RSS

Ana Pamit, Ustadz

14 Jun

Waktu terasa berjalan sangat lama saat Dedi duduk berhadap-hadapan dengan Ustadz Hisyam di tengah ruangan sebuah masjid di suatu malam yang sedikit mendung. Ustadz Hisyam adalah pembimbing Dedi belajar Islam yang telah dikenalnya selama enam tahun.

“Bagaimana akhi?” Suara Ustadz Hisyam terasa seperti runtuhan beban berat dari atas langit yang menimpa dada Dedi.

“Ustadz…” Dedi menarik nafas berat. “Mungkin pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir kita. Pekan depan ana sudah tidak akan ada di kelompok ini lagi.”

Dedi menundukkan mukanya. Tak mampu menatap wajah Ustadz Hisyam. Dan pada degup jantung yang berdetak kencang, Dedi menanti dengan cemas respon dari guru ngajinya itu.

“Lho… Kenapa akhi?”

Dedi menduga terjadi perubahan air muka yang drastis pada Ustadz Hisyam. Dari nadanya, jelas ustadz terkejut bukan kepalang.

“Iya ustadz, ana rasa demi kebaikan kita, ana mencukupkan diri di kelompok bimbingan antum.”

“Ada apa? Ceritalah. Antum merasa futur dan mau meninggalkan jalan dakwah ini?”

“Bukan ustadz. Justru karena masih adanya hamasah, ana berniat meninggalkan kelompok ini.”

Ustadz Hisyam makin terkejut mendengar jawaban Dedi.

“Lho… Lalu kenapa antum berhenti halaqoh?”

“Ana tidak berhenti halaqoh, ustadz. Insya Allah ana tetap berdakwah meski tidak berada di kelompok ini.”

“Antum kemana? Beralih ke harokah lain?”

“Bukan juga ustadz.” Dedi menggigit bibir bawahnya. Ia mendapati tanggannya bergetar tak karuan. Entah Ustadz Hisyam melihatnya entah tidak.

“Antum… Antum mau meninggalkan ana saat kondisi ana seperti ini?”

Terdengar oleh Dedi pertanyaan itu adalah tuduhan tidak setia kawan seorang murid yang mengkhianati guru yang sedang ditimpa masalah. Tapi Dedi merasa kesalahan itu tidak layak ikut ditanggungnya.

*****

Wajar bila Ustadz Hisyam menagih rasa setia kawan padanya. Ustadz Hisyam sedang menjauh dari para aktifis dakwah di kampung ini. Bukan aktifis dakwah yang menjauhi ustadz Hisyam sebenarnya, tapi beliau sendiri yang menjauhi mereka. Karena suatu masalah.

Padahal Dedi dulu berada pada kondisi yang lebih parah. Sendirian tak punya kawan, di tengah keluarga yang broken home. Tak ada orang tua yang memberinya kasih sayang. Dedi yang semula anak manis di bangku sekolah dasar, menjadi anak urakan menjelang kelulusan studinya di sekolah menengah pertama. Adiktif oleh obat-obatan terlarang. Menarik diri dari pergaulan.

Dan adalah Ustadz Hisyam yang menjadi penyambung hidupnya saat beliau menemukan Dedi yang hampir bunuh diri enam tahun lalu di toilet masjid Ukhuwah, masjid tempat ia berada kini. Sebuah pisau cutter hampir saja memotong nadinya bila sedetik saja Ustadz Hisyam terlambat memergoki usaha Dedi. Pada setetes air yang bertengger di pelupuk matanya kini, terbayang oleh Dedi kejadian saat itu.

“Hei, kenapa kamu?” Tanya Ustadz Hisyam yang berhasil menyambar pisau dari tangan Dedi.

“Jangan halangin gw. Hidup gw udah ancur. Gw mau mati. Gw pantes mati.” Dedi berteriak di sebuah kamar kecil yang lupa ia kunci. Ustadz Hisyam yang hendak buang hajat, memasuki kamar itu dan tanpa ia duga memergoki pemandangan yang mengerikan.

Dedi mencoba merebut pisau itu tapi gagal. Dan pada akhirnya setelah usaha yang cukup keras Ustadz Hisyam berhasil menenangkan Dedi. Qodarullah, Dedi melakukan transaksi obat-obatan terlarang di teras masjid Ukhuwah yang sepi dan posisinya agak jauh dari keramaian dan pengawasan penduduk. Pada pikiran yang kalut, ia yang kesusahan mencari uang untuk memenuhi ketergantungannya pada obat-obatan terlarang memutuskan untuk bunuh diri saja. Lalu ia beranjak ke toilet untuk mewujudkan hasratnya.

Sejak kejadian itu Dedi yang sudah ditenangkan oleh Ustadz Hisyam, jadi sering tidur di Masjid. Berhasil meninggalkan dunia buruk pelariannya, dan berubah menjadi aktivis dakwah.

Bertahun-tahun Dedi menimba ilmu dari Ustadz Hisyam. Sampai sekarang. Sampai terjadi kondisi rumit antara Ustadz Hisyam dan beberapa aktifis dakwah di kampungnya.

Menurut Dedi, ini hanyalah masalah kesalahpahaman. Ada perbedaan cara pandang pada masalah teknis dakwah. Tapi yang muncul adalah tudingan penyimpangan asholah dakwah. Ustadz Hisyam menjadi sosok yang asing bagi Dedi. Tidak seperti yang ia kenal. Di setiap pekan halaqohnya, tujuh puluh persen isinya tudingan, ghibah, dan cacian. Dedi bingung.

Hingga akhirnya ia teringat nasihat Ustadz Hisyam tiga tahun lalu tentang hidup berjamaah. Bahwa pendapat pribadi yang kita pikir benar, tidak lebih baik dari pendapat hasil musyawarah yang kita pikir salah. Saat itu ustadz Hisyam mengecam karakter orang yang menarik diri dari jamaah, memusuhi saudara-saudaranya di jalan dakwah hanya karena perbedaan pendapat masalah furu’iyah. Dedi mengerti, saatnya kini ia aplikasikan nasihat-nasihat Ustadz Hisyam untuk tetap bersama jamaah dakwah walaupun pahit. Walaupun sang penolongnya enam tahun yang lalu sudah berjarak cukup jauh dari rekan-rekan dakwahnya.

*****

“Ana hanya ingin mengaplikasikan nasihat-nasihat antum tentang hidup berjamaah, tentang prinsip syuro, tentang kelapangan hati pada ikhwah, tentang baik sangka dan ukhuwah, tentang tabayun, dan semua tentang dakwah yang sudah ana kenal.” Suara Dedi bergetar

Dan kini di antara mereka hanya diam. Suara decak cicak membelah, bersautan dengan suara denting besi yang beradu pada jam kuno yang membunyikan tanda pukul sepuluh malam.

“Jadi, menurut antum ana yang tidak menjalankan apa yang sudah ana nasihatkan?” Suara ustadz Hisyam terdengar lirih.

“Ana mencintai antum karena Allah, ustadz. Ana tidak membenci antum. Ana…. ana putuskan ini semua demi kebaikan kita.”

Tangan Dedi menggapai tangan kasar milik ustadz Hisyam. Kasar karena kesederhanaannya, karena kemuliaannya, segan menggantungkan hidup dari ilmu agama yang ia miliki. Sehari-hari Ustadz Hisyam adalah seorang montir yang punya bengkel sendiri. Bukan dari ceramah ia mengisi piring makannya.

Pada wajahnya yang deras mengalir air mata, Dedi mencium tangan Ustadz Hisyam.

“Semoga Allah melembutkan hati kita semua, ustadz. Dan jamaah ini kembali utuh bersama antum. Ana pamit, ustadz.”

Dedi beranjak. Tak mau lebih larut dalam drama kepamitannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: