RSS

Ketauladanan Ibrahim A.S.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. “Mengapa harus memberikan sesaji”? “Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria”? Atau bahkan, “Mengapa harus tunduk kepada orang tua”?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. “Kenapa patung”? Berangkat dari pertanyaan itu, ia ajak manusia melakukan uji kelayakan kepada tuhan yang akan disembah. Ia tunjuk bintang yang manusia takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia tunjuk Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia tunjuk mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Namun, walau telah dimudahkan jalan untuk memahami kelayakan sebuah sesembahan, hati yang tak jujur tetap tak kan mampu mengerti. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, “”Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan “apakah Tuhan itu ada”, kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Kekreatifan Ibrahim a.s. dipamerkannya dalam sebuah parodi ketika ia a.s. menghancurkan sesembahan kaumnya sembari membiarkan sebuah patung besar yang dibuat seakan-akan menjadi pelaku, karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti berupa kapak pada benda seni terbesar di tempat itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis “bakar hidup-hidup” dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan juga dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Walau tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan si buah hati. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”” (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia “lucu-lucunya”. Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar – istri Ibrahim a.s. – dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh bapak para nabi itu meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran khas seorang ayah. Ibrahim a.s. risau bila sepeninggalnya, anak keturunannya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-Qur’an, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.”  (QS 60:4-6)

—–

25 November 2009, Jelang Idul Adha 1430 H 🙂

 

Advertisements
 

Krisis Hormat Kepada yang Tua di Negeri Kita

Saya yakin Anda pun waktu kecil pernah diajarkan “salim” kepada orang yang lebih tua. Tangan mungil kita mengulur untuk bersalaman, lalu tangan yang kita jabat ditarik ke arah muka untuk dicium. Begitulah salah satu perilaku sopan santun yang ditanam sejak kecil untuk menghormati mereka yang berusia di atas kita.

Hingga kini anak-anak kecil di negeri kita masih diajarkan sikap begini. Masih teringat momen yang tidak lama kemarin, ketika tangan saya dicium oleh keponakan dan sanak family yang lebih muda saat silaturahim lebaran Idul Fitri. Tak lupa lembaran uang kertas saya pun ditarik mereka sebagai THR. Yah itu udah tradisi lah, salim berhadiah uang saku. Saya juga menikmatinya waktu kecil.

Esensinya adalah menghormati yang lebih tua. Di daerah Jawa, anak muda diajarkan berbungkuk saat berjalan di muka orang yang sepuh. Sepatah kata pun diucapkan, “Permisi…”. Di daerah Minang, dikenal pembagian gaya bahasa: menurun, mendatar, mendaki, melereng. Kata menurun untuk berbicara kepada yang muda, mendatar untuk yang sepantar, mendaki kepada yang lebih tua, dan melereng adalah kata-kata diplomatis. Di beberapa daerah dikenal bahasa halus dan kasar. Ada Bahasa Jawa halus ada Jawa kasar. Sunda halus, sunda kasar.

Pastikan anak Anda diajarkan itu semua. Dan contohkan juga oleh Anda. Sekali pun berbahasa Indonesia pasaran, tetap tak boleh menggunakan “lu gua” kepada senior. Jangan panggil nama, tapi panggil Kak. Atur nada suara, jangan meninggi. Dll.

Karena sopan santun kepada yang lebih tua pun kiranya juga bagian dari krisis yang melanda Indonesia. Terlihat dari peristiwa protesnya ibu Elly Risman akan rencana pemerintah mendatangkan artis Korea Selatan ke Indonesia. Tak disangka, penggemar budaya Korea yang masih muda-muda itu merespon dengan sikap yang jauh dari sopan santun.

Sebenarnya di Korea Selatan pun sopan santun kepada yang lebih tua itu ada. Saya jarang menonton film, apalagi film Korea. Tapi film komedi romantis berjudul My Sassy Girl yang dirilis tahun 2001 pernah juga saya tonton saat mahasiswa dulu. Ada adegan yang mengesankan, saat si pemeran utama (saya lupa yang pria atau wanita) menawarkan diri membawakan keranjang seorang nenek tua di stasiun kereta.

Mungkin saya salah, sepengetahuan saya drama Korea tidak seperti kartun Jepang yang melampirkan banyak petuah. Dalam satu episode film Naruto, petuah yang disisipkan dalam dialog begitu bertebaran. Mungkin berantemnya semenit, dialog dan nasehatnya bisa sepuluh menit (ya gak gitu juga sih). Beda dengan drama Korea yang dialognya fokus pada cerita percintaan.

Tapi harusnya tetap dapat diserap bagaimana sopan santun yang ditunjukkan dalam drama Korea. Saya yakin tetap ada pelajaran yang bisa diambil. Toh Korea dan Indonesia sama-sama negeri timur yang kaya akan ajaran kebaikan. Entah lah, saya bukan penggemar film-film itu. Saya hanya menduga-duga.

Perilaku bullying anak-anak muda penggemar Korea kepada bu Elly Risman benar-benar menyesakkan dada. Seolah tak bersisa ajaran “salim” oleh orang tua mereka. Fanatik buta telah menghilangkan akal dan mematikan rasa hormat.

Kalau pun ada informasi yang salah dalam tulisan bu Elly Risman, toh kadang-kadang kita mendengar nasehat dari orang tua yang kita rasa tak sejalan. Tapi bukan dengan membantah kita bersikap. Dengan diam dan membiarkan mereka menyampaikan nasehatnya.

Anda sebagai orang tua, adalah harus untuk cemas melihat gejala bullying ini. Karena kelancangan anak-anak ABG itu bukan hanya pada bu Elly Risman, tapi kelak akan merugikan Anda juga.

Bersamaan dengan fenomena bullying, empat hari lalu beredar pula berita seorang guru yang divonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan tujuh bulan oleh Pengadilan Negeri Parepare karena sang guru pernah mengibaskan mukena kepada muridnya. Saya pun teringat dengan peristiwa pengeroyokan guru oleh orang tua murid beberapa waktu lalu. Juga beberapa kasus kriminalisasi guru lainnya.

Ah… Bulu kuduk saya merinding. Salim rupanya hanya formalitas. Ruhnya telah tercerabut di hati sebagian warga negeri ini. Indikasinya sangat jelas belakangan.

 

Mereka yang Berjasa Tapi “Berbahaya”

Terapi Kanker Dr Wasito

Bagaimana kabarnya Dr. Warsito sekarang? Nama lengkapnya, Dr. Warsito Purwo Taruno, M.Eng. Ia anak bangsa penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker. Tak sedikit penderita sakit yang mengerikan ini membaik kondisinya setelah diterapi oleh alat yang diciptakan sang ilmuwan.

Tetapi jasa baiknya tak bisa dinikmati lama oleh rakyat Indonesia. Meski masih banyak masyarakat yang mengantri ingin berikhtiar dengan alat tersebut. Sejak Desember 2015, Klinik Edwar Technology tidak menerima pasien baru untuk ditangani, namun pasien lama diperbolehkan untuk berkonsultasi.

Kementerian Kesehatan, melalui surat yang ditujukan kepada wali kota Tangerang, ditandatangani Sekretaris jendral Kementrian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, menyebutkan bahwa PT Edwar telah melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tahapan proses penelitian yang sudah ditetapkan badan penelitian dan pengembangan Kemenkes. Klinik riset kanker yang dikelola Warsito tidak masuk dalam jenis klinik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia hanya mengenal dua jenis klinik yaitu klinik pratama dan klinik utama.

“Istilah penggunaan ‘Klinik Riset Kanker’ tidak dikenal dalam peraturan tentang klinik dan untuk penggunaan kata klinik harus sesuai standar yang ada dan memiliki izin operasional yang berlaku,” bunyi surat itu. Dan klinik itu pun kabarnya telah ditutup hingga kini.

Bagaimana dengan sang ilmuwan? Kabar terakhir yang saya terima tentang peraih BJ Habibie Technology Awards dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut akan mengembangkan teknologinya di luar negeri.

Penemuan Dr. Warsito ini sejatinya telah menolong banyak orang. Tetapi sekaligus membahayakan bisnis pihak lain. Terutama rumah sakit yang berbisnis dengan jasa pengobatan kanker. Pada akhirnya, Dr Warsito pun terjegal.

Mobil Listrik

Gas buang apa yang dikeluarkan oleh mobil listrik? Seharusnya tidak ada. Emisi gas buang hanya ada pada mobil yang menggunakan bahan bakar minyak atau gas. Tetapi untuk bahan bakar listrik, tak akan ada gas buang yang berbahaya bagi lingkungan. Namun kenyataannya, mobil listrik milik proyek Dahlan Iskan yang diberi nama Selo ini dinyatakan tidak lulus uji emisi.

“Mobil itu tidak lulus uji emisi, terlebih lagi hasil test drive mobil ini bahaya kalau digunakan di jalan umum”, ujar Sarjono Turin, Kepala Sub Direktorat Penyelidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung.

Pernyataan itu dikeluarkan di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi. Dalam perkara ini, vonis hukuman dijatuhkan kepada Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama Dasep Ahmadi, rekanan pembuat mobil listrik, 14 Maret 2016 lalu.

Sejatinya penemuan mobil listrik ini berjasa bagi pengembangan teknologi di Indonesia. Bahkan akan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Tetapi penemuan ini juga berbahaya bagi kelangsungan bisnis produsen-produsen mobil yang sudah besar. Pada akhirnya, proyek ini tersandung kasus korupsi.

Beras Maknyus

Yang terbaru dan sedang heboh adalah kasus Beras Maknyus. Pada Kamis malam lalu, 20 Juli 2017, Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang tediri dari Mabes Polri, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di daerah Bekasi yang memproduksi beras bermerk “Maknyus”.

Diungkap aparat, pelanggaran yang dilakukan oleh PT IBU adalah membeli gabah dari petani jauh melampaui harga normal yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, disinyalir beras ini mengandung mutu dan komposisi yang tidak sesuai sebagai beras premium. Usaha PT IBU ini membahayakan bagi penguasaha beras lainnya.

Belakangan kasus ini disangkut pautkan juga dengan komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) (Induk PT IBU), bapak Anton Apriantono, mantan Menteri Pertanian zaman presiden SBY dan merupakan politisi PKS.

Dari pembicaraan di dunia maya, diketahui bahwa sesungguhnya PT IBU ini berjasa kepada petani karena telah memberi gabah dengan harga yang di atas HET. Tetapi sekaligus berbahaya bagi pebisnis lain. Pada akhirnya Beras Maknyus pun terjaring kasus.

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2017 in Artikel Umum

 

Kita Beriman Sekaligus Kafir Bersamaan

(Catatan, kata kafir/beriman di artikel ini menggunakan istilah secara bahasa. Bukan terminologi dari aqidah yang sudah baku. Keterangan ada di akhir artikel)

Kalau ada teman non muslim yang bertanya kepada saya apakah dia kafir, rasanya saya tidak perlu mencari kalimat buat ngeles, takut membuatnya tersinggung, hingga akhirnya jawaban saya kurang lugas, kurang tegas, dan bisa disalah artikan. Simpel saja, saya akan sampaikan bahwa setiap manusia adalah orang yang beriman sekaligus juga orang kafir dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana bisa begitu? Begini…

Bila Anda pro terhadap sesuatu hal, maka otomatis Anda akan kontra dengan penolakan terhadap hal tersebut.

Misalnya, kalau Anda pro dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tentu Anda kontra dengan keinginan agar TDL tetap. Saya pro dengan pendapat bahwa bumi itu bulat, maka saya otomatis kontra dengan anggapan bumi itu datar. Dalam pilkada, kalau Anda pro dengan satu calon, maka Anda akan kontra dengan calon lain. Bukan begitu?

Maka kalau Anda pro dengan kepercayaan bahwa Allah swt itu adalah Tuhan yang satu yang tiada tuhan selain-Nya, tentu Anda akan kontra dengan kepercayaan kepada tuhan selain Allah swt. Sehingga Anda disebut beriman kepada Allah swt, sekaligus kafir kepada sembahan selain Allah swt.

Allah swt mengistilahkan kondisi ini sebagai punya pegangan yang kuat, atau punya dasar yang kokoh.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Begitu lah kondisi seorang muslim. Ia adalah orang kafir, karena ingkar kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah swt), dan ia juga adalah orang yang beriman, karena percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Nah, saya akan kembalikan pertanyaan itu kepada teman saya, di mana posisi Anda? Apa yang Anda imani sebagai Tuhan yang Anda sembah? Kalau ia menyebut nama lain selain Allah swt, maka jelas ia adalah orang beriman menurut teologi agama yang dianutnya, sekaligus orang kafir dalam pandangan agama di luar yang ia anut.

Maka anggapan kafir harusnya bisa ditanggapi dengan santai. Kalau saya kafir, toh Anda juga kafir, dan kita semua kafir dengan apa yang kita ingkari. Dan dalam bersamaan, saya sebenarnya beriman, Anda beriman, dan semua orang beriman menurut apa yang dipercayainya.

Bisa damai gak kalau gitu?

————

Makna Kafir Secara Bahasa

  1. Secara bahasa bermakna menutupi, sitar (penutup)
  2. Kafir juga bermakna ingkar (جحد ) menurut Abu Ubaid, Gharibul Hadits,3/13
  3. Menurut Al Azhari seseorang dinamakan kafir karena hatinya tertutup
  4. Kafir juga digunakan untuk istilah sarung senjata sehingga tertutup dari luar
  5. Kafir juga nama lain dari petani yang pekerjaannya menutupi biji-bijian sehabis ditanam agar aman dari hewan dan agar bisa tumbuh.

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ [الحديد:20

Seperti hujan yang turun yang tanamannya  membuat petani  kagum.. (Al Hadid:20)

Makna Kafir secara Istilah

  1. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kata ‘kafir’ memiliki makna,” Tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, menolak risalah Islam, ragu-ragu terhadap Islam, mendustakan Islam, dan orang yang mengatakan kafir dgn lisan, sengaja dan tanpa paksaan, tanpa ada keperluan dan dilakukan dengan sadar, maka ia sudah keluar dari Islam. ( Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 12/335)
  2. Ishaq bin Rahawaih mengatakan,”seorang mukmin yang benar kepada Allah, namun kemudian ia membunuh Nabi, atau memberikan dukungan untuk membunuh nabi, maka ia telah kafir.
  3. Barangsiapa yang mencela Allah dan Rasul-Nya, ia telah kafir, ( Ash Sharim Al Maslul,3/955)
  4. Barangsiapa yang beriman kepada Rasulnya secara lahiriyah , namun ia ingkar secara bathin, maka ia telah kafir (Majmu’ Fatawa, 7/556)
  5. Ibnu Hazm mendefinisikan Kafir sifat INGKAR terhadap Allah, beriman sebagian, dengan hati saja atau dengan lisan saja tanpa hati
  6. Menurut Ar Raghib al Ashfahani, Makna kafir adalah orang yang ingkar kepada ke-Esaan Allah, Kenabian para Nabi, dan Syariah (hukum Allah) –AL Mufradat, 715

 

 

Aku Adalah Kau yang Lain yang Harusnya Kau Jaga Perasaannya

Bagaimana suasana hati Anda kalau dalam suatu pengajian sang ustadz menggunakan nama Anda untuk contoh pelaku perbuatan cabul? Saya sih akan protes, “Emang gak ada nama laen, ustadz?” Dan bagaimana bila nama orang tua Anda yang dijadikan contoh? Akan lebih tidak rela lagi saya rasa.

Banyak kah orang yang ketika lahir diberi nama Muhammad oleh orang tuanya, namun ketika dewasa dihukum sebagai pelaku kejahatan? Ada banyak. Tapi rela kah Anda bila ada sebuah film yang menceritakan tokoh bernama Muhammad sebagai pelaku kejahatan dan digambarkan begitu buruk? Saya sih tidak rela. Dan saya yakin umat Islam akan protes. Kalau tidak salah dulu pernah ada telenovela yang seorang tokohnya bernama Fatimah dan digambarkan sebagai antagonis. Kemudian muncul protes umat Islam.

Anda punya tokoh idola? Bagaimana bila ada orang yang mengarang cerita dengan tokoh jahatnya bernama sama dengan idola Anda? Anda pendukung pak Jokowi tidak akan terima kan kalau ada cerpen yang memuat tokoh bernama Jokowi dengan perilaku yang buruk? Walau pun pembuat cerita menulis disclaimer: “Nama dalam kisah di atas hanyalah rekaan, kalau ada kesamaan itu hanya kebetulan saja”. Anda tetap tak terima dan mungkin melaporkan cerita itu ke aparat sebagai penghinaan kepada kepala negara.

Bagaimana perasaan Anda bila melihat film yang peran antagonisnya digambarkan satu suku dengan Anda? Saya rasa sedikit banyak akan protes juga dalam hati. Atau bila ada peran antagonis yang agamanya sama dengan Anda, sedang yang lain agamanya beda tapi baik-baik semua. Bahkan bila si antagonis itu profesinya sama dengan Anda, akan ada juga perasaan sebal.

Rela kah Anda bila nama Anda dipakai oleh teman untuk menamakan anjing kesayangannya? Saya rasa Anda akan komplen.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, kira-kira bisa dimengertikah mengapa banyak umat Islam yang aktif di pengajian merasa tersinggung dengan film “Kau Adalah Aku yang Lain” yang baru saja memenangkan Festival Film Pendek yang diselenggarakan Polri?

Tak Adakah Alternatif Cerita Lain?

Andai yang menghadang mobil ambulan dalam film itu adalah preman, tentu orang akan menganggap wajar. Tapi yang diceritakan adalah orang yang aktif di pengajian. Tentu umat muslim akan tersinggung. Mereka merasa tak diajarkan sebegitu ekstrim seperti di film, tak akan bertindak sebegitu bodoh, tapi mengapa ada penggalan cerita tersebut.

Bila objektif cerita ingin mengajarkan toleransi, mengapa harus dengan contoh buruk yang melibatkan jamaah pengajian? Padahal contoh baiknya sudah ada dan bisa dijadikan cerita tanpa membuat satu pihak pun tersinggung. Yaitu saat umat Islam ikut “mengarak” sepasang pengantin non muslim di aksi 411 maupun 112.

Saya meragukan bila tak ada film lain yang diikutsertakan dalam festival tersebut yang tak kan menuai kontroversi publik, dan memiliki bobot yang tak kalah bagus. Saya berprasangka ada. Lalu mengapa bukan film itu yang dimenangkan?

Pada akhirnya, alih-alih menghantarkan pesan dengan mulus kepada masyarakat, film itu malah menimbulkan keributan baru. Kampanye toleransi, bhineka, dll akan semakin dianggap retorika kosong belaka oleh masyarakat.

Seharusnya pihak penyelenggaranya punya sense of crisis dengan perselisihan yang tak kunjung usai di tengah masyarakat. Kalau ada niat meredakan ketegangan, harusnya berhati-hati agar tidak memicu ketersinggungan salah satu pihak. Bisa kok dibuat alternatif cerita lain yang menggambarkan toleransi dengan indah tanpa kontroversi.

Raso Jo Pareso

Ada sebuah falsafah dari kampung saya yang berbunyi “raso jo pareso.” Dalam Bahasa Indonesia berarti rasa dan periksa. Falsafah ini mengajarkan masyarakat Minangkabau untuk memastikan terlebih dahulu perkataan yang akan disampaikan kepada lawan bicara, jangan sampai menyinggungnya. Dengan cara merasai seolah ada di posisi pendengar, dan memeriksa kembali apakah ada redaksi kata yang rawan disalah tafsirkan.

Dari raso jo pareso itu kita tahu, membawakan nama teman untuk permisalan buruk akan membuat ia tersinggung. Begitu juga bila membawa nama keluarganya, nama tokoh yang dihormatinya, dll. Merasai dan memeriksa, hingga kita tahu bahwa bila kita yang menjadi dia, akan merasa tidak enak juga.

Inilah manifestasi dari kalimat “kau adalah aku yang lain” yang dijadikan judul dalam film tersebut. Jadi ironis, kalimat tersebut tidak diresapi benar dengan konsep raso jo pareso hingga akhirnya menimbulkan kemarahan dari “aku yang lain”-nya si sutradara, produser, dan penyelenggara.

Kalau aku adalah kau yang lain, mengapa masih kau buat aku tersinggung? Peka lah! Gunakan raso jo pareso. Karena aku adalah kau yang lain yang harus kau jaga perasaannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2017 in Artikel Umum

 

Pelajaran Dari Telinga yang Tendensius

Ada satu cerita humor yang masih saya ingat dari sebuah ceramah KH Zainuddin MZ Allahuyarham. Ia mengisahkan tentang seorang jamaah majelis taklim yang mengantuk saat mendengar khutbah, lalu hilang fokus.

Menghadap kepada jamaah, dengan wibawanya sang ustadz berkata, “Pencurian yang paling baik adalah mencuri salam.” Ustadz menjelaskan, ketika seseorang mendengar salam yang bukan ditujukan kepadanya, dan ia tetap menjawab salam tersebut, maka itulah yang diistilahkan dengan mencuri salam.

Peserta pengajian yang mengantuk itu salah mendengar. Yang ia tangkap, pencurian yang terbaik adalah maling ayam. Sepulang dari majelis taklim ia pun mempraktekkan “ilmu” yang ia dapat. Ketika dibekuk dihakimi massa, ia pun menggunakan ceramah sang ustadz sebagai dalih.

Salah dengar memang bisa terjadi pada siapa saja. Ada banyak penyebab. Mungkin artikulasi dari pembicara yang kurang baik. Atau ada gangguan kepada gelombang bunyi berupa noise/distorsi, dll sehingga tak sempurna ditangkap pendengaran. Atau masalahnya ada di pendengar, entah indranya yang ada gangguan atau otaknya kurang fokus untuk mencerna yang disampaikan.

Tak jarang, belum apa-apa si pendengar punya stigma tersendiri untuk si pembicara. Dalam kasus ini, kalimat yang jelas saja sering disalah artikan. Apalagi kata yang samar. Maka ucapan pun ditafsirkan sesuai dengan stigma yang ditempel kepada pembicara. Hal seperti ini yang sering menimbulkan salah paham.

Sehingga kita mengerti, mengapa ada yang bisa salah dengar pada khutbah Idul Fitri yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir di Masjid Al Azhar, 25 Juni 2017 kemarin.

Sedihnya, salah dengar atas ceramah ustadz Bachtiar Nasir ini terlanjut menimbulkan penghakiman kepada beliau. Lini massa gaduh. Ada yang mendengar ustadz berkata, “Islam toleran adalah Islam setan”. Maklum, ustadz yang merupakan salah satu punggawa GNPF MUI ini dicap radikal dan tidak toleran oleh segelintir pihak. Kemudian perkataan salah dengar ini disebarkan via media sosial tanpa klarifikasi. Pada akhirnya berujung permintaan maaf karena si penyebar sudah salah menangkap informasi.

Ada pameo yang berbunyi, “orang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.” Telinga yang tendensius, akan memilih-milih informasi sesuai selera, menafsir kembali informasi yang diterima, bahkan berujung salah dengar.

Kita berbaiksangka, kejadian ini memang salah dengar, bukan produk fabrikasi hoax untuk menciptakan gaduh di masyarakat. Tapi tak mampunya masyarakat kita menyikapi informasi kembali memantik pertengkaran antara kita.

Terngiang lagi apa yang pernah dikicaukan oleh M Sohibul Iman, Presiden PKS melalui akun twitternya. “Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkan irreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” tulisnya.

Ya, sejak pilpres 2014 masyarakat sudah terbiasa dengan kabar bohong dan terbiasa tak berhati-hati. Berbagai seruan untuk melawan hoax menjadi angin lalu. Berkali-kali peringatan agar mengutamakan tabayun, tak ada pengaruhnya. Menciptakan perselisihan berlarut-larut yang seperti tak bisa lagi dipulihkan. Irreversible damage.

Sekali lagi, masyarakat gagal melewati ujian. Bukan oleh provokasi yang dibuat-buat, tapi karena telinga yang belum apa-apa punya tendensi akibat stigma atau prasangka.

Mohon jadikan pelajaran, kalau kita ingin menyudahi permusuhan yang kontra produktif ini, mari tepis segala stigma, terutama kepada pihak yang berseberangan. Berdialoglah dengan bebas prasangka. Mohon ini dijadikan syarat bagi rekonsiliasi nasional.

Dan saya meminta kepada semua pihak, berhenti menjadi kompor agitasi stigma intoleran kepada umat Islam. Kurang apa indahnya toleransi yang terselip pada aksi massa umat Islam yang lalu, saat mereka ikut menjadi “pengarak pernikahan” bagi pasangan non muslim. Cerita ini sudah menjadi legenda.

Lantas membuat dan menyebarkan film yang menggambarkan peserta pengajian yang tak punya rasa kemanusiaan, hanyalah bentuk pengekalan stigma kepada umat Islam. Cara ini tak kan meredakan permusuhan, malah membuat potensi salah dengar dan kegaduhan yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2017 in Artikel Umum

 

Wahai Pria, Lapangkan Bahumu Untuknya!

Bahu seorang laki-laki sejati selalu terhampar untuk wanitanya (yang halal). Saat dirundung duka, kepala si wanita bisa rebah di atas bahu lelaki, membasahinya dengan air mata, dan mengadukan segala masalah yang sedang dihadapi.

Idealnya begitu. Terutama bila mereka baru memasuki usia muda perkawinan. Kalau sudah agak lamaan, gak janji deh ya…

Namun ketersediaan bahu lelaki rupanya tak hanya untuk mencurahkan air mata. Rugi sekali bila sekedar tempat berbagi duka. Bahu lelaki juga tempat wanita meletakkan senyumnya di kala bahagia. Dan begitulah yang dipraktekkan oleh istri Rasulullah saw, ibunda Aisyah r.ha.

Ia bercerita:

أَنَّ الْحَبَشَةَ كَانُوا يَلْعَبُونَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، قَالَتْ: فَاطَّلَعْتُ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ ، فَطَأْطَأَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْكِبَيْهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ حَتَّى شَبِعْتُ، ثُمَّ انْصَرَفْتُ

Orang-orang Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari raya. Dia (‘Aisyah) berkata: “Aku pun menonton di atas bahunya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merendahkan bahunya untukku, sehingga aku bisa melihat mereka di atas bahunya sampai aku puas, kemudian aku berpaling.” (HR. Ahmad No. 24296, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1798, dan Sunan An Nasa’i No. 1594. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1594, juga Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24296)

Begitulah, ibunda Aisyah r.ha menyaksikan sebuah tontonan dalam hiruk pikuk hari raya dengan menopangkan dagunya di atas bahu Rasulullah saw. Dan Rasulullah pun tak segan sedikit berletih-letih untuk merendahkan badan agar bahunya bisa dijadikan sandaran bagi Aisyah r.ha.

Potret romanis itu terjadi di muka umum. Seolah menghapus keraguan di hati para sahabat untuk bermesraan dengan pasangan dengan cara yang pantas di tempat umum.

Pas sekali momen hari raya akan segera hadir. Wahai pria, meski hati kalian terasa sempit sesak oleh kenaikan tarif listrik, meski kau pun butuh tempat bersandar mengadukan THR yang cepat raib, namun jangan pernah sempitkan bahu untuk wanitamu. Lapangkan. Biarkan duka dan suka bertaburan di sana.

Dan ingat juga, bahumu ada dua!!!!