RSS

Category Archives: Artikel Umum

Di PKS Ada Rasa Apa Aja?

“Turun di Juanda mau ke Pamekasan, ketemu orang Bangkalan. “Gule PKS (saya PKS), Pak Presiden!” “Beuh, e Madure bede PKS kiya (Lho dl Madura ada PKS juga)?”aku tanya. “Bede (ada). PKS rasa NU!””

Itu adalah kicauan Sudjiwo Tedjo di Twitter, yang ia post pada 23 Februari 2019 melalui akun @sudjiwotedjo. Cukup menarik kalimat orang yang diajak bicara “Presiden Jancukers” itu. “PKS rasa NU” katanya.

Lho, PKS itu makanan atau apa? Kok punya rasa segala? Emang ada rasa apa saja?

Memang banyak warga NU yang menjadi kader PKS. Sehingga “cita rasa” NU bisa mewarnai partai dakwah ini. Ada lomba baca kitab kuning, ada semangat melindungi santri dan kiai melalui wacana “RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol Agama” ( http://pks.id/content/janji-politik-pks-ruu-perlindungan-ulama-tokoh-agama-dan-simbol-agama ), dan ikut memperjuangkan RUU Pesantren ( http://pks.id/content/pks-janji-konsen-kawal-ruu-pesantren ). Itu adalah kiprah dari gelora darah nahdliyin.

Karena NU bukan soal tahlilan dan qunutan saja. Dalam tubuh partai, semangat “kaum sarungan” mengejawantah dalam aksi yang lebih strategis yang bermanfaat untuk umat.

Nahdliyin yang menjadi tokoh di PKS? Banyak. Ketua Majelis Syuro, pimpinan tertinggi di partai tersebut, adalah seorang Habib, Habib Salim Segaf Aljufri. Ada cucu pendiri NU (keturunan kelima), Abdul Hadi Wijaya, Sekretaris Umum DPW PKS Jawa Barat.

Dan karena mayoritas umat Islam di Indonesia adalah warga NU, maka saya yakin mayoritas anggota PKS juga nahdliyin. Dan mereka bukan sekedar ngaku-ngaku warga NU tanpa memberi kontribusi. Penulis kenal ada kader PKS yang menjadi anggota bahtsul masail di sebuah cabang NU.

Jadi, di ormas induknya, mereka juga berkiprah. Tapi untuk urusan politik, mereka cocok bersama partai berlambang bulan sabit kembar ini.

Namun disayangkan, ada pihak yang ingin membenturkan dua asset ummat tersebut. Motivasi mereka dari politis hingga karena ketidaktahuan. Ada yang melempar tuduhan keji bahwa PKS memusuhi NU, dan ada yang menelan fitnah tersebut begitu saja. Semoga Allah tunjukkan kebenaran bagi mereka.

Lalu ada rasa apalagi di PKS? Rasa Muhammadiyah? Tentu saja ada. Di Ranah Minang dan sekitarnya misalnya, tentu kader di sana memberi rasa PKS dengan rasa Muhammadiyah.

Semangat “berkemajuan” juga disalurkan kader PKS rasa Muhammadiyah dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk masyarakat.

Rasa Persis juga ada di Jawa Barat.

Yang tak boleh ada, rasa aliran keagamaan yang sudah divonis sesat oleh MUI. Di luar itu, mari berbaur menghilangkan sekat perbedaan fiqh untuk mewarnai dunia politik Indonesia dengan dakwah Islam bersama PKS!

Oh iya… Kalau rasa yang dulu pernah ada? Ahsiyaaap…. Itu dipendam oleh orang-orang yang pernah membersamai PKS, namun kini memilih hengkang. Diam-diam, ada hasrat untuk kembali karena suasana dan lingkungan yang ngangenin dan memiliki ruh. Berbeda ketika berjalan sendiri atau bersama yang lain.

Untuk mereka, jangan malu dan segan untuk balik. Tahu kan arah jalan pulang? Luruskan niat, jadikan Allahu ghoyatuna, dan mantanmu selalu terbuka untuk dirimu.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2019 in Artikel Umum

 

Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Alkisah, segerombolan penipu licik berprofesi sebagai penjahit ingin mengecoh raja. Harta menjadi motivasi mereka. Sang paduka dikenal gila sanjungan dan sangat bermurah hati kepada para pemujanya.

Mereka datang ke istana dengan prototype baju-baju megah dan indah. Mereka tidak hendak menjual barang yang dibawa, tetapi menawarkan untuk membuatkan jubah dari sutra super halus kepada raja. Saking tingginya kualitas pakaian yang hendak dibikin itu, hanya orang pandai yang bisa melihatnya.

Tawaran itu disetujui dengan jangka waktu tertentu. Raja tertarik karena ingin mengetahui siapa saja yang termasuk kalangan orang bodoh di istana yang tak mampu melihat keindahan jubah impiannya.

Jelang deadline, perdana menteri diutus untuk memantau pekerjaan para penjahit. Sang menteri terkejut karena tak melihat satu helai benang pun. Namun demi tak mau dibilang bodoh, menteri hanya mengangguk-angguk dan menyampaikan kepada raja, sebagaimana kalimat para penjahit, bahwa baju telah hampir selesai.

Waktu telah tiba. Para penipu itu membawa “hasil kerjanya” ke istana. Rupanya raja pun tak bisa melihat baju itu. Tapi karena tak mau dianggap bodoh, beliau menurut saja saat ia yang hanya berpakaian dalam dipakaikan jubah kebesaran oleh para penjahit.

Seisi istana memuji raja. Meski tak satu pun melihat rupa baju tersebut. Dan raja yang kegeeran pun berkeliling wilayah kekuasannya untuk memamerkan betapa anggunnya ia memakai pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang cerdas.

Rakyat di kumpulkan mendadak untuk melihat fashion show. Mulut mereka menganga melihat raja yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tak berani bertanya atau mengkritik.

Dan sang paduka pun menahan rasa kedinginan. Terasa sekali hembusan angin menerpa badannya tanpa penghalang apa pun. Hingga akhirnya seorang anak kecil berteriak, “kok raja gak malu gak pake baju?”

Anak kecil itu jujur. Sehingga keraguan pun memenuhi hati sang paduka. Buru-buru ia kembali ke istana karena tak yakin bahwa ia sedang mengenakan pakaian. Sementara para penjahit itu telang hilang sejak menerima upahnya.

*****

Mungkin pembaca pernah mendengar cerita di atas. Menjadi pelajaran bahwa orang yang gila sanjung akan mudah sekali dikelabui.

Kata “bengak” bisa saja diberi kepanjangan yang bagus-bagus. Tapi orang Sumatra paham bahwa arti kata itu adalah bodoh yang parah.

Kata “blegug” bisa juga diberi kepanjangan yang keren-keren. Tapi orang Sunda mengerti bahwa itu adalah kata umpatan.

Nusantara kaya akan bahasa daerah. Dan tiap bahasa punya kata makian tersendiri. Yang kata itu bisa saja dijadikan akronim dengan arti yang bagus-bagus.

Namun orang pintar tak kan mau dijuluki Si Bengak, Mang Blegug, dan cacian lain walau dengan kepanjangan yang dibuat indah.

Beda dengan orang bodoh gila pujian yang gampang terkecoh. Ia akan cengar-cengir saja dijuluki dengan kata-kata umpatan oleh para penjilat yang menipu, hanya karena kata itu dibikinkan kepanjangan yang menyanjung.

Sebagaimana baju transparan yang sejatinya hinaan, namun sayang raja malah kegeeran.

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2019 in Artikel Umum

 

Penyebab Kader PKS Mudah Jantungan

Di sebuah grup whatsapp, ada tautan dibagikan. Berita tentang pimpinan DPRD Jambi yang tersangkut korupsi karena kongkalingkong dengan Zumi Zola, Gubernur Jambi Non Aktif yang beberapa waktu lalu ditangkap KPK.

Bunga, sebut saja begitu namanya… Eh jangan Bunga. Mmm… Kumbang aja deh, Kumbang.

Kumbang, sebut saja begitu namanya, berdebar jantungnya melihat tautan itu. Penasaran namun cemas, ia buka link tersebut untuk melihat berita di dalamnya. Ada satu yang ingin diperiksa: adakah anggota legislatif dari PKS yang terjerat?

Alhamdulillah… Seperti yang sudah-sudah, ia tidak menemukan nama dari PKS. Lega bukan main. Ia tersenyum, dan melanjutkan menjadi silent reader di grup itu.

Apa yang dialami Kumbang dirasakan juga oleh banyak kader PKS lainnya. Tiap ada berita penangkapan tersangka korupsi oleh KPK, jantungnya berdegup kencang. Mereka khawatir kalau perkara baru itu menyeret nama tokoh partainya.

Kalau benar ada saudara separtai tersangkut korupsi, maka yang dirasakan pertama kali adalah kecewa bukan main. Partai ini memang dikenal dengan mesinnya yang gigih dan rela berkorban. Sunduquna juyubuna, kas kami berasal dari kantong kami sendiri. Kalau ada pejabat publik yang sudah diperjuangkan mati-matian, dengan biaya dan tenaga kader yang rela berkorban, namun membuat ulah yang mencoreng nama partai, maka sangat sangat sangat sangat mengecewakan sekali orang itu.

Yang dirasakan selanjutnya adalah bully-an dari pihak luar. Walau pun si kader tidak ada sangkut pautnya dengan pejabat yang terjerat kasus, dia tetap kena imbas pencibiran hingga caci maki. Sudah lah dikecewakan, diejek dan diintimidasi verbal pula.

Maklum, jangankan kader sendiri yang terkena kasus, bahkan bila ada tetangga kader PKS yang terbuka aibnya, partai dakwah itu bisa disalahkan. Partai tersebut memang rentan dibully.

Kumbang dan kader PKS lainnya mungkin iri dengan kader partai lain yang cuek bebek seperti tidak terjadi apa-apa bila ada tokoh partainya yang terjerat kasus. Bila tak menyangkut PKS, rasanya kasus korupsi tak kan sebegitu heboh dan bombastis diberitakan. Walau jumlahnya banyak, kader partai lain tak merasakan hujatan se-bertubi-tubi yang sebanding dengan satu kasus korupsi oleh kader partai berlambang bulan sabit tersebut.

Selain itu, kader partai lain relatif tak punya rasa kepemilikan sebesar kader PKS. Karena akar rumput di partai lain tak perlu mengeluarkan uang untuk membesarkan partai. Cukup tokoh yang bermodal besar yang dipasang sebagai caleg atau calon kepala daerah yang mengeluarkan dana. Makanya, bila ada yang terjerat korupsi, itu urusan yang bersangkutan. Tak perlu kecewa karena toh tak rugi apa pun.

Konsistensi menjaga diri dari korupsi juga menjadi “jualan” PKS kepada konstituennya. Sehingga satu kasus saja cukup membuat partai itu terpukul. Maklum, PKS tak punya tokoh penggaet suara. Beda dengan partai lain yang diisi nama besar. Walau pun badai korupsi menerpa, menempati peringkat papan atas penghasil koruptor, tak kan mengurangi loyalitas konstituen kepada sosok di partai tersebut.

Kumbang telah terbiasa sport jantung. Meski sedang tidak naik Lion Air, melihat berita tangkap tangan KPK, ia cemas. Bila ada pejabat publik dari PKS yang akan diperiksa, ia risau.

Lamat-lamat ia merapalkan doa – yang juga diucapkan oleh kader PKS lain meski dengan redaksi berbeda, “Ya Allah, jagalah para pejabat publik dari partaiku dari bersikap tidak amanah. Kuatkan iman mereka. Dan bangkitkan kejayaan negara dan umat Islam melalui tangan mereka. Amin.”

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Mewaspadai Gerakan Desakralisasi Agama

Saya dapati orang-orang yang membela candaan keterlaluan comicus Joshua dan Ge Pamungkas adalah orang-orang yang sakit hati karena agama dibawa-bawa ke politik. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, apakah sengaja ada gerakan massif merendahkan agama agar tidak lagi sakral dalam kehidupan masyarakat?

Kini perbuatan mengolok-olok agama, khususnya Islam, bukan cuma pekerjaan ustadz gadungan yang mengaku bapaknya janda. Atau seorang pengaku penikmat kopi yang lidahnya mati rasa di acara talkshow televisi. Atau dosen komunikasi yang provokatif agitatif yang kehilangan kebijaksanaan bertutur kata. Kita lihat mulai muncul badut-badut wannabe yang beratraksi dengan kata-kata mencoba melawak dengan menjadikan agama sebagai candaan. Saya khawatir gerakan mendesakralisasi agama di depan publik ini menjadi trend tanpa tersentuh hukum.

Karena amat sangat tersita energi masyarakat bila tiap penistaan agama harus disikapi dengan protes massal ratusan ribu orang agar aparat bertindak. Untuk (mantan) penguasa yang dibekingi kekuatan besar, wajar lah kemarin aspal Jakarta dipanasi derap kaki yang marah. Tetapi setelah satu dibekuk, rupanya pengikutnya tanpa malu melanjutkan kerja-kerja penistaan agama di depan khalayak.

Gerakan ini seperti mencoba membalas dendam atas kehadiran agama dalam pilihan sadar umat Islam di pilkada Jakarta kemarin. Ada yang marah karena kalah. Mereka ingin melampiaskannya dengan penistaan, halus hingga kasar.

Kampanye Untuk Tak Membela Tuhan

Agar penistaan agama tak mendapat perlawanan berarti, agar masyarakat bisa menerima bahwa agama bukan topik yang sakral yang harus diperlakukan hati-hati dalam dialog di muka umum, dikampanyekanlah kalimat indah namun beracun: Tuhan tidak perlu dibela.

Diajaklah umat manusia agar membiarkan Tuhan yang membela sendiri para penghina-Nya. Sebagai makhluk, kita tak perlu reaktif bila ada yang menghina simbol agama. Sikap begini membuka pintu penerimaan untuk gerakan penistaan agama secara massif.

Itu artinya simbol-simbol agama tidak perlu lagi mendapat tempat di hati manusia. Karena ketersinggungan seseorang terhadap celaan tergantung sedalam apa keberadaan sesuatu yang dicela itu di hatinya. Ketika ejekan kepada klub bola kesayangan lebih membuat marah daripada hinaan kepada agama, maka klub bola lebih mendapat tempat di kalbu orang itu daripada agama.

Tuhan Yang Maha Kaya tidak akan pernah hina karena dicela ciptaan-Nya. Begitu juga klub bola berprestasi, tentu tidak akan pernah hina dicela fans lawan. Tetapi ini soal harga diri manusia yang mendengar hinaan tersebut. Bagi orang beriman, penghinaan terhadap simbol agama adalah bentuk merendahkan harga diri. Tuhan Yang Maha Agung tak kan pernah hina, tetapi manusia lah yang hina bila tidak tersinggung.

Sikap membiarkan Tuhan membela diri-Nya sendiri dari para penghina-Nya adalah sebuah tasyabuh (penyerupaan) kelakuan Bani Israil yang dicela dalam Qur’an. Ketika umat itu diperintahkan Allah untuk masuk ke wilayah Palestina, mereka enggan dan menyuruh Musa berperang berdua dengan Tuhan. Mirip ketika umat Islam ditantang untuk membela Allah (QS Muhammad: 7), ada seruan agar biar Tuhan sendiri yang membela diri-Nya.

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”” (QS Al-Maidah: 24)

Agama yang Makin Hadir dalam Kehidupan

Namun gelombang kebangkitan Islam agaknya susah dicegah. Aksi 411, 212, dan yang sebagainya serta reuni-reuninya hanyalah salah satu indikator. Tanda yang lebih mencolok adalah Islam mulai hadir dalam kesadaran berekonomi. Gerakan anti riba menjadi semarak. Umat Islam makin selektif memilih jenis transaksi. Dilanjutkan juga dengan ikhtiar membentuk koperasi 212 sebagai perlawanan terhadap keserakahan kapitalisme.

Islam mulai meluber, dari masjid kemudian mengisi tempat di kehidupan masyarakat. Tak hanya lagi urusan sholat, puasa, zakat, dan umroh. Islam menjadi gaya hidup dalam balutan busana yang menyesuaikan syariat. Hadir dalam tontonan di layar kaca maupun layar lebar. Hadir dalam tulisan sastra yang menghadirkan nasihat. Menjadi acuan dalam mengkonsumsi makanan hingga kosmetik.

Entahlah apakah ketika Yuswohady menulis buku “Marketing to the middle class muslim”, terpikir juga olehnya bahwa marketing terhadap pilihan politik umat Islam juga perlu dibahas. Apalagi setelah pilkada Jakarta, sensitifitas masyarakat semakin meningkat. Kemarahan mereka belum selesai kepada partai-partai pendukung penista agama. Tak hanya itu, mereka juga terbakar pada isu UU Ormas dan putusan MK untuk gugatan pasal KUHP perzinaan kemarin.

Kini umat Islam makin memasrahkan diri untuk diatur oleh ajaran agamanya. Makin mendapat tempat di hati. Kesakralannya makin mengisi berbagai lini kehidupan masyarakat.

Karena itu gerakan penistaan kepada agama akan membuat perpecahan di masyarakat makin menjadi. Cara itu tak kan efektif membendung kesadaran berislam pada masyarakat. Kalau rezim saat ini tidak tegas menindak gerakan penistaan, maka gelombang ini bisa saja menyapu rezim yang dianggapnya tak berpihak pada waktunya nanti.

Zico Alviandri

10 Januari 2018

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Kesederhanaan Artifisial Para Politisi

Sebagai rakyat, kebahagiaan saya bukan saat melihat pemimpin berkaos oblong, memakai sandal jepit, atau tampilan ngenes lainnya. Tidak. Saya bahagia bila pemimpin berhasil membuat rakyatnya punya daya beli sandang yang layak.

Maka bila nanti media menampilkan pemimpin negeri ini masak menggunakan kayu bakar, saya tidak terharu. Tapi saya bahagia bila rakyat Indonesia tidak lagi mengantri untuk membeli gas 3Kg, tidak mengeluh harga bahan bakar mahal. Bila itu terwujud, maka sang pemimpin telah bekerja dengan benar.

Tampilan Sederhana Jelang Pesta Demokrasi

Cerita ada orang yang mendadak berpenampilan miskin menjelang even kontestasi demokrasi (misal pilkada, pemilu, pilpres, dlsb) menjadi terlalu basi di negeri ini. Ada kandidat pemilihan gubernur tiba-tiba rajin naik angkot. Ada pemimpin partai politik tumben-tumbenan suka menyamar menjadi rakyat biasa, naik becak dan sebagainya di masa kampanye.

Mendadak, tumben-tumbenan, karena biasanya si politisi gak gitu-gitu amat. Mereka terbiasa naik mobil berkelas, berpenampilan necis, layaknya pejabat. Mereka juga bukan orang miskin. Hanya saja ada keperluan menebar jaring simpati ke tengah masyarakat. Ada harapan untuk dinilai merakyat. Dianggap memiliki kehidupan yang setara dan dekat dengan rakyat. Dan usaha itu dilakukan dalam momen sesekali saja.

Inilah kesederhanaan artifisial. Kesederhanaan buatan. Tak alami dan dibuat-buat. Kecuali para pemuja politisi itu, khalayak malah melihatnya sebagai sesuatu yang norak. Malu-maluin.

Idealnya yang dijual oleh peserta kontestasi demokrasi adalah prestasi dan gagasan. Tapi sejak disadari pentingnya pencitraan bagi politisi, maka tampilan merakyat itu menjadi bumbu yang dijual. Makanya tahun 2014 lalu di pinggir jalan-jalan raya di Indonesia terpampang baliho foto full body seorang tokoh dengan deskripsi harga barang-barang yang dikenakan (kemeja, sepatu, celana, dll). Ingin menggambarkan si tokoh suka memakai sesuatu yang murah-murah.

Kalau ini menjadi trend, ya sudah silakan para politisi beradu penampilan paling gembel. Sekalian saja mereka mencicipi tidur di emperan toko selama sebulan, lalu fotonya disebar viral ke publik. Tapi apa iya itu adalah cara untuk menggaet pemilih? Yang pasti, cara seperti itu tidak akan pernah ada hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat yang akan dipimpinnya.

Maka makin jauhlah negeri ini dari demokrasi yang mencerdaskan. Cara begini mencoba membodohi rakyat bahwa pemimpin dipilih berdasarkan tingkat kegembelannya. Bukan kerjanya.

Inspirasi Umar bin Khattab

Khalifah kedua sepeninggal Rasulullah saw ini memang mewarisi kesederhanaan gurunya. Bekas tikar di punggung Rasulullah – padahal ia adalah seorang pemimpin umat, begitu berkesan. Maka Umar bin Khattab r.a. memimpin dengan slogan yang menyejarah: “Kalau rakyatku kenyang, aku yang paling terakhir kenyang. Kalau rakyatku lapar, aku yang paling pertama lapar.”

Ia orang yang tak silau melihat kilau kekayaan Kisra. Dalam keseharian, ia berpergian dengan pakaian yang punya tambalan di mana-mana. Padahal ia memimpin wilayah yang kian luas dan kaya. Dalam perjalanan dari Madinah ke Palestina setelah pembebasan Al-Quds, ia bergantian menuntun unta dengan pelayannya. Sampai-sampai orang mengira Umar bin Khattab adalah pelayan, dan yang di atas unta itu khalifah.

Tapi kesederhanaan Umar bin Khattab itu dilaluinya hari demi hari. Umar tidak tumben-tumbenan memakai sandal jepit setelah beberapa waktu lalu menikahkan anaknya dengan pesta yang teramat mewah. Ia tidak bangga berkaos oblong padahal tangannya menggenggam ponsel mahal. Ia tidak pamer kepada media sedang sarapan arem-arem padahal biasanya makanannya berkelas.

Kesederhanaan Umar bin Khattab yang menginspirasi itu bukanlah kesederhanaan artifisial. Dalam semua aspek kehidupannya ia memang hidup sederhana (kecuali dalam ibadah dan visi kepimpinan). Alami dan setiap hari begitu adanya.

Kepemimpinan Umar beserta kesederhanaannya mengagumkan manusia di dunia. Membuat orang-orang memimpikan punya pemimpin seperti Umar. Makanya para politisi ingin dianggap seperti dia.

Pemimpin Berpenampilan Apa Adanya

Memang, rakyat tidak suka dengan pemimpin yang memamerkan kemewahan di saat kondisi rakyat yang masih banyak yang susah. Itu pemimpin yang berjarak. Tak peka terhadap krisis.

Memang, masyarakat merindukan pemimpin yang merakyat. Tidak gila kemegahan, tidak gila sanjung, tapi rendah hati dan punya kehidupan yang membaur dengan rakyatnya. Idealnya seperti itu.

Tetapi rakyat tidak akan mengeluh bila sang pemimpin memakai pakaian yang pantas pada acara seremonial. Berbatik, bersepatu tertutup yang mengkilat, itu masih dalam ambang wajar. Yang penting dalam balutan yang dikenakannya tetap terjaga kewibawaannya. Berpenampilan nyeleneh di acara resmi malah bisa menjatuhkan wibawa pemimpin.

Dan lebih penting dari penampilan, adalah hasil kerja yang bisa memakmurkan rakyat. Kalau bersendal jepit dan berkaos oblong tidak bisa membuat harga bahan pokok terjangkau, tak bisa mencegah gas LPG langka, buat apa? Akhirnya penampilan seperti itu cuma jadi hiburan dan candaan masyarakat. Tak ada pengaruh apa-apa dengan kesejahteraan rakyat.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2018 in Artikel Umum

 

Kaos yang Mengganti Presiden

*Sebuah fiksi ilmiah. Tapi gak tau ilmiahnya di mana.

“Hahaha… Mana bisa kaos mengganti presiden,” Trump tertawa terbahak-bahak saat bertemu Mardani yang mengenakan kaos bertuliskan “#2019GantiPresiden” ketika sama-sama menunggu waktu boarding pesawat di halte Mangga Besar.

“Pak Trump jangan salah. Ada banyak kok kaos yang bisa mengganti presiden,” jawab Mardani kalem.

“Banyak? Hahaha… Mau sebanyak apa pun, kaos itu tidak bisa apa-apa. Rakyat yang bisa. Yang kedua, Tuhan.” Trump makin ngakak dan berkata ngawur menomor duakan kuasa Tuhan.

“Lho, dengarkan dulu pak Trump. Akan saya sebutkan kaos-kaos itu.”

“Ya ya silakan sebutkan. Kamu pasti sedang bercanda. Hahaha…”

“Pertama. Kaosengsarakan rakyat dengan kenaikan harga BBM dan TDL, lalu rakyat marah dan tak mau memilih engkau.”

“Ah… Bisa saja plesetanmu.” Tawa Trump mulai reda. Ada perasaan sedikit kaget dengan sindiran Mardani.

“Kedua, kaosepelekan janji-janjimu, kau ingkari tak kau tepati, maka rakyat kapok memilihmu lagi.”

Muka Trump masam. Dia melengos. Mardani melanjutkan kata-katanya.

“Ketiga, kaosuka mengubah-ubah kebijakanmu. Keputusan menteri kau anulir dalam hitungan hari. ‘I dont read what I sign,’ katamu. Rakyat pun kesal dan tak mau lagi memilihmu.”

Trump menutup kupingnya.

“Keempat, kaosusah sekali berbahasa Indonesia yang jelas. Pernyataanmu sebagai presiden membingungkan, seperti ketika ditanya soal film, sepatu, dll. Apalagi berbahasa Inggris. Rakyat pun tak sudi memilih yang tak capable.”

“Hey..!! Wajar dong bila aku tak bisa bahasa Indonesia. Aku kan bukan orang Indonesia. Wajar juga bila tak bisa berbahasa Inggris. Aku orang Amerika, bukan orang Inggris, bisanya ya bahasa Amerika,” Trump membela diri.

“Selanjutnya, kaosering berbohong. Katamu ekonomi akan mem-pesawat ulang alik-alik. Tapi nyatanya nyungsep. Rakyat tak percaya lagi padamu.”

“Tapi aku masih lebih baik dari Putin. Begitu menurut pendukungku. Sudah ah, aku tak mau dengar lagi.” Trump berpaling dari Mardani.

“Lalu, kaosodorkan solusi nyeleneh kepada masyarakat. Harga daging mahal kau suruh rakyat makan keong. Cabai mahal kau suruh rakyat tanam sendiri. Rakyat miskin kau suruh diet. Akhirnya rakyat memilih selain dirimu.”

Trump diam. Mardani masih lanjut.

“Kaosenang meresmikan proyek-proyek yang belum selesai. Rakyat menganggapnya penipuan. Dan rakyat tak mau memilih penipu.”

Trump sudah di puncak kejengkelannya. Beruntung pesawat ke Wakanda yang ditunggunya sudah sampai di halte. Dia pun buru-buru masuk pesawat.

#2019GantiPresiden
Tapi mana bisa cerpen gantiin presiden? ~ ceunah…

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2018 in Artikel Umum

 

Ringkikan Kuda Hitam Mardani

Acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang selama ini menjadi Kawah Candradimuka diskursus para pakar di Indonesia kembali melahirkan satu idola baru. Langsung sebut nama saja, Mardani Ali Sera.

Doktor lulusan Malaysia di bidang Teknik Mesin ini telah diundang beberapa kali di acara tersebut. Penampilannya tidak mengecewakan, malah menjadi buah bibir warganet karena gagasan dan kelantangannya. Seperti tekad mengganti presiden di pilpres tahun 2019 yang ia gelorakan beberapa waktu lalu, kini menjadi sebuah aksi massal.

Gerakan #2019GantiPresiden mengalir menjalar ke segenap penjuru negeri. Sudah ratusan Whatsapp Group terbentuk. Tagar ini tertera juga pada kaos, gelas, topi, meme-meme lucu, dan tadi malam Mardani memamerkan gelangnya yang tertulis slogan tersebut. Masyarakat menyambut luas dan antusias seruan Mardani yang ditayangkan Selasa 9 Januari 2018 lalu.

Keberadaan politikus PKS itu telah menghapus beberapa tuduhan miring kepada partainya. Pertama, fitnah bawa PKS akan menjual diri ke Jokowi pada pemilu besok. Beberapa hari kemudian setelah fitnah itu beredar – bahkan ada kader sendiri yang menyebarkan – Mardani tampil di ILC lalu menyampaikan keinginan menggebu partainya untuk mengganti presiden, tentunya dengan jalur konstitusional.

Kedua, anggapan bahwa PKS tidak punya tokoh vokal, tidak ada yang berani mengkritisi rezim dan bersikap layaknya oposan selain sosok yang dijuluki “Singa Parlemen”. Kenyataannya Mardani tampil habis-habisan membongkar kekeliruan pemerintah di acara televisi yang ditayangkan oleh TVOne itu. Masih ada kok tokoh PKS yang suka berbicara tegas kepada rezim. Bahkan ada yang menyebut Mardani sebagai frontman PKS.

Sebenarnya bukan cuma Mardani. Di partai dakwah itu masih ada semisal Al Muzzammil Yusuf yang interupsinya di sidang DPR beberapa kali viral di media sosial. Juga ada nama Aboe Bakar Alhabsyi, Nasir Djamil, dll. Hanya saja nama-nama tersebut tidak pernah atau jarang melontarkan hal yang kontroversial. Mereka garang tapi lempeng-lempeng saja, makanya jarang media yang mengutip mereka.

Jangan dikira tokoh yang biasanya ditunggu-tunggu wartawan itu karena pernyataannya suka membakar semangat masyarakat. Bukan. Tapi karena tokoh itu suka melontarkan hal yang jadi kehebohan publik. Bagi media, bad news is good news. Kegaduhan masyarakat adalah kebun yang siap dipanen jadi berita. Contoh hal yang kontroversial adalah bila yang terbiasa menyerang rezim tiba-tiba membela tersangka dan terduga korupsi yang merupakan bagian/pendukung rezim. Kan itu paradoks. Atau mengeluarkan kosakata yang tidak pantas seperti “sinting”.

Mardani dkk tidak biasa nyeleneh begitu. Makanya media hanya sesekali meliput mereka.

Bukan Kader Ngambekan dan Ambisius

Satu lagi kelebihan Mardani, adalah kelapangan jiwanya yang telah teruji. Pilgub 2017 lalu sebagai bukti. Ia telah digadang oleh partainya sebagai kandidat wakil gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba diganti beberapa jam jelang pendaftaran.

Padahal Mardani telah berikhtiar meningkatkan popularitasnya. Sudah mengeluarkan banyak usaha dan dana. Masyarakat awam yang tak kenal kultur di PKS akan berkata dia sudah di-php-in partainya.

Tapi Mardani paham betul, ia hanyalah prajurit yang siap ditempatkan di mana saja. Kejayaan agama dan bangsanya merupakan tujuan ia beraktivitas. Sehingga bukan jadi sebuah hal yang menyakitkan bila ia tak jadi maju mendampingi Sandiaga Uno. Ia tak uring-uringan lalu menggugat partai dsb.

Malah ia menerima tugas baru sebagai timses pasangan Anies-Sandi. Dan kebesaran hatinya mengundang berkah. Allah menangkan Anies Sandi.

Ambisi seorang Mardani hanya untuk kejayaan umat dan rakyat. Bukan ambisi pribadi.

Kuda Hitam Capres PKS

Ya, dia ada di daftar 9 nama bakal calon presiden yang diusung PKS. Dihimpit oleh nama-nama yang lebih senior seperti Hidayat Nur Wahid, Sohibul Iman, Ahmad Heryawan, Anis Matta, Tifatul Sembiring.

Ia ditugaskan mempopulerkan diri – sekaligus membuat partai yang menaunginya menjadi besar. Pertanyaannya, seberapa yakin dia bahwa PKS akan benar-benar mengusungnya menjadi capres? Apalagi ada peristiwa php pilgub kemarin?

Ah, Mardani tidak terlalu memikirkan itu. Yang jelas kini ia “ngegas” menggebrak dengan slogan ganti presiden, memaparkan ide dan program konkrit bila terpilih, dan terus bersuara lantang mengoreksi rezim.

Kalau mau dibilang kuda hitam, boleh saja. Yang penting ia terus “meringkik”. Suaranya berbobot dan penuh narasi. Ia menyadarkan rakyat bahwa Indonesia layak punya presiden yang mengerti permasalahan bangsa dan punya solusi yang jitu. Bukan pemimpin yang rajin berjanji lalu ringan mengingkari.

Mardani terus melaju kencang. Ia makin populer. Makin dikenal sebagai tokoh yang punya artikulasi yang baik. Menjadi idola baru. Sang kuda hitam yang makin diperhitungkan.

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2018 in Artikel Umum