RSS

Monthly Archives: August 2017

Ketauladanan Ibrahim A.S.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. “Mengapa harus memberikan sesaji”? “Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria”? Atau bahkan, “Mengapa harus tunduk kepada orang tua”?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. “Kenapa patung”? Berangkat dari pertanyaan itu, ia ajak manusia melakukan uji kelayakan kepada tuhan yang akan disembah. Ia tunjuk bintang yang manusia takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia tunjuk Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia tunjuk mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Namun, walau telah dimudahkan jalan untuk memahami kelayakan sebuah sesembahan, hati yang tak jujur tetap tak kan mampu mengerti. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, “”Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan “apakah Tuhan itu ada”, kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Kekreatifan Ibrahim a.s. dipamerkannya dalam sebuah parodi ketika ia a.s. menghancurkan sesembahan kaumnya sembari membiarkan sebuah patung besar yang dibuat seakan-akan menjadi pelaku, karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti berupa kapak pada benda seni terbesar di tempat itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis “bakar hidup-hidup” dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan juga dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Walau tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan si buah hati. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”” (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia “lucu-lucunya”. Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar – istri Ibrahim a.s. – dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh bapak para nabi itu meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran khas seorang ayah. Ibrahim a.s. risau bila sepeninggalnya, anak keturunannya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-Qur’an, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.”  (QS 60:4-6)

—–

25 November 2009, Jelang Idul Adha 1430 H 🙂

 

Advertisements
 

Krisis Hormat Kepada yang Tua di Negeri Kita

Saya yakin Anda pun waktu kecil pernah diajarkan “salim” kepada orang yang lebih tua. Tangan mungil kita mengulur untuk bersalaman, lalu tangan yang kita jabat ditarik ke arah muka untuk dicium. Begitulah salah satu perilaku sopan santun yang ditanam sejak kecil untuk menghormati mereka yang berusia di atas kita.

Hingga kini anak-anak kecil di negeri kita masih diajarkan sikap begini. Masih teringat momen yang tidak lama kemarin, ketika tangan saya dicium oleh keponakan dan sanak family yang lebih muda saat silaturahim lebaran Idul Fitri. Tak lupa lembaran uang kertas saya pun ditarik mereka sebagai THR. Yah itu udah tradisi lah, salim berhadiah uang saku. Saya juga menikmatinya waktu kecil.

Esensinya adalah menghormati yang lebih tua. Di daerah Jawa, anak muda diajarkan berbungkuk saat berjalan di muka orang yang sepuh. Sepatah kata pun diucapkan, “Permisi…”. Di daerah Minang, dikenal pembagian gaya bahasa: menurun, mendatar, mendaki, melereng. Kata menurun untuk berbicara kepada yang muda, mendatar untuk yang sepantar, mendaki kepada yang lebih tua, dan melereng adalah kata-kata diplomatis. Di beberapa daerah dikenal bahasa halus dan kasar. Ada Bahasa Jawa halus ada Jawa kasar. Sunda halus, sunda kasar.

Pastikan anak Anda diajarkan itu semua. Dan contohkan juga oleh Anda. Sekali pun berbahasa Indonesia pasaran, tetap tak boleh menggunakan “lu gua” kepada senior. Jangan panggil nama, tapi panggil Kak. Atur nada suara, jangan meninggi. Dll.

Karena sopan santun kepada yang lebih tua pun kiranya juga bagian dari krisis yang melanda Indonesia. Terlihat dari peristiwa protesnya ibu Elly Risman akan rencana pemerintah mendatangkan artis Korea Selatan ke Indonesia. Tak disangka, penggemar budaya Korea yang masih muda-muda itu merespon dengan sikap yang jauh dari sopan santun.

Sebenarnya di Korea Selatan pun sopan santun kepada yang lebih tua itu ada. Saya jarang menonton film, apalagi film Korea. Tapi film komedi romantis berjudul My Sassy Girl yang dirilis tahun 2001 pernah juga saya tonton saat mahasiswa dulu. Ada adegan yang mengesankan, saat si pemeran utama (saya lupa yang pria atau wanita) menawarkan diri membawakan keranjang seorang nenek tua di stasiun kereta.

Mungkin saya salah, sepengetahuan saya drama Korea tidak seperti kartun Jepang yang melampirkan banyak petuah. Dalam satu episode film Naruto, petuah yang disisipkan dalam dialog begitu bertebaran. Mungkin berantemnya semenit, dialog dan nasehatnya bisa sepuluh menit (ya gak gitu juga sih). Beda dengan drama Korea yang dialognya fokus pada cerita percintaan.

Tapi harusnya tetap dapat diserap bagaimana sopan santun yang ditunjukkan dalam drama Korea. Saya yakin tetap ada pelajaran yang bisa diambil. Toh Korea dan Indonesia sama-sama negeri timur yang kaya akan ajaran kebaikan. Entah lah, saya bukan penggemar film-film itu. Saya hanya menduga-duga.

Perilaku bullying anak-anak muda penggemar Korea kepada bu Elly Risman benar-benar menyesakkan dada. Seolah tak bersisa ajaran “salim” oleh orang tua mereka. Fanatik buta telah menghilangkan akal dan mematikan rasa hormat.

Kalau pun ada informasi yang salah dalam tulisan bu Elly Risman, toh kadang-kadang kita mendengar nasehat dari orang tua yang kita rasa tak sejalan. Tapi bukan dengan membantah kita bersikap. Dengan diam dan membiarkan mereka menyampaikan nasehatnya.

Anda sebagai orang tua, adalah harus untuk cemas melihat gejala bullying ini. Karena kelancangan anak-anak ABG itu bukan hanya pada bu Elly Risman, tapi kelak akan merugikan Anda juga.

Bersamaan dengan fenomena bullying, empat hari lalu beredar pula berita seorang guru yang divonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan tujuh bulan oleh Pengadilan Negeri Parepare karena sang guru pernah mengibaskan mukena kepada muridnya. Saya pun teringat dengan peristiwa pengeroyokan guru oleh orang tua murid beberapa waktu lalu. Juga beberapa kasus kriminalisasi guru lainnya.

Ah… Bulu kuduk saya merinding. Salim rupanya hanya formalitas. Ruhnya telah tercerabut di hati sebagian warga negeri ini. Indikasinya sangat jelas belakangan.