RSS

Ide Penghapusan Kata Kafir, Antara Kekerasan dan Basa Basi Teologis

02 Mar

Bisa-bisaan aja manusia zaman sekarang membuat istilah. Setelah Islam Liberal, Islam Nusantara, yang terakhir adalah “Kekerasan Teologis”. Disebut oleh Abdul Moqsith Ghazali ketika diwawancarai media dari acara Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU).

“Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘Muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” katanya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, 28 Februari 2019, sebagaimana dikutip Tempo.

https://nasional.tempo.co/read/1180643/nu-usul-sebutan-kafir-ke-nonmuslim-indonesia-dihapus

Dalam KBBI, teologi punya arti berikut:
te·o·lo·gi /téologi/ n pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci)

Teologis artinya adalah yang berhubungan dengan teologi.

Dari definisi di atas, saya pribadi kebingungan bagaimana bisa disandingkan antara kata “kekerasan” dengan “pengetahuan ketuhanan”?

Belum selesai keheranan itu, masih ditambah lagi dengan usulan mengganti kata kafir dalam konteks kewarganegaraan.

Alhamdulillah, kemudian putra kelima Mbah Maimoen Zubair, Gus Abdul Ghofur Maimoen meluruskan, bahwa pernyataaan yang mengatakan non-muslim Indonesia tidak disebut kafir tidak pernah ada di dalam forum Bahtsul Masail sebagaimana yang disampaikan oleh Moqsith Ghazali.

https://suaramuslim.net/bantah-moqsith-mengenai-non-muslim-putra-mbah-maimoen-itu-hanya-kesimpulan-dia/

Kekerasan teologis yang jadi alasan untuk menghapus kata kafir – sebagaimana yang diinginkan Moqsith – itu apakah hanya ada pada ajaran Islam? Bagaimana dengan agama lain?

Dan sejak kapan pula kata kafir bermuatan kekerasan? Ketika Allah swt menyebut kata itu pada wahyu yang diturunkan di Mekkah dan Madinah, tak terdengar ketersinggungan oleh “non muslim”. Mereka hanya marah karena sesembahannya tidak dianggap Tuhan oleh Islam. Mereka marah karena ada yang mengajak untuk berhenti menyembah berhala. Bukan marah karena disebut kafir.

Allah swt pun memakai kata kafir dalam aktifitas ummat Muhammad saw, sebagaimana dalam Al Baqarah: 256 (dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan “ingkar”).

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut (yakfur bith thoghut, kafir kepada thoghut) dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Dan begitulah aktifitas iman yang benar kepada Allah, harus disertai dengan kafir kepada thoghut atau sembahan selain-Nya. Bahkan “penafian” atas adanya segala bentuk sembahan didahulukan sebelum “penetapan” bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Seperti dalam struktur kalimat “Laa ilaaha illallah”.

Dan itu juga yang dideklarasikan oleh Ibrahim a.s. dalam Al Mumtanah ayat 4, bahwa ia kafir (mengingkari) terhadap agama kaumnya. “Kafarna bikum”, ujarnya.

Lantas di bagian mana yang menjadi kekerasan teologis, ketika orang yang mukmin pun mengaku kafir terhadap ajaran selain Islam?

Andai penganut Kristen, Budha, Hindu, atau aliran kepercayaan berkata kepada muslim, “kalian disebut kafir dalam agama kami”, maka pernyataan itu akan disambut gembira, “Benar. Ya Allah, saksikan lah, bahwa kami kafir terhadap agama dan tuhan mereka, dan kami hanya beriman kepada-Mu.”

Aktivitas mengimani sesuatu serta mengingkari/mengkafiri yang lain ada secara bersamaan dalam sebuah kepercayaan.

Atau yang diinginkan adalah mengimani semua tanpa mengingkari satu pun?

Apa Pengganti Kata Kafir?

Saya sudah lama mendengar wacana bahwa status kewarganegaraan bagi non muslim yang dirumuskan ulama di zaman kekhalifahan, tidak relevan di negara yang tak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam. Karena tak ada jizyah, dan syarat lainnya.

Tapi wacana itu tak ada relevansinya dengan alasan “kekerasan teologis” sehingga istilah kafir harus dihapus. Silakan berijtihad untuk mengisi kekosongan istilah terhadap non muslim yang tinggal di tengah mayoritas muslim di negara yang tidak mendeklarasikan sebagai negara Islam. Tapi kata kafir adalah istilah teologis, istilah aqidah, sebagai pembeda antara mukmin dan bukan, dan sering kali tak dipakai untuk bicara soal kewarganegaraan.

Kalau harus dipaksa disubstitusi dengan Muwathinun, coba ganti dalam ayat berikut:

“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)” (QS: Al Ahzab: 64)

Dalam Al-Qur’an bertebaran ayat yang mengancam orang kafir dengan siksa neraka. Mau diganti dengan istilah apa pun, ancaman terebut tetap berlaku. Kalau itu dianggap kekerasan, maka tentu bukan kata kafirnya yang harus dipermasalahkan.

Alhamdulillah ada klarifikasi bahwa tidak ada niat mengganti kata kafir dalam Al-Qur’an. Hanya saja, kapan sih kata kafir dijadikan panggilan dalam percakapan sehari-hari? Tidak ada kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia memanggil kawannya, “Hai, mas bro kafir…”

Kata kafir biasanya disinggung dalam pengajian atau forum khusus umat Islam. Kagok kalau harus diganti istilah lain. Karena yang dimaksud adalah orang yang tak beriman, bukan warga negara. Diganti “non muslim” tak kan memadai sebagai eufimisme karena kafir itu istilah dalam aqidah. Pemakaian istilah itu pun tak kan menghapus ancaman yang bertebaran dalam Qur’an dan hadits kepada mereka.

Sudah lah. Tak ada masalah dalam kehidupan beragama di negara ini. Baik baik saja. Tak ada kerusuhan antar pemeluk agama. Jangan dibuat mencekam. Tak perlu lah berbasa-basi teologis (nah lho… Saya jadi ikutan bikin istilah macem-macem juga. Ngawur pastinya).

2 Maret 2019

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2019 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: