RSS

Category Archives: Puisi dan Cerpen

Puisi Untuk Anakku

I

 Itu dunia anakku, gengamlah!

Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!

Buaian hanya sementara

Selanjutnya kertas dan pena

Kau hadirkan pada mereka

Keilmuan seluas samudra

Hadirkan cahaya sibak gulita

Kau tembus bumi, merobek angkasa

Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.

Itu cakrawala anakku, rengkuhlah

Kau milik zamanmu, bersiagalah

Pelukan bunda hanya sementara

Selanjutnya keringat dan air mata

Kau suguhkan pada mereka

Hujjah dan qoulan syadida

Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa

Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka

Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga

Hingga kau diterima dalam ridho-Nya

II

Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik

Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik

Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik

Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik

Aku bukan pemikul beban yang terpaksa

Tapi aku penggembala penuh cinta

Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa

menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia

III

Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban

Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban

Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban

Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban

Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta

Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.

*****

20 Oktober 2009. Untuk ulang tahun Raudhatur Rahmah yang pertama pada tanggal 21 Oktober 2009.

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Kisah Ospek Fani

Rasa senangku sejak aku tahu bahwa aku diterima di SMUN1 – SMUN favorit di kotaku – dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu sudut lapangan upacara sekolah yang memuat namaku pada urutan kesepuluh dari daftar siswa yang diterima, harus dikalahkan oleh rasa kesalku setelah dua minggu aku resmi menjadi siswa SMU dambaanku ini. Betapa tidak, belakangan ini aku harus menjadi objek rasa jumawa kakak-kakak kelasku yang menjunjung tinggi rasa senioritas. Dengan memanfaatkan Masa Orientasi Siswa – suatu acara penyambutan siswa baru yang digelar selama beberapa hari, mereka – kakak-kakak kelasku sesuka hatinya membentak, mencaci, menghina, dan menyuruh ini itu aku dan siswa baru lainnya. Kesal aku jadinya. Makanya, rasa gembiraku seketika berubah menjadi rasa dongkol.

Rasanya ingin marah, tapi aku tak tahu harus kutumpahkan ke mana semua rasa ini. Membalas jelas tidak mungkin. Namun mereka sudah keterlaluan. Siapa yang tidak kesal diberi hukuman menghitung keliling lapangan basket sekolahku dengan jengkal? Siapa yang tidak marah disuruh berakting menirukan gaya gorila di tengah lapangan dan menjadi tertawaan orang banyak?

Puncaknya adalah saat aku dipanggil seorang kakak kelas untuk ‘tur’ keliling sekolah. Aku harus masuk ke setiap kelas yang berisi siswa baru untuk berlagak menjadi artis dan menyanyikan sebuah lagu dengan sapu ijuk sebagai mixnya. Lalu kakak kelas itu berlaga seperti menejerku. Aku dibantu oleh dua siswa lain yang selokal dengan ku sebagai koreografernya. Dan aku juga diberi nama yaitu Tukiyem, artis dari Hollywood yang sengaja konser dari kota film di Amerika itu ke SMUN1 untuk menghibur peserta MOS. Aku disuruh menyanyikan lagu yang hits di Hollywood seperti lagu soundtracknya film Sinchan, soundtracknya film Kobochan, dan lagu anak lainnya di depan kelas. Di setiap penghujung konserku, menejerku bertanya pada hadirin apakah mereka puas atas penampilanku.

Untungnya mereka menjawab puas. Begitulah aku diajak keliling sekolah menyusuri setiap kelas yang saat itu sedang diberi materi berupa pengenalan organisasi ekstrakurikuler yang ada di sekolahku oleh panitia MOS. Kebetulan di kelasku waktu itu organisasi yang diperkenalkan adalah Rohani Islam. Dan aku tak sempat mendengarkannya karena ada konser penting itu. Karena kejadian itu, aku menjadi sangat malu. Sejak konser itu aku selalu dipanggil Tukiyem oleh orang-orang di sekolahku.

“Tukiyem, nyanyi lagu soundtracknya film Si Komo dong!”

Di pikiranku saat ini, semua kakak kelasku angkuh. Tidak ada satu pun yang ramah. Dan setiap pagi saat aku harus datang pada acara MOS, aku memandang sinis kakak kelasku.Kalau ada kesempatan ingin rasanya aku telan mereka bulat-bulat.

*****

Saat bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat, peserta MOS bertebaran ke lapangan untuk berburu tanda tangan panitia MOS. Di pinggir lapangan, telah menunggu panitia-panitia MOS mencari mangsa. Inilah pekerjaan yang paling aku benci. Karena biasanya panitia berkesempatan untuk mengerjai adik barunya. Tapi herannya, meski dikerjai, siswa baru itu tetap semangat memburu tanda tangan.

Pun aku saat ini. Aku khawatir apabila jumlah tanda tangan yang kudapat tidak mencapai syarat sampai hari akhir Masa Orientasi Siswa, yaitu 50 buah tanda tangan panitia, maka aku akan dikerjai di ruang macan. Ruang macan adalah ruang tempat penyiksaan peserta MOS yang bermasalah dengan panitia atau kakak kelasnya. Sudah sering aku mendengar cerita yang buruk-buruk tentang ruangan itu dari kawanku yang pernah masuk ke sana.

Dari namanya saja sudah menyeramkan. Pernah ada seorang peserta MOS yang berani melawan perintah panitia MOS. Dan akhirnya panitia itu pun tersinggung. Hingga sisiwa baru itu pun dipermasalahkannya sampai masuk ke ruang macan. Di ruang macan itu ia mendapatkan pelayanan mengerikan: Bangku-bangku beterbangan, suara cempreng dengan volume besar memarahinya di telinga kanan dan kiri. Wajah-wajah garang yang bebas mengeluarkan amarah. Bahkan tertangkap oleh matanya seorang panitia MOS yang sedang on sembari memegang sebatang rokok yang ia yakini berisi ganja sedang memarahinya.

Dari kerumunan di tengah lapangan ini, aku menatap kesebuah sisi lapangan yang berada tepat di bawah ring basket. Di situ terdapat seseorang gadis berjilbab yang mengenakan tanda pengenal panitia MOS sedang duduk sendirian. Berpayung di bawah banyangan ring basket dari terik matahari di tengah hari kini. Meski aku belum berkesempatan untuk mengenakan jilbab seperti kakak itu, namun aku yakin bahwa orang yang berjilbab mestilah orang yang baik-baik. Maka segera saja aku hampiri kakak itu untuk mendapatkan tanda tangannya.

“Kak, Assalamualaikum. Minta tanda tangannya kak.”

Pintaku dengan lembut dan hati-hati.

“Oh, siapa nama kamu?” Tanyanya.

“Fani.” Jawabku. Sejauh ini tidak nampak tanda-tanda bahwa aku akan dikerjai.

“Bagus juga nama kamu. Mana bukunya, biar kakak tanda tanganin.”

Lega hatiku, tampaknya benar dugaanku bahwa orang yang satu ini tidak buas. Ku berikan bukuku dengan penuh senyuman pada kakak itu.

“Oya, selagi kakak nanda tanganin buku kamu, kakak bisa nggak minta tolong?”

O..o.. aku terkecoh. Alamat aku bakal dikerjai lagi.

Tapi mudah-mudahan tidak sesadis panitia yang lain, harapku.

“Boleh. Minta tolong apa kak?”

“Kamu bilangin ke kakak yang itu tuh…” Dia menunjuk ke seorang pria berkacamata hitam yang berdiri di tengah-tengah kawannya di seberang lapangan sana yang sedang berkumpul menyaksikan teman-teman baruku dikerjai. Tampaknya orang itu kakak kelas tapi bukan seorang panitia MOS.

“Yang pakai kacamata hitam itu kak?”

“Iya. Bilangin ke dia, kalo dia itu sok jago dan belaga hebat. Trus walaupun begitu, kamu tetep suka sama dia dan dia boleh ngerjain kamu.”

Oh tidak. Aku terkecoh. Penampilan adem berjilbab itu rupanya juga seorang yang kejam. Seketika aku lemas.

“Mmm… nggak berani Mbak. Tampangnya serem sih.” Aku mencoba merayunya.

“Mau ditandatanganin nggak sih?” Suaranya setengah meninggi.

Aku terpaku sejenak. Akhirnya dengan rasa terpaksa aku turuti juga perintah “Nona Muda” itu.

Kecemasan menemani perjalananku memotong orang-orang yang seliweran di tengah lapangan menuju kakak yang ditunjukkan oleh mbak tadi.

“Kak… Mmm.. Saya disuruh Mbak yang itu…” Aku menunjuk kepada gadis berjilbab tadi di seberang lapangan sana. Rupanya Mbak itu pun memperhatikan aku. “Saya disuruh ngomong… ngngng… kalo kakak sok jago, belagu, sok hebat, tapi… ngngng…”

Mendengar ucapanku seketika raut mukanya berubah garang menggantikan cengiran genit yang menyambut kedatanganku.

“Apa kata kamu dek?” Suaranya garang.

“Tapi saya tetep suka sama kakak. Dan kakak boleh ngerjain saya sepuas kakak.”

Menyebalkan, tiba-tiba rautnya berubah lagi dipenuhi cengiran nakal menjijikkan.

“Oooh… gitu. Sebentar ya, kakak pikir-pikir dulu.

Pokoknya itu komitmen kamu untuk saya kerjain. Oke adek manis. Nama kamu siapa?”

“Fani, kak?”

“Nama kakak Dicko.” Kembali cengirannya dipamerkan padaku. ‘Huek’ muntahku dalam hati.

Dia diam. Sesaat kemudian dia menjentikkan jarinya seraya berujar, “Aha! Dek, kamu ke depan sana, trus minta mikropon sama Mbak Ningsih yang berambut panjang dan berpita biru itu, trus kamu teriak make mikropon, “GUA CINTA DICKO. SIAPA YANG BERANI NGEREBUT DICKO DARI GUA, MAKA HADAPI GUA DULU.” Oke dek? Setuju?”

Tiba-tiba kurasakan badanku lemas. Hukuman ini tugas ini kurasakan begitu berat. Bahkan mataku pun sedikit panas. Kurasakan kristal-kristal bening di mataku mendesak ingin keluar.

“Ayo Kok diem aja. Cepet laksanain.” Bentakannya padaku menarik perhatian kawan-kawan di dekatnya.

Kupaksakan kakiku melangkah daripada kawan-kawannya itu turut mengerjai aku. Jantung ini terasa begitu kencang berdegup. Getaran kakiku terlihat dari bergoyangnya rok biru seragam sekolahku ketika masih di SLTP, yang kukenakan untuk acara MOS ini. Mbak Ningsih yang ditunjuk kakak tadi pun telah dekat.

“Mbak, minjem mikroponnya.”

“Oh ya. Silakan.”

Alhamdulillah mulus. Ragu-ragu, aku mulai berteriak seperti yang disuruh oleh kak Dicko.

“GUA CINTA DICKO. SIAPA YANG BERANI NGEREBUT DICKO DARI GUA, MAKA HADAPI GUA DULU.”

Tiba-tiba semua mata yang ada di sana memandang ke arahku dengan perasaan di hatinya masing-masing.

Mukaku memerah menahan malu. Lalu mataku menangkap sesosok tubuh milik Mbak Ningsih mendekat padaku dan… PLAK. Tamparan telak mendarat di pipiku. Aku terkejut.

“Kurang ajar. Anak baru udah belaga centil. Mau ngerebut pacar orang lagi. Nih, gua yang ngehadapin elu. Lu yang nantang tadi kan? Coba rebut Dicko dari gua.” PLAK… sekali lagi tamparan keras mendarat di pipiku.

Mataku mulai menghangat didesak air mata yang hendak mengalir deras. Secepat kilat aku berlari menjauhi Mbak Ningsih. Membawa air mata yang mulai mengalir persatu, menembus tatapan iba orang-orang yang melihat kejadian ini, serta mengacuhkan tawa terbahak Kak Dicko dan kawan-kawannya.

Aku terus berlari tanpa tahu arah mana yang kutuju. Yang jelas aku harus menjauhi tatapan orang-orang. Hingga telah sampai langkahku di depan musholla yang kudapati sedang lengang. Ada beberapa orang di depan – yang merupakan daerah untuk pria – sedang membaca Al-Qur’an. Aku menuju daerah di belakang hijab, daerah untuk wanita, dan langsung kulepas sepatuku dan masuk ke dalam.

Tak kupedulikan seorang gadis berjilbab yang sedang menekuni Al-Quran. Keheningan di Musholla ini kumanfaatkan untuk menangis sejadi-jadinya sekaligus berlindung dari terik matahari siang dan terik kejamnya prilaku kakak kelasku.

Di tengah isakku, tak kuhiraukan sebuah tepukan hangat menyapa pundakku bersama teguran hangat gadis itu.

“Masya Allah, kenapa kamu dek?”

Di selingi hening, ia bertanya lagi, “Pasti gara-gara dikerjain ya?”

Lagi aku tak mengacuhkan. Karena aku tak tahu harus berkata apa.

“Sabar dek, Allah bersama orang-orang yang sabar! Kakak juga nggak bisa berbuat banyak. Yang jelas acara seperti ini sudah diprotes ke kepala sekolah. Dan rencananya, hari ini MOS hanya diisi oleh pengenalan organisasi ekskul dari sekolah dan materi dari guru. Tapi rupanya terjadi penyimpangan pada pelaksanaannya. Sabar dek. Insya Allah, Allah memberi pahala atas kesabaranmu.”

Kata-kata itu bersamaan dengan angin sejuk yang masuk dari luar musholla yang membelai tengkukku. Namun kata-kata itu lebih sejuk karena mampu membelai hati.

Kupandangi gadis itu dan kudapati keteduhan dari rautnya. Detik berikutnya senyuman indah mengembang dari bibir yang baru saja melantunkan kalam yang suci, disambung dengan pelukan hangat padaku dan belaian tangannya yang mengelus rambut kepalaku yang belum ditutupi jilbab.

“Saya kira, sudah nggak ada lagi orang yang baik di sekolah ini. Rupanya masih ada kakak, orang yang baik.”

“Sudah, ikut kakak yuk, kita berwudhu. Sambil nunggu waktu Zhuhur, kita baca Al-Qur’an. Insya Allah hati kamu teduh.”

Tangan gadis itu menuntunku ke tempat berwudhu wanita.

Tak lama suara adzan Zhuhur bergema.

*****

Setahun kemudian, aku sedang duduk bersama Mbak Hanifah di bangku di bawah pohon Akasia di pinggir lapangan sambil berteduh dari panas matahari di siang ini tatkala beberapa siswa baru yang kesemuanya wanita mendekat pada kami, aku dan Mbak Hanifah.

“Mbak minta tanda tangannya dong.”

Aku menanggapinya dengan senyuman. “Kalo mau tanda tangan, harus ngucapin passwordnya dulu.” Sahutku.

“Apa passwordnya kak?”

“Assalamualaikum!” Jawab Mbak Hanifah.

“Assalamaualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap mereka serempak.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab kami. “Kumpulin bukunya ya. Yang mau tanda tangan harus di tes dulu baca Qur’annya. Siapa yang non muslim? Siapa yang sedang berhalangan?”

Angin pancaroba yang rutin pada bulan Juli ini membelai jilbab lebarku. Aku mencoba memperkenalkan Islam pada mereka melalui acara MOS yang lagi-lagi masih mengandung perploncoan walau sudah diprotes. Aku menukar senyum dengan Mbak Hanifah yang menyapaku saat aku menangis di Musholla waktu acara MOS dulu. Yang menurutku adalah embun di tengah padang senioritas yang gersang. “Terima kasih telah menunjukiku pada jalan yang telah kau tempuh lebih dulu,” batinku.

Padang, 2001

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Saat Hasrat Berpecah Menggelora

Berpisah

Muka Rohmat memerah. Duduk di salah satu tangga jalan masuk masjid kampus, ia membaca surat keputusan ketua Forum Rohis Peduli (FRP) berulang-ulang dengan diterangi matahari senja.

“Tidak bisa ditolerir… Tidak bisa ditolerir…” Gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Di surat itu, terbaca jelas SK pembentukan panitia rihlah yang mengikut-sertakan beberapa akhwat dalam kepanitiaan.

Rohmat memegang dahinya yang licin karena berminyak. Berfikir keras, mempertimbangkan sesuatu. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah handphone. Setelah mencari nomor yang hendak dihubunginya di phone book, Rohmat mendekatkan handphone ketelinganya.

Sebuah saluran terhubung. Tuuuutt….

“Assalamu’alaikum…” Suara orang di suatu tempat, menjawab panggilan telepon.

“Wa’alaikum salam. Akh Heri, ini Rohmat. Sudah dapat SK Kepanitiaan rihlah dari si Luqman?” Kali ini suara Rohmat.

“Sudah. Kenapa memangnya akh?”

“Gak bisa ditolerir!! Ana kan sudah bilang, kalau rihlah jangan ajak akhwat. Khawatir timbul fitnah.”

“Iya, tapi ini sesuai keputusan syuro akh, Insya Allah hal-hal yang potensial menimbulkan fitnah akan diminimalisir.”

“Minimalisir bukan berarti tidak ada sama sekail kan? Ah, payah si Luqman. Tidak bisa begini caranya. Lama-lama FRP ini ikut-ikutan menyimpang seperti Rohis kampus.”

“Menyimpang bagaimana akh? Antum jangan berlebih-lebihan. Ini sudah jadi keputusan syuro…”

“Keputusan syuro, keputusan syuro. Sama saja jawaban kalian dengan jawaban anak-anak Rohis. Syuro cuma jadi legitimasi penyimpangan. Tidak bisa begini caranya. Sampaikan pada Luqman, ana cabut dari FRP. Wadah ini sudah tidak bisa diharapkan lagi…”

Tuuut… Tuut.. Tuut… Rohmat menyudahi pembicaraannya.

*****

Pukul 12.30 siang di kampus Universitas Bangun Mulia adalah waktu pergantian satu mata kuliah ke mata kuliah berikutnya. Dan saat-saat itu adalah saat di mana masjid kampus penuh dengan mahasiswa yang hendak menunaikan sholat zhuhur. Saat di mana para aktifis Rohis bertemu dan melepas canda. Begitu juga dengan para aktifis Forum Rohis Peduli, mereka memanfaatkan waktu sekitar 12.30 sebagai tempat bertemu dan saling mengakrabi.

Tapi sebuah pemandangan aneh tampak di mata para aktifis Rohis. Luqman dan Rohmat, dua pentolan Forum Rohis Peduli, berpapasan di depan masjid. Luqman memberi salam dan mengulurkan tangan, tapi Rohmat mengabaikan salam dan uluran tangan Luqman.

Beberapa aktifis Rohis yang melihat pemandangan itu terperangah.

“Walah, ada apa lagi ini?” Tanya salah seorang dari mereka berbisik-bisik.

“Jangan-jangan pecah lagi…”

“Yaa… pecah lagi? Jadi FRPP dong… Forum Rohis Peduli Peduli.”

Tawa pecah di tengah kerumunan aktifis Rohis.
*****
Forum Rohis Peduli adalah sebuah organisasi yang mewadahi beberapa mantan pengurus Rohis yang kecewa dengan kepengurusan saat ini.

Semuanya bermula saat terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis. Sebelum Muktamar Rohani Islam Universitas Bangun Mulia yang ke 15, muncul desas-desus Adi dekat dengan seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan Adi. Mahasiswi itu bukan anggota Rohis. Seseorang aktifis Rohis pernah memergoki Adi dan mahasiswi itu sedang bersama-sama di sebuah toko buku.

Kisah kepergoknya Adi dan mahasiswi itu berkembang menjadi cerita yang liar. Ada cerita bahwa Adi berpacaran. Tapi ada juga yang bilang bahwa walau pun tidak berpacaran, seorang aktifis Rohis tidak pantas berdua-duaan dengan wanita non muhrim. Klarifikasi dari Adi sendiri, bahwa ia dan temannya itu tanpa janjian bertemu di sebuah toko buku. Dan keduanya sama-sama hendak membeli beberapa buku kuliah yang sama. Makanya Adi dan temannya itu terlihat beberapa waktu berjalan beriringan. Tapi dengan tujuan hendak mencari buku dan mendiskusikan buku mana yang sebaiknya dibeli. Itu saja.

Terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis mendapat protes yang keras dari beberapa aktifis. Termasuk Rohmat yang adalah kandidat kuat ketua Rohis. Permasalahan ini tidak tuntas karena pemrotes bersikeras ingin agar Adi turun dari posisi ketua, sedangkan Adi dan pengurus yang lain bersikeras menjalankan amanat Muktamar yang dalam AD/ART Rohani Islam Universitas Bangun Mulia adalah tempat pengambilan keputusan tertinggi.

Masalah yang tidak tuntas ini mulai ditumpuk dengan masalah lain saat pemilihan ketua BEM sudah dekat. Hasil musyawarah, Rohis mendukung seorang calon ketua BEM yang bukan anggota Rohis.

“Dani itu anak Rohis juga lho waktu SMA. Dan sampai sekarang dia masih terlibat dalam acara-acara alumni Rohis SMA-nya. Memang dia memilih aktif di BEM saat baru masuk kuliah, daripada aktif di Rohis. Tapi pengalamannya di BEM, dan statusnya sebagai alumni aktifis Rohis SMA, ditambah dengan pengaruh dan dukungan dari teman-teman fakultasnya, saya rasa menjadi alasan yang kuat untuk mendukung Dani. Lagi pula akhlak Dani di BEM sangat baik.” Begitu ungkap Adi, menyampaikan alasan musyawarah mendukung Dani.

Dan saat ditanya mengapa bukan Luqman yang naik menjadi ketua BEM, Adi menjawab, “Luqman itu visioner. Wawasannya tentang keorganisasian cukup luas. Makanya ia ditempatkan membawahi bidang keorganisasian. Ia sangat dibutuhkan Rohis.” Begitu jawab Adi.

Tapi alasan ini tidak diterima oleh Rohmat, Luqman dan beberapa aktifis Rohis lainnya yang semakin membuat kegaduhan. Pendapat mereka, Rohis harus mengusung anggotanya menjadi ketua BEM seperti yang sudah-sudah di tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak percaya anggota luar Rohis memimpin BEM dan mengkhawatirkan BEM menjadi alat legalisasi kemaksiatan di kampus. Akhirnya sejak saat itu, setiap keputusan Rohis selalu mendapat kritik keras dari beberapa aktifisnya. Tidak pernah ada keputusan yang bebas kritik.

Hiruk pikuk ini berujung dengan pecahnya organisasi Rohani Islam. Pemicunya adalah diturunkannya Luqman dari Ketua Bidang Keorganisasian Rohani Islam. Sudah lima kali rapat penting Luqman tidak hadir. Akhirnya Luqman, Rohmat, dan dua puluh aktifis lainnya lintas angkatan membentuk sebuah wadah bernama Forum Rohis Peduli.

Wadah ini berjalan sendiri. Meski ada rasa saling menghormati di antara aktifis Rohis dan FRP. Mereka masih mau untuk sholat berjamaah, dan menerima imam sholat walaupun bukan dari organisasinya.

Wadah ini solid, hingga sebuah keputusan yang membuat kekesalan Rohmat kembali meledak.

*****

Sore itu hujan mengurung dan menyatukan tiga kelompok di ruangan masjid yang cukup luas. Ada kelompok aktifis Rohis, dan ada Adi di sana. Ada kelompok FRP, ada Luqman di sana. Dan ada kelompok Rohmat yang bersiap menetaskan sebuah wadah baru.

Jenuh dengan hujan yang turun, Adi memandangi kedua kelompok yang berjauhan itu. Adi berinisiatif menyatukan mereka. Dengan percaya diri Adi mendatangi bergantian kedua kelompok itu. Agak dipaksa, akhirnya Adi, Rohmat, dan Luqman bersatu juga dalam satu lingkaran. Hanya mereka bertiga, di tengah ruangan masjid.

“Ana benar-benar masih berharap antum semua kembali ke Rohis. Luqman, andai antum menjelaskan alasan ketidak hadiran antum dalam syuro-syuro penting, dan alasannya syar’i, Insya Allah ana terima. Tapi, ana mohon yang lalu kita lupakan saja dan kita membangun dakwah ini kedepan tanpa menengok masa lalu.”

“Tidak bisa.” Rohmat bersuara agak keras. Bersaing dengan suara tetes hujan yang jatuh ke bumi. “Kecuali antum mengakui noda masa lalu antum dengan teman sekelas antum, dan bersedia mengundurkan diri dari Rohis.”

“Afwan akh, posisi ketua ini adalah amanat Muktamar. Ana tidak bisa begitu saja meninggalkan amanat ini. Apalagi alasannya adalah sesuatu yang dituduhkan pada ana padahal tuduhan itu sangat lemah,” Adi tegas.

“Kalau begitu, memang kita tidak pernah bisa bersatu. Terima saja itu. Kita fastabiqul khoirot saja.” Suara Luqman kali ini.

“Ayo laah… Ana tidak mengerti, antum semua keluar dari Rohis membentuk wadah baru. Dan setelah wadah itu terbentuk, antum pun pecah lagi. Gak capek kita begini terus?”

“Ini masalah prinsip soalnya. Sudah lah, benar kata Luqman. Kita bekerja saja. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan siapa yang benar di antara kita.” Jawab Rohmat.

Adi menarik nafas berat.

“Atau… mungkin kita bisa buat acara bersama? Ayo dong… Rohis dengan Mahasiswa Pecinta Alam saja bisa, masa kita tidak bisa?” Dengan tersenyum Adi mencetuskan idenya.

“Acara apa?” Tanya Luqman.

“Ya.. seperti… mungkin seminar Ekonomi Syariah. Sekalian ada pertunjukan nasyid.” Jawab Adi.

“Nasyid?” Luqman bertanya lagi.

“Iya…”

“Siapa aja grup nasyid yang mengisi acara itu?”

“Ya… bisa Azzam12, Nuansa Warna…”

“Nuansa Warna?”

“Iya…”

“Ah… nasyid tidak semangat itu akh. Nasyid seperti itu malah melenakan. Lebih baik mendengar murottal daripada nasyid seperti itu. Kalau Azzam12, masih bisa diterima.”

“Tapi kan seminar itu untuk umum, akh. Kalau orang umum, nasyid seperti Azzam12 susah diterima.”

“Tidak bisa. Itu melenakan. Justru dipertanyakan nilai syar’i-nya.”

“Ya… ya sudah. Mungkin tanpa nasyid saja kali ya.” Ujar Adi, tidak mau berdebat lebih jauh.

“Acara seminarnya untuk ikhwan dan akhwat?” Kali ini Rohmat bertanya.

“Iya lah… Untuk umum.”

“Wah… Kalau begitu harus ada hijab antara laki-laki dan wanita.”

“Dipisah saja mungkin akh. Orang umum akan kaget dengan hijab itu”

“Tidak bisa. Kalau sekedar dipisah, masih ada kemungkinan lirik-lirikan antara laki-laki dan perempuan. Harus ada kain atau sesuatu untuk menghijab!”

Adi terbengong dan habis akal. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan bergumam, “Yah… mungkin sudah ditakdirkan kita berlomba-lomba dalam kebajikan pada grupnya masing-masing.

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Dua Rasa yang Berbeda

ikhwan akhwat

Leonel Messi! Skema terjadinya gol cantik itu berawal dari operan Sergio Busquest dari tengah lapangan kepada Dani Alves yang sudah siap menyambut di sisi kiri pertahanan Real Madrid. Dengan beberapa gocekan, Dani Alves sukses melewati penjagaan Marcello dan dengan tenang memberi umpan ke tengah. Leonel Messi dengan kecepatannya berkelebat menyambut umpan itu. Dan sebelum menceploskan bola ke dalam gawang, ia membuat tiga orang pemain Real Madrid kebingungan dengan dribblingnya. Luar biasa.

“Yeeesss!! Ahahahaha… Kayaknya ada yang siap-siap makan seafood nih.” Reni tertawa lepas sambil mendelikkan mata ke arah suaminya, Toni, yang menekukkan muka melihat skor 3-1 tayang di layar kaca.

“Kemenangan udah di tangan nih, bang. Mau dimasakin cumi saos padang apa udang goreng tepung?” ujar Reni lagi menanti respon suaminya.

“Aaah.. Masih ada Leg 2 kok di Bernabeu. Nanti Madrid gantian ngebantai Barca di kandang.” Balas Toni.

“Iya.. itu kan nanti empat hari lagi. Perjanjiannya kan berlaku hari ini.”

“Nyantai aja dulu. Masih menit 79. Masih ada 11 menit lagi plus extra time.”

“Oke oke…”

Kedua insan itu kembali melempar pandangannya ke televisi 20 inch yang berdiri ditopang sebuah meja yang bersandar ke sebuah sisi di ruang tengah rumah. Reni tampak rileks, tapi tidak dengan Toni. Mereka hening dan membiarkan suara komentator yang berbahasa Inggris mendominasi ruangan di dini hari itu. Hingga menjelang selesai pertandingan, sebuah blunder yang dilakukan penjaga gawang Barcelona, Victor Valdes, membuat Toni bangkit dari duduknya.

“Yess! Memang mantap si Valdes. Sering-sering aja begini,” ujarnya setengah berteriak.

“Ssst… Jangan keras-keras. Nanti mengganggu tidur tetangga, bang,” Reni mengingatkan.

Sebuah bingkai yang ditempati foto pernikahan Toni dan Reni terpasang di dinding rumah yang mereka tempati kini. Di sisi foto itu, masih dalam bingkai yang sama, terangkai angka-angka melingkar yang membentuk sebuah jam. Komposisi jarum dan angka pada jam itu kini membentuk pukul tiga kurang lima belas menit. Dini hari.

Pertandingan semi final Copa Del Rey yang mempertemukan Barcelona dan Real Madrid telah berakhir. Skor 3-2 untuk kemenangan Barca disambut suka cita oleh penggemarnya, termasuk Reni. Kini ia sudah siap menagih perjanjian yang dibuat antara suaminya yang seorang penggemar Real Madrid fanatik, dengan dirinya.

Salah satu poin perjanjian itu adalah bila Barcelona menang, maka Toni harus membiasakan diri memakan makanan kesukaan Reni, sea food. Sebaliknya bila Toni yang menang, maka Reni harus memasak Rendang Padang kesukaan Toni dan harus belajar terbiasa memakannya. Kalau seri, tak ada perjanjian apa-apa.

Kedua sejoli itu memang punya hobi dan kesukaan yang berbeda. Dan itu sudah mereka sadari sejak ta’aruf pertama mereka.

“Kamu bisa masak?” Tanya Toni, tujuh bulan yang lalu. Atau empat bulan sebelum pernikahan mereka.

“Bisa. Saya suka sekali masak sea food.”

“Oh… Saya tak suka seafood. Saya suka masakan-masakan daging seperti rendang, sate kambing, sapi lada hitam, pokoknya setiap olahan daging.”

“Saya malah tidak suka dengan daging. Saya lebih suka sayuran dan seafood.”

Pengakuan yang kemudian dipinggirkan oleh mereka. Saat obrolan dalam ta’aruf itu menyinggung hobi, terungkap pula bahwa hobi mereka pun berbeda. Toni menyukai dunia petualangan alam, sedangkan Reni lebih menyukai dunia sastra. Ada pertemuan antara kedua hobi dua insan itu, yaitu suka menonton pertandingan sepakbola. Hanya saja, lagi-lagi ada perbedaan yang bertolak belakang. Tim favorit Toni adalah Real Madrid, sedangkan tim favorit Reni adalah Barcelona. Dua musuh bebuyutan di Liga Spanyol.

Toni dan Reni juga hadir dari latar belakang adat yang berbeda. Keluarga Toni bersuku Minangkabau. Kampungnya di Batusangkar. Sedangkan Reni adalah putri Solo, meski bukan keluarga keraton. Kelemah lembutan keluarga Solo tentu bertolak belakang dengan karakter keras Sumatera. Dan itu terbawa pada karakter dua orang tadi. Toni orangnya keras dan sedikit tempramen. Sedangkan Reni lemah lembut.

Setelah menikah, Toni sering tidak sabaran dengan Reni yang suka lambat dalam melakukan sesuatu, misalnya saat berkemas untuk berpergian. Dan bila begitu, Toni sedikit berang. Kalau bertepatan dengan masa PMS-nya, Reni menitikkan air mata oleh nada yang sedikit naik dari suara Toni.

Perbedaan karakter itu dengan jujur telah mereka akui saat ta’aruf. Tapi mereka akhirnya bersepakat untuk tetap melanjutkan proses ta’aruf itu ke jenjang pernikahan. Apa alasannya? Mereka sepakat bahwa visi dan misi pernikahan yang klop lebih mereka dahulukan daripada hal remeh temeh soal hobi, makanan kesukaan, dan karakter. Lagipula pikir mereka, karakter bertolak belakang justru cocok dibawa ke pernikahan. Bila yang satu pemarah, yang satu penyabar; yang satu periang, yang satu pendiam. Itu lebih cocok dari pada dua-duanya pemarah, atau dua-duanya pendiam di dalam rumah.

Dan setelah keduanya dipersatukan dalam ikatan yang sah, perbedaan-perbedaan itu tentu mereka temui. Mereka mencoba melebur perbedaan itu dengan salah satunya membuat perjanjian yang mengharuskan salah satu dari mereka membiasakan diri dengan kebiasaan pasangannya. Efektifkah?

*****

Pintu terbuka setelah Toni mengucapkan salam di depan rumah. Dengan senyum manis yang membuat Toni bersyukur telah pernah dan akan terus melihatnya, Reni membuka pintu. Toni masuk ke dalam rumah sembari melepas peci yang ia pakai untuk sholat isya’ di musholla tadi.

“Laper nih say.”

Toni bergegas ke ruang makan. Sebuah tudung saji telungkup menyembunyikan makanan yang ada di dalamnya di tengah meja makan. Toni membuka tudung itu. Dan… Tampak cumi goreng tepung tersaji manis di sebuah piring. Di piring sebelahnya, hijaunya sayur bayam tercium harumnya. Toni celingak-celinguk mencari alternatif masakan lain. Ada!!! Udang saos padang… Seafood juga.

“Gak ada yang laen say?” Tanya Toni.

“Selamat menikmati cumi dan udang yang aku masak dengan hati penuh cinta, bang.”

“Dek, please… mag abang udah kambuh nih…”

“Kan perjanjiannya gimana bang?”

Toni menghela nafas panjang. Ditariknya sebuah bangku di depan piring terisi nasi yang sudah disediakan oleh Reni. Agak bingung Toni ingin mengambil yang mana. Ia pilih bayam, karena ia netral dengan sayuran. Untuk lauknya, ia ambil sedikit cumi dan sedikit udang. Toni membaca basmalah dan mulai menyantap.

“Aduh…” Ujar Toni setelah sebuah suapan.

“Kenapa bang? Gak enak?” Tanya Reni yang sudah berada di sampingnya menemani makan malam.

“Enak bagi yang suka. Masakan kamu udah dipuji temen-temenku. Cuma…”

“Kenapa bang?”

“Gak sanggup dek. Masak telor dong.”

“Abis bang. Gak ada telor di kulkas.”

“Ya udah, abang beli nasi goreng di perempatan aja.”

Reni menatap Toni pilu. Ia tahu karakter keras suaminya. Tak berani Reni menagih perjanjian yang ia buat kemarin, beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Perjanjian agar satu sama lain harus mencoba melenyapkan perbedaan dengan cara membiasakan hal yang tidak disukai masing-masing pihak.

“Maaf, bukannya abang ingkar janji. Eh… memang ingkar janji ya.. Tapi maag abang lagi kambuh nih. Kalo dijejelin sama makanan yang abang ga suka, khawatirnya tambah parah.” Toni meminta pemakluman.

“Iya gak apa-apa. Nitip telor ya bang, buat besok pagi. Buat abang sarapan, kalo abang ga makan cumi atau udangnya.”

“Insya Allah.” Toni meneguk segelas air dan kemudian melangkah menuju pintu.

Belum sampai Toni menuju pintu, handphonenya di dalam kamar menderingkan ringtone tanda ada panggilan masuk. Toni berbelok menuju kamar.

*****

“Kamu sudah mantap sama dia?” Tanya Toni pada lawan bicaranya di telepon. “Dia bukan orang minang. Kamu yakin bisa cocok? Kalian akan menemui banyak perbedaan, dan itu cukup mengganggu dalam rumah tangga.”

Ucapan itu terdengar oleh Reni yang berjalan menuju kamar.

“Pikirkan dulu masak-masak.” Suara Toni mencoba meyakinkan lawan bicaranya bahwa perbedaan antara dua insan akan menjadi penghambat pernikahan yang samara.

“Hendri ya bang? Boleh aku ikut bicara?” Suara Reni menyela obrolan via udara itu. Reni sedikit ragu, tapi memberanikan diri. Hendri adalah adik kandung Toni.

“Kenapa say? Bentar, abang aktifin loud speaker.” Toni memencet sebuah tombol di handphonenya. “Hen, mbak mu juga mau ngomong.”

“Gak masalah, Hen kalau kamu sudah mantap dan sudah istikhoroh. Kan Allah sudah bilang kalau perbedaan latar belakang suku dan etnis itu agar ada interaksi, ada proses saling mengenal antara manusia.”

Toni mengernyitkan dahinya. Dan dia baru sadar kalau antara ia dan istrinya juga berbeda suku. “Tapi realitanya kan, memang susah menghadapi perbedaan dalam rumah tangga, dek,” argumen Toni.

“Betul, tapi apa satu suku itu lantas sudah pasti satu selera? Om Adnan dan istrinya, sama-sama minang. Tapi perbedaan selera makannya mirip sekali dengan kita, bang.”

“Iya sih.. Itu karena om Adnan orang minang daratan, orang darek, sedangkan istrinya orang pesisir yang terbiasa dengan laut.”

“Nah, lantas harus yang seperti apa? Satu kampung persis?”

Toni terdiam mendengar argumen istrinya.

Reni melanjutkan, “Hen, jangan pusingin selera. Seorang muslim yang sudah tersibghoh atau tercelup hatinya ke dalam Islam, maka fikiran hingga seleranya pun akan ikut terwarnai dengan nilai-nilai Islam. Contohnya, walaupun abang dan mbak Reni beda selera – abang suka nasyid aliran Izzatul Islam, Shoutul Harokah; dan mbak Reni suka yang seperti Snada dan Gradasi, tapi intinya kami sama-sama suka nasyid. Suka lagu islami. Buku bacaan kami pun suka yang islami. Bacaan tentang keluarga merujuk ke bahan bacaan yang islami. Dan banyak lagi persamaan antara kami berdua yang sama-sama suka yang berbau keislaman.”

Reni berhenti sejenak dan melihat ke arah Toni yang sedang duduk di pinggir kasur di sampingnya, menyimak yang dikatakan oleh Reni.

“Kalau masalah perbedaan selera makan, ya itu jauh lebih rendah levelnya dibanding persamaan tujuan, cita-cita, dan visi misi membentuk rumah tangga. Kamu mau cari yang seleranya sama seperti kamu tapi visi misi membangun rumah tangganya beda?

Perbedaan remeh temeh itu insya Allah akan terbiasa kalian hadapi. Yang diperlukan hanyalah lapang dada dan akhlak yang baik. Itu bukan penghalang untuk terwujudnya generasi muslim dari rumah tangga kalian kelak kok.”

Dan pembicaraan itu berakhir meski Toni tetap pada pendiriannya untuk menyarankan mencari calon pendamping muslimah, yang hatinya sudah tercelup dalam pewarnaan Islam, tapi punya banyak kesamaan hal-hal kecil dengan Hendri.

“Abang berangkat ya, cari nasi goreng.” Setelah handphone dimatikan.

“Sebentar bang, kok perut Reni gak enak ya…” Setelah berucap itu, Reni bergegas ke kamar mandi.

“Huek…” Terdengar suara Reni yang seperti tersiksa oleh rasa mualnya.

“Dek, kamu kenapa? Masuk angin? Mag kamu kambuh?” Tanya Toni. Sakit mag memang menjadi salah satu dari sedikit persamaan antara mereka.

“Abang belum liat yang ada di meja kamar?” Tanya Reni dari kamar mandi.

“Apaan?” Toni yang masih di kamar beranjak menuju meja yang terletak di samping kasur. Terdapat sebuah benda seperti stik es krim. Benda itu memperlihat dua garis nyata di tengahnya.

“Ini apaan dek, yang kayak stik es kirm?”

“Itu test pack bang. Kalau garisnya satu, tandanya tidak hamil. Tapi kalau ada dua garis, berarti hamil.”

Toni terdiam. Sumringah. Senyumnya mengembang. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga tak karuan.

“Kamu benar, dek. Celupan Islam-lah yang menyatukan selera kita. Juga dengan sesosok jasad belum sempurna yang kamu kandung. Ia akan menjadi bukti kuat bahwa kesamaan cita-cita dalam rumah tangga mengalahkan perbedaan remeh temeh antara dua manusia. Abang bangga padamu dek.” Ujar Toni dalam hati.

“Bang?” Reni memanggil suaminya. Mualnya sedikit hilang, dan ia beranjak ke dalam kamar. Didapatinya suaminya sedang bersujud syukur dengan suara sesenggukan.

 
2 Comments

Posted by on June 2, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Jodohku di Tangan Pembinaku

ta'aruf

“Sah ya?”

“Saaah!!!”

Hepi tersenyum sumringah. Ia mengulurkan tangan kepada orang yang ada di depannya yang baru saja membeli kambing kurbannya. Si pembeli menyambut tangan Hepi. Mereka berjabat tangan, erat.

“Ngomong-ngomong, ente sendiri kurban gak Hep?” Si pembeli bertanya.

“Pengennya sih gitu… Ada sih uang, tapi buat keperluan laen yang gak kalah mendesak.”

“Wuiih.. keperluan apaan tuh? Emang keperluannya bisa ngalahin keutamaan berkurban.”

“Insya Allah begitu.. Kurban kan sunnah muakaddah. Kalo yang ini… Bisa dikatakan wajib lah..”

“Oke deh. Semoga urusannya dipermudah Allah.”

“Amiin.. Amiin ya Robbal’alamiin…” Hepi mengaminkan dengan penuh penghayatan.

Si pembeli berlalu. Ia adalah pembeli kambing kurban ke-empat yang Hepi dapatkan semenjak seminggu yang lalu ia mengedarkan brosur hewan kurban kepada orang-orang yang dikenalnya. Hepi benar-benar senang luar biasa. Terbayang uang tabungannya yang ia persiapkan untuk menikah sudah bertambah. Dan muncul pula rasa optimis bahwa ia sudah memiliki pekerjaan yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya kelak bila ia menikah. Hepi senang, yakin, dan bertambah semangat.

Sejak enam bulan yang lalu Hepi mulai merintis berbagai usaha dan mulai mengumpulkan uang. Tujuannya hanya satu: menikah. Hepi yang sedang kuliah semester 6 merasa sudah saatnya ia menikah. Selain karena ia sudah memasuki usia aqil baligh, ia juga merasa sudah menemukan jodoh yang tepat untuk dinikahi.

Adalah Nita, seorang aktifis Rohis Kampus yang menjabat ketua keputrian yang menyebabkan Hepi bertekad bulat untuk menikah. Perasaan suka di hati Hepi sudah mulai tumbuh sejak satu setengah tahun yang lalu. Sosok Nita memang mudah membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan itu yang terjadi pada Hepi ketika melihat Nita yang saat itu masih menjabat sebagai sekretaris Departemen Keputrian melakukan presentasi program kerja di sebuah acara Rapat Kerja kepengurusan baru.

Setelah jatuh cinta pada pandangan pertama itu, mulanya Hepi tidak terlalu menuruti perasaan yang aneh pada dirinya. Tapi beberapa kali pertemuan dan beberapa interaksi membuat kekagumannya bertambah. Posisi Hepi di Organisasi Rohani Islam Kampus sebagai anggota Departemen Syiar memang sering berurusan dengan Nita bila ada agenda Keputrian yang akan melaksanakan acara dalam skala besar. Syuro-syuro kecil yang cuma dihadiri oleh beberapa orang, hingga syuro agak besar yang melibatkan beberapa department, memberikan bayangan kepada Hepi seperti apa sosok Nita itu. Dan makin hari makin bulat tekad Hepi untuk hidup berdampingan bersama Nita.

Hingga enam bulan yang lalu, setelah Hepi mengikuti “Dauroh Pra Nikah”, sebuah training persiapan pernikahan untuk mereka yang akan melaksanakannya, Hepi memutuskan untuk memulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menikah. Tabungan, pekerjaan, penghasilan, ilmu, semuanya ia kejar. Ia kumpulkan buku-buku pernikahan, walau pun membeli dari sebuah toko buku loak yang ada di belakang kampusnya.

Di kajian pekanan yang dibina oleh Imran, seorang alumni yang pernah menjabat sebagai Ketua Rohis periode tiga tahun yang lalu, Hepi memberanikan diri mengangkat tema-tema pernikahan. Hepi tahu, kakak pembinanya itu belum menikah. Tapi Imran tetap meladeni diskusinya. Bahkan Hepi menantang Imran untuk berlomba adu cepat siapa yang lebih dulu menikah. Saat tantangan itu dilontarkan, dengan sedikit tertawa, Imran yang sudah bekerja mapan di sebuah Bank Syariah menyanggupi tantangan Hepi.

Tapi Hepi tidak pernah menceritakan kepada Imran tentang ketertarikannya dengan Nita. Ia hanya berharap suatu saat Imran memudahkan permintaannya untuk ber-ta’aruf dengan Nita bila saatnya tiba, dan tidak memberatkannya dengan pertimbangan yang aneh-aneh. Hepi agak khawatir saat beberapa teman tempat curhatnya menyinggung masalah “sekufu’”, dalam artian Hepi tidak sekufu’ atau tidak cocok dengan Nita. Bukan masalah keturunan, bukan masalah harta kekayaan, atau pun kecerdasan, tetapi masalah tampang. Untuk masalah ini, Hepi tak bisa berbuat apa-apa karena dari sananya cetakannya sudah seperti itu. Ia berharap bisa berproses tanpa terganggu selisih tampang yang timpang.

*****

Hepi berjalan menelusuri jalan setapak yang mengantarkannya pada sebuah peternakan di pinggir kota, di sore yang terik saat matahari bebas melempar cahayanya ke bumi tanpa penghalang. Peternakan Haji Yamin, di sana Hepi punya investasi berupa empat ekor kambing dan sepetak kolam yang berisi puluhan ikan Lele. Investasi itu rutin mengalirkan uang kepadanya tiap bulan dengan sistem bagi hasil dengan pemilik peternakan.

Di depan pintu gerbang peternakan, ada sebuah pos tempat petugas keamanan berjaga. Di sana sedang duduk seorang seumuran Hepi sembari membaca sebuah buku. Hepi melontarkan salam kepada orang itu.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam. Eh Hepi… sudah laku berapa?” Orang itu menjawab salam dan menyambut Hepi dengan pertanyaan.

“Alhamdulillah udah dapat enam pembeli. Sendirian aja, Wal?” Hepi memasuki ruangan pos jaga, menyeret sebuah bangku, dan duduk di samping Awal, orang yang disapanya.

“Iya… Lagi baca buku tentang nikah. Gak mau kalah sama ente. Hehehe…”
“Haha… Awaal.. Awal… Mau nikah sama siapa? Udah ada calon? Jangan-jangan kita ngincer orang yang sama lagi…” Hepi cengengesan.

“Santai aja Hep. Ane cukup tau diri untuk ngejer-ngejer Nita. Emangnya ente? Modal nekat doang.” Awal mengambil sebuah gelas kosong di atas meja di depannya, lalu menuangkan air ke gelas itu dari sebuah teko. “Minum Hep!” Tawar Awal.

Hepi yang haus langsung menghabiskan air dari gelas itu.

“Enak aja nekat. Investasi ane ini adalah modal buat berumah tangga. Bukan modal nekat.” Ujar Hepi setelah dahaganya sembuh.

“Haha… Kalo cuma modal ternak, ane udah dari dulu nikah dong. Ente aja yang cuma investasi di peternakan Abah ane berani nikah, masa’ ane enggak.”

“Nah, tuh nyadar. Emang kenapa belum mau nikah? Modal harta udah ada.”

“Entar deh. Belum punya ilmu.”

“Alasan ih… Makanya banyak baca dong. Kalo masalah ilmu mah… kita akan selalu merasa kekurangan.”

“Ente udah banyak baca buku nikah kan Hep? Udah siap dari sisi ilmu?”

Hepi mengangguk. “Ya Insya Allah begitu.”

“Coba sebutin rukun nikah!” Tertawa kecil, Awal menguji Hepi.

Hepi gelagapan. “Mempelai pria, wanita, wali, penghulu dari KUA, saksi…”

Awal tertawa terbahak-bahak. “Ngawur ya.. Sejak kapan petugas pencatat nikah masuk jadi rukun nikah? Ah payah niiih… katanya udah siap dari sisi ilmu?”

“Ya setidaknya di Negara kita kalo mau nikah kan harus ada petugas pencatat nikah dari KUA. Hepi tersipu.”

“Maaf Hep.. Ane gak yakin ente diperbolehin nikah sama Bang Imran. Ente belum siap deh Hep.”

Awal dan Hepi berada pada satu kelompok kajian pekanan yang sama di bawah binaan Imran. Awal juga anggota Rohani Islam. Ia menjabat sebagai Bendahara.

“Jangan gitu Wal. Jangan nakut-nakutin. Untuk masalah jodoh, ana gak mau diatur-atur. Walau pun sama orang tua. Apalagi cuma sama Bang Imran.”

“Kalau Bang Imran gak mau memperantarai ente untuk ta’aruf dengan Nita, gimana?”

“Ane nekat aja, langsung ngajak Nita ta’aruf. Gak pake perantara-perantaraan.”

Awal mengangguk. Hening sesaat di antara mereka.

“Hep, mau mendengarkan nasehat ane?”

“Mau insya Allah. Kalo gak mau, berarti hati ane udah mati.”

“Kalau antum meniatkan pernikahan itu sebagai ibadah, maka antum gak akan masalah walau pun menikah bukan dengan Nita. Karena fokus ibadahnya bukan pada menikahi Nita, tapi pada menikahnya itu sendiri. Keikhlasan antum menikah karena Allah itu diuji saat antum gagal menikah dengan Nita. Kalau antum ikhlas, maka antum gak akan kecewa karena masih banyak kesempatan. Tapi kalau antum kecewa berat, maka niat antum adalah cuma mau menyenangkan diri dengan menikah dengan Nita, bukan sebagai penghambaan kepada Allah. Begitu Hep.”

Mereka berdua diam. Hepi termenung seperti mencerna kata-kata Awal.

“Memang berat bicara niat kalau sudah terlanjur punya pilihan.” UjarHepi.

“Ana gak mempermasalahkan ente punya pilihan. Tapi jangan sampai pilihan itu menutupi niat karena Allah. Ah… susah kalau bicara niat. Terlalu filosofis jadinya.”

“Iya Wal.. iya…”

“Mudah-mudahan ente gak kecewa, Hep.” Awal tertawa.

“Lho, kenapa Wal? Ente yakin Bang Imran akan menolak permintaan ana? Jangan-jangan ente cuma menggertak, karena ente juga ngincer Nita kan?”

“Bukan. Ya… ada lah… liat aja nanti.” Awal menyembunyikan sesuatu.

Saat matahari makin terperosok ke ufuk barat dan mendekati waktu maghrib, kedua sahabat itu beranjak ke kampusnya. Ada jadwal kajian pekanan malam itu di Masjid Kampus. Dan Hepi sudah bertekad bulat menyampaikan keinginannya ta’aruf dengan Nita kepada Bang Imran.

*****

Kajian pekanan malam itu sudah mulai berakhir saat Imran memimpin doa penutup majelis. Sembari mencicipi makanan yang terhidang di tengah lingkaran, delapan orang peserta kajian bercakap-cakap. Hepi semakin berdebar jantungnya menanti saat yang tepat untuk meminta kepada Bang Imran untuk berbicara empat mata.

“Ikhwan fillah, ada yang mau ana sampaikan.” Ujar Imran menyela percakapan mereka.

“Apa Bang?” Tanya salah seorang dari mereka.

“Yah, ana punya ini…” Imran mengeluarkan beberapa buah undangan yang terbungkus rapi dengan plastik. Dibagikan undangan itu kemasing-masing anak. Mereka membuka undangan itu tak sabar. Termasuk Hepi. Sebuah undangan pernikahan.

“Afwan Hep. Untuk masalah nikah, ana menang dari antum ya… Ana menikah duluan. Diizinin ya Hep?” Imran tertawa menggoda.

“Insya Allah, bang. Barakallah.” Jawab Hepi. Berbisik dalam hati, Hepi berkata, “Kalahnya gak telak kok Bang. Ana juga bentar lagi bakal nikah dengan…. Nita.”

Belum sempat Hepi membuka undangan dan melihat dengan siapa Imran menikah, suara gemuruh di masjid yang sepi itu bergema dari anak-anak pengajian.

“Dengan siapa?” Hepi membatin dan makin penasaran. Dan saat ia membaca naskah undangan itu, terasa sesak di hatinya saat melihat nama Renita Kusuma terpampang di undangan itu. “Nita…” Ujarnya membisik.

Sebuah tepukan mendarat di pundak Hepi. “Ana udah tau duluan Hep. Mudah-mudahan kata-kata ana tadi sore bisa menguatkan antum.” Suara milik Awal.

Hati Hepi tak karuan. Gemuruh… dan mendung…

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Ketika Rijal Harus Memilih

ekstra kurikuler sekolah

Mentari pagi menemani perjalanan Rijal ke sekolahnya. Ada sekitar 300 meteran dari jalan raya menuju sekolah Rijal. Perjalanan itu ia lalui dengan kecepatan sedang, karena waktu baru menunjukkan pukul 06.45 WIB. Sedangkan ia baru masuk pada pukul 07.15 WIB.

Sinar mentari tidak-lah terlalu garang. Justru bersahabat karena sinar mudanya menyehatkan tubuh. Namun Rijal sama sekali tidak tertarik untuk menikmati sinarnya. Karena ia sedang gamang, hatinya pada kegundahan yang bergelora.

“Lihat Juli, kakakmu, Rijal! Dia aktif. Ketua OSIS di sekolah-nya waktu dia masih SMU. Bahkan kesibukannya jadi ketua OSIS, tidak menghalangi dia untuk tetap jadi juara kelas.” Tukas Papa Rijal suatu ketika, sorenya saat hari itu dia dinyatakan diterima di salah satu SMU di Bandar Lampung. Memang bukan sekolah unggulan pertama, tapi SMU yang akan dia masuki itu berada di jajaran SMU favorite di kotanya.

“Tapi Pa, kan Rijal sibuk di Grup Band Rijal. Rijal nggak bisa ikut kegiatan gituan. Nggak ada waktu.”

“Kamu ini. Apa sih yang didapat dari main band? Cuma sekedar hura-hura. Nggak ada manfaatnya itu.”

“Ah Papa. Musik kan juga bisa ngasilin uang.”

“Memang, Tapi Papa nggak mau kalau kamu besar nanti jadi pemusik. Nggak kepingin tah kamu jadi Om Heru? Sekarang jadi manager di perusahan besar. Masa depannya lebih terjamin. Kalau kamu cuma jadi pemusik, kamu cuma bisa dapat uang banyak waktu kamu terkenal saja. Saat kamu tidak lagi terkenal, otomatis karirmu terhenti.”

“Papa selalu deh ngebandingin Rijal dengan orang laen. Rijal pengen jadi diri Rijal sendiri.”

“Rijal, sampai kapan kamu selalu membantah omongan orang tua?”

“Sudah-sudah. Jangan bertengkar terus. Nggak Papa, nggak anak, selalu ribut, selalu beda pendapat. Coba sekali-kali akur gitu.” Mama Rijal menengahi keributan itu. “Rijal, katanya kamu ada latihan jam lima. Ini sudah jam empat lho. Mandi lagi sana.” Lanjut Mam Rijal.

“Ih, ibu ini. Malah memberi kesempatan Rijal hura-hura dengan teman-temannya.”

“Nggak papa tho Pa, dia kan masih muda. Perlu kesenangan juga. Kita kan dulu pernah muda juga.” Bela Mama Rijal.

“Ah, nggak Mamanya, nggak anaknya, semua pada suka membantah.” Papa Rijal kesal. Dan kemudian meneruskan bacaan korannya.

Dialog itu membayang di benak Rijal. Mengantarnya ke kelas yang baru seminggu ia tempati.

Begitulah, Rijal dituntut oleh kedua orangtuanya untuk mengikuti jejak kakaknya. Aktif di organisasi dan berprestasi besar. Dia sendiri ogah untuk mengikuti organisasi di sekolah barunya. Dia lebih cenderung untuk menyibukkan diri dengan teman-temannya di grup bandnya. Itulah yang menyebabkannya bimbang kini.

*****

“Rendi, lu ikut yang mana kira-kira. Paskibra, PMR, Pramuka, KIR, Pecinta Alam, Olahraga? Atau lu mau ikut Ro… apaan tuh yang ada islam-islamnya?” Tanya Rijal kepada Rendi, temannya yang baru seminggu ia kenal semenjak Masa Orientasi Siswa.

Ini hari terakhir Masa Orientasi Siswa, atau yang disingkat dengan MOS. Ada pertunjukkan dari semua organisasi ekstrakurikuler di lapangan. Semua siswa kelas satu berada di pinggir lapangan menyaksikan pertunjukan yang akan dibawakan oleh kakak kelasnya, yang merupakan utusan dari ekskulnya masing-masing.

“Rohis maksud lu?” Tanya Rendi balik.

“Yo’e. Lu tertarik? Biar jadi alim kan. Ciee.”

“Nggak tau tuh. Males kayaknya ikut ekskul. Mendingan gua maen play station di rumah. Nggak diwajibin kan ikut ekskul?”

“Nggak kok. Kalau sama sekolah nggak diwajibin. Tapi kalo sama ortu gua diwajibin. Gua harus ikut biar kayak kakak gua yang dulu ketua OSIS. Pusing juga gua jadinya.”

“Kaciaan.”

“Lu jadi penasehat gua ya, Ren. Tunjukin yang mana kira-kira ekskul yang cocok untuk orang cute kayak gua ini.”

“Ok deeh.”

Sebuah organisasi mendapat giliran mengadakan pertunjukkan di tengah lapangan. Mereka membawa dua bejana kecil, berisi zat kimia. Kemudian mencampurnya di atas meja yang telah di persiapkan. Asap warna warni tak lama mengepul dari bejana yang telah dicampur dua zat berlainan itu. Penonton bertepuk tangan.

“Itu aja Jal. Nambah pengetahuan lu kan.” Nasehat Rendi.

“Ih, gua ogah sama yang begituan. Nanti botak lagi kepala gua.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu bego.”

Tak lama, gantian sebuah organisasi mengadakan pertunjukan baris berbaris di depan.

“Nah, itu aja. Bisa nambah disiplin.” Nasehat Rendi lagi.

“Ah males. Gua mau yang bebas. Nggak mau yang diatur-atur.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu pemales.”

Kemudian sebuah organisasi mengadakan pertunjukkan. Tujuh orang maju ke depan. Mereka menyanyikan lagu keislaman. Suaranya cukup harmonis. Lirik lagunya pun menyentuh.

“Nah, itu aja. Biar lu jadi anak yang soleh.”

“Ah males. Ngaji gua belum lancar. Lagian tuh grup musik kok aneh? Nggak make alat musik.”

“Oh, itu namanya nasyid. Memang nggak make musik. Tapi make suara mulut kayak acapella.”

“Ih, kuno amat ya? Enakan dengerin Padi, musiknya ok punya. Nggak mau lah gua ikut begituan.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu bejat.”

“Lu komentar m’lulu dari tadi.” Rijal sebal.

Akhirnya sampai selesai acara, tidak ada satu organisasi pun yang tertarik di hati Rijal. Ia lebih menggandrungi dunia musik. Dari pada ikut organisasi ekstra kurikuler.

*****

Sholat jum’at sudah selesai dilaksanakan di masjid sekolah Rijal. Murid dan guru sudah banyak yang meninggalkan masjid. Rijal masih terpaku di tempat duduknya. Terngiang kembali perdebatan alot antara dia dan orangtuanya.

“Nggak ada yang menarik Paa. Ngeliat pertamanya aja udah bosen. Papa ini gimana sih. Orang nggak mau juga, pake dipaksain segala.” Suara Rijal meninggi setelah dia didesak oleh Papanya untuk mengikuti salah satu organisasi ekstrakurikuler di sekolahnya.

“Ini kan juga untuk kepentingan kamu.”

“Kepentingan sih kepentingan. Tapi liat selera orang dong. Masak yang nggak selera di paksain. Nanti muntah jadinya.”

“Pokoknya Papa nggak mengizinkan kamu ikut band lagi. Papa nggak akan membelikan kamu gitar listrik. Dan uang jajan kamu juga akan dikurangi kalau tidak mau ikut organisasi di sekolah. Titik.” Papa Rijal mengeras. Kemudian berlalu memasuki kamarnya.

Tinggal Rijal terpekur ditemani ibunya.

“Ikut saja lah kata Papamu itu. Toh, Papa itu sayang kamu. Ingin melihat kamu jadi orang besar nantinya.” Suara Mama Rijal lembut.

“Ma… Mama masih bisa ngertiin Rijal kan?”

“Ia sayang.”

“Rijal pengen jadi apa yang Rijal mauin. Rijal nggak suka dipaksa-paksa.”

“Ok, Rijal sekarang pengen jadi pemusik. Tapi ingat, Rijal masih muda. Keingingannya sering berubah-ubah. Dulu Rijal ingin jadi pilot, eh nggak lama berrubah ingin jadi astronot. Seperti Tasya saja. Lalu Rijal lihat orang pembawa bendera, Rijal ingin menjadi paskibraka. Tak lama Rijal melihat paskibraka itu menyerahkan bendera kepada pesiden, eh Rijal malah ingin jadi presiden.”

Rijal tersenyum lucu. “Iya ya Ma. Terus, gimana dong Rijal. Rijal sekarang pengen bener jadi pemusik.”

“Udah, gini aja. Rijal ikut aja dulu organisasi, lalu kalau Rijal tidak betah, Rijal boleh keluar. Terus Rijal lanjutin maen musiknya. Insya Allah Mama nanti yang bilangin ke Papa.”

Rijal tersenyum girang. Mamanya selalu menjadi penyejuk duka. “Makasih ya, Ma.”

Rijal menemukan jalan keluarnya. Dan kini dia berupaya membetahkan diri untuk mengikuti organisasi. Namun organisasi yang mana yang ia ikuti?
“Assalamualaikum..” Sebuah sapaan membuyarkan lamunan Rijal yang sedari tadi terpekur di masjid sekolahnya.

“Wa..waalaikum salam.” Rijal terkejut.

“Ayo Dik, kumpul.” Seorang kakak mengajaknya bergabung ke salah satu lingkaran di sudut masjid. “Yang lain sudah duluan.

Rijal tak mengerti. Tapi diikutinya juga perintah kakak kelas itu.

Rijal baru tahu. Ini seperti sebuah acara pengajian. Ada membaca Al-Qur’an bergiliran. Dan ada ceramah seperti yang diikutinya saat ini.

“Islam itu agama yang indah dan sempurna. Karena dikonsep oleh Dzat Yang Maha Indah dan Maha Sempurna. Ajaran Islam mencakup dari persoalan ibadah, kedisiplinan, keilmuan, sampai kesenian.”

Rijal mengerti. Ini acara Rohis. Rohani Islam.

“Islam mengajarkan disiplin. Contohnya adalah sholat lima waktu. Islam mewajibkan kita menuntut ilmu. Sehingga lahirlah sosok Ibnu Sina. Islam menyuruh kita berolahraga, seperti memanah, berkuda, beladiri, dan sebagainya. Islam juga memiliki kesenian. Contohnya yang sudah dibawakan oleh kakak-kakak kita saat pertunjukkan kemarin. Sudah lihat kan?”

“Sudah.” Jawab anak yang lain.

“Kemarin itu namanya nasyid. Seni Islam sebagai alternatif dari seni yang ada. Yang cenderung mempengaruhi pemuda Islam untuk terkapar di lumpur yang bernama dunia. Dan melupakan akhirat.

Seni Islam lahir untuk menyaingi itu semua. Syairnya mengajarkan cinta kasih Islam. Dan nggak kalah bagus kan?”

Rijal membenarkan di hatinya. Memang bagus. Dan liriknya juga indah.

Hidayah Allah mulai menyentuh hati Rijal.

Dan acara itu berakhir. Rijal terkesan dengan penggambaran Islam oleh Kak Syaiful tadi. Selama ini, ia hanya terkukung dengan pemahaman Islam yang terbatas. Kak Syaiful telah membuka jendela hatinya, melihat bahwa Islam begitu luas dan lapang. Tidak seperti yang selama ini ia pikirkan.

Ia mengakui kalau dirinya selama ini malas menerapkan Islam dan malu apabila terlihat beratribut Islam. Seharusnya dia bangga.

Rijal mengerti kini. Ia telah mendapatkan jawabannya.

*****

“Ma, Rijal udah nemuin ekskul yang oke punya.” Ungkap Rijal pada Mamanya di malam harinya.

Mamanya sedang membaca majalah di ruang tengah.

“Oya?”

“Iya. Organisasi itu bener-bener hebat. Bisa ngebahagiain Rijal dunia maupun akhirat.”

“Dunia akhirat?” Tanya Mamanya menyelidik.

“Iya. Rohani Islam namanya. Mama setuju kan?”

Mata Mama Rijal berbinar. Selama ini Rijal sulit apabila disuruh belajar mengaji. Walau sudah didatangkan ustadz. Apalagi untuk belajar ilmu keislaman.

Padahal Mama Rijal terlanjur membayangkan ada anaknya yang mengajarinya ilmu keislaman kelak. Yang mengingatinya untuk sholat apabila ia sudah pikun nanti. Dan bayangan itu hampir hilang, karena tidak ada satu pun anaknya yang mau belajar Islam. Juli, kakak Rijal, lebih kepada belajar dan berorganisasi saja. Dan organisasi yang diikutinya tidak ada yang berbau keislaman. Juli sudah dibujuk oleh Mamanya untuk ikut acara Remaja Islam Masjid di Masjid dekat rumah. Namun ia tidak mau.

Rijal lain lagi, ia sibuk dengan musiknya.

Dan kini, Rijal-lah harapan itu.

“Rijal mau aktif di sana, Insya Allah.”

“Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya.”

Air mata Mama Rijal meleleh. Di dekapnya kepala anaknya.

Padang, 2001

 
Leave a comment

Posted by on May 27, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Vonis (Puisi Untuk Mursi & Yusuf Qardhawi)

Mursi
Vonis itu mempertemukan kalian dengan ashabul ukhdud di sebuah reuni di mana nyali-nyali berdenting dengan pedang tiran. Hadir di sana ruh-ruh yang hidup untuk Tuhannya. Jasad mereka telah dimangsa tiran, tetapi ruh mereka dipeluk kasih sayang Tuhan.

Mereka punya cerita yang sama. Tentang pedang, tali, api, gergaji, panah, atau pun peluru yang melantangkan kalimat yang sama: “Demi Allah, Tuhannya ghulam ini.” Terucap sebelum perangkat kejahatan itu melumat jasad pemilik hati yang kokoh. Dan ending ceritanya sama:

Serempak mata semesta melihat pada kebenaran.

Gergaji dan Zakaria akan terus terduplikasi hingga akhir zaman. Salah satunya menitis pada kalian bersama vonis itu. Menandakan keberlanjutan satu seruan yang tak kan putus.

Itulah mengapa aku mengerti apa arti senyum kalian saat palu hakim digebrakkan ke meja hijau. Reuni itu telah kalian harap-harapkan dalam doa di sepertiga akhir malam. Begitu siapnya kalian membersamai ruh-ruh ashabul ukhdud, Sumayyah binti Khayyat, dan saudara-saudaranya.

Vonis itu tiketnya. “Demi Allah, Tuhannya si anak ini.”

*Alhamdulillah dimuat di dakwatuna

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2015 in Puisi dan Cerpen