RSS

Musibah, Antara Ujian, Azab, dan Kemanusiaan

01 May

Semua Merasakan Musibah

Terguling-guling di tanah, Namrud menutup telinganya menahan sakit yang teramat sangat. Sebuah serangga halus, entah bagaimana caranya, berhasil masuk ke dalam kepala Namrud. Menyengat menimbulkan perih.

Putus asa menyergap. Berbagai cara diupayakan agar serangga itu segera keluar, namun tak kunjung berhasil. Tak tahan dengan sakit yang hebat, Namrud meminta agar kepalanya yang terbiasa dihinggapi mahkota itu dipukul kencang dengan sebuah besi. Seorang pelayan terpaksa melakukan itu. Dan benar, sebuah pukulan telah menyudahi rasa sakit di jasad Namrud. Untuk selamanya, karena raja yang menentang dakwah Nabi Ibrahim a.s. itu pun meregang nyawa.

Pada kisah lain, Rasulullah saw berkemul dalam pembaringan. Ia sedang menanggung demam yang levelnya dua kali lipat dari orang biasa. Seorang sahabat memberi kesaksian tentang sakitnya itu.

‘Abdullah bin Mas’ud berkata : Saya pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika itu beliau demam panas sekali, lalu saya mengusapnya dengan tangan saya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau menderita demam yang panas sekali.” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Ya, sesungguhnya aku menderita demam sebagaimana panasnya dua orang diantara kalian”. Saya berkata, “Yang demikian itu apakah karena engkau mendapatkan dua pahala?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa penderitaan berupa sakit atau yang lainnya, melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari)

Dan tak lama menanggung demam luar biasa, Rasulullah saw pun wafat. Manusia yang ma’shum itu tetap mendapatkan musibah sebagai pengantar pertemuannya dengan Allah swt. Sebagai mana manusia biasa.

Pada kisah lain, sebuah bahtera mengapung di atas luapan air bah. Hanya sedikit yang diangkut oleh kapal itu. Sementara di bawahnya, telah tenggelam satu peradaban yang menentang seruan untuk tunduk kepada Allah swt. Nuh a.s. yang menjadi kapten di atas bahtera itu memandang miris pada area yang telah menjadi danau. Ratusan tahun berupaya dengan cinta, menyeru kaumnya kepada Allah swt dengan sembunyi maupun terbuka, namun semua itu berujung pada keputusan Allah swt yaitu adzab yang memusnahkan.

Dan pada kisah lain, di sebuah negeri yang dipimpin sesosok tegas dan dekat kepada Allah swt, dengan sistem yang sesuai aturan-Nya, tertimpa pula bencana yang berkebalikan dengan yang dialami oleh kaum Nabi Nuh a.s. Suatu ketika sungai Nil surut. Air tak mengalir deras sehingga mengancam musim panen. Sebelumnya, Amr bin Ash r.a., gubernur baru Mesir telah menghentikan kebiasaan jahiliyah, yaitu menenggelamkan seorang gadis sebagai tumbal agar Nil mau mengalir dengan air yang mencukupi.

Kepanikan melanda. Dan dipersalahkanlah ajaran Islam yang telah menginterupsi adat yang telah berjalan berpuluh-puluh tahun. Akhir cerita, musibah itu berakhir setelah khalifah Umar r.a. menulis surat untuk sungai Nil. Surat itu dijatuhkan ke tengah sungai. “Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena dirimu sendiri maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali,” begitu isi suratnya. (Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi).

Pada kisah yang lain, bumi bergetar hebat meratakan apa yang ada di atasnya. Kaum Tsamud yang berisi manusia-manusia perkasa, pemahat gunung, pembangun istana-istana megah, berakhir sejarahnya pada sebuah gempa yang memusnahkan. Sebelumnya, sebuah unta betina yang diminta oleh Rasul mereka – Sholih a.s. – untuk dijaga, mereka bunuh dengan rasa sombong. Maka keputusan Allah pun tiba.

Namun di kisah lain, gempa pun mengguncang sebuah kawasan yang penghuninya beriman kepada Allah swt. Sontak rasa cemas meliputi para penduduk. Setelah gempa reda, Umar bin Khattab r.a. yang memimpin kota Madinah berpidato kepada rakyatnya, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Dan kisah tentang musibah juga tertulis di Madinah saat Rasulullah saw hidup. Di sana pernah tertimpa kekeringan (hingga muncul kisah teladan wakaf oleh Utsman bin Affan r.a.), pernah dilanda paceklik, dll. Ya, musibah milik semua, dari peradaban yang ingkar kepada Allah swt, hingga komunitas yang tunduk kepada Allah swt.

Konsekuensi Iman

Hanya saja, konsekuensi keimanan lah yang membuat kita mengatakan bahwa musibah yang menimpa orang mukmin adalah ujian. Kita tidak menyebut itu adzab. Meski apa yang dialami sama dengan orang-orang kafir, yaitu musibah.

Seolah ada ketidakadilan pada dikotomi istilah musibah. Yang satu disebut adzab, yang lain disebut ujian. “Kok kesannya Allah itu jahat?,” begitu tulis seorang netizen. Mengapa dibedakan?

Jawabannya, karena bila musibah menimpa seorang mukmin, maka itu adalah peluangnya untuk mendapatkan pahala dengan cara kesabaran. Bila responnya sabar, ia lulus dari ujian. Dosanya terhapus, dan baginya pahala yang tak terbatas. ”… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10)

Namun bagi orang tak beriman kepada Allah swt, apa pun penyikapannya atas musibah, tak akan ada pahala di akhirat untuk dirinya. Baik ia bersabar atau pun tidak.

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim: 18)

Itulah letak perbedaannya. Sekeras apa pun musibah yang melanda seorang mukmin, dan seringan apa pun musibah yang menimpa orang kafir, tetap saja bagi orang mukmin itu adalah ujian, sedang bagi orang kafir tak disebut ujian. Ini dari perpektif Islam. Kalau ada yang menggugat, “who we are to judge?”, maka kita jawab bahwa kita hanya menghukumi berdasarkan apa yang Allah terangkan.

Namun musibah yang melanda orang beriman atau pun kafir, hakikatnya adalah undangan agar kembali tunduk kepada-Nya.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal 25)

Ibnu Abi ad-Dunya menyebutkan, dari Anas bin Malik; seorang laki-laki menemui Aisyah dan berkata, Wahai Ummil Mu’minin, ceritakan kepadaku mengenai gempa (az-Aizalah). Aisyah menjawab; Ketika orang-orang telah terbiasa dengan perzinaan, menuman keras dan berhura-hura, maka Allah SWT marah dan berfirman kepada kami; Gempalah atas mereka supaya mereka taubat dan kembali, jika tidak timpalah mereka. (laki-laki itu) bertanya lagi; Wahai Ummil Mu’minin, apakah hal itu merupakan adzab atas mereka? Aisyah menjawab: Itu semua merupakan cobaan dan ujian bagi orang-orang mu’min dan merupakan adzab bagi orang-orang kafir. (HR Al Hakim)

Kemanusiaan di Antara Musibah

Senang dengan musibah yang menimpa orang lain, itu dengki namanya. Terkecuali bila musibah itu menjadi kemenangan bagi orang mukmin, atau sebagai bentuk pertolongan untuk pihak tertindas.

Sudah santer kisah tentang seorang kafir yang suka melempari Rasulullah saw dengan kotoran. Suatu ketika orang itu absen dari kebiasaannya. Rasulullah saw pun mencari informasi. Didapati kabar bahwa orang itu sedang sakit. Lalu Rasulullah saw menjenguknya. Sekalipun dizalimi, Rasulullah saw masih memperlihatkan rasa kemanusiaan kepada orang yang menzaliminya.

Kemanusiaan muncul tanpa mendeteksi dulu apakah musibah itu tergolong azab atau ujian. Di setiap musibah, sudah seharusnya disusul dengan rasa kemanusiaan.

Allah swt tak membatasi mukmin untuk berbuat baik kepada orang yang tak beriman. Sabda-Nya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Mumtahanah: 8)

Dan kepada pihak yang memerangi umat Islam, larangan hanya berlaku untuk menjadikan mereka wali, atau pemimpin, atau pelindung, atau kawan dekat, atau apa pun arti dalam bahasa Indonesia untuk kata wali itu.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Mumtanah: 9)

Menunjukkan rasa kemanusiaan kepada pihak musuh, sah-sah saja. Itu makanya kita dapati kisah Sholahuddin Al-Ayyubi mengobati Richard The Lion Heart, musuh umat Islam di Perang Salib. Para ulama’ tidak mempermasalahkan perbuatan Sholahuddin ini.

Dalam peperangan, Islam mengajarkan untuk memperlakukan tawanan perang dengan baik. Ya, meski statusnya musuh, tawanan perang berhak untuk mendapatkan kesantunan seorang muslim.

Apalagi kepada orang yang tidak memusuhi umat Islam. Dan terlebih lagi kepada sesama muslim sendiri.

Maka tak heran kita dapati berita pihak otoritas Palestina membantu pemadaman kebarakan yang sedang berlangsung di Israel. Apa pun dikategorikan kebakaran itu, adzab atau bukan, rasa kemanusiaan wajar ada. Dengan bantuan dari pihak Palestina, semoga pemerintah Israel beserta warganya menjadi sadar bahwa pelarangan adzan di masjid Al-Aqsho adalah kezaliman. Semoga dengan itu mereka mengoreksi kesalahannya, dan melepaskan penjajahan, penindasan, dan pendudukan terhadap tanah Palestina. Kalau tidak, saya yakin bencana yang lebih besar Allah persiapkan karena kezaliman mereka.

Dan rasa kemanusiaan itu sendiri tidak milik umat Islam semata. Tak jarang negara muslim mengalami musibah, lantas negara yang mayoritas berpenduduknya non muslim memberi bantuan. Kemanusiaan, sesuai namanya, adalah milik umat manusia.

Sebagai bagian dari peradaban, kita harus siap untuk bertimbal balik saling menampakkan empati, simpati, dan membantu satu sama lain saat ada bencana.

Zico Alviandri

Advertisements
 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: