RSS

Category Archives: Pernikahan Keluarga dan Rumah Tangga

Saat Akal Si Kecil Sudah Sampai

ayah bersama anak remajanya

Alya tiba-tiba bersikap serba salah. Saat sedang bersama orang tuanya mengunjungi rumah sanak famili dalam acara keluarga besar, Alya tiba-tiba menarik diri, hilang fokus, dan sedikit ketakutan. Sikap anak berusia 11 tahun dan masih duduk di bangku kelas 6 SD ini ditangkap oleh ibunya. Interogasi pun dimulai.

Ada apa? Rupanya Alya mendapatkan menstruasi pertama kali. Ibunya Alya hidup di zaman modern. Andai ia hidup setidaknya sekitar 80 tahun yang lalu, tentu akan langsung terpikirkan pernikahan untuk anak sebelia itu. Zaman terlalu cepat berubah, hanya terpaut beberapa puluh tahun, usia standard layak menikah tiba-tiba berubah.

Tapi di lain itu, Neng Alya kini sudah mulai dicatat amalannya dan harus berhadapan dengan pahala dan dosa. Di usia sebelia itu, dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kenyataan ini yang tak bisa diubah oleh zaman.

Ada pihak-pihak yang menggugat kata remaja dimasukkan dalam pengkategorian seseorang berdasarkan umur. Alasannya, Islam tidak mengenal remaja. Islam hanya mengenal 2 kategori: Belum baligh, atau sudah baligh. Alasannya lagi, kategori remaja diperkenalkan oleh psikolog barat dan bisa mengaburkan pandangan tentang syariat. Hmm.. Silakan dipertimbangkan protes itu.

Pro atau kontra atas pandangan tadi, memang sudah menjadi realita bahwa para orang tua saat ini tidak terlalu peduli dengan masa aqil baligh seorang anak. Aqil baligh, yang ditandai dengan mulai masuknya kewajiban mandi wajib bagi seseorang, memiliki makna leksikal “sudah sampai akalnya.” Karena itu, menjadi otomatis bila seorang anak mimpi basah (bagi pria) atau mendapatkan menstruasi (bagi wanita), anak itu dibebankan syariat-syariat Islam yang harus dijalankannya secara kaffah, baik syariat individu (seperti sholat, puasa, bahkan zakat); hingga syariat yang berkaitan dengan muamalah (seperti menyambung silaturahim, berdakwah, hingga… aturan-aturan dalam pernikahan).

Di masa aqil baligh, saat seorang anak berhadapan dengan 2 pilihan dalam aktivitasnya: dosa atau pahala, sangat berhak untuk diberikan pembekalan oleh orang tuanya tentang ajaran-ajaran Islam secara utuh (lihat QS 2:208). Ini bukan soal sekedar memberikan pemahaman tentang apa fungsi sperma atau mengapa sel telur harus dilepas sebulan sekali. Atau hanya bekal tatacara mandi wajib. Sangat penting bagi orang tua menyadari bahwa sang anak sudah memasuki usia layak untuk berjuang bagi dirinya sendiri.

Di usianya memasuki aqil baligh, sesungguhnya seorang anak butuh diajarkan metode yang tepat untuk menentukan baik dan buruk. Poin-poin norma benar-salah mungkin sudah diajarkan dan dihafal oleh anak sedari kecil. Tapi saat di usianya, ia akan menemukan kasus-kasus yang harus secara cermat ia pertimbangkan dan selesaikan. Periksalah, apakah ia punya metode sederhana untuk menyikapi suatu persoalan. Bila orang tuanya mengerti kaidah fiqh, lebih hebat lagi bila bisa diajarkan secara aplikatif.

Kita memang hidup dalam kultur yang berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Namun yakinkah bahwa zaman ini lebih baik karena ada pandangan seorang anak remaja harus bebas dari tugas mencari nafkah? Bila tugas itu menghalangi waktu belajarnya, memang tidak baik. Dulu, memang bersekolah bukan hal yang primer bagi usia remaja. Hanya saja tidak bisa juga orang tua tak mengajarkannya cermat berinvestasi dan cermat mengatur pengeluaran. Belajar bisnis kecil-kecilan yang tak mengganggu belajarnya adalah hak seorang anak yang memasuki aqil baligh. Lepaskanlah dan berilah ia kepercayaan. Karena akalnya sudah sampai. Harus diasah dan dikembangkan.

Dan terakhir ini mungkin hal yang kontroversial. Allah menjadikan saat akal seseorang memasuki kesiapan untuk memanggul beban syariat, dijadikan juga reproduksinya matang dan siap untuk mencetak keturunan. Sekaligus juga ketertarikan dengan lawan jenis. Itu satu paket. Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS 2: 286). Berarti, secara naluriah sesungguhnya saat aqil baligh seorang anak sudah siap dan layak menikah. Cuma…

Memang di zaman ini lahir kata “cuma” untuk teori di atas. Mengeksepsi kenyataan puluhan tahun lalu bahwa pernikahan sangat lumrah terjadi di usia belasan tahun. Zaman ini memaksa seseorang dewasa lebih lambat. Ia bisa bertambah tua, namun belum tentu dewasa.

Tidak lain karena kampanye pembatasan kelahiran anak yang “menghasut” manusia zaman ini untuk menikah lebih telat. Mengabaikan betapa beratnya seorang manusia menjaga syahwat. Bahkan dalam kadar yang kebablasan, dimunculkan pula kampanye terselubung seks bebas. Kondom dijual bebas dan petugas mini market atau apotik tak mempedulikan seorang anak di bawah 17 tahun membeli kondom (padahal dalam kampanye lain, pernikahan ideal di atas usia 25 tahun). Standard usia wajar menikah yang ditandai matangnya reproduksi digeser oleh frame materialistis yang dikandung oleh kampanye tadi.

Dalam bahasan kontroversial menikah muda yang ada di benak pembaca, mohon pahami bahwa saat aqil baligh, sudah menjadi hak anak untuk diarahkan siap mengurus dirinya sendiri bahkan mempertanggung-jawabkan kemampuan seksualnya secara syar’i. Godaan bagi dirinya adalah perzinahan. Sadar atau tidak umat Islam terpasung oleh kampanye usia ideal menikah di atas 25 tahun, lantas orang tua mengabaikan kewajibannya untuk membuat anak siap menjalankan agamanya, mencari nafkah, serta menikah setelah usia aqil baligh. Orang tua cenderung tak peduli bahwa seorang anak butuh pembekalan itu semua. Di pikirannya, pendidikan di luar rumah sudah membina anaknya secara utuh, mendidiknya mencari nafkah dan juga berumah tangga. Padahal kenyataannya tidak begitu. Pendidikan di Indonesia berorientasi pada nilai dan gelar, bukan kemampuan yang menopang kedewasaan seseorang.

Terserah berapa tahun idealnya anak anda menikah dalam pandangan anda, tapi menuju ke arah sana adalah menjadi bagian dari tanggung jawab anda.

 

Saat Harus Memulainya Tanpa Perasaan Cinta

memulai rumah tangga

Dari sebuah siaran radio pagi, terdengar curhatan seorang gadis tentang persahabatannya dengan seorang teman pria. Telah melalui waktu yang lama bersama. Sekolah di SMP yang sama, SMA yang sama, bahkan Kampus yang sama. Teman main band. Dan tinggal berdekatan.

Mereka berdua belum mempunyai pasangan. Akhirnya, berinisiatiflah mereka untuk menjalin hubungan – pacaran. “Kenapa ga dicoba? Jalanin aja dulu,” pikir mereka.

Tapi setelah perjalanan waktu, kehampaan perasaan mengkandaskan hubungan mereka. Tidak ada perasaan cinta, itu alasannya. “Padahal dia baek banget. Gak jelek-jelek amat…” Begitu cerita si gadis melalui telepon. Dan mereka berdua jujur bahwa tak punya ketertarikan satu sama lain dan mereka tak bisa melanjutkan hubungan itu. Kembalilah dua insan itu dalam taraf hubungan persahabatan.

Cerita ini menggelitik akal dan perasaan saya, yang telah menikahi seorang muslimah sekitar 6 tahun lalu tanpa perasaan cinta atau suka sebelumnya. Agak berbeda dengan cerita curhatan gadis di siaran radio itu, saya bahkan tidak teralu mengenal pasangan saya saat melamarnya. Perkenalan pertama kali terjadi difasilitasi oleh pembimbing ruhani kami dan itu pun dengan niat mencari pasangan untuk menikah di jalan Allah. Setelah dua kali pertemuan, kami sepakat untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Dan saya pun mendatangi orang tuanya untuk melamar beberapa lama kemudian.

Pernikahan telah berjalan yang awalnya sama seperti gadis dan kawannya itu, tak ada perasaan apa-apa. Kenal pun baru. Tapi kami berhasil membinanya. Bahkan kini telah dikaruniai dua orang anak. Sekarang, adakah perasaan cinta itu di antara kami? Insya Allah ada. Saya rasakan.

Lantas, apakah penentu dari dua cerita yang hampir sama namun berkelanjutan berbeda? Jawabnya adalah niat dan komitmen!

Niat saya dan gadis itu berbeda. Niat saya, ingin mencari pendamping untuk hidup berdua dengan serius dalam mahligai pernikahan. Sedangkan niat gadis itu adalah mencoba menjalani hubungan yang kapan pun bisa saja disudahi tanpa pertimbangan dalam, yang hubungan itu dinamakan pacaran. Komitmen yang mengikat antara pernikahan dan pacaran tentu sangat berbeda. Pernikahan diikat oleh sebuah komitmen yang Allah sebut mitsaqon gholizho, sedangkan pacaran tak ada ikatan itu. Malah ulama mengatakan pacaran itu haram.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu mitsaqon gholizho (perjanjian yang kuat.).”

Niat dan komitmen membuat sebuah ikatan menjadi kokoh dan tak tergoyahkan oleh pasang surut cinta. Niat membangun rumah tangga yang menghadirkan generasi Islam yang sehat dan punya manfaat untuk umat, akan berbeda dengan niat pacaran yang hanya sekedar ingin mendapatkan manis dari perasaan saling cinta.

Dalam rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, membangun keluarga adalah tujuan. Pasangan dianggap sebagai partner menghadirkan keakraban di dalam keluarga. Yang menjadi perekat adalah cinta kepada Allah swt. Cinta kepada pasangan bukan perekat yang utama, walau itu adalah pemanis dalam berumah tangga. Bila cinta kepada pasangan hilang, ada tanggung jawab untuk menjamin keberadaan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah yang telah dibangun itu agar tetap utuh. Perpisahan tentu bukan jalan yang baik untuk missi menghadirkan generasi pembina umat. Tak tega melihat anak hidup dalam broken home. Idealnya seperti itu.

Tetapi dalam jalinan pacaran, pasangan dianggap sebagai partner yang harus menghadirkan cinta. Terjadi persaingan adu saling manja. Tak ada pertimbangan yang dalam bila harus saling berpisah. Karena itu ikatannya rapuh.

Wajar bila orang yang tak terpikirkan untuk membangun komitmen pernikahan di jalan Allah heran dengan pernikahan yang dimulai tanpa perasaan asmara. Tak dimulai dengan mabuk kepayang. Wajar mereka heran apakah ikatan seperti ini bisa bertahan. Karena yang dimengertinya adalah pernikahan itu merupakan muara dari dua aliran asmara. Tak lebih.

Tapi yang lebih mengherankan lagi bila ada aktivis dakwah yang pacaran (di luar nikah). Selain mereka harusnya mengerti bahwa pacaran itu berada pada zona “taqrobuz-zina” (mendekati zina), juga karena mereka yang harusnya paham bahwa ikatan cinta kepada Allah adalah kokoh malah bersandar pada ikatan asmara yang kapan pun bisa datang dan bisa hilang.

Bila tiba saatnya aktivis dakwah yang pacaran itu mengikat ikatan mereka dengan halal, mereka harus meluruskan niat mereka untuk membangun rumah tangga yang samara dan punya dampak untuk perkembangan Islam. Mereka harus punya kesadaran bahwa perasaan saling suka yang membuat mereka pacaran itu kelak bisa hilang – dengan izin Allah – dan komitmen untuk membangun keluarga yang islami lah yang mereka pegang erat-erat bila rasa saling suka itu hilang. Bila niatnya untuk sekedar menghalalkan rasa saling suka, sayang sekali gelar aktivis dakwah itu.

 

Hati-Hati Ngomporin Orang Menikah

kapan nikah
Di sebuah forum, pembicara mengulas topik tentang perlunya menyegerakan menikah. Peserta forum itu terdiri dari bujang-bujang yang beberapa di antara mereka sudah masuk usia layak menikah dan punya kesiapan finansial yang memadai. Sindiran-sindiran pembicara cukup menusuk hingga membuat para peserta mesem-mesem. Di usia yang sudah harusnya menikah, kalau tidak disegerakan, memang membawa kekhawatiran kalau-kalau para bujang itu malah pacaran, atau bermaksiat yang lebih parah lagi. Jadi “pengomporan” yang dilakukan oleh pembicara itu wajar adanya.

Tapi sayang, di tengah peserta ada beberapa remaja usia SMA. Mereka ikut tertawa, ikut mesem-mesem, ikut mengangguk-angguk mendengarkan materi bersama peserta yang lain. Mereka setuju, pacaran harus dijauhi. Dan penggantinya, menikah harus disegerakan.

Kemudian pulanglah remaja usia SMA itu dan bertemu kedua orang tuanya. Berbekal materi-materi “kompor” yang didapat tadi, remaja itu memohon kepada orang tuanya agar segera dinikahkan. Nah lho…

Akhirnya orang tuanya cuma bisa mengelus dada dan keheranan dengan aktifitas pengajian si anak. “Pengajian macam apa ini?” Pikir mereka. Dan dari mulut si ibu, terlontar kata-kata: “Memang, kalau anak sudah ikut pengajian itu, nggak lama mereka akan minta nikah.” Maklum, si ibu sudah mendapati beberapa anak remaja tanggung ikut pengajian itu. Stigma tidak bisa dihindari, karena setiap anak remaja yang dilihatnya ikut pengajian itu, mereka akan merengek minta nikah.

Hadits yang berbunyi, “Berbicaralah kepada manusia menurut pengetahuan mereka.” (HR Ad-Dialami, Bukhori) Memang mengindikasikan ada levelisasi pada kemampuan manusia dalam menangkap suatu retorika dan materi pembicaraan. Seperti tidak mungkin kita memberi pelajaran kalkulus pada anak SD, atau ushul fiqh pada anak yang baru belajar membaca Qur’an, materi yang mengandung provokasi untuk segera menikah rasanya terlalu dini diberikan pada anak remaja usia SMP atau SMA yang baru belajar Islam.

Memang tidak jarang seorang mentor menjawab pertanyaan, “Kak, kalau kita gak boleh pacaran, terus gimana kalo kita suka sama seseorang?”, dengan jawaban, “Islam tidak mengenal pacaran. Kalau kita suka sama seseorang, kita miliki dengan jalan yang halal, yaitu pernikahan.” Tentu seorang anak remaja puber yang mabuk kepayang dengan lawan jenis, dan pada saat yang sama ia mulai merasakan tentramnya hidup dalam jalan Islam, akan “kebelet” nikah agar cintanya berlabuh dengan indah dan halal. Dan kalau seperti ini, yang kaget adalah orang tua si anak.

Jawaban tadi tidak salah. Tapi kalau mau memberikan jawaban polos itu, lihat-lihtlah kondisi psikologis si remaja. Kalau misalnya diberikan jawaban, “Jodoh nggak kemana. Kehidupan kita telah diatur oleh Allah sebelum kita lahir di kitab Lauhul Mahfuzh. Sekarang kamu konsentrasi aja dulu belajar yang serius sampe lulus SMA dan lulus kuliah dan bekerja, fokus membentuk kepribadian yang muslim, dan membuat orang tua ridho. Perkuat cinta kamu kepada Allah karena cuma Dia yang berhak dicintai. Kalau Allah kehendaki, di saat kamu sudah siap berumah tangga, kamu akan menikah dengan dia.” Ya memang jawabannya panjang lebar. Dan tekankan agar anak itu melakukan hal-hal yang positif di usianya. Kalau belum apa-apa sudah diprovokasi menikah, konsentrasi belajarnya bisa buyar. Sayang kalau dakwah ini dipenuhi oleh remaja-remaja kebelet nikah dan melupakan prioritasnya di usianya.

Idealnya memang saat seorang anak sudah baligh, maka itulah saat yang tepat untuk menikah. Tapi dengan sistem pendidikan di negara ini, rasanya hal tersebut susah. Usia hingga SMA adalah usia wajib belajar. Sistem pendidikannya masih menerapkan disiplin yang ketat. Seragam hingga absensi diatur dengan ketat. Agak susah kalau anak usia SMA harus membagi perhatiannya antara belajar dengan mencari nafkah atau mengasuh anak. Beda dengan anak kuliahan yang sistem belajar di kampusnya tidak begitu ketat seperti SMP/SMA. Ada banyak cerita anak kuliahan yang sudah menikah.

Tapi walau masa kuliahan sudah lepas dari pendidikan penuh disiplin dan ketat, tetap saja seorang “pengompor” harus hati-hati memprovokasi anak kuliahan. Karena tidak semua orang punya kemampuan membagi waktu antara menikah dan belajar. Banyak kasus mahasiswa yang menikah namun kuliahnya berantakan. Kondisi tiap orang berbeda. Perhatikan prioritas dan potensi seseorang. Jangan sampai seorang kader dakwah yang punya potensi besar menjadi ahli di bidang tertentu, potensinya tenggelam karena terprovokasi untuk menikah dan kuliahnya jadi berantakan karena sibuk mencari uang dan gagal mengatur waktu.

Sebuah cerita lain, Seno adalah kader dakwah yang baru saja lulus kuliah dan baru saja diterima bekerja. Selama ini kuliahnya dibiayai oleh orang tuanya dan kakaknya. Orang tuanya pensiunan PNS berpangkat rendah dan hidupnya dibantu dengan pemberian anaknya yang sudah mapan. Gaji PNS-nya tidak memadai untuk kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari Seno mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada orang tuanya. Orang tuanya kaget dan pusing tujuh keliling. Tidak ada tabungan untuk membiayai pernikahan Seno. Bahkan Seno sendiri tidak punya apa-apa untuk hidup berumah tangga. Tidak punya kasur, lemari, perabotan, bahkan tabungan. Ia mengandalkan gaji barunya yang sebenarnya jauh dari cukup untuk menghidupi dua orang. Seno berkilah bahwa calon istrinya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Orang tuanya bingung, bukankah menafkahi itu tugas suami. Orang tuanya berfikir apakah di pengajian Seno tidak diajarkan bahwa suami berkewajiban menafkahi istri?

Rupanya Seno mendapat “kompor” dari guru ngajinya, yang dulu menikah dalam kondisi serba tidak berkecukupan. “Ana aja bisa, tidur dengan kasur busa kecil, tinggal di petakan sempit. Makan kadang cuma pake tempe.” Semakin bingung orang tuanya, ini pengajian macam apa. Dan kakaknya marah-marah karena orang tuanya belum lagi menikmati gaji Seno, tapi Seno malah sudah buru-buru menghidupi orang lain. “Mana bakti kamu?” Tanya kakaknya. Itu baru kesiapan finansial yang nihil dimiliki Seno. Kesiapan ilmu? Seno sendiri baru beberapa bulan ikut pengajian.

Memang harus hati-hati memprovokasi seseorang untuk menikah. Kasus Seno akan menjadi kontraproduktif bagi dakwah. Kasusnya akan terdengar oleh keluarga besar, dan akan menimbulkan antipati bagi dakwah. Cerita seorang sahabat yang menikah dengan cincin besi, itu tepat diberikan pada bujang yang sudah semestinya menikah tapi takut miskin. Namun untuk bujang seperti Seno, ia masih punya waktu untuk menabung mempersiapkan diri menikah sehingga tidak perlu membuat pusing orang tuanya, atau malah mengandalkan hidup dari istrinya (walau istrinya rela). Ia sudah punya semangat menikah, tinggal dimenej dan diarahkan untuk persiapan yang cukup. Ayat “Kalau kamu miskin Allah akan mengkayakan kamu,” (QS An-Nur : 32) bukan berarti tergesa menikah dengan persiapan yang sangat minim, padahal kalau mau bersabar menunggu persiapan itu akan terpenuhi.

Kebanyakan orang tua kader dakwah adalah orang umum dan tidak punya latar belakang dunia dakwah. Mereka punya logika sendiri dalam menilai anaknya apakah sudah harus menikah atau belum. Remaja yang terjejal cerita idealis tentang orang yang sukses menikah dini, biasanya mendapat resistensi dari orang tuanya yang menilai bahwa usia menikah adalah usia di mana sang anak punya penghasilan yang mapan. Benturan ini bisa membuat buruk citra dakwah atau suatu pengajian.

Seorang pengompor tidak boleh lepas dari menjelaskan apa itu persiapan menikah, bila memprovokasi orang untuk menikah. Jangan menjelaskan yang manis-manis saja tentang pernikahan. Provokasi yang tepat sasaran adalah pada bujang yang punya persiapan namun punya keraguan untuk menikah, bukan pada remaja tanggung yang persiapannya nihil dan masih jauh namun rentan tergoda untuk tergesa menikah.

 

Jantan

Jantan memiliki arti yang sama dengan pria. Tapi jantan lebih digambarkan dengan keperkasaan, kekuatan, dan keberanian. Sifat tersebut dalam kehidupan memang selalu dilekatkan pada pria. Dan secara kodratnya, pria lebih perkasa daripada wanita – yang digambarkan dengan sifat kelembutan.

Saat yang paling jantan dalam kehidupan pria adalah ketika ia menjemput sendiri ‘mitsaqon gholizo’. Kenapa bisa disebut saat yang paling jantan? Apa hubungannya dengan mitsaqon gholizo? Mari kita bahas dulu tentang mitsaqon gholizo.

Mitsaqon gholizo bermakna ikatan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT tiga kali menyebut kata ini. Pertama dalam Al-Ahzab ayat 7, perjanjian antara Allah dan Rasul-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”.

Kemudian pada An-Nisa 154, antara Allah SWT dan Bani Israil. “Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”

Dan terakhir pada An-Nisa ayat 21, perjanjian antara suami dan istri. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Allah menggunakan kata mitsaqon gholizo dalam pernikahan, sebagaimana Allah menggunakannya untuk perjanjian antara Ia dan Rasul-Nya, serta Ia dan Bani Israil.

Mitsaqon gholizo adalah perjanjian yang sangat serius. Untuk Bani Israil, Allah sampai mengangkat gunung Thursina ke atas kepala mereka. Coba bayangkan, jangankan gunung, apa rasanya kalau ada yang mengancam atau menginterogasi kita dengan cara mengangkat sebuah batu besar di atas kepala kita? Tentu kita merasa ketakutan. Dan begitulah proses perjanjian mitsaqon gholizo.

Dan untuk Nabi, Allah tidak kalah kerasnya mengancam. Bahkan seorang kekasih-Nya pun diancam seperti ini: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (QS Al-Haaqqah : 44-48).

Bukan main konsekuensi dari mitsaqon gholizo ini. Karena itu, wajar bila disebut saat yang paling jantan bagi seorang pria adalah saat ia menjemput sendiri mitsaqon gholizo, ketika ia datang ke rumah orang tua seorang gadis untuk menikahinya.

Khusus untuk pernikahan, wanita lah yang mengambil perjanjian yang kuat dari seorang pria yang teruji kejantanannya. Tapi bukan berarti konsekuensinya kecil. Dalam buku fiqh prioritas, Yusuf Qardhawi membuat bab yang berjudul “Mengutamakan Hak-Hak Manusia Atas Hak-Hak Allah”.

Hak manusia memang lebih utama dipenuhi. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa para ulama berpendapat, “Sesungguhnya hak-hak Allah Ta’ala dibangun atas dasar toleransi, sementara hak-hak manusia dibangun atas dasar kepastian (ketat).” Dan dalam hadits disebutkan bahwa seorang yang mati syahid, sebuah amal yang sangat besar pahalanya, terhalang masuk surga karena ada hak manusia yang tidak terpenuhi, misalnya hutang atau lebih parah lagi pencurian. Seorang pencuri ketika bertaubat, insya Allah dihapuskan dosanya oleh Allah. Tapi tidak cukup di situ, selama ia belum meminta maaf kepada manusia, urusannya belum selesai.

Tanpa terangkat sebuah gunung ke atas kepalanya, atau ancaman pemotongan urat jantung, seorang pria membuat ikatan dengan seorang gadis untuk beberapa misi yang sangat sulit. Misi yang sulit itu adalah : Menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Hanya yang jantan lah yang bisa menjalankan misi tersebut!

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)

Jelas misi ini sangat sulit. Menjaga diri sendiri dari api neraka saja sangat sulit. Pada misi yang ia hampiri sendiri ini, seorang pria harus melindungi tidak cuma dirinya, tapi juga keluarganya dari api neraka.

Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan ia akan dimintakan pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya ini. Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin… Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka…” (Shahih Muslim No.3408)

Dan dalam An-Nisa : 34, Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Belum lagi, apa yang dipimpinnya, kadang ‘menjadi musuh’ bagi dirinya (lihat QS At-Taghabun (64) : 14). Sangat-sangat tidak mudah menjaga diri dari api neraka yang dikelilingi oleh kenikmatan. Wajar disebut jantan bagi seorang yang berani mengambil peran memimpin diri dan orang lain dari api neraka.

 

“Ngomong Apa Sih Yang? Aku Gak Ngerti”

Lebaran tiba, waktunya bagi sepasang suami istri muda mudik. Kebetulan tahun ini mudiknya ke kampung halaman si istri, di daerah Garut, Jawa Barat.

Keluarga menyambut hangat dan meriah. Kakak dan adik si istri juga berkumpul di rumah orang tua. Hingga hiruk pikuk hari raya yang khas terwujud di rumah yang agak besar di sebuah kampung yang asri itu.

Tapi kemeriahan hari raya tidak terasa di hati sang suami. Malah sang suami merasa kesepian di tengah keramaian. Kalau kata lagunya band Dewa, “di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu…” Tapi bukan orang lain kok yang menjadi penyebab kesepian sang suami. Lalu apa pasal?

Sang suami merasa tersisih karena kendala bahasa. Sang suami bukan orang sunda, tapi orang betawi asli. Walau daerah betawi dan sunda berdampingan, tapi sang suami benar-benar tidak mengerti bahasa sunda. Sementara di rumah itu keluarga istri bersenda gurau dengan bahasa ibunya. Sang suami hanya bungkam.

Fenomena ini mungkin saja ditemukan pembaca. Entah anda yang berposisi seperti istri, atau sebaliknya. Kekayaan bahasa daerah yang dimiliki nusantara ini menjadi penyebab ketidak-nyambungan komunikasi bila tidak di-manage dengan baik.

Jangan biarkan ia tersisih. Apa bedanya kondisi yang dialami oleh sang suami dengan salah satu di antara tiga orang, yang dua kawannya berbisik-bisik sementara ia tidak diajak berbicara? Rasulullah pernah melarang apabila ada tiga orang berkumpul, janganlah dua di antaranya berbisik-bisik sementara yang satunya tidak dilibatkan.

“Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa  mengikut sertakan yang lain, sampai mereka berkumpul dengan manusia yang lainnya, karena yang demikian itu akan menyusahkan orang yang tidak diajak berbisik”(HR. Bukhori dan Muslim).

Memang kejadiannya tidak sama dengan yang terjadi pada pasutri muda tadi, tetapi tujuan larangan itu agar tidak merenggangkan ukhuwah, timbulnya prasangka buruk di hati orang yang disisihkan, atau perasaan terkucil. Nah, hal seperti ini jangan sampai juga terjadi pada “besan” yang hanya bisa bengong di rumah keluarga besar karena tak dapat terlibat oleh sebab perbedaan bahasa. Kalau tidak diam saja, paling mentoknya main dengan gadgetnya asyik sendiri.

Memang tidak bisa melarang anggota keluarga besar untuk tidak berbicara dengan bahasa ibu. Tetapi si istri harus terus mendampingi sang suami, sesekali menjelaskan kepada suami topik apa yang sedang heboh  – dengan volume suara dan bahasa yang private tentunya, dan jangan biarkan pasangan kelamaan tersisih. Bisa juga minta anggota keluarga lain mengajak sang suami mengobrol dengan bahasa yang ia mengerti. Dan ajari terus pasangan anda bahasa daerah asal anda, selama ia mau belajar. Untuk pergaulan, menguasai bahasa daerah itu perlu lho.

Atau pembaca punya solusi lain? Intinya, jangan dianggurin pasangan anda. 🙂 

 
 

Ayah, Keringatmu Beraroma Surga

Seorang ibu dengan bakti dan ketulusannya membesarkan anak – apalagi anak perempuan, berhak mendapatkan surga. “Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya”. (HR. Muslim no. 2631). Bukan itu saja, Rasulullah pun menyanjung para ibu seperti dalam hadits: “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (HR Imam Ahmad & Nasa’i). Hadits itu membuktikan betapa berharganya seorang ibu hingga surga bayarannya untuk orang yang berbakti padanya.

Begitulah keterhubungan seorang ibu dengan surga. Lalu, adakah keterhubungan seorang ayah dengan surga?

Ada peran yang cukup fital yang dimiliki seorang ayah dalam keluarganya. Peran yang tak kalah menantang dibanding peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Peran yang sarat tekanan, harus dihadapi dengan tenaga, pikiran, dan mental. Bahkan pepatah begitu hebatnya menggambarkan peran ini dalam kata-kata: “Peras keringat, banting tulang.”

Mencari nafkah. Itu lah peran yang dimiliki oleh seorang ayah. Sebagai kepala keluarga, seorang ayah punya tanggung menafkahi anggota keluarganya. Bahkan sebelum menjadi seorang ayah, seorang suami punya kewajiban menafkahi istrinya. Seperti itu peran utama seorang kepala keluarga. Lalu adakah hubungannya dengan surga?

Jawabannya, ada!!! Pada keringat seorang ayah, ada pengampunan yang Allah janjikan.

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.”” (HR. Bukhari)

Ada banyak hadits tentang keutamaan bekerja. Dan sudah seharusnya kerja keras dan profesional menjadi attribute seorang mukmin. Karena pada profesionalisme, ada kecintaan Allah swt di sana. “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)”. HR Baihaqi dari Siti Aisyah ra.

Surga sudah selayaknya menjadi balasan bagi seorang ayah. Bila seorang ayah berada di kantor, maka ada tekanan yang dihadapinya dari berbagai penjuru. Tekanan target pekerjaan. Ini hanya sebuah tekanan normal, biasa ada dalam pekerjaan. Tapi biasanya ada pula tekanan lain seperti perilaku atasan yang kurang cocok dengan sang ayah, perilaku rekan kerja yang suka membuat gesekan ketidak-harmonisan, juga perilaku bawahan yang kurang sesuai harapan. Belum lagi bila pekerjaan yang didapat di kantor itu terasa over load. Tekanan seperti ini tidak akan diketahui dan dirasakan oleh seorang anak balita yang gemar bermain, atau anak remaja yang suka bersenang-senang, juga tak dirasakan oleh ibu di rumah walau sedang mengeluh karena anaknya rewel. Tekanan lain bisa didapat dari susahnya transportasi ke kantor, hingga penghasilan yang dirasa kurang memadai buat keluarganya tercinta. Stressfull.

Bila sang ayah adalah seorang pengusaha, maka lebih hebat lagi tekanannya. Mungkin orang-orang banyak bercita-cita menjadi pengusaha karena melihat kesuksesannya, tapi jarang yang melihat kerja keras seorang pengusaha sebelum menggapai sukses. Kerja keras itu lah yang dihadapi seorang ayah.

Seorang pengusaha dihadapkan pada penghasilan yang tak tetap tiap bulannya. Yang penting memang tetap berpenghasilan. Seorang ayah pekerja kantoran bekerja dari pagi sampai sore. Kadang bekerja lembur. Tapi seorang pengusaha waktu kerjanya adalah 24 jam sehari. Dalam tidur, ia harus siap mendapat panggilan telepon dari pelanggannya. Hal yang susah dimengerti oleh anggota keluarga lain.

Namun ada ampunan Allah pada kesusah-payahan itu. Ada kecintaan Allah pada tekanan-tekanan itu. Rasulullah saw bersabda, ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas) Atau dalam hadits lain, ”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas). Saat Rasulullah mencium tangan seorang sahabat yang melepuh karena bekerja, Rasulullah berkata, “Inilah tangan yang tak akan disentuh oleh api neraka.”

Rasulullah saw juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami). “Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

Bahkan, bekerja keras mencari nafkah ini termasuk bagian dari jihad. ”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Begitulah, menjadi orang tua berarti kita siap berjihad. Seorang ibu berjihad dalam rumahnya membesarkan anak-anaknya. Seorang ayah berjihad di medan usahanya.

Ayah, engkau terhubung dengan surga melalui kerja kerasmu. Maka bergembiralah!!!

 
 

Luqman, Ayah Yang Inspirasional

Kalau ada sesosok ayah yang namanya terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya. Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya, kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya mendidik Luqman Al-Hakim?

Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun begitu, ia mendapat gelar “Al-Hakim” karena kebijaksanaannya. Dan Allah swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji””. (QS Luqman : 12)

Perhatikan petuah tentang syukur darinya. Bila Luqman adalah seorang bangsawan, wajar kalau ia senantiasa bersyukur. Tapi posisinya hanya sebagai budak, dan itu pun ia mampu memahami syukur lebih baik daripada orang yang memiliki kedudukan jauh lebih baik darinya. Keadaan seperti itu tak akan dimiliki kecuali oleh orang yang bisa menyerap hikmah pada setiap keadaan yang dirasakannya.

Cerita tentang Luqman ada pada ayat 12 sampai 19. Dibuka dengan pengenalan terhadap Luqman sebagai orang yang telah diberi hikmah. Sebagai garansi bahwa apa yang diajarkannya adalah ajaran yang luhur. Tujuh ayat petuah Luqman pada anaknya terdiri dari 3 ayat perintah (ayat 14, 17, 19) dan 3 ayat larangan (ayat 13, 15, 18). Tiga ayat pertama berbicara tentang aqidah, tiga ayat terakhir berbicara tentang ubudiyah, dakwah, dan akhlaq. Di tengah-tengahnya adalah ayat yang berpesan untuk senantiasa muroqobatullah. Ayat pertama yang bercerita tentang pengajaran Luqman pada anaknya (ayat 12), disebutkan “wa huwa ya’izhuh”. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.

“Ya bunayya…” Begitu panggilan lembut Luqman pada anaknya. Sudah seharusnya seorang ayah memiliki kata-kata yang spesial buat anaknya yang mencerminkan betapa dalam kasih sang ayah kepada anak. Kata-kata yang memiliki muatan cinta dapat melunakkan hati. Sedangkan kata-kata yang terkesan menyepelekan bisa memantik api permusuhan sang anak pada orang tuanya. Sapaan “Eh… tong…” adalah panggilan yang menjauh dari ajaran kasih sayang Luqman. Bila kita tidak ingin anak kita berkata “cih..” pada kita, maka menjauhlah dari panggilan yang merendahkan si anak.

Hati yang dibuka dengan cinta, siap dijejalkan ajaran aqidah yang mendasar. Ajaran aqidah harus meresap dalam hati sang anak. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah hati yang lembut. Sedangkan hati yang keras hanya mementalkan setiap petuah yang datang. Aqidah adalah ajaran yang pertama-tama Rasulullah sampaikan pada umat manusia di awal kenabiannya. Aqidah lah tema yang Rasulullah perintahkan pada Muadz bin Jabal r.a. untuk diajarkan pada penduduk Yaman. Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi SAW mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berkata kepadanya: “Engkau akan mendatangi orang-orang dari kaum Yahudi dan Nasrani. Maka hal pertama yang harus engkau dakwahkan kepada mereka adalah bahwa mereka hanya beribadah kepada Allah saja.” (Muttafaq Alaih)

Setelah si anak memiliki pemahaman tentang aqidah, maka kesadaran muroqobatullah akan mudah dibangkitkan. Karena ia tahu bahwa wajar apabila Allah senantiasa mengawasinya. Tetapi bila sang anak tak mengenal Allah dengan baik dan kemudian sudah dikenalkan dengan muroqobatullah, mungkin ia akan berfikir “Ada urusan apa Allah mengawasi saya?” Wal’iyadzu billah.

Kesadaran akan pengawasan Allah ini lah yang bisa membuat sholatnya ihsan, tak takut untuk beramar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa berakhlaqul karimah di tengah manusia.

Apa yang diajarkan Luqman ini berhubungan dengan ayat lain di dalam surat yang sama. Larangan Luqman pada anaknya agar tidak menyekutukan Allah (ayat 13), bersinggungan dengan ayat ke-11. Luqman berkata bahwa orang yang menyekutukan Allah itu adalah orang yang zhalim. Secara bahasa, azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Syirik disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya, menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah, atau melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah. Dan pada ayat ke-11 Allah menantang orang-orang yang zhalim itu agar memperlihatkan apa yang telah diciptakan oleh sembahan-Nya.

Luqman melarang sang anak agar tidak mentaati orang tua apabila mengajak dan memaksa menyekutukan Allah (ayat 15). Sedangkan pada ayat 21 Allah bercerita tentang keadaan orang yang jauh dari apa yang diajarkan Luqman pada anaknya, yaitu tentang orang yang mengikuti ajaran nenek moyang mereka yang turun menurun padahal syetan menyeru mereka ke neraka melalui ajaran itu.

Cerita tentang Luqman ini mungkin hanya sedikit di singgung dalam Al-Qur’an, tetapi kita bisa mengambil pelajaran yang dalam. Kita semua bisa mengambil hikmah pelajaran dari sedikit cerita ini, mengembangkannya sesuai dengan kondisi yang masing-masing kita alami. Jadilah ayah yang hebat seperti Luqman. Kriterianya bukan lah ayah yang jagoan, ayah yang pintar masak, ayah yang ternama di masyarakat, tetapi ayah yang kata-katanya bisa membekas pada hati sang anak dan ayah yang memilih materi yang tepat untuk diajarkan pada anaknya. Allahua’lam bish-showab.