RSS

Category Archives: Taujih, Taushiyah, dan Artikel Islam

Ketauladanan Ibrahim A.S.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. “Mengapa harus memberikan sesaji”? “Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria”? Atau bahkan, “Mengapa harus tunduk kepada orang tua”?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. “Kenapa patung”? Berangkat dari pertanyaan itu, ia ajak manusia melakukan uji kelayakan kepada tuhan yang akan disembah. Ia tunjuk bintang yang manusia takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia tunjuk Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia tunjuk mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Namun, walau telah dimudahkan jalan untuk memahami kelayakan sebuah sesembahan, hati yang tak jujur tetap tak kan mampu mengerti. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, “”Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan “apakah Tuhan itu ada”, kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Kekreatifan Ibrahim a.s. dipamerkannya dalam sebuah parodi ketika ia a.s. menghancurkan sesembahan kaumnya sembari membiarkan sebuah patung besar yang dibuat seakan-akan menjadi pelaku, karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti berupa kapak pada benda seni terbesar di tempat itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis “bakar hidup-hidup” dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan juga dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Walau tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan si buah hati. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”” (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia “lucu-lucunya”. Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar – istri Ibrahim a.s. – dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh bapak para nabi itu meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran khas seorang ayah. Ibrahim a.s. risau bila sepeninggalnya, anak keturunannya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-Qur’an, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.”  (QS 60:4-6)

—–

25 November 2009, Jelang Idul Adha 1430 H 🙂

 

Advertisements
 

Kita Beriman Sekaligus Kafir Bersamaan

(Catatan, kata kafir/beriman di artikel ini menggunakan istilah secara bahasa. Bukan terminologi dari aqidah yang sudah baku. Keterangan ada di akhir artikel)

Kalau ada teman non muslim yang bertanya kepada saya apakah dia kafir, rasanya saya tidak perlu mencari kalimat buat ngeles, takut membuatnya tersinggung, hingga akhirnya jawaban saya kurang lugas, kurang tegas, dan bisa disalah artikan. Simpel saja, saya akan sampaikan bahwa setiap manusia adalah orang yang beriman sekaligus juga orang kafir dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana bisa begitu? Begini…

Bila Anda pro terhadap sesuatu hal, maka otomatis Anda akan kontra dengan penolakan terhadap hal tersebut.

Misalnya, kalau Anda pro dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tentu Anda kontra dengan keinginan agar TDL tetap. Saya pro dengan pendapat bahwa bumi itu bulat, maka saya otomatis kontra dengan anggapan bumi itu datar. Dalam pilkada, kalau Anda pro dengan satu calon, maka Anda akan kontra dengan calon lain. Bukan begitu?

Maka kalau Anda pro dengan kepercayaan bahwa Allah swt itu adalah Tuhan yang satu yang tiada tuhan selain-Nya, tentu Anda akan kontra dengan kepercayaan kepada tuhan selain Allah swt. Sehingga Anda disebut beriman kepada Allah swt, sekaligus kafir kepada sembahan selain Allah swt.

Allah swt mengistilahkan kondisi ini sebagai punya pegangan yang kuat, atau punya dasar yang kokoh.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Begitu lah kondisi seorang muslim. Ia adalah orang kafir, karena ingkar kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah swt), dan ia juga adalah orang yang beriman, karena percaya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Nah, saya akan kembalikan pertanyaan itu kepada teman saya, di mana posisi Anda? Apa yang Anda imani sebagai Tuhan yang Anda sembah? Kalau ia menyebut nama lain selain Allah swt, maka jelas ia adalah orang beriman menurut teologi agama yang dianutnya, sekaligus orang kafir dalam pandangan agama di luar yang ia anut.

Maka anggapan kafir harusnya bisa ditanggapi dengan santai. Kalau saya kafir, toh Anda juga kafir, dan kita semua kafir dengan apa yang kita ingkari. Dan dalam bersamaan, saya sebenarnya beriman, Anda beriman, dan semua orang beriman menurut apa yang dipercayainya.

Bisa damai gak kalau gitu?

————

Makna Kafir Secara Bahasa

  1. Secara bahasa bermakna menutupi, sitar (penutup)
  2. Kafir juga bermakna ingkar (جحد ) menurut Abu Ubaid, Gharibul Hadits,3/13
  3. Menurut Al Azhari seseorang dinamakan kafir karena hatinya tertutup
  4. Kafir juga digunakan untuk istilah sarung senjata sehingga tertutup dari luar
  5. Kafir juga nama lain dari petani yang pekerjaannya menutupi biji-bijian sehabis ditanam agar aman dari hewan dan agar bisa tumbuh.

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ [الحديد:20

Seperti hujan yang turun yang tanamannya  membuat petani  kagum.. (Al Hadid:20)

Makna Kafir secara Istilah

  1. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kata ‘kafir’ memiliki makna,” Tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, menolak risalah Islam, ragu-ragu terhadap Islam, mendustakan Islam, dan orang yang mengatakan kafir dgn lisan, sengaja dan tanpa paksaan, tanpa ada keperluan dan dilakukan dengan sadar, maka ia sudah keluar dari Islam. ( Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 12/335)
  2. Ishaq bin Rahawaih mengatakan,”seorang mukmin yang benar kepada Allah, namun kemudian ia membunuh Nabi, atau memberikan dukungan untuk membunuh nabi, maka ia telah kafir.
  3. Barangsiapa yang mencela Allah dan Rasul-Nya, ia telah kafir, ( Ash Sharim Al Maslul,3/955)
  4. Barangsiapa yang beriman kepada Rasulnya secara lahiriyah , namun ia ingkar secara bathin, maka ia telah kafir (Majmu’ Fatawa, 7/556)
  5. Ibnu Hazm mendefinisikan Kafir sifat INGKAR terhadap Allah, beriman sebagian, dengan hati saja atau dengan lisan saja tanpa hati
  6. Menurut Ar Raghib al Ashfahani, Makna kafir adalah orang yang ingkar kepada ke-Esaan Allah, Kenabian para Nabi, dan Syariah (hukum Allah) –AL Mufradat, 715

 

 

Hanya Tiga Ayat

Hanya tiga ayat. Begitu pendeknya surat itu. Tak perlu waktu lama membacanya.

Karena ia bukanlah kalimat basa basi menjemukan. Inefisiensi waktu adalah kerugian. Di dalam surat tersebut Allah bersumpah “Demi masa”. Apa yang Allah jadikan sumpah tentu adalah hal yang sangat penting. Kemudian to the point, Allah sampaikan cara agar beruntung dalam hidup. Pada tiga ayat yang pendek namun efisien, yang sangat sebentar untuk dibaca.

Hanya tiga ayat. Begitu ringkasnya surat itu. Tak panjang bertele-tele.

Di dalamnya terkandung esensi kehidupan. Waktu – yang Allah jadikan sumpah dalam surat itu – adalah kehidupan itu sendiri, begitu bunyi sebuah pepatah Arab. Dalam tiga ayat ramping itu Allah pepatkan intisari kehidupan. Yaitu tentang menyelamatkan diri dari kondisi default: merugi. Dengan cara beriman dan saling menasehati untuk bersabar dan berpegang teguh dalam kebenaran.

Berkata Imam Syafi’i, “Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.”

Hanya tiga ayat. Begitu singkat. Seperti hidup manusia yang sekejap.

“Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (QS An-Naziat: 46).

“Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.”” (QS Al-Mu’minun 112-114)

Dalam surat itu Allah bersumpah dengan waktu. Sedang waktu adalah kehidupan. Dan hidup manusia itu sangat singkat.

Hanya tiga ayat, begitu tipis surat yang di dalamnya Allah bersumpah dengan waktu. Laksana mata pedang yang tajam. Pepatah Arab lain berbunyi, waktu bagaikan pedang. Yang akan melukaimu sendiri bila kau tak pandai memanfaatkannya. Begitulah, bila kau tak pandai mengatur hidup, bilah tajamnya waktu akan mengirismu sebagai orang merugi.

Hanya tiga ayat. Mencukupi untuk hidupmu.

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al Ashr: 1-3)

 

Karena Hidup Bukan Untuk ke Bulan

Dalam sebuah perdebatan, kau lontarkan argumentasi: “Orang udah sampe ke bulan, lu masih ngomongin agama.” Kawan, kau tidak suka kalau hal-hal tentang agama dijadikan bahan pembicaraan. Menurutmu topik tersebut menyebabkan keterbelakangan. Kawan, kau yang tidak suka ngomongin agama, apakah sudah pernah ke bulan? Kenyataannya tidak.

Kawan, tujuan hidup manusia bukan untuk berlomba pergi ke bulan. Mulia kah mereka yang pernah singgah di bulan? Dan hinakah mereka yang tak mampu pergi ke sana?

Ada mereka yang menghabiskan umurnya memberikan pendidikan kepada ribuan anak. Bekerja sebagai guru. Membagi ilmu dengan penuh rasa sayang. Membangun pondasi masa depan untuk setiap anak yang ia ajar. Orang-orang itu mulia meski tak pernah punya kesempatan ke bulan.

Ada mereka yang hadir memberi pertolongan kepada orang-orang yang sakit. Dengan ikhlas, dikerahkannya daya agar yang mendapat musibah bisa segera sembuh. Mendengar keluhan dengan sabar, memberi terapi, merawat, dan segenap ikhtiar lainnya. Mereka tak pernah punya kesempatan pergi ke bulan, tetapi mereka adalah manusia-manusia mulia dengan kebajikannya.

Ada mereka yang sungguh-sungguh bekerja demi keluarga. Ada yang memeras keringat banting tulang menyelesaikan pekerjaan yang berat. Ada yang berhadapan dengan resiko kematian. Ada yang melapang-lapangkan hati berhadapan dengan klien atau atasan yang tak menyenangkan. Ada yang harus menebalkan muka menepis rasa malu. Mereka berbuat itu agar istri dan anak mereka bisa hidup dengan layak. Mereka adalah makhluk mulia yang penuh tanggung jawab. Meski mereka tak pernah punya kesempatan pergi ke bulan.

Kawan, kemuliaan hidup bukan diukur dari seberapa tinggi ia mampu terbang. Namun hidup harus punya makna. Berarti bagi sesama. Menjadi inspirasi kebaikan. Dan agama memberi pedoman untuk menjadi seperti itu.

Dari seratus juta anak yang lahir di dunia, mungkin hanya satu di antaranya yang ditakdirkan menjadi astronot untuk mengarungi luar angkasa. Mereka pun tak harus pergi ke bulan.

Namun apakah agama menjadi penghambat peradaban manusia menaklukkan angkasa? Tidak begitu kawan. Setidaknya dalam agamaku tidak begitu. Malah Al-Qur’an menantang manusia dan memberi keyword untuk menjelajahi langit dan bumi. Al-Qur’an memotivasi agar alam semesta ini bisa dieksplorasi dengan “power”.

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS Ar-Rahman: 33)

Maka, kawanku, membicarakan agama bisa memberi antusiasme bagi umat manusia untuk mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dan orang yang mendalami Al-Qur’an akan tahu bahwa alam semesta ini memang bisa ditaklukkan dengan buah fikiran manusia.

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al-Jaatsiyah: 13)

Kawan, jangan remehkan agama! Ia adalah sumber kebajikan buat sesama, dan sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia.

Zico Alviandri

 

Ahlan wa Sahlan, Barisan Anshar!

18 April 2017

Sejatinya kaum Anshar adalah orang yang melapangkan tanah dan rumahnya dengan senyaman mungkin bagi saudara mereka, kaum Muhajirin. Mereka tak segan membagi harta dan apa yang mereka punya.

Anshar memiliki arti penolong. Mereka dulu menolong umat Islam yang diintimidasi kafir Quraisy. Kini pun kata Anshar tetap bermakna penolong. Selayaknya mereka menjadi pembela agama Islam. Menentang pihak yang mengolok-olok kitab suci umat Islam. Berhadapan dengan mereka yang menghina umat Islam.

Anshar adalah simbol ukhuwah. Allah swt memuji mereka dalam Al-Qur’an.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 59:9)

Anshar adalah awliya’ umat Islam. Teman setia, saling memberi loyalitas, dan menjadi pemimpin. Menjadikan Anshar sebagai awliya bukanlah terlarang, tapi justru wajib karena sesama umat Islam.

Dulu Kaum Anshar adalah tuan rumah. Tapi kini “Anshar” sedang “rihlah”. Mereka memasuki tanah kaum muslimin yang tengah kecamuk peperangan melawan hegemoni taipan dan tiran. Maka layaklah Barisan Anshar Serbaguna di Jakarta disambut dengan hangat, diperlakukan sebagaimana saudara sang penolong, dijamu dengan penuh cinta sesama saudara muslim.

Jangan sungkan ceritakan kepada mereka tentang kekejaman tiran yang dibeking taipan yang telah mengusiri rakyat dari rumahnya, yang merusak laut membangun pulau ilegal untuk orang asing, yang mencaci maki rakyat kecil menuduhnya maling, bahkan menghina kitab suci umat muslim.

Ingatkan kepada barisan Anshar, bahwa “innamal mu’minuna ikhwah”, sesungguhnya mukmin itu bersaudara. Ingatkan bahwa mereka dan warga muslim Jakarta itu bersaudara karena iman. Umat muslim yang paling berhak mendapat pertolongan mereka.

Wahai para pemuda yang gagah yang tergabung dalam Banser, kami saudara kalian dalam iman. Selamat datang di Jakarta. Mari menyatukan kepalan tangan, menyamakan langkah dan tujuan, menyatukan pandangan, bahwa perjuangan kita adalah perjuangan membela rakyat kecil dan melawan si penista agama. Ada kaum yang mulia yang tersemat dalam nama kalian, hingga pantaslah kalian berlaku mulia dan diperlakukan mulia.

Wahai Banser, jadilah awliya kaum muslimin. Jangan loyal kepada yang lain. Surga Allah abadi sedang dunia ini fana. Teguhkan pendirian jangan tergoda rayuan taipan. Mari bersama melangkah menuju surga.

Zico Alviandri

 

Kata Manhaj dan Rasa yang Sudah Berubah

Saya pertama kali mendengar kata manhaj dari sebuah frasa “minhajul hayah”, atau jalan hidup. Ketika itu dalam “lingkaran kecil” mentoring Rohis SMA, kakak kelas memperkenalkan karakteristik agama Islam, yaitu robbaniyah (bersumber dari Tuhan), insaniyah (ajarannya manusiawi), syamil wa mutakamil (lengkap dan menyeluruh), wasathiyah (pertengahan), tsabat wa muruna (fleksibel, ada ajaran yang tetap dan ada yang menerima perubahan). Dari karakter itu, Islam sangat layak menjadi manhaj (jalan/metode) hidup seorang muslim.

Islam adalah the way of life, minhajul hayah, manhaj hidup seorang muslim. Dari urusan ibadah hingga bernegara, aturan ekonomi hingga masuk ke wc, aturan berperang hingga hubungan suami istri, Islam menyediakan ajaran yang terbaik dalam sunnah Nabi Muhammad saw. Mengimplementasikan ajaran Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari, maka itulah yang disebut menjadikan Islam sebagai manhaj hidup. Bila disebut kata manhaj, asosiasinya adalah Islam yang syamil wa mutakamil.

Hingga bertahun-tahun berikutnya, saya mendengar kata manhaj dalam sesuatu yang lain, asosiasi yang lain, dan kesan yang berbeda. Pengalaman kemarin, saat saya berdiskusi dengan rekan-rekan pegiat dakwah di sebuah komunitas tentang problematika umat, saya menyodorkan dakwah Islam yang syamil (komprehensif) sebagai solusi masalah-masalah umat. Salah satu ciri dakwah yang syamil adalah manhaji, metode dakwahnya sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah Rasulullah yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Ketika menerangkan apa maksud manhaji, tiba-tiba menyeruak rasa canggung.

Belakangan ini, ketika kata manhaj mulai sering disebut-sebut sekelompok orang, tak lagi terbayang syumuliyatul Islam. Tak lagi terasa ajaran yang lapang dan luas, yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Terasa lain.

Rasa kata ini telah berubah menjadi perbedaan, perpecahan, hingga permusuhan. Bila ada yang menyebut kata manhaj, seolah si pembicara itu sedang mempertegas jurang pemisah antara dirinya dengan orang lain yang tak sepemikiran. Disanding lagi dengan kata tahdzir – yang belakangan ramai di beranda media sosial saya.

Dulu, yang saya bayangkan dari kata manhaj adalah kelapangan ajaran Islam yang paripurna. Tapi kini manhaj dipersempit dalam urusan isbal, demonstrasi, biji tasbih, gerakan jari dalam tasyahud, mengangkat tangan untuk berdoa setelah sholat, dll. Hal furu’ yang punya spektrum variasi pendapat yang luas, dipersempit jadi satu pendapat. Di luar pendapat yang dipilih, dianggap batil dan di luar manhaj.

Dulu manhaj terasosiasikan dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin. Kini manhaj menjadi sarung pisau bernama tahdzir. Dengan alasan manhaj, orang yang berbeda pendapat di-tahdzir, di-hajr (boikot), tak diakui sebagai ahlus sunnah, dianggap sesat dan ahlu bid’ah. Atas nama manhaj, pisau tahdzir mencabik kerekatan persaudaraan dengan orang-orang yang berbeda pendapat. Padahal Allah swt telah berfirman “Innamal mu’minuna ikhwah”.

Dulu manhaj yang saya pahami, adalah alasan untuk bersatu dalam bendera Islam. Tapi kini manhaj punya rasa perpecahan. Dengan alasan manhaj, persatuan mereka yang berbeda pendapat dianggap persatuan kebun binatang yang saling cakar-cakaran. Manhaj adalah kata kunci untuk tak menyertai umat Islam dalam agenda-agenda besar. Saat umat Islam berkumpul dan bersatu memohon pertolongan Allah atas pemimpin kafir yang zhalim, pemegang kunci manhaj membentang jarak.

Kata manhaj yang dulu saya bayangkan adalah aspek-aspek kehidupan yang terwarnai ajaran Islam. Dan Allah swt menganugerahi para pakar di berbagai bidang di tengah umat Islam. Maka kita bisa menimba ilmu dari setiap pakar itu. Tapi kini kata manhaj bertransformasi menjadi tempurung tebal. Kalau bukan ustadz yang sepemikiran, tak boleh menimba ilmu darinya.

Kata manhaj membuat turunan istilah baru: “ustadz sunnah”. Dan kata sunnah yang awalnya punya lawan kata “bid’ah”, ada lawan kata baru yaitu “syubhat”. Dipakai dalam pendikotomian ustadz sunnah dan bukan ustadz sunnah. Yang bukan ustadz sunnah dianggap tidak jelas manhajnya, dan rawan menebar syubhat. Mereka mengambil kalimat Imam Adz Dzahabi: “sesungguhnya hati ini lemah, sedang syubhat menyambar-nyambar”, kemudian kalimat itu dijadikan dasar untuk memilih-milih ustadz.

Pada kenyataannya kata manhaj menjadi rebutan di antara kelompok itu. Siapa yang paling manhaji, siapa yang paling lurus di atas jalan salaf, adalah klaim yang harus dimenangkan dengan cakar tahdzir. Sudahlah segelintir mereka memisahkan diri dari tubuh umat Islam atas nama manhaj, di tengah mereka pun saling mengoyak kerekatan. Panah tudingan sururi atau hizbiy bertebaran dari mereka dan untuk sesama mereka dalam kurusetra perebutan manhaj.

Dulu manhaj adalah kata yang Indah bagi saya. Manhaj tersandingkan dengan ajaran Islam. Tapi kini kata manhaj adalah kata yang membuat saya sedih.

Padahal kalau manhaj salaf yang mereka maksud, tak ada para pendahulu yang sholeh itu mudah bertengkar dalam masalah perbedaan pendapat yang furu’.

Manhaj salaf adalah manhaj berukhuwah antara Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas, meski keduanya berbeda pendapat soal hitungan waris. Manhaj salaf adalah manhaj saling menghormati antara Imam Syafi’i yang menganggap qunut shubuh itu sunnah dan Imam Ahmad bin Hanbal yang menganggap qunut shubuh itu bid’ah. Manhaj salaf tak hidup dalam suasana saling tahdzir dan menuduh mayoritas umat Islam sebagai ahli bid’ah.

Apa pun klaim mereka soal manhaj, tetap Islam adalah minhajul hayah bagi semua muslim. Setiap muslim yang berupaya mengamalkan sunnah Rasulullah, mereka berada di atas manhaj yang benar. Sikap menghormati perbedaan dalam masalah furu’, itulah sikap yang manhaji. Berkasih sayang kepada sesama muslim, itulah manhaj Islam. Terlepas dari para perebut klaim soal manhaj.

Zico Alviandri

 

Belajar Ikhlas dari Aplikasi GPS

Kemajuan teknologi sangat membantu umat manusia. Salah satu sarana yang memanjakan manusia adalah aplikasi mobile yang menggunakan GPS. Bukan Guidance Penduduk Sekitar, tapi Global Positioning System, sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.

Aplikasi yang memanfaatkan GPS itu selain bisa memperlihatkan posisi penggunanya dalam peta, juga bisa mengarahkan ke lokasi yang dicari. Dengan panduan suara, pengguna akan diberi tahu harus belok kanan atau kiri pada belokan sekian meter di depan untuk menuju titik yang dituju. Sangat membantu.

Banyak macam aplikasi seperti ini. Ada Google Maps, Waze, dll. Bisa diinstall di telepon genggam yang kita miliki.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari aplikasi seperti ini. Tentang keikhlasannya memberi saran kepada pengguna.

Apa yang terjadi kalau saran yang diberikan oleh aplikasi kita abaikan? Misalnya kita diberi tahu untuk berbelok ke kiri pada jalan 400 meter di depan. Tapi kita tetap lurus, karena sudah tahu jalan atau mungkin karena kelewatan. Apakah aplikasi itu akan ngambek, atau ngomel-ngomel?

“Ah elu, udah gw kasih tau belok kiri. Tapi masih lurus juga. Sono cari sendiri,” terdengar suara begitu dan kemudian aplikasi itu mati sendiri. Mungkin kah?

Tidak. Tapi system akan mengkalkulasi ulang, memperhitungkan jarak ke titik tujuan, mencermati kepadatan jalan, dan lalu kembali memberi saran yang terbaik. Selama pengguna masih menanyakan arah ke titik yang dituju, system akan terus membantu.

Tidak ada rasa kecewa ketika saran dari aplikasi itu diabaikan pengguna. Juga ketika sampai, tak ada suara bernada kesombongan dibunyikan. “Kan, bener kan saran gw? Cepet lagi kan nyampenya. Gwe gitu loh…” Tak kan ada kalimat seperti itu.

Coba bandingkan dengan manusia. Di dalam rapat, meeting, musyawarah, syuro, dan lain-lain istilahnya, memberi saran kadang menjadi pintu setan untuk menebar virus penyakit hati.

Saat kita mengungkapkan gagasan di hadapan peserta rapat, setan sudah mulai bekerja membuat kita tinggi hati. Gaya bicara dibuat sekeren mungkin, istilah-istilah asing dari ngenglish, ngarab, latin, kita pakai untuk berargumen. Sebisa mungkin kita ingin membuat orang lain terkesan.

Saat saran diterima, kita semakin tinggi hati. Dan ketika saran itu membawa hasil, kita lupa diri, melupakan Allah swt yang telah memberi ilham. Tapi saat saran ditolak, rasanya langit runtuh. Timbul rasa kecewa, dalam hati mengecam si penolak saran. Saat saran orang lain yang diterima, sedikit timbul harap agar saran itu membawa kegagalan. Itu lah yang namanya hasad/dengki.

Tak seperti aplikasi yang menggunakan GPS itu, yang ia tahu hanyalah memberi saran terbaik. Ia fokus pada tujuannya. Dan seharusnya seperti itu lah keikhlasan saat bermusyawarah. Kita berfikir menemukan solusi yang terbaik, kita lakukan itu karena Allah swt. Kita memberi saran untuk kemaslahatan bersama, karena Allah. Dan setelah itu kita berlapang dada. Saran diterima atau tidak, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Itu lah ikhlas berbuat karena Allah.

Zico Alviandri