RSS

Bau Kematian, Antara Muslim dan Islamophoba

12 Aug

Terbuat dari apa hidung yang hanya mencium bau kematian menjelang Idul Adha saja? Padahal kematian itu selalu ada di dekat kehidupan manusia. Sejak sebelum Idul Qurban, Kashmir sedang dibombardir. Sudah biasa jatuh korban nyawa di sana.

Oh, mungkin mereka hanya terenyuh bila kematian itu pada hewan? Kalau begitu apakah mereka mencium bau kematian ketika lewat gerobak tukang sayur? Ikan, ayam, atau daging sapi selalu tersedia tiap hari. Atau pileknya cuma sembuh di bulan Dzulhijjah?

Saya tidak tahu apakah penyayang hewan itu suka main ke kebun binatang. Yang jelas, di sana harimau tidak akan diberi makanan semur jengkol atau terong balado. Selalu ada bau kematian demi menghidupi hewan-hewan carnivora.

Apakah penyayang hewan yang menggugat ibadah qurban itu pilih kasih? Makanan binatang peliharaan seperti kucing dan anjing adalah daging olahan. Apakah mereka tak mencium bau kematian ketika memberi pakan hewan kesayangan?

Main ke alam bebas, lebih sadis lagi. Singa akan membunuh Heyna, vise versa. Kematian seekor hewan bukan cuma karena alasan ingin dimakan, tak jarang karena persaingan hukum rimba.

Bau kematian ada di mana-mana dan kapan saja. Jangan lah sok jadi pahlawan saat Idul Adha saja.

Dan kalau mereka mengategorikan bakteri itu sebagai hewan, apakah masih mau minum obat batuk? Jangan jauh jauh, kalau ada nyamuk menghisap darah mereka, apa ga ditepokin?

Saya pernah lihat sebuah kartun yang lucu. Seseorang melepas burung yang ada dalam sangkar. “Pergilah! Bebaslah!” ujarnya. Baru beberapa meter burung itu terbang, seekor elang datang memangsanya. Akhirnya penyayang hewan itu blunder sendiri. Apa yang ia sangka sikap menyelamatkan, rupanya jalan kematian bagi binatang tersebut.

Artinya, apa yang manusia kira sebagai cara menyayangi hewan, belum tentu itu yang terbaik bagi hewan tersebut.

Setiap perilaku dan pemikiran yang mencoba melawan kodrat yang berlaku dalam kehidupan akan menjadi lucu.

Dari awal keberadaan manusia, hewan sudah menjadi makanan makhluk paling superior di muka bumi. Lalu kalau itu disalahkan, apakah mereka tidak berfikir bahwa tumbuhan yang mereka makan pun makhluk hidup? Pohon singkong, jahe, bahkan pohon toge juga berhak merasakan kehidupan. Pohon kemangi punya hak tumbuh dengan daun-daunnya. Apakah mentang-mentang manusia tidak bisa melihat ekspresi tanaman, lantas tak bisa dicium bau kematian pada makhluk itu?

Alhamdulillah Islam berdiri pada argumen yang jelas soal kehidupan. Pertama, manusia adalah khalifah (ups.. keceplosan) di muka bumi. Kedua, langit dan bumi dan seisinya Allah swt buat tunduk untuk manusia. Boleh dimanfaatkan. Termasuk hewan.

Tapi kemudian, ketiga, Islam ingatkan bahwa benda-benda (hidup atau mati) selain manusia pun berdzikir kepada Allah. Binatang, tumbuhan, dan gunung itu hidup dan memuji-Nya.

Karena itu, keempat, Islam ajarkan akhlak untuk manusia. Ada larangan untuk menyakiti hewan.

Maka meskipun harus membunuh agar bisa makan, Islam ajarkan cara membunuh yang terbaik.

Rasa sakit yang dijumpai saat kematian, akan hewan-hewan itu alami juga walau pun tidak disembelih oleh manusia. Ketika hewan itu tua atau sakit, tak kan bisa mengelak dari pedihnya sakaratul maut. Apalagi saat jadi mangsa binatang buas. Cakaran dan gigitan pasti sangat menyiksa.

Termasuk menjadi hikmah bagi pequrban adalah merenungi sakaratul maut yang akan dihadapi. Bau kematian selalu ada di sekitarnya, dan kelak orang-orang akan mencium itu dari dirinya.

Mungkin penggugat ibadah qurban itu terlalu ekstrovert. Syariat ini hadir untuk memberi peringatan bagi manusia. Bukannya dijadikan renungan untuk diri sendiri, malah memikirkan hewan yang tak kan ada balasan abadi setelah kematian atas perbuatan selama hidup.

Akhirnya, bau kematian memberi kecerdasan bagi muslim yang mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, dan hanya menjadi tunggangan bodoh bagi islamophobia.

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2019 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: