RSS

Fenomena Plagiator Muda, Tak Beri Solusi Tapi Perpecahan Abadi

Jangan heran kalau selebriti muda yang baru naik daun itu tertangkap basah memplagiat tulisan orang. Karena dari awal, tidak ada hal baru dalam gagasannya. Esensi “semua agama sama” adalah hal basi, yang kemudian ia kemas ulang dalam retorika dan diksi yang seolah baru.

Hanya saja, kemunculan anak itu memberi kegirangan luar biasa bagi pengusung pluralisme agama. Bagi mereka, terpenuhilah kebutuhan akan kader penerus yang akan mengamplifikasi gagasan usang dan “me-repost” wacana lama di media sosial.

Momennya kemunculannya pun tepat. Setelah keterpurukan si junjungan di bilik pemungutan suara dan ruang sidang, penganut liberalisme agama mendapatkan sosok baru untuk dipuja. Seolah mengurangi pedihnya luka.

Terlalu lebay anak itu disanjung-sanjung, bahkan diundang ke upacara peringatan Pancasila. Kini, Pancasila seolah jadi jargon jualan tanpa isi moral. Tak peduli seorang plagiat yang tak jujur, atau biduan yang menggoyang-goyang bokongnya di depan publik, siapa pun asal sesuai selera boleh saja disematkan gelar Pancasilais dan menjadi duta.

Ada yang tahu nama Muhammad Abrary Pulungan? Mungkin masyarakat sudah lupa. Anak ini berani melaporkan kecurangan Ujian Nasional di sekolahnya. Tapi untuk kejujuran seperti ini, tak banyak apresiasi sebagaimana si plagiator muda.

Padahal bangsa ini darurat kejujuran. Beberapa waktu lalu seorang murid di Padang Sidempuan terpaksa menenggak racun akibat diteror seorang gurunya setelah ia mengunggah status di media sosial yang mengindikasikan kecurangan pada Ujian Nasional.

Ada banyak lagi anak yang pantas mendapat apresiasi lebih. Para siswa yang telah memenangkan olimpiade pelajaran di tingkat internasional tidak pernah mendapat ulasan seheboh si plagiator di media massa. Atau para atlet yang berprestasi mengharumkan nama Indonesia.

Diangkatnya nama si plagiator muda hanyalah sarana mempolitisasi kebhinekaan dan Pancasila. Seorang walikota yang hendak maju menyalonkan diri jadi gubernur sudah terlihat eksis berfoto bersamanya. Siapa yang butuh suara kaum kotak-kotak, sila berpose dan memuji-muji anak itu.

Dan buruknya, fenomena plagiator muda ini akan mengekalkan politik identitas dan perpecahan anak bangsa. Sebab tulisannya menyinggung hal yang sensitif dan mengangkat hal yang kontroversial. Ia bisa menjadi simbol baru permusuhan antar masyarakat, bahan perdebatan baru di media sosial, dan standard baru untuk stigmatisasi. Seperti yang telah terlihat belakangan ini.

Sementara anak itu tak menghadirkan solusi yang menyatukan bangsa ini. Hanya plagiarisme yang sebabkan keriuhan baru.

 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2017 in Artikel Umum

 

Karena Hidup Bukan Untuk ke Bulan

Dalam sebuah perdebatan, kau lontarkan argumentasi: “Orang udah sampe ke bulan, lu masih ngomongin agama.” Kawan, kau tidak suka kalau hal-hal tentang agama dijadikan bahan pembicaraan. Menurutmu topik tersebut menyebabkan keterbelakangan. Kawan, kau yang tidak suka ngomongin agama, apakah sudah pernah ke bulan? Kenyataannya tidak.

Kawan, tujuan hidup manusia bukan untuk berlomba pergi ke bulan. Mulia kah mereka yang pernah singgah di bulan? Dan hinakah mereka yang tak mampu pergi ke sana?

Ada mereka yang menghabiskan umurnya memberikan pendidikan kepada ribuan anak. Bekerja sebagai guru. Membagi ilmu dengan penuh rasa sayang. Membangun pondasi masa depan untuk setiap anak yang ia ajar. Orang-orang itu mulia meski tak pernah punya kesempatan ke bulan.

Ada mereka yang hadir memberi pertolongan kepada orang-orang yang sakit. Dengan ikhlas, dikerahkannya daya agar yang mendapat musibah bisa segera sembuh. Mendengar keluhan dengan sabar, memberi terapi, merawat, dan segenap ikhtiar lainnya. Mereka tak pernah punya kesempatan pergi ke bulan, tetapi mereka adalah manusia-manusia mulia dengan kebajikannya.

Ada mereka yang sungguh-sungguh bekerja demi keluarga. Ada yang memeras keringat banting tulang menyelesaikan pekerjaan yang berat. Ada yang berhadapan dengan resiko kematian. Ada yang melapang-lapangkan hati berhadapan dengan klien atau atasan yang tak menyenangkan. Ada yang harus menebalkan muka menepis rasa malu. Mereka berbuat itu agar istri dan anak mereka bisa hidup dengan layak. Mereka adalah makhluk mulia yang penuh tanggung jawab. Meski mereka tak pernah punya kesempatan pergi ke bulan.

Kawan, kemuliaan hidup bukan diukur dari seberapa tinggi ia mampu terbang. Namun hidup harus punya makna. Berarti bagi sesama. Menjadi inspirasi kebaikan. Dan agama memberi pedoman untuk menjadi seperti itu.

Dari seratus juta anak yang lahir di dunia, mungkin hanya satu di antaranya yang ditakdirkan menjadi astronot untuk mengarungi luar angkasa. Mereka pun tak harus pergi ke bulan.

Namun apakah agama menjadi penghambat peradaban manusia menaklukkan angkasa? Tidak begitu kawan. Setidaknya dalam agamaku tidak begitu. Malah Al-Qur’an menantang manusia dan memberi keyword untuk menjelajahi langit dan bumi. Al-Qur’an memotivasi agar alam semesta ini bisa dieksplorasi dengan “power”.

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS Ar-Rahman: 33)

Maka, kawanku, membicarakan agama bisa memberi antusiasme bagi umat manusia untuk mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dan orang yang mendalami Al-Qur’an akan tahu bahwa alam semesta ini memang bisa ditaklukkan dengan buah fikiran manusia.

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jaatsiyah: 13)

Kawan, jangan remehkan agama! Ia adalah sumber kebajikan buat sesama, dan sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia.

Zico Alviandri

 

Film Iqro dan Pilkada Jakarta

Raut gundah Professor Wibowo masih terbayang di benak saya. Dalam rapat bersama penyumbang dana untuk operasional Bosscha, Professor Wibowo dengan suara tercekat memaparkan bahwa Bosscha adalah anugerah Allah swt untuk Indonesia yang terpelihara dari kekejaman perang dunia kedua. Tatkala Jepang menjatuhkan bom ke atas tanah Bosscha, Allah swt menghendaki agar bom itu tidak meledak.

Begitu perih hati Professor Wibowo mendengar ancaman dana untuk Bosscha akan dihentikan. Bosscha dianggap tak lagi efektif dan produktif sebagai tempat observasi benda-benda langit karena terganggu polusi cahaya di sekitar. Terutama sejak pembangunan hotel yang berjarak 200 meter dari gedung berkubah itu.

Semoga sepenggal cerita di atas tidak menjadi “spoiler” bagi film Iqro yang tengah tayang di bioskop-bioskop tanah air. Kesan setelah menonton film Iqro akhir pekan kemarin masih begitu kuat. Tentang jumawanya konglomerasi yang tega membuat kerusakan demi membangun bisnis dengan dana besarnya. Mengendarai birokrasi yang tak tahan godaan uang.

Pada film tersebut, dikisahkan tentang pembangunan hotel di dekat Bosscha yang semakin mengganggu pengamatan benda-benda langit akibat polusi cahaya yang ditimbulkan. Operasional Bosscha pun terancam dihentikan.

Ketika para penonton dibuat sesak dada akibat konflik di film tersebut, sesungguhnya di dunia nyata kisah ketamakan ini sedang terjadi. Meski bukan pada Bosscha korbannya, namun menimpa nelayan di pesisir Jakarta yang terganggu akibat pembangunan pulau reklamasi di Teluk Jakarta.

Apa yang dirasa para nelayan itu lebih menyakitkan dari yang dirasakan Professor Wibowo (diperankan Cok Sumbara). Karena mengganggu pencarian nafkah mereka. Para nelayan harus berjalan lebih jauh untuk mencari ikan dan menghabiskan lebih banyak modal untuk bahan bakar.

Dalam film Iqro, penonton mungkin gemas dengan konglomerat yang seenaknya membangun tanpa izin. Begitu pula di dunia nyata, sebenarnya banyak masyarakat yang gemas dengan ketamakan pengembang yang bahu membahu dengan birokrasi menguruk laut menjadi pulau palsu reklamasi. Tak peduli lingkungan rusak, namun proyek terus berjalan meski tanpa amdal.

Mei 2016 sebenarnya nelayan telah memenangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas izin reklamasi untuk Pulau G. Namun ketika itu proyek telah terlanjur berjalan. Reklamasi juga melanggar beberapa peraturan, misalnya Pasal 36 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 31 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan peraturan lain. (Lihat: http://www.bantuanhukum.or.id/web/reklamasi-teluk-jakarta-proyek-ambisius-penuh-pelanggaran/ )

Menteri Susi Pudjiastuti sendiri dalam beberapa kesempatan berbicara kepada media meyatakan ketidak setujuannya atas reklamasi ini. Kenyataannya proyek terus berjalan.

Ini yang membuat pikiran saya seketika terasosiasi dengan kasus reklamasi Teluk Jakarta saat melihat adegan film Iqro yang menceritakan pembangunan illegal hotel bintang 5 yang berjarak ratusan meter dari Bosscha.

Memang film Iqro ini dibuat tanpa ada hubungannya dengan pilkada Jakarta. Namun moral story dari film ini tentu mengajak kita untuk berfikir ulang untuk memilih calon yang ngotot ingin mereklamasi Teluk Jakarta.

Zico Alviandri

8 Februari 2017

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2017 in Artikel Umum

 

Ahlan wa Sahlan, Barisan Anshar!

18 April 2017

Sejatinya kaum Anshar adalah orang yang melapangkan tanah dan rumahnya dengan senyaman mungkin bagi saudara mereka, kaum Muhajirin. Mereka tak segan membagi harta dan apa yang mereka punya.

Anshar memiliki arti penolong. Mereka dulu menolong umat Islam yang diintimidasi kafir Quraisy. Kini pun kata Anshar tetap bermakna penolong. Selayaknya mereka menjadi pembela agama Islam. Menentang pihak yang mengolok-olok kitab suci umat Islam. Berhadapan dengan mereka yang menghina umat Islam.

Anshar adalah simbol ukhuwah. Allah swt memuji mereka dalam Al-Qur’an.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 59:9)

Anshar adalah awliya’ umat Islam. Teman setia, saling memberi loyalitas, dan menjadi pemimpin. Menjadikan Anshar sebagai awliya bukanlah terlarang, tapi justru wajib karena sesama umat Islam.

Dulu Kaum Anshar adalah tuan rumah. Tapi kini “Anshar” sedang “rihlah”. Mereka memasuki tanah kaum muslimin yang tengah kecamuk peperangan melawan hegemoni taipan dan tiran. Maka layaklah Barisan Anshar Serbaguna di Jakarta disambut dengan hangat, diperlakukan sebagaimana saudara sang penolong, dijamu dengan penuh cinta sesama saudara muslim.

Jangan sungkan ceritakan kepada mereka tentang kekejaman tiran yang dibeking taipan yang telah mengusiri rakyat dari rumahnya, yang merusak laut membangun pulau ilegal untuk orang asing, yang mencaci maki rakyat kecil menuduhnya maling, bahkan menghina kitab suci umat muslim.

Ingatkan kepada barisan Anshar, bahwa “innamal mu’minuna ikhwah”, sesungguhnya mukmin itu bersaudara. Ingatkan bahwa mereka dan warga muslim Jakarta itu bersaudara karena iman. Umat muslim yang paling berhak mendapat pertolongan mereka.

Wahai para pemuda yang gagah yang tergabung dalam Banser, kami saudara kalian dalam iman. Selamat datang di Jakarta. Mari menyatukan kepalan tangan, menyamakan langkah dan tujuan, menyatukan pandangan, bahwa perjuangan kita adalah perjuangan membela rakyat kecil dan melawan si penista agama. Ada kaum yang mulia yang tersemat dalam nama kalian, hingga pantaslah kalian berlaku mulia dan diperlakukan mulia.

Wahai Banser, jadilah awliya kaum muslimin. Jangan loyal kepada yang lain. Surga Allah abadi sedang dunia ini fana. Teguhkan pendirian jangan tergoda rayuan taipan. Mari bersama melangkah menuju surga.

Zico Alviandri

 

Jangan Caci Bumi yang Kau Pijak, Jangan Rendahkan Langit Tempat Kau Berlindung!

Oleh ayah, saya diberi nama Zico. Bukan nama pribumi. Tapi cukup keren meski saya akui penampilan saya tak mampu imbangi kerennya nama saya itu. Dan mohon jangan diplesetkan menjadi cacian yang marak dibincangkan di media sosial belakangan, meski terdengar mirip, meski sekedar bergurau. Karena umpatan itu sudah melampaui batas.

Saya perantau. Kakek dan orang tua saya hijrah dari sebuah kampung di pesisir ranah Minang ke kaki pulau Sumatera, tepatnya di Bandar Lampung. Saya lahir dan besar di situ, lantas melanjutkan kuliah di pulau seberang. Hingga sekarang tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.

Memang, suku saya terkenal dengan budaya merantaunya. Sampai-sampai kata perantau itu menjadi judul film yang menceritakan seorang pemuda Minang. Saya yakin, jumah penduduk di Sumatera Barat itu masih lebih kecil dari jumlah orang Minang yang merantau ke penjuru dunia.

Sebagai perantau, yang dicamkan oleh saya adalah pepatah leluhur yang berbunyi: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Maksudnya, ada budaya yang harus dihormati oleh perantau di mana pun ia tinggal. Tak hanya dihormati, tapi orang perantau haruslah berbaur dan menjaga kelestarian budaya setempat.

Perantau dari mana pun, adalah pantang untuk membuat kekacauan karena menghina budaya setempat. Di Nusantara ini masyarakat hidup dengan menjalin aturan agama dan budaya. Maka tak boleh pula bagi perantau menghina agama penduduk di tempat ia tinggal, menistakan kitab suci yang dijunjung di sana, atau memaki pemuka agama yang dimuliakan masyarakatnya.

Kalau ini terjadi tentu tak segan penduduk asli mengusir si perantau. “Tak tahu diuntung”, ucap mereka. “Sudah mencari penghidupan di tempat kami, kau tak bisa menghormati kami.” Tak ingin pula kita terjadi hal yang lebih ditakutkan lagi: kerusuhan massal karena dipantik oleh lidah yang tak punya adab.

Tak hanya budaya, penduduk setempat pun tak boleh pula kita rendahkan kehormatannya. Senyampang kita mampu hidup sukses di perantauan, bukan berarti berbuat sekehendak hati lalu memandang hina, memaki, membentak, menuduh pencuri, dan perbuatan tak pantas lain kepada pribumi.

Memang dalam diri pendatang itu punya motivasi yang lebih besar untuk hidupnya dari warga asli. Mereka harus survive. Tak hanya suapan nasi yang dicari, tempat berteduh juga harus diperjuangkan. Maka mereka berjuang lebih gigih, hingga – berkat karunia Allah swt – si perantau pun menjadi lebih makmur dari yang lainnya.

Umumnya begitu, meski banyak juga pengecualiannya seperti saya. Hiks…

Sayangnya setelah berjaya, tak jarang si perantau lupa diri. Ia memandang rendah pribumi, menganggap mereka pemalas dan bodoh, dan segala lintasan pikiran lain yang ditiup-tiupkan nafsunya. Sikap congkak ditampakkan. Dan yang seperti ini lah bisa memicu kerusuhan sosial.

Tak pantas bagi perantau bersikap seperti itu. Tahu diri lah. Kalian menumpang di tempat orang. Bila bisa lebih sukses, tetap lah rendah hati.

Dan sebagai perantau, tak patut pula merusak kampung yang ditempati. Merusak buminya, merusak lautnya, merusak udaranya. Misal, membangun pabrik, tapi tak acuh dengan limbah yang merusak lingkungan. Atau sebagai developer, si perantau ini menimbun laut membangun pulau. Reklamasi, kata orang sekarang. Padahal dengan pekerjaannya itu para nelayan menjadi kesusahan mencari ikan dan laut pun tercemar. Dan parahnya lagi, pulau yang dibuat itu disediakan untuk perantau lain yang satu kampung dengan kita. Dibangun kemegahan sedemikian rupa di tengah lingkungan yang rusak. Tak ada manfaat sedikit pun untuk warga asli.

Hidup sebagai perantau harusnya hidup dengan penuh tenggang rasa. Melapangkan hati seluas-luasnya, dan mampu merunduk serendahnya meski telah berjaya di tanah orang. Itu semua demi si perantau sendiri, agar tak membangkitkan kemarahan orang kampung, tak mengundang perkara untuk diusir, atau menyebabkan kerusuhan sosial yang lebih besar.

Tahu diri lah! Jangan dicaci bumi yang kau pijak, dan jangan rendahkan langit tempat kau berlindung! Kata-kata itu saya camkan. Dan saya rasa, berlaku pula untuk semua perantau.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2017 in Artikel Umum

 

Belum Cukup Alasankah Agar Ahok Ditahan?

Tertera pada pasal 21 ayat (1) KUHAP, seorang tersangka atau tedakwa bisa ditahan bila memenuhi salah satu syarat. Yaitu dikhawatirkan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti, atau mengulangi tindak pindana.

“Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana.”

Begitu bunyi pasal tersebut. Kata “dan/atau” dalam redaksi menandakan cukup salah satu syarat terpenuhi.

Kemudian kita tahu, terdakwa penistaan agama yang sedang marak dibicarakan, Basuki T Purnama alias Ahok, tak ditahan oleh pihak yang berwajib. Kapolri Tito Karnavian mengemukakan tiga alasan. Pertama, para penyelidik tidak bulat soal adanya tindak pidana. Kedua, Ahok dinilai proaktif sehingga tidak dikhawatirkan akan melarikan diri. Ketiga, Ahok diyakini tidak akan menghilangkan barang bukti. Begitu seperti yang dikutip detikcom.

Bagaimana dengan satu syarat lagi, yaitu jaminan bahwa terdakwa tidak akan mengulangi perbuatannya lagi? Tak dijelaskan apakah Ahok diyakini tak kan mengeluarkan pernyataan yang membuat umat Islam tersinggung setelah penetapan tersangka. Pokoknya, Ahok tidak ditahan. Sudah, jangan banyak tanya!

Ahok sendiri terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos. Masih diingat oleh khalayak, ketika dalam siaran langsung talkshow di sebuah stasiun televisi, Ahok menyebut kata “taik” berulang kali. Kata yang tak pantas untuk dikemukakan di muka umum. Andai siaran itu tidak langsung, tentu pihak stasiun televisi sempat mengeditnya. Sudah diingatkan oleh host, tapi Ahok malah makin percaya diri dengan kalimatnya.

Itu hanya satu contoh. Sudah lah ceplas ceplos, Ahok pun tempramen. Ia tak sungkan marah di hadapan banyak orang. Bahkan seorang ibu yang awam hukum/peraturan yang mengadu kepada Ahok, mendapat tudingan “maling”. Padahal kalau Ahok tidak tempramen, dia bisa meluruskan kesalahan ibu itu dengan sabar.

Ceplas-ceplos dan tempramen. Maka tak aneh bila setelah ditetapkan tersangka, Ahok kembali menyakiti umat Islam. Kali ini ketua MUI Ma’ruf Amin yang dituding-tuding. Kejadiannya pun di pengadilan, di depan majelis hakim. Padahal ulama mendapat tempat yang spesial bagi umat Islam. Menyakiti ulama, berarti menyakiti umat Islam. Kegaduhan pun kembali menyeruak. Atas sikap Ahok ini, Ketua NU Said Agil Siradj berkata, “Ahok Salah! Masyarakat DKI yang NU tidak akan pilih dia.”

Rasa “sakit hati” Ahok terhadap Surat Al-Maidah 51 ini sudah mengakar dan berlangsung bertahun-tahun sejak ia mencalonkan diri sebagai gubernur Bangka Belitung tahun 2007. “Dendam” itu kemudian ia tuangkan dalam bukunya “Merubah Indonesia” yang ia unggah di website pribadinya pada Juli 2010. Di buku itu ia sudah berbicara di luar kepantasannya tentang ayat tersebut.

Nyinyirnya Ahok berlanjut pada rapat Pemprov DKI pada 12 Oktober 2015. Beredar video berdurasi 1 menit di mana Ahok menyebut “Al-Maidah 51” untuk nama wifi dengan passwordnya “kafir”. Ia berucap begitu sambil tertawa. Menjadikan firman Allah swt sebagai bahan olok-olokan.

Terakhir, video kampanye Ahok terbaru kembali menyakiti umat Islam. Di awal tayangan, digambarkan sekelompok orang berpakaian muslim berada di tengah kerusuhan, berlatar spanduk ujaran kebencian yang bertuliskan “Ganyang Cina”, gerak mulut mereka seperti mengucap “Allahu Akbar”. Kembali kegaduhan terjadi gara-gara Ahok.

Dari deretan peristiwa ini, rasanya kita sangsikan bila Ahok tak akan mengulangi perbuatan yang melecehkan umat Islam. Harusnya aparat peka dengan kegelisahan masyarakat. Menahan Ahok dan meminimalisirnya untuk mengeluarkan komentar ceplas ceplos bisa mengurangi kegaduhan yang menguras energi dan tak menguntungkan apa-apa bagi bangsa, seperti yang sedang kita alami.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2017 in Artikel Umum

 

Kata Manhaj dan Rasa yang Sudah Berubah

Saya pertama kali mendengar kata manhaj dari sebuah frasa “minhajul hayah”, atau jalan hidup. Ketika itu dalam “lingkaran kecil” mentoring Rohis SMA, kakak kelas memperkenalkan karakteristik agama Islam, yaitu robbaniyah (bersumber dari Tuhan), insaniyah (ajarannya manusiawi), syamil wa mutakamil (lengkap dan menyeluruh), wasathiyah (pertengahan), tsabat wa muruna (fleksibel, ada ajaran yang tetap dan ada yang menerima perubahan). Dari karakter itu, Islam sangat layak menjadi manhaj (jalan/metode) hidup seorang muslim.

Islam adalah the way of life, minhajul hayah, manhaj hidup seorang muslim. Dari urusan ibadah hingga bernegara, aturan ekonomi hingga masuk ke wc, aturan berperang hingga hubungan suami istri, Islam menyediakan ajaran yang terbaik dalam sunnah Nabi Muhammad saw. Mengimplementasikan ajaran Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari, maka itulah yang disebut menjadikan Islam sebagai manhaj hidup. Bila disebut kata manhaj, asosiasinya adalah Islam yang syamil wa mutakamil.

Hingga bertahun-tahun berikutnya, saya mendengar kata manhaj dalam sesuatu yang lain, asosiasi yang lain, dan kesan yang berbeda. Pengalaman kemarin, saat saya berdiskusi dengan rekan-rekan pegiat dakwah di sebuah komunitas tentang problematika umat, saya menyodorkan dakwah Islam yang syamil (komprehensif) sebagai solusi masalah-masalah umat. Salah satu ciri dakwah yang syamil adalah manhaji, metode dakwahnya sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah Rasulullah yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Ketika menerangkan apa maksud manhaji, tiba-tiba menyeruak rasa canggung.

Belakangan ini, ketika kata manhaj mulai sering disebut-sebut sekelompok orang, tak lagi terbayang syumuliyatul Islam. Tak lagi terasa ajaran yang lapang dan luas, yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Terasa lain.

Rasa kata ini telah berubah menjadi perbedaan, perpecahan, hingga permusuhan. Bila ada yang menyebut kata manhaj, seolah si pembicara itu sedang mempertegas jurang pemisah antara dirinya dengan orang lain yang tak sepemikiran. Disanding lagi dengan kata tahdzir – yang belakangan ramai di beranda media sosial saya.

Dulu, yang saya bayangkan dari kata manhaj adalah kelapangan ajaran Islam yang paripurna. Tapi kini manhaj dipersempit dalam urusan isbal, demonstrasi, biji tasbih, gerakan jari dalam tasyahud, mengangkat tangan untuk berdoa setelah sholat, dll. Hal furu’ yang punya spektrum variasi pendapat yang luas, dipersempit jadi satu pendapat. Di luar pendapat yang dipilih, dianggap batil dan di luar manhaj.

Dulu manhaj terasosiasikan dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin. Kini manhaj menjadi sarung pisau bernama tahdzir. Dengan alasan manhaj, orang yang berbeda pendapat di-tahdzir, di-hajr (boikot), tak diakui sebagai ahlus sunnah, dianggap sesat dan ahlu bid’ah. Atas nama manhaj, pisau tahdzir mencabik kerekatan persaudaraan dengan orang-orang yang berbeda pendapat. Padahal Allah swt telah berfirman “Innamal mu’minuna ikhwah”.

Dulu manhaj yang saya pahami, adalah alasan untuk bersatu dalam bendera Islam. Tapi kini manhaj punya rasa perpecahan. Dengan alasan manhaj, persatuan mereka yang berbeda pendapat dianggap persatuan kebun binatang yang saling cakar-cakaran. Manhaj adalah kata kunci untuk tak menyertai umat Islam dalam agenda-agenda besar. Saat umat Islam berkumpul dan bersatu memohon pertolongan Allah atas pemimpin kafir yang zhalim, pemegang kunci manhaj membentang jarak.

Kata manhaj yang dulu saya bayangkan adalah aspek-aspek kehidupan yang terwarnai ajaran Islam. Dan Allah swt menganugerahi para pakar di berbagai bidang di tengah umat Islam. Maka kita bisa menimba ilmu dari setiap pakar itu. Tapi kini kata manhaj bertransformasi menjadi tempurung tebal. Kalau bukan ustadz yang sepemikiran, tak boleh menimba ilmu darinya.

Kata manhaj membuat turunan istilah baru: “ustadz sunnah”. Dan kata sunnah yang awalnya punya lawan kata “bid’ah”, ada lawan kata baru yaitu “syubhat”. Dipakai dalam pendikotomian ustadz sunnah dan bukan ustadz sunnah. Yang bukan ustadz sunnah dianggap tidak jelas manhajnya, dan rawan menebar syubhat. Mereka mengambil kalimat Imam Adz Dzahabi: “sesungguhnya hati ini lemah, sedang syubhat menyambar-nyambar”, kemudian kalimat itu dijadikan dasar untuk memilih-milih ustadz.

Pada kenyataannya kata manhaj menjadi rebutan di antara kelompok itu. Siapa yang paling manhaji, siapa yang paling lurus di atas jalan salaf, adalah klaim yang harus dimenangkan dengan cakar tahdzir. Sudahlah segelintir mereka memisahkan diri dari tubuh umat Islam atas nama manhaj, di tengah mereka pun saling mengoyak kerekatan. Panah tudingan sururi atau hizbiy bertebaran dari mereka dan untuk sesama mereka dalam kurusetra perebutan manhaj.

Dulu manhaj adalah kata yang Indah bagi saya. Manhaj tersandingkan dengan ajaran Islam. Tapi kini kata manhaj adalah kata yang membuat saya sedih.

Padahal kalau manhaj salaf yang mereka maksud, tak ada para pendahulu yang sholeh itu mudah bertengkar dalam masalah perbedaan pendapat yang furu’.

Manhaj salaf adalah manhaj berukhuwah antara Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas, meski keduanya berbeda pendapat soal hitungan waris. Manhaj salaf adalah manhaj saling menghormati antara Imam Syafi’i yang menganggap qunut shubuh itu sunnah dan Imam Ahmad bin Hanbal yang menganggap qunut shubuh itu bid’ah. Manhaj salaf tak hidup dalam suasana saling tahdzir dan menuduh mayoritas umat Islam sebagai ahli bid’ah.

Apa pun klaim mereka soal manhaj, tetap Islam adalah minhajul hayah bagi semua muslim. Setiap muslim yang berupaya mengamalkan sunnah Rasulullah, mereka berada di atas manhaj yang benar. Sikap menghormati perbedaan dalam masalah furu’, itulah sikap yang manhaji. Berkasih sayang kepada sesama muslim, itulah manhaj Islam. Terlepas dari para perebut klaim soal manhaj.

Zico Alviandri