RSS

Es Krim Vienetta, Social Climber, dan Rasa Syukur pada Orang Tua

Karena banyak permintaan, akhirnya es krim Vienetta kembali diproduksi oleh Walls. Penikmatnya banyak yang ingin sekedar nostalgia dengan es krim mahal dari jaman orde baru ini.

Tapi banyak juga yang penasaran, karena saat kecil mereka belum pernah merasakannya. Harga menjadi alasan yang membuat para orang tua enggan membelikan. Kini setelah lebih sejahtera, es krim yang dulu bikin ngiler itu kini diburu.

Ini tentang para social climber. Tapi maksudnya bukan orang yang bergaul dengan kalangan kelas atas agar terlihat bagian dari mereka. Ada beberapa definisi dari istilah itu. Yang saya maksud adalah parvenu dalam bahas Perancis, yang menurut wikipedia: A parvenu is a person who is a relative newcomer to a socioeconomic class. Mereka yang kini lebih sejahtera dibanding sebelumnya.

Orang-orang yang dulu tak dibelikan orang tuanya es krim Vienetta, tapi kini sanggup beli 2 kali seminggu bahkan tiap hari buat anak-anaknya.

Tentu tak hanya makanan tersebut. Saya yakin pembaca pun ada barang yang waktu kecil bikin ngiler ga mampu terbeli, tapi kini punya kelapangan untuk memiliki benda tersebut kalau masih ada di pasaran.

Dulu ketika saya merengek meminta keju Kraft kepada ibu, saya yakin beliau menahan sesak di dadanya ketika menjawab “di rumah gak ada kulkas,” untuk menolak permintaan saya. Apa daya, makanan sejenis keju cuma bisa saya nikmati ketika diajak ke Jakarta ke rumah saudara.

Na’udzubillah, mungkin ada social climber yang menyalahkan orang tuanya karena hidup dalam keterbatasan saat kecil. Padahal mereka bisa hidup lebih baik saat dewasa karena peras keringat banting tulang ayah dan ibunya.

Tentu saja banyak juga yang bersyukur. Menunaikan perintah Allah swt dalam surat Luqman ayat 14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Untuk kawan-kawan yang baru bisa mencicipi Vienetta setelah dewasa, saya mengajak untuk mengenang jerih payah orang tua – setelah bersyukur pada Allah. Pada rasa dingin dan manis es tersebut, bersitkan kerja keras mereka menyekolahkan kita, membiayai kita kuliah, dan membelikan buku-buku untuk belajar.

Untuk yang pendidikannya lebih tinggi dari orang tua hingga bisa lebih sejahtera, untuk orang yang besar di kampung namun kini tinggal di komplek perumahan di kota, untuk yang kini dimanjakan dengan kendaraan pribadi, saya berpesan bahwa keadaan lebih baik ini bukan untuk menyombongkan diri pada yang telah membesarkan kita.

Untuk yang anaknya lebih termanjakan dengan makanan, mainan, dan barang-barang dibanding dirinya dulu waktu kecil, ingatlah andai kata orang tua Anda mampu mereka bisa saja lebih memanjakan anak-anaknya daripada Anda.

Tak ada salahnya kita beli barang yang dulu kita inginkan, lalu pajang di suatu tempat yang bisa kita sering lihat di samping foto kedua orang tua. Agar selalu terkenang jasa mereka.

 

Rasulullah dan Bunyi-Bunyi Misterius

 

Fenomena dentuman pada dini hari yang terdengar di sekitar Depok dan Jakarta Selatan pada Sabtu, 11 April 2020 kemarin mungkin akan menambah daftar suara misterius di alam yang belum terungkap sumbernya. Acara televisi On The Spot perlu memperbaharui episode yang pernah membahas tentang hal ini.

Kemungkinannya bermacam-macam. Dari suara erupsi anak Krakatau hingga petir di atmosfer. Sebagian orang menganggap hanya fenomena alam biasa sehingga tak perlu takut. Sebagian yang lain khawatir hingga menghubungkannya dengan tanda kiamat.

Namun sesungguhnya bumi memang terbiasa dengan suara misterius. Di masa Rasulullah dan para sahabat, beberapa kali mereka mendengar bunyi yang aneh.

Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda: “Jangan takut! Jangan takut!” kata Anas; “Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i)

Dari kisah di atas, tidak dijelaskan apa penyebab suara tersebut. Hanya keteladanan yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw selaku pemimpin yang menenangkan rakyatnya. Artinya memang benar bukan suatu yang membahayakan, hanyalah fenomena alam biasa.

Rasulullah bukan meremehkan. Beliau bukan tipe pemimpin yang andai ada wabah di Madinah, ia malah mempromosikan wisata di kota yang dipimpinnya itu. Tanggungjawab sebagai orang pertama yang menginvestigasi hal yang dikhawatirkan orang banyak, lalu memberi arahan kepada rakyat, telah ia tunaikan. Ia sigap, bukan becanda-canda dahulu lalu panik kemudian.

Kisah kedua sebagai berikut. Abu Hurairah berkata, “Kami dulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.” (HR. Muslim)

Kalau ini, memang bukan fenomena alam biasa. Tapi fenomena lintas alam. Kejadiannya di neraka, terdengarnya sampai di bumi. Sengaja Allah kehendaki begitu, bukannya salah server, tetapi sebagai sarana tarbiyah para sahabat serta umat muslim yang hanya mengetahui peristiwa ini dari hadits nabi.

Tidak dijelaskan, apakah selain para sahabat yang bersama Rasulullah, ada lagi yang mendengar bunyi tersebut.

Para sahabat memang memiliki pendengaran yang lebih peka dibanding orang biasa. Abdullah bin Mas’ud r.a. memberi kesaksian bahwa pernah ketika Rasulullah saw dan para sahabat disajikan hidangan, mereka mendengar bagaimana makanan itu bertasbih.

Adakah di antara kita yang pernah mendengar kopi dalgona memuji Allah swt? Bisa autoindigo. Atau mendengar makanan menjawab ketika Chef Juna bilang, “rasanya kayak sampah”?

Mereka juga pernah mendengar batang kurma menangis karena fungsinya sebagai mimbar Rasulullah berkhutbah akan diganti dengan yang baru.

Untunglah Rasulullah peluk pohon itu hingga ia berhenti menangis. Kalau tidak, kata Rasulullah, pohon ini akan terus menangis sampai kiamat. Drama Korea bakal kalah sedih dibanding tangisannya.

Kembali ke fenomena menghebohkan di sekitaran Depok dan Jaksel. (Orang Depok menyebutnya dentuman, anak Jaksel menyebutnya “suara keras which is kejadiannya pas in the middle of the night.”) Sikap kita sebagai muslim akan tetap dalam perasaan tak aman atas bencana yang suatu waktu bisa Allah turunkan pada kita.

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang? Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS Al Mulk: 16-17)

Andai fenomena alam biasa, tetap saja hal itu adalah tanda besarnya kekuasaan Allah swt yang membuat kita kagum sembari merendahkan diri.

Ada atau tidak ada suara yang aneh tadi, tetap selalu waspada dengan rajin memperbaharui taubat. Kalau masalah kiamat yang sudah dekat, lebih dekat lagi kematian (kiamat kecil). Tanpa membahas tanda-tanda akhir jaman pun yang namanya memperbaiki diri itu sudah keharusan.

Namun tak perlu paranoid, ketakutan, lalu kehilangan akal sehat. Sampai-sampai membuat, atau percaya, atau menyebarkan teori konspirasi yang sarat cocoklogi. Atau teori konstipasi yang sarat cucokrowo.

Kita kembalikan kepada para ahli tentang asal usul bunyi tersebut. Kalau pun tak terkuak, ya biasa lah… ilmu manusia itu terbatas.

Ingat, alam ini terbiasa dengan suara yang belum teridentifikasi. Bahkan ketika pada malam hari di Madinah ada suara menggelegar menakutkan, Rasulullah hanya bersabda, “jangan takut.”

Yuk, tidak berspekulasi, serahkan pada ahli.

 

Jangan Bosan Bersamanya di Rumah

Harusnya kita bisa menikmati masa-masa ini, ketika terpaksa harus banyak berada di rumah untuk waktu yang belum jelas kapan berakhir. Tapi cerita di negeri Cina dan Australia membuat resah.

Dari negeri tirai bambu, media mewartakan: “Angka perceraian di China dilaporkan meningkat, dikarenakan pasangan “menghabiskan waktu terlalu lama selama karantina virus corona”.” Wah, memangnya kenapa bila terlalu sering bersama pasangan hidup? Bukankah pepatah bilang “jodoh tak kan kemana”? Nah, terwujudlah saat karantina, kita dan jodoh tak bisa kemana-mana.

Sementara dari negeri Kangguru, media menulis: “Australia mengumumkan peningkatan kasus kekerasan sebanyak 75 persen selama wabah virus corona berlangsung.” Apa pasal?” Hanya berada di rumah, stres tak dapat bekerja, atau bepergian dengan bebas ke luar rumah adalah beberapa faktor yang berkontribusi terhadap KDRT,” begitu menurut CEO Wayss Liz Thomas.

Aduh, menakutkan. Rumah yang harusnya menjadi tempat ternyaman, malah membuat bosan. Dan pasangan hidup yang harusnya menjadi tempat melabuhkan kasih sayang, malah penyebab timbulnya stress dan rasa jemu.

Tapi jangan seperti mereka. Jangan bosan dengan belahan jiwa yang telah kita ambil perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho) untuk menyandinginya dalam hidup. Justru jadikan ia sebagai sumber penyemangat hidup. Dalam kebersamaan yang panjang dalam ruang yang terbatas, ada beberapa tips agar tidak merasa jenuh

1. Menghidupkan rumah sebagai arena fastabiqul khoirot.

Saya telah menulis artikel berjudul “Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah.” Ketika mau tak mau harus mengucilkan diri dari keramaian masyarakat, maka jadikan saja itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt. Bersama keleluasaan waktu, berjarak dari sesaknya aktivitas di tengah manusia, maka saingilah para ulama yang zuhud yang telah meninggalkan dunia untuk berkonsentrasi kepada Allah dalam kekhusyukan ibadahnya.

https://zicoofficial.wordpress.com/2020/04/09/karantina-niatkan-saja-sekalian-uzlah/

Jangan sendirian dalam berniat uzlah. Ajak juga istri dan anak-anak. Lalu jadikan rumah kita layaknya masjid di kala Ramadhan yang sibuk dengan bacaan AlQur’an, dzikir, sholat, dll. Insya Allah, ada keseruan baru yang bermanfaat.

2. Menjejaki apa yang diperbuat Rasulullah di rumah.

Mengisi rumah dengan sunnah akan mendatangkan keberkahan di sepetak rezeki yang telah Allah anugerahkan. Apalagi bila kepala rumah tangganya meneladani Rasulullah dalam perilaku, jadilah ia pribadi yang menyenangkan, bukan membosankan.

Semarakkanlah kegiatan di rumah sebagaimana yang diperbuat Rasulullah. Misalnya seperti dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 34.

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”

Ayat itu turun untuk para isteri nabi. Menjadi gambaran buat kita, bahwa rumah Rasulullah menjadi madrasah yang mulia bagi penghuninya. Di mana di sana diajarkan ayat-ayat yang agung dan hikmah-hikmah dari pribadi yang menjadi teladan milyaran umat manusia.

Rasulullah juga memberi tips membangun keceriaan di dalam rumah dalam sabdanya sebagai berikut:

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya lantas ia ikut shalat bersamnya. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan suaminya lantas ia ikut shalat. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Dawud).

3. Akhlak di atas cinta.

Di internet bisa kita temukan artikel yang membahas berapa lama rasa cinta bertahan. Nyala api asmara itu ada jangka waktunya. Misalnya, liputan6 menulis penelitian Universitas Otonomi Nasional Meksiko yang menyimpulkan waktu 4 tahun sebagai keberlangsungan gejolak di dalam hati.

Lalu, setelah asam di gunung dan garam di laut bertemu dalam satu belanga pernikahan, bisa jadi hadirlah rasa jemu setelah rasa cinta yang menjadi penyebab dua insan bersepakat membangun mahligai itu hilang.

Maka akhlaklah penyelamat rumah tangga. Ketika daya tarik fisik telah pudar, masing-masing pihak sudah hafal kelemahan dan kekurangan pasangannya, akhlak yang harus dikedepankan. Memaafkan, menerima apa adanya, menghargai, berlaku santun dan lemah lembut, dan sebagainya.

Meski rasa bosan hadir, akhlak yang terjaga akan melindungi rumah tangga dari pertikaian kecil atau gara-gara yang dicari-cari. Di usia menua yang menggerogoti fisik, hadir keindahan yang lain yaitu akhlakul karimah.

Juga di masa karantina, akhlak yang kokoh tak akan bisa digeser oleh rasa bosan selalu melihat wajah pasangan.

https://zicoofficial.wordpress.com/2014/06/11/akhlak-sebagai-benteng-keutuhan-rumah-tangga/

4. Mengulang masa bulan madu dahulu

Ada joke tentang #dirumahsaja : “Satu hari negatif corona, 14 hari kemudian positif hamil.”

Sebenarnya ada kesempatan yang didapat ketika banyak berada di rumah bagi orang kantoran. Sebelum karantina di hari kerja, suami dan atau istri pulang ke rumah dengan keadaan lelah sepulang dari kantor. Belum tentu malam hari akan berlangsung dengan “hangat”.

Tetapi karena tidak ada aktivitas pergi/pulang, tak terjebak macet, maka kebugaran fisik tetap terjaga sampai malam hari. Dan “kehangatan” itu bisa sering-sering diwujudkan.

Orang bule memberi istilah – bila diterjemahkan – dengan “membuat cinta”. Kenyataannya memang kegiatan itu menumbuhkan cinta. Tak jauh-jauh kok untuk membunuh rasa bosan. Ada kegiatan menyenangkan bersama pasangan yang walaupun telah “dikenyangkan” tapi tak lama timbul lagi rasa “lapar”.

Jadi, jangan bosan di rumah bersamanya.

Mohon maaf kalau tulisan ini tak ramah jomblo.

 

Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah

“Apa yang bisa diperbuat oleh musuhku?” ujar Syaikh Ibnu Taimiyah suatu hari. Mohon koreksi bila ada kesalahan redaksi atau person yang dikutip. “Bila aku dipenjara, maka itu jadi uzlahku. Bila aku diusir, maka itu jadi rihlahku. Dan bila aku dibunuh, maka semoga itu menjadi syahidku,” lanjutnya.

Nah, bisakah kita buat kalimat serupa kepada virus corona yang sedang mewabah? “Kalau gara-gara kamu aku dikarantina, insya menjadi uzlah. Dan kalau kamu sebabkan aku mati, semoga Allah menganggapku syahid.”

Ya, sebagaimana penjara menjadi tempat uzlah, karantina pun bisa. Sehingga kelapangan waktu di rumah termanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hamka dan Sayyid Quthb dalam penjaranya bisa hasilkan karya besar berupa kitab tafsir. Banyak juga ulama lain yang hasilkan masterpiece di balik jeruji.

Ada cerita dari bilik-bilik sempit di Mesir. Penjara itu memuat para aktivis dakwah dari berbagai bidang. Ada yang pakar syariah, juga ada penghafal Qur’an. Alhasil, terbentuklah madrasah baru di ruangan pengap itu yang meluluskan pakar syariah baru dan yang menamatkan hafalannya 30 juz.

Namun karantina akibat wabah ini sangat berbeda dengan suasana penjara. Masih ada keleluasaan beraktifitas di rumah. Bisa makan kapan mau, nonton tivi, maen game, atau bulan madu yang seru bagi pasutri baru. Pasutri lama juga bisa berbulan madu kembali. Namanya juga iseng ya, di rumah aja.

Yang mirip mungkin tahanan rumah, atau tahanan napi koruptor yang mewah.

Dari banyak pilihan aktivitas yang bisa dikerjakan, jangan sia-siakan untuk menjadikannya ajang uzlah. Yaitu aktivitas berdua-duaan dengan Allah swt dalam kemesraan ibadah. Jalan yang ditempuh sebagian orang-orang sholeh untuk mengoptimalkan hidupnya dalam totalitas ibadah kepada Allah swt.

Karantina ini adalah “i’tikaf” kita di rumah. Ketika mushaf merasakan kembali sibuknya ia dibolak-balik, yang biasanya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Ketika sajadah senantiasa basah oleh air wudhu dan air mata. Ketika biji tasbih merasakan hangat jemari kita.

Inilah keluangan untuk banyak bermuhasabah, tafakur, dan tadabur. Inilah kesempatan kita “curi start” rajin beribadah sebelum Ramadhan. Inilah pengganti hilangnya kebiasaan sholat berjamaah di masjid.

Naudzubillah, jangan sampai masa karantina ini diisi layaknya lagu Mbah Surip.

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangun … tidur lagi
Hahahaha…

 

Ibrah dari Tangis Muadzin yang Pecah

Sang muadzin meneteskan air mata. Suaranya parau bergetar ketika menyisipkan kalimat “shollu fii buyutikum” dalam kumandang adzannya. Tangisnya pecah karena harus melihat pemandangan yang tak biasa. Masjid yang selalu penuh kini lengang.

Itu terjadi di negeri luar. Belum berlaku di Indonesia. Meski MUI telah keluarkan fatwa, tapi tak ada paksaan dari pemerintaah untuk meniadakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam keadaan tersebut, orang-orang akan terbagi menjadi 3 golongan.

Pertama, yang sedih dan merasa kehilangan kesempatan sholat berjamaah seperti biasa. Tiap waktu sholat tiba, mereka akan dirundung rindu untuk bersama dengan umat muslim dalam satu shof yang lurus dan rapat seperti sedia kala.

Orang seperti ini sejatinya tidak akan kehilangan pahala berjamaah sekalipun ia terpaksa lakukan di rumah. Karena ia sudah berniat, dan sudah pula ada buktinya dengan kebiasaan yang dilakukan ketika tak ada uzur/penghalang. Tentu kita paham, Allah memberi pahala seseorang atas niatnya walau pun batal atau gagal terlaksana.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR Bukhori)

Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang hadits tersebut: “Ini adalah bagi orang yang terbiasa melakukan ketaatan dan kemudian ia tercegah, dan niatnya jika tidak ada penghalang ia akan melakukan rutinitasnya.”

Golongan kedua adalah orang yang menyesal karena selama ini menyia-nyiakan kesempatan beramal saat dalam kondisi mudah. Ini adalah orang yang tak rutin berjamaah, atau baru berangkat ke masjid ketika sudah iqomah. Ia paham harusnya bisa optimal lagi beramal. Namun rasa malas membuat kualitas ibadahnya pas-pasan.

“Manfaatkanlah masa aman sebelum masa krisis”. Ya, kalimat itu tidak pernah disabdakan Rasulullah saw. Yang ada dalam hadits adalah redaksi berikut: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim)

Namun memanfaatkan masa aman sebelum masa krisis itu sejalan dengan hadits di atas, yang intinya adalah mengoptimalkan setiap kesempatan sebelum hilang.

Golongan orang kedua mungkin tak seperti yang pertama yang menikmati “privilage” pahala yang tetap mengalir karena kebiasaan dan niat. Makanya rasa sesal itu hadir.

Di beberapa daerah, ada yang belum begitu darurat sehingga masih bisa menyelenggarakan sholat berjamaah dengan normal. Maka, bila Anda berada di daerah itu, optimalkanlah amal Anda. Rutinkan ke masjid, dan melangkahlah sebelum iqomat.

Dan bagi yang tinggal di daerah yang dianjurkan untuk beribadah di rumah, masih banyak amal yang bisa dikerjakan. Maka bacalah Al Qur’an sebelum mata Anda tak mampu lagi melihat rangkaian huruf hijaiyah. Kerjakan sholat sunnah selagi akal dan kesadaran masih berfungsi.

Rajin-rajinlah menghubungi orang tua sebelum susah atau tak mungkin mendengar suara mereka lagi. Sayangi anggota keluarga sebelum mereka tak bisa merasakan kasih sayang Anda.

Dan banyak lagi.

Bersyukurlah bila masih ada rasa penyesalan ketika sebuah kesempatan hilang. Karena jangan sampai seperti golongan ketiga.

Yaitu yang cuek, atau bahkan senang dengan kosongnya masjid. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Banjir Jakarta dan SARA

Para relawan kemanusiaan dari berbagai komunitas tengah sibuk mengevakuasi korban ketika Ruhut Sitompul mengeluarkan nyinyiran khasnya di twitter.

“Ma’afkan Kami Tuhan, karena Kesombongan Orang yg terpilih menjadi Gubernur dgn cara SARA Ujaran Kebencian Fitnah & Teror Rakyat Jakarta & Sekitarnya menjadi Korban Bencana Hujan Banjir berkepanjangan karena Ibu Kota tidak Ditata dgn baik hanya Bersilat Lidah saja MERDEKA,” begitu tulisnya di akun @ruhutsitompul, 2 Januari 2020.

SARA kembali diungkit-ungkit. Seperti biasa, bersama nyinyiran kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sementara malam sebelumnya, ormas Front Pembela Islam (FPI) dikabarkan sedang sibuk menyelamatkan warga Tionghoa. JPNN memuat kiprah mereka.

https://www.jpnn.com/news/fpi-evakuasi-warga-tionghoa-dari-banjir-di-bekasi-nih-fotonya

Tak hanya warga keturunan, sebuah video memperlihatkan ormas yang totalitas mendukung Anies Baswedan di pilgub Jakarta 2017 lalu itu menyalurkan bantuannya kepada “orang bule” di tengah banjir.

Tak kalah dengan FPI, Partai Keadilan Sejahtera juga mengerahkan para kadernya turun menerjang banjir. Partai ini lah yang ikut mengusung Anies Baswedan.

Sebuah ucapan terima kasih melalui whatsapp disampaikan oleh seorang warga bernama Bitler Lumbangaol. Ia mensyukuri bantuan PKS di komplek Arsip pada tanggal 1 Januari 2020. “Kiranya Tuhan yang membalas kebaikannya,” begitu tulis bapak tersebut.

Ucapan terima kasih juga datang oleh sebuah nomor whatsapp dengan nama pengguna Grace kepada kader PKS Pondok Gede. Ia mengenang pertolongan yang ia dapat 12 tahun lalu. Dan akunya, sejak itu ia jatuh cinta kepada partai dakwah tersebut.

Tuduhan SARA masih terus dibunyikan. Kendati didapati kejadian yang sebaliknya.

Masih hangat memori aksi 212 dan 112 yang diselingi iring-iringan pengantin non muslim. Para peserta aksi memberi jalan dan kemudahan bagi para pengantin untuk menuju gerejanya. Pemandangan itu jelas memupus tuduhan SARA. Tapi para penuduh tak pernah mempertimbangkan.

Kasus yang sering diangkat adalah kematian Nenek Hindun. Kabar burung mengatakan musholla dekat tempat ia tinggal menolak agar jenazakhnya disholatkan di sana.

Padahal kenyataannya bukan penolakan. Tapi jenazah Nenek Hindun disholatkan di rumah untuk efisiensi waktu karena hari sudah menjelang malam dan ada tanda-tanda hujan akan turun.

Bahkan imam yang menyolati Nenek Hindun adalah ustadz Syafi’i, kader/simpatisan PKS. Dan mobil ambulan yang mengangkut jenazah Nenek Hindun milik Partai Gerindra, partai pengusung pasangan Anies-Sandi.

https://zicoofficial.wordpress.com/2017/03/20/peristiwa-nenek-hindun-ada-mutiara-toleransi-dalam-lumpur-politisasi/

Sindiran “gubernur seiman” juga sering dilontarkan melengkapi tuduhan SARA. Padahal SMRC pernah merilis survei pada Oktober 2016 yang memperlihatkan justru pilihan pemeluk protestan-katolik terkonsolidasi kepada Ahok sampai 95,7 persen.

http://www.teropongsenayan.com/50338-survei-smrc-protestan-dan-katolik-bulat-pilih-ahok

Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) merilis survei serupa di bulan Desember 2016. Hasilnya 90 persen etnis Cina memilih pasangan Ahok-Djarot, 4 persen mendukung Anies-Sandi dan 1 persen mendukung Agus-Sylvi.

https://www.suara.com/news/2016/12/19/013100/survei-hampir-100-persen-etnis-cina-pilih-ahok

Tuduhan SARA itu jauh panggang dari api. Tapi lagu lama dari radio rusak ini terus diputar. Sementara yang tertuduh SARA tengah melakukan kerja kemanusiaan tanpa pandang bulu.

Bagi yang mengeluhkan politik identitas di Indonesia, harusnya sudah paham di mana titik pusat masalah itu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2020 in Artikel Umum

 

Kemana Argumen Kaum Nyinyir Idul Adha Jelang Tahun Baru?

Menjelang perayaan Idul Adha, biasanya bersileweran argumen-argumen yang menghasut atau menakut-nakuti masyarakat yang bertujuan agar hari raya tersebut tidak lagi disakralkan. Uniknya, beberapa hasutan itu sebenarnya relevan untuk perayaan tahun baru. Namun orang-orang itu cuma nyinyir kepada syariat Islam, dan malah mendukung acara mubazir pergantian tahun.

Mereka bilang daripada dibelikan hewan kurban, lebih baik uangnya dialihkan untuk dana pendidikan masyarakat miskin. Karena itu yang lebih dibutuhkan. Tetapi untuk pesta pora masyarakat di malam tahun baru, tidak ada himbauan serupa. Mereka diam atas keborosan yang tak bermanfaat.

Mereka mempersoalkan penyembelihan massal di hari Idul Adha yang menurut mereka tak berperikemanusiaan. Padahal saat malam tahun baru, orang-orang berpesta membakar ikan dan daging barbeque. Tak kalah banyak hewan yang dikorbankan. Tapi mereka tak bersuara.

Mereka coba menakut-nakuti umat Islam dengan penyakit darah tinggi dan kolesterol akibat makan daging kurban. Tapi mereka tidak mengingatkan masyarakat atas bahaya penyakit menular seperti difteri dari terompet yang ditiup bergiliran. Toh tiap terompet sudah melalui uji tiup oleh pembuatnya.

Kini mereka bilang himbauan tidak meniup terompet itu tidak berpihak pada rakyat kecil yang berjualan setahun sekali. Padahal perilaku mereka melarang orang membeli hewan kurban juga tak punya keberpihakan kepada para pedagang.

Mungkin bukan standard jamak. Standard mereka cuma satu: yaitu ritual Islam harus dicemooh.

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2019 in Artikel Umum

 

Yaa ‘Isaa, salam ‘alaika

Wahai Nabi Isa, semoga keselamatan tercurah untukmu. Keselamatan ketika kau dilahirkan, ketika wafat, dan saat dibangkitkan. Aku mengaminkan doamu yang tertulis dalam Al Qur’an surat Maryam 33. Dan semoga keselamatan tercurah pula pada hamba-Nya yang beriman.

Wahai Nabi Isa, para mufassir telah menjelaskan maksud doamu. Bahwa keselamatan yang kau minta dari gangguan setan. Dan semoga kami yang hidup di zaman ini dianugerahi keselamatan serupa. Terlindung dari bujuk rayu setan untuk berbuat syirik.

Wahai Nabi Isa, kami paham jalan keselamatan adalah pada aqidah yang lurus. Sebagaimana ucapanmu dalam ayat 36 surat Maryam: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” Maka tiada keselamatan pada ritual syirik yang menyembah selain Allah swt. Wal iyadzu billah.

Wahai Nabi Isa, ketika kami mendoakanmu selamat, maka tak pantas kami menjadi penyebab kau ditanya oleh Allah swt di akhirat kelak. Pertanyaan yang dikabarkan dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 116. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.”

Wahai Nabi Isa, maka tak seharusnya doamu dalam QS Maryam 33 itu dijadikan pembenar untuk mengucapkan selamat pada mereka yang merayakan sebentuk kemusyrikan. Keselamatan apa kah yang mereka inginkan?

Tanpa ucapan selamat mereka, kau tetap diselamatkan oleh Allah swt. Sementara mereka dengan aqidahnya sedang dalam bahaya. Dan muslim yang berdalil dengan QS Maryam 33 untuk ucapkan selamat yang menyemarakkan kesyirikan, aku ragu doanya akan kembali pada mereka. Padahal doa kebaikan untuk orang lain Allah kabulkan juga buat pemintanya.

 

Rahasia Posisi Surat Al Ikhlas

Pada mushaf standard, letak surat Al-Ikhlas sangat “strategis”. Bila dibuka dari kiri (seperti membuka buku beraksara latin), maka surat tersebut terletak paling atas di halaman paling awal.

Sehingga “Qul huwallahu ahad” beserta artinya akan pertama kali dibaca oleh orang yang penasaran dengan Al Qur’an namun belum paham bahwa kitab suci itu dibaca dari kanan.

Nah, kestrategisan ini lah yang telah mengantarkan banyak orang memeluk Islam. Mereka yang selama ini menganut kepercayaan bahwa tuhan ada lebih dari satu, tiba-tiba disodorkan konsep tauhid. Mereka yang menyangka tuhan memiliki anak, dilahirkan, atau memiliki keserupaan dengan makhluk; diperkenalkan konsep yang lebih mengagungkan tentang Sang Pencipta.

Berikutnya, setelah terbersit kekaguman pada Al Qur’an, lalu mereka sudah mengerti cara membuka mushaf yang benar, bertemu lah dengan ayat awal Al Baqoroh. Bahwa kitab itu tidak memiliki keraguan di dalamnya. Maka bertambah tebal lah keyakinan di dalam dada mereka.

Kelebihan lain, surat Al Ikhlas ini sangat ringkas. Namun cukup memicu timbulnya berbagai tanya dan gugatan di hati orang yang telah salah memahami tuhan.

Bila kemudian Al Qur’an dibuka lebih dalam, akan ditemukan retorika yang lebih menggugah akal. Misalnya dalam QS Al Mu’minun: 91.

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Sehingga, di dalam pengembaraan seseorang mencari Tuhan dalam Qur’an, ia akan diajak berpikir deduktif. Maksudnya ia terlebih dahulu bertemu poin inti tentang tauhid dalam surat Al Ikhlas, baru kemudian penjelasan-penjelasan rinci lebih lanjut di surat lain.

Ini lah salah satu hikmah Allah meletakkan surat tersebut di bagian akhir Al Qur’an. Masya Allah.

 

Benci Kemunafikan Tapi Bangga Dengan Kebejatan

“Munafik!” Terlontar tudingan itu dari lisan seseorang untuk membela kemaksiatan. “Munafik!” Tertulis vonis itu pada komentar berita di jejaring sosial sebagai pembelaan atas gugatan yang menyerang kemungkaran.

Kalau yang dimaksud adalah apa yang terucap tidak sama dengan apa yang diperbuat, maka kemunafikan memang pantas dibenci. Ia haram mendompleng idealisme.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS 61: 2-3)

Tapi apa ganti dari kemunafikan? Kebanggaan atas kebejatan kah?

“Sudah, ngaku aja kalo lu juga suka!” Kalimat itu menyempurnakan vonis munafik. Mengajak para penggugat kemungkaran untuk mengakui bahwa dirinya pun bejat dan tak pantas mengingkari.

Maka begitulah gaya pemuja kemaksiatan. Memeluk erat kebejatan dan simbol-simbolnya, dan kemudian menciptakan tameng berupa “tuduhan munafik” yang akan mereka layangkan pada setiap yang menentang. Seperti pemabuk yang menjinjing ringan botol arak dan berjalan di tengah kampung. Ketika orang kampung mengingatkannya bahwa isi botol itu terlarang, ia balik berteriak, “Hey sadarlah. Kalian pun mabuk!!”

Tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan. Bahkan ketika diri ini memang penuh noda, maka menutupi kekurangan diri – disertai dengan penyesalan – adalah sebuah keselamatan dan bisa menjadi jalan untuk berubah.

Abu Hurairah ra, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (HR Muslim)

Seorang mukmin tak mungkin bangga dengan kebejatan. Karena konsekuensi iman menuntut begitu. Bahkan pada kadar iman yang paling rendah, tidak ada ruang untuk bersikap biasa-biasa saja atau acuh pada kemaksiatan. Ubah! Atau gugat! Atau kau membencinya, dan itu derajat yang amat rendah pada strata keimanan. Di luar sikap itu, tidak ada iman!!!

Dari Abu Said Al-Khudri ra: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Sudah jelas, tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan selama iman ini ada di dada.

“Munafik. Padahal lu suka kan? Gw juga suka, tapi gw gak munafik kayak lu. Semua juga suka, kalee…” Maa lakum, kaifa tahkumun (QS 68:36)? Bagaimana bisa begitu, apa dasar kamu menghakimi seperti itu? Lantas yang bagaimana munafik itu sebenarnya?

Ibnu Mas’ud r.a., sahabat Rasulullah saw, memberikan deskripsi perbedaan orang mukmin dan munafik. “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang fajir/munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Lalu siapa sebenarnya yang pantas padanya disematkan gelar “munafik”?

Zico Alviandri

Tulisan Lama, 6 Oktober 2009