RSS

Monthly Archives: June 2014

Kalau Kau Tulang Rusukku

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

untuk istriku

Kalau kau tulang rusukku,
pastikan saja dirimu tak kan jauh dari ku

Sekalipun setetes hujan pecah di tengah kita,
dan angin menyekat dengan dingin,
tapi itu untuk sementara

Pada gerak bandul yang teratur,
kita di dua sisinya.
Sekalipun tempat kita terpisah,
dan waktu ikut memisah,
tapi kita kesatuan.

Kalau kau tulang rusukku,
tak kan mungkin terlepas dari badanku.

Maka peluk saja aku pasrah.
Sadar atau tidak kau,
bahwa takdir ini begitu membahagiakan.
Napasku harus menjadi napasmu, dan sebaliknya.
Karena begitulah dalam satu pelukan.

Kalau kau tulang rusukku,
maka jangan berontak atas getir di sekitar.
Karena jauhmu hanya kan sesaat.
Pada satu titik,
akan memelantingkanmu pada ku lagi.
Kau terikat dengan karet di badanku.

kalau kau tulang rusukku,
maka pengorbanan mati-matianku teramat sangat wajar.
Cinta ini mengalir tanpa sadar.
Sekalipun kau tutup matamu,
kau tetap melihat ia berpendar.

Maka jangan terlalu jauh dariku.
Kalau sekedar pembuktian,
maka kelak kau akan puas dengan jawaban.
Tapi setiap detik yang mengisi
kekosongan ruang di antara kita,
kita akan kehilangan banyak hal.
Karena kebersamaan di kesempatan yang sebentar ini,
begitu berharga di setiap penggalan saat terkecil.

Kalau kau tulang rusukku.
Aku sangat mencintaimu.

15 Mei 2008

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 23, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Sabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya

Dalam surat Al-Baqarah, Allah dua kali menggandengkan kata ”sabar” dengan keyakinan akan kembalinya kita kepada Allah SWT. Yang pertama ada pada ayat ke 45 & 46.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS 2: 45-46).

Dan yang berikutnya ada pada ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS 2 : 155-156). Arti Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un itu seperti yang sudah kita ketahui bersama: ”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat itu dinamakan kalimat istirja’ yang disunatkan dibaca ketika mendapat musibah.

Kalimat tersebut tentu saja bukanlah sebuah mantra yang dibaca tanpa makna. Tapi kalimat itu sendiri adalah kalimat mendalam yang memberikan kesejukan, hiburan, kekuatan, dan sugesti ketika musibah datang. Sugesti itu tidak akan datang sendirinya tanpa kita memahami dan menghayati maknanya.

Kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya memang merupakan sebuah penyejuk. Dalam surat Az-Zumar ayat 10 Allah berfirman, ”… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Janji Allah tentang pahala tanpa batas ini tidak akan terealisasi kecuali setelah kita kembali pada-Nya. Selama kita masih di dunia, kematian menjadi batas bagi pahala yang kita dapat. Tapi setelah kita kembali pada-Nya, dalam kehidupan surga yang abadi (QS 98 ayat: 8), itulah saat yang mungkin pahala tanpa batas terealisasi.

Dan ingat juga tentang apa yang telah Allah janjikan bagi orang yang sabar, ”Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl : 96)

Kita akan kembali pada Allah yang kekal, meninggalkan segala sesuatu yang akan lenyap. Karena itu, kenapa kita bersedih atas apa yang akan binasa? Kenapa kita tidak mengharapkan pahala yang kekal dan yang lebih baik dari yang kita kerjakan?

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

*****

Perhatikan surat Al-Baqarah ayat 153-157.

153 : ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

154 : ” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

155 : ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Pada surat 154, cerita tentang orang yang gugur di jalan Allah menyelingi dua ayat yang berbicara tentang kesabaran. Ayat yang menyelingi itu bertutur tentang hidupnya orang yang telah gugur di jalan Allah, telah kembali pada-Nya, meskipun kita tidak menyadarinya. Mereka tetap hidup dengan berbagai kenikmatan yang Allah berikan.

Tentu saja ayat ini tidak sekedar menyelingi dari dua ayat yang berbicara tentang kesabaran, tapi ayat ini sangat relevan dan memiliki hubungan, juga dengan ayat 156 (telah dikutip di atas). Ayat ini bercerita bagaimana tentang keadaan orang-orang yang sabar yang telah kembali pada Allah. Karena tidak mungkin kita bisa hidup di jalan Allah hingga kemudian gugur di jalan-Nya tanpa ada kesabaran dalam mengarungi jalan Allah SWT.

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

*****

Karena kita akan kembali pada Allah, maka tidak ada alasan untuk tidak bersabar kalau memang surga pilihan kita.

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS 3 : 142).

Dan agar kita kembali pada Allah dengan bersih tanpa dosa, maka bersabarlah.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah bersabda, ”Orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya, anaknya maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah Ta’ala tanpa membawa dosa.” (HR At-Tirmidzi, lihat Riyadush Sholihin bab Sabar).

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

Allahu’alam bish-showab.

18 Juni 2008

 

Bersyukur Sebagai Upaya Pengenalan Potensi Diri

Bersyukur adalah salah satu ciri keistimewaaan seorang mukmin. Rasulullah saw pernah bersabda, “Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim) Bersama kesabaran, rasa bersyukur merupakan attribute yang melekat pada kepribadian seorang mukmin yang menjadikannya istimewa.

Salah satu manfaat yang didatangkan oleh rasa syukur adalah, dengan rasa syukur seseorang mampu dengan tepat mengukur potensi dirinya. Tidak overestimate, dan juga tidak underestimate. Sebab, apabila seseorang tidak bersyukur, maka ada dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin dia akan sombong. Atau kalau tidak sombong, maka dia merasa inferior. Kedua-duanya buruk dan merugikan diri sendiri.

Kesombongan membuat seseorang terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Rasa seperti ini memiliki resiko yang sangat besar, yaitu dirinya akan merasa selalu gagal karena target-target kehidupan yang dipasangnya terlalu tinggi. Hal ini yang mengundang perasaan tidak merasa cukup (tidak qona’ah). Misalnya seseorang yang sombong itu adalah seorang mahasiswa, ia akan mematok target indeks prestasi (IP) yang muluk-muluk tingginya. Bukan karena hasil pengukuran diri atau hasil percaya diri yang pas, tapi karena rasa percaya diri yang berlebihan dan kesombongan. Kalau mahasiswa itu tidak mencapai targetnya, bisa mengundang rasa putus asa yang berbahaya.

Watak sombong ini juga membuat seorang sering mengeluh atas nikmat yang ia dapat. Ini karena ia merasa berhak mendapatkan lebih dari yang ia terima. Seorang karyawan yang overestimate atas dirinya sering mengeluh atas gajinya dan selalu merasa tidak cukup. Seorang pejabat yang sombong akan sering complain terhadap pelayanan orang lain kepada dirinya. Rasa sombong membuat seseorang menuntut lebih, menginginkan apa yang ia terima sesuai dengan standar pengukuran dirinya, dimana dirinya telah berlebihan dalam mengukur diri sendiri (overestimate).

Sebaliknya, inferior atau rasa rendah diri membuat seseorang meremehkan dirinya sendiri. Resikonya, pencapaiannya akan selalu rendah dalam hidup. Ia terlempar dalam persaingan hidup.

Rasa rendah diri membuat seseorang memasang target yang terlalu rendah. Seorang mahasiswa yang rendah diri, akan merasa cukup dengan Indeks Prestasi (IP) di bawah 3. Bukan karena hasil pengukuran dirinya yang pas, tapi karena underestimate dalam mengukur diri sendiri. Inferior menyebabkan seseorang hidup dalam motivasi yang redup dan minim prestasi.

Rasa syukur mengantarkan seseorang mengenali dirinya. Seorang yang bersyukur mengerti bahwa Tuhan memberikan banyak potensi yang bisa ia gali. Setiap objek yang ia syukuri mengantarkannya pada pengenalan potensi yang ia miliki. Dan dengan pengenalan potensi ini, ia bisa meraih pencapaian berikutnya. Allah swt sendiri tak segan untuk menambahkan nikmat bagi orang yang bersyukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS Ibrahim : 7)

Pengenalan potensi ini sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt dalam surat Adh-Dhuha ayat 11, Allah memerintahkan manusia menyebut-nyebut nikmat pemberian-Nya dalam rangka bersyukur. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” Mengingat nikmat Tuhan jauh lebih baik daripada mengeluh atas apa yang gagal diraih. Dengan menyebut nikmat Tuhan, maka timbul kesadaran akan potensi yang dimiliki. Dan kita bisa fokus untuk memanfaatkannya.

Rasulullah juga mengajarkan wirid pagi untuk mengingat-ingat nikmat Tuhan. Seperti: “Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin wa ‘afiyatin wa sitrin; fa’atimma ni’mataka ‘alayya wa ‘afiyataka wa sitraka fi’d-dunya wa’l-akhiroh” (Ya Allah sesungguhnya aku berpagi hari dalam nikmat, kesehatan, dan perlindungan dari Mu. Maka sempurnakanlah nikmat, kesehatan dan perlindungan-Mu padaku di dunia dan akhirat).

Pengenalan potensi ini memudahkan seseorang memasang target yang pas dalam hidupnya. Tidak muluk-muluk, dan tidak juga terlalu rendah. Selain itu rasa syukur membantu seseorang untuk siap menghadapi kegagalan, dan siap juga meraih kesuksesan. Karena orang yang bersyukur mengembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan. Ia tahu bahwa setiap kenikmatan yang ia dapatkan berasal dari Tuhan. Begitu juga dengan kegagalan. Semua itu telah ditulis di Lauhul Mahfuzh.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Al-Hadiid: 22-23)

Tidak ada ratap, dan tak ada pula euforia. Tidak ada iri, dan tidak ada pula merendahkan orang lain. Seorang yang bersyukur fokus pada potensi diri, dan memandang Sang Maha Pemberi.

Pada akhirnya, kehidupan yang sehatlah yang diraih akibat bersyukur. Itulah kondisi istimewa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Ya Allah, ajarkan aku untuk senantiasa beryukur atas semua nikmat yang telah Kau anugerahkan padaku. Ya Allah, ampuni ketidak-sempurnaanku mensyukuri nikmat-nikmat Mu. Dan sempurnakanlah nikmat-Mu padaku di dunia & akhirat. Amiin

 

Ternyata Mereka Serius Dalam Perang Ideology

*sebelumnya, dimuat di blog saya yang lain di http://andaleh.blogdetik.com/2013/08/01/ternyata-mereka-serius-dalam-perang-ideology/

Ada yang masih ingat ucapan Rieke Dyah Pitaloka pada pers conference di kantor PDI Perjuangan, Jumat 1 Maret 2013 lalu? “Pilkada Jabar bukan hanya menang kalah karena ini pertarungan ideologis,” ujarnya. Kata-kata itu diucapkan setelah beberapa lembaga survey mengumumkan hasil quick count Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 yang memenangkan pasangan nomor urut 4, yaitu Ahmad Heryawan dan Dedy Mizwar yang diusung oleh Partai Islam PKS.

Pernyataan ini cukup mengejutkan. Karena tidak terpikirkan oleh publik bahwa ajang pilkada Jawa Barat kemarin adalah pertarungan ideologi. Yang mereka tahu, antara para kandidat sedang terjadi adu unggul program. Saat musim kampanye, kata-kata ideologi itu tidak disinggung. Yang ada hanyalah kata-kata lanjutkan, jabar baru, jabar bersih, atau slogan-slogan lain.

Kejutan dari kata-kata Rieke Dyah Pitaloka ini mengingatkan pada kejutan yang dibikin oleh George Bush saat merespon serangan 9/11, di mana dia mengatakan: “This crusade, this war on terrorism, is going to take a long time.” Seluruh dunia terkejut saat ia menyinggung perang salib. Karena saat itu publik hanya berfikir serangan 9/11 itu hanya melibatkan AS dan Al-Qaida. Bukan keterlibatan umat Islam melawan umat Nasrani secara umum sebagaimana perang salib dulu.

Ideologi apa lawan apa?

Sekarang, publik bertanya-tanya, ideologi mana saja yang terlibat pertempuran pada pilkada Jawa Barat, kalau Rieke mengklaim begitu?

Pasangan Rieke Dyah Pitaloka Teten Masduki, atau yang sering disebut dengan pasangan Paten, diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dalam laman resminya, dinyatakan bahwa PDIP adalah Partai Ideologis berasaskan Pancasila 1 Juni 1945. Namun publik sudah mafhum bahwa ideologi PDIP adalah sekuler. Pada tataran real, PDIP merupakan partai penolak UU Pornografi dan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Kedua undang-undang tadi adalah contoh arena pertempuran pemikiran sekuler melawan kalangan Islamis.

Ideologi mana yang dilawannya pada pilkada Jawa Barat kemarin? Pasangan Ahmad Heryawan dan Dedy Mizwar diusung oleh PKS, Hanura, dan beberapa partai lain. Sosok Ahmad Heryawan dikader oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedangkan Dedy Mizwar mengaku non partai. Dan masyarakat sudah mengerti bahwa PKS berazaskan Islam. Kemenangan pasangan inilah yang memicu Rieke menyinggung pertempuran ideologi.

Jadi tampaknya sudah jelas ideologi mana yang dilawan oleh Rieke, yaitu ideologi Islam.

Beralih dari kata-kata Rieke, baru-baru ini rekan separtainya, Zuhairi Misrawi melontarkan pernyataan yang tak kalah menghebohkan jagad twitter. Setelah nyinyir kepada demonstran dari Ikhwanul Muslimin di Mesir yang Zuhairi sebut sebagai kalangan islamis, Zuhairi menulis status, “kaum Islamis di negeri ini patut bersyukur, karena kita tidak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka dibunuh dan dinistakan #BhinekaTunggalIka.”

Zuhairi memakai kata kita untuk menjelaskan posisinya sebagai musuh kalangan Islamis. Yaitu kalangan liberalis sekuler, seperti yang dihadapi oleh kalangan pro Mursi sekarang.

Dari perkataan Zuhairi Misrawi ini, nampaknya pertempuran ideologi di negeri ini tidak main-main. Karena sampai ada yang beranggapan bahwa merupakan hal yang wajar bila pengusung ideologi Islam atau kalangan Islamis itu dibantai dan dihinakan seperti di Mesir; dan merupakan kebaikan kaum liberalis sekuler-lah bila kalangan Islamis di Nusantara ini masih hidup. Sampai sebegitunya.

Untuk diketahui, Zuhairi Misrawi adalah salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL). Jadi meski beberapa politisi PDIP terlihat memusuhi ekonomi liberal, namun di tengah mereka juga ada kalangan liberalis. Meski liberalnya dalam agama. (Selain Zuhairi Misrawi, sosok liberalisme & pluralisme agama juga ada di sayap keagamaan PDIP Baitul Muslimin seperti Hamka Haq, dkk).

Tak berapa lama kemudian, rekan Zuhairi Misrawi di JIL namun berbeda partai politik, yaitu Ulil Abshar Abdalla (dari Partai Demokrat) turut memberi pernyataan dalam status twitternya yang menyiratkan betapa seriusnya permusuhan kepada kalangan Islamis.

“Pelajaran dari Mesir: Jika kekuatan Islamis terlalu kuat di sebuah negara, politik akan cenderung sektarian, masyarakat terpolarisasi. Keadaan seperti itu biasanya akan mudah mengundang militer melakukan intervensi politik. Mesir adalah contoh terakhir. Alhamdulillah, di Indonesia kekuatan Islamis tak terlalu besar. Jika membesar, kita akan menghadapi masalah seperti Mesir,” tulisnya.

“Yang saya anjurkan adalah kritik, bukan menghalangi hak kaum Islamis untuk berpolitik. Hak itu ada pada mereka dan dilindungi konstitusi. Di semua sistem demokrasi, kaum Islamis punya hak untuk berpolitik, berpartai. Tak boleh dihalang-halangi. Tapi hak masyarakat untuk melakukan kritik atas ideologi Islamisme supaya pengaruhnya tak meluas. Dg kritik yang keras dan terus-menerus, kaum Islamis kita harapkan sadar dan merevisi ideologi mereka seperti di Turki.”

Dari pernyataan itu, sudah terasa sekali penentangan kepada ideologi Islam. Tapi lucunya, masih tidak jelas apa yang dimaksud kaum Islamis oleh Ulil Abshar Abdalla, karena di kicauan berikutnya ia menolak aktivis Muhammadiyah dan NU dikategorikan sebagai kalangan Islamis. Terkesan memaksa, ia mengkategorikan kalangan Islamis adalah muslim yang mengusung ideologi Islam dalam politik praktis.

Politik Aliran Di Indonesia Sudah Pudar?

Padahal banyak pengamat dan praktisi politik berkata bahwa polarisasi politik aliran di Indonesia sudah ketinggalan zaman. Saat ini, partai yang mengaku nasionalis seperti PDIP misalnya, memiliki sayap keagamaan. Ada Baitul Muslimin di PDIP. Gerindra punya Kristen Indonesia Raya (KIRA). Partai Demokrat juga memiliki majlis talim.

Partai-partai Islam pun sekarang tidak lagi seperti zaman orde lama ketika asas Islam dan identitas negara Islam diperjuangkan dengan ngotot, saat piagam Jakarta menjadi target antara bagi partai-partai Islam orde lama.

Kini yang menjadi jargon partai Islam dalam kampanye hampir sama dengan partai-partai nasionalis sekuler lainnya, yaitu berkisar tentang kesejahteraan, anti korupsi, perubahan, dll. Hanya memang, jalan menuju kesana tentu berbeda.

Pemilih pun tidak lagi mempertimbangkan aliran agama dalam menentukan partai yang akan dicoblosnya. Tapi kinerja partai lah yang menentukan. Seperti itu kira-kira kesan yang ditangkap dalam hasil-hasil survey oleh beberapa lembaga survey.

Tapi melihat pernyataan beberapa pihak di atas, tampaknya pertarungan ideologi masih kental. Meski pada permukaan sudah tak terlihat adanya pertarungan itu, meski dalam kampanye partai atau pilkada rata-rata jualan partai sama, namun sejatinya pertentangan itu terasa.

Sama-sama menjanjikan kesejahteraan, namun partai Islam tentu saja akan menempuhnya dengan tidak melegalisasi usaha kemaksiatan; sementara partai sekuler memperbolehkan bahkan mendorong usaha maksiat semisal arena judi, peredaran minuman keras, atau pelacuran.

Kelompok sekuler liberal tentu tak mengenal batasan-batasan yang ketat seperti yang ada dalam Islam, sementara partai Islam akan memperjuangkan agar aturan pemerintahan comply dengan ajaran Islam. Aturan-aturan ketat ini yang membuat kalangan sekuler liberal resisten terhadap kelompok Islamis.

Terakhir, ucapan Muhammad Natsir yang populer belakangan ini tentu relevan dengan pertarungan ideologi ini. “Islam beribadah itu akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya.”

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/394375-rieke-tak-terima-hasil-pilkada-jabar–gugat-ke-mk

http://www.islamedia.web.id/2013/07/sekjen-miumi-doakan-zuhairi-misrawi.html

http://news.fimadani.com/read/2013/07/30/ulil-abshar-islamis-boleh-berpolitik-tapi-tidak-boleh-membesar/

1 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2014 in Artikel Umum

 

Akhlak Sebagai Benteng Keutuhan Rumah Tangga

Bagaimana cara menjadi muslim yang terbaik? Mungkin orang akan menyuguhkan kriteria ubudiyah yang tinggi: Sholat malam tak pernah putus, puasa senin kamis tak pernah tertinggal, minimal sekali dalam sebulan harus khatam Al-Qur’an, dsb. Tapi kenyataannya Rasulullah tidak selalu mengajukan kriteria seperti itu. Kadang Rasulullah mengajukan kriteria: “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR Muslim) Dan pernah juga Rasulullah menyebut kriteria lain: “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya”. (HR Tirmidzi)

Ternyata bagi seorang suami, media untuk menjadi muslim yang terbaik itu sangat dekat: pada “tulang rusuknya”. Keberhasilan menjadi muslim yang terbaik berbanding lurus dengan akhlak kepada istri. Semakin baik akhlak seorang suami kepada istri, semakin baik ia di mata Allah swt.

Hikmah kriteria ini adalah akan terbentuknya keluarga yang utuh dan harmonis dalam naungan ridho Allah swt. Ketika seorang suami berusaha menjadi yang terbaik dengan cara menyempurnakan akhlaknya kepada istri, diharapkan akan ada respon yang baik dari istri yaitu pelayanan yang sempurna kepada suami. Dan ini akan menambah rasa kasih sayang di antara mereka. Anak-anak pun akan mendapat ketauladanan yang indah dari akhlak ayahnya. Di samping itu, hubungan orang tua yang mesra sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang besar dalam keluarga yang utuh jelas punya peluang untuk mendapat didikan yang lebih baik daripada anak yang besar dalam keluarga yang broken home.

Kalau mau ditarik lebih jauh hikmah dari kriteria ini, akan berdampak pada masyarakat, negara, dan dunia. Karena kumpulan keluarga yang muslim akan membentuk masyarakat yang damai. Masyarakat yang damai akan membentuk negara yang sejahtera. Dan seterusnya. Semua itu berpangkal pada akhlak seorang suami sebagai pribadi muslim. Itulah hikmah kriteria “akhlak kepada istri”, dampaknya bisa luar biasa.

*****

Bagaimana menjaga keutuhan keluarga? Biasanya akan dijawab: dengan cinta. Memang banyak pasangan yang sudah punya modal cinta saat membangun rumah tangganya, tapi kenyataannya tetap banyak terjadi perceraian dan perselingkuhan. Cinta sudah selayaknya ada dalam rumah tangga, tapi kalau anda sudah menikah, rasanya anda akan sepakat bahwa akhlak lah yang menopang keutuhan rumah tangga.

Saya menemukan artikel yang menyebutkan bahwa hormon cinta hanya bertahan selama 4 tahun. Penelitian tentang itu diungkapkan oleh para peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis.

Sependek itu. Tapi saya yakin, durasi bertahannya rasa cinta akan berbeda pada tiap orang. Yang jelas, cinta itu bisa hilang!!!

Karena itu akan sangat riskan apabila rumah tangga hanya didasari oleh rasa cinta. Karena saat cinta itu hilang, maka ambruk lah bangunan rumah tangga itu. Bahkan walau pun masih ada cinta di antara pasangan suami istri, namun kalau dalam keseharian mereka tidak mampu saling menunjukkan akhlak yang baik dalam hubungannya, maka rumah tangga itu tetap terancam rubuh. Bahkan akhlak yang buruk itu mempercepat musnahnya cinta.

Kasih sayang bisa bersemi di atas akhlak yang kokoh. Bila suami memperlakukan istri dengan baik, dan istri membalas dengan pelayanan yang menyenangkan, maka saat itu lah do’a seorang pria yang minta dikaruniai istri dan anak-anak yang menjadi ‘cahaya mata’ (qurrota a’yun) terwujud.

Akhlak adalah benteng keutuhan rumah tangga.

****

Akhlak itu harus dimiliki oleh kedua pasangan, bukan hanya suami saja. Akhlak seorang istri kepada suami adalah saat ia menaati suaminya. Dan itu menjadi kewajiban yang tak boleh disepelekan. “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (Al-Baqarah: 228).

Rasulullah bersabda, “Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim)

Bahkan penyebab wanita banyak menjadi penghuni neraka adalah karena akhlaknya yang buruk kepada suami. Seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw: “Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami’”. (HR Bukhori)

Perkara yang mungkin sepele: mengabaikan kebaikan suami, bisa berakibat sangat fatal. Dalam suatu sabda Rasulullah saw: “…dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Berterima kasih atas kelebihan pasangan, dan sabar atas kekurangannya. Itu merupakan kunci akhlak dalam rumah tangga. “Tahu berterima kasih” bukan cuma diharuskan untuk istri, bahkan sikap itu harus dimunculkan oleh suami manakala terbersit ketidak-puasan terhadap istrinya. Allah berfirman, “…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa : 19) Begitulah tips yang diberikan oleh Allah kepada suami untuk mempertahankan rumah tangganya: bersabar dan memperhatikan kebaikan yang dimiliki oleh pasangan.

*****

Salah satu akhlak seorang suami yang mengokohkan rumah tangganya adalah ekspresi yang tidak terus terang saat menemukan kekurangan istri. Ia menyembunyikan kekecewaannya sehingga bisa menjaga perasaan istrinya. Seperi saat merasakan ada yang kurang dari masakan istrinya, seorang suami bisa menunjukkan akhlak yang baik saat ia malah memuji masakan itu.

Berdusta dalam rumah tangga – selama dalam kerangka kebaikan – diperbolehkan. Ummu Kultsum rha. berkata, “”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya.” (HR Muslim)

Ada cerita yang penuh hikmah tentang suami yang berekspresi normal saat melihat ketidak-sempurnaan istrinya, yang diceritakan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”.

Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”

Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.

Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.

Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.

*****

Berkata ulama salaf: “Seorang suami yang sholih, bila dia mencintaimu maka bersyukurlah kepada Allah. Bila dia tidak menyukaimu, maka dia pasti tidak akan menzholimimu.” (Seperti dikutip dari tulisan ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di milis nashihah)


Untuk Istriku, mohon maaf atas segala kekurangan akhlakku, selama pernikahan kita. Tapi aku akan terus berusaha menyempurnakannya.