RSS

Film Surau dan Silek, Mengenang Konsep Pendidikan yang (Pernah) Gemilang

02 May

Ketika menginjakkan kaki di kota Padang tahun 2000 setelah pengumuman kelulusan UMPTN di jurusan Matematika Universitas Andalas, saya memiliki bekal cerita tentang sistem pendidikan surau yang berlaku di masyarakat Minangkabau. Anak laki-laki di provinsi kelahiran Buya Hamka itu bergaul di lingkungan surau dan mendapatkan pendidikan di sana. Sore hari anak-anak mengaji, dan malam harinya belajar silat. Bahkan tidur pun di surau.

Yang terbayang dalam benak, saya akan bertemu dengan pemuda-pemuda Minang yang fasih bacaan Qur’annya, paham ilmu agama, dan telah ditempa dalam bi’ah (lingkungan) yang baik.

Di kampus itu, ada kegiatan Responsi Agama Islam (di kampus lain namanya mentoring) yang diwajibkan untuk satu semester sebagai penunjang mata kuliah Agama Islam. Qodarullah, di tahun kedua kuliah di sana, saya diamanahi mengelola kegiatan ini. Mahasiswa dibentuk kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 sampai 10 orang, dibimbing oleh seorang senior yang kemudian menerangkan dan mendiskusikan tema-tema tertentu. (Misal: Mengenal Allah, Mengenal Islam, dll)

Dari kegiatan itu lah saya mendapati kenyataan yang berbeda dari yang selama ini saya bayangkan. Tak banyak mahasiswa lulusan SMA di Sumatera Barat yang mampu membaca Qur’an dengan baik. Ada teori membaca Qur’an yang disebut ilmu tajwid. Penguasaan seseorang terhadap teori itu bisa diukur dari prakteknya. Karena itu – bukan menganggap saya lebih bertaqwa – saya bisa tahu bahwa saya yang lahir dan besar di luar Sumatera Barat masih lebih mendingan dalam penguasaan ilmu tajwid dibanding beberapa di antara mereka.

Kiranya sistem surau sudah lama tak berkembang di nagari (kampung) Minang, apalagi di kota besar. Sudah lama parabola menjamur di pekarangan rumah, menyajikan hal yang lebih menarik bagi anak-anak daripada pendidikan di surau. Hati saya miris.

Tapi cerita kegemilangan kebudayaan itu masih beredar hingga kini. Tak sedikit yang bercita-cita untuk menghidupkan kembali metode pendidikan tersebut. Berbagai seminar dan diskusi digelar. Tulisan ilmiah mungkin ada berpuluh jurnal. Karena konsep surau itu dianggap begitu brilian. Sebab itu tak heran hadir film “Surau dan Silek” yang beredar di beberapa bioskop-bioskop saat ini yang mencoba bernostalgia dengan sistem pendidikan surau.

Film yang diproduseri Dendy Reynando dan Emil Bias ini mengangkat kisah tiga anak kelas 5 SD (Adil, Dayat dan Kurip) yang bagai ayam kehilangan induk setelah ditinggal merantau oleh sang paman (mamak Rustam) yang juga menjadi guru silat mereka. Tapi tiga anak itu pantang surut. Mereka melakukan aksi yang mereka istilahkan dengan “hubungan lua nagari.” Maksudnya adalah mencari guru silat dari luar kampung sendiri. Dan petualangan ini lah yang menghiasi adegan demi adegan dalam film yang berdurasi satu setengah jam tersebut.

Kalau Anda mempunyai hati yang mudah tersentuh dan selera humor yang bagus, film ini akan membuat perasaan Anda tercampur aduk. Siap-siap saja terasa ada yang berdesakan hendak keluar dari sudut mata Anda saat menyaksikan ketegaran hati Adil yang diceritakan tergolong dalam delapan mustahiq penerima zakat. Dan dijamin Anda tak sekali dua kali tergelak melihat kelucuan dialog dan adegan di film ini. Terutama bila Anda mengerti Bahasa Minang, karena percakapan di film ini menggunakan Bahasa Minang. Adegan yang paling lucu menurut saya adalah ketika ketiga anak itu bertemu perguruan silat “hitam” di sebuah kampung.

Tak banyak bintang terkenal bermain di film ini. Mungkin cuma wajah Gilang Dirga yang tak asing di mata. Selebihnya bintang baru dan asli orang Minang. Makanya logatnya terasa khas. Akan berbeda bila dialog berbahasa Minang dibawakan orang luar. Walau begitu, sang sutradara, Arif Malinmudo sukses mengarahkan gaya dan penghayatan para pendatang baru itu. Akting mereka, oleh penilaian saya yang awam, sudah cukup baik.

Diceritakan juga kisah Kakek Johar, seorang dosen berprestasi, memutuskan kembali pulang setelah berpuluh tahun hidup di rantau. Ia tak mau menjadi “rantau cino”. Maksudnya, merantau tapi tak pernah kembali ke kampung seperti masyarakat Tionghoa. Rupanya sang kakek punya motivasi mulia. Ia ingin agar anak-anak di kampungnya merasakan kembali sistem pendidikan yang dahulu ia kecap.

Bisa ditebak lah, bahwa akhirnya ketiga anak itu menjadi murid Kakek Johar. Mudah-mudahan bukan spoiler bila saya tulis di sini. Namun bagaimana cerita pertemuan dengan Kakek Johar itu begitu amat menarik ditonton. Terlebih lagi setelah mereka mulai berlatih dan mendapatkan jurus baru, bertebaran hikmah dan petuah.

Kakek Johar memperkenalkan “tigo tali sapilin” yang merangkai karakter pemuda Minang: Sholat, Shalawat, dan Silat. Kakek Johar juga mengoreksi motivasi anak-anak itu belajar beladiri. Sejak bertemu kakek Johar, anak-anak itu akrab dengan surau.

Saya merekomendasikan film ini untuk Anda yang rindu kampung halaman, atau bagi Anda yang ingin melihat bagaimana Islam mewarnai sebuah budaya, atau yang ingin melihat pesona keindahan alam Sumatera Barat. Keindahan Ngarai Sianok yang menjadi latar dalam beberapa adegan di film ini benar-benar memanjakan mata. Dan sangat bermanfaat ditonton oleh anak-anak agar mereka belajar budaya serta kisah pantang menyerah yang mengagumkan.

Selamat menonton! 🙂

Zico Alviandri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2017 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: