RSS

Fenomena Plagiator Muda, Tak Beri Solusi Tapi Perpecahan Abadi

02 Jun

Jangan heran kalau selebriti muda yang baru naik daun itu tertangkap basah memplagiat tulisan orang. Karena dari awal, tidak ada hal baru dalam gagasannya. Esensi “semua agama sama” adalah hal basi, yang kemudian ia kemas ulang dalam retorika dan diksi yang seolah baru.

Hanya saja, kemunculan anak itu memberi kegirangan luar biasa bagi pengusung pluralisme agama. Bagi mereka, terpenuhilah kebutuhan akan kader penerus yang akan mengamplifikasi gagasan usang dan “me-repost” wacana lama di media sosial.

Momennya kemunculannya pun tepat. Setelah keterpurukan si junjungan di bilik pemungutan suara dan ruang sidang, penganut liberalisme agama mendapatkan sosok baru untuk dipuja. Seolah mengurangi pedihnya luka.

Terlalu lebay anak itu disanjung-sanjung, bahkan diundang ke upacara peringatan Pancasila. Kini, Pancasila seolah jadi jargon jualan tanpa isi moral. Tak peduli seorang plagiat yang tak jujur, atau biduan yang menggoyang-goyang bokongnya di depan publik, siapa pun asal sesuai selera boleh saja disematkan gelar Pancasilais dan menjadi duta.

Ada yang tahu nama Muhammad Abrary Pulungan? Mungkin masyarakat sudah lupa. Anak ini berani melaporkan kecurangan Ujian Nasional di sekolahnya. Tapi untuk kejujuran seperti ini, tak banyak apresiasi sebagaimana si plagiator muda.

Padahal bangsa ini darurat kejujuran. Beberapa waktu lalu seorang murid di Padang Sidempuan terpaksa menenggak racun akibat diteror seorang gurunya setelah ia mengunggah status di media sosial yang mengindikasikan kecurangan pada Ujian Nasional.

Ada banyak lagi anak yang pantas mendapat apresiasi lebih. Para siswa yang telah memenangkan olimpiade pelajaran di tingkat internasional tidak pernah mendapat ulasan seheboh si plagiator di media massa. Atau para atlet yang berprestasi mengharumkan nama Indonesia.

Diangkatnya nama si plagiator muda hanyalah sarana mempolitisasi kebhinekaan dan Pancasila. Seorang walikota yang hendak maju menyalonkan diri jadi gubernur sudah terlihat eksis berfoto bersamanya. Siapa yang butuh suara kaum kotak-kotak, sila berpose dan memuji-muji anak itu.

Dan buruknya, fenomena plagiator muda ini akan mengekalkan politik identitas dan perpecahan anak bangsa. Sebab tulisannya menyinggung hal yang sensitif dan mengangkat hal yang kontroversial. Ia bisa menjadi simbol baru permusuhan antar masyarakat, bahan perdebatan baru di media sosial, dan standard baru untuk stigmatisasi. Seperti yang telah terlihat belakangan ini.

Sementara anak itu tak menghadirkan solusi yang menyatukan bangsa ini. Hanya plagiarisme yang sebabkan keriuhan baru.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2017 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: