RSS

Saat Hasrat Berpecah Menggelora

08 Jun

Berpisah

Muka Rohmat memerah. Duduk di salah satu tangga jalan masuk masjid kampus, ia membaca surat keputusan ketua Forum Rohis Peduli (FRP) berulang-ulang dengan diterangi matahari senja.

“Tidak bisa ditolerir… Tidak bisa ditolerir…” Gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Di surat itu, terbaca jelas SK pembentukan panitia rihlah yang mengikut-sertakan beberapa akhwat dalam kepanitiaan.

Rohmat memegang dahinya yang licin karena berminyak. Berfikir keras, mempertimbangkan sesuatu. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah handphone. Setelah mencari nomor yang hendak dihubunginya di phone book, Rohmat mendekatkan handphone ketelinganya.

Sebuah saluran terhubung. Tuuuutt….

“Assalamu’alaikum…” Suara orang di suatu tempat, menjawab panggilan telepon.

“Wa’alaikum salam. Akh Heri, ini Rohmat. Sudah dapat SK Kepanitiaan rihlah dari si Luqman?” Kali ini suara Rohmat.

“Sudah. Kenapa memangnya akh?”

“Gak bisa ditolerir!! Ana kan sudah bilang, kalau rihlah jangan ajak akhwat. Khawatir timbul fitnah.”

“Iya, tapi ini sesuai keputusan syuro akh, Insya Allah hal-hal yang potensial menimbulkan fitnah akan diminimalisir.”

“Minimalisir bukan berarti tidak ada sama sekail kan? Ah, payah si Luqman. Tidak bisa begini caranya. Lama-lama FRP ini ikut-ikutan menyimpang seperti Rohis kampus.”

“Menyimpang bagaimana akh? Antum jangan berlebih-lebihan. Ini sudah jadi keputusan syuro…”

“Keputusan syuro, keputusan syuro. Sama saja jawaban kalian dengan jawaban anak-anak Rohis. Syuro cuma jadi legitimasi penyimpangan. Tidak bisa begini caranya. Sampaikan pada Luqman, ana cabut dari FRP. Wadah ini sudah tidak bisa diharapkan lagi…”

Tuuut… Tuut.. Tuut… Rohmat menyudahi pembicaraannya.

*****

Pukul 12.30 siang di kampus Universitas Bangun Mulia adalah waktu pergantian satu mata kuliah ke mata kuliah berikutnya. Dan saat-saat itu adalah saat di mana masjid kampus penuh dengan mahasiswa yang hendak menunaikan sholat zhuhur. Saat di mana para aktifis Rohis bertemu dan melepas canda. Begitu juga dengan para aktifis Forum Rohis Peduli, mereka memanfaatkan waktu sekitar 12.30 sebagai tempat bertemu dan saling mengakrabi.

Tapi sebuah pemandangan aneh tampak di mata para aktifis Rohis. Luqman dan Rohmat, dua pentolan Forum Rohis Peduli, berpapasan di depan masjid. Luqman memberi salam dan mengulurkan tangan, tapi Rohmat mengabaikan salam dan uluran tangan Luqman.

Beberapa aktifis Rohis yang melihat pemandangan itu terperangah.

“Walah, ada apa lagi ini?” Tanya salah seorang dari mereka berbisik-bisik.

“Jangan-jangan pecah lagi…”

“Yaa… pecah lagi? Jadi FRPP dong… Forum Rohis Peduli Peduli.”

Tawa pecah di tengah kerumunan aktifis Rohis.
*****
Forum Rohis Peduli adalah sebuah organisasi yang mewadahi beberapa mantan pengurus Rohis yang kecewa dengan kepengurusan saat ini.

Semuanya bermula saat terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis. Sebelum Muktamar Rohani Islam Universitas Bangun Mulia yang ke 15, muncul desas-desus Adi dekat dengan seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan Adi. Mahasiswi itu bukan anggota Rohis. Seseorang aktifis Rohis pernah memergoki Adi dan mahasiswi itu sedang bersama-sama di sebuah toko buku.

Kisah kepergoknya Adi dan mahasiswi itu berkembang menjadi cerita yang liar. Ada cerita bahwa Adi berpacaran. Tapi ada juga yang bilang bahwa walau pun tidak berpacaran, seorang aktifis Rohis tidak pantas berdua-duaan dengan wanita non muhrim. Klarifikasi dari Adi sendiri, bahwa ia dan temannya itu tanpa janjian bertemu di sebuah toko buku. Dan keduanya sama-sama hendak membeli beberapa buku kuliah yang sama. Makanya Adi dan temannya itu terlihat beberapa waktu berjalan beriringan. Tapi dengan tujuan hendak mencari buku dan mendiskusikan buku mana yang sebaiknya dibeli. Itu saja.

Terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis mendapat protes yang keras dari beberapa aktifis. Termasuk Rohmat yang adalah kandidat kuat ketua Rohis. Permasalahan ini tidak tuntas karena pemrotes bersikeras ingin agar Adi turun dari posisi ketua, sedangkan Adi dan pengurus yang lain bersikeras menjalankan amanat Muktamar yang dalam AD/ART Rohani Islam Universitas Bangun Mulia adalah tempat pengambilan keputusan tertinggi.

Masalah yang tidak tuntas ini mulai ditumpuk dengan masalah lain saat pemilihan ketua BEM sudah dekat. Hasil musyawarah, Rohis mendukung seorang calon ketua BEM yang bukan anggota Rohis.

“Dani itu anak Rohis juga lho waktu SMA. Dan sampai sekarang dia masih terlibat dalam acara-acara alumni Rohis SMA-nya. Memang dia memilih aktif di BEM saat baru masuk kuliah, daripada aktif di Rohis. Tapi pengalamannya di BEM, dan statusnya sebagai alumni aktifis Rohis SMA, ditambah dengan pengaruh dan dukungan dari teman-teman fakultasnya, saya rasa menjadi alasan yang kuat untuk mendukung Dani. Lagi pula akhlak Dani di BEM sangat baik.” Begitu ungkap Adi, menyampaikan alasan musyawarah mendukung Dani.

Dan saat ditanya mengapa bukan Luqman yang naik menjadi ketua BEM, Adi menjawab, “Luqman itu visioner. Wawasannya tentang keorganisasian cukup luas. Makanya ia ditempatkan membawahi bidang keorganisasian. Ia sangat dibutuhkan Rohis.” Begitu jawab Adi.

Tapi alasan ini tidak diterima oleh Rohmat, Luqman dan beberapa aktifis Rohis lainnya yang semakin membuat kegaduhan. Pendapat mereka, Rohis harus mengusung anggotanya menjadi ketua BEM seperti yang sudah-sudah di tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak percaya anggota luar Rohis memimpin BEM dan mengkhawatirkan BEM menjadi alat legalisasi kemaksiatan di kampus. Akhirnya sejak saat itu, setiap keputusan Rohis selalu mendapat kritik keras dari beberapa aktifisnya. Tidak pernah ada keputusan yang bebas kritik.

Hiruk pikuk ini berujung dengan pecahnya organisasi Rohani Islam. Pemicunya adalah diturunkannya Luqman dari Ketua Bidang Keorganisasian Rohani Islam. Sudah lima kali rapat penting Luqman tidak hadir. Akhirnya Luqman, Rohmat, dan dua puluh aktifis lainnya lintas angkatan membentuk sebuah wadah bernama Forum Rohis Peduli.

Wadah ini berjalan sendiri. Meski ada rasa saling menghormati di antara aktifis Rohis dan FRP. Mereka masih mau untuk sholat berjamaah, dan menerima imam sholat walaupun bukan dari organisasinya.

Wadah ini solid, hingga sebuah keputusan yang membuat kekesalan Rohmat kembali meledak.

*****

Sore itu hujan mengurung dan menyatukan tiga kelompok di ruangan masjid yang cukup luas. Ada kelompok aktifis Rohis, dan ada Adi di sana. Ada kelompok FRP, ada Luqman di sana. Dan ada kelompok Rohmat yang bersiap menetaskan sebuah wadah baru.

Jenuh dengan hujan yang turun, Adi memandangi kedua kelompok yang berjauhan itu. Adi berinisiatif menyatukan mereka. Dengan percaya diri Adi mendatangi bergantian kedua kelompok itu. Agak dipaksa, akhirnya Adi, Rohmat, dan Luqman bersatu juga dalam satu lingkaran. Hanya mereka bertiga, di tengah ruangan masjid.

“Ana benar-benar masih berharap antum semua kembali ke Rohis. Luqman, andai antum menjelaskan alasan ketidak hadiran antum dalam syuro-syuro penting, dan alasannya syar’i, Insya Allah ana terima. Tapi, ana mohon yang lalu kita lupakan saja dan kita membangun dakwah ini kedepan tanpa menengok masa lalu.”

“Tidak bisa.” Rohmat bersuara agak keras. Bersaing dengan suara tetes hujan yang jatuh ke bumi. “Kecuali antum mengakui noda masa lalu antum dengan teman sekelas antum, dan bersedia mengundurkan diri dari Rohis.”

“Afwan akh, posisi ketua ini adalah amanat Muktamar. Ana tidak bisa begitu saja meninggalkan amanat ini. Apalagi alasannya adalah sesuatu yang dituduhkan pada ana padahal tuduhan itu sangat lemah,” Adi tegas.

“Kalau begitu, memang kita tidak pernah bisa bersatu. Terima saja itu. Kita fastabiqul khoirot saja.” Suara Luqman kali ini.

“Ayo laah… Ana tidak mengerti, antum semua keluar dari Rohis membentuk wadah baru. Dan setelah wadah itu terbentuk, antum pun pecah lagi. Gak capek kita begini terus?”

“Ini masalah prinsip soalnya. Sudah lah, benar kata Luqman. Kita bekerja saja. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan siapa yang benar di antara kita.” Jawab Rohmat.

Adi menarik nafas berat.

“Atau… mungkin kita bisa buat acara bersama? Ayo dong… Rohis dengan Mahasiswa Pecinta Alam saja bisa, masa kita tidak bisa?” Dengan tersenyum Adi mencetuskan idenya.

“Acara apa?” Tanya Luqman.

“Ya.. seperti… mungkin seminar Ekonomi Syariah. Sekalian ada pertunjukan nasyid.” Jawab Adi.

“Nasyid?” Luqman bertanya lagi.

“Iya…”

“Siapa aja grup nasyid yang mengisi acara itu?”

“Ya… bisa Azzam12, Nuansa Warna…”

“Nuansa Warna?”

“Iya…”

“Ah… nasyid tidak semangat itu akh. Nasyid seperti itu malah melenakan. Lebih baik mendengar murottal daripada nasyid seperti itu. Kalau Azzam12, masih bisa diterima.”

“Tapi kan seminar itu untuk umum, akh. Kalau orang umum, nasyid seperti Azzam12 susah diterima.”

“Tidak bisa. Itu melenakan. Justru dipertanyakan nilai syar’i-nya.”

“Ya… ya sudah. Mungkin tanpa nasyid saja kali ya.” Ujar Adi, tidak mau berdebat lebih jauh.

“Acara seminarnya untuk ikhwan dan akhwat?” Kali ini Rohmat bertanya.

“Iya lah… Untuk umum.”

“Wah… Kalau begitu harus ada hijab antara laki-laki dan wanita.”

“Dipisah saja mungkin akh. Orang umum akan kaget dengan hijab itu”

“Tidak bisa. Kalau sekedar dipisah, masih ada kemungkinan lirik-lirikan antara laki-laki dan perempuan. Harus ada kain atau sesuatu untuk menghijab!”

Adi terbengong dan habis akal. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan bergumam, “Yah… mungkin sudah ditakdirkan kita berlomba-lomba dalam kebajikan pada grupnya masing-masing.

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: