RSS

Konsep Diri Seorang Muslim

Menjadi muslim berarti bukan lagi menjadi manusia biasa. Seorang muslim itu istimewa karena keimanannya kepada Allah swt. Dan keimanan itu menghadirkan sebuah karakter yang kokoh, karena sikap itu disandarkan pada Al-Qur’an dan sunnah.

Ada banyak hadits dan ayat Al-Qur’an yang bisa menjadi pembentuk karakter seorang muslim. Salah satunya adalah apa yang dinasehatkan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya, Abu Dzar r.a.

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.

Ada tiga karakter yang dikandung dalam hadits ini

Integritas

Rasulullah saw berpesan agar selalu bertaqwa di setiap tempat. Artinya seorang muslim dituntut memiliki komitmen dan konsistensi untuk senantiasa menjaga integritasnya.

Di kantor, ia harus menjaga ketaqwaannya dalam perilaku jujur dan profesional, tak menipu atasan atau klien, tak berbuat khianat. Kesibukan tak memberikan dispensasi untuk alpa sholat. Bahkan dalam kesibukan, sholat di awal waktu dan berjamaah tetap terjaga.

Saat kongkow dengan teman-teman, orang lain terjaga oleh mulut dan tindakannya. Tidak meng-ghibah, menghasut, atau mencelakai rekan kerja.

Di rumah, ia pun tetap menjaga ketaqwaannya. Ia tak melepaskan disiplin sholat berjamaahnya meski sedang santai, juga memperlakukan anak dan pasangannya dengan baik.

Itulah muslim yang bertaqwa. Memegang integritas di hadapan Allah swt dan manusia di mana saja berada.

Perbaikan

Rasulullah meminta umatnya, melalui nasihat kepada Abu Dzar, agar menyusul setiap kesalahan dengan kabaikan. Seorang muslim tak kan bisa melepaskan sifat manusiawinya, yaitu sering kali khilaf dan berbuat salah. Karena itu, ada eksepsi dari karakter alami manusia ini, yaitu mem-follow-up kesalahan dengan perbaikan.

Follow up yang paling umum setelah melakukan kesalahan adalah meminta maaf. Bila kesalahan itu dibuat kepada manusia, ia harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Sedangkan bila dosa yang berhubungan kepada Allah swt, maka ia harus bertaubat.

Permintaan maaf kadang tidak menyelesaikan masalah. Harus ada tindak lanjut perbaikan. Misalnya kita tidak menepati janji kepada klien, produk yang kita hasilkan tidak sesuai spesifikasi kesepakatan awal, maka perbaikilah dengan melengkapi apa yang kurang. Seperti sebuah program komputer yang wajar bila ada bug, kemudian tugas programmer untuk memperbaiki bug tersebut.

Selain minta maaf dan memperbaiki yang kurang, tambahkan juga kebaikan lain. Klien protes kepada seorang programmer atas sebuah bug yang ditemuinya, lantas programmer meminta maaf dan memperbaiki problem yang ditemui serta menambahkan sebuah sebuah fitur pada aplikasinya agar sang klien senang dan kecewanya terobati. Ibaratnya seperti itulah tebusan atas kesalahan kepada seseorang.

Konsep diri ini juga mencerminkan konsep Jepang yang disebut Kaizen. Yaitu perbaikan terus menerus.

Kepribadian

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” Begitu pesan Rasulullah saw. Keunggulan Islam adalah pada konsep akhlak. Rasulullah mencontohkan sendiri bagaimana aplikasi akhlak mulia dalam Islam. Kita tidak akan mengerti dengan sempurna apa saja poin-poin akhlak Islam sebelum membaca kisahnya.

Pribadi yang jujur, sopan santun, menjaga perkataan, pemurah, penyabar, dll adalah daya rekat yang kuat agar orang lain mendekat. Sebagai seorang atasan, ia tidak menyombongkan diri. Sebagai seorang bawahan, ia menghormati atasan dan rekannya secara wajar, tidak mengghibahnya atau menjelek-jelekkan rekan kerja. Sebagai seorang suami/istri, ia senantiasa menjaga perasaan pasangannya. Sebagai seorang warga, ia memuliakan tetangganya.

Integritas, mau melakukan perbaikan, dan berkepribadian hangat adalah karakter yang disenangi oleh klien, disenangi atasan, disenangi tetangga, disenangi anggota keluarga, dan menjadi jalan menuju kesuksesan.

Advertisements
 

Enkapsulasi Amal Sholeh

Kehidupan Allah ciptakan dan berikan pada makhluk, dengan tujuan sebagai kontestasi siapa yang paling baik perbuatannya (QS Al Mulk: 2). Sementara, amal sholeh manusia adalah produk yang paling ringkih, paling rapuh, paling rawan penggembosan. Maka diperlukan “enkapsulasi” pada setiap aktivitas kebaikan.

Hidup berarti beramal terbaik, yang akan kita bawa ketika kembali pada-Nya. Namun, betapa banyak letih penat berdiri dalam sholat tak berbekas kecuali menjadi debu berterbangan. Lapar dahaga puasa siang hari hanya sia-sia.

Ada “rayap” berupa riya’ dan sum’ah yang bergentayangan menggerogoti setiap bentuk amal sholeh anak manusia. Kecepatan mereka memusnahkan sebuah pahala sangat mengagumkan. Bahkan sebelum sebuah perbuatan dilakukan, bisa dibuat tak berarti.

Maka, ikhlas adalah kapsul terbaik pembungkus amal manusia. Satu-satunya cover yang kokoh yang dengan itu Allah memverifikasi perbuatan positif dan mengganjarnya dengan pahala.

Keikhlasan itu harus dibungkuskan ke sebuah amal, sebelum, ketika, dan sesudah dilakukan. Menjaga keikhlasan sebelum berbuat (ketika masih diniatkan) menjadikan kita punya perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan. Kalau sebelum beramal sudah tidak ikhlas, maka kita akan merencanakan hal-hal di luar tujuan, yaitu keridhoan Allah swt. Hanya merancang sebuah keletihan tak berarti. Malah bisa berbalik menjadi adzab.

Menjaga keikhlasan saat perbuatan sedang dikerjakan membuat kita fokus pada aktivitas dan sasaran. Tidak ikhlas saat beramal, mengundang spontanitas yang norak yang bisa mengacaukan suasana.

Menjaga keikhlasan setelah beramal menjauhkan kita dari rasa besar kepala dan cepat puas. Ketiadaan ikhlas setelah mengerjakan sesuatu, membuat kita mengungkit-ungkit jasa pada manusia dan harap-harap cemas menanti pujian.

Ikhlas punya dzat anti rayap riya’ dan sum’ah. Hati yang alpa dari kapsul tersebut, maka akan menjadi sarang hama yang menghabisi setiap amal sebelum dan yang akan terjadi.

Namun bila kapsul-kapsul keikhlasan memenuhi hati, maka jadilah orang tersebut berderajat mukhlas. Yang Iblis tak mampu memperdayainya. (QS Shad: 83)

Lakukan enkapsulasi pada setiap kita beramal, agar tahan lama dibawa ke akhirat.

 

Kami Dengar Aduan Anda, Pak Anies

Kami mengerti, bapak telah bersungguh-sungguh menunaikan janji yang pernah diucapkan. Sebuah janji mulia, menghindari pembangunan Jakarta dari harta haram minuman keras. Menjual saham BUMD PT Delta Djakarta yang memproduksi bir.

https://m.kontan.co.id/news/janji-anies-sandi-lepas-saham-perusahaan-bir?

Terus lah berjuang menunaikan janji itu. Agar rakyat tak menganggap semua pemimpin di negeri ini selalu berbohong dan ingkar. Agar ada teladan, yaitu para pemimpin yang menepati apa yang pernah diucapkan. Satu barisan bersama kang Ahmad Heryawan yang telah memberikan bukti kata-katanya kepada masyarakat Jawa Barat.

https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/02/22/mendagri-90-persen-janji-kampanye-gubernur-jabar-ahmad-heryawan-terpenuhi

Kemarin, Anda mengadu kepada kami, rakyat Jakarta. Tentang persekongkolan angogota dewan yang menghalang-halangi penjualan saham pemprov DKI di PT Delta Djakarta.

“Kita laporkan pada rakyat bahwa wakil-wakil anda ingin tetap memiliki saham bir. Dewan anda ingin punya saham bir, terus ingin punya untung dari saham bir,” teriak Anda.

http://wartakota.tribunnews.com/amp/2019/03/05/anies-baswedan-ancam-dprd-dki-jika-tak-setuju-saham-bir-pt-delta-djakarta-dijual

Adalah Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi yang menolak rencana pemprov DKI. Entah bagaimana dia beristinbath (menyimpulkan hukum dalam fiqh), dikatakannya penjualan saham itu riba.

“Dikatakan setahun dapat Rp 50 miliar, terus mau dijual Rp 1 triliun. Kita makan riba, itu buat saya. Saya sebagai orang Muslim, ya mohon maaf ya, lebih jahat riba daripada orang minum bir. Coba itu dipikirkan lagi lah,” alibinya. Luar biasa. Jenis riba apa yang dimaksud orang itu?

“Nggak mau (dijual) saya, nggak sependapat.” Ia keukeuh.

https://m.detik.com/news/berita/d-4453077/ketua-dprd-tetap-tolak-penjualan-saham-anker-bir-milik-pemprov-dki

Maklum, PDIP yang menguasai kursi ketua DPRD DKI. Justru masyarakat bisa heran kalau partai berlambang banteng itu mendukung pemberantasan maksiat.

Senada, politis Nasdem pun menolak. “Kenapa nggak sekalian Bank DKI dijual? Kan riba tuh,” kata Bestari Barus, ketua Fraksi Nasdem.

https://m.detik.com/news/berita/4454750/nasdem-ke-anies-kalau-anker-bir-haram-kenapa-nggak-sekalian-jual-bank-dki

Tentu ada penahapan dalam memberantas kemungkaran. Dimulai dari yang resikonya paling kecil atau dampak mudhorotnya paling parah. Kemarin Alexis telah ditutup. Selanjutnya perusahaan bir. Zina, judi, dan miras adalah satu paket penyakit masyarakat yang kerusakannya paling kentara dan mewabah.

Sedangkan riba perbankan, masih bisa diubah pelan-pelan agar tak menyelisihi keyakinan umat beragama. Insya Allah kita menuju kesana kan, pak Anies?

Tak hanya partai oposisi di dewan, rupanya anggota legislatif dari partai pengusung Anies-Sandi pun menjegal langkah penjualan saham tersebut.

Adalah Syarif, Wakil Ketua F-Gerindra DPRD DKI yang mengamini PDIP dan Nasdem. “Lihatnya nggak begitu. Kita kan butuh duit untuk pembangunan. Hanya itu kan kebetulan usahanya bir. Yang penting kan duitnya,” ujarnya. Duit adalah hal yang penting menurutnya, lebih prioritas dari aspirasi masyarakat yang tak menghendaki uang haram untuk pembangunan.

https://m.detik.com/news/berita/d-4454827/gerindra-dki-soal-saham-bir-kebetulan-usahanya-bir-yang-penting-duitnya

Alhamdulillah, masih ada pendukung di gedung dewan untuk niat pak Anies. Mereka dari PKS, yang pada pemilu besok bernomor urut 8.

“Lebih baik dialihkan ke hal-hal yang lebih prioritas. Pelayanan masyarakat di bidang perekonomian, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) misalnya, atau di bidang pendidikan, di bidang kesehatan,” ujar Abdurrahman Suhaimi, ketua Fraksi PKS.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190305203040-20-374824/pks-dukung-penuh-anies-lepas-saham-dari-perusahaan-bir

Lagi-lagi bisa dimaklumi. Mereka partai Islam. Tentu berkomitmen memberantas kemungkaran dengan kekuasaan.

Pak Anies, aduan Anda kemarin menyadarkan kami, apalagi yang awam politik dan tata negara, bahwa tak cukup mengisi eksekutif dengan orang baik. Karena rupanya ada program-program kepala daerah yang harus mendapat persetujuan anggota dewan.

Maka, legislatif pun harus dimenangkan oleh partai yang berkomitmen dalam amar ma’ruf nahi munkar melalui kekuasaan. Baik tingkat kota/kabupaten, Provinsi, juga DPR Pusat.

Kami dengar aduan Anda, pak Anies. Kami terus mendukung langkah Anda pada hal yang baik. Pemilu telah dekat. Dan kami akan hukum partai yang memelihara kemungkaran, dan akan mendukung dan bersama berjuang dengan partai yang menginginkan kebaikan bagi Jakarta. Insya Allah.

7 Maret 2019

 
Leave a comment

Posted by on March 7, 2019 in Artikel Umum

 

Ide Penghapusan Kata Kafir, Antara Kekerasan dan Basa Basi Teologis

Bisa-bisaan aja manusia zaman sekarang membuat istilah. Setelah Islam Liberal, Islam Nusantara, yang terakhir adalah “Kekerasan Teologis”. Disebut oleh Abdul Moqsith Ghazali ketika diwawancarai media dari acara Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU).

“Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘Muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” katanya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, 28 Februari 2019, sebagaimana dikutip Tempo.

https://nasional.tempo.co/read/1180643/nu-usul-sebutan-kafir-ke-nonmuslim-indonesia-dihapus

Dalam KBBI, teologi punya arti berikut:
te·o·lo·gi /téologi/ n pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci)

Teologis artinya adalah yang berhubungan dengan teologi.

Dari definisi di atas, saya pribadi kebingungan bagaimana bisa disandingkan antara kata “kekerasan” dengan “pengetahuan ketuhanan”?

Belum selesai keheranan itu, masih ditambah lagi dengan usulan mengganti kata kafir dalam konteks kewarganegaraan.

Alhamdulillah, kemudian putra kelima Mbah Maimoen Zubair, Gus Abdul Ghofur Maimoen meluruskan, bahwa pernyataaan yang mengatakan non-muslim Indonesia tidak disebut kafir tidak pernah ada di dalam forum Bahtsul Masail sebagaimana yang disampaikan oleh Moqsith Ghazali.

https://suaramuslim.net/bantah-moqsith-mengenai-non-muslim-putra-mbah-maimoen-itu-hanya-kesimpulan-dia/

Kekerasan teologis yang jadi alasan untuk menghapus kata kafir – sebagaimana yang diinginkan Moqsith – itu apakah hanya ada pada ajaran Islam? Bagaimana dengan agama lain?

Dan sejak kapan pula kata kafir bermuatan kekerasan? Ketika Allah swt menyebut kata itu pada wahyu yang diturunkan di Mekkah dan Madinah, tak terdengar ketersinggungan oleh “non muslim”. Mereka hanya marah karena sesembahannya tidak dianggap Tuhan oleh Islam. Mereka marah karena ada yang mengajak untuk berhenti menyembah berhala. Bukan marah karena disebut kafir.

Allah swt pun memakai kata kafir dalam aktifitas ummat Muhammad saw, sebagaimana dalam Al Baqarah: 256 (dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan “ingkar”).

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut (yakfur bith thoghut, kafir kepada thoghut) dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Dan begitulah aktifitas iman yang benar kepada Allah, harus disertai dengan kafir kepada thoghut atau sembahan selain-Nya. Bahkan “penafian” atas adanya segala bentuk sembahan didahulukan sebelum “penetapan” bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Seperti dalam struktur kalimat “Laa ilaaha illallah”.

Dan itu juga yang dideklarasikan oleh Ibrahim a.s. dalam Al Mumtanah ayat 4, bahwa ia kafir (mengingkari) terhadap agama kaumnya. “Kafarna bikum”, ujarnya.

Lantas di bagian mana yang menjadi kekerasan teologis, ketika orang yang mukmin pun mengaku kafir terhadap ajaran selain Islam?

Andai penganut Kristen, Budha, Hindu, atau aliran kepercayaan berkata kepada muslim, “kalian disebut kafir dalam agama kami”, maka pernyataan itu akan disambut gembira, “Benar. Ya Allah, saksikan lah, bahwa kami kafir terhadap agama dan tuhan mereka, dan kami hanya beriman kepada-Mu.”

Aktivitas mengimani sesuatu serta mengingkari/mengkafiri yang lain ada secara bersamaan dalam sebuah kepercayaan.

Atau yang diinginkan adalah mengimani semua tanpa mengingkari satu pun?

Apa Pengganti Kata Kafir?

Saya sudah lama mendengar wacana bahwa status kewarganegaraan bagi non muslim yang dirumuskan ulama di zaman kekhalifahan, tidak relevan di negara yang tak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam. Karena tak ada jizyah, dan syarat lainnya.

Tapi wacana itu tak ada relevansinya dengan alasan “kekerasan teologis” sehingga istilah kafir harus dihapus. Silakan berijtihad untuk mengisi kekosongan istilah terhadap non muslim yang tinggal di tengah mayoritas muslim di negara yang tidak mendeklarasikan sebagai negara Islam. Tapi kata kafir adalah istilah teologis, istilah aqidah, sebagai pembeda antara mukmin dan bukan, dan sering kali tak dipakai untuk bicara soal kewarganegaraan.

Kalau harus dipaksa disubstitusi dengan Muwathinun, coba ganti dalam ayat berikut:

“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)” (QS: Al Ahzab: 64)

Dalam Al-Qur’an bertebaran ayat yang mengancam orang kafir dengan siksa neraka. Mau diganti dengan istilah apa pun, ancaman terebut tetap berlaku. Kalau itu dianggap kekerasan, maka tentu bukan kata kafirnya yang harus dipermasalahkan.

Alhamdulillah ada klarifikasi bahwa tidak ada niat mengganti kata kafir dalam Al-Qur’an. Hanya saja, kapan sih kata kafir dijadikan panggilan dalam percakapan sehari-hari? Tidak ada kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia memanggil kawannya, “Hai, mas bro kafir…”

Kata kafir biasanya disinggung dalam pengajian atau forum khusus umat Islam. Kagok kalau harus diganti istilah lain. Karena yang dimaksud adalah orang yang tak beriman, bukan warga negara. Diganti “non muslim” tak kan memadai sebagai eufimisme karena kafir itu istilah dalam aqidah. Pemakaian istilah itu pun tak kan menghapus ancaman yang bertebaran dalam Qur’an dan hadits kepada mereka.

Sudah lah. Tak ada masalah dalam kehidupan beragama di negara ini. Baik baik saja. Tak ada kerusuhan antar pemeluk agama. Jangan dibuat mencekam. Tak perlu lah berbasa-basi teologis (nah lho… Saya jadi ikutan bikin istilah macem-macem juga. Ngawur pastinya).

2 Maret 2019

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2019 in Artikel Umum

 

Di PKS Ada Rasa Apa Aja?

“Turun di Juanda mau ke Pamekasan, ketemu orang Bangkalan. “Gule PKS (saya PKS), Pak Presiden!” “Beuh, e Madure bede PKS kiya (Lho dl Madura ada PKS juga)?”aku tanya. “Bede (ada). PKS rasa NU!””

Itu adalah kicauan Sudjiwo Tedjo di Twitter, yang ia post pada 23 Februari 2019 melalui akun @sudjiwotedjo. Cukup menarik kalimat orang yang diajak bicara “Presiden Jancukers” itu. “PKS rasa NU” katanya.

Lho, PKS itu makanan atau apa? Kok punya rasa segala? Emang ada rasa apa saja?

Memang banyak warga NU yang menjadi kader PKS. Sehingga “cita rasa” NU bisa mewarnai partai dakwah ini. Ada lomba baca kitab kuning, ada semangat melindungi santri dan kiai melalui wacana “RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol Agama” ( http://pks.id/content/janji-politik-pks-ruu-perlindungan-ulama-tokoh-agama-dan-simbol-agama ), dan ikut memperjuangkan RUU Pesantren ( http://pks.id/content/pks-janji-konsen-kawal-ruu-pesantren ). Itu adalah kiprah dari gelora darah nahdliyin.

Karena NU bukan soal tahlilan dan qunutan saja. Dalam tubuh partai, semangat “kaum sarungan” mengejawantah dalam aksi yang lebih strategis yang bermanfaat untuk umat.

Nahdliyin yang menjadi tokoh di PKS? Banyak. Ketua Majelis Syuro, pimpinan tertinggi di partai tersebut, adalah seorang Habib, Habib Salim Segaf Aljufri. Ada cucu pendiri NU (keturunan kelima), Abdul Hadi Wijaya, Sekretaris Umum DPW PKS Jawa Barat.

Dan karena mayoritas umat Islam di Indonesia adalah warga NU, maka saya yakin mayoritas anggota PKS juga nahdliyin. Dan mereka bukan sekedar ngaku-ngaku warga NU tanpa memberi kontribusi. Penulis kenal ada kader PKS yang menjadi anggota bahtsul masail di sebuah cabang NU.

Jadi, di ormas induknya, mereka juga berkiprah. Tapi untuk urusan politik, mereka cocok bersama partai berlambang bulan sabit kembar ini.

Namun disayangkan, ada pihak yang ingin membenturkan dua asset ummat tersebut. Motivasi mereka dari politis hingga karena ketidaktahuan. Ada yang melempar tuduhan keji bahwa PKS memusuhi NU, dan ada yang menelan fitnah tersebut begitu saja. Semoga Allah tunjukkan kebenaran bagi mereka.

Lalu ada rasa apalagi di PKS? Rasa Muhammadiyah? Tentu saja ada. Di Ranah Minang dan sekitarnya misalnya, tentu kader di sana memberi rasa PKS dengan rasa Muhammadiyah.

Semangat “berkemajuan” juga disalurkan kader PKS rasa Muhammadiyah dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk masyarakat.

Rasa Persis juga ada di Jawa Barat.

Yang tak boleh ada, rasa aliran keagamaan yang sudah divonis sesat oleh MUI. Di luar itu, mari berbaur menghilangkan sekat perbedaan fiqh untuk mewarnai dunia politik Indonesia dengan dakwah Islam bersama PKS!

Oh iya… Kalau rasa yang dulu pernah ada? Ahsiyaaap…. Itu dipendam oleh orang-orang yang pernah membersamai PKS, namun kini memilih hengkang. Diam-diam, ada hasrat untuk kembali karena suasana dan lingkungan yang ngangenin dan memiliki ruh. Berbeda ketika berjalan sendiri atau bersama yang lain.

Untuk mereka, jangan malu dan segan untuk balik. Tahu kan arah jalan pulang? Luruskan niat, jadikan Allahu ghoyatuna, dan mantanmu selalu terbuka untuk dirimu.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2019 in Artikel Umum

 

Saat Merasa Selalu Dirundung Masalah

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Pernah merasakan hidup teramat sulit, atau bahkan merasa orang yang paling sial di dunia? Tiap saat ada saja kesulitan yang datang. Kalau ada yang meminta untuk membuat daftar masalah yang sedang dihadapi, akan mudah menyusun list yang panjang.

Tetapi apa pun masalahnya, tak pernah ada alasan untuk mengeluh. Apalagi kalau mau sedikit berusaha menghitung perbandingan nikmat yang sedang didapat dan musibah yang sedang dihadapi. Sangat tidak sebanding.

Persoalannya, apakah kita akan bersikap adil bersikap terhadap nikmat dan musibah yang datang? Kalau besaran reaksi terhadap satu musibah sama dengan besaran reaksi terhadap nikmat, maka orang-orang akan melihat kita sebagai manusia yang senantiasa ceria. Karena musibah itu tertutup sudah oleh kenikmatan yang jauh lebih banyak didapat. Sadarkah?

Yang terjadi adalah, nikmat yang tiap detik dirasakan oleh manusia dianggapnya sebagai sesuatu yang memang layak didapat. Sesuatu yang wajar dan tak perlu ada reaksi apa-apa. Berbeda dengan masalah, dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang tidak wajar menimpanya. Akibatnya manusia lebih sering bereaksi terhadap musibah daripada nikmat.

Sikap seperti ini yang disitir oleh Allah swt.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij: 19-21)

Padahal Allah swt saat memberi sebuah kesulitan, menyertakan pula beberapa kemudahan. Bukan satu kesulitan satu kemudahan, tapi bersama satu kesulitan terdapat banyak kemudahan.

Ibnu Katsir memberikan tafsir pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 seperti tertulis di atas.

“Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh “Al-’usri” (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh “yusran” berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak.”

Keimanan di dalam hati kita akan membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an. Pembuktiannya mudah, tinggal hitung saja kenikmatan yang sedang kita rasakan. Syaratnya, kita harus membuka hati bahwa semua kemudahan, kelapangan, dan kesenangan yang kita rasakan itu bersumber dari Allah swt bukan karena kerja keras kita semata.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Tips agar bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt dengan senantiasa mengucapkan hamdalah saat terasa sebuah kesenangan. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS 93:11).

Dan terhadap kesulitan, bersikaplah ridho dan lapang dada. Lalu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat memang lebih banyak daripada kesulitan.

 

Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Alkisah, segerombolan penipu licik berprofesi sebagai penjahit ingin mengecoh raja. Harta menjadi motivasi mereka. Sang paduka dikenal gila sanjungan dan sangat bermurah hati kepada para pemujanya.

Mereka datang ke istana dengan prototype baju-baju megah dan indah. Mereka tidak hendak menjual barang yang dibawa, tetapi menawarkan untuk membuatkan jubah dari sutra super halus kepada raja. Saking tingginya kualitas pakaian yang hendak dibikin itu, hanya orang pandai yang bisa melihatnya.

Tawaran itu disetujui dengan jangka waktu tertentu. Raja tertarik karena ingin mengetahui siapa saja yang termasuk kalangan orang bodoh di istana yang tak mampu melihat keindahan jubah impiannya.

Jelang deadline, perdana menteri diutus untuk memantau pekerjaan para penjahit. Sang menteri terkejut karena tak melihat satu helai benang pun. Namun demi tak mau dibilang bodoh, menteri hanya mengangguk-angguk dan menyampaikan kepada raja, sebagaimana kalimat para penjahit, bahwa baju telah hampir selesai.

Waktu telah tiba. Para penipu itu membawa “hasil kerjanya” ke istana. Rupanya raja pun tak bisa melihat baju itu. Tapi karena tak mau dianggap bodoh, beliau menurut saja saat ia yang hanya berpakaian dalam dipakaikan jubah kebesaran oleh para penjahit.

Seisi istana memuji raja. Meski tak satu pun melihat rupa baju tersebut. Dan raja yang kegeeran pun berkeliling wilayah kekuasannya untuk memamerkan betapa anggunnya ia memakai pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang cerdas.

Rakyat di kumpulkan mendadak untuk melihat fashion show. Mulut mereka menganga melihat raja yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tak berani bertanya atau mengkritik.

Dan sang paduka pun menahan rasa kedinginan. Terasa sekali hembusan angin menerpa badannya tanpa penghalang apa pun. Hingga akhirnya seorang anak kecil berteriak, “kok raja gak malu gak pake baju?”

Anak kecil itu jujur. Sehingga keraguan pun memenuhi hati sang paduka. Buru-buru ia kembali ke istana karena tak yakin bahwa ia sedang mengenakan pakaian. Sementara para penjahit itu telang hilang sejak menerima upahnya.

*****

Mungkin pembaca pernah mendengar cerita di atas. Menjadi pelajaran bahwa orang yang gila sanjung akan mudah sekali dikelabui.

Kata “bengak” bisa saja diberi kepanjangan yang bagus-bagus. Tapi orang Sumatra paham bahwa arti kata itu adalah bodoh yang parah.

Kata “blegug” bisa juga diberi kepanjangan yang keren-keren. Tapi orang Sunda mengerti bahwa itu adalah kata umpatan.

Nusantara kaya akan bahasa daerah. Dan tiap bahasa punya kata makian tersendiri. Yang kata itu bisa saja dijadikan akronim dengan arti yang bagus-bagus.

Namun orang pintar tak kan mau dijuluki Si Bengak, Mang Blegug, dan cacian lain walau dengan kepanjangan yang dibuat indah.

Beda dengan orang bodoh gila pujian yang gampang terkecoh. Ia akan cengar-cengir saja dijuluki dengan kata-kata umpatan oleh para penjilat yang menipu, hanya karena kata itu dibikinkan kepanjangan yang menyanjung.

Sebagaimana baju transparan yang sejatinya hinaan, namun sayang raja malah kegeeran.

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2019 in Artikel Umum