RSS

Dalam Lindungan Ghorqod

29 Jun

Ghorqod

Angin senja Tel Aviv tercampur debu. Kencang melintas di sela-sela empat orang yang sedang berdiri di halaman sebuah rumah di suatu sudut kota itu. Dua pasang suami istri -sepasang tua dan sepasang muda – beberapa saat saling bertukar pelukan penuh haru.

Seorang wanita muda kedua tangannya menggenggam lengan wanita tua. “Pergilah Ma! Ikut bersama kami. Di New Jersey kalian akan hidup bahagia dengan cucu kalian dan terhindar dari peperangan yang melelahkan ini.” Ujar wanita muda kepada wanita tua yang ia memanggilnya mama.

Wanita tua itu berlinangan air mata. Mengalihkan pandangan pada laki-laki tua yang ada di sampingnya.

“Papa dan Mama sudah bertekad untuk menghabiskan hidup di sini. Di tanah yang telah dijanjikan tuhan pada kita.” Ujar lelaki tua.

“Setidaknya untuk menghindari perang yang semakin buruk ini, Pa. Ikutlah bersama kami. Setelah perang ini selesai, kalian bisa kembali ke sini.” Kali ini laki-laki muda yang angkat bicara.

Lelaki tua menggeleng.

Dan angin senja yang tercampur debu itu mengirimkan suara dentuman pada mereka. Tertangkap di sudut mata mereka kilasan api yang meluncur ke bumi menghantam sebuah gedung tinggi sekitar 500 meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Ledakan besar dan bunga api bertaburan laksana dedaunan Pohon Ghorqod yang dilempar kesana kemari oleh angin musim gugur.

Suara sirine meraung-raung sejak semenit lalu. Banyak orang berlarian menuju bunker menyelamatkan diri. Dan ada juga yang memacu kendaraannya keluar kota. Namun di luar pagar rumah itu, sebuah mobil terparkir menanti ke-empat insan selesai melepas haru.

“Kalian pergilah! Taksi sudah menunggu. Lalu lintas sedang kacau dan macet sekarang. Ada begitu banyak orang yang eksodus meninggalkan kota ini melalui bandara dan pelabuhan. Jangan sampai kalian terlambat dan ditinggal pesawat.” Ujar pria tua.

“Ayolah Ma, tinggalkan Tel Aviv hingga perang selesai.” Wanita muda mengangkat kedua tangan mamanya kedadanya. Memelas.

“Tidak. Pergilah sekarang!” Tegas pria tua.

Dan suara klakson taksi berbunyi memanggil mereka. Hampir tak terdengar akibat tersisipi suara dentuman lain dari suatu tempat. Sang supir pun sudah bergidik ngeri ingin segera meninggalkan tempat itu.

Lelaki muda kemudian mengangkat dua koper besar di tangan kanan dan kirinya. Ia memasukkan barang bawaannya ke bagasi, lalu kembali menghampiri istrinya untuk mengajaknya pergi.

Pasutri muda itu menyempatkan diri melambaikan tangan sembari masuk ke dalam mobil. Hingga setelah semuanya siap, sang supir menginjak gas dengan kecepatan tinggi menuju bandara.

Gilad, seorang lelaki Yahudi tua, orang yang dipanggil Papa oleh pasutri muda tadi memandang ke sekelilingnya dengan mata berkaca. Hasrat ingin menyelamatkan diri memang ada, tapi kecintaannya pada tanah Israel lebih utama. Ia lebih ingin bertahan di tanah yang ia tempati sejak lama.

Menjadi yatim piatu setelah menyelesaikan studinya di University of Nevada 40 tahun lalu di Amerika Serikat, Gilad yang hampir sebatang kara berjuang hidup untuk dirinya dan adik perempuannya. Dan Gilad masih bujangan saat beberapa lama kemudian adiknya dinikahi oleh seorang lelaki Yahudi asal Inggris yang mengajaknya tinggal di Israel, tanah yang diidam-idamkan oleh umat Yahudi.

Gilad adalah seorang insinyur mesin. Ia sudah bekerja di sebuah perusahaan otomotif di New Jersey saat adiknya yang telah tinggal lebih dulu dua tahun di Yerussalem mengirimkan surat pada Gilad untuk mengajaknya membangun negara kebanggaan umat Yahudi. “Pemerintah telah memperluas tanah pendudukan dan membangun pemukiman-pemukiman baru di Tepi Barat,” dalam surat itu. “Dan bangsa kita sekarang sedang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun negara. Hiduplah di sini, hingga akhir hayatmu!”

Diyakinkan oleh surat itu, Gilad hijrah ke Yerussalem menempati sebuah rumah di kota Be’er Sheva. Kota yang indah yang menempanya menjadi pekerja keras dengan penuh kecintaan pada Negara Yahudi.

Karir Gilad cukup mentereng. Kerja kerasnya berbuah rezeki yang melimpah sampai ia dibutuhkan untuk bekerja di ibu kota Israel, Tel Aviv. Di sana lah ia bertemu jodohnya, Golda, seorang wanita Yahudi asal Inggris. Mereka berdua hidup dengan mapan dan memiliki dua orang anak.

Anak kedua mereka, seorang putri bernama Hagar, adalah orang yang tadi mengajak mereka tinggal di New Jersey bersama suaminya. Sedangkan putra pertamanya tinggal di kota Haifa, sebelah utara kota Tel Aviv.

*****

Suara baku tembak terdengar sangat dekat saat pasangan suami istri Yahudi tua sedang menyantap makan malam mereka, mengalahkan suara sirine yang meraung di penjuru kota. Golda, sang istri, berbicara pada suaminya, “tunggu apa lagi? Ayo, sembunyi di bunker!”

“Tidak. Aku tidak mau kesana lagi. Terlalu kotor. Bahkan kotoran manusia bisa berserakan di sana.” Jawab Gilad, suaminya.

“Kita kemana?”

Gilad menunjuk ke arah sebuah pohon yang rindang yang telah ditanam di pekarangannya sejak 20 tahun lalu. “Kesana! Ghorqod akan melindungi kita.”

Mereka berdua menyudahi makan malam mereka dengan segera dan terburu-buru menyelinap ke dalam Pohon Ghorqod. Tapi begitu sampai di Pohon itu, mereka terkejut melihat seseorang bersembunyi di dalamnya.

“Noam, sedang apa kamu di sini?” Tanya Gilad kepada tetangganya.

“Izinkan aku bersembunyi di sini. Di sini masih lapang untuk kalian berdua.” Pinta Noam.

“Tidak. Kami tidak mau berbagi dengan orang lain. Pergi!”

“Aku tidak mau pergi dari sini.”

Mendengar sikap keras kepala Noam, Gilad mengeluarkan sepucuk pistol dari saku bajunya. “Pergi!” ujarnya.

Melihat sepucuk pistol itu, Noam terburu-buru keluar dari persembunyian. “Aku harus sembunyi di mana? Aku tak mau mati!” Teriaknya sembari menangis.

“Mengapa kamu tidak sembunyi di bunker? Terserah kamu sembunyi di mana. Di sana ada puing reruntuhan rumah. Batu-batu itu akan menyembunyikanmu dengan aman. Segera pergi!” Gilad menunjuk ke suatu tempat.

Berlari Noam menuju arah yang ditunjuk Gilad. Dan masing-masing orang sudah berada di tempat persembunyiannya.

Sementara itu suara baku tembak terdengar lebih dekat. Pasukan Palestina berhasil memasuki kota Tel Aviv. Bahkan mereka sudah mengirimkan pesan kepada setiap penduduk Tel Aviv melalui SMS untuk segera meninggalkan kota karena mereka akan merebutnya melalui pertempuran bersenjata.

Dari balik Pohon Ghorqod, Gilad melihat tank Merkava di persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya.

“Kita akan aman. IDF akan menghabisi tentara Palestina.” Bisiknya pada Golda yang wajahnya terlihat pucat. Mencoba menenangkan.

Tapi baru selesai Gilad mengucap kata-kata itu, sebuah tembakan terlihat menuju sebuah reruntuhan puing, tempat bersembunyi Noam, disusul dengan suara jeritan.

Mulut Golda menganga. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Noam tertembak padahal ia sudah bersembunyi di tempat yang tak terlihat?” Tanya Golda pada suaminya.

“Diamlah. Saat ini tak ada tempat yang lebih aman selain pohon ini. Batu dan pohon lain tidak bisa dipercaya saat ini. Mereka akan memberitahu pasukan Palestina bahwa ada yang bersembunyi di balik mereka.” Ujar Gilad penuh kepanikan.

Suasana sangat mencekam. Di depan mata mereka kemudian terlihat Merkava berhasil diledakkan oleh sebuah Rocket Propelled Grenade (RPG) anti tank. Dan tak lama kemudian rumah mereka pun terkena ledakan. Runtuh di salah satu sisinya meski tak mengenai pasangan suami istri Yahudi tua itu yang sedang bersembunyi di balik Pohon Ghorqod.

Gilad dan Golda bergetar menyaksikan pemandangan itu. Berpelukan, mereka berdua menangis sejadi-jadinya. Rumah yang mereka bangun dan tempati bertahun-tahun lamanya hancur sudah. Dan pasangan suami istri Yahudi tua itu hanya bisa pasrah melihat api melalap rumah dan isinya.

Sementara suasana di luar semakin tak menentu. Api menyala di mana-mana. Dentuman di mana-mana. Pesawat F-16 dan Helikopter Apache milik Israel berjatuhan. Malam itu, saat awan mendung menelan bulan, begitu terang oleh api yang dilentikkan oleh mesiu.

“Kita tak akan selamat. Sampai kapan kita bersembunyi di pohon ini?” teriak Golda yang menangis meratap. “Orang-orang Palestina itu akan merebut kembali tanah yang sudah kita rebut dari mereka.”

Gilad melihat ke atas pada sebuah batang. Telah tergantung dua utas tali di sana.

“Istriku, kita telah berjanji untuk mati di tanah ini. Kita berjanji untuk tidak akan pernah pergi dari tanah ini walaupun harus mati. Tapi bukan mati dengan cara dibunuh oleh muslim,” ujar Gilad.

Golda mengerti maksud suaminya. Berdua mereka menggapai tali yang menjuntai yang membentuk simpul dengan sebuah lubang sebesar kepala manusia. Mereka memasukkan kepalanya ke dalam tali itu, dan memenuhi janjinya: mati di tanah harapan.

******

Keterangan:
* Ghorqod adalah pohon milik umat Yahudi, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga muslimin memerangi yahudi. Mereka diperangi oleh muslimin sehingga orang yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon. Batu dan pohon itu berkata: Wahai muslim, wahai hamba Allah, Ini dia yahudi berada dibelakangku, kemarilah dan bunuhlah dia. Melainkan pohon Ghorqod. Sesungguhnya ia adalah daripada pohon Yahudi”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah meramalkan tentang peperangan antara Umat Muslim melawan Yahudi di penghujung zaman, sampai-sampai Yahudi bersembunyi di pohon dan batu atas serangan Umat Muslim. Namun hanya Pohon Ghorqod yang sedikit aman buat mereka.

Saat ini pemerintah Israel tengah menggalakkan penanaman Pohon Ghorqod di negara mereka dengan berkedok reboisasi.

18 Juli 2014

 
1 Comment

Posted by on June 29, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

One response to “Dalam Lindungan Ghorqod

  1. Ndha Andini

    August 3, 2015 at 4:52 am

    Ini buatan nt sndiri, Zic?

     

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: