RSS

Pelajaran Dari Telinga yang Tendensius

27 Jun

Ada satu cerita humor yang masih saya ingat dari sebuah ceramah KH Zainuddin MZ Allahuyarham. Ia mengisahkan tentang seorang jamaah majelis taklim yang mengantuk saat mendengar khutbah, lalu hilang fokus.

Menghadap kepada jamaah, dengan wibawanya sang ustadz berkata, “Pencurian yang paling baik adalah mencuri salam.” Ustadz menjelaskan, ketika seseorang mendengar salam yang bukan ditujukan kepadanya, dan ia tetap menjawab salam tersebut, maka itulah yang diistilahkan dengan mencuri salam.

Peserta pengajian yang mengantuk itu salah mendengar. Yang ia tangkap, pencurian yang terbaik adalah maling ayam. Sepulang dari majelis taklim ia pun mempraktekkan “ilmu” yang ia dapat. Ketika dibekuk dihakimi massa, ia pun menggunakan ceramah sang ustadz sebagai dalih.

Salah dengar memang bisa terjadi pada siapa saja. Ada banyak penyebab. Mungkin artikulasi dari pembicara yang kurang baik. Atau ada gangguan kepada gelombang bunyi berupa noise/distorsi, dll sehingga tak sempurna ditangkap pendengaran. Atau masalahnya ada di pendengar, entah indranya yang ada gangguan atau otaknya kurang fokus untuk mencerna yang disampaikan.

Tak jarang, belum apa-apa si pendengar punya stigma tersendiri untuk si pembicara. Dalam kasus ini, kalimat yang jelas saja sering disalah artikan. Apalagi kata yang samar. Maka ucapan pun ditafsirkan sesuai dengan stigma yang ditempel kepada pembicara. Hal seperti ini yang sering menimbulkan salah paham.

Sehingga kita mengerti, mengapa ada yang bisa salah dengar pada khutbah Idul Fitri yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir di Masjid Al Azhar, 25 Juni 2017 kemarin.

Sedihnya, salah dengar atas ceramah ustadz Bachtiar Nasir ini terlanjut menimbulkan penghakiman kepada beliau. Lini massa gaduh. Ada yang mendengar ustadz berkata, “Islam toleran adalah Islam setan”. Maklum, ustadz yang merupakan salah satu punggawa GNPF MUI ini dicap radikal dan tidak toleran oleh segelintir pihak. Kemudian perkataan salah dengar ini disebarkan via media sosial tanpa klarifikasi. Pada akhirnya berujung permintaan maaf karena si penyebar sudah salah menangkap informasi.

Ada pameo yang berbunyi, “orang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.” Telinga yang tendensius, akan memilih-milih informasi sesuai selera, menafsir kembali informasi yang diterima, bahkan berujung salah dengar.

Kita berbaiksangka, kejadian ini memang salah dengar, bukan produk fabrikasi hoax untuk menciptakan gaduh di masyarakat. Tapi tak mampunya masyarakat kita menyikapi informasi kembali memantik pertengkaran antara kita.

Terngiang lagi apa yang pernah dikicaukan oleh M Sohibul Iman, Presiden PKS melalui akun twitternya. “Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkan irreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” tulisnya.

Ya, sejak pilpres 2014 masyarakat sudah terbiasa dengan kabar bohong dan terbiasa tak berhati-hati. Berbagai seruan untuk melawan hoax menjadi angin lalu. Berkali-kali peringatan agar mengutamakan tabayun, tak ada pengaruhnya. Menciptakan perselisihan berlarut-larut yang seperti tak bisa lagi dipulihkan. Irreversible damage.

Sekali lagi, masyarakat gagal melewati ujian. Bukan oleh provokasi yang dibuat-buat, tapi karena telinga yang belum apa-apa punya tendensi akibat stigma atau prasangka.

Mohon jadikan pelajaran, kalau kita ingin menyudahi permusuhan yang kontra produktif ini, mari tepis segala stigma, terutama kepada pihak yang berseberangan. Berdialoglah dengan bebas prasangka. Mohon ini dijadikan syarat bagi rekonsiliasi nasional.

Dan saya meminta kepada semua pihak, berhenti menjadi kompor agitasi stigma intoleran kepada umat Islam. Kurang apa indahnya toleransi yang terselip pada aksi massa umat Islam yang lalu, saat mereka ikut menjadi “pengarak pernikahan” bagi pasangan non muslim. Cerita ini sudah menjadi legenda.

Lantas membuat dan menyebarkan film yang menggambarkan peserta pengajian yang tak punya rasa kemanusiaan, hanyalah bentuk pengekalan stigma kepada umat Islam. Cara ini tak kan meredakan permusuhan, malah membuat potensi salah dengar dan kegaduhan yang lain.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2017 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: