RSS

Kader PKS Tak Perlu Hate Speech

09 Jan

Sejatinya normatif saja pernyataan Presiden PKS M Sohibul Iman di hadapan wartawan, saat ditanya tentang hate speech, usai bertemu Presiden RI Joko Widodo 21 Desember 2015 kemarin. “Mengkritik silakan, tapi jangan sampai hate speech!” ujarnya.

Tidak ada yang dituduh melakukan hate speech dalam pernyataan itu. Tidak ada yang sedang dihakimi. Sehingga tidak perlu ada kader PKS merasa tersinggung dengan pernyataan normatif tersebut.

Justru ucapan itu adalah keniscayaan karena PKS terlanjur mendeklarasikan sebagai partai dakwah. Kader PKS yang rutin mendapatkan pembinaan keislaman tiap pekan tentu sangat akrab dengan ayat Alquran berikut.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Dakwah Tidak Berupa Hate Speech

Hate speech diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai “ujaran kebencian”. Merujuk kepada Oxford Dictionary (kamus yang dikeluarkan oleh Universitas Oxford), definisi hate speech adalah, “Speech expressing hatred or intolerance of other social groups, especially on the basis of race or sexuality; hostile verbal abuse (though the term is sometimes understood to encompass written and non-verbal forms of expression).” Terjemahan kasarnya: Ucapan yang mengekspresikan kebencian atau intoleransi dari suatu kelompok sosial, terutama berdasarkan ras atau seksualitas, pernyataan permusuhan dan pelecehan (dalam bentuk verbal maupun non-verbal)

Dalam Surat Edaran Kepala Polri Nomor SE/06/X/2015 tertanggal 8 Oktober 2015, kategori yang termasuk ujaran kebencian dijabarkan dalam bentuk penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut dan penyebaran berita bohong.

Melihat batasan ujaran kebencian di atas, memang tidak sepantasnya dakwah dilakukan dengan ekspresi hate speech. Ungkapan berikut ini mustinya akrab di telinga PKS yang mempelajari fiqih dakwah, “Dakwah itu mengajak, bukan mengejek; membina, bukan menghina; memberi nasihat, bukan menghujat; menyatukan, bukan bermusuhan; merangkul, bukan memukul; mengajar, bukan menghajar; menyantuni, bukan mencaci, mencintai, bukan membenci.”

Memang ada kalanya seorang muslim dituntut berbicara lantang terhadap kemunkaran yang ada di depan matanya, sebagai opsi kedua bila mana ia tak mampu memberhentikan kemungkaran itu. “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Namun kalimat yang diucapkan tidak boleh keluar dari kerangka dakwah. Istilah yang digunakan Allah swt dalam Alquran untuk menghadapi tindak kemungkaran adalah “Qaulan Baligha”, atau perkataan yang membekas jiwa.

“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya. (Qaulan baligha)” (An-Nisaa’:63)

Qaulan baligha adalah retorika pas yang mengena ke dalam hati, yang argumentatif, rasional, substantif, dan punya “deterrent effect”. Bukan kata-kata caci maki, hinaan, bahkan fitnah. Kata-kata begitu tak kan membekas ke dalam jiwanya. Yang ada malah sakit hati bila yang mendengarnya – dalam istilah anak muda sekarang – baper (bawa perasaan).

Memang, perilaku hate speech ini terlihat dilakukan juga oleh pendukung partai lain dan di setiap lapisan masyarakat. Tetapi bersyukurlah PKS punya presiden partai yang menjalankan perintah agama untuk saling menasihati. “Agama itu nasihat.” Dan PKS yang telah menyatakan sebagai partai dakwah, memang harus tampil menjadi teladan dengan tidak ikut-ikutan perbuatan buruk yang menggejala di masyarakat. Justru merekalah yang harusnya kencang mencegah hate speech.

Beroposisi Tanpa Hate Speech

Presiden PKS telah menegaskan posisi partainya sebagai oposisi loyal. Sikap ini tentu akan diikuti oleh kader-kadernya, dengan menunjukkan sikap berseberangan dengan pemerintah.

Dalam demokrasi, pihak oposisi berperan menjadi penyeimbang dan pengontrol atas kebijakan-kebijakan pemerintah. PKS, selain menjadi oposisi, juga menegaskan sikap loyal atas kepentingan bangsa. Bila kebijakan pemerintah memang baik bagi bangsa, tentu PKS akan mendukungnya. Jadi tak semata oposisi buta.

“Apakah kami dukung pemerintah? Jelas kalau pemerintah punya program baik ya kami dukung. Karena kita beda posisi makanya bisa saling melengkapi,” terang Sohibul Iman usai bertemu Presiden Jokowi, seperti dikutip media.

Merujuk kiprah PKS masa lalu, memang partai ini tak mengenal sikap mendukung buta atau menolak buta. Saat menjadi bagian dalam koalisi pemerintah saat kepemimpinan SBY pun PKS pernah menyatakan ketidaksetujuan atas kebijakan yang diambil pemerintah, misalnya soal kenaikan BBM. Sebaliknya, PKS pernah mendukung kebijakan pemerintahan Jokowi seperti keputusan mantan Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel terkait larangan peredaran minuman keras di mini market.

Sikap beroposisi bagi kader PKS tak boleh melepaskan sikap loyal kepada maslahat bangsa. Yaitu, selain tidak dengan beroposisi buta memprotes semua kebijakan pemerintahan, juga dengan tidak mengekspresikan hate speech. Karena perbuatan itu bukan teladan yang baik buat bangsa ini dan bisa menyebabkan permusuhan. Sikap beroposisi yang loyal dengan maslahat bangsa adalah oposisi yang elegan yang menyampaikan kritik dengan baik.

Apa yang diharapkan oleh masyarakat dari oposisi adalah kritik, gagasan alternatif, dan solusi yang masuk akal. Kalau memang tak setuju dengan sebuah kebijakan, ajukan alasan dan alternatif. Nyatakan dengan baik. Dan bersiap mempertahankan argumentasi dengan bijak bila pendukung pemerintah memberi bantahan.

Rasanya, kalau itu dijalankan, maka kader PKS akan diakui kapasitasnya sekaligus menghempaskan keraguan atas partai Islam yang hanya paham soal agama saja.

Sebenarnya masyarakat juga merasakan banyak ketidaknyamanan semenjak pemerintahan Jokowi berlangsung. Harga-harga melambung tinggi, daya beli turun, utang luar negeri membengkak, dan sebagainya. Kondisi begini bisa membuat masyarakat mendukung oposisi. Itu kalau pihak oposisi memang tampil elegan. Tetapi kalau oposisinya ber-hate speech, simpati masyarakat malah bisa-bisa hilang.

Dimuat di dakwatuna

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2016 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: