RSS

Monthly Archives: February 2019

Saat Merasa Selalu Dirundung Masalah

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Pernah merasakan hidup teramat sulit, atau bahkan merasa orang yang paling sial di dunia? Tiap saat ada saja kesulitan yang datang. Kalau ada yang meminta untuk membuat daftar masalah yang sedang dihadapi, akan mudah menyusun list yang panjang.

Tetapi apa pun masalahnya, tak pernah ada alasan untuk mengeluh. Apalagi kalau mau sedikit berusaha menghitung perbandingan nikmat yang sedang didapat dan musibah yang sedang dihadapi. Sangat tidak sebanding.

Persoalannya, apakah kita akan bersikap adil bersikap terhadap nikmat dan musibah yang datang? Kalau besaran reaksi terhadap satu musibah sama dengan besaran reaksi terhadap nikmat, maka orang-orang akan melihat kita sebagai manusia yang senantiasa ceria. Karena musibah itu tertutup sudah oleh kenikmatan yang jauh lebih banyak didapat. Sadarkah?

Yang terjadi adalah, nikmat yang tiap detik dirasakan oleh manusia dianggapnya sebagai sesuatu yang memang layak didapat. Sesuatu yang wajar dan tak perlu ada reaksi apa-apa. Berbeda dengan masalah, dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang tidak wajar menimpanya. Akibatnya manusia lebih sering bereaksi terhadap musibah daripada nikmat.

Sikap seperti ini yang disitir oleh Allah swt.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij: 19-21)

Padahal Allah swt saat memberi sebuah kesulitan, menyertakan pula beberapa kemudahan. Bukan satu kesulitan satu kemudahan, tapi bersama satu kesulitan terdapat banyak kemudahan.

Ibnu Katsir memberikan tafsir pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 seperti tertulis di atas.

“Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh “Al-’usri” (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh “yusran” berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak.”

Keimanan di dalam hati kita akan membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an. Pembuktiannya mudah, tinggal hitung saja kenikmatan yang sedang kita rasakan. Syaratnya, kita harus membuka hati bahwa semua kemudahan, kelapangan, dan kesenangan yang kita rasakan itu bersumber dari Allah swt bukan karena kerja keras kita semata.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Tips agar bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt dengan senantiasa mengucapkan hamdalah saat terasa sebuah kesenangan. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS 93:11).

Dan terhadap kesulitan, bersikaplah ridho dan lapang dada. Lalu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat memang lebih banyak daripada kesulitan.

Advertisements
 

Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Alkisah, segerombolan penipu licik berprofesi sebagai penjahit ingin mengecoh raja. Harta menjadi motivasi mereka. Sang paduka dikenal gila sanjungan dan sangat bermurah hati kepada para pemujanya.

Mereka datang ke istana dengan prototype baju-baju megah dan indah. Mereka tidak hendak menjual barang yang dibawa, tetapi menawarkan untuk membuatkan jubah dari sutra super halus kepada raja. Saking tingginya kualitas pakaian yang hendak dibikin itu, hanya orang pandai yang bisa melihatnya.

Tawaran itu disetujui dengan jangka waktu tertentu. Raja tertarik karena ingin mengetahui siapa saja yang termasuk kalangan orang bodoh di istana yang tak mampu melihat keindahan jubah impiannya.

Jelang deadline, perdana menteri diutus untuk memantau pekerjaan para penjahit. Sang menteri terkejut karena tak melihat satu helai benang pun. Namun demi tak mau dibilang bodoh, menteri hanya mengangguk-angguk dan menyampaikan kepada raja, sebagaimana kalimat para penjahit, bahwa baju telah hampir selesai.

Waktu telah tiba. Para penipu itu membawa “hasil kerjanya” ke istana. Rupanya raja pun tak bisa melihat baju itu. Tapi karena tak mau dianggap bodoh, beliau menurut saja saat ia yang hanya berpakaian dalam dipakaikan jubah kebesaran oleh para penjahit.

Seisi istana memuji raja. Meski tak satu pun melihat rupa baju tersebut. Dan raja yang kegeeran pun berkeliling wilayah kekuasannya untuk memamerkan betapa anggunnya ia memakai pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang cerdas.

Rakyat di kumpulkan mendadak untuk melihat fashion show. Mulut mereka menganga melihat raja yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tak berani bertanya atau mengkritik.

Dan sang paduka pun menahan rasa kedinginan. Terasa sekali hembusan angin menerpa badannya tanpa penghalang apa pun. Hingga akhirnya seorang anak kecil berteriak, “kok raja gak malu gak pake baju?”

Anak kecil itu jujur. Sehingga keraguan pun memenuhi hati sang paduka. Buru-buru ia kembali ke istana karena tak yakin bahwa ia sedang mengenakan pakaian. Sementara para penjahit itu telang hilang sejak menerima upahnya.

*****

Mungkin pembaca pernah mendengar cerita di atas. Menjadi pelajaran bahwa orang yang gila sanjung akan mudah sekali dikelabui.

Kata “bengak” bisa saja diberi kepanjangan yang bagus-bagus. Tapi orang Sumatra paham bahwa arti kata itu adalah bodoh yang parah.

Kata “blegug” bisa juga diberi kepanjangan yang keren-keren. Tapi orang Sunda mengerti bahwa itu adalah kata umpatan.

Nusantara kaya akan bahasa daerah. Dan tiap bahasa punya kata makian tersendiri. Yang kata itu bisa saja dijadikan akronim dengan arti yang bagus-bagus.

Namun orang pintar tak kan mau dijuluki Si Bengak, Mang Blegug, dan cacian lain walau dengan kepanjangan yang dibuat indah.

Beda dengan orang bodoh gila pujian yang gampang terkecoh. Ia akan cengar-cengir saja dijuluki dengan kata-kata umpatan oleh para penjilat yang menipu, hanya karena kata itu dibikinkan kepanjangan yang menyanjung.

Sebagaimana baju transparan yang sejatinya hinaan, namun sayang raja malah kegeeran.

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2019 in Artikel Umum