RSS

Agar Kelahiranmu Sebagai Muslim Tidak Sia-Sia

26 Apr

Anda terlahir di tengah keluarga muslim? Maka Anda otomatis memeluk agama Islam, bukan begitu? Syukurilah keadaan tersebut. Karena nikmat yang paling berharga yang Allah berikan adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Dan – ibaratnya – Anda telah melangkahkan satu kaki ke dalam surga.

Tetapi jangan merasa aman dulu. Karena Allah tetapkan sebagai keniscayaan, setiap orang yang mengaku beriman akan diuji keimanannya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut:2-3)

Ujian yang berbagai macam bentuknya itu, bertujuan mengukur sejauh mana kesungguhan seseorang mempertahankan keimanannya. Kadang, ujian itu dalam beragam bentuk kesusahan. Agar yang diuji terlihat apakah memiliki rasa sabar atau tidak. Kadang berupa kesenangan, agar orang yang diuji terlihat apakah bersyukur atau tidak.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Qs. al-Anbiya’: 35).

Juga sebagai bentuk ujian bagi manusia yang mengaku beriman adalah ditetapkannya syariat oleh Allah swt untuk dipatuhi. Untuk itulah Allah mengutus seorang Rasul di tengah umatnya yang memberi kabar berupa jalan untuk mencapai ridho Tuhan. Barang siapa yang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dia lah yang terbukti memiliki keimanan sejati.

Dan salah satu syariat yang menguji kepatuhan manusia itu adalah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51. Yang sejenis dengan ayat tersebut ada beberapa lagi dalam Al-Qur’an. Ada Ali-Imran 28, An-Nisa 144, Ali Imran 118, dll. Intinya, larangan menjadikan orang non muslim sebagai “wali” dalam berbagai artinya dalam bahasa Indonesia. Bisa berarti pemimpin, teman setia, intinya adalah orang yang diberikan loyalitasnya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Maidah: 51)

Ya, itulah ujian dari Allah swt untuk orang yang mengaku mukmin. Ujiannya akan menjadi begitu rumit ketika seseorang mukmin terlanjur mengidolakan seorang yang tidak beriman kepada Allah, lalu orang itu mencalonkan diri menjadi pemimpin di alam demokrasi. Tentu sang mukmin tergoda untuk memilihnya sebagai pemimpin, menyisihkan saudaranya seiman yang lebih layak menjadi pemimpinnya.

Memang tidak mudah, dan akan sangat menggoda akal untuk mengada-ngadakan alasan yang membantah perintah Allah itu. Padahal Allah yang lebih tahu isi hati manusia. Ia Azza wa Jalla yang menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Di situlah keimanan diuji, apakah benar-benar mempercayai dan memegang teguh perintah-Nya, atau memberikan disclaimer untuk aturan-aturan tertentu.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 16)

Anda terlahir dalam keluarga muslim, dan sampai sekarang masih mencantumkan agama Islam dalam KTP? Jangan sia-siakan keadaan itu! Karena Anda sudah dipermudah oleh Allah untuk memasuki surga-Nya. Masih percaya surga kan? Nah, karena itu, janganlah rasa keidolaan Anda kepada seorang membuat Anda melanggar perintah-Nya. Masalah menyebabkan status kafir atau tidak, itu panjang pembahasannya. Yang paling diwaspadai adalah hidayah yang bisa lepas dari diri Anda. Bisa saja hati Anda mengeras membatu dan tak mampu lagi menerima ajaran Islam. Khawatirlah dengan kondisi tersebut! Hingga bisa-bisa di akhirat kelak Allah tak mengakui keimanan Anda.

Apalagi, karena keidolaan itu, Anda mencela ulama dan para da’i yang sudah menyampaikan kebenaran. Makin besar penghalang Anda dari hidayah.

Karena itu, agar lahirnya Anda sebagai muslim tidak sia-sia, mari tunduk patuh kepada ajaran Allah swt sepenuhnya. Seluruhnya. Totalitas. Kaaffah.

Advertisements
 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: