RSS

Mewaspadai Gerakan Desakralisasi Agama

10 Jan

Saya dapati orang-orang yang membela candaan keterlaluan comicus Joshua dan Ge Pamungkas adalah orang-orang yang sakit hati karena agama dibawa-bawa ke politik. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, apakah sengaja ada gerakan massif merendahkan agama agar tidak lagi sakral dalam kehidupan masyarakat?

Kini perbuatan mengolok-olok agama, khususnya Islam, bukan cuma pekerjaan ustadz gadungan yang mengaku bapaknya janda. Atau seorang pengaku penikmat kopi yang lidahnya mati rasa di acara talkshow televisi. Atau dosen komunikasi yang provokatif agitatif yang kehilangan kebijaksanaan bertutur kata. Kita lihat mulai muncul badut-badut wannabe yang beratraksi dengan kata-kata mencoba melawak dengan menjadikan agama sebagai candaan. Saya khawatir gerakan mendesakralisasi agama di depan publik ini menjadi trend tanpa tersentuh hukum.

Karena amat sangat tersita energi masyarakat bila tiap penistaan agama harus disikapi dengan protes massal ratusan ribu orang agar aparat bertindak. Untuk (mantan) penguasa yang dibekingi kekuatan besar, wajar lah kemarin aspal Jakarta dipanasi derap kaki yang marah. Tetapi setelah satu dibekuk, rupanya pengikutnya tanpa malu melanjutkan kerja-kerja penistaan agama di depan khalayak.

Gerakan ini seperti mencoba membalas dendam atas kehadiran agama dalam pilihan sadar umat Islam di pilkada Jakarta kemarin. Ada yang marah karena kalah. Mereka ingin melampiaskannya dengan penistaan, halus hingga kasar.

Kampanye Untuk Tak Membela Tuhan

Agar penistaan agama tak mendapat perlawanan berarti, agar masyarakat bisa menerima bahwa agama bukan topik yang sakral yang harus diperlakukan hati-hati dalam dialog di muka umum, dikampanyekanlah kalimat indah namun beracun: Tuhan tidak perlu dibela.

Diajaklah umat manusia agar membiarkan Tuhan yang membela sendiri para penghina-Nya. Sebagai makhluk, kita tak perlu reaktif bila ada yang menghina simbol agama. Sikap begini membuka pintu penerimaan untuk gerakan penistaan agama secara massif.

Itu artinya simbol-simbol agama tidak perlu lagi mendapat tempat di hati manusia. Karena ketersinggungan seseorang terhadap celaan tergantung sedalam apa keberadaan sesuatu yang dicela itu di hatinya. Ketika ejekan kepada klub bola kesayangan lebih membuat marah daripada hinaan kepada agama, maka klub bola lebih mendapat tempat di kalbu orang itu daripada agama.

Tuhan Yang Maha Kaya tidak akan pernah hina karena dicela ciptaan-Nya. Begitu juga klub bola berprestasi, tentu tidak akan pernah hina dicela fans lawan. Tetapi ini soal harga diri manusia yang mendengar hinaan tersebut. Bagi orang beriman, penghinaan terhadap simbol agama adalah bentuk merendahkan harga diri. Tuhan Yang Maha Agung tak kan pernah hina, tetapi manusia lah yang hina bila tidak tersinggung.

Sikap membiarkan Tuhan membela diri-Nya sendiri dari para penghina-Nya adalah sebuah tasyabuh (penyerupaan) kelakuan Bani Israil yang dicela dalam Qur’an. Ketika umat itu diperintahkan Allah untuk masuk ke wilayah Palestina, mereka enggan dan menyuruh Musa berperang berdua dengan Tuhan. Mirip ketika umat Islam ditantang untuk membela Allah (QS Muhammad: 7), ada seruan agar biar Tuhan sendiri yang membela diri-Nya.

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”” (QS Al-Maidah: 24)

Agama yang Makin Hadir dalam Kehidupan

Namun gelombang kebangkitan Islam agaknya susah dicegah. Aksi 411, 212, dan yang sebagainya serta reuni-reuninya hanyalah salah satu indikator. Tanda yang lebih mencolok adalah Islam mulai hadir dalam kesadaran berekonomi. Gerakan anti riba menjadi semarak. Umat Islam makin selektif memilih jenis transaksi. Dilanjutkan juga dengan ikhtiar membentuk koperasi 212 sebagai perlawanan terhadap keserakahan kapitalisme.

Islam mulai meluber, dari masjid kemudian mengisi tempat di kehidupan masyarakat. Tak hanya lagi urusan sholat, puasa, zakat, dan umroh. Islam menjadi gaya hidup dalam balutan busana yang menyesuaikan syariat. Hadir dalam tontonan di layar kaca maupun layar lebar. Hadir dalam tulisan sastra yang menghadirkan nasihat. Menjadi acuan dalam mengkonsumsi makanan hingga kosmetik.

Entahlah apakah ketika Yuswohady menulis buku “Marketing to the middle class muslim”, terpikir juga olehnya bahwa marketing terhadap pilihan politik umat Islam juga perlu dibahas. Apalagi setelah pilkada Jakarta, sensitifitas masyarakat semakin meningkat. Kemarahan mereka belum selesai kepada partai-partai pendukung penista agama. Tak hanya itu, mereka juga terbakar pada isu UU Ormas dan putusan MK untuk gugatan pasal KUHP perzinaan kemarin.

Kini umat Islam makin memasrahkan diri untuk diatur oleh ajaran agamanya. Makin mendapat tempat di hati. Kesakralannya makin mengisi berbagai lini kehidupan masyarakat.

Karena itu gerakan penistaan kepada agama akan membuat perpecahan di masyarakat makin menjadi. Cara itu tak kan efektif membendung kesadaran berislam pada masyarakat. Kalau rezim saat ini tidak tegas menindak gerakan penistaan, maka gelombang ini bisa saja menyapu rezim yang dianggapnya tak berpihak pada waktunya nanti.

Zico Alviandri

10 Januari 2018

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2019 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: