RSS

Kata Manhaj dan Rasa yang Sudah Berubah

10 May

Saya pertama kali mendengar kata manhaj dari sebuah frasa “minhajul hayah”, atau jalan hidup. Ketika itu dalam “lingkaran kecil” mentoring Rohis SMA, kakak kelas memperkenalkan karakteristik agama Islam, yaitu robbaniyah (bersumber dari Tuhan), insaniyah (ajarannya manusiawi), syamil wa mutakamil (lengkap dan menyeluruh), wasathiyah (pertengahan), tsabat wa muruna (fleksibel, ada ajaran yang tetap dan ada yang menerima perubahan). Dari karakter itu, Islam sangat layak menjadi manhaj (jalan/metode) hidup seorang muslim.

Islam adalah the way of life, minhajul hayah, manhaj hidup seorang muslim. Dari urusan ibadah hingga bernegara, aturan ekonomi hingga masuk ke wc, aturan berperang hingga hubungan suami istri, Islam menyediakan ajaran yang terbaik dalam sunnah Nabi Muhammad saw. Mengimplementasikan ajaran Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari, maka itulah yang disebut menjadikan Islam sebagai manhaj hidup. Bila disebut kata manhaj, asosiasinya adalah Islam yang syamil wa mutakamil.

Hingga bertahun-tahun berikutnya, saya mendengar kata manhaj dalam sesuatu yang lain, asosiasi yang lain, dan kesan yang berbeda. Pengalaman kemarin, saat saya berdiskusi dengan rekan-rekan pegiat dakwah di sebuah komunitas tentang problematika umat, saya menyodorkan dakwah Islam yang syamil (komprehensif) sebagai solusi masalah-masalah umat. Salah satu ciri dakwah yang syamil adalah manhaji, metode dakwahnya sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah Rasulullah yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Ketika menerangkan apa maksud manhaji, tiba-tiba menyeruak rasa canggung.

Belakangan ini, ketika kata manhaj mulai sering disebut-sebut sekelompok orang, tak lagi terbayang syumuliyatul Islam. Tak lagi terasa ajaran yang lapang dan luas, yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Terasa lain.

Rasa kata ini telah berubah menjadi perbedaan, perpecahan, hingga permusuhan. Bila ada yang menyebut kata manhaj, seolah si pembicara itu sedang mempertegas jurang pemisah antara dirinya dengan orang lain yang tak sepemikiran. Disanding lagi dengan kata tahdzir – yang belakangan ramai di beranda media sosial saya.

Dulu, yang saya bayangkan dari kata manhaj adalah kelapangan ajaran Islam yang paripurna. Tapi kini manhaj dipersempit dalam urusan isbal, demonstrasi, biji tasbih, gerakan jari dalam tasyahud, mengangkat tangan untuk berdoa setelah sholat, dll. Hal furu’ yang punya spektrum variasi pendapat yang luas, dipersempit jadi satu pendapat. Di luar pendapat yang dipilih, dianggap batil dan di luar manhaj.

Dulu manhaj terasosiasikan dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin. Kini manhaj menjadi sarung pisau bernama tahdzir. Dengan alasan manhaj, orang yang berbeda pendapat di-tahdzir, di-hajr (boikot), tak diakui sebagai ahlus sunnah, dianggap sesat dan ahlu bid’ah. Atas nama manhaj, pisau tahdzir mencabik kerekatan persaudaraan dengan orang-orang yang berbeda pendapat. Padahal Allah swt telah berfirman “Innamal mu’minuna ikhwah”.

Dulu manhaj yang saya pahami, adalah alasan untuk bersatu dalam bendera Islam. Tapi kini manhaj punya rasa perpecahan. Dengan alasan manhaj, persatuan mereka yang berbeda pendapat dianggap persatuan kebun binatang yang saling cakar-cakaran. Manhaj adalah kata kunci untuk tak menyertai umat Islam dalam agenda-agenda besar. Saat umat Islam berkumpul dan bersatu memohon pertolongan Allah atas pemimpin kafir yang zhalim, pemegang kunci manhaj membentang jarak.

Kata manhaj yang dulu saya bayangkan adalah aspek-aspek kehidupan yang terwarnai ajaran Islam. Dan Allah swt menganugerahi para pakar di berbagai bidang di tengah umat Islam. Maka kita bisa menimba ilmu dari setiap pakar itu. Tapi kini kata manhaj bertransformasi menjadi tempurung tebal. Kalau bukan ustadz yang sepemikiran, tak boleh menimba ilmu darinya.

Kata manhaj membuat turunan istilah baru: “ustadz sunnah”. Dan kata sunnah yang awalnya punya lawan kata “bid’ah”, ada lawan kata baru yaitu “syubhat”. Dipakai dalam pendikotomian ustadz sunnah dan bukan ustadz sunnah. Yang bukan ustadz sunnah dianggap tidak jelas manhajnya, dan rawan menebar syubhat. Mereka mengambil kalimat Imam Adz Dzahabi: “sesungguhnya hati ini lemah, sedang syubhat menyambar-nyambar”, kemudian kalimat itu dijadikan dasar untuk memilih-milih ustadz.

Pada kenyataannya kata manhaj menjadi rebutan di antara kelompok itu. Siapa yang paling manhaji, siapa yang paling lurus di atas jalan salaf, adalah klaim yang harus dimenangkan dengan cakar tahdzir. Sudahlah segelintir mereka memisahkan diri dari tubuh umat Islam atas nama manhaj, di tengah mereka pun saling mengoyak kerekatan. Panah tudingan sururi atau hizbiy bertebaran dari mereka dan untuk sesama mereka dalam kurusetra perebutan manhaj.

Dulu manhaj adalah kata yang Indah bagi saya. Manhaj tersandingkan dengan ajaran Islam. Tapi kini kata manhaj adalah kata yang membuat saya sedih.

Padahal kalau manhaj salaf yang mereka maksud, tak ada para pendahulu yang sholeh itu mudah bertengkar dalam masalah perbedaan pendapat yang furu’.

Manhaj salaf adalah manhaj berukhuwah antara Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas, meski keduanya berbeda pendapat soal hitungan waris. Manhaj salaf adalah manhaj saling menghormati antara Imam Syafi’i yang menganggap qunut shubuh itu sunnah dan Imam Ahmad bin Hanbal yang menganggap qunut shubuh itu bid’ah. Manhaj salaf tak hidup dalam suasana saling tahdzir dan menuduh mayoritas umat Islam sebagai ahli bid’ah.

Apa pun klaim mereka soal manhaj, tetap Islam adalah minhajul hayah bagi semua muslim. Setiap muslim yang berupaya mengamalkan sunnah Rasulullah, mereka berada di atas manhaj yang benar. Sikap menghormati perbedaan dalam masalah furu’, itulah sikap yang manhaji. Berkasih sayang kepada sesama muslim, itulah manhaj Islam. Terlepas dari para perebut klaim soal manhaj.

Zico Alviandri

Advertisements
 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: