RSS

Jangan Caci Bumi yang Kau Pijak, Jangan Rendahkan Langit Tempat Kau Berlindung!

12 May

Oleh ayah, saya diberi nama Zico. Bukan nama pribumi. Tapi cukup keren meski saya akui penampilan saya tak mampu imbangi kerennya nama saya itu. Dan mohon jangan diplesetkan menjadi cacian yang marak dibincangkan di media sosial belakangan, meski terdengar mirip, meski sekedar bergurau. Karena umpatan itu sudah melampaui batas.

Saya perantau. Kakek dan orang tua saya hijrah dari sebuah kampung di pesisir ranah Minang ke kaki pulau Sumatera, tepatnya di Bandar Lampung. Saya lahir dan besar di situ, lantas melanjutkan kuliah di pulau seberang. Hingga sekarang tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.

Memang, suku saya terkenal dengan budaya merantaunya. Sampai-sampai kata perantau itu menjadi judul film yang menceritakan seorang pemuda Minang. Saya yakin, jumah penduduk di Sumatera Barat itu masih lebih kecil dari jumlah orang Minang yang merantau ke penjuru dunia.

Sebagai perantau, yang dicamkan oleh saya adalah pepatah leluhur yang berbunyi: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Maksudnya, ada budaya yang harus dihormati oleh perantau di mana pun ia tinggal. Tak hanya dihormati, tapi orang perantau haruslah berbaur dan menjaga kelestarian budaya setempat.

Perantau dari mana pun, adalah pantang untuk membuat kekacauan karena menghina budaya setempat. Di Nusantara ini masyarakat hidup dengan menjalin aturan agama dan budaya. Maka tak boleh pula bagi perantau menghina agama penduduk di tempat ia tinggal, menistakan kitab suci yang dijunjung di sana, atau memaki pemuka agama yang dimuliakan masyarakatnya.

Kalau ini terjadi tentu tak segan penduduk asli mengusir si perantau. “Tak tahu diuntung”, ucap mereka. “Sudah mencari penghidupan di tempat kami, kau tak bisa menghormati kami.” Tak ingin pula kita terjadi hal yang lebih ditakutkan lagi: kerusuhan massal karena dipantik oleh lidah yang tak punya adab.

Tak hanya budaya, penduduk setempat pun tak boleh pula kita rendahkan kehormatannya. Senyampang kita mampu hidup sukses di perantauan, bukan berarti berbuat sekehendak hati lalu memandang hina, memaki, membentak, menuduh pencuri, dan perbuatan tak pantas lain kepada pribumi.

Memang dalam diri pendatang itu punya motivasi yang lebih besar untuk hidupnya dari warga asli. Mereka harus survive. Tak hanya suapan nasi yang dicari, tempat berteduh juga harus diperjuangkan. Maka mereka berjuang lebih gigih, hingga – berkat karunia Allah swt – si perantau pun menjadi lebih makmur dari yang lainnya.

Umumnya begitu, meski banyak juga pengecualiannya seperti saya. Hiks…

Sayangnya setelah berjaya, tak jarang si perantau lupa diri. Ia memandang rendah pribumi, menganggap mereka pemalas dan bodoh, dan segala lintasan pikiran lain yang ditiup-tiupkan nafsunya. Sikap congkak ditampakkan. Dan yang seperti ini lah bisa memicu kerusuhan sosial.

Tak pantas bagi perantau bersikap seperti itu. Tahu diri lah. Kalian menumpang di tempat orang. Bila bisa lebih sukses, tetap lah rendah hati.

Dan sebagai perantau, tak patut pula merusak kampung yang ditempati. Merusak buminya, merusak lautnya, merusak udaranya. Misal, membangun pabrik, tapi tak acuh dengan limbah yang merusak lingkungan. Atau sebagai developer, si perantau ini menimbun laut membangun pulau. Reklamasi, kata orang sekarang. Padahal dengan pekerjaannya itu para nelayan menjadi kesusahan mencari ikan dan laut pun tercemar. Dan parahnya lagi, pulau yang dibuat itu disediakan untuk perantau lain yang satu kampung dengan kita. Dibangun kemegahan sedemikian rupa di tengah lingkungan yang rusak. Tak ada manfaat sedikit pun untuk warga asli.

Hidup sebagai perantau harusnya hidup dengan penuh tenggang rasa. Melapangkan hati seluas-luasnya, dan mampu merunduk serendahnya meski telah berjaya di tanah orang. Itu semua demi si perantau sendiri, agar tak membangkitkan kemarahan orang kampung, tak mengundang perkara untuk diusir, atau menyebabkan kerusuhan sosial yang lebih besar.

Tahu diri lah! Jangan dicaci bumi yang kau pijak, dan jangan rendahkan langit tempat kau berlindung! Kata-kata itu saya camkan. Dan saya rasa, berlaku pula untuk semua perantau.

Zico Alviandri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2017 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: