RSS

Ekspresi Cinta Itu Ada Pada Hal Kecil dan Bisa Diperbandingkan

Di suatu kesempatan ia berbicara soal pusaka yang sakti. Yang bila diacungkan, setiap yang bernyawa akan mati.

Mendengar itu, saya mengira dia orang yang gandrung dengan hal-hal yang ajaib yang di luar nalar manusia.

Tetapi di kesempatan lain, ia menyangkal keistimewaan nabi Muhammad saw. Misalnya ada sinar dari tubuh sang nabi saat bayi. Di hadapan jama’ah, ia menganggap tak ada keistimewaan pada masa kecil Rasulullah saw. Layaknya anak kecil lain yang dekil dan tak terawat. Bahkan bukan tak mungkin punya kebiasaan maling jambu.

Maka saya pun heran. Mengapa pada benda pusaka ia sakralkan begitu rupa, tapi pada Nabi Muhammad saw yang dijuluki Al Amin, yang dikenal tak pernah berbohong dan selalu jujur, ia sifati punya potensi jadi pencuri?

Ketika dia meninta maaf kepada halayak, saya hampir menilai bahwa ia pun sebenarnya cinta kepada Rasulullah saw. Itu sebelum saya menonton potongan video lain ketika ia berbicara soal benda pusaka dan video ia menganggap masa kecil Rasulullah saw bisa saja mencuri.

Lalu lihat pendukungnya. Atas deskripsi Rasulullah saw yang terdengar merendahkan, mereka cari pembenarannya. Satu kasus saat Rasulullah pilek dan sakit mata ditarik menjadi gambaran global tentang masa kecil Rasulullah yang – dalam bayangan mereka – kumuh, dekil dan tak terawat.

Tapi pada kiainya, mereka bela habis-habisan bila ada yang menghina bahkan sekedar menyindir.

Dari kasus ini saya belajar sebuah hal, bahwa rasa cinta itu ada pada hal-hal detail yang kecil. Seperti bagaimana kita berbicara tentang hal yang kita cintai.

Benar, cinta butuh pengorbanan sebagai buktinya. Lautan luas disebrangi, gunung tinggi didaki. Tapi orang yang matanya berbinar, berbicara dengan semangat, dan bercerita dengan membangga-banggakan dan dengan diksi terpilih, sudah cukup sebagai indikasi ia mencintai sesatu yang dibicarakan.

Besaran cinta itu pun makin terlihat ketika diperbandingkan.

Kalau dari contoh di atas, cinta kepada benda pusaka diperbandingkan dengan kepada Rasulullah pada deskripsi yang ajaib-ajaib. Atau cinta kepada kiai dan kepada Rasulullah diperbandingkan saat ada yang merendahkan dua hal tersebut.

 

Kebiasaan yang Tertukar dalam Pernikahan

Mungkinkah ada pertukaran karakter antara suami dan isteri dalam pernikahan? Yang baru saja saya temukan adalah pertukaran kebiasaan. Tapi bukankah kebiasaan itu membentuk karakter?

Rasanya masih kemarin saya temani mereka ta’aruf. Dua tahun lalu tepatnya. Kedua insan yang serius merajut karpet yang membentang ke surga itu bertukar pertanyaan tentang kepribadian masing-masing.

Salah satu yang menjadi perbincangan adalah bagaimana masing-masing mengelola keuangan.

Yang pria menjawab bahwa ia memang mengatur sedemikian rupa nafkah yang ia dapat tiap bulan. Sudah ada pos-posnya untuk makan, transport, membantu kuliah adik, orang tua, dll.

Sedangkan yang wanita mengaku tak terlalu memusingkan uang yang ia pegang. Tak ada rencana anggaran untuk sebulan. Semuanya mengalir begitu saja.

Ia masih tinggal di rumah orang tuanya. Hidup dalam kenyamanan. Bekerja hanya lah aktualisasi diri. Kalau tiba-tiba terjadi sesuatu, masih ada orang tua yang mem-back-up. Bukan perantau yang memang harus berpikir keras mengelola uang seperti si pria.

Alhamdulillah, singkat cerita Allah menghendaki keterhimpunan mereka dalam ikatan pernikahan. Ada babak baru dalam hidup yang tak mudah. Pasang surut hidup dijalani berdua.

Sebuah jiwa pun dititipkan Allah pada mereka untuk dibina. Anggota keluarga bertambah, tentu pengeluaran makin besar. Popok, susu, makanan spesial, pakaian yang mengimbangi perkembangan badannya, biaya berobat bila si kecil sakit, dll.

Si suami makin kewalahan mengelola gajinya. Apalagi pernah pindah kerja ke tempat yang rupanya tak terlalu membuatnya puas atas penghasilan yang diterima. Yang dulunya disiplin mengatur pos-pos keuangan, kini serabutan saja setelah selalu menerima kenyataan bahwa rencana keuangan buyar sejak tengah bulan.

Tapi kini justru terbalik dengan si istri. Beberapa bulan belakangan ia yang membantu suaminya merapikan pengeluaran. Amplop-amplop berjejer menampung pos-pos anggaran. Ia semakin disiplin.

Di media sosial, ia mengikuti akun-akun perancanaan keuangan. Dipelajarinya dengan seksama.

Itu lah sedikit cerita tentang pertukaran kebiasaan antara dua anak manusia. Mungkin cerita yang biasa saja. Tapi bagi saya yang ikut mendampingi mereka ta’aruf, sedikit merasa kagum sekaligus mendapatkan pelajaran.

Dalam pernikahan, akan ada proses belajar antar dua insan. Bukan saja untuk keperluan memahami dan memaklumi, bahkan bisa terjadi peneladanan bila ada sikap atau kebiasaan yang baik.

Dinamika rumah tangga begitu hebatnya sehingga makin mendewasakan. Membentuk kepribadian yang matang dalam menghadapi masalah. Maka apa yang disampaikan saat ta’aruf tentang sebuah perilaku/kebiasaan saat lajang, bisa jadi ada perubahan atau 180 derajat. Atau mungkin perbaikan yang lebih bagusnlagi.

Meski bisa juga kebalikannya karena banyak saya dengar cerita kader-kader dakwah yang futur setelah menikah.

Itu lah tanda-tanda kebesaran Allah swt dalam pernikahan.

 

Sunnah Sayyiah Rasa Heran Terhadap Ajaran Islam

Berabad-abad lalu para ulama telah membahas hukum catur. Mereka berbeda pendapat. Dan memang ada yang mengharamkan.

Kemarin, Ustadz Abdul Somad (UAS) menyampaikan dalam ceramahnya pembahasan yang telah final diijtihadkan oleh para ulama. Tiba-tiba anak-anak malas ngaji plus non muslim terjangkit islamophobia bersikap norak dengan mencela beliau.

Saya rasa bukan soal catur. Bahkan mereka akan kaget dan heran terhadap banyak hal dalam ajaran Islam.

Andai mereka baru tahu adanya kewajiban sholat 5 waktu sehari semalam buat muslim, mereka akan memprotes mengapa banyak sekali sholatnya. Terasa merepotkan dan membebankan. Muncul gugatan bahwa ibadah tersebut hanya buang-buang waktu dan mengganggu usaha mencari nafkah dan aktifitas keseharian.

Andai mereka baru tahu Islam melarang miras, judi, dan zina, mereka akan mengejek agama ini. Dikatakannya terlalu mengekang, membuat hidup membosankan, dan merenggut kesenangan.

Andai mereka baru tahu ada syariat puasa, zakat, dan naik haji, akan ada saja celaan kepada yang menyampaikan tentang kewajiban tersebut. Dituduhnya lah sang da’i ingin membunuh orang dengan rasa lapar, atau ingin merampas harta orang, dan sebagainya.

Dan bukan kah walau pun mereka sudah tahu, tapi sinisme kepada syariat Islam tetap saja ada? Perintah qurban termasuk salah satu yang sering dipermasalahkan. Tiap tahun ada saja yang menyindirnya sebagai ajang pembantaian tak berkemanusiaan. Apalagi kebolehan poligami serta aturan jihad.

Maka ini bukan tentang catur semata. “Malu ditertawakan,” kata Menag. Padahal selain soal hukum catur pun mereka sudah sering menertawakan. Lalu apakah kita turuti saja nafsu mereka, tak perlu disampaikan dan dilaksanakan ajaran yang akan dikomentari orang agar pak Menag tak malu? Naudzubillah.

Para pencela itu hanya melanjutkan kebiasaan para penyembah berhala yang merasa janggal dengan seruan tauhid.

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta. Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”” (QS Shad:5)

Itulah sunnah sayyiah rasa heran kepada ajaran Islam yang diturunkan dari penyembah berhala jaman feodal hingga jaman milenial.

 

Solusi yang Ditunda-tunda Untuk Anies dan Jakarta

Miris membaca berita soal rencana anggaran Pemprov DKI tahun 2020 yang diperbincangkan masyarakat belakangan. Pengadaan lem aibon Rp 82,8 miliar dan ballpoint Rp 123,8 miliar adalah contoh keanehan pada RAPBD itu.

Dalam video yang dirilis oleh diskominfotik Pemprov DKI, Gubernur Anies Baswedan sampai garuk-garuk kepala melihat angka-angka yang tidak masuk di akal. Ketika Rapat Pembahasan RAPBD 2020 bersama SKPD, Anies berpesan tegas agar anggaran Jakarta yang bertriliun-triliun rupiah tersebut bisa menyentuh rakyat yang paling miskin. Ia juga menyindir, “kita ini ingin meningkatkan pendidikan atau mau membahagiakan yang bekerja di bidang pendidikan?”

Anies marah ada anggaran penghapus dan kalkulator masing-masing sebesar 31 miliar. “Ini karena kecil-kecil, sembunyi-sembunyi sana sini, lolos.” Katanya. “Karena itu kita petani satu-satu.” Tidak boleh ada anggaran tidak jelas, perintahnya. Cukup sudah belanja yang tidak penting.

Anies bukannya diam terhadap bau mark up yang menyengat. Terbantah sudah apa yang dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah bahwa Gubernur DKI itu tidak mungkin mengecek satu per satu usulan anggaran dalam rancangan KUA PPAS 2020. Potongan-potongan video dari diskominfotik saat Anies membredel angka-angka rekaan anak buahnya sudah tersebar di media sosial.

Hanya saja bagi hatersnya, Anies tetap dituduh bersalah walau ia telah melawan. Berbeda ketika Ahok juga dikerjai para perancang anggaran – sampai-sampai ia mengatakan “pemahaman nenek lu” – haters Anies memuji-muji Ahok setinggi langit. Sama-sama dikerjai bawahan, sama-sama melawan, tapi yang satu dibully yang satu dipuji.

Di jaman Jokowi-Ahok pun pernah terjadi anggaran ganda APBD 2014 yang mencapai 1,8 Triliun yang ditemukan BPK DKI Jakarta. Kala itu Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi mensinyalir adanya pembiaran oleh Gubernur Jokowi. Sampai muncul suara mendesak KPK turun tangan melakukan penyidikan, yang dilantangkan oleh Koordinator Barisan Muda Anti Korupsi (Berantas) Hamidi.

Kasus anggaran UPS tahun 2016 juga belum begitu lama berlalu. Jadi, memang anggaran fantastis ini sudah jadi penyakit sejak lama. Tak hanya di Jakarta, bahkan di Pemprov seluruh Indonesia. Bedanya, media lebih sibuk menyoroti ibu kota. Apalagi yang memimpin saat ini adalah orang yang mendapat dukungan umat Islam.

Anies melawan sendirian. Karena sampai saat ini belum ada wakil tempat membagi kerjanya. Padahal PKS telah menyodorkan dua kandidat yang sangat bisa diandalkan untuk memeriksa anggaran. Sayang, DPRD DKI terlalu lama kerjanya untuk memutuskan pengganti Sandiaga Uno itu.

Antara Ahmad Syaikhu atau Agung Yulianto harusnya sedang menemani Anies hari-hari ini untuk menyisir keanehan dalam RAPBD 2020. Mereka berdua sama-sama alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Dari latar belakang pendidikan, sudah cukup bukti keandalan mereka.

Ditambah lagi karir Ahmad Syaikhu sebagai anggota DPRD Bekasi pada 2004 dan DPRD Jabar periode 2009-2013. Pada 2013, Syaikhu mendampingi Rahmat Effendi memimpin kota Bekasi setelah menang dalam Pilkada.

Sementara Agung Yulianto memulai kariernya sebagai auditor dan sempat berdinas di BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) Pusat. Terakhir ia memutuskan untuk menjadi pengusaha.

Uji kepatutan dan kelayakan telah digelar bulan Februari 2019 lalu untuk mereka berdua. Hasilnya, menurut ketua tim penguji Ubedilah Badrun, keduanya memiliki kelebihan yang bisa memperkuat Anies Baswedan mengelola provinsi yang dihuni 10,5 juta jiwa itu.

Syaikhu memiliki modal yang kuat di bidang pemerintahan. “Syaikhu itu mampu mengambil keputusan-keputusan karena mungkin latar belakangnya sebagai eksekutor. Dia terlihat mudah untuk memilih kebijakan,” kata Ubedilah kepada CNNIndonesia.com.

Sementara Agung memiliki kemampuan untuk menerjemahkan setiap visi menjadi suatu program. Selama fit and proper test, kata Ubed, Agung terlihat menonjol di bidang ekonomi. Dia dinilai mampu menguasai isu perekonomian terutama peta ekonomi di Jakarta. Agung juga dipandang sebagai orang yang terbuka saat ujian. “Dia memahami pola keuangan pemerintah dan mampu di eksekutor di ekonomi. Penguasaan detail tentang peta ekonomi juga terlihat pada diri Agung.”

Bisa dibayangkan bila yang menjadi wakil Anies adalah Muhammad Taufik yang pernah terjerat kasus korupsi logistik pemilu? Apakah tepat bila profil seperti itu yang membantu Anies mengawasi anggaran? Liputan6 pernah mengangkat berita bahwa politikus Gerindra itu dicalonkan partainya menjadi pengganti Sandiaga Uno. “Sudah ada, Pak Taufik. Tetap. Kan ditunjuk oleh DPP saya enggak bisa jawab,” kata Anggota DPRD DKI asal Gerindra, Syarif kepada Liputan6.

Terasa sekali bahwa balaikota butuh sosok Ahmad Syaikhu atau Agung Yulianto. Menurut saya, zalim lah anggota DPRD yang sengaja mengulur-ngulur penetapan wagub Jakarta. Harusnya masyarakat ibukota sekarang bisa tenang dipimpin oleh orang yang amanah dan paham seluk beluk anggaran.

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2019 in Artikel Umum

 

Buzzer Kemungkaran, Bentuk Modern Mustakbirun

Fungsi buzzer atau influencer adalah mempengaruhi orang yang terhubung dengannya dalam media sosial untuk sebuah opini tertentu. Dalam bisnis tugas mereka adalah memperkenalkan produk, dan dalam politik mereka mencitrakan atau menjatuhkan sebuah entitas politik, atau mendukung sebuah pendapat sehingga menjadi arus yang diikuti oleh followernya.

Sehingga buzzer biasanya adalah selebriti media sosial dengan angka follower yang besar. Atau bisa juga akun-akun kecil yang giat berkomentar, memuji, berdebat, nyinyir, dsb untuk membuat arus opini yang banyak dukungan.

Lebih luas lagi, mereka juga bisa menjadi endorser dari sebuah kemungkaran. Agar penyimpangan seksual, zina, judi, dan kemaksiatan lain bisa diterima masyarakat bahkan dilegalkan oleh pemerintah.

Dalam Al-Qur’an. Allah punya sebutan untuk promotor kejahilan. Diistilahkan sebagai “mustakbirun” (orang yang menyombongkan diri). Sebelum ada media sosial, mereka adalah pemuka-pemuka kaum berpengaruh yang menyombongkan diri di atas bumi, yang mengajak orang-orang untuk mengingkari ajaran para nabi. Setelah ada media sosial, kata mustakbirun mendapat bentuk modernnya pada buzzer-buzzer kemungkaran. Sedangkan mereka yang terpengaruh dan terbawa arus opini keburukan disebut “mustadh’afun” (orang yang lemah).

Dulu, Fir’aun langsung yang menjadi influencer kesyirikan. “Maka Fir’aun dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf:54)

Kini, penguasa tak perlu mengotori tangannya untuk menghasut rakyat menyetujui kemungkaran yang akan ia jalankan atau legalkan dengan kuasanya. Ia cukup mencitrakan diri seolah humanis dengan aktivitas sebagaimana manusia umumnya. Akun media sosialnya diisi hal-hal yang positif saja. Sedangkan aktivitas menghasut, berdebat, bahkan membully orang yang tidak sejalan dikerjakan oleh pasukan “buzzer” yang dibina oleh penguasa. Dengan cara itu, banyak yang terpengaruh oleh arus besar dukungan atau penolakan. Mereka yang tak mau berpikir lebih dalam, rawan membebek pada seruan jahat.

Kini mustakbirun tak hanya monopoli pembesar Quraisy yang menyebar berita hoax pada rakyatnya dengan mengatakan Muhammad saw gila. Bukan hanya disematkan pada Fir’aun, atau pemuka kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, yang mengajak kaumnya menolak untuk bertauhid kepada Allah swt. Bukan hanya istilah untuk mereka yang karena memiliki pengaruh serta anak dan harta yang banyak sehingga merasa tak akan diazab oleh Allah swt, seperti pada Qur’an surat Saba’ ayat 34-35.

Konten kreator dan selebriti media sosial, meski mereka hanya rakyat biasa, sudah bisa menjadi mustakbirun. Dengan cara membuat artikel yang menyesatkan umat. Membuat video yang menghina agama. Membuat meme keren yang mempromosikan kemaksiatan. Berdebat, membully, menyanjung serta aktivitas lain yang akan di-like oleh followernya sehingga memperkuat kemungkaran.

Dan kita pengguna media sosial, jangan sampai berada di posisi mustadh’afun yang terpengaruh buzzer jahat itu. Kuncinya adalah selami kebanaran dengan nurani yang bersih. Jangan menilai kebenaran dari berisik/tidaknya dukungan pada sebuah opini. Mintalah pandangan pada orang-orang bijak yang sholeh. Dan satukan gerak bersama umat Islam yang sungguh-sungguh memperjuangkan agamanya.

Yang menarik adalah, Allah swt menyajikan transkrip dialog obrolan para mustakbirun dan mustadh’afun pada hari kiamat dalam Al-Qur’an. Perhatikan jeritan para pembebek (orang-orang yang lemah dalam memegang al-haq) menagih perlindungan pada para influencer yang dulu dunia bersikap sombong.

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS Ghafir: 47-48)

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Saba: 31-33)

 

Surat Terbuka Untuk Gerakan Mahasiswa 2019

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan

Dua puluh satu tahun lalu rakyat Indonesia merasakan euforia yang luar biasa atas kebebasan yang didapat setelah terkungkung selama 32 tahun. Reformasi berhasil menggulingkan kekuasaan tiran orde baru. Masyarakat telah bebas mengemukakan pendapatnya di berbagai tempat tanpa khawatir “digebuk” oleh penguasa.

Kadang kegembiraan itu kebablasan. Hujat dan caci maki jadi kebiasaan. Bahkan ada yang mengartikan bebas berbuat apa saja meski merugikan orang.

Tapi dengan reformasi yang diperjuangkan senior kalian angkatan 98, terbitlah harapan Indonesia akan jaya. Semua orang punya kesempatan yang sama dalam memimpin dan membangun bangsa. Dan penyakit yang diderita negara ini, yaitu Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), akan segera diberantas.

Merindukan kejayaan. Begitulah yang dirasakan para mahasiswa kala itu. Melalui 6 tuntutan reformasi: Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amendemen UUD 1945, Hapuskan Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya, Tegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.

Saya yakin kalian yang kini turun ke jalan pun merindukan kejayaan untuk negeri ini. Kami juga, dan kami titipkan kerinduan itu pada kalian.

Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Dulu masyarakat bingung dengan yang terjadi pada bangsa ini. Negara kaya raya dengan hasil alam dan tambang. Tapi masih banyak rakyat miskin dengan kesenjangan sosial yang tinggi.

Kini masih. Setelah reformasi bergulir 21 tahun, rupanya keadaan tak banyak berubah. Kejayaan yang dirindukan tak kunjung hadir. KKN yang ingin diberantas, malah semakin kronis.

Kalian yang turun ke jalan, kami titipkan kebingungan ini. Mohon lawan segala upaya pembodohan bangsa dan pelemahan ikhtiar pemberantasan korupsi.

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
di lembar sejarah manusia

Ya, kalian tengah menggoreskan sejarah indah tentang aksi heroisme buat negara ini. Tapi satu pesan saya. Telah ada contoh orang-orang yang dulu dikenal sebagai penggerak perjuangan, namun ketika merengkuh kekuasaan ia berubah menjadi tokoh antagonis yang harus dilawan oleh gerakan mahasiswa.

Ada orang-orang yang dulu berteriak lantang anti korupsi, tapi setelah menjabat ia malah melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Kalian jangan seperti orang-orang itu! Tetaplah istiqomah dalam idealisme sampai mati.

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Selamat berjuang. Selamat bergerak. Peluh bahkan darah kalian adalah asupan buat kejayaan negeri yang sedang kita rindukan bersama. Panaskan aspal-aspal hitam dengan sepatu kalian. Berteriaklah lantang. Tuntaskan agenda reformasi.

Enyahkan kroni-kroni orde baru yang sejak 98 sampai sekarang masih bercokol di kekuasaan. Tuntut undang-undang yang berpihak pada rakyat. Tetap pastikan TNI berada di baraknya. Kawal otonomi daerah, jangan sampai kekayaan mereka dihisap habis oleh pusat yang mengakibatkan gejolak seperti di Papua sekarang. Gugat ketidak adilan hukum. Dan lawan mereka yang ingin memelihara penyakit KKN di negeri ini.

Ya, kalian tentu punya agenda lain hari ini. Tapi yang jelas tidak akan bertentangan dengan 6 tuntutan reformasi dulu.

Selamat berjuang. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2019 in Artikel Umum

 

Perginya Sang Cita Cita

“Pengen jadi kayak Habibie.” Itu jawaban saya di masa kecil saat ditanya orang cita-citanya mau jadi apa. Atau jawaban lain, “Pengen jadi Menristek”.

Ibu saya memperkenalkan sosok dengan mata yang agak melotot dan berbicara dengan penuh tenaga itu sebagai orang jenius. “Bisa bikin pesawat,” ujar ibu saya.

Lalu dengan diiming-imingi akan seperti Habibie, saya disuapi makanan. “Liat itu pak Habibie melotot matanya karena suka makan sambel. Ayo buka mulutnya lebar-lebar. A…”

Sampai akhir SD saya masih yakin ingin menjadi seperti beliau. Tapi ketika bertemu pelajaran matematika di SMP, saya lupa dengan cita-cita itu. Apalagi saat SMA. Impian berubah-ubah. Kadang mau jadi arsitek, ahli tata kota, lalu wartawan, ingin masuk LIPIA, dll. Akhirnya lulus kuliah menyandang gelar S.T. dari jurusan Teknik Informatika.

Cita-cita waktu kecil rasanya terlalu tinggi digapai. Walau saya aktif di partai politik, tetap saja terlalu bermimpi bila ingin menjadi Menristek. Kapasitas dan pendidikan saya jauh panggang dari api. Apa kata para doktor kalau ada lulusan S1 mau jadi Menristek? Lagian di partai pun hanya sebagai “remahan teri kacang”.

Tapi keinginan seperti Habibie rasanya belum tertutup. Ya tentu bukan jadi Menristek.

Di suatu tayangan televisi, beliau yang sedang menghadiri sebuah acara tertangkap kamera menggerakkan bibir tidak henti. Ia tidak sedang berbicara kepada siapa-siapa. Yakin saya bahwa ia sedang berdzikir.

Habibie adalah potret orang hebat yang taat berbibadah. Tak hanya dzikir di setiap kesempatan, ia juga dikenal orang yang teguh menjaga puasa sunnahnya.

Maka menjadi seperti Habibie, adalah menjadi orang yang karyanya bermanfaat buat manusia, sembari tetap mengoptimalkan ibadah yang bisa didedikasikan untuk Allah swt.

Meski merasa tak mungkin menjadi Menristek, saya tetap mengaguminya. Ketika ia terpilih sebagai wakil presiden daripada Soeharto, saya senang luar biasa. Apalagi ketika reformasi. Soeharto lengser, ia naik menjadi presiden.

Namun hati ini sedih melihat ia dihujat orang-orang hanya karena ia orang orde baru. Ia juga dihujat oleh orang-orang yang tak suka ia sebagai tokoh Islam.

Padahal ia adalah sosok yang sangat berharga buat negeri ini. Keahliannya di bidang pesawat terbang masih menyisakan kagum bagi banyak orang yang mengenalnya.

Ia telah menelurkan karya yang mengangkat harga diri bangsa: pesawat N250 yang diluncurkan pada peringatan HUT RI ke 50, tahun 1995. Sayang, krisis moneter membelit Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) yang ia dirikan pada 1976. Kemudian IPTN tutup dan berganti nama menjadi PTDI.

Setelah masa jabatannya habis, ia tak mau lagi menjabat menjadi presiden. Padahal prestasinya luar biasa. Dollar turun sampai Rp 6.500. Ekonomi begitu cepat membaik di tangannya. Saya setuju bila ia adalah presiden terbaik yang pernah ada di negeri ini.

Tak banyak cakap, ia redakan krisis ekonomi dengan turunnya dollar, tanpa perlu sesumbar janjikan di bawah sepuluh ribu. Pesawat rancangannya bukan lah pencitraan politis semata dengan bermandikan hoax yang hanya jadi bahan olok-olok.

Ditinggal sosoknya, bangsa ini jelas kehilangan seorang guru, kontributor, dan tokoh panutan yang besar. Dalam sedih, terlantun Al Fatihah untuknya.

 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2019 in Orat Oret