RSS

Monthly Archives: April 2016

Fenomena Da’i Ember

Kalau saja Hatib bin Abi Balta’ah tak tergabung dalam barisan yang memperjuangkan Islam pada perang Badar, maka vonis munafik telah jatuh kepadanya tatkala ia r.a. tertangkap basah membocorkan rencana Rasulullah saw saat persiapan Fathu Makkah. Gatal tangan Umar bin Khattab r.a. ingin mengayunkan pedang, namun Rasulullah saw menahannya karena kesertaan dalam perang Badar adalah jasa besar yang tak teremehkan.

Hatib bin Abi Balta’ah merasa risau dengan keberadaan sanak saudaranya di Makkah. Oleh sebab itu ia mengirim surat rahasia kepada keluarganya, melalui seorang kurir wanita, yang mengabarkan rencana Rasulullah saw untuk memasuki Mekkah bersama ribuan tentara. Upaya pembocoran rahasia itu kemudian terbongkar atas izin Allah swt. Dan Hatib bin Abi Balta’ah tak dapat mengelak dari perbuatannya. Lantas kisah ini menjadi asbabun nuzul surat Al Mumthanah ayat 1.

Dakwah dan Kerahasiaan

Kerahasiaan sudah menjadi bagian dalam dakwah. Meski karakter dakwah sejatinya bersifat terbuka, namun bila dakwah dilakukan dengan organisasi yang terstruktur, sering kali ada informasi-informasi yang bukan konsumsi publik.

Saat kondisi dakwah berada pada tekanan rezim yang berkuasa, pergerakan dakwah terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah saw pernah merasakan sendiri aktivitas dakwah secara rahasia di awal perkembangan Islam. Semua itu demi keselamatan dakwah.

Husain bin Muhammad bin Ali Jabir dalam bukunya “Menuju Jamaatul Muslimin” menjelaskan bahwa sirriyatud dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah di awal turunnya Islam adalah dengan membentuk jamaah secara tersembunyi. Yang dimaksud adalah, tersembunyi dalam pembentukan, bukan pada ajaran dan materi dakwah. Hal ini dimaksudkan agar musuh Islam tidak mengetahui detail kekuatan jamaah sehingga tidak serta merta dipukul ketika kekuatan jamaah masih seumur jagung.

Ketika kondisi memungkinkan dan dakwah dapat dilakukan dengan terang-terangan, bukan berarti tak perlu lagi ada kerahasiaan dalam dakwah. Buktinya Rasulullah saw tetap memerlukan seorang Hudzaifah bin Yaman sebagai Kepala Intelejen pertama umat Islam untuk menampung kerahasiaan.

Salah satu yang dirahasiakan adalah daftar nama golongan munafik. Suatu ketika Umar bin Khattab r.a. resah tentang dirinya, apakah termasuk orang yang divonis munafik atau bukan. Khalifah yang agung itu lantas menemui Hudzaifah bin Yaman r.a. Namun data yang bisa diakses sekedar memastikan bahwa Umar bin Khattab r.a. tidak termasuk golongan munafik. Umar tak dapat mengakses semua nama dalam golongan yang dijanjikan Allah swt kelak bertempat di dasar neraka itu.

Kerahasiaan tetap ada dalam bangunan dakwah. Konteks kekinian, misalnya proses atau hasil persidangan terhadap seorang anggota jamaah dakwah yang dianggap bermasalah, bisa menjadi contoh. Karena itu menyangkut aib. Manuver dakwah yang direncanakan dengan sistematis pun kebanyakan dirahasiakan. Materi ceramah dengan konten dan istilah khusus, yang bila didengar orang yang tak paham akan menjadi fitnah, juga dirahasiakan. Dan ada banyak hal lagi yang perlu dirahasiakan dalam barisan dakwah. Semua itu ada maslahatnya.

Karena itu seorang da’i yang ingin bergabung dalam barisan dakwah, harus membiasakan diri memegang hal yang dianggap rahasia. Janganlah menjadi da’i ember.

Da’i Ember

Kenyataannya tak semua orang yang bisa memegang rahasia dengan jujur. Kasus Hatib bin Abi Balta’ah bisa menjadi contoh. Kalau tak memiliki jasa sebesar Hatin bin Balta’ah, maka janganlah menjadi da’i ember yang ringan mengumbar rahasia. Kalau tidak, bisa-bisa terjerumus dalam perbuatan nifaq.

Kesertaan dalam perang Badar adalah jasa yang tak dapat tersaingi. Apalagi oleh aktivitas da’i zaman sekarang. Sekedar membela jamaah mati-matian di media sosial, atau mengajari rekan seperjuangan mengelola blog, rasanya tidak akan pernah bisa setara dengan berpeluh berdarah di wilayah di sekitar sumur Badar 15 abad yang lampau.

Karakter da’i ember tak sekedar mengumbar rahasia, tapi juga menyebar informasi yang masih sumir. Padahal Allah swt sudah memberikan standard operating procedure yang tertera dalam Al Qur’an surat An-Nisa ayat 83. Serahkan pada qiyadah atau otoritas yang berwenang sebagai sumber berita yang shohih!

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS An-Nisa : 83)

Syahwat broadcast – meminjam istilah seorang teman – memang sudah terjadi sejak dahulu. Perilaku manusia terhadap informasi tidak pernah berubah dari dulu hingga kini. Makanya Allah menurunkan Al-Qur’an yang akan selalu sesuai dengan segala zaman, termasuk zaman booming media informasi seperti sekarang.

Saat belum dikenal teknologi informasi, penyebaran sebuah kabar beredar melalui mulut dan telinga. Hingga Rasulullah saw bersabda, “Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia mengatakan semua yang didengar” (HR Muslim). Seseeorang yang tidak mampu menyaring informasi, akan terjebak pada kegiatan menyebarkan berita hoax. Karena sifat berita bila diestafetkan ia akan dibumbui berbagai macam kabar tambahan.

Di zaman ini, seorang yang memiliki akun media sosial atau blog punya godaan besar memposting atau membagikan informasi yang ia dapat, baik dari dunia nyata maupun dari timeline socmednya. Termasuk seseorang yang beriltizam berjuang dalam barisan dakwah. Godaan itu pun dirasakan juga.

Contohnya memposting susunan pengurus sebuah kepanitiaan atau lembaga di dalam organisasi dakwah melalui blog, yang qiyadah sendiri tidak pernah mengumumkan itu secara terbuka. Bahkan parahnya kadang dibumbui sebuah gosip bahwa lembaga itu untuk menghakimi anu.

Ada yang menganalisa motivasi da’i ember ini. Bisa karena ingin pamer karena memiliki info yang orang lain tidak tahu. Atau memang karena terlalu lugu menganggap semua hal tidak ada yang rahasia. Atau karena alasan ekonomis, menginginkan kenaikan traffic pada blog yang dikelolanya. Kalau yang terjadi pada Hatib bin Abi Balta’ah, alasannya karena kecintaan pada keluarganya yang kemudian Allah tegur.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila Umar bin Khattab r.a. hidup di zaman sekarang lantas bertemu da’i-da’i ember di dunia maya ini.

Bila bertemu da’i ember di dunia maya atau pun nyata, berhati-hatilah ketularan ke-emberan-nya! Info rahasia dan gosip itu begitu menggoda untuk disebar kembali.

Zico Alviandri

 

Kisah Raja dan Pandai Besi Pembuat Senjata

Alkisah, seorang raja yang butuh beberapa senjata mendatangi seorang pandai besi terkenal yang tinggal di sebuah desa. Membawa bahan-bahan terpilih, raja ditemani pengawalnya membuat perjanjian dengan pandai besi yang telah menyanggupi pengerjaan senjata-senjata itu dalam waktu yang telah ditentukan.

Sambil menjabat tangan pandai besi itu, raja berpesan, “Bila ada senjata yang telah selesai dibuat, sebelum diserahkan kepada saya, jangan kau serahkan kepada orang lain! Walaupun itu anggota keluargamu sendiri. Senjata ini juga bukan untuk dipamerkan kepada orang lain. Simpan baik-baik senjata yang telah selesai dibuat sampai saya mengambilnya!” Pandai besi menyetujui.

Sepulangnya raja ke istana, pandai besi pun mulai bekerja. Ia tempa bahan-bahan terpilih yang telah diserahkan padanya dengan sungguh-sungguh. Api membara. Panasnya memancar ke seluruh ruangan. Tapi tak mengganggu pandai besi yang memukul-mukul bahan itu di atas kobaran bara.

Berhari-hari si pandai besi mengerjakan sebuah pedang dengan desain unik pesanan raja. Setelah pedang itu jadi, ia pandangi dengan kagum ukiran-ukiran di mata pedang yang telah ia tempa. Namun itu baru satu senjata. Ada beberapa lagi yang harus segera dikerjakan sebelum waktunya habis. Maka si pandai besi tak mau lama-lama mengagumi hasil kerjanya. Ia letakkan pedang berwarna biru berkilau itu di sebuah tempat, lantas menyiapkan bahan lainnya. Sebuah golok yang tak kalah indah akan segera diciptakan.

Pandai besi kembali bekerja bersama panas menyengat dan lidah api yang menyambar-nyambar. Palu dan gada ia pukulkan ke atas bahan yang memuai oleh panas. Ia tak sadar anak sulungnya yang masih berusia bocah telah memasuki ruang kerjanya. Mata si anak sulung itu menangkap sebuah benda berkilauan yang punya ukiran indah di sebuah tempat. Ya, itu adalah pedang yang telah dibuat oleh pandai besi. Anak sulung pandai besi itu mendekat, dan tanpa sungkan mengangkat gagang pedang itu.

Mengetahui pedang pesanan raja sedang dalam genggaman anaknya, si pandai besi terkejut dan menghardik, “Letakkan pedang itu!” ujarnya. “Benda itu tak boleh orang lain pegang selain saya dan raja.”

Si anak patuh. Diletakkan pedang itu ke tempat semula. Tapi tak lama dibujuknya sang ayah agar ia diperbolehkan mengagumi keindahan pedang itu. “Hanya di tempat ini. Aku tak kan membawa pedang itu keluar,” rengek si anak.

Pandai besi menolak. Tetapi rengekan itu terus mengganggunya. Akhirnya pandai besi menyerah dan memperbolehkan anaknya sekedar memegang dan memandangi pedang itu.

Selesai memuaskan diri dengan memandangi hasil kerja ayahnya, si anak pun pergi. Dan pandai besi terus bekerja. Tapi esoknya anak itu kembali ke ruangan kerja pandai besi sembari menangis.

“Aku terlanjur cerita dengan kawan-kawan tentang pedang yang indah itu. Mereka tak percaya dan mengolok-ngolokku sebagai pembohong,” adu anak itu. “Izinkan aku membawa keluar pedang itu, sekedar untuk ditunjukkan kepada teman-teman. Agar aku tidak dituduh pembohong,” rengek si anak.

Seperti yang sudah-sudah, awalnya pandai besi tak mau. Namun si anak terus merengek dan menangis hingga hati pandai besi luluh dan mengizinkan. Terbit iba di hatinya, tak ingin anaknya diolok-olok orang sebagai pembohong. Maka dibawalah pedang itu oleh si anak ke luar rumah.

Sekejap kemudian cerita keindahan pedang buatan pandai besi menyebar ke seantero desa. Penduduk desa itu berbondong-bondong mendatangi rumah pandai besi. Seorang sahabat si pandai besi memohon-mohon sembari mengungkit kebaikan agar pandai besi mengizinkan untuk melihat pedang itu dari dekat serta merasakan tebasannya. Juga para tetangga pandai besi, mereka mengajukan permintaan yang sama. Ingin melihat dari dekat, bahkan menyentuhnya. Tiap hari pandai besi kedatangan tamu yang ingin membuktikan keindahan pedang itu. Tak cuma pedang, mereka juga juga ingin meliht dan memegang golok, lembing, dan senjata lain yang telah dibikin pandai besi.

Hingga waktu yang telah ditentukan tiba, raja beserta pengawal mendatangi rumah pandai besi yang sedang dikerumuni orang banyak. Dan tahulah raja, bahwa pesannya telah dilanggar oleh pandai besi itu. Ia pun murka dan menghukum pandai besi yang tak bisa mengelak dari kesalahannya itu.

*****

Bila kita tak setuju dengan tindakan pandai besi pada cerita tadi, lantas bisakah kita menerima perilaku kita yang suka menggandakan tujuan dalam ibadah? Semestinya, tiap ibadah kita ditujukan hanya untuk Allah. Allahu ghoyatuna, Allah tujuan kita. Tetapi kenyataannya sering tanpa disadari amal ibadah yang telah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dipamerkan pula kepada orang lain.

Kadang yang kita lakukan itu berupa riya’, memamerkan amal ibadah. Awalnya teman kantor heran mengapa kita sering tidak ada di tempat sekitar pukul sembilan pagi. Demi menjawab pertanyaan teman-teman, kita ajaklah mereka menghampiri musholla kantor di sekitar waktu tersebut untuk ikut mengerjakan sholat dhuha. Tindakan begitu bila ikhlas karena Allah, maka akan sangat bagus sekali karena sudah menjadi pelopor untuk mengerjakan kebiasaan yang baik. Tetapi bila akhirnya niat melenceng atas bisikan setan, mengharap pujian, habis sudah sholat-sholat dhuha yang telah kita kerjakan tak bersisa. Dan datanglah kemurkaan-Nya.

Atau yang kita lakukan berupa sum’ah, memperdengarkan amal. Awalnya tak ada yang tahu bahwa kita telah bersedekah. Tetapi setan membisiki, “yayasan itu butuh sumbangan lebih besar.” Maka kita pun bercerita kepada teman-teman tentang yayasan yang sedang butuh dana, sembari mengungkit besaran yang telah kita sumbangan. Bila tindakan itu ikhlas karena Allah, maka akan menjadi amal yang baik karena telah menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Tetapi bila niat melenceng, percuma sudah apa yang diinfakkan.

Setan selalu menyodorkan alasan kepada kita untuk memamerkan amal ibadah yang telah kita perbagus hanya untuk Allah. Mungkin kita tidak ingin diremehkan sebagai orang yang kurang ilmu, maka kita pamerkan ilmu kita dalam sebuah diskusi. Atau ingin agar orang lain tahu bahwa kita sangat pantas ditunjuk menjadi imam tetap di masjid dekat rumah, maka sekali waktu kita dapat kesempatan menjadi imam, bacaan Qur’an kita perbagus.

Padahal pesan Allah, jangan sampai ibadah yang kita perbuat ditujukan juga untuk pihak lain. Entah agar mendapat pujiannya, atau terlindung dari kecurigaannya. Allah inginkan keikhlasan dalam amal perbuatan.

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’aam: 162-163).

Allahua’lam bish-showab.

—–

Sebelumnya saya posting di

Kisah Raja dan Pandai Besi Pembuat Senjata