RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Semangat Ibadah dan Masa Promo

SPG itu tersenyum manis. “Mau berlanganan AndalehTV pak? Lagi masa promo. Sebulan seratus ribu rupiah saja. Bisa nonton channel-channel dari luar negeri bahkan planet lain,” katanya.

Seseorang yang lewat di depan stand AndalehTV itu tertarik. “Kapan lagi bisa nonton banyak channel dengan modal cuma Rp 100.000,” pikirnya. Terjadi deal. Dan esoknya televisi orang tersebut telah terpenuhi puluhan saluran pilihan.

Lantas berselancar lah ia dari tayangan satu ke tayangan lain. Yang paling membuatnya terkesan adalah channel olahraga. Pertandingan-pertandingan langsung sepakbola dari liga ternama di dunia bisa ia nikmati. Tak perlu ke luar negeri dan memesan tiket.

Namun, yang namanya masa promo, tentu ada jangka waktunya. Setelah tiga bulan, hanya channel lokal yang bisa ia akses. “Buat apa bayar kalo cuma nonton siaran stasiun lokal?” pikirnya.

Lalu ia menghubungi customer service AndalehTV. Jawaban petugas, kalau masih mau nonton saluran olahraga serta channel pilihan lain, harus membayar sampai Rp 300.000. Orang itu terlanjur ketagihan dengan siaran langsung sepakbola. Akhirnya ia bersedia membayar lebih. Asalkan masih bisa menikmati tayangan favoritnya.

Masa promo itu berhasil menggaet seorang pelanggan yang rela berkorban lebih setelah tahu bahwa ada manfaat yang bisa ia dapat.

***

Sadarkah kita, dalam menyembah-Nya ada fenomena yang mirip dengan ilustrasi di atas?

“Al imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Itu lah prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada masa-masa rajin karena Allah memberi rasa semangat ke dalam jiwa. Beribadah begitu ringan. Kalbu terasa lapang dengan isak tangis di malam hari. Terasa melegakan lapar dahaga di siang hari. Manisnya iman dikecap. Cinta kepada Allah memenuhi dada.

Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya. Rasulullah saw mengajarkan umatnya doa berikut:  “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” (HR.Muslim)

Lalu, sebagaimana fitrah manusia, datanglah rasa bosan. Ibadah yang tadinya ringan, mulai terasa berat. Kiranya Allah tengah menguji orang yang telah merasakan nikmatnya beribadah itu dengan mood yang berkurang tak seperti kemarin.

Masih mau merasakan syahdunya sholat malam? Bisa, tapi tidak mudah. Indahnya kondisi jiwa ketika “masa promo” di saat hati sedang giat, mensyaratkan orang yang tengah futur itu harus melawan kantuk dan rasa malas demi kembali dapat rasakan sejuknya hati di kala sujud.

Mau kembali rasakan kelegaan di kala berlapar dahaga? Bisa, tapi tidak mudah. Saat hati tak seantusias kemarin, perlu perjuangan ekstra agar tetap menjalankan rutinitas shaum sunnah.

Tapi pilihan di tangan Anda. Bisa saja rasa malas itu dituruti. Kalau begitu, Anda membiarkan rasa manisnya beribadah yang telah Allah berikan tak terulang lagi. Memang ada gantinya. Kenikmatan duniawi berupa tidur yang nyenyak, rasa kenyang di hari yang terik, dsb.

Untuk jiwa yang sedang terliputi rasa bosan dan malas, coba kenang lagi lezatnya ibadah saat masa semangat. Yakin mau berhenti berlangganan indahnya taat kepada Allah?

Zico Alviandri

Advertisements
 

“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri

 

Halaqoh dan Solusi Hijrah

Berapa kuota maksimal melakukan pembunuhan agar masih punya kesempatan bertaubat? Seorang pembunuh di zaman Bani Israil dengan membawa catatan rekor telah membantai 99 jiwa datang menemui seorang sholeh. Ia kemukakan kegundahannya belakangan, “masihkah saya punya kesempatan bertaubat?” Begitu kira-kira katanya.

Mimpi apa rahib itu semalam? Apakah Westerling lahir kepagian? Padahal bagi Allah, membunuh satu nyawa saja sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Maka, pikir sang rahib, sudah tak bisa lagi taubat si pembunuh diterima.

Lalu… KRASSSSHHH…. Mohon bayangkan itu bunyi pedang yang membabat tubuh, supaya ada dramatisasinya. Singkat cerita, sang rahib menjadi orang ke-100 yang dibunuh dengan kejam oleh tamunya. Si sumbu pendek meletup lagi karena kecewa harapannya untuk bertaubat divonis telah tertutup. Dapat hadiah apa bila telah genap angka 100? Payung cantik? Atau gelas, mangkok, piring?

Masih penasaran, si pembunuh bertanya lagi kepada orang-orang, siapa manusia paling berilmu tempat berkonsultasi tentang pertaubatan. Mendapat sebuah nama, pembunuh itu pun pergi menemui. Dan Allah perjumpakan. Setelah mendengar pengakuan dosa, sang alim menjawab dengan ilmu yang dimilikinya.

Pintu taubat senantiasa terbuka bagi setiap hamba selama ruh masih belum tercerabut dari badan. Termasuk bagi si pembunuh. Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Namun ada satu syarat agar taubat itu sukses. Si pembunuh harus meninggalkan lingkungan tempat ia tinggal sekarang, dan beranjak ke suatu daerah yang dihuni orang-orang sholeh. Agar ketaatan pribumi di sana bisa senantiasa menginspirasi diri untuk menjadi lebih baik.

Saya yakin pembaca sudah banyak yang tau kisah ini. Bahwa kemudian kematian mendadak di tengah perjalanan mencegah si pembunuh sampai ke daerah yang disyaratkan orang alim tadi. Selanjutnya terjadi perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat siksa, siapa yang berhak mendapat proyek mengurus arwah manusia super itu. Lalu karena posisi jenazah lebih dekat kepada kampung hijrah yang dituju, maka arwah pembunuh itu pun bersama malaikat rahmat.

Ronin-Ronin Muhajirin

Nabi Muhammad saw lah yang menceritakan hadits di atas, termaktub dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim. Tak hanya beribrah bahwa taubat buat manusia selalu terbuka, tapi juga pelajaran tentang bagaimana taubat bisa sempurna.

Hijrah dan lingkungan yang baik. Itu lah kunci yang ditunjukkan oleh orang alim pada cerita di atas. Harus ada pergerakan meninggalkan lokasi yang tak kondusif menuju bi’ah (lingkungan) yang memacu penghuninya berlomba pada kebaikan.

Hijrah, kata ini sedang trend di tengah masyarakat. Bukan cuma karena beberapa bulan lalu ada hari besar tahun baru Hijriyah yang memuat cerita pindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kata ini marak seiring meningkatnya gairah keislaman masyarakat Indonesia, terutama di kota besar. Umat muslim zaman now dimanjakan dengan fasilitas teknologi informasi yang membuat mereka bisa menimba ilmu di mana saja kapan saja berbekal gawai terhubung koneksi internet. Antusiasime belajar Islam ini merupakan hal yang menggemberikan. Diikuti dengan kemauan menjadi lebih baik, yang diistilahkan dengan hijrah.

Ya mereka ada semangat hijrah. Tapi kemana? Tentu kepada cara hidup yang lebih baik, yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Hijrah dalam artian pindah perilaku. Tidak sampai pindah tempat tinggal sebagaimana yang dipraktekkan pembunuh dalam cerita di atas, dan juga Rasulullah saw serta para sahabatnya.

Satu syarat lagi, lingkungan yang baik. Di mana para muhajirin anak baru ghiroh (ABG) itu mendapatkannya? Ini yang sering luput. Saya temukan langsung orang-orang yang senang memutar video youtube; membaca tulisan di facebook, whatsapp; dll yang bertemakan ilmu keislaman; namun mereka tak punya guru yang membimbing atau komunitas orang sholeh tempat saling mengingatkan. Mereka otodidak belajar Islam.

Lantas, karena maraknya kajian di media sosial ini diiringi dengan dialektika – dari yang santun sampai taraf tahdzir kelas eksekutif, mereka pun tak jarang terbawa dalam perdebatan. Jadilah mereka sebagai ronin, samurai tak bertuan, yang membabat lawan-lawan diskusi berbekal apa yang didengar di kajian, apa yang ditonton di youtube, atau apa yang dibaca dari tulisan di media sosial.

Ronin-ronin muhajirin ini fenomena yang menyedihkan sebenarnya. Lingkungan islami tak ada, hanya berteman koneksi internet yang kadang dibuat untuk kebaikan dan kadang masih dipakai untuk sisa-sisa kelakuan jahiliyah. Di sisi lain mereka sudah punya sparring partner untuk adu urat.

Liqoat Tarbawi, a Small Islamic Environment

Sebenarnya ada solusi hijrah di tengah masyarakat yang antusias menuntut ilmu. Perangkat-perangkatnya lumayan lengkap. Ada pertemuan pekanan tempat mengkalibrasi pemahaman Islam dan tempat memonitoring progress perbaikan diri. Itu lah yang orang sering sebut dengan liqo’ atau halaqoh tarbawi.

Ustadz Ihsan Tanjung ketika diwawancarai Majalah Al Izzah tahun 2000an dulu, mendeskripsikan halaqoh tarbawiah sebagai small Islamic environment. Lingkungan islami yang kecil. Ia istilahkan juga dengan laboratorium islami pembentuk kepribadian muslim.

Sesuai dengan ahdaf/tujuannya, liqo’ ini yang memperkenalkan Islam secara jelas, yang menyeluruh dan shahih bersumber dari Rasulullah, kepada para muhajirin milenial. Kemudian diajaknya para peserta halaqoh itu untuk berinteraksi dengan ajaran Islam: menanamkannya dalam aqidah yang dasar, membentuk pola pikir islami, menyelaraskan selera dan rasa yang islami, serta mengubah tampilan luar serta perilaku amal sesuai ajaran Islam. Lalu jadilah jalan hidup mereka tershibghoh (tercelup) dalam pewarnaan Islam.

Liqo’ ini juga yang membentuk interaksi antar sesama anggotanya menjadi lingkungan tempat saling mengingatkan dan berlomba pada kebaikan. Mereka dipersatukan dengan menelusuri rukun-rukun ukhuwah, yaitu ta’aruf (perkenalan), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaful (saling memikul beban).

Allah yang mempersatukan mereka. “dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal: 63)

Liqo’ juga bersifat ri’ayah ma’nawiyah, atau pemeliharaan semangat berislam dengan kaffah. Dengan membaurkan diri dalam lingkungan orang-orang yang senantiasa antusias, maka futur (rasa malas atau bosan yang datang setelah semangat) akan tergerus suasana.

Ini lah komunitas hijrah yang terarah.

Problematika “Kakak Kelas”

Sebagaimana kritikan seorang ustadz salafi zaman now yang sedang viral, liqo’ dianggap bermasalah karena sering kali yang menjadi murobbi atau pembina dalam halaqoh itu adalah kakak kelas di kampus. Dinilainya kebanyakan sang murobbi bukan lah orang yang punya ilmu mumpuni, bahkan tak mampu berbahasa arab.

Kritik itu terbangun dari pemahaman terhadap halaqoh yang salah. Karena liqo tidak seperti kajian umum. Ia adalah laboratorium hijrah kecil, small Islamic environment, bukan ta’lim dengan peserta ramai diisi oleh ustadz yang ahli dalam bidang tertentu.  Liqo’ juga adalah komunitas tempat saling menjaga semangat menjalankan Islam.

Kegiatan dalam halaqoh biasanya setoran hafalan quran, evaluasi implementasi sunnah dalam keseharian, tahsin, tak jarang juga ada sharing berupa kultum bergilir, dan agenda kebaikan yang disepakati bersama. Memang disampaikan juga materi keislaman dasar, tapi sang murobbi tentu sudah pernah mendapatkannya dari liqoat yang dia ikuti di kelompok lain.

Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah seorang manajer yang baik untuk sebagai murobbi, yang bisa mengkoordinir agenda-agenda itu. Yang terpenting ia bisa memberi keteladanan dalam kesungguhannya menghafal quran, hadits, menjalankan sunnah, berakhlak baik, dan mengikuti ta’lim-ta’lim ilmu. Ia jug bisa memotivasi anggotanya melawan rasa futur dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Selain itu murobbi adalah mentor hijrah bagi para new comer dalam dunia perhijrahan. Layaknya pebisnis mula memerlukan seorang mentor yang membimbingnya dalam dunia bisnis, begitu juga para muhajirin, mereka memerlukan senior yang sudah lebih dulu hijrah yang mengarahkannya agar konsisten dan berada di jalan yang benar.

Ada cerita seorang yang baru bergeliat gairah belajar islamnya, tapi tak punya pembimbing. Akhirnya bahan bacaan yang ia tekuni sehari-hari adalah tentang freemasonry dan dunia teori konspirasi. Sayang sekali, tak terarahkan. Kalau dia tergabung dalam halaqoh yang dibina seorang murobbi, tentu ada yang melatihnya dengan sunnah-sunnah yang dimulai dari yang ringan, merekomendasikannya bacaan-bacaan yang dibutuhkan, dsb.

Mentor hijrah ini tentu lebih berkesan bila ia adalah seorang senior yang sudah berpengalaman memperbaiki diri (dulunya juga pernah nakal). Dibanding seorang ustadz yang dari kecil terliput dalam lingkungan yang baik di pesantren, senior dalam dunia hijrah punya lebih banyak cerita dan pengalaman serta lebih nyambung diajak curhat oleh juniornya.

Tapi tetap lebih banyak sisi positifnya bila seorang ustadz yang menjadi murobbi. Karena lebih kecil kemungkinan ia berbicara di luar ilmunya. Dibanding senior di kampus umum yang terbatas hafalan quran, hadits, serta bahasa Arab. Masing-masing ada kelebihan.

Soal larangan berbicara tanpa ilmu, itu adalah hal yang diwanti-wanti benar ketika seorang masuk ke dalam halaqoh. Karena muhajirin new comer sering terjebak euphoria atas ilmu yang baru ia dapat. Ia bisa terjebak dalam sikap merasa lebih baik dari yang lain, lalu memamerkan ilmunya yang tak jarang ditambah-tambahkan sendiri.

Tapi kondisi begitu tidak cuma berpeluang terjadi dalam halaqoh yang dibina senior di kampus. Di media sosial malah mudah kita dapati fenomena ini. Pun, asatidz banyak juga tergelincir dalam kesalahan perkataan. Misalnya menganggap densus seperti mujtahid, atau menganggap walisongo tak ada bukti otentik, mencela surban pahlawan nasional, dll.

Entahlah, saya rasa bukan soal liqo itu diisi senior di kampus atau tidak. Andai ustadz Adi Hidayat yang menjadi murobbinya, rasanya tetap saja tak kan memuaskan kelompok pengkritik itu. Tahu kan kenapa….

Zico Alviandri

 
 

Garuda Muda, Sudah Pandai Bersyukur, Harus Lebih Pintar Lagi Bersabar

Sangat membanggakan melihat selebrasi gol pemain-pemain muda timnas sepakbola Indonesia. Mereka berlari ke tepi lapangan dengan ekspresi gembira, mengambil posisi, lantas menjatuhkan lutut untuk kemudian bersujud syukur dengan sempurna. Beberapa pemain berderet melakukan itu, tak hanya pencetak gol. Pemandangan begini sudah biasa kita lihat dalam pertandingan timnas U22 yang kemarin berlaga di Sea Games, juga U18 di piala AFF yang digelar di Myanmar baru-baru ini.

Perayaan seperti itu jauh lebih baik daripada, misalnya, gaya selebrasi pemain U18 Myanmar yang banyak disoraki warganet. Mereka bergaya alay atau goyang banci yang bikin empet orang yang melihatnya.

Bagus! Garuda muda Indonesia sudah pandai mensyukuri nikmat Allah swt berupa gol yang mereka lesakkan. Mudah-mudahan itu lah alasan tim U18 kemarin bisa menang dengan angka-angka yang telak. Skornya sampai 9-0 melawan Filipina, 8-0 melawan Brunei, dan tuan rumah negara teroris Myanmar dihabisi 7-1 di laga perebutan tempat ketiga.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Tapi ingat, adik-adik harapan pecinta sepakbola Indonesia, seorang muslim itu tak hanya pandai bersyukur. Ia juga harus mampu bersabar.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur dan sabar adalah perasaan yang saling melengkapi menghadapi kondisi hidup yang sering berubah seperti roller coaster.

Tak banyak teori tentang syukur. Karena dalam kondisi bahagia, orang justru tak butuh kata-kata penyemangat. Tapi nasihat-nasihat tentang sabar bertebaran di mana-mana. Karena sabar itu tak hanya dalam menghadapi musibah. Menurut ulama, sabar itu ada 3 macam.

Pertama, sudah jelas, sabar ketika menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. Dan ketiga, sabar dalam menjauhi larangan Allah swt.

Nah, sabar jenis ketiga ini lah yang harus dipegang kuat di dalam lapangan. Kenapa? Karena provokasi dari lawan itu termasuk godaan untuk melanggar perintah Allah, yaitu kita merespon dengan kekerasan. Tentu di atas lapangan, respon seperti itu merugikan karena wasit akan langsung memberi sanksi yang tegas.

Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari kartu merah yang diterima Hanif Sjahbandi pada laga penyisihan Sea Games ketika melawan Vietnam. Juga kartu merah Sadil Ramdani ketika melawan Thailand di semifinal AFF U18. Dua-duanya bereaksi karena diprovokasi lawan. Bangsa ini bisa memaklumi kok. Kalian masih muda. Punya darah menggejolak. Gengsinya masih tinggi. Sehingga gampang lepas kontrol menghadapi lawan yang banyak tingkah. Tapi jangan terulang lagi kasus begini.

Bangsa ini ingin melihat para pemain yang punya mental baja. Tak terpancing provokasi lawan. Tetap semangat dalam kondisi tertekan. Dan tak juga jumawa saat mendapat kemenangan. Itu lah manifestasi rasa sabar dan syukur yang telah komplit dalam diri seorang atlet.

Tetap semangat!

 

Derita Rohingya Tanggung Jawab Kita

Sebagaimana topografi bumi yang tak rata namun menjadikannya indah, seperti itulah kehidupan umat manusia. Ada yang diberi kelebihan, dan ada yang kekurangan. Dari ketidaksetaraan itu menghadirkan keindahan: rasa berbagi dan saling membantu.

Betapa banyak insan yang tak kenal Tuhannya lantas menganggap Sang Pencipta tak adil begitu melihat keanekaragaman nasib manusia. “Mengapa banyak yang menderita, sedangkan masih ada yang rakus kuasa dan harta. Di mana keadilan Tuhan?” pikirnya.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Itu penjelasan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32. Agar yang lemah bisa mendapat manfaat dari yang kuat, agar yang lebih bisa memberi kepada yang kurang. Allah jadikan nasib manusia yang tak sama sebagai ajang bagi insan untuk menjadi yang terbaik. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani).

Itu lah tujuan Allah swt menciptakan kehidupan. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)

Selagi hidup di dunia, mau kah kita menjadi manusia dengan amal terbaik? Di zaman ini, tak susah mencari manusia yang perlu kita beri manfaat. Terbentang jalan di depan, pada jerit ratap suku Rohingya di Myanmar. Sedangkan bila kita abai atas jeritan itu, apakah kita menyangka masalah ini tak akan Allah singgung saat mempertanggungjawabkan amal di hadapan-Nya?

Pada mereka yang tertindas, kita punya amanah. Bila hati masih merasa terusik, itu adalah anugerah. Panggilan untuk menghias hidup dengan keindahan ta’awun (saling menolong).

Bila tak ada power untuk cegah junta militer berlaku sewenang-wenang, maka berjihad hadap diri dari sifat bakhil!

 

Ketauladanan Ibrahim A.S.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. “Mengapa harus memberikan sesaji”? “Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria”? Atau bahkan, “Mengapa harus tunduk kepada orang tua”?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. “Kenapa patung”? Berangkat dari pertanyaan itu, ia ajak manusia melakukan uji kelayakan kepada tuhan yang akan disembah. Ia tunjuk bintang yang manusia takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia tunjuk Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia tunjuk mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Namun, walau telah dimudahkan jalan untuk memahami kelayakan sebuah sesembahan, hati yang tak jujur tetap tak kan mampu mengerti. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, “”Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan “apakah Tuhan itu ada”, kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Kekreatifan Ibrahim a.s. dipamerkannya dalam sebuah parodi ketika ia a.s. menghancurkan sesembahan kaumnya sembari membiarkan sebuah patung besar yang dibuat seakan-akan menjadi pelaku, karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti berupa kapak pada benda seni terbesar di tempat itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis “bakar hidup-hidup” dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan juga dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Walau tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan si buah hati. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”” (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia “lucu-lucunya”. Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar – istri Ibrahim a.s. – dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh bapak para nabi itu meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran khas seorang ayah. Ibrahim a.s. risau bila sepeninggalnya, anak keturunannya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-Qur’an, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.”  (QS 60:4-6)

—–

25 November 2009, Jelang Idul Adha 1430 H 🙂

 

 

Kita Beriman Sekaligus Kafir Bersamaan

(Catatan, kata kafir/beriman di artikel ini menggunakan istilah secara bahasa. Bukan terminologi dari aqidah yang sudah baku. Keterangan ada di akhir artikel)

Kalau ada teman non muslim yang bertanya kepada saya apakah dia kafir, rasanya saya tidak perlu mencari kalimat buat ngeles, takut membuatnya tersinggung, hingga akhirnya jawaban saya kurang lugas, kurang tegas, dan bisa disalah artikan. Simpel saja, saya akan sampaikan bahwa setiap manusia adalah orang yang beriman sekaligus juga orang kafir dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana bisa begitu? Begini…

Bila Anda pro terhadap sesuatu hal, maka otomatis Anda akan kontra dengan penolakan terhadap hal tersebut.

Misalnya, kalau Anda pro dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tentu Anda kontra dengan keinginan agar TDL tetap. Saya pro dengan pendapat bahwa bumi itu bulat, maka saya otomatis kontra dengan anggapan bumi itu datar. Dalam pilkada, kalau Anda pro dengan satu calon, maka Anda akan kontra dengan calon lain. Bukan begitu?

Maka kalau Anda pro dengan kepercayaan bahwa Allah swt itu adalah Tuhan yang satu yang tiada tuhan selain-Nya, tentu Anda akan kontra dengan kepercayaan kepada tuhan selain Allah swt. Sehingga Anda disebut beriman kepada Allah swt, sekaligus kafir kepada sembahan selain Allah swt.

Allah swt mengistilahkan kondisi ini sebagai punya pegangan yang kuat, atau punya dasar yang kokoh.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Begitu lah kondisi seorang muslim. Ia adalah orang kafir, karena ingkar kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah swt), dan ia juga adalah orang yang beriman, karena percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Nah, saya akan kembalikan pertanyaan itu kepada teman saya, di mana posisi Anda? Apa yang Anda imani sebagai Tuhan yang Anda sembah? Kalau ia menyebut nama lain selain Allah swt, maka jelas ia adalah orang beriman menurut teologi agama yang dianutnya, sekaligus orang kafir dalam pandangan agama di luar yang ia anut.

Maka anggapan kafir harusnya bisa ditanggapi dengan santai. Kalau saya kafir, toh Anda juga kafir, dan kita semua kafir dengan apa yang kita ingkari. Dan dalam bersamaan, saya sebenarnya beriman, Anda beriman, dan semua orang beriman menurut apa yang dipercayainya.

Bisa damai gak kalau gitu?

————

Makna Kafir Secara Bahasa

  1. Secara bahasa bermakna menutupi, sitar (penutup)
  2. Kafir juga bermakna ingkar (جحد ) menurut Abu Ubaid, Gharibul Hadits,3/13
  3. Menurut Al Azhari seseorang dinamakan kafir karena hatinya tertutup
  4. Kafir juga digunakan untuk istilah sarung senjata sehingga tertutup dari luar
  5. Kafir juga nama lain dari petani yang pekerjaannya menutupi biji-bijian sehabis ditanam agar aman dari hewan dan agar bisa tumbuh.

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ [الحديد:20

Seperti hujan yang turun yang tanamannya  membuat petani  kagum.. (Al Hadid:20)

Makna Kafir secara Istilah

  1. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kata ‘kafir’ memiliki makna,” Tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, menolak risalah Islam, ragu-ragu terhadap Islam, mendustakan Islam, dan orang yang mengatakan kafir dgn lisan, sengaja dan tanpa paksaan, tanpa ada keperluan dan dilakukan dengan sadar, maka ia sudah keluar dari Islam. ( Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 12/335)
  2. Ishaq bin Rahawaih mengatakan,”seorang mukmin yang benar kepada Allah, namun kemudian ia membunuh Nabi, atau memberikan dukungan untuk membunuh nabi, maka ia telah kafir.
  3. Barangsiapa yang mencela Allah dan Rasul-Nya, ia telah kafir, ( Ash Sharim Al Maslul,3/955)
  4. Barangsiapa yang beriman kepada Rasulnya secara lahiriyah , namun ia ingkar secara bathin, maka ia telah kafir (Majmu’ Fatawa, 7/556)
  5. Ibnu Hazm mendefinisikan Kafir sifat INGKAR terhadap Allah, beriman sebagian, dengan hati saja atau dengan lisan saja tanpa hati
  6. Menurut Ar Raghib al Ashfahani, Makna kafir adalah orang yang ingkar kepada ke-Esaan Allah, Kenabian para Nabi, dan Syariah (hukum Allah) –AL Mufradat, 715