RSS

Menakar Batas Kesantunan dan Ketegasan

25 Apr

Tanggapan dari Ustadz Farid Nu’man saya terima langsung dari beliau melalui aplikasi whatsapp. Beliau saya anggap guru, meski saya lebih sering mengambil manfaat dari ilmunya melalui tulisan-tulisannya daripada bertemu dalam satu majelis. Ustadz Farid Nu’man meluruskan tulisan saya sebelumnya yang meminta agar kader PKS tak membiarkan akhlak santun pudar oleh pertengkaran di media sosial. Menurut Ustadz Farid, ketegasan juga harus dipelihara, tak hanya kesantunan. Dan ada momen-momen di mana kita dituntut bersikap santun atau tegas.

Mungkin, andai ustadz Farid tidak menulis tanggapan yang menyebar luas melalui aplikasi whatsapp itu, akan ada yang menyangka bahwa Islam mengajarkan umatnya terus menerus bersikap santun dengan melupakan ketegasan. Saya bersyukur ustadz Farid menutup celah kelemahan tulisan saya.

Namun begitu, saya rasa kader PKS tidak perlu diajarkan ketegasan di media sosial. Justru karena kelewat tegas lah saya membuat tulisan itu. Kata pepatah, kalau kelewat longgar kencangkanlah, kalau kelewat kencang longgarkanlah.

Perlu saya klarifikasi lagi, saya tidak menggeneralisasi bahwa semua kader PKS telah kehilangan kesantunan. Tidak. Masih banyak yang aktivitasnya di dunia maya memikat orang banyak. Saya sebut contoh pada dua nama: ustadz Cahyadi Takariawan dan ustadz Salim A Fillah.

Dan saya juga tidak akan membawa contoh perilaku yang buruk dalam tulisan ini. Kalau diminta data persentase kader yang bertingkah tak elok di media sosial, susah juga buat saya yang tidak memiliki tools untuk mendapatkan data yang diminta.

Saya lama menggunakan media sosial, dan belakangan menemukan fenomena yang saya khawatirkan itu. Yang saya amati adalah akun-akun personal yang jelas identitasnya, bukan anonim. Maka saya bikin tulisan yang sebelumnya dengan sasaran kepada seluruh kader baik yang masih terjaga akhlaknya ataupun tidak. Kalau tidak merasa, abaikan. Kalau merasa, mohon jadikan pertimbangan.

Dan melanjutkan tulisan ustadz Farid, saya ingin mengemukakan gagasan tentang kesantunan dan ketegasan. Dalam Al-Qur’an terdapat enam jenis perkataan, yaitu qoulan karima (perkataan yang memuliakan), qoulan baligho (perkataan lugas membekas), qoulan maysuro (ucapan yang memudahkan), qoulan layina (ucapan yang lembut), qoulan ma’rufa (ucapan yang santun), dan qoulan sadida (ucapan yang benar). Seorang muslim harus pandai memainkan orkestrasi jenis ucapan tersebut pada waktu dan tempat yang tepat.

Di manakah batas antara ketegasan dan kesantunan itu?

Bahkan Rasulullah saw pun terkadang marah. Wajar, karena Rasulullah manusia juga seperti kita. “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR Muslim)

Lalu bilakah Rasulullah marah? Jawabannya seperti hadits berikut:

Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah” (HR Bukhari Muslim)

Menurut hadits di atas, garis batas itu ada pada syariat Allah.

Saudaraku kader PKS, partai itu hanyalah sarana dakwah, sarana memperjuangkan tegaknya Islam, tetapi selamanya tidak akan pernah menjadi agama. PKS bukanlah diinul Islam itu sendiri. Jangan ada anggapan bahwa kebijakan PKS adalah mutlak syariat Islam. Meski ada Dewan Syariah di tubuh PKS, tetapi keputusan politik PKS kebanyakan bersifat ijtihadi yang sangat mungkin mendapat ketidak setujuan dari orang lain.

Maka orang yang mengkritik PKS bukanlah sedang mengkritik ajaran Islam. Dan kita tidak perlu memberi perlawanan sebagaimana kepada orang yang menghina Nabi Muhammad saw.

Mungkin ada yang menggugat, “di mana izzah kita bila kita diam dihina?” Lihat kondisi, apakah pembelaan yang dilakukan memang membuat tegaknya izzah atau malah membikin olok-olokan itu berkelanjutan?

Bicara masalah harga diri, Rasulullah saw bukanlah orang yang rendah harga dirinya saat memaafkan penduduk Thoif yang telah melemparinya dengan batu. Rasulullah saw juga masih bisa bersikap santun kepada Yahudi yang datang menagih hutang dengan cara yang kasar hingga Rasulullah saw terjembab karena selendangnya ditarik orang Yahudi itu (diriwayatkan Al Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw juga ada di samping sahabatnya yang sangat ia sayangi, Abu Bakar r.a., saat sahabatnya itu dicaci maki oleh seorang Arab Badui. Beliau saw hanya diam. Justru ketika Abu Bakar r.a. balik memaki Arab Badui tadi, tampaklah ketidak setujuan Rasulullah dan ia beranjak meninggalkan sahabatnya. Saat ditanya mengapa, Rasulullah saw menjawab bahwa tadinya ada malaikat mendoakan Abu Bakar saat Arab Badui itu mencaci. Namun ketika Abu Bakar membalas cacian, malaikat pergi dan setan datang.

Akhlak yang paling menonjol yang ditampilkan Rasulullah saw adalah pemaaf. Dengan akhlak itu mereka yang tadinya memusuhi berbalik menjadi mencintai. Berbondong-bondong warga Makkah masuk Islam saat Fathu Makkah karena akhlak itu.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Kalau memang cacian dan fitnahnya sudah kelewat batas dan melanggar undang-undang, baiknya dilaporkan saja ke aparat hukum. Tak perlu membalas dengan cacian yang tak mengubah keadaan.

Dan perlu disadari, terjun ke dunia politik berarti harus siap dengan segala bentuk permusuhan yang dilancarkan oleh para pesaing politik. Di sisi lain, masyarakat juga mengawasi dan mengomentari setiap langkah yang kita ambil. Sudah siapkah dengan itu semua?

Lantas bagaimana sikap kepada mereka yang menolak seruan yang sudah jelas halal dan haramnya?

Mungkin di situlah kita hampir berada di garis batas kesantunan. Tetapi sudah tepatkah untuk menyeberang ke area ketegasan? Coba amati dulu objeknya.

Baru-baru ini saya mendapat pertanyaan dari seorang kawan, apa yang harus dibaca saat sholat berjamaah ketika imam telah selesai membaca Al-Fatihah? Pertanyaan yang membuat saya tertegun. Karena sebelum itu ia menolak penjelasan saya tentang ayat wala’ wal baro’ yang menjelang pilkada Jakarta ini menjadi populer.

Pertanyaan darinya membuat saya tersadar bahwa wajar ia kesulitan mencerna konsep wala’ wal baro’ karena untuk masalah sholat berjamaah saja ia belum jelas betul. Untuk orang sepertinya, punya kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang berislam saja sudah bagus. Maka jangan terburu mencela orang seperti ini, karena bisa-bisa ia tak mau lagi mendalami Islam. Atau ia lari dari kita untuk memilih mengambil ilmu dari orang sepilis. Kondisinya jadi lebih buruk.

Lagipula ada wanti-wanti dari Hasan Hudaibi bagi kader dakwah. Katanya, “nahnu du’at wa lasna qudhat.” Kita adalah da’i, bukan hakim. Maka cari-carilah uzur untuk mereka. Jangan terburu menjatuhkan vonis, apalagi mengkafirkan. Mungkin penyampaian kita belum meyakinkan dia. Mungkin perlu penjelasan beberapa kali lagi.

Ketegasan barulah diperlukan saat menghadapi aktivis sepilis yang mempermainkan ajaran Islam. Itupun dengan kata-kata yang tetap terjaga dan tak melanggar undang-undang ITE. Jangan sampai mereka di atas angin akibat kita jadi berurusan dengan aparat hukum.

Dalam nahi mungkar pun ada rambunya. Ulama merumuskan, jangan sampai timbul kemungkaran baru yang lebih besar akibat cara-cara kita merespon kemungkaran yang ada. Maka ketegasan itu harus terukur.

Hadits “barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran…” memberi tiga opsi: dengan tangan, lisan, atau hati. Tangan kita bisa mencegah kemungkaran bila memang kita punya kuasa untuk itu. Ketegasan perang Khandaq tak akan ada bila Rasulullah saw tak punya kekuatan untuk mengeksekusi para pengkhianat. Dinaungi hukum yang berlaku di Indonesia, kita bisa delegasikan ketegasan melawan orang-orang yang menghina agama kepada yang berwajib.

Penutup, kalau memang sikap keras itu dibutuhkan, maka perhatikanlah kepada siapa kita bersikap keras. Jangan sampai kepada muslim awam yang masih butuh usaha kita lebih keras untuk membuatnya paham. Perhatikan bagaimana kekerasan itu kita lancarkan. Jangan sampai blunder menghasilkan kemungkaran atau kemudhorotan yang lebih besar.

Yang namanya dakwah adalah menyeru dengan kesantunan. Kekerasan itu ranah hukum yang punya aparat sendiri. Maka tanyakan lagi kepada diri sendiri, siapa kita?

Zico Alviandri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2017 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: