tanpa paksaan, tanpa ada keperluan dan dilakukan dengan sadar, maka ia sudah keluar dari Islam. ( Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 12/335)
  2. Ishaq bin Rahawaih mengatakan,”seorang mukmin yang benar kepada Allah, namun kemudian ia membunuh Nabi, atau memberikan dukungan untuk membunuh nabi, maka ia telah kafir.
  3. Barangsiapa yang mencela Allah dan Rasul-Nya, ia telah kafir, ( Ash Sharim Al Maslul,3/955)
  4. Barangsiapa yang beriman kepada Rasulnya secara lahiriyah , namun ia ingkar secara bathin, maka ia telah kafir (Majmu’ Fatawa, 7/556)
  5. Ibnu Hazm mendefinisikan Kafir sifat INGKAR terhadap Allah, beriman sebagian, dengan hati saja atau dengan lisan saja tanpa hati
  6. Menurut Ar Raghib al Ashfahani, Makna kafir adalah orang yang ingkar kepada ke-Esaan Allah, Kenabian para Nabi, dan Syariah (hukum Allah) –AL Mufradat, 715