RSS

Pertikaian dan Ujian Amal Kita

13 Apr

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS Al-A’raaf: 43)

Apa pun bentuk perselisihan kita kepada sesama mukmin, muaranya akan seperti ayat di atas. Berkumpul kembali bersama kawan-kawan seiman dalam damai, dan mungkin menertawakan pertikaian yang kuras emosi selama di dunia. Allah telah berjanji akan mencabut segala macam dendam yang mengendap di dada akibat interaksi dengan sesama manusia di dunia. Kiranya, seteguk air jernih di telaga Al-Kautsar telah padamkan hati yang membara. Dan ucapan “salamun ‘alaikum bima shobartum” (QS Ar-Ra’du: 24) yang dibisikkan malaikat di pintu surga telah tenangkan hati yang berkecamuk. Ada jaminan kedamaian di surga, maka hidup abadilah dalam kedamaian itu.

Saya punya persengketaan sendiri dengan saudara mukmin yang lain. Dan mungkin Anda juga begitu, punya masalah lain dengan seorang mukmin. Mau apalagi… berbalik ke belakang pada sembilan belas ayat sebelum ayat kutipan di atas (tepatnya pada QS Al-A’raf: 24), Allah sudah katakan begini kepada kakek kita Nabi Adam a.s. : “Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.””

Memang Allah sengajakan adanya perselisihan itu. Ia Azza wa Jalla yang berkata sendiri dalam QS Al-Furqon: 20 “…Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? …”

Sebagaimana kedua kakek dan nenek kita diturunkan terpisah ke bumi di tempat yang berjauhan – para mufassirin berpendapat Adam a.s. di India dan Hawa di Jeddah – hingga mereka punya latar belakang pengalaman berbeda, seperti itu pula kita dan orang lain di sekitar, masing-masing punya pengalaman hidup, watak, dan nilai berbeda. Perbedaan pengalaman itu yang bisa membuat kita kadang “gak nyambung” dengan orang lain.

Berjalan tanpa membungkukkan badan di hadapan yang lebih tua, bagi adat lain mungkin dianggap biasa saja. Tapi tidak bagi adat jawa, hal itu akan dipersoalkan karena dianggap tak sopan.

Satu contoh tadi bisa mewakili bagaimana perbedaan pengalaman, watak, nilai dll bisa menyebabkan kesalahpahaman yang berujung pada peselisihan.

Sebenarnya tak lama jarak waktu untuk perjumpaan kita di surga dalam damai dengan orang-orang yang berselisih itu. Tapi nafsu amarah yang mendominasi membuat hati menyempit dan ingatan acap hadirkan kembali perselisihan itu. Dibumbui pula oleh setan (dalam bentuk jin atau manusia) yang menghasut.

Itulah cobaan yang Allah timpakan kepada tiap mukmin, agar terlihat siapa yang paling baik penyikapannya hingga membuah amal yang baik juga (Lihat QS: Al-Mulk 2). Dua orang bersengketa, bila keduanya mukmin, kita percaya akan dipertemukan kembali oleh Allah swt di surga dalam damai. Tapi bisa jadi derajat surga mereka berbeda karena penyikapan yang tak sama. Yang satu terlampau dikuasai amarah, sedang yang satu cukup elegan sehingga pertikaian itu menjadi sarana untuk mengangkat derajat ketaqwaannya di sisi Allah.

Itu yang akan terjadi pada kita yang punya pertikaian. Atau bila kita hanya sebagai penonton, tetap ada ujian atau peluang amal tersendiri. Islam menyediakan peran bagi yang ingin menjadi pendamai dua saudaranya yang berselisih. Seperti dalam ayat di mana Allah mendeklarasikan bahwa hanya muslim yang miliki persaudaraan sejati, di situ sekaligus ada perintah untuk mendamaikan dua saudara yang berselisih.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa mendamaikan saudara termasuk bersedekah. Bahkan perkataan tidak jujur dalam rangka mendamaikan saudara yang berselisih tidak dianggap sebagai berdusta.

“Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau tak mampu mendamaikan, ujian lain bagi orang yang tak terlibat langsung dengan konflik antara dua saudaranya adalah dengan tidak berbuat namimah atau adu domba. Jangan juga jadi penyebab perselisihan itu merembet lebih luas melibatkan orang yang tadinya tidak terlibat hanya gara-gara kata-kata kita. Karena tiap manusia punya rasa setia kawan, yang dalam takaran tak tepat bisa membuat ia terseret dalam konflik dengan teman dekatnya.

Kita tak perlu mengungkit-ungkit perselisihan antara dua pihak pada sebuah kumpulan manusia. Atau di zaman yang canggih ini, mengungkit konflik orang lain dalam grup-grup chatting. Itu akan memancing orang untuk ikut bicara, padahal ia tak punya informasi yang utuh. Lalu lahirlah pro kontra. Lalu makin membesarlah permusuhan itu.

Jadilah orang yang mencegah konflik menjadi luas. Tenangkan orang-orang yang ada di pinggir konflik itu dengan nasihat kita. Maka kita telah “mengambil untung” dalam konflik orang lain. Keuntungan yang dibenarkan dan disukai Allah swt.

Zico Alviandri

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: