RSS

Antara Pelacur dan Pemuda Sholeh

Dari dulu pelacur begitu gencar memusuhi orang sholeh. Juraij, seorang pemuda Bani Israil telah merasakan fitnahnya.

Andai Juraij menjawab panggilan ibunya ketika ia sedang sholat sunnah, tentu fitnah itu tak terjadi. Namun kejengkelan ibunya telah memuncak. “Ya Allah, ini adalah Juraij. Dia adalah anakku. Aku mengajaknya berbicara, tetapi dia menolak,” adunya. “Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sebelum Engkau memperlihatkan kepadanya wanita pezina.”

Masih beruntung Juraij tidak dikutuk menjadi batu di Pantai Air Manis, Padang. Tapi doa itu saja sudah cukup membuat susah hidupnya.

Seorang pelacur yang molek tertantang untuk menaklukkan pemuda sholeh tersebut. Ia punya rekor menaklukkan pria lebih hebat dari rekor kemenangan 29-0 milik Khabib Nurmagomedov. Tapi Juraij begitu sholeh. Tak mudah takluk dirayu begitu saja.

Tak dapat Juraij, malah seorang penggembala yang diajak berzina. Lalu ketika hamil, diaku-akulah bahwa itu anak pemuda yang terkenal sholeh seantero kampung.

Saat itu test DNA tidak ada. Pelacur mana peduli asal benih yang dikandungnya. Makanya lucu kalau ada pelacur yang menantang orang test DNA. Siapa sih itu?

Orang kampung mempersekusi Juraij. Singkat cerita, orang jujur dimenangkan Allah swt. Bayi yang dilahirkan pelacur itu tiba-tiba berbicara menjawab fitnah tersebut. “Bapakku adalah fulan penggembala kambing.” Case closed.

Kisah lain terjadi juga pada seorang sholeh yang bertemu wanita nakal. Sebuah jebakan dipersiapkan sehingga pemuda tadi masuk ke rumah perempuan tersebut. Setelah di dalam, pintu dikunci.

“Kamu tidak bisa lepas dari saya sebelum engkau minum segelas arak ini atau engkau berzina dengan aku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?” kata si pezina.

Pemuda sholeh memilih arak yang disangkanya risiko terrendah. Tapi ia salah. Dalam keadaan mabuk ia berzina dengan wanita tadi. Dan anak kecil itu juga jadi sasaran oleh akal yang tertutup.

Tapi pelacur pernah taubat juga. Pada kisah lain yang juga terjadi di jaman Bani Israil, seorang pemuda sholeh bangkit syahwatnya ketika lewat di depan rumah wanita yang sedang mangkal. Ia pun mengumpulkan uang untuk melampiaskan hasrat itu.

Setelah berada satu ranjang dengan si gadis (ya kali gadis…), pemuda tadi menjalankan bidak e2-e4 sebagai pembukaan Spanyol. Eh… kok malah maen catur. Ngaco nih…

Jadi gini, pemuda tadi yang sudah tinggal mengeksekusi, malah tiba-tiba ketakutan. “Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT, Tuhanku, maka izinkanlah aku untuk keluar!” ujarnya. Mungkin si pelacur dalam hati berbicara, “kan lu sendiri yang mau masuk ke sini, Bambaaang…”

Melihat ekspresi pemuda yang ketakutan sembali berucap “celaka dan rusak”, pelacur itu pun tersentuh hatinya. Ia sadar, lalu seiring waktu bertaubat dengan sungguh kepada Allah swt.

Lalu gadis (masih aja dibilang gadis) tersebut, mencari rumah si pemuda untuk minta dinikahi sekaligus minta diajarkan agama. Ketemu. Tetapi begitu melihatnya, pemuda sholeh itu langsung menjerit keras dan wafat.

Singkat cerita, kesungguhan taubat si wanita ditunjukkan dengan menikahi pria sholeh yang miskin yang masih bersaudara dengan pemuda tadi. Dalam kisah ini disebutkan Allah memberi karunia tujuh putra yang menjadi nabi di tengah Bani Israil. Allahua’lam.

Begitulah cerita tentang pelacur dan pemuda sholeh. Sudah dari jaman dulu pelacur cari gara-gara dengan orang sholeh. Tak bisa akur, kecuali si pelacur bertaubat kepada Allah swt.

Meski memang kita tidak boleh memvonis akhir dari hidup seseorang. Karena ada kisah pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing ketika ia sedang kehausan di akhir hayatnya.

Eitts… Tapi ada catatannya. Bila dianalisa, jelaslah bahwa wanita itu menjadi pelacur karena terdesak keadaan. Kalau tidak, mana mungkin ia sampai kehausan lalu berjalan mencari sumur. Hidupnya jelas beda dengan pelacur yang rate-nya puluhan sampai ratusan juta rupiah yang melonte karena rakus dunia.

 

Mumi Mesir dan Surat Ghofir

Apakah Anda membaca berita penemuan peti mati di Mesir yang berusia 2.500 tahun baru-baru ini? Harusnya tulisan ini serius. Tapi sebelum membahas penemuan itu, mohon izin untuk menyelipkan sebuah cerita humor (tentu saja fiksi) yang punya korelasi dengan tema.

Para ahli sejarah meneliti peninggalan zaman purba di tiga negara: Inggris, Jepang, dan Indonesia. Penggalian dilakukan. Dan pada kedalaman 200 meter para peneliti menemukan tembaga di sebuah daerah di Inggris. Lalu disimpulkan bahwa sejak 10.000 tahun lalu masyarakat Inggris sudah menggunakan kawat tembaga untuk berkomunikasi.

Di Jepang, pada kedalaman 500 meter ditemukan serpihan kaca yang disimpulkan bahwa sejak 10.000 tahun lalu masyarakat Jepang sudah menggunakan teknologi fiber optic.

Berbeda dengan di Indonesia, sudah 1000 meter lebih kedalaman digali namun tak ditemukan suatu hal yang menarik. Kesimpulan diambil, bahwa masyarakat Nusantara sudah menggunakan teknologi wireless (tanpa kabel) sejak 10.000 tahun lalu.

Kembali ke dunia nyata, baru-baru ini di awal Oktober 2020 di Mesir ditemukan 59 peti mati kuno yang terawetkan yang telah terkubur sejak 2.500 tahun lalu. Melanjutkan penemuan 14 peti mati pada awal September sebelumnya.

Arkeolog mendapat banyak limpahan peninggalan kebudayaan kuno di Mesir. Dari bangunan hingga teknologi pengawetan mayat. Bahkan jasad Fir’aun yang didakwahi Musa a.s. pun disinyalir telah ditemukan.

Piramida yang menjulang tinggi, hieroglif atau aksara Mesir yang terukir di bangunan-bangunan yang masih berdiri, makam para raja/Fir’aun, mumi, Sphinx dan patung-patung, menyisakan jejak adanya peradaban maju dua-tiga millenium yang lalu.

Dan peninggalan-peninggalan itulah yang disinggung Allah swt dalam Al-Qur’an surat Ghafir dua kali.

Pertama dalam ayat ke-21.

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.”

Dan yang kedua, ayat ke-82

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.$

Kedua ayat tersebut tentu Allah sengaja letakkan di sebuah surat yang membahas 20 ayat (dari ayat ke-23 sampai ke-42) tentang dakwah tauhid di Mesir. Yang juga menarik dalam penggalan kisah di surat tersebut, sebagai tokoh utama adalah seorang pemuda dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya lalu berusaha mengajak kaumnya beriman atas apa yang disampaikan Musa a.s.. Pemuda itu juga menggunakan pengaruhnya untuk menggagalkan pembunuhan kepada Rasulullah.

Ayat ke-21 di atas didahulukan untuk membuka cerita dakwah di Mesir, di kerajaan yang hingga kini dunia modern masih menemukan peninggalan-peninggalannya yang menakjubkan. Lalu ayat ke-82 diulang lagi dengan redaksi yang hampir serupa sebelum surat Ghafir itu berakhir untuk menjaga fokus pelajaran kepada pembacanya.

Bisa dipahami bila Allah gunakan redaksi “mereka lebih hebat” dalam dua ayat tadi ketika yang diajak bicara adalah orang-orang Quraisy yang tak mampu membuat bangunan seperti Piramida. Lalu bagaimana dengan jaman sekarang ketika gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dan teknologi komunikasi sudah begitu canggih? Rasanya kita akan menganggap peradaban modern lebih hebat dari era Firaun.

Ya tetap saja, sehebat apapun peradaban itu bila penduduknya tidak beriman kepada Allah swt, maka sebuah ketentuan berlaku: adzab akan meluluhlantakkan apa yang ada di muka bumi.

Kecanggihan teknologi tak mampu menentang kuasa Allah. Makanya di awal surat Ghafir tertulis: “… Karena itu janganlah engkau (Muhammad) tertipu oleh keberhasilan usaha mereka di seluruh negeri.” (QS: 40: 4)

Sila sempatkan waktu setelah membaca tulisan ini untuk membuka kembali surat Ghafir – atau terkenal juga dengan nama surat Al-Mu’min yang merujuk pada pemuda beriman dari keluarga Fir’aun – lalu tadabburi sambil membayangkan suasana Mesir jaman dahulu yang bertebaran Sphrinx, bangunan Piramida menjulang tinggi, dan benda-benda lain yang bertahan di dunia modern ini, yang kemudian Allah sudahi peradaban itu karena kekafiran mereka.

Lalu ucapkan, shodaqallahul’ azhim.

 

Kepada Jabbarun ‘Anid tentang Ashhabul Ukhdud

Kuingatkan kepadamu Tuan, tentang kisah yang panjang bertajuk Ashhabul Ukhdud. Ada pemuda dan rakyat yang dikriminalisasi, diintimidasi, dan dipaksa membenarkan hal yang salah oleh seorang raja tiran. Rasulullah saw menuturkan cerita itu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kalau Tuan berkesempatan, sila sempatkan waktu membaca hadits itu lagi.

Kalau Tuan melakukan kriminalisasi kepada seorang penyeru di jalan Allah, Tuan bukan orang pertama. Yang lebih perkasa dari Tuan, yaitu seorang raja dalam kisah Ashhabul Ukhdud pernah melakukannya kepada seorang pemuda penegak tauhid. Tapi kriminalisasi itu tak berbuah apa-apa kecuali mendatangkan hidayah kepada banyak orang.

Tuan lihat, panah yang menancap di dahi pemuda itu, yang dilepaskan dengan mengucap “bismillahi robbi hadzal ghulam”, telah membuka mata orang banyak sehingga bisa melihat hal yang benar lantas mengikutinya.

Kalau Tuan ingin memamerkan kekejaman, seberapa sadis dibanding Raja Ashhabul Ukhdud? Ke dalam parit penuh api ia lemparkan semua rakyatnya yang beriman kepada Allah swt. Tapi kekejaman itu tak mengubah apa-apa kecuali wilayah tanpa rakyat yang bisa diperintah. Kuasa dia area yang kosong orang.

Tuan lihat, kekejaman tak bisa merampas kepercayaan. Hanya sekedar mengendalikan jasad kosong. Kuasa hampa tanpa kehormatan.

Kalau Tuan ingin memaksakan kebenaran, itu juga sudah dilakukan oleh Raja Ashhabul Ukhdud. Ia menuduh hoax atas pernyataan tentang adanya Tuhan selain dirinya. Lantas menghukum dengan keji orang yang berselisih paham dengannya.

Tapi Tuan lihat, nurani manusia akan menemukan kebenaran yang hakiki. Meski tangan besi membungkam mulutnya.

Tuan belum tentu segagah Raja Asshabul Ukhdud. Tapi bila Tuan berperilaku sama dengannya, berlakulah firman Allah ta’ala dalam surat Al-Buruj:

“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa, mengkriminalisasi, mengintimidasi) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.” (QS Al-Buruj: 10)

 

Sebuah Kisah Lain di Dunia Politik Negeri Ini

Bukankah politik itu identik dengan perebutan kekuasaan?

Benar, itu yang terjadi. Tapi harusnya bukan kepada teman seperjuangan yang satu tujuan, atau pembagian tugas yang bisa diselesaikan dengan musyawarah. Namun rebutlah dari pihak yang tak berpihak pada rakyat.

Bukanlah politik itu banyak trik bahkan tipu muslihat?

Benar. Tapi jangan pernah bermain intrik di tengah rekan seperjuangan. Yang berbagai masalah bisa dipecahkan dengan musyawarah. Tapi bermain intriklah menghadapi mereka yang culas menipu rakyat.

Bukanlah politik itu sikut menyikut orang sekitar?

Jangan lakukan itu di sekitar orang-orang tawadhu’. Tapi lakukanlah kepada yang ambisius dan penyikut rakyat demi membela cukong.

Bukankah dalam politik itu tak ada yang rela jabatannya dirampas?

Amanah itu menjadi beban berat di akhirat. Jangan diminta, kecuali musyawarah menunjuk dan menugaskan untuk memperjuangkan sebuah posisi. Jangan rela jabatan dirampas pengkhianat. Tapi legawalah bila rekan seperjuangan telah bersepakat.

Bukankah politik itu gaduh?

Gaduhlah meributkan setiap aturan yang meresahkan rakyat. Tapi di lingkungan yang tenang, yang terisi orang-orang tawadhu’, malulah untuk membuat kerusuhan.

Bukankah politik itu ambisius?

Jadikanlah kemenangan Islam atau syahid ambisi utama di dadamu. Ambisi jabatan boleh saja bila ada maslahat. Namun rambu utama, tetap musyawarah di atas ambisi pribadi.

Bukankah politik itu kejam?

Yang kejam adalah watak manusia yang mewarnai politik, ekonomi, atau kehidupan sosial. Hadirlah dengan ketulusan, lalu berpolitiklah, berekonomilah, dan bersosialisasilah! Tawarkan alternatif politik yang tak kejam, namun sejuk tanpa pertengkaran.

Masih adakah harapan kepada pemain politik?

Berharaplah hanya kepada Allah. Namun jangan ingkari, masih banyak orang baik yang berkiprah di berbagai bidang – termasuk politik – yang perlu kita dukung.

Masih bisakah politisi dijadikan teladan?

Silakan memalingkan muka, malu melihat kelakuan mereka. Tapi ijinkan saya bercerita.

Kemarin ada hajatan di sebuah entitas politik. Tentang pergantian kepemimpinan tingkat atas. Yang biasanya di partai lain diwarnai kegaduhan.

Tapi di sana tidak. Tak ada kemarahan, tak ada ambisi meletup tak terkendali, tak ada kisruh apa-apa.

Malah yang diberi amanah sempat menangis dan meminta diserahkan kepada yang lain saja.

Tiap 5 tahun biasa seperti itu. Orang-orang tawadhu berkumpul dan bermusyawarah membagi tugas. Pergantian pimpinan lancar tak ada perlawanan.

Dari pimpinan pusat sampai pimpinan ranting di tingkat kelurahan terbiasa dengan suasana begitu. Sering juga penunjukkan calon anggota dewan diwarnai saling tolak dan saling menyerahkan kepada yang dirasa lebih berhak.

Memang ada yang merasa tidak cocok dan akhirnya mental sendiri.

Itu terjadi di Partai Keadilan Sejahtera. Di internal mereka ada budaya malu perlihatkan nafsu.

Tapi di eksternal, kepada para pesaing politik, mereka siap berebut kuasa untuk berlomba melayani masyarakat dan membenahi birokrasi.

Itu kisah yang bisa saya ceritakan kepada Anda. Tentang tabiat lain di dunia politik yang biasanya kejam, ambisius, sikut-sikutan, dan penuh kegaduhan, ada alternatifnya di negeri ini. Semoga sedikit memudarkan rasa apatis Anda.

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2020 in Artikel Umum

 

Komunisme, Ideologi Haus Darah

 

Dari orang tua, saya dapat cerita bahwa kakek di kampung hampir menjadi keganasan PKI. Rumahnya sudah diberi tanda khusus bersama beberapa rumah tokoh lain. Tapi takdir Allah berlaku berbeda dari makar yang telah dirancang. Masyarakat bergerak lebih dahulu “menghabisi” kader-kader komunis di sana.

Ideologi yang berslogan sama rasa sama rata itu memandang kepemimpinan dalam adat Minang yang dilangsungkan oleh tigo tungku sajarangan/tigo tali sapilin, yaitu penghulu, alim ulama, dan niniak mamak sebagai warisan feodal yang harus diganyang. Mereka anggap hal tersebut menciptakan perbedaan kelas.

Di tahun-tahun itu, antara pengikut komunis dan lawan politiknya terdapat dua pilihan. Membunuh atau terbunuh.

Saya tidak pungkiri adanya pembantaian dan penangkapan tanpa keadilan yang jelas pasca G30S/PKI saat rakyat, mahasiswa dan tentara memburu kader-kader Karl Max. Bukan soal benar atau salah. Bagi saya itu adalah kecelakaan sejarah. Disebut kecelakaan, karena keberadaan PKI hanya membuat celaka.

Berhasil atau tidaknya pemberontakan G30S/PKI tetap akan ada pembantaian. Karena gagal, maka pengikut komunis diburu. Andai menang, mereka yang memburu. Bahkan bisa lebih sadis lagi.

Tapi alhamdulillah Allah lindungi negeri ini.

Kini keturunan PKI menuntut negara meminta maaf. Namun keturunan mereka yang terbantai oleh partai itu, kepada siapa meminta hal serupa? Andai gerakan PKI berhasil, pembantaian akan meluas, dan anak cucu para korban tidak akan pernah bisa mengangkat wacana permintaan maaf oleh negara.

Tapi persoalannya bukan sekedar maaf memaafkan. Lebih dari itu, atas berulang kalinya pembantaian yang dilakukan, sudah tidak boleh lagi ada tempat untuk sebuah gerakan berideologi komunis berdiri legal di Indonesia.

Itulah ideologi haus darah. “Selama 74 tahun komunis itu rata-rata membunuh 1.621.621 orang setiap tahun atau 4.504 orang per hari atau tiga orang per menit di 75 negara,” ujar penyair angkatan 1966, Taufiq Ismail.

Stalin telah membunuh 43 juta orang. Sekitar 39 juta orang mati di kamp-kamp kerja paksa.

Komunis China dari 1949 hingga 1987 telah membunuh 40 juta warganya.

Rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot selama April 1975 – Desember 1978 telah membantai dua juta atau 28,57 persen jumlah penduduk.

Komunis juga membantai keluarga kesultanan di Sumatera Timur. Belum lagi Madiun, pesantren-pesantren di Jawa, dan yang dikenang tiap tahun: para Jenderal Angkatan Darat.

Di tengah hasutan yang menuduh tentara dan orde baru keji karena membantai orang-orang tak bersalah saat membasmi PKI pasca G30S/PKI, jangan lupakan bahwa orang tua atau kakek nenek kita adalah potensi korban pembantaian oleh PKI andai mereka berhasil dalam pemberontakan tersebut dalam rangka memaksakan ideologinya.

 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2020 in Artikel Umum

 

Sexual Consent, Propaganda Kebebasan Zina

Semakin berkembang jaman, aktivitas yang terkategorikan mendekati zina yang dilarang dalam Al Qur’an surat Al Israa ayat 32 (“… wa laa taqrobuz zinaa…”) kini bukan cuma pacaran saja. Tapi juga pengesahan undang-undang sampai propaganda istilah “sexual consent”.

Ada lorong menuju zina yang dibangun oleh para feminis radikal di balik kampanye anti kekerasan seksual. Sekedar melihat covernya, kampanye itu mulia. Tapi diulik lebih dalam, ada pesan yang menjerumus. Karena yang tidak dianggap kekerasan seksual adalah aktivitas seks dengan persetujuan tanpa melihat halal atau haramnya.

Justru yang diinginkan mereka adalah tak ada ganggu gugat untuk aktivitas seksual yang terbangun konsensus pada 2 anak manusia apa pun bentuknya, ternaungi ikatan pernikahan atau tidak, bahkan apa pun orientasinya.

Sexual consent diperkenalkan untuk perlahan menggusur pernikahan. Menggiurkan bagi mereka yang ingin bebas dari norma agama dan budaya. Menjadi komponen yang mengelilingi neraka, sebagaimana hadits Rasulullah: “Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal-hal syahwat (yang menyenangkan).” (HR Muslim).

Yang menjadi objek kampanye sexual consent adalah anak kita yang beranjak dewasa, adik-adik kita, keluarga dan kerabat serta kawan-kawan kita. Mencakup semua pihak yang ditanyakan Rasulullah kepada seorang pemuda yang meminta izin berzina, yang ketika itu Rasulullah berkata:

“Wahai anak muda, apakah engkau suka bila perzinaan itu terjadi atas diri ibumu? Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu? Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu? Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu?”

Maka, wahai umat muslim, bagaimana bila pertanyaan Rasulullah itu ditujukan ke kita? Apakah kita rela ajaran sexual consent diterima oleh keluarga kita? Na’udzubillahi min dzalik, tsumma na’udzubillahi min dzalik.

Bersamaan dengan kampanye itu, terancam nyawa-nyawa teraborsi yang menjadi ampas perilaku sexual consent. Atau anak yang tumbuh tanpa orang tua yang utuh yang tak menemukan keteladanan tanggung jawab keluarga. Yang paling dekat adalah wanita yang dibiarkan menanggung sendiri akibat sexual concern bak habis manis sepah dibuang.

Wahai umat muslim, lalu kalau tidak setuju, janganlah bisu melihat penganjur kemaksiatan menyeru manusia berperilaku seksual suka sama suka tanpa timbangan agama dan moral. Bersuaralah menghadang di setiap jalan yang mereka lalui.

Mereka tak kan segan mengkampanyekannya di kampus negeri kepada mahasiswa baru yang dalam usia gejolak. Indoktrinasi kebejatan berlabel ilmiah diberikan kepada calon ilmuwan sejak dini.

Puncaknya adalah adanya payung hukum dalam bentuk undang-undang untuk melegalkan sexual consent. Disarukan dalam kata “penghapusan kekerasan seksual”. Padahal perbuatan keji yang dipandang agama dan budaya lebih luas dari sekedar aktifitas seksual tanpa konsensus.

Wahai umat muslim, jangan tinggalkan para anggota dewan yang masih memiliki nurani berjibaku sementara kita tak menahu apa yang terjadi. Bersuaralah tak kalah kencang dengan para penganjur kemaksiatan. Buka mata buka telinga dan bersatulah dalam kebulatan tekad menghadang legalisasi kemaksiatan.

“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaklah ia mengubah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah mengubah dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2020 in Artikel Umum

 

Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih Zaman Now

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak bernama Bawang Putih yang sering mendapat perlakuan diskriminatif. Punya saudara tiri bernama Bawang Merah.

Sikap Bawang Merah ini provokatif dan suka mengintimidasi Bawang Putih.

Suatu kali kawan Bawang Merah yang merupakan gubernur dari sebuah provinsi yang menerapkan syariat Islam, tertangkap KPK. Gubernur itu dikenal kurang berkenan dengan isu syariat Islam. Tapi Bawang Merah malah mencak-mencak dan menuduh Bawang Putih munafik. Peristiwa penangkapan itu dimanfaatkan benar oleh Bawang Merah untuk menyindir dan mencaci maki Bawang Putih.

Si Bawang Merah ini sebenarnya sering melakukan korupsi. Bawang Putih juga pernah kedapatan. Memang agak ga beres itu rumah. Tapi jumlah kasus korupsi Bawang Putih jauuuh lebih kecil dari Bawang Merah. Namun seorang kawan Bawang Merah berkoar-koar di media masa bermaksud mempermalukan Bawang Putih. Katanya, “Bawang Putih telah melahirkan dua koruptor besar.” Sementara kasus korupsi Bawang Merah yang mencapai puluhan jumlahnya tak diungkit-ungkit.

Bawang Merah ini terkenal dengan sikap barbar. Suatu ketika ada koran lokal yang membuat berita yang tak mengenakkan. Langsung digeruduk oleh Bawang Merah. Kantor koran itu dirusaknya. Tetapi ia malah menuduh Bawang Putih radikal dan harus dibubarkan. Padahal Bawang Putih suka menolong bila ada bencana, sering melakukan bakti sosial, dll.

Bawang Merah ini suka mendadak berpenampilan agamis bila mendekati pemilu/pilkada/pilpres. Sementara Bawang Putih konsisten dengan jilbabnya. Tetapi Bawang Merah menuduh Bawang Putih mempolitisasi agama.

Bawang Merah ini juga pernah mencemooh orang yang beriman kepada hari akhirat, menuduh Bawang Putih kearab-araban, dll. Ketika Bawang Merah mencoba menarik simpati masyarakat dengan berpidato memakai istilah agama, ia malah memalukan dirinya sendiri. Ia kesulitan mengucapkan “subhanahu wata’ala” dan “laa hawla wala quwwata illa billah”.

Menjadi pemimpin, Bawang Merah suka ingkar janji. Harga-harga barang meroket. Harga Bawang Putih mahal karena ketidak becusan si Bawang Merah bekerja. Tapi menterinya malah bilang, “Tidak usah makan bawang putih tidak apa kan?” Dan Bawang Merah sering kedapatan berbohong. Komunikasinya memalukan.

Sementara Bawang Putih mengukir prestasi dengan ratusan penghargaan.

Anehnya, Bawang Merah dibela habis-habisan oleh sekelompok kecebong di sebuah kolam. Dikarang cerita hoax untuk mengagungkan Bawang Merah sekaligus memfitnah Bawang Putih. Tapi tetap Bawang Putih yang dituduh mereka tukang hoax dan tukang fitnah.

Bawang Merah suka mengkambing hitamkan Bawang Putih. Setiap ada peristiwa buruk, selalu Bawang Putih yang disalahkan Bawang Merah.

Begitulah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Cerita ini tidak dibuat endingnya untuk mempersilakan pembaca melanjutkan kisahnya.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2020 in Artikel Umum

 

Pandanglah Allah Dalam Berbagai Keadaan

(Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi setiap saat)

Ketika menjelma Jibril menjadi seorang rupawan yang berpenampilan rapi, ia selipkan pertanyaan definisi Ihsan kepada Rasulullah saw di hadapan para sahabat. Maka jawab Rasulullah, “engkau beribadah seakan melihat-Nya. Kalau tak mampu, maka kau hadirkan perasaan diawasi oleh-Nya”.

Allah swt adalah Dzat yang kepada-Nya kita arahkan pandangan batin dalam ibadah, dalam keadaan berdosa, dalam nikmat, serta musibah.

Dengan memandang-Nya dalam ibadah, hadirlah kekhusyukan. Dan dengan Ihsan, membantu kita mencapai keikhlasan.

Bukan pada ibadah yang kita perbuat, kita memandang. Tapi pada Yang Maha Agung Pemilik Jiwa Kita. Dengan begitu, maka tak kan lahir ujub dan riya’.

Jangan pandang betapa mati-matiannya sujud kita, betapa sungguhnya puasa kita, betapa merdunya alunan tilawah kita. Tapi pandanglah Allah yang berhak kita ibadahi. Sehingga terasa tak ada apa-apanya ibadah kita dibanding kebesaran-Nya. Tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.

Juga jangan pandang momen kita beribadah. Sepuluh malam terakhir Ramadhan, atau malam ganjilnya, atau malam yang dicurigai sebagai Lailatul Qadar, tapi pandanglah Allah Tuhan malam-malam itu semua. Yang memberi kita nikmat terus-terusan tak hanya di malam spesial saja.

Memang benar kita bersungguh mencari Lailatul Qadar mengikuti sunnah Rasulullah. Tapi dalam kesungguhan itu, Allah yang kita pandang. Sehingga tak peduli bagi kita apakah berhasil menemukan malam seribu bulan atau tidak, yang penting adalah menyembah Tuhan Yang Penuh Kemuliaan.

Juga dalam keadaan berdosa, Allah yang kita pandang.

Bilal bin Said berkata, “Jangan kamu melihat pada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat!”

Kecil atau besar, kita telah bersikap lancang kepada Tuhan Yang Maha Perkasa.

Dengan memandang Allah Yang Maha Keras Siksanya, maka kita segera beristighfar, bertaubat dan tak kan lagi berani melakukan dosa yang sama.

Atau kita terhindar dari putus asa untuk bertaubat karena yang kita pandang adalah Tuhan Maha Pengampun.

Dalam nikmat, pandanglah Allah agar kita tak lupa daratan. Kalau tidak, maka kita disibukkan oleh euforia. Tersita waktu menyuci mobil baru, mengagumi gawai baru, dsb.

Tetapi bila Allah yang kita pandang, maka kita disibukkan dengan syukur mengucap hamdalah. Tak peduli besar atau kecil nikmat yang didapat.

Sehingga terhindar juga dari rasa kurang puas lalu lupa berterima kasih kepada-Nya.

Dalam musibah pun Allah lagi yang kita pandang. Agar malam-malam kita tidak dilanda insomnia memikirkan masalah yang datang. Atau kita meremehkan musibah yang sejatinya adalah teguran dari Allah swt.

Dengan memandang Allah, kita ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, lalu penuhi kesadaran bahwa Ia Azza wa Jalla lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Serahkan pada Allah, bertawakkal dan berikhtiar. Lalu tenanglah hati ini dan bisa berfikir jernih.

Allah, Allah, Allah lagi, dan Allah lagi, yang kita pandang dalam berbagai keadaan.

 

Maaf, Minang Terlanjur Identikkan Diri Dengan Islam

Sudah lama gereja-gereja berdiri di Sumatera Barat. Injil berbahasa Indonesia atau bahasa asing pun tidak dipermasalahkan beredar di sana di kalangan umat Nasrani. Tapi ketika kitab itu ditulis ke dalam bahasa Minang, jadi tidak bisa diterima.

Tidak ada masalah dengan kehidupan antar umat beragama di Sumatera Barat. Rukun-rukun saja. Bertahun-tahun begitu. Ketika musibah gempa terjadi tahun 2009 lalu, warga di sana saling membantu. Hanya saja, kalau urusan adat, Minang tidak bisa dicampurkan dengan sembarang agama.

Karena Minang sudah mengidentikkan diri 100% sebagai budaya (dengan turunannya seperti bahasa) yang menyerap ajaran-ajaran Islam. Sebagaimana yang telah diikrarkan oleh tiga unsur pemegang kekuasaan tradisional, yaitu niniak mamak (pemuka adat), alim ulama, dan cadiak pandai (cendekiawan) setelah Perang Padri:

Adaik jo syarak takkan bacarai
Adaik basandi syarak
Syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato adaik mamakai

Adat dan syariat takkan bercerai
Adat bersendi syariat
Syariat bersendi Kitabullah
Syariat berkata, adat memakai

Kalau ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, dia tidak diakui lagi kesukuannya. Hanya saja dia tetap bisa ber-ktp Sumatera Barat, dan diperlakukan sesuai dengan aturan negara yang mengatur kehidupan antar warga.

Begitulah, karena menyatunya adat tersebut dengan Islam, makanya Injil berbahasa Minang dianggap mencederai adat dan budaya.

Ini bukan bermaksud merendahkan agama lain. Tapi demi menjaga kemurnian budaya yang luhur.

Memang, bahasa Minang sudah ada mungkin sejak sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat dan sekitarnya, ketika orang-orang di sana masih memeluk agama Budha atau pagan. Tapi setelah ketetapan “tigo tungku sajarangan”, adaik basandi syarak pun berlaku. Adat dan budaya yang bertentangan dihapus dengan proses. Sementara yang tak berlawanan tetap diteruskan. Dan distempel dengan “berlandaskan syariat”.

Bahasa itu satu paket dengan budaya dan adat Minang. Sudah menjadi kesepakatan para tokoh adat & tokoh agama bahwa bahasa adalah bahagian kekayaan adat & agama di Minangkabau

Tentang toleransi, mereka sudah cukup bertoleransi dengan terjaganya kerukunan umat beragama di Sumatera Barat. Tapi kalau penolakan itu dianggap tidak toleran, maka orang Minang di mana pun berada akan menuduh balik: justru mereka yang membuat kontroversi itulah yang tidak toleran dengan adat yang sudah berlaku.

Toleransi beragama sudah ditunjukkan, masak tidak bisa ditimbal balik dengan toleransi terhadap budaya?

Kalau ditagih soal Bhinneka Tunggal Ika, justru inilah keragaman yang harus dihargai. Bukankah setiap adat boleh hadir dengan keunikannya masing-masing? Maka inilah kekhasan Minang.

Kalau Anda bisa menghargai keidentikkan budaya Bali dengan Hindu, maka apa susahnya menghargai orang Minang?

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2020 in Artikel Umum

 

Wahai Pancasila, Komunisme Itu Musuhmu, Maka Jadikanlah Ia Musuh!

Terima kasih kepada Fraksi PKS yang telah mengingatkan DPR pentingnya Tap MPRS larangan komunisme menjadi landasan dalam penyusunan RUU Ideologi Pancasila.

Sebagai ideologi terbuka, semua bisa mengarang yang indah-indah tentang nilai Pancasila. Tapi bila musuhnya dilupakan, maka di sana lah peluang pengkhianatan yang pernah terjadi bisa terulang kembali.

Aidit pun bisa bicara soal Pancasila. Manis kata-katanya. Menerima Pancasila keseluruhan termasuk sila pertama. Bahkan membuat buku berjudul “Aidit Membela Pantja Sila.”

Sebagaimana golongan Iblis pun bisa mengajarkan Abu Huroiroh ayat kursi.

Tapi sekalinya komunisme diterima berdampingan dengan ajaran agama dan nasionalisme dalam konsep nasakom, maka itulah kesempatan mereka berkhianat seketika bangsa ini lengah.

Jadi, sebagaimana manusia diperintahkan Tuhan untuk benar-benar menganggap setan sebagai musuh, begitupun bangsa ini yang bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara seharusnya sungguh-sungguh menganggap PKI sebagai musuh.

Sayangnya berulang kali kesadaran ini dicoba diganggu. Yang terdekat adalah perkataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Kata-kata itu dusta dan berbahaya. Agama adalah akar Pancasila. Bagaimana bisa saling bertentangan? Maka tertawalah musuh Pancasila yang sebenarnya.

Lengahnya bangsa ini terhadap komunis akan berlanjut ketika RUU Haluan Ideologi ini dirumuskan tanpa merujuk pada Tap MPRS.

Semua jalan sedang dicoba. Setelah film G30S/PKI tidak rutin lagi tayang di TVRI seperti sebelum era reformasi, pemutarbalikkan sejarah juga diupayakan oleh para akademisi, lambang-lambang palu arit mulai dibuat biasa terlihat, dan sebagainya.

Bahkan institusi tentara yang menjadi benteng tangguh pemikiran komunisme pernah coba disusupi oleh anak seorang bocah yang mengaburkan sejarah pemberontakan G30S/PKI saat wawancara tes masuk. Luar biasa frontalnya mereka.

Dicoba juga dengan propaganda bahwa PKI telah binasa dan tak perlu dikhawatirkan.

Sekali lagi atas nama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI, saya sampaikan terimakasih kepada PKS yang tidak melupakan para pengkhianat itu. Selamat berjuang terus.

 
Leave a comment

Posted by on June 1, 2020 in Artikel Umum