RSS

Milkul Yamin dan Retorika-Retorika yang Memesona

04 Sep

Alhamdulillah, sebagai orang awam, dapat perbendaharaan istilah baru dari kehebohan belakangan ini yang dipicu oleh desertasi S3 mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga.

Istilah itu berbunyi: Milkul Yamin. Diambil dari Al-Qur’an surat Al Mu’minuun ayat 6, “…Aw maa malakat aymaanuhum…” artinya “…atau budak yang mereka miliki…” Makna istilah itu adalah budak dalam kepemilikan pribadi. Selama ini saya tahunya hanya Milkita, merk makanan.

Juga sedang populer istilah lain, yaitu “bucin”. Singkatan dari budak cinta. Maka memadukan dua istilah ini, bisa lah terbentuk term baru: “milkul yamin cinta”. Disingkat micin. Keren gak sih?

Perbudakan memang pernah ada berabad-abad, bahkan bermilenial-milenial lamanya. Pada 31 Januari 1865, presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln memutuskan untuk menghapus perbudakan di negaranya. Dan di seluruh dunia, pada zaman modern saat ini, sudah tidak lagi ditemukan hal tersebut.

Orang awam baru tahu, bahwa ada yang menggunakan istilah milkul yamin untuk membenarkan hubungan seksual non marital. (Nah, istilah keren lagi nih). Bahwa hubungan intim di luar pernikahan – menurut pemikiran kontroversial itu – bukanlah zina karena dipayungi hukum milkul yamin yang membolehkan.

Ya, jaman dulu budak boleh digauli tuannya. Hukum terhadap orang merdeka berbeda dengan hukum terhadap budak yang diperlakukan sekehendak tuannya laksana barang kepemilikan. Tapi saya jadi khawatir orang Palembang atau Sunda jadi salah sangka. Dikiranya boleh berhubungan badan dengan anak kecil. Budak kan dalam bahasa Palembang & Sunda artinya bocah cilik.

Enak dong menggauli budak? Bayangan saya tentang budak didapat setelah menonton film Little Missy di TVRI waktu kecil (yang tidak tahu film ini, boleh memanggil saya abang atau om). Ada orang-orang Negro yang hidup dalam kerangkeng dan acap mendapat cambukan dari tuannya yang bernama Baron Araruna. Juga ada budak wanita bernama Ba, pengasuh nona Missy. Badannya besar, hitam, gemuk. Nah, sering kalau disebut budak wanita, yang terbayang adalah sosok Ba itu. Jadi, apakah enak boleh menggauli budak wanita? Tergantung gimana dulu.

Membenarkan hubungan seksual di luar nikah dengan alasan milkul yamin, maka asumsinya wanita itu adalah budak pria? Gitu gak sih? Saya berbaik sangka, mungkin yang punya pemikiran tersebut terlalu menghayati syair lama. Begini bunyinya:

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

Hayo… siapa yang baca itu sambil nyanyi? Ketauan ya umurnya.

Jadi, benarkah milkul yamin alasan yang tepat untuk melegalkan hubungan seksual non marital? Saya sih ikut ulama terpercaya yang membantah desertasi mahasiswa S3 tersebut.

Hanya saja, ada pelajaran yang bisa diambil dari kehebohan ini. Tentang bagaimana istilah yang asing terdengar bisa memesona dan mengelabui masyarakat awam.

Seseorang menyampaikan informasi bahwa air yang sering kita minum mengandung zat kimia berbahaya bernama Dihidrogen Monoksida. Orang awam mendengar nama itu tentu langsung khawatir dan terpengaruh. Padahal Dihidrogen Monoksida adalah nama kimia untuk air (H2O).

Seseorang yang baru hijrah melihat temannya saat tasyahud dalam sholat tidak menggerak-gerakkan jari telunjuk. Lantas dia bilang, “Manhaj kamu tidak kokoh. Sholatnya belum benar. Manhaj salafus sholih adalah menggerak-gerakkan telunjuk saat doa dalam tahiyat”. Terdengar keren, padahal istilah itu salah penempatan.

Karena itu, sebagai awam kita harus berhati-hati terhadap retorika orang yang akan menyimpangkan ajaran Allah. Kemarin ada istilah tafsir hermeneutika yang diterapkan untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Istilahnya terdengar indah, padahal itu adalah konsep kafir memahami kitab suci mereka agar ajaran agamanya selalu sesuai dengan keinginan masyarakat dan perkembangan zaman.

Kuncinya jangan latah, jangan kagetan, jangan gampang terpesona. Kekuatan retorika inilah yang menjadi kekuatan orang munafiq mempengaruhi umat muslim, sebagaimana yang dikupas oleh Allah swt dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun ayat 4. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka…”

Terakhir, saya suguhkan sebuah dialog antara Mandra dan pacarnya, Munaroh, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Tautan: https://www.youtube.com/watch?v=mcoF0tfhfmM ). Perhatikan bagaimana retorika Mandra begitu memukau. Tapi…..

Mandra: Apalagi sih yang kamu ingin bicarakan?

Munaroh: Aye pingin minta maaf bang

Mandra: Maaf? Maaf untuk apa?

Munaroh: Ya.. Aye kan pernah ngecewain abang. Pernah ngkhianatin cinta abang

Mandra: Cinta. Apalah arti sebuah cinta?

Munaroh: Abang kok ngomongnya gitu?

Mandra: Iya dong. Cinta itu kan sesuatu yang indah. Bahkan sekarang sudah tidak indah lagi. Diakhiri dengan kekecewaan.

Munaroh: Ya.. Karena itu, aye jadi ngerasa bersalah bang.

Mandra: Kenapa kamu harus merasa bersalah? Selama ini kamu terlalu banyak memberikan keindahan, Roh. Aku sendiri tidak tahu apakah ada relevansinya dengan hubungan kita.

Munaroh: Relevansi apaan sih bang?

Mandra: Ya Relevansi. Eee… maksudnya… Eee… cinta itu kan relevansi. Eee… begini. Kita prinsip. Prinsip aja kita bedua. Ee… Pokoknya begini aja dah. Eee.. anggap aja antara hubungan kita yang pernah terjalin dulu itu, mmm… hanyalah sebuah kenangan belaka.

Munaroh: Kok abang gitu sih?

Mandra: Ini realita Roh. Realita. Sesuatu yang mungkin sulit untuk kita lupakan. Dan apa pun alasannya, ini tidak mungkin terulang lagi di antara kita. Ya toh?

Munaroh: Jadi abang gak berharap kita bisa bersatu lagi?

Mandra: Bersatu lagi? Itu sama saja kau mencari jarum dalam jerami. Tidak mungkin Roh. Kau kan sekarang sudah menjadi istri orang lain. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2019 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: