RSS

Monthly Archives: May 2017

Belajar Ikhlas dari Aplikasi GPS

Kemajuan teknologi sangat membantu umat manusia. Salah satu sarana yang memanjakan manusia adalah aplikasi mobile yang menggunakan GPS. Bukan Guidance Penduduk Sekitar, tapi Global Positioning System, sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.

Aplikasi yang memanfaatkan GPS itu selain bisa memperlihatkan posisi penggunanya dalam peta, juga bisa mengarahkan ke lokasi yang dicari. Dengan panduan suara, pengguna akan diberi tahu harus belok kanan atau kiri pada belokan sekian meter di depan untuk menuju titik yang dituju. Sangat membantu.

Banyak macam aplikasi seperti ini. Ada Google Maps, Waze, dll. Bisa diinstall di telepon genggam yang kita miliki.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari aplikasi seperti ini. Tentang keikhlasannya memberi saran kepada pengguna.

Apa yang terjadi kalau saran yang diberikan oleh aplikasi kita abaikan? Misalnya kita diberi tahu untuk berbelok ke kiri pada jalan 400 meter di depan. Tapi kita tetap lurus, karena sudah tahu jalan atau mungkin karena kelewatan. Apakah aplikasi itu akan ngambek, atau ngomel-ngomel?

“Ah elu, udah gw kasih tau belok kiri. Tapi masih lurus juga. Sono cari sendiri,” terdengar suara begitu dan kemudian aplikasi itu mati sendiri. Mungkin kah?

Tidak. Tapi system akan mengkalkulasi ulang, memperhitungkan jarak ke titik tujuan, mencermati kepadatan jalan, dan lalu kembali memberi saran yang terbaik. Selama pengguna masih menanyakan arah ke titik yang dituju, system akan terus membantu.

Tidak ada rasa kecewa ketika saran dari aplikasi itu diabaikan pengguna. Juga ketika sampai, tak ada suara bernada kesombongan dibunyikan. “Kan, bener kan saran gw? Cepet lagi kan nyampenya. Gwe gitu loh…” Tak kan ada kalimat seperti itu.

Coba bandingkan dengan manusia. Di dalam rapat, meeting, musyawarah, syuro, dan lain-lain istilahnya, memberi saran kadang menjadi pintu setan untuk menebar virus penyakit hati.

Saat kita mengungkapkan gagasan di hadapan peserta rapat, setan sudah mulai bekerja membuat kita tinggi hati. Gaya bicara dibuat sekeren mungkin, istilah-istilah asing dari ngenglish, ngarab, latin, kita pakai untuk berargumen. Sebisa mungkin kita ingin membuat orang lain terkesan.

Saat saran diterima, kita semakin tinggi hati. Dan ketika saran itu membawa hasil, kita lupa diri, melupakan Allah swt yang telah memberi ilham. Tapi saat saran ditolak, rasanya langit runtuh. Timbul rasa kecewa, dalam hati mengecam si penolak saran. Saat saran orang lain yang diterima, sedikit timbul harap agar saran itu membawa kegagalan. Itu lah yang namanya hasad/dengki.

Tak seperti aplikasi yang menggunakan GPS itu, yang ia tahu hanyalah memberi saran terbaik. Ia fokus pada tujuannya. Dan seharusnya seperti itu lah keikhlasan saat bermusyawarah. Kita berfikir menemukan solusi yang terbaik, kita lakukan itu karena Allah swt. Kita memberi saran untuk kemaslahatan bersama, karena Allah. Dan setelah itu kita berlapang dada. Saran diterima atau tidak, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Itu lah ikhlas berbuat karena Allah.

Zico Alviandri

 

Surat Terbuka Untuk Nurul Fahmi; Karena Darahmu Merah, Tulangmu Putih, Sedang Hatimu Bertauhid

Assalamu’alaikum wr wb. Salam terbaik beserta empatiku yang paling dalam, untukmu Nurul Fahmi, saudaraku semuslim yang tak pernah kukenal sebelumnya, namun diikat oleh kesatuan aqidah.

Saudaraku, kita rakyat biasa yang buta hukum. Sebelum kasus ini, kita tak menahu bahwa bendera merah putih tak boleh dicoret apa pun. Aku pernah mendengar larangan ini dulu, tapi setelah melihat foto konser Metallica yang dihadiri Presiden Jokowi, aku mengira larangan itu tak berlaku.

Sebelum engkau, sudah beberapa kali bendera merah putih ditulisi sesuatu dan diperlihatkan di depan khalayak. Andai perbuatan itu ditindak aparat – kalau benar terlarang – tentu kita akan tahu bahwa itu tidak boleh.

Entahlah… jelata seperti kita dihantui ketidakpastian hukum. Sebagaimana sebuah tesis ilmiah lebih dianggap menghina dari kata-kata “bebek nungging”. Bagi jelata seperti kita, diacungkan pisau pada bilah yang tajam mengarah ke muka.

Tapi aku bisa memahami mengapa kau melakukan itu. Dalam kepolosanmu, kau ejawantahkan apa yang ada pada jasadmu di bendera itu. Yaitu darah yang merah, tulang yang putih, dan hati yang bertauhid. Jadilah ia bendera yang dipermasalahkan itu bak personifikasimu, lantas kau kibarkan pada momen membela ulama.

Sementara sebelum bendera itu berkibar, terdengar kalimat melecehkan keyakinan pada hari akhirat oleh politisi yang gemar berteriak merdeka. Dibandingkan denganmu, tentu engkau yang lebih baik dari dia. Karena kau mencintai negara ini bersama keimanan yang menyala.

Saudaraku Nurul Fahmi, kalimat tauhid tak pernah hina. Bendera itu akan menjadi bithaqoh/kartu yang membelamu di atas mizan di hari kiamat. Bahwa tauhidmu menyala, menerangi segenap Nusantara.

Keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah tak pernah bisa dikotori borgol kriminalisasi. Tak kan beku dikekang jeruji yang dingin. Ia berkibar menjadi bukti keimanan. Lantas membuka mata umat, bahwa masih ada yang menyangkanya sebagai kalimat yang melecehkan.

Salam untukmu saudaraku Nurul Fahmi. Dan besar terima kasih kepada ustadz Arifin Ilham yang mengantarmu ke rumah. Semoga kita dikumpulkan di akhirat, saling bernostalgia di atas dipan beralas permadani. Amin.

Zico Alviandri

28 Januari 2017

 
1 Comment

Posted by on May 7, 2017 in Surat Terbuka

 

Menyambut Terjalinnya Kembali Hubungan Raja Arab Saudi dan Aktivis Islam Indonesia

“Kenapa saudara tahan Muhammad Natsir?”

Subandrio tersentak. Padahal ia tengah menjelaskan panjang lebar bagaimana perkembangan Islam di Indonesia, tentang pembelaannya kepada Islam, tentang kisahnya berhaji, dsb. Tapi cerita-cerita itu tak mampu membuat Raja Faisal tertarik. Raja Arab Saudi yang memerintah dari tahun 1964 hingga 1975 itu malah to the point memprotes penahanan M. Natsir.

“Saudara tahu?”, tanya Raja Faisal lagi, “Muhammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”.

Dari ucapannya, Raja Faisal jelas merendahkan diri. Ia adalah Raja di negeri yang kaya raya oleh minyak, mengaku ada yang lebih tinggi yang menjadi pemimpinnya. Tapi bukan kepada sembarang orang ia merendah, melainkan kepada da’i yang kiprahnya memang sudah dikenal di berbagai penjuru negeri Islam.

Kemarahan Raja Faisal kepada orang penting dari Indonesia pada Orde Lama itu lantaran M Natsir menjadi tahanan politik. Natsir pernah diasingkan oleh pemerintah Orde Lama ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).

Raja Faisal terkenal akan keberpihakannya kepada dunia Islam. Raja yang pernah membeli semua budak di Arab Saudi dan kemudian menghapus perbudakan di negaranya ini pernah mengembargo ekspor minyak dari Arab Saudi ke Amerika Serikat. Ia punya simpati kepada aktivis muslim di berbagai negara, ikut berjuang membebaskan Palestina, dan berbagai pembelaan lain kepada dunia Islam.

Sayang, ia memerintah tak lama, karena tahun 1975 ia wafat dibunuh oleh keponakannya.

Kedekatan Raja Arab dengan da’i Nusantara itu terukir manis dalam sejarah. Dan bukan berarti tak kan terulang.

Raja Faisal adalah Raja Faisal, dan tak kan mungkin ada dua yang persis sepertinya. Begitu pun M Natsir, ia unik dan tak kan ada yang persis dengannya. Mereka hidup di zaman yang jauh berbeda dengan sekarang.

Namun romantisme Raja Arab Saudi dengan aktivis Islam di Indonesia mungkin sekali terulang pada hubungan Raja Salman dengan Habib Rizieq Shihab.

Pada artikel sebuah media online (yang dihapus tanpa penjelasan), dikabarkan bahwa Raja Salman akan menemui Habib Rizieq Shihab di Indonesia pada kunjungannya awal Maret 2017 nanti. Kebenaran kabar ini akan diketahui bila Raja Salman benar-benar jadi datang ke Indonesia.

Maka umat muslim di negeri ini tak perlu kaget bila itu terjadi. Hubungan itu pernah ada dan tinggal dinapaktilasi kembali.

Hal lain yang mirip adalah upaya kriminalisasi Habib Rizieq, sebagaimana Orde Lama menahan M Natsir. Berbagai macam cara ditempuh aparat untuk memenjarakan beliau. Karena zaman ini tak seperti zaman Orde Lama yang mudah untuk menetapkan seseorang menjadi tahanan politik. Sehingga apa pun itu, entah tesisnya, ceramahnya untuk internal umat Islam, soal penilaiannya terhadap sebuah gambar, soal tanah dan lain sebagainya, harus dicari sedemikian rupa agar rezim bisa membungkam Habib Rizieq.

Saya berharap tak hanya Habib Rizieq yang akan ditemui Raja Salman. Umat muslim di Indonesia berjuang dalam berbagai wadah organisasi dan komunitas, kultural maupun struktural. Pasca 411 dan 212, ghiroh umat Islam sedang menyala. Aksi-aksi nyata sudah ditempuh, dari gerakan sholat shubuh berjamaah hingga koperasi.

Meski nama Habib Rizieq Shihab sedang naik daun, namun negeri ini sedang dilimpahi para da’i yang bergiat di segala sektor.

Harapan saya, semoga para aktivis muslim yang berjihad dalam berbagai medan bisa saling berpelukan dengan Raja Salman, dan memberi energi bagi Raja yang memerintah sejak 23 Januari 2015 ini untuk meneruskan perjuangan Raja Faisal yang belum tuntas.

Amin.

Referensi: tulisan ustadz Ferry Nur, dan sumber lain.

25 Januari 2017

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2017 in Artikel Umum

 

Saya, Antara Islam, Indonesia, dan Arab

Saya muslim, warga negara Indonesia asli, ras melayu mongoloid, bukan orang Arab atau keturunan Arab, tak perlu menjadi orang Arab, dan tak kan pernah menjadi orang beretnis Arab.

Tetapi karena muslim, setidaknya 5 kali dalam sehari saya merapalkan bacaan-bacaan berbahasa Arab dalam gerakan yang teratur. Dalam bahasa Arab, disebut sholat.

Saya menghafal bacaan-bacaan itu sekaligus mempelajari artinya agar saat mengucapkan sebuah kalimat, saya paham maknanya. Dan saya tidak akan pernah mengganti bacaan sholat itu dengan bahasa Indonesia.

Saya juga sedang menghafalkan kitab tebal berbahasa Arab serta memahami makna dan tafsirnya. Kitab itu disebut Al-Quran. Tak ada buku dalam bahasa Indonesia setebal Al-Quran yang saya hafal. Saya sediakan waktu setiap hari untuk membaca kitab itu.

Bila berkesempatan, pada waktu-waktu tertentu saya akan mengeraskan suara menghimbau orang banyak dalam bahasa Arab. Atau yang disebut dengan adzan. Bertujuan mengajak orang sholat. Saya tak kan mengganti seruan itu dengan bahasa Indonesia.

Memulai segala aktifitas, saya mengawalinya dengan kalimat berbahasa Arab. Kemudian saya rapalkan juga kalimat lain sebagai doa – juga berbahasa Arab. Hedak makan, tidur, masuk kamar mandi, naik kendaraan, saya lafalkan bacaan berbahasa Arab. Menyudahi segala aktifitas pun saya ucapkan juga kalimat berbahasa Arab.

Bila menyapa rekan sesama muslim, saya ucapkan salam berbahasa Arab yang mengandung doa.

Ada satu sosok yang sangat saya cintai, melebihi cinta kepada diri sendiri. Sosok itu dari etnis Arab. Ia bernama Muhammad saw. Saya meneladani prilakunya, mencontoh bagaimana ia bergaul dengan manusia, bahkan hingga bagaimana ia masuk ke dalam jamban.

Termasuk cara berpakaian. Sebagaimana pecinta musik Jepang, Korea, musisi Barat dll mencontoh cara berpakaian idola-idola mereka dan budayanya. Atau sebagaimana pecinta sepakbola gandrung dengan jersey klub bola kesayangannya. Atau pecinta anime yang punya istilah cosplay. Apa salahnya saya mengenakan pakaian yang mirip dengan Muhammad saw pernah pakai? Tentu saja itu pakaian khas orang Arab.

Tetapi dengan pakaian itu, saya tak merasa paling baik lalu merendahkan orang lain. Sekedar ekspresi cinta yang diniatkan ibadah, sesekali saya kenakan pakaian model itu.

Tak ada manusia lain walaupun dari bangsa sendiri yang begitu saya cintai dan teladani lebih dari orang Arab itu, beserta keluarganya. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Dan saya pun mencintai sahabat-sahabatnya yang juga beretnis Arab. Saya mempelajari bagaimana sejarah kehidupan mereka dan meneladani hal yang baik yang terjadi di zaman itu.

Ada orang-orang besar, atau pahlawan, dari bangsa Indonesia yang saya kagumi. Tapi dalam kadar kekaguman yang tak melampaui orang-orang Arab sahabat Muhammad saw.

Saya pun mencintai garis keturunan Muhammad saw, yang notabene adalah orang-orang Arab.

Saya orang Indonesia yang terpukau dengan keindahan alam Nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Marauke. Tetapi kepuasan tertinggi saya bila telah sampai mengunjungi jazirah Arab, khususnya di kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji.

Saya orang Indonesia. Beragama Islam. Saya dambakan ketika di akhir hayat, kalimat terakhir yang saya ucapkan dalam bahasa Arab. Yaitu dua kalimat syahadat. Semoga Allah permudah. Amin.

Saya orang Indonesia. Muslim. Berinteraksi begitu banyak dengan hal berbau Arab. Meski tak perlu menjadi orang Arab. Interaksi tersebab konsekuensi keimanan.

 

Memprovokasi Logika, Menguatkan Tauhid

Kabar diperkarakannya Habib Rizieq Shihab karena isi ceramahnya dalam pengajian, membuat kening banyak pihak mengkerut. Pasalnya, apa yang disampaikan Habib Rizieq adalah kandungan aqidah dalam ajaran Islam. Dan beliau pun menyampaikannya terbatas, dalam pengajian yang hanya diikuti oleh umat Islam. Bukan forum terbuka untuk umum.

Pada Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, ada kata-kata “di muka umum”. Saya masih ingat, dalam salah satu episode Indonesia Lawyer Club (ILC), pakar hukum menjelaskan bahwa pengajian terbatas untuk penganut agama tertentu tidak termasuk yang diatur dalam pasal ini. Karena pengajian seperti itu untuk kalangan terbatas, bukan umum.

Saya belum mendapat info lebih jelas kalimat apa yang dipermasalahkan. Di pengajian itu, Habib Rizieq mengatakan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Apakah itu yang diprotes? Itu kan ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Ikhlas.

Atau kalimatnya, “Kalau tuhan dilahirkan, siapa bidannya?” Ada yang menganggap bahwa Habib Rizieq melanggar perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’am 108 dengan kalimat itu.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

Apakah yang dikemukakan Habib Rizieq itu sebuah caci maki? Saya rasa bukan. Habib Rizieq hanya menyampaikan pertanyaan retoris sebagai penguat dalil bahwa Tuhan tidak diperanakkan. Dan audiennya adalah umat Islam yang menganut doktrin bahwa Tuhan tidak diperanakkan. Habib Rizieq tidak sedang berbicara kepada pemeluk agama lain. Dalam kalimat itu pun tidak ada kata-kata kasar. Hanya pertanyaan memprovokasi logika sebagai penguat Tauhid.

Bertanya dengan cara seperti itu sejatinya sudah dilazimkan para nabi sejak dulu.

Logika Ibrahim

Apakah Tuhan itu sesuatu yang bisa tenggelam? Dan Ibrahim a.s. pun berdakwah dengan cara yang kreatif, memprovokasi logika umatnya.

Di suatu malam, setelah melihat sinar bintang yang mampu menembus gelap, ia mendeklarasikan bahwa bintang itu tuhannya. Namun ketika pagi datang, keberadaan bintang itu tak lagi terlihat, Ibrahim a.s. pun menarik ucapannya.

Di malam berikutnya, kilau bulan terlihat begitu memikat. Lalu Ibrahim a.s. pun mendeklarasikan bahwa bulan lah tuhannya. Namun ketika pagi datang, bulan tak terlihat. Kembali ia tarik ucapannya dengan ekspresi kecewa.

Lantas karena matahari begitu benderang dibanding bintang dan bulan, Ibrahim a.s. pun menyatakan bahwa matahari lah tuhannya. Namun, lagi, karena tenggelam, matahari dianggap tak pantas menjadi tuhan.

Hingga kemudian Ibrahim a.s. memperkenalkan Allah swt sebagai pencipta langit dan bumi kepada umatnya. Itu lah Tuhan yang benar yang tak kan pernah tenggelam.

Kisah ini bisa dilihat pada Al-Qur’an surat Al-An’am 73-83.

Pada kisah lain, Ibrahim a.s. mendebat Namrud soal ketuhanan. Dan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. adalah mengajukan pertanyaan yang membuat Namrud menganga tak dapat menjawab.

Ibrahim a.s. menghadapi Namrud dengan klaim bahwa Allah swt yang menciptakan kehidupan dan kematian. Namrud menjawab bahwa ia juga bisa menghidupkan dan mematikan. Ia beri makan seseorang hingga kehidupannya berlangsung, dan ia bunuh orang lain untuk menunjukkan ia juga bisa mematikan.

Lalu Ibrahim balik membalas, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” tantang Ibrahim a.s. Dan tak berkutiklah Namrud. (Lihat QS 2: 285).

Sayangnya, Namrud yang telah didebat dengan logis oleh Ibrahim a.s., bersikukuh dengan rasa percaya bahwa ia adalah tuhan.

Pembaca tentu juga tahu kisah Ibrahim a.s. yang dituduh menghancurkan berhala-berhala kaumnya di sebuah kuil. Memang beliau yang melakukannya. Disisakan sebuah berhala yang besar, lantas senjata yang dipakai Ibrahim a.s. dikenakan kepada berhala itu. Ketika Ibrahim a.s. diseret ke pengadilan, ia pun menantang kaumnya bertanya langsung kepada berhala tersebut. Tentu kaumnya tahu bahwa berhala itu tidak bisa berbicara atau bergerak. Dan dengan cara itu Ibrahim a.s. memprovokasi logika umatnya bahwa apa yang mereka sembah selama ini adalah sesuatu yang tak punya kemampuan apa-apa.

Logika Al-Qur’an

Luar biasa berangnya orang kafir penyembah berhala saat Allah swt membuat perumpamaan yang memprovokasi logika mereka. Mereka terguncang. Mereka melihat kebenaran. Tapi sikap fanatik terhadap berhala membuat mereka terhalang dari taufik Allah swt.

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS Al-Baqarah: 26)

Perumpamaan yang mereka anggap menistakan agama mereka adalah ayat Al-Qur’an surat Al-Hajj 73 yang berbunyi seperti berikut:

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”

Ya, hanya dengan perumpamaan lalat. Apakah para berhala itu lebih punya daya dan kuasa dibanding lalat? Pertanyaan itu membuat orang kafir tersinggung. Meski logika mereka mengakui kebenaran perumpamaan itu, tapi hati yang tertutup tak mampu menerima hidayah.

Dan ada banyak contoh lain provokasi logika yang menguatkan tauhid.

Saya rasa, Habib Rizieq hanya mengajak umat muslim berfikir agar keyakinan mereka bertambah kuat. Memang tiap agama berbeda fundamental konsep teologisnya. Jadi biarkanlah tiap umat beragama mempertajam pemahaman ajaran masing-masing, selama porsinya hanya untuk kalangan sendiri.

28 Desember 2016

 

Toleransi Atau Partisipasi?

Di sebuah mailing list (milis), saya menemukan diskusi tentang pengucapan selamat hari besar kepada orang yang berbeda agama. Dalam hal ini, ucapan itu diukur dari pandangan Islam.

Silang pendapat terjadi antara yang pro dan kontra pemberian selamat. Masing-masing saling melempar artikel dan tulisan panjang-panjang. Dalil demi dalil diurai. Tapi satu yang mengejutkan saya: saat ada yang menganggap pihak yang kontra memelihara kebencian.

Saya sama sekali tidak menemukan korelasi antara diam tak mengucapkan selamat dengan kebencian terhadap yang merayakan. Tapi saya bisa mengerti, dari mana akar pemikiran salah kaprah seperti itu.

Toleransi yang Disalah Artikan

Ada beberapa pihak yang mengejewantahkan toleransi dalam bentuk pengucapan selamat, bahkan berpartisipasi dalam perayaan. Gawatnya, apabila ada orang yang tak mau mengucapkan selamat, maka tudingan intoleran pun meluncur. Dan image intoleran ini otomatis tampil dalam bentuk wajah penuh amarah dan kebencian.

Hal ini bisa langgeng bila terjadi salah kaprah terhadap makna toleransi pada masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi adalah:

toleran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri.

Kata kuncinya ada pada membiarkan. Itulah toleran. Lawannya, intoleran, adalah upaya menghalang-halangi. Maka apakah yang tidak mengucapkan selamat itu tidak membiarkan orang lain melakukan peribadatan?

Sudah jelas bahwa diam terhadap orang yang merayakan hari besarnya adalah sebuah toleransi, sebuah sikap menghargai. Tentunya sikap toleran itu tidak tercampur oleh benci dan amarah.

Jadi sangat salah apabila orang yang tidak mengucapkan selamat kepada umat lain yang merayakan hari besar agamanya itu disebut intoleran.

Partisipasi

Masih menurut KBBI, partisipasi artinya adalah berperan serta, atau keikutsertaan.

Apabila ada teman anda yang ulang tahun, kemudian anda mengucapkan selamat, sudah bisa dibilang anda berpartisipasi dalam memperingati ulang tahun teman anda. Walaupun teman anda tidak mengadakan pesta, tapi peringatan hari ulang tahunnya sudah cukup dengan ucapan selamat.

Islam menetapkan garis demarkasi yang tegas dalam masalah keagamaan. Persoalan dunia, tak masalah kita mengucapkan selamat kepada teman non muslim atas kelahiran anaknya, atau bahkan membantunya mengadakan pesta syukuran. Juga tak masalah untuk persoalan non agamawi lainnya. Tapi bila menyangkut agama, akhir ayat surat Al-Kafirun dengan tegas membatasi: untukmu agamu, dan untukku agamaku. Tidak boleh ada partisipasi!!!

Dengan begitu, sangat jelas bahwa pengucapan selamat untuk peringatan hari besar agama lain itu termasuk bentuk partisipasi yang dilarang oleh Islam. Bukan lagi sebuah toleransi, tapi sudah melewati makna toleransi itu sendiri. Toleransi hanya dibebankan kepada orang yang tidak berpartisipasi, yaitu dalam bentuk diam, membiarkan, dan menghargai.

Inilah salah kaprah yang terjadi di masyarakat. Salah kaprah ini dimanfaatkan betul oleh penganut paham pluralisme agama untuk melakukan strawman fallacy kepada pihak yang menolak pengucapan selamat.

Toleransi sesungguhnya adalah membiarkan mereka merayakan. Sedangkan mengucapkan selamat, sudah masuk sedikit dalam partisipasi. Begitulah salah satu pendapat di antara dua pendapat tentang pengucapan selamat natal. Pendapat lainnya, menolak anggapan bahwa sekedar mengucapkan selamat natal itu sudah berpartisipasi. Karena saat mengucapkan selamat, tidak ada persetujuan atas keyakinan orang yang diucapkan selamat. Bagaimana pun juga, walau mungkin anda lebih memilih pendapat yang lain – yang menyangkal adanya partisipasi dalam pengucapan selamat natal, tetap tidak bisa disebut intoleran bagi yang tidak mengucapkan selamat natal.

Allahu’alam bish-showab.

Zico Alviandri
24 Dec 2010

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2017 in Artikel Umum

 

Film Surau dan Silek, Mengenang Konsep Pendidikan yang (Pernah) Gemilang

Ketika menginjakkan kaki di kota Padang tahun 2000 setelah pengumuman kelulusan UMPTN di jurusan Matematika Universitas Andalas, saya memiliki bekal cerita tentang sistem pendidikan surau yang berlaku di masyarakat Minangkabau. Anak laki-laki di provinsi kelahiran Buya Hamka itu bergaul di lingkungan surau dan mendapatkan pendidikan di sana. Sore hari anak-anak mengaji, dan malam harinya belajar silat. Bahkan tidur pun di surau.

Yang terbayang dalam benak, saya akan bertemu dengan pemuda-pemuda Minang yang fasih bacaan Qur’annya, paham ilmu agama, dan telah ditempa dalam bi’ah (lingkungan) yang baik.

Di kampus itu, ada kegiatan Responsi Agama Islam (di kampus lain namanya mentoring) yang diwajibkan untuk satu semester sebagai penunjang mata kuliah Agama Islam. Qodarullah, di tahun kedua kuliah di sana, saya diamanahi mengelola kegiatan ini. Mahasiswa dibentuk kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 sampai 10 orang, dibimbing oleh seorang senior yang kemudian menerangkan dan mendiskusikan tema-tema tertentu. (Misal: Mengenal Allah, Mengenal Islam, dll)

Dari kegiatan itu lah saya mendapati kenyataan yang berbeda dari yang selama ini saya bayangkan. Tak banyak mahasiswa lulusan SMA di Sumatera Barat yang mampu membaca Qur’an dengan baik. Ada teori membaca Qur’an yang disebut ilmu tajwid. Penguasaan seseorang terhadap teori itu bisa diukur dari prakteknya. Karena itu – bukan menganggap saya lebih bertaqwa – saya bisa tahu bahwa saya yang lahir dan besar di luar Sumatera Barat masih lebih mendingan dalam penguasaan ilmu tajwid dibanding beberapa di antara mereka.

Kiranya sistem surau sudah lama tak berkembang di nagari (kampung) Minang, apalagi di kota besar. Sudah lama parabola menjamur di pekarangan rumah, menyajikan hal yang lebih menarik bagi anak-anak daripada pendidikan di surau. Hati saya miris.

Tapi cerita kegemilangan kebudayaan itu masih beredar hingga kini. Tak sedikit yang bercita-cita untuk menghidupkan kembali metode pendidikan tersebut. Berbagai seminar dan diskusi digelar. Tulisan ilmiah mungkin ada berpuluh jurnal. Karena konsep surau itu dianggap begitu brilian. Sebab itu tak heran hadir film “Surau dan Silek” yang beredar di beberapa bioskop-bioskop saat ini yang mencoba bernostalgia dengan sistem pendidikan surau.

Film yang diproduseri Dendy Reynando dan Emil Bias ini mengangkat kisah tiga anak kelas 5 SD (Adil, Dayat dan Kurip) yang bagai ayam kehilangan induk setelah ditinggal merantau oleh sang paman (mamak Rustam) yang juga menjadi guru silat mereka. Tapi tiga anak itu pantang surut. Mereka melakukan aksi yang mereka istilahkan dengan “hubungan lua nagari.” Maksudnya adalah mencari guru silat dari luar kampung sendiri. Dan petualangan ini lah yang menghiasi adegan demi adegan dalam film yang berdurasi satu setengah jam tersebut.

Kalau Anda mempunyai hati yang mudah tersentuh dan selera humor yang bagus, film ini akan membuat perasaan Anda tercampur aduk. Siap-siap saja terasa ada yang berdesakan hendak keluar dari sudut mata Anda saat menyaksikan ketegaran hati Adil yang diceritakan tergolong dalam delapan mustahiq penerima zakat. Dan dijamin Anda tak sekali dua kali tergelak melihat kelucuan dialog dan adegan di film ini. Terutama bila Anda mengerti Bahasa Minang, karena percakapan di film ini menggunakan Bahasa Minang. Adegan yang paling lucu menurut saya adalah ketika ketiga anak itu bertemu perguruan silat “hitam” di sebuah kampung.

Tak banyak bintang terkenal bermain di film ini. Mungkin cuma wajah Gilang Dirga yang tak asing di mata. Selebihnya bintang baru dan asli orang Minang. Makanya logatnya terasa khas. Akan berbeda bila dialog berbahasa Minang dibawakan orang luar. Walau begitu, sang sutradara, Arif Malinmudo sukses mengarahkan gaya dan penghayatan para pendatang baru itu. Akting mereka, oleh penilaian saya yang awam, sudah cukup baik.

Diceritakan juga kisah Kakek Johar, seorang dosen berprestasi, memutuskan kembali pulang setelah berpuluh tahun hidup di rantau. Ia tak mau menjadi “rantau cino”. Maksudnya, merantau tapi tak pernah kembali ke kampung seperti masyarakat Tionghoa. Rupanya sang kakek punya motivasi mulia. Ia ingin agar anak-anak di kampungnya merasakan kembali sistem pendidikan yang dahulu ia kecap.

Bisa ditebak lah, bahwa akhirnya ketiga anak itu menjadi murid Kakek Johar. Mudah-mudahan bukan spoiler bila saya tulis di sini. Namun bagaimana cerita pertemuan dengan Kakek Johar itu begitu amat menarik ditonton. Terlebih lagi setelah mereka mulai berlatih dan mendapatkan jurus baru, bertebaran hikmah dan petuah.

Kakek Johar memperkenalkan “tigo tali sapilin” yang merangkai karakter pemuda Minang: Sholat, Shalawat, dan Silat. Kakek Johar juga mengoreksi motivasi anak-anak itu belajar beladiri. Sejak bertemu kakek Johar, anak-anak itu akrab dengan surau.

Saya merekomendasikan film ini untuk Anda yang rindu kampung halaman, atau bagi Anda yang ingin melihat bagaimana Islam mewarnai sebuah budaya, atau yang ingin melihat pesona keindahan alam Sumatera Barat. Keindahan Ngarai Sianok yang menjadi latar dalam beberapa adegan di film ini benar-benar memanjakan mata. Dan sangat bermanfaat ditonton oleh anak-anak agar mereka belajar budaya serta kisah pantang menyerah yang mengagumkan.

Selamat menonton! 🙂

Zico Alviandri

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2017 in Artikel Umum