RSS

Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah

09 Apr

“Apa yang bisa diperbuat oleh musuhku?” ujar Syaikh Ibnu Taimiyah suatu hari. Mohon koreksi bila ada kesalahan redaksi atau person yang dikutip. “Bila aku dipenjara, maka itu jadi uzlahku. Bila aku diusir, maka itu jadi rihlahku. Dan bila aku dibunuh, maka semoga itu menjadi syahidku,” lanjutnya.

Nah, bisakah kita buat kalimat serupa kepada virus corona yang sedang mewabah? “Kalau gara-gara kamu aku dikarantina, insya menjadi uzlah. Dan kalau kamu sebabkan aku mati, semoga Allah menganggapku syahid.”

Ya, sebagaimana penjara menjadi tempat uzlah, karantina pun bisa. Sehingga kelapangan waktu di rumah termanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hamka dan Sayyid Quthb dalam penjaranya bisa hasilkan karya besar berupa kitab tafsir. Banyak juga ulama lain yang hasilkan masterpiece di balik jeruji.

Ada cerita dari bilik-bilik sempit di Mesir. Penjara itu memuat para aktivis dakwah dari berbagai bidang. Ada yang pakar syariah, juga ada penghafal Qur’an. Alhasil, terbentuklah madrasah baru di ruangan pengap itu yang meluluskan pakar syariah baru dan yang menamatkan hafalannya 30 juz.

Namun karantina akibat wabah ini sangat berbeda dengan suasana penjara. Masih ada keleluasaan beraktifitas di rumah. Bisa makan kapan mau, nonton tivi, maen game, atau bulan madu yang seru bagi pasutri baru. Pasutri lama juga bisa berbulan madu kembali. Namanya juga iseng ya, di rumah aja.

Yang mirip mungkin tahanan rumah, atau tahanan napi koruptor yang mewah.

Dari banyak pilihan aktivitas yang bisa dikerjakan, jangan sia-siakan untuk menjadikannya ajang uzlah. Yaitu aktivitas berdua-duaan dengan Allah swt dalam kemesraan ibadah. Jalan yang ditempuh sebagian orang-orang sholeh untuk mengoptimalkan hidupnya dalam totalitas ibadah kepada Allah swt.

Karantina ini adalah “i’tikaf” kita di rumah. Ketika mushaf merasakan kembali sibuknya ia dibolak-balik, yang biasanya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Ketika sajadah senantiasa basah oleh air wudhu dan air mata. Ketika biji tasbih merasakan hangat jemari kita.

Inilah keluangan untuk banyak bermuhasabah, tafakur, dan tadabur. Inilah kesempatan kita “curi start” rajin beribadah sebelum Ramadhan. Inilah pengganti hilangnya kebiasaan sholat berjamaah di masjid.

Naudzubillah, jangan sampai masa karantina ini diisi layaknya lagu Mbah Surip.

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangun … tidur lagi
Hahahaha…

 

2 responses to “Karantina, Niatkan Saja Sekalian Uzlah

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: